Selasa, Oktober 13, 2020

Kapal Bersayap Lun: Mesin Perang Raksasa Soviet yang Terbuang

Lun

Tak terlihat radar dan cepat, kapal bersayap ini telah menjadi mesin perang yang tangguh sebelum dibuang untuk selamanya.

Bloger Rusia Vitaliy Raskalov baru-baru ini menemukan ekranoplan (kendaraan efek tanah [ground-effect vehicle]) —  sebuah kendaraan menyerupai pesawat terbang, tetapi beroperasi atas efek tanah — buatan Soviet. Monster perang Soviet itu terlantar di pantai Laut Kaspia, Dagestan, Rusia.

“Ekranoplan  berbaring pada perutnya di pantai liar dan terendam air karena rusak ketika pengangkutan (ke lokasinya saat ini). Saya berharap ekranoplan Lun, satu-satunya dari jenisnya, akan tetap utuh dan tidak akan dihancurkan oleh para penjarah,” tulis sang bloger di akun Instagram-nya.


Karena desainnya yang sangat tidak biasa, pengikut Raskalov membandingkan kapal bersayap itu dengan pesawat luar angkasa asing.

Lun memang terlihat tidak biasa. Perawakannya sangat besar — panjangnya 74 meter dan tingginya 19 meter. Mesin perang raksasa ini didukung oleh delapan mesin turbojet dan dilengkapi dengan enam rudal jelajah antikapal. Saat masih digunakan, kecepatan jelajahnya bisa mencapai 550 km/jam, tingkat yang tak tertandingi oleh kapal-kapal berat lain yang ada.


Intinya, Lun adalah hibrida antara kapal dan pesawat: pesawat apung yang dihasilkan menggunakan sayap untuk menciptakan tekanan di bawah tubuhnya dan mengangkatnya ke ketinggian minimal (hanya beberapa meter), cukup untuk terbang di atas permukaan air, es, atau bahkan tanah datar. Sejalan dengan itu, pesawat bisa mendarat di ketiga permukaan itu tanpa landasan pacu.

Tujuan utama dari pesawat semacam itu adalah untuk menggunakannya dalam pertempuran melawan kapal induk musuh, karena diasumsikan bahwa kemampuan kapal bersayap untuk terbang rendah dengan permukaan air atau tanah akan memungkinkannya untuk menghindari sistem radar musuh.

Lun

Monster perang ini dirancang oleh Biro Desain Hidrofoil Pusat Alekseyev Soviet pada 1980-an. Satu-satunya pesawat bersayap dari jenisnya ini resmi mengudara pada 1986, tiga tahun setelah biro tersebut mulai mengerjakan pesawat tersebut.

Setelah peluncuran, kapal bersayap unik itu dipindahkan ke Armada Kaspia Angkatan Laut Soviet untuk uji coba di lapangan. Namun, runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991 membuat para perancang dan militer lengah. Tes dihentikan, kapal bersayap itu dicampakkan dari ketentaraan dan ditarik ke Kota Derbent di Dagestan, Rusia.

Video di bawah ini menunjukkan seberapa besar ekranoplan Lun dibandingkan dengan kapal yang digunakan untuk menurunkannya ke lokasi saat ini.


Awalnya, Lun akan digunakan sebagai barang pameran di taman masa depan. Namun, karena rencana tersebut direvisi, sejak saat itu mesin perang raksasa terlantar tanpa pengawasan di pantai Laut Kaspia, sebagaimana yang dikatakan Raskalov. (Russia Beyond)

Sabtu, Juli 18, 2020

MiG dan Sukhoi Bersama-sama Kembangkan Jet Tempur Generasi Keenam Rusia

Ilustrasi pesawat tempur generasi keenam Rusia
Ilustrasi pesawat tempur generasi keenam Rusia

Perusahaan MiG dan Sukhoi bersama-sama akan mengembangkan pesawat tempur generasi keenam Rusia, Ilya Tarasenko, direktur jenderal MiG dan Sukhoi, mengutip laman RIA Novosti.

"Pesaing kami adalah pabrikan pesawat Amerika dan Eropa. Dan untuk mempertahankan kepemimpinan yang kuat dalam industri ini, kami perlu mengkonsolidasikan kompetensi terbaik yang ada saat ini di MiG dan Sukhoi dan menciptakan pesawat generasi keenam baru. Menggabungkan kemampuan adalah peluang luar biasa untuk membuat terobosan besar. Perusahaan asing tidak lagi memiliki peluang seperti itu," kata Tarasenko.

Menjawab pertanyaan apakah pesawat generasi keenam Rusia nantinya merupakan  pengembangan bersama MiG dan Sukhoi, Tarasenko menjawab dengan tegas. "Ya, itu akan menjadi pengembangan divisi penerbangan militer UAC," jelasnya.

UAC atau United Aircraft Corporation adalah perusahaan penerbangan dan ruang angkasa Rusia. Dengan saham mayoritas milik Pemerintah Rusia, Rusia mengkonsolidasikan perusahaan manufaktur dan aset milik swasta dan milik negara Rusia yang terlibat dalam pembuatan, desain, dan penjualan pesawat militer, sipil, transportasi, dan tak berawak.

Saat ini di Rusia, produksi massal pesawat tempur Su-57 generasi kelima telah dimulai. Pesawat pertama harus sudah diterima Angkatan Udara Rusia tahun ini.

Ilya Tarasenko menerima jabatan sebagai CEO Sukhoi pada Februari tahun ini. Dengan demikian, ia merangkap tiga posisi - selain Sukhoi, Tarasenko memimpin perusahaan MiG, dan juga bertanggung jawab untuk pemasaran dan kerja sama militer-teknis di United Aircraft Corporation.

Baca juga: Rusia Berencana Ekspor Massal Su-57 dan Masuk Pasar Drone Tempur

Mesin hidrogen NK-88 membuka cakrawala baru bagi jet tempur generasi ke-6 Rusia

Pesawat generasi kelima Rusia saat ini sudah terbang, tetapi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak berhenti, sehingga semakin banyak informasi yang muncul tentang pengerjaan proyek-proyek pesawat generasi ke-6. Tetapi agar sebuah pesawat generasi keenam muncul, sebuah mesin baru yang fundamental harus muncul terlebih dahulu.

Saat ini, dunia penerbangan sedang ditantang untuk menciptakan mesin baru yang tidak hanya efektif di atmosfer, tetapi juga memiliki kemampuan untuk pergi ke luar angkasa.

Karena mesin atmosfer yang ada saat ini tidak dapat melakukannya, para ilmuwan kemudian secara aktif mengembangkan hibrida dari mesin roket dan pesawat terbang. Istilah untuk ini adalah mesin hidrogen. Jika mesin hidrogen sukses, penerbangan kriogenik akan segera hadir, dan Rusia akan menjadi yang terdepan untuk konstruksi pesawat terbang generasi keenam.

Penerbangan kriogenik tampak fantastis dan mungkin terkesan mengada-mengada dan sepertinya tidak mungkin tercapai. Tetapi ingatlah fakta bahwa lebih dari 30 tahun yang lalu, Uni Soviet telah menguji pesawat Tu-155 dengan menggunakan mesin hidrogen NK-88.

Pengembangan dan penelitian yang diperoleh sebagai hasil pengujian dari mesin hidrogen NK-88 sebelumnya diletakkan sebagai dasar untuk pengembangan mesin hipersonik.

Sayangnya, runtuhnya Uni Soviet juga turut meruntuhkan proyek-proyek tersebut. Tetapi beban penelitian di masa lalu tetap ada dan belum menghilang, para insinyur Rusia saat ini masih dapat memanfaatkan pencapaian insinyur-insinyur sebelumnya.

Saat ini Rusia secara signifikan lebih banyak berinvestasi dalam pengembangan dan industri pertahanan, dan oleh karena itu ada kemungkinan besar bahwa pengerjaan mesin baru telah lama Rusia dilakukan.

Bisa jadi Rusia setelah ini akan mengumumkan tentang mesin barunya, siapa tahu, mengingat contoh serupa Rusia yang mengumumkan telah berhasil mengembangkan rudal hipersonik.

Baca juga: Rusia Tampilkan Rudal Hipersonik pada MiG-31

Pesawat pembom siluman generasi ke-6 Rusia

Ketika pesawat tempur generasi kelima Su-57 sudah masuk fase produksi dalam jumlah yang jauh lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya, muncul pula laporan pada akhir 2019 lalu bahwa perusahaan pertahanan Rusia juga sedang berfokus pada pengembangan pesawat pembom siluman "generasi keenam."

CEO Tupolev Alexander Konyukhov kala itu mengatakan bahwa ada rencana besar ke depan untuk pengujian dan lebih lanjut mengembangkan pesawat Tu-22M3M, Tu-160 dan Tu-95MS hasil upgrade bersama dengan pekerjaan besar untuk pesawat pembom baru PAK-DA.

Kantor berita Rusia melaporkan bahwa PAK-DA, akan menjalani pengujian awal di Zhukovsky Center. Menurut Wakil Menteri Pertahanan Yuri Borisov, prototipe pertama PAK DA diharapkan selesai pada 2021-2022, penerbangan perdananya dijadwalkan pada 2025-2026, dan pengiriman serial akan dimulai pada 2028-2029.

Jangka waktu yang masih lama ini harus membuat Rusia menjamin pertahanannya dengan memanfaatkan seluruh alutsista mulai dari S-500 hingga Su-57. Sebelum PAK-DA, Rusia tidak lagi mengembangkan pesawat pembom sejak era Uni Soviet.

Pesawat-pesawat pembom strategis dan berkemampuan nuklir Rusia yang ada saat ini seluruhnya merupakan desain era Uni Soviet. PAK-DA akan menggunakan desain yang benar-benar baru.

Saat ini sangat sedikit yang diketahui dari spesifikasi konkret PAK-DA. Namun analisis pertahanan Rusia menyebutkan bahwa kemungkinan jangkauan operasionalnya 12.000 kilometer, dengan muatan hingga 30 ton, dan kecepatan penerbangan subsonik.

Fakta terakhir ini menunjukkan bahwa PAK-DA lebih mengutamakan kemampuan silumannya ketimbang kecepatannya. Dengan pengetahuan saat ini, hampir mustahil untuk membuat pesawat pembom yang membawa banyak rudal yang berkemampuan siluman tapi juga memiliki kecepatan supersonik. Inilah sebabnya mengapa Rusia fokus pada kemampuan silumannya.

PAK-DA akan membawa rudal dengan kecerdasan buatan dengan jangkauan hingga 7.000 km. Rudal semacam itu dapat menganalisis situasi radar udara dan radio dan menentukan arah, ketinggian, dan kecepatannya. Rusia mengklaim sedang bekerja mengembangkan rudal itu.

Rudal-rudal pintar ini, yang konon dapat mengubah target di tengah penerbangannya dan menyesuaikan jalur penerbangan mereka secara mandiri untuk menghindari radar, sedang dikembangkan Rusia. Dan mengingat bahwa PAK-DA mengandalkan kemampuan silumannya, maka hampir pasti rudal itu akan disimpan di ruang senjata internalnya.

PAK-DA disebut-sebut sebagai pengganti Tu-160 dan Tu-22M3, tetapi tampaknya tidak akan diproduksi dalam jumlah besar untuk menjadikannya sebagai tulang punggung kekuatan pembom strategis Rusia.

Rusia pernah mengatakan bahwa pembom Tu-160 dan Tu-22 akan tetap mereka gunakan di masa depan, karena keduanya masing-masing telah mendapatkan upgrade avionik, kualitas hidup, dan perlengkapan persenjataan baru lainnya.

Sebaliknya, tampaknya PAK-DA lebih dirancang untuk mengisi ceruk konflik nuklir intensitas tinggi, untuk penetrasi dalam terhadap sistem pertahanan udara canggih dunia.

Baca juga: 7 Pesawat Pembom Terbaik di Dunia

Pesawat generasi keenam Amerika Serikat

Pada awal Juni lalu, media internet melaporkan bahwa militer AS mulai menguji pesawat baru rahasia di atas Gurun Mojave, yang menurut majalah The Drive Amerika, bisa menjadi musuh ideal untuk sistem pertahanan udara Rusia.

Menurut publikasi The Drive, pesawat seperti itu sudah muncul dalam bingkai fotografi biasa. Namun beberapa hari lalu, mereka berhasil melakukan tes penuh, yang jelas menunjukkan bahwa militer AS sudah mendekati fase tes penerbangan prototipe.

"Di Amerika Serikat di atas gurun Mojave (California), pengujian sistem pesawat rahasia sedang dilakukan, yang dapat membuatnya kebal terhadap rudal Rusia. Kita berbicara tentang dua pesawat, Model 401 dan Proteus, yang terbang bersama pesawat tempur F-15D NASA dan pesawat tanker KC-10. Pada bagian belakang Model 401, terlihat belah ketupat (mungkin radar tersembunyi atau beberapa sensor), dan sistem elektro-optik tertentu dipasang pada Proteus," kata majalah itu.

Jurnalis percaya bahwa kedua pesawat itu tidak berawak dan dikendalikan oleh F-15D NASA, media Rusia melaporkan mengutip The Drive.

Jika argumen para jurnalis itu benar, maka tes tersebut mungkin mengindikasikan bahwa Amerika Serikat hampir membuat pesawat tempur generasi keenam, karena yang terakhir diposisikan sebagai kendaraan udara tak berawak dengan semua kemampuan pesawat tempur penuh.

Baca juga: X-47B, UAV Tempur Siluman Amerika Serikat

Jet tempur generasi keenam Eropa

Menurut laman La Stampa Italia, Italia akan bergabung dalam program pesawat tempur generasi keenam Tempest Inggris.

Italia sedang mencari jet tempur canggih untuk menggantikan armada Eurofighter Typhoon Angkatan Udara mereka di masa depan.

Program Tempest diumumkan selama Farnborough International Airshow 2018. Pemerintah Inggris, melalui Kementerian Pertahanan, telah mengalokasikan 2 miliar pound (2,3 miliar euro) untuk pengembangan awal pesawat tempur generasi keenam tersebut.

Tempest ditujukan untuk menggantikan pesat tempur Typhoon Angkatan Udara Kerajaan Inggris pada tahun 2035 dan untuk bersaing dengan program pesawat tempur generasi baru Prancis-Jerman yang diumumkan selama International Paris Air Show - Le Bourget pada 12 Juli 2017 oleh Angela Merkel dan Emmanuel Macron.

Baca juga: Inggris Perkenalkan Model Jet Tempur Baru "Tempest"

Italia telah menyatakan minatnya sejak program Tempest diumumkan, tetapi sejauh ini negara itu belum pernah merumuskan perjanjian mengenai program tersebut, meskipun beberapa perusahaan Italia bekerja pada proyek itu.

Keanggotaan Italia dalam program Tempest akan membawa beberapa manfaat juga bagi industri Italia karena Leonardo Italia terlibat dalam proyek Inggris itu bersama dengan BAE Systems, Rolls Royce dan MBDA.

Rabu, Juli 15, 2020

Boeing akan Bangun Jet Tempur F-15EX Baru untuk Angkatan Udara AS

F-15EX
Ilustrasi F-15EX dari Boeing

Raksasa penerbangan AS Boeing Company telah menerima kontrak senilai 1,2 miliar dolar AS pada bulan Juli untuk mulai membangun delapan jet tempur F-15EX pertama.

Kontrak menugaskan Boeing untuk membuat desain, pengembangan, integrasi, pembuatan, pengujian, verifikasi, sertifikasi, pengiriman, pemeliharaan, dan modifikasi pesawat F-15EX, termasuk suku cadang, peralatan pendukung, materi pelatihan, data teknis, dan dukungan teknis.

Menariknya, F-15EX akan menggantikan F-15C/D tua Angkatan Udara Amerika Serikat. Delapan pesawat F-15EX disetujui dalam anggaran tahun anggaran 2020 dan 12 lainnya diminta dalam anggaran tahun fiskal 2021. Angkatan Udara AS berencana untuk membeli total 76 pesawat F-15EX selama kurun 5 tahun sesuai program Future Years Defense Program.

"F-15EX adalah cara yang paling terjangkau dan segera untuk menyegarkan kapasitas dan memperbarui kemampuan yang disediakan oleh armada F-15C/D kami yang sudah tua,” kata Jenderal Mike Holmes, komandan Air Combat Command. "F-15EX siap bertarung segera setelah melewati garis."

Pekerjaan untuk F-15EX ini akan dilakukan di St. Louis, Missouri; dan di Pangkalan Angkatan Udara Eglin, Florida, dan diperkirakan akan selesai pada 31 Desember 2023, menurut siaran pers yang dipublikasikan Senin oleh Departemen Pertahanan AS.

F-15EX adalah pesawat tempur dua kursi dengan kemampuan khusus. Pesawat ini memiliki daya angkut besar dan mampu membawa banyak senjata canggih. F-15EX baru nantinya juga akan membutuhkan pelatihan transisi minimal untuk memastikan kelanjutan misi Angkatan Udara AS.

Baca juga: Kala Itu Seorang Pilot F-15 Menembak Jatuh Satelit

F-15EX
Ilustrasi F-15EX dari Boeing

"Ketika sudah diterima, kami berharap pangkalan yang saat ini mengoperasikan F-15 untuk melakukan transisi ke platform EX baru dalam hitungan bulan," kata Holmes.

Perbedaan paling signifikan antara F-15EX dan F-15 standar terletak pada arsitektur Open Mission Systems (OMS). Arsitektur OMS akan memungkinkan penyisipan cepat teknologi pesawat terbaru. F-15EX juga akan memiliki kontrol penerbangan fly-by-wire, sistem peperangan elektronik baru, sistem kokpit canggih, dan sistem misi terbaru dan kemampuan perangkat lunak yang tersedia untuk F-15 yang lama.

Baca juga: F-15 Eagle: Jet Tempur Tua dengan Sejarah Tempur Mengesankan

"Tulang punggung digital, arsitektur OMS, dan kapasitas muatan yang besar dari F-15EX sangat sesuai dengan visi kami untuk peperangan di masa depan," kata Dr. Will Roper, asisten sekretaris Angkatan Udara untuk Akuisisi, Teknologi, dan Logistik. “Sistem yang terus ditingkatkan, dan bagaimana mereka berbagi data antara Angkatan, sangat penting untuk mengalahkan ancaman lanjutan. F-15EX dirancang untuk berkembang sejak hari pertama. "

Delapan pesawat F-15EX pertama akan ditempatkan di Pangkalan Angkatan Udara Eglin, Florida, untuk mendukung upaya pengujian. Pengiriman dua pesawat pertama dijadwalkan untuk kuartal kedua tahun fiskal 21. Enam pesawat sisanya dijadwalkan untuk dikirim di tahun fiskal 23. Angkatan Udara AS menggunakan Strategic Basing Process untuk menentukan lokasi untuk lot pesawat berikutnya.

Senin, Juli 13, 2020

Jerman Luncurkan Tank Challenger 2 Versi Upgrade

Tank Challenger 2

Muncul sebuah video versi baru dari tank tempur utama (MBT) Challenger 2 Inggris dari laman Youtube pabrikan pertahanan jerman Rheinmetall Defense pada 10 Juli lalu.



Angkatan Darat Kerajaan Inggris berencana untuk terus menggunakan tank Challenger 2 setidaknya sampai tahun 2035. Pada tahun 2013 Inggris memulai program modernisasi pada tank ini. Program ini ditugaskan kepada BAE Systems cabang Inggris dan Rheinmetall Jerman sektor darat.

Pada tahun 2018, BAE Systems memperkenalkan versi tank Challenger 2 upgrade yang dijuluki Black Night. BAE Systems memutuskan untuk hanya melakukan perubahan kecil, dengan menekankan pada penggantian sistem kontrol tembak dan peralatan komunikasi. Lambung, turet (kubah), dan mesin tank tetap sama.

Tapi Jerman fokus pada perbuahan lain: dalam proyek ini diusulkan untuk menggunakan turet yang sama sekali baru, yang mampu mengakomodasi perangkat kontrol tembak modern dan senjata lainnya. Manakah dari kedua opsi tersebut yang akhirnya dipilih Angkatan Darat Kerajaan Inggris masih belum diketahui.


Challenger 2 - tank tempur utama Angkatan Darat Britania Raya, juga melayani Angkatan Darat Oman. Tank ini telah digunakan dalam operasi tempur di Kosovo dan Irak. Pada musim semi 2009, BAE Systems mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan produksi Challenger karena kurangnya order pertahanan dari pemerintah Inggris.

Pekerjaan pada tank Challenger 2 dimulai pada 2018

Pada 3 Oktober 2018, perusahaan multinasional Inggris, BAE Systems, yang mengkhususkan diri di bidang pertahanan, keamanan, dan kedirgantaraan, telah mengungkapkan prototipe pertama dari tank Challenger 2 hasil upgrade mereka, yaitu Black Night.

Team Challenger 2 merupakan kemitraan strategis dari beberapa perusahaan pertahanan, yang dipimpin oleh BAE Systems dan dibentuk untuk mengajukan penawaran untuk program MBT Life Extension Project (LEP) Angkatan Darat Inggris.

Yang ditunjuk oleh konsorsium Kementerian Pertahanan Inggris untuk proyek tersebut, terdiri dari BAE Systems Land (Inggris), General Dynamics Land Systems-UK, Leonardo, Safran Electronics & Defense, Moog, QinetiQ, dan General Dynamics Mission Systems-Kanada.

Black Night adalah tank tempur utama Challenger 2 yang dimodifikasi dan ditingkatkan, dilengkapi dengan kemampuan tempur malam yang lebih baik, yang memiliki dua sistem penglihatan malam independen untuk lebih fokus pada target. Ini akan memungkinkan komandan dan penembak di tank untuk beroperasi secara serentak.


Fitur canggih dari Black Night lainnya yang ditawarkan Team Challenger 2 meliputi sistem perlindungan aktif, sistem peringatan berbasis laser dan rudal, sumber daya regeneratif, teknologi pencitraan termal, dan akselerasi tempur yang lebih baik.

Pengembangan dan modernisasi tank Challenger 2 dilakukan BAE Systems di fasilitas kendaraan tempur perusahaan di West Midlands, Inggris.

"Inggris adalah rumah bagi beberapa perusahaan teknik terbaik di dunia, yang telah mendorong batas-batas desain kendaraan tempur dengan Black Night. Kami menyediakan sebagian besar peningkatan ini dari tanah air, namun, kami telah memilih perusahaan-perusahaan pertahanan terbaik dari seluruh dunia untuk berkolaborasi dengan kami juga, termasuk dari Kanada, Prancis dan Jerman yang memiliki teknologi dan keterampilan unik yang telah terbukti. Angkatan Darat Kerajaan Inggris memiliki komitmen kami bahwa kami akan memberikan peningkatan yang paling mampu, dan dengan harga terbaik," Simon Jackson, pemimpin kampanye BAE Systems Team Challenger 2.

Minggu, Juli 12, 2020

Rusia: Turki Mencoba Deteksi Kelemahan S-400 Selama Uji Coba

Peluncur S-400

Militer Turki melakukan tes S-400, ini memungkinkan mereka untuk menilai efektivitas sistem pertahanan udara buatan Rusia itu, dan mungkin untuk menemukan kelemahannya, mantan wakil komandan pasukan pertahanan udara dari Pasukan Darat Uni Soviet, Letnan Jenderal Alexander Luzan.

"Selama pengujian sistem rudal anti-pesawat S-400, militer Turki berhasil mendeteksi objek pesawat dan melakukan peluncuran elektronik. Ini memungkinkan kita untuk secara bersamaan mempelajari fitur aplikasi, mengevaluasi efektivitasnya, mungkin tujuan lain adalah menemukan kelemahannya," kata Luzan kepada RIA Novosti.

Dia menjelaskan bahwa "secara teknis tidak mungkin" untuk mengekstraksi teknologi dari S-400, karena Turki harus mempelajari sistem ini "secara empiris".

Pada November 2019, Turki juga menguji stasiun radar S-400 menggunakan pesawat tempur F-16 AS. Tes divideokan. Amerika Serikat menyatakan kekhawatirannya tentang hal ini.

Kini, fungsionalitas sistem pertahanan udara S-400 Rusia kembali Turki uji pada pesawat tempur AS, yang mendekati pangkalan udara Turki.

Pengujian lulus meskipun ada peringatan AS tentang kemungkinan pengenaan sanksi. Tes senjata serupa terjadi pada musim gugur 2019. Sebelumnya, pembelian S-400 oleh Turki menjadi onak dalam hubungannya dengan AS.

Lokasi militer Turki melakukan tes terbaru S-400 tidak jauh dari Ankara. Mereka dikirim dari pangkalan udara Myurt untuk melawan melawan pesawat tempur F-16 dan F-4 AS, menurut Fighter Jets World.

Portal itu mencatat bahwa pengujian senjata Rusia dimulai pada 4 Juli dan akan berlangsung beberapa bulan - hingga 26 November. Menurut publikasi itu, pihak berwenang Turki mengabaikan peringatan AS tentang kemungkinan pengenaan sanksi dalam hal uji coba rudal pertahanan udara.

Negosiasi Rusia-Turki untuk pengiriman batch kedua S-400 masih berlanjut

Negosiasi antara Rusia dan Turki tentang pengiriman set kedua sistem anti-pesawat Triumph S-400 sedang dalam tahap lanjut.

"Negosiasi sedang berlangsung, ini adalah proses yang melelahkan yang membutuhkan banyak waktu. Tetapi mengingat pembatasan saat ini sehubungan dengan pandemi, kurang pas untuk memprediksi syarat-syarat kesimpulan kontrak ini," kepala Layanan Federal untuk Kerjasama Militer-Teknis (FSMTC) Dmitry Shugaev mengatakan pada 8 Juni lalu.

Pada bulan Mei, Turki blokir akses militer Rusia ke sistem S-400 mereka

Sejak bulan Mei, Turki melarang militer Rusia berada di fasilitas militer di mana penyebaran sistem pertahanan udara S-400 sedang berlangsung, menurut pernyataan Kepala Direktorat Industri Pertahanan Turki, Ismail Demir.

Menurut Demir, kendali atas S-400 sepenuhnya diserahkan kepada militer Turki, dan pemeliharaan kompleks-kompleks ini akan dipercayakan kepada perusahaan-perusahaan Turki.

"Kepala industri pertahanan, Ismail Demir, mengatakan bahwa proses instalasi untuk sistem pertahanan udara S-400, yang tertunda karena coronavirus, sedang berlangsung. Petugas Rusia tidak lagi dapat mengakses baterai S -400," kata Demir. "Proses pemasangan sistem S-400 dilanjutkan, dan beberapa sistem telah dioperasikan. Meskipun ada perjanjian pasokan mencakup item-item seperti pelatihan, pemeliharaan, dan dukungan teknis, personel Rusia tidak akan dapat mengakses baterai S-400 sesuka mereka. Ini adalah garis merah kita. Perusahaan Turki dan Angkatan Udara Turki akan menjadi pihak yang terkait dengan sistem ini," lanjut Demir dalam publikasi berita Miliyet Turki.

Apa sebenarnya alasan militer Turki memblokir akses petugas Rusia ke S-400 Turki tidak diketahui sepenuhnya. Ada ahli yang berpendapat bahwa ini karena kemungkinan risiko bahwa Rusia dapat benar-benar menguasai S-400 Turki, karena negara ini adalah anggota NATO.

Tidak diketahui secara pasti kapan Turki akan menyelesaikan penyebaran S-400, namun, ada informasi yang beredar bahwa proses tersebut dapat berlangsung hingga akhir tahun ini.

Apa dan bagaimana S-400?

S-400 Triumph adalah sistem rudal anti-pesawat jarak jauh dan jarak menengah Rusia. S-400 dirancang untuk menghancurkan semua target udara yang modern dan canggih, termasuk target yang berkecepatan hipersonik.

Menurut analis Barat, S-400, bersama dengan sistem rudal lainnya seperti Iskander OTRK dan sistem rudal anti-kapal pesisir Bastion, memainkan peran kunci dalam konsep baru Angkatan Bersenjata Rusia, yang dikenal di Barat sebagai "Access Denied Zone " (Anti-Akses/Area Denial, A2/AD), yang artinya pasukan NATO tidak bisa berada dan bergerak dalam jangkauan sistem area terbatas A2/AD Rusia tanpa risiko serangan yang mengakibatkan kerusakan yang tidak dapat diterima.

Triumph adalah sebutan untuk versi ekspor. Harga pasar untuk satu divisi dari sistem rudal anti-pesawat S-400 adalah sekitar $ 500 juta.

Karakteristik teknis S-400

Karakteristik kinerja S-400 Triumph adalah: mendeteksi target pada jarak 600 km; menyerang target pada jarak 400 km; kecepatan maksimum target sasaran - 4,8 km/detik; pada saat yang sama dapat menembak 36 target dengan menggunakan hingga 72 rudal; waktu penyebaran sistem dari keadaan penyimpanan - 5-10 menit; waktu untuk membawa sistem ke dalam posisi siap tempur adalah 3 menit.

Bagaimana cara kerja sistem pertahanan udara Triumph ?

S-400 Triumph bukan hanya instalasi untuk meluncurkan rudal, tetapi merupakan seluruh kompleks sistem yang terkoordinasi, yang komponennya diangkut oleh truk-truk mobilitas tinggi kelas berat.

Seluruh proses dari mendeteksi hingga mengeliminasi target terjadi secara otomatis:
  • Sistem radar mendeteksi ratusan target dalam radius 600 km dan menentukan jenisnya
  • Data dikirim ke pos komando (55K6E). Pos komando pada gilirannya mendistribusikan target ke beberapa peluncur (5P85TE2)
  • Setiap pos komando dapat mengendalikan delapan sistem peluncur, yang masing-masingnya membawa hingga 12 peluncur. Mereka, pada gilirannya, menampung empat rudal dengan massa, jangkauan, dan kemampuan yang berbeda
  • Tergantung pada jenis target, sistem S-400 akan memilih rudal yang efisien. S-400 Triumph dipersenjatai dengan rudal dengan massa, jangkauan, dan kemampuan berbeda: 48N6E, 48N6E2, 48N6E3, 9M96E, dan 9M96E2.
  • Rudal jarak jauh (hingga 400 km) mampu menghancurkan target bahkan di luar jangkauan lokator target, yang rudal memiliki kepala pelacak yang unik. Setelah naik, rudal masuk ke mode pencarian.

Jumat, Juli 10, 2020

Jepang : F-35 Dapat Terlihat dari Satelit

F-35A

Departemen Luar Negeri AS telah setuju untuk menjual 105 pesawat tempur generasi kelima F-35 serta peralatan terkait ke Jepang, Departemen di Pentagon untuk Kerjasama Pertahanan dan Keamanan mengungkapkan beberapa waktu lalu.

Tokyo berniat membeli 63 pesawat tempur varian standar F-35A untuk Angkatan Udara dan 42 F-35B yang berkemampuan take-off pendek dam pendaratan vertkal (STOVL), yang dibuat khusus untuk Korps Marinir AS.

Penjualan ini akan berkontribusi pada kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional AS dengan meningkatkan keamanan salah sekutu utamanya Jepang, yang merupakan kekuatan bagi stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik. Untuk kepentingan keamanan nasional AS, membantu Jepang mengembangkan pertahanan militernya adalah hal yang sangat penting bagi AS.

Pemerintah AS juga telah memberi tahu Kongres tentang keputusan ini. Kongres sekarang memiliki waktu 30 hari mempelajari kontrak militer baru ini untuk menyetujui atau menolaknya.

Perlu diperhatikan, ini adalah pembelian kedua pesawat tempur generasi kelima oleh Jepang. Kontrak yang saat ini sedang berjalan adalah untuk pasokan 42 pesawat F-35A oleh Angkatan Udara Jepang.

Baca juga: Berkat F-35, Terjadi Perlombaan Senjata di Asia

Jepang mulai kembangkan pesawat tempur sendiri

Tim khusus untuk mengembangkan penerus pesawat tempur Mitsubishi F-2 Jepang telah dibentuk oleh Badan Pengadaan, Teknologi, dan Logistik Kementerian Pertahanan Jepang, seperti yang dilaporkan media April lalu.

Tim ini dipimpin oleh seorang Mayor Jenderal Angkatan Udara Jepang, dan termasuk di dalamnya sekitar 30 perwira, insinyur, dan pegawai lainnya.

Jepang berencana untuk meluncurkan pesawat tempur generasi berikutnya pada tahun 2035 dan sudah berencana untuk menciptakan infrastruktur pada akhir tahun ini untuk pengembangan bersama dan kerja sama teknis dengan Amerika Serikat atau Inggris.

Menurut persyaratan dari Angkatan Udara Jepang, pesawat tempur baru itu harus memiliki sensor siluman canggih, kemampuan peperangan elektronik (EW) dan kapasitas rudal yang sama atau lebih besar dari pesawat tempur siluman F-35 AS, serta memiliki kemampuan untuk berinteraksi dalam misi bersama dengan unit militer Amerika.

Sekitar 11,1 miliar yen telah dialokasikan untuk pengembangan pesawat tempur terbaru dalam anggaran negara Jepang untuk tahun 2020.

Perlu juga diketahui bahwa Amerika Serikat dan Inggris bersaing untuk menjadi menjadi mitra Jepang dalam pengembangan bersama penerus pesawat tempur F-2. Untuk mengalahkan pesaingnya dalam perjuangan di bidang industri militer Jepang ini, Amerika Serikat setuju untuk mengungkapkan kode program (kode sumber) untuk perangkat lunak pesawat tempur F-35 (atas dasar inilah pesawat tempur baru Jepang akan dibuat), serta untuk kemungkinan mengganti komponen Jepang dalam pesawat tempur baru dengan komponen Amerika.

Baca juga: Mitsubishi F-2 - Jet Tempur Multiperan Jepang

Ilmuwan Jepang sebut F-35 dapat terlihat di satelit

Siluman Amerika Serikat, F-35, dapat dilihat dari satelit, kata profesor Shizuoka Kazuhisa Ogawa pada 6 Juni lalu dalam sebuah wawancara dengan RIA Novosti.

Ogawa, seorang pakar militer yang juga bertugas sebagai penasihat tiga perdana menteri Jepang mencatat bahwa pesawat-pesawat tempur siluman dapat dengan mudah dideteksi dari luar angkasa dengan menggunakan satelit. Tidak terkecuali F-35 Lightning II.

Ogawa menjelaskan bahwa dengan komputer on-board modern, pilot lawan dapat menentukan arah, tinggi, dan kecepatan pesawat siluman menggunakan data satelit.

Kurangnya keunggulan teknologi siluman disebabkan oleh fakta bahwa bahan pesawat menyerap dan menyebarkan gelombang radar yang menabrak pesawat dari depan. Namun, pesawat siluman tidak berdaya bersembunyi dari satelit yang terbang di atasnya.

Baca juga: China Membuat Sendiri Versi Murah dari F-35 Amerika

F-35 Jepang jatuh tahun lalu

Sebuah F-35A milik Angkatan Udara Jepang hilang pada April tahun lalu. Kementerian Pertahanan mengumumkan bahwa pesawat tersebut jatuh dengan merujuk temuan puing-puing yang terlihat dan dikumpulkan oleh kapal dan helikopter pencari beberapa hari setelah kejadian.

Saat itu, aset-aset militer AS juga turut serta dalam pencarian, termasuk pesawat multi-misi Angkatan Laut AS Boeing P-8A Poseidon yang sedang bertugas di Jepang.

Pesawat yang jatuh, yang bernomor seri 79-8705, adalah yang pertama dari 13 F-35A Jepang yang dirakit kala itu oleh fasilitas check out dan perakitan akhir Mitsubishi di Nagoya. Karena kejadian ini, seluruh F-35A hasil rakit Jepang dikenai larangan terbang untuk sementara waktu.

Media lokal melaporkan bahwa kontak dengan pesawat tempur siluman buatan Lockheed Martin itu hilang tepat sebelum jam 7:30 malam. waktu setempat, dengan lokasi terakhir pesawat yang dilaporkan diidentifikasi di atas Samudra Pasifik sekitar 85 mil di sebelah timur kota Misawa di prefektur Aomori, di bagian utara pulau utama Jepang Honshu.

Lembaga penyiaran publik nasional Jepang, NHK, mengutip pejabat Angkatan Udara Jepang, melaporkan bahwa F-35A yang hilang adalah salah satu dari empat F-35A Jepang yang telah lepas landas dari Pangkalan Udara Misawa terdekat untuk misi pelatihan pada pukul 7:00 malam. waktu setempat.

Pesawat dan kapal Angkatan Laut Jepang dengan cepat memulai misi pencarian, dengan Coast Guard Jepang mengirim dua kapal segera setelahnya. Pesawat Angkatan Udara Jepang lainnya, pesawat pencarian dan penyelamatan U-125A dan helikopter Black Hawk UH-60J yang dikerahkan di seluruh pangkalan udara Jepang, juga bergabung dalam upaya pencarian.

Kamis, Juli 09, 2020

Video Kapal Selam Besar Iran Dipindahkan dengan Truk

Pemindahan kapal selam kelas Kilo Iran

Tiga kapal selam kelas Kilo Iran adalah kapal selam paling modern di antara banyak kapal selam angkatan laut mereka. Sebuah video muncul di Twitter yang menunjukkan salah satunya sedang diangkut melalui jalan darat.

Kemampuan servis galangan kapal Iran masih diragukan, dan langkah pemindahan itu tampaknya bukan hal biasa bagi mereka. Tapi yang jelas, salah satu dari tiga kapal selam kelas Kilo Iran sedang tidak beroperasi.

Video memperlihatkan kapal selam kelas Kilo (Project 877) ditempatkan pada low-loader khusus. Meskipun video ini tidak bertanggal, tapi diyakini baru. Video ini juga dipublikasikan media berbahasa Iran seperti Harian Jamejam, setelah diposting di media sosial.


Deskripsi yang disampaikan mengatakan bahwa kapal selam ini sedang menuju (atau di) Bandar Abbas, pangkalan angkatan laut utama di Iran. Ini adalah pangkalan untuk tiga kelas Kilo Angkatan Laut Iran, ditambah sebagian besar kapal perang permukaan utama dan kapal selam cebol.

Iran menerima kelas Kilo dari Rusia pada awal 1990-an. Saat ini ketiganya menjadi kapal selam terbesar dan terkuat di Teluk Persia, asalkan tidak ada kapal selam Angkatan Laut AS atau Kerajaan Inggris di sana.

Kapal selam bertenaga diesel-listrik ini masih dapat diandalkan untuk peperangan saat ini, namun ke depan akan semakin ketinggalan zaman. Kelas Kilo dapat membawa torpedo kelas berat dan memiliki kemampuan anti-kapal selam yang sederhana.

Kelas Kilo Iran telah dirombak dan dirawat sendiri oleh Iran. Dan kemampuan ketiganya mungkin telah ditingkatkan selama bertahun-tahun. Namun Iran mengalami kesulitan mempertahankan beberapa fitur asli, seperti lapisan anechoic. Ini adalah ubin karet yang mengurangi kebisingan, faktor penting dalam kemampuan siluman kapal selam. Kapal selam dalam video tampaknya kehilangan sebagian lapisan ubin ini, yang biasanya menutupi bagian luar kapal.

Baca juga: Kekuatan Kapal Selam Iran Salah Satu yang Terkuat di Dunia
Baca juga: 4 Senjata Andalan Iran Bila Terjadi Perang

Kapal selam kelas Kilo Iran
Kapal selam kelas Kilo Iran

Meskipun memindahkan kapal selam melalui darat bukanlah hal yang unik, tapi tetap saja itu bukan hal biasa. Pada umumnya kita sering melihat kapal selam yang dipindahkan ke pantai untuk menjadi kapal museum, atau pemindahan selama konstruksi.

Kelas Kilo memiliki panjang 70 m, lebar 9,7 m dan bobot benaman (saat menyelam) sekitar 3.000 ton lebih. Jadi kapal selam ini tidak mudah dipindahkan melalui jalan darat. Ini juga menunjukkan bahwa kapal selam Iran ini tidak bisa dipindahkan melalui air, entah karena alasan apa, baik dengan tenaganya sendiri atau dengan cara ditarik. Bahkan untuk perawatan rutin mereka biasanya dipindahkan melalui air. Iran memiliki dok kering di Bandar Abbas di mana kapal selam Kelas Kilo secara rutin dirombak di sana.

Titik terang untuk usaha pemindahan kapal selam ini diyakini adalah di galangan kapal di dekat Bostanu. Analis pertahanan Joseph Dempsey dari Institut Internasional untuk Studi Strategis (IISS) menggunakan citra satelit untuk mengidentifikasi kapal selam kelas Kilo di sana dari Februari-Maret tahun ini. Kemungkinan benar kapal selam itu.

Kapal selam kelas Kilo di Bostanu tampak juga telah digambarkan dalam siaran pers pemerintah Iran pada akhir Mei, meskipun tidak ada rincian lebih lanjut.

Galangan kapal berjarak sekitar 15 mil ke barat di sepanjang pantai dari Bandar Abbas dan dihubungkan oleh jalanan yang baik. Iran banyak melakukan pekerjaan pada kapal selam dan kapal perang lainnya di sana. Dan lokasinya dekat dengan kapal tongkang target Iran yang dirancang agar terlihat seperti kapal induk kelas Nimitz Angkatan Laut AS.

Kisah pasti di balik langkah Iran ini belum jelas. Dan seperti biasanya sering tidak terungkap. Tetapi analis pertahanan dunia terus mengawasi dengan cermat untuk mencari tahu tentang apa saja kegiatan dan kesiapan Angkatan Laut Iran.*

Rabu, Juli 08, 2020

Kala Itu Seorang Pilot F-15 Menembak Jatuh Satelit

F-15 menembakkan rudal ASAT
Peluncuran rudal ASAT (anti-satelit) pada 13 September 1985. (USAF / Paul Reynolds)

Pada 13 September 1985, seorang pilot tes F-15, Mayor Wilbert D. "Doug" Pearson, berangkat dari Pangkalan Angkatan Udara Edwards, California, Amerika Serikat (AS), untuk sebuah misi yang akan menjadikannya sebagai orang pertama dalam sejarah penerbangan.

Dinamai sebagai "Celestial Eagle Flight," misi itu memerintahkan Pearson untuk terbang melakukan pendakian vertikal dekat hingga lebih dari 35.000 kaki (10.668 m) menggunakan pesawat tempur F-15A yang dimodifikasi, untuk menembakkan rudal sepanjang 18 kaki (5,5 m) dan berat 2.700 pon (1.225 kg), ke ruang angkasa dan "membunuh" satelit usang pada ketinggian 340 mil (547 km - sekitar setinggi yang bisa diterbangkan pesawat ulang-alik).

Misi itu adalah puncak dari program pengembangan dan pengujian selama enam tahun untuk rudal anti-satelit (ASAT). Penerbangan itu mengharuskan Pearson untuk tiba pada titik dan waktu yang tepat di kisaran Pacific Missile Test Range, dan menembakkan rudal ASM-135A ASAT secara otomatis dari perut pesawatnya, membidik laboratorium surya Solwind P78-1 seberat 2.000 pound (907 kg), yang diluncurkan pada tahun 1979.

Senjata di ruang angkasa masih kontroversial, bahkan hingga hari ini terus dikembangkan. Begitu juga usaha untuk menembak jatuh satelit, terutama di komunitas sains, karena meskipun satelit itu tidak lagi beroperasi, masih dapat memberikan data berharga. Tapi itu cerita lain.

F-15 membawa rudal ASAT
F-15A yang membawa rudal ASM-135 ASAT. (USAF
F-15 menembakkan rudal ASAT
Peluncuran rudal ASAT (anti-satelit) pada 13 September 1985. (USAF / Paul Reynolds)

Mencapai kecepatan supersonik di Mach 1.2 (1.470 km/jam), Mayor Pearson melakukan pendakian 3.8g, 65 derajat, melambat hingga tepat di bawah Mach 1 (1.225 km/jam), sebelum akhirnya menembakkan rudal pada ketinggian 38.100 kaki (11.613 m), sekitar 200 mil (322 km) sebelah barat Pangkalan Angkatan Udara Vandenberg.

Rudal itu berpisah dari roket pendorong setelah tahap pertama, dan kemudian didorong kendaraan homing miniatur dengan sensor inframerah ke ruang angkasa mencegat satelit, memakukan target dengan kecepatan akhir 15.000 mph (24.140 km/jam) dan menandai pembunuhan satelit pertama kali dalam sejarah oleh rudal yang diluncurkan dari pesawat tempur.

Diketahui, alasan AS mengembangkan program dan misi ini adalah untuk mengonter Uni Soviet yang memiliki kemampuan kuat dalam meluncurkan dan menyebarkan satelit-satelit mini untuk memata-matai keberadaan pasukan militer AS, terutama kapal perang di laut.

Baca juga: Rusia Menguji Rudal Anti-Satelit 'Direct-Ascent'
Baca juga: MiG-31 Rusia Bawa Senjata Anti Satelit?
Baca juga: Satelit Baru Rusia adalah Senjata Luar Angkasa?

Rudal ASAT
Rudal ASAT anti-satelit di Space Gallery di Museum Nasional Angkatan Udara AS di Dayton, Ohio. Rudal ini pada akhirnya tidak pernah masuk produksi dan tidak pernah melayani militer AS. (USAF/Ken LaRock)

Pada awalnya Angkatan Udara AS ingin memodifikasi 20 buah F-15 untuk melakukan hal yang sama, tetapi karena biaya yang mahal dan masalah teknis lainnya, program akhirnya dihentikan pada tahun 1988 (setelah F-15 sudah dimodifikasi tentu saja).

Berdasar keterangan dari Angkatan Udara AS, pesawat itu, F-15A dengan register 76-0084, adalah F-15 ke-275 yang diproduksi dari jalur perakitan McDonnell Douglas di St. Louis, dan pesawat itu terbang pertama kali pada Hari Veteran pada tahun 1977.

F-15 kala itu memiliki banyak keunggulan dari semua pesawat tempur, dan cukup besar dan kuat sehingga bisa membawa rudal yang cukup besar. Memiliki kemampuan navigasi yang baik, sangat andal, dan dapat beroperasi dari banyak pangkalan udara, F-15 merupakan pilihan yang sempurna.

Baca juga: F-15 Eagle, Salah Satu yang Terbaik dari AS
Baca juga: F-15 Eagle: Jet Tempur Tua dengan Sejarah Tempur Mengesankan

Pilot Pearson
Mayor Jenderal Doug Pearson, kiri, dan Kapten Todd Pearson, kanan, sesaat sebelum Kapten Pearson terbang untuk memperingati misi Celestial Eagle 13 September 2007. (USAF / Erik Hofmeyer)

Pesawat bersejarah itu pensiun di Pusat Pemeliharaan dan Regenerasi Aerospace "Boneyard" di Pangkalan Angkatan Udara Davis Monthan sejak tahun 2009. Pearson sendiri pada akhirnya menjadi Komandan Pusat Tes Penerbangan Angkatan Udara AS dengan pangkat terakhir mayor jenderal. Putra Pearson, Todd Pearson juga mengikuti jejak sang ayah sebagai penerbang F-15.

Senin, Juli 06, 2020

Seberapa Tangguh Kapal-kapal Induk China?

Kapal induk Liaoning
Kapal induk Liaoning China

Mampukah mereka melawan Amerika?

Sementara salah satu kapal induk Amerika Serikat, USS Theodore Roosevelt tengah sibuk menghadapi wabah virus korona yang sekarang telah menjadi mematikan, salah satu kapal induk China berlayar melewati Taiwan untuk unjuk kekuatan. Meskipun Taiwan sudah menggegas jet tempurnya untuk memantau dan mencegat, itu mungkin bukan hal yang bisa diterima Angkatan Laut AS.

China saat ini mengoperasikan dua kapal induk dengan kapal induk ketiga masih berada di galangan kapal, dan yang keempat masih direncanakan. Tapi seperti apakah program kapal induk China dan bagaimana kekuatannya?

Kapal induk kemarin digunakan hari ini
China saat ini memiliki dua kapal induk, dengan kapal induk yang ketiga masih dalam konstruksi awal, dan yang keempat direncanakan pembangunannya pada pertengahan 2020 atau 2030-an.

Kapal induk pertama mereka, Liaoning ditugaskan oleh Angkatan Laut China (PLAN) pada tahun 2012, meskipun lunas kapal ini pertama kali diletakkan pada awal 1990-an. Liaoning sebenarnya kapal induk Ukraina yang belum selesai, diwarisi dari Uni Soviet, yang kemudian dijual ke China.

Kapal induk kedua China, Tipe 002, pada dasarnya adalah tiruan dari Liaoning, meskipun memang menampilkan beberapa peningkatan tambahan seperti peningkatan radar, dan penambahan kapasitas pesawat tempur. Seperti halnya Liaoning, kapal induk Tipe 002 memiliki "ski jump" besar di atas haluan untuk membantu meluncurkan pesawat tempur ke udara.

Baca juga: Kerja Keras China Membangun Kapal Induk Pertamanya
Baca juga: Kisah Xu Zengping yang Membelikan Kapal Induk untuk Angkatan Laut China

Kapal induk Shandong China
Kapal induk Shandong (Tipe 002) China

Tipe 003
Ukuran Tipe 003 akan lebih besar daripada Tipe 002 dan Liaoning, dan memiliki sistem bantuan peluncuran ketapel yang mirip dengan apa yang digunakan kapal induk Amerika Serikat — dan dengan demikian kemungkinan Tipe 003 tidak lagi menggunakan platform peluncuran dengan "ski jump".

Dalam sebuah wawancara dengan laman The National Interest, seorang pakar kemampuan angkatan laut China mengatakan bahwa: "Kapal ketiga akan merupakan ketapel uap dan peralatan penangkap hidraulik yang akan memungkinkan China untuk meluncurkan pesawat dengan muatan bom yang lebih berat dan menempuh jarak yang lebih jauh."

Ahli lain setuju, mengatakan bahwa: "Itu (Tipe 003) juga kemungkinan akan lebih besar dari Tipe 001 atau Liaoning, memungkinkannya untuk mengangkut lebih banyak pesawat. PLAN juga ingin memperluas jangkauan pesawat berbasis kapal induk mereka, dan yang lebih penting, mereka harus mampu meluncurkan pesawat peringatan dini dan peperangan elektronik serta pesawat-pesawat pembom tempur yang lebih besar yang dapat membawa lebih banyak senjata. Mereka membutuhkan ketapel dan alat tangkap untuk mengerahkan pesawat-pesawat jenis ini. Jadi lebih banyak pesawat, dan lebih bersenjata."

Baca juga: Kapal Induk Ketiga China Sekelas Kapal Induk Nimitz AS
Baca juga: 5 Pesawat Tempur Kapal Induk Terbaik dalam Sejarah

Desain kapal induk Tipe 003 China
Desain kapal induk Tipe 003 China

Tipe 004
Jika sudah selesai, Tipe 004 akan menjadi yang paling canggih dari seluruh kapal induk China dan akan dianggap sebagai kapal induk generasi ketiga. Selain kemampuan peluncuran elektromagnetik, Tipe 004 akan menjadi kapal induk pertama di PLAN yang akan menggunakan tenaga nuklir. Tipe 004 juga akan memiliki output daya yang cukup untuk menggunakan senjata railgun dan laser yang saat ini sedang dalam pengembangan dan pengujian.

China dilaporkan menghabiskan lebih dari $ 3 miliar untuk meneliti reaktor nuklir garam cair unik yang dapat digunakan untuk menggerakkan Tipe 004. Konon menghasilkan lebih banyak panas, yang dapat dikonversi menjadi listrik, dan hanya menghasilkan sedikit radiasi sebagai reaktor bertenaga uranium.

Peletakan lunas Tipe 004 diharapkan pada akhir 2020-an atau setelahnya

Baca juga: China Siap Lengkapi Kapal Perusak dengan Railgun Elektromagnetik

Kapal induk masa depan China
China jelas masih harus menempuh jalan panjang. Dua kapal induk yang PLAN operasikan saat ini desainnya berdasarkan teknologi 1980-an yang sama sekali tidak dapat disejajarkan dengan kapal induk nuklir modern saat ini. Tapi tetap saja, China telah mengalami kemajuan pesat. Jika Tipe 003 dan Tipe 004 nantinya sesuai seperti yang diproyeksikan para analis barat dan seperti yang diklaim oleh China — maka PLAN akan mampu memproyeksikan kekuatannya ke belahan bumi mana pun seperti halnya Amerika. (NI)

Minggu, Juli 05, 2020

Desain Mengesankan Pesawat Pembom Nuklir Swedia yang Terlupakan

Desain Saab 36

Swedia menginginkan pesawat pembom nuklir untuk mempertahankan diri. Ini adalah sejarah dari program pesawat pembom nuklir Swedia.

Setelah Perang Dunia II berakhir, Swedia memprakarsai program nuklir rahasia - dan juga berencana memiliki pesawat pembom nuklir berkecepatan supersonik.

Nuklir untuk Perdamaian
Pasca Perang Dunia II, negara-negara Eropa dihantui kekuatan Uni Soviet. Seperti negara-negara pasca perang lainnya, Swedia juga ingin melindungi dirinya dari invasi Soviet - dan memutuskan untuk membuat senjata nuklir untuk memastikan keamanan wilayahnya.

Awalnya, Swedia berusaha memperoleh keahlian senjata nuklir dari luar negeri. Amerika Serikat, sebagai ahli nuklir pertama di dunia dan penjamin keamanan Eropa, adalah mitra yang logis.

Pada hari-hari awal Perang Dingin, Amerika Serikat giat mempromosikan tenaga nuklir untuk produksi energi - konsep "Atoms for Peace" dari Presiden Eisenhower. Amerika hanya mau mentransfer materi dan pengetahuan nuklir ke negara lain dengan syarat bahwa penelitian dan pengembangan nuklir hanya untuk tujuan damai, tidak untuk senjata. Karena alasan ini, Swedia pun menolak.

Membeli senjata nuklir langsung dari Amerika Serikat juga bukan merupakan pilihan yang menarik bagi Swedia.

Beruntung bagi Swedia, tanah Swedia mengandung serpihan yang mengandung Uranium dalam jumlah berlimpah.

Pengembangan pembom nuklir
Pada era 1950-an, Swedia memiliki bahan fisil yang cukup untuk membuat bom nuklir dalam waktu enam bulan. Dan itu jelas membutuhkan pesawat untuk mengirimkannya - muncullah desain Saab 36.

Saab 36 adalah pesawat pembom supersonik bermesin ganda. Saab-36 memiliki sayap delta, dan terbang di kisaran kecepatan Mach 2+. Ketinggian terbang harus 18.000 meter atau 60.000 kaki.

Saab 36 harus berurusan dengan beberapa batasan desain yang akan memengaruhi muatannya.

Desainer di Saab khawatir bahwa senjata yang melekat secara eksternal pada badan pesawat atau sayap akan menimbulkan hambatan, sehingga menurunkan kinerja jet. Kecepatan Mach 2+ yang tinggi juga akan menghasilkan panas dalam jumlah besar yang dapat merusak senjata - atau lebih buruk menyebabkan senjata "mati" atau meledak secara tidak sengaja.

Bom harus disimpan secara internal di ruang senjata tertutup, jauh dari suhu tinggi yang berpotensi bahaya. Ruang senjata internal akan sangat mahal, dan hanya akan ada ruang untuk muatan 800 kilogram, atau 1.800 pon, dan bom nuklir yang jatuh bebas tentu mengurangi kemanjuran dan tujuan pesawat pembom itu sendiri, dan membatasi penggunaannya pada sistem pengiriman senjata taktis daripada sebagai pencegah strategis.

Pada akhirnya, seiring dihentikannya program nuklir Swedia pada tahun 1968, program pengembangan Saab 36 juga terhenti. Gambar desainnya menunjukkan Saab 36 dengan dua mesin jet yang terintegrasi di sayap delta.

Meskipun pesawat pembom Saab 36 tidak pernah diproduksi, namun pekerjaan pada Saab 36 turut berkontribusi untuk pengembangan Saab 37, sebuah pesawat tempur yang merupakan salah satu jet sukses pertama yang menggunakan desain sayap delta.

Baca juga: Swedia Akan Mulai Pengembangan Pesawat Tempur Baru
Baca juga: 7 Pesawat Pembom Terbaik di Dunia

Spesifikasi Saab 36
Karakteristik umum
  • Kru: Satu percontohan
  • Panjang: 17 m
  • Rentang sayap: 9,6 m
  • Luas area sayap: 54 m2
  • Berat kosong: 9.000 kg
  • Berat penuh : 15.000 kg
  • Mesin: 1 × Bristol Olympus, 44 kN
Performa
  • Kecepatan maksimum: Mach 2.14 (2.642 km/jam)
  • Ketinggian terbang: 18.000 m
Persenjataan
  • 1 × 600 kg - 800 kg bom nuklir jatuh bebas

Sabtu, Juli 04, 2020

China Membuat Sendiri Versi Murah dari F-35 Amerika

J-31

Berdasarkan publikasi oleh laman Global Times China, yang mengutip laporan dari industri penerbangan China, pesawat tempur J-31 baru akan siap tahun depan.

Pengembangan J-31 dipimpin oleh Aviation Industry Corporation of China (AVIC) - perusahaan milik negara China yang bergerak dalam produksi pesawat sipil dan militer.

Belum banyak data tentang pesawat baru ini. Sebelumnya J-31 dianggap akan beroperasi dari kapal induk China. Pesawat itu dikembangkan berdasarkan Shenyang FC-31 - prototipe pesawat tempur generasi kelima Tiongkok, yang melakukan penerbangan pertamanya pada 2012 silam. Faktanya, saat ini hanya dua pesawat seperti itu yang telah dibuat.

Banyak analis yang berbicara tentang kemungkinan transformasi J-31 menjadi pesawat kapal induk. Entah ini hanya rumor atau bukan, tapi yang jelas armada kapal induk Tiongkok sekarang mengoperasikan J-15 - pesawat tempur berbasis kapal induk yang dibangun berdasarkan desain Sukhoi Su-33 Soviet (atau lebih mudah menyebutnya sebagai tiruan Su-33).

Saat ini China sudah mengoperasikan satu jenis pesawat tempur generasi kelima, yaitu Chengdu J-20. Pesawat ini dipamerkan kepada umum pada 2016.

Baca juga: Pesawat dan Helikopter Terbaik Buatan Rusia

Lebih lanjut tentang J-31
Bagi negara-negara yang ingin membeli pesawat tempur siluman canggih, J-31 atau FC-31 disediakan China sebagai analog murah dari F-35 Amerika. Enaknya, China tidak akan memaksakan iklim politik untuk menjualnya, tidak seperti Amerika.

Pabrik J-31 belum lama ini memposting foto-foto model J-31 yang dihiasi lambang Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China, yang pengamat militer menilai bahwa pesawat militer itu kemungkinan juga akan digunakan PLA, meskipun sebelumnya pabrik pernah menyatakan bahwa J-31 khusus untuk ekspor.

Modelnya menyerupai desain asli FC-31. Membawa roket di bawah sayap, kompartemen senjata terbuka dan lambang PLA di bagian ekor.

Sekali lagi, ini memicu perdebatan tentang kemungkinan pesawat itu akan melayani PLA.

Masa depan J-31 tampaknya baru akan jelas apabila kapal induk ketiga China sudah selesai pembangunannya, di mana kapal induk ini disebutkan akan menggunakan pesawat tempur baru.

Baca juga: Kapal Induk Ketiga China Sekelas Kapal Induk Nimitz AS
Baca juga: Kisah Xu Zengping yang Membelikan Kapal Induk untuk Angkatan Laut China

J-31

Sebagai analogi, Angkatan Udara AS memiliki F-22 dalam jumlah yang relatif sedikit, yang melengkapi armada besar F-35. Sama seperti F-22, pesawat tempur J-20 akan China gunakan sendiri, tidak diekspor, dan status J-31 kemungkinan akan sama dengan F-35 Amerika.

Harga J-31 diperkirakan akan berfluktuasi di kisaran $ 70 juta, dan ini tidak hanya membuat FC -31 bagus, tetapi hampir merupakan tawaran yang tidak dapat ditolak di pasar pesawat siluman.

Tidak ada negara lain yang mampu menawarkan pesawat tempur siluman dengan harga sedemikian rupa. Ini akan memberikan peluang besar bagi industri penerbangan China untuk menapakkan kakinya di pasar penerbangan militer global.

Apa yang akan diterima pembeli jika J-31 ditawarkan untuk ekspor? Pertama, tidak seperti F-35, J-31 tidak hanya murah, tetapi mesinnya dua. Meskipun kita tidak bisa mengatakan pesawat bermesin ganda lebih dapat diandalkan dari pesawat bermesin tunggal.

Selain itu, karakteristik penerbangan J-31 terlihat lebih baik. Misalnya, kecepatan maksimum J-31 adalah 2.200 km/jam, dibandingkan dengan 1.930 km/jam untuk F-35.

Kedua pesawat memiliki ukuran dan bobot yang hampir sama: panjang J-31 adalah 16,9 m, rentang sayap 11,5 m, berat maksimum lepas landas 25 ton, berat muatan 8 ton, Batas ketinggian terbang praktis 18.200 meter, dan radius tempur 1.200 kilometer.

China mengklaim bahwa J-31 memiliki fitur siluman yang baik, kesadaran informasi, kemudahan operasi dan kemampuan untuk menyerang target udara, darat dan laut, dan usai pakai hingga 30 tahun.

Secara teori, semua yang ditawarkan J-31 harusnya menarik bagi pelanggan asing. Poin penting lain yang perlu dicatat bahwa mesin RD-93 (mesin pada JF-17 Thunder) Rusia telah diganti dengan mesin WS-13E buatan mereka sendiri.

J-31 dan F-35

Su-57 Rusia dan J-20 China
Ketika Su-57 memasuki produksi serial, Moskow juga melakukan upaya untuk mengekspor pesawat tempur itu kepada para importir senjata utama Rusia seperti Turki, India, dan China.

Selama beberapa tahun terakhir, media pertahanan Tiongkok sangat antusias mengikuti perkembangan Su-57. Ulasan-ulasan mereka yang sebagian besar bernada positif sering dianggap sebagai salah satu penentu minat impor China.

Tetapi bagaimana jika pertanyaannya terbalik? Apa pendapat Rusia tentang pesawat tempur J-20 China?

Sementara ulasan-ulasan media pada umumnya hanya memuji Su-57, rekan media Rusia mereka jauh lebih bijak menyikapi J-20. Dalam sebuah artikel belum lama ini tentang kerjasama saling menguntungkan dari kesepakatan impor Su-57 China, outlet pertahanan Rusia terkemuka RG menyimpulkan bahwa Su-57 tidak lebih baik atau lebih buruk daripada J-20, keduanya memenuhi tujuan operasional yang sama sekali berbeda.

J-20 dirancang sebagai platform siluman untuk menembus pertahanan udara canggih untuk menargetkan infrastruktur penting atau aset militer. Su-57, di sisi lain, unggul sebagai platform superioritas udara yang "menggadaikan" fitur siluman dan serangan daratnya demi potensi pertempuran "dog fight." Dengan demikian, RG sudah dengan tepat mencirikan dorongan argumen ekspor Rusia, yaitu: Angkatan Udara China harus membeli Su-57 bukan sebagai pengganti, tetapi sebagai pelengkap J-20.

Mungkin aspek yang paling lazim, jika tidak kontroversial, komentar Rusia mengenai J-20 adalah soal tuduhan berulang bahwa China membangun J-20 berdasarkan proyek pesawat tempur generasi kelima Soviet yang diajukan pada tahun 2000.

Baca juga: Pesawat dan Helikopter Terbaik Buatan Rusia
Baca juga: Rusia Berencana Ekspor Massal Su-57

Dmitry Drozdenko, wakil editor publikasi militer Rusia "Arsenal of the Fatherland," mengatakan kepada Sputnik bahwa J-20 didasarkan pada MiG 1.44 yang bernasib malang: "Menurut saya, mesin (maksudnya pesawat J-31) tersebut didasarkan pada MiG 1.44 Rusia. Pesawat itu dibuat untuk bersaing dengan PAK FA desain awal. Pesawat China sangat mirip. Meskipun belum diumumkan secara resmi, J-20 menggunakan mesin AL-31F kami, yang dikembangkan oleh Salut, yang dibeli orang China dengan harga setengah miliar dolar."

Artikel itu kemudian mengutip konfigurasi canard dan bagian ekor yang berbentuk serupa sebagai contoh kemiripan yang diduga aneh antara kedua pesawat tempur.

TASS, kantor berita terkemuka Rusia, mencatat bahwa sejumlah J-20 saat ini dijalankan dengan mesin AL-31F dan bahwa J-20 berbagi desain aerodinamika "mirip bebek" yang khas dengan MiG-1.44, tetapi belum ada laporan yang menyebutkan bahwa orang China berkonsultasi secara langsung dengan Rusia untuk membangun J-20.

Berhubungan dengan masalah mesin, komentator pertahanan Rusia senada dengan rekan-rekan Barat mereka dalam skeptisisme mereka tentang status mesin WS-15 yang seharusnya digunakan J-20.

MiG 1.44 dan J-20

Baca juga: Perbandingan: J-20 China VS F-22 Raptor AS
Baca juga: China Klaim Jet Tempur Siluman J-20 Bisa 'Beast Mode' Seperti F-35

Masalah kinerja dan keandalan mesin WS-15 telah memaksa China memproduksi J-20 awal dengan WS-10B yang berdesain lebih tua dan inferior. Ada spekulasi singkat pada 2018 bahwa para insinyur China telah berhasil memperbaiki WS-15, tetapi belum ada konfirmasi lebih lanjut hingga saat ini.

Meskipun Moskow mungkin tidak memiliki niat untuk mengimpor pesawat tempur siluman andalan China itu, persepsi mereka tentang hal itu relevan dengan upaya berkelanjutan Rusia untuk menjual Su-57 pada China. Secara khusus, Rosoboronexport - agen ekspor senjata Rusia - harus membuat kasus yang meyakinkan bahwa Su-57 memang memiliki sesuatu yang dibutuhkan oleh China, sesuatu yang tidak dimiliki J-20.

Demikian juga, evaluasi mereka terhadap J-20 secara strategis penting dalam konteks hubungan pertahanan China-Rusia yang sedang berkembang di mana masing-masing pihak tidak ingin diturunkan statusnya menjadi mitra junior.

Pesawat KC-390 Millenium Baru yang 'Powerfull' akan Layani Militer Brasil

KC-390

Setelah prosedur penerimaan selesai, perusahaan dirgantara Brasil Embraer pada 27 Juni lalu menyerahkan pesawat angkut militer KC-390 Milenium ketiga kepada Angkatan Udara Brasil. Pesawat dengan nomor register FAB-2855 itu mendarat di pangkalan udara Anapolis Brasil pada 16:35 waktu setempat.

Prosedur penerimaan untuk KC-390 baru berlangsung dari 4 Mei hingga 26 Juni 2020. Itu dihadiri oleh berbagai pihak yang terlibat dan terkait pengembangan dan program KC-390 Brasil.

KC-390 baru akan menjadi bagian dari sayap udara ke-2 dari grup penerbangan transportasi pertama (1 Grupo Transporte de Tropa - 1 GTT), yang dibentuk pada 2018 di Anapolis.

Seperti yang direncanakan, dalam waktu dekat, KC-390 baru Brasil akan mulai melakukan tugas yang sebelumnya diemban oleh dua pesawat lain. Secara khusus, pesawat untuk saat ini digunakan untuk misi mengangkut pasien dan peralatan untuk mengatasi pandemi Covid-19.

Pada Mei 2014 lalu, Komisi Koordinasi Penerbangan Tempur Angkatan Udara Brasil (COPAC) menandatangani kontrak dengan Embraer untuk penyediaan 28 pesawat KC-390 dan dukungan logistik awal selama sepuluh tahun. Biaya perjanjian diperkirakan 7,25 miliar real (3,26 miliar dolar) pada saat penandatanganan.

Di bulan yang sama, amandemen kontrak ditandatangani, hasilnya pengiriman dua prototipe senilai 72,86 juta real. Pesawat dirakit di sebuah perusahaan di Gaviao Peixiot (São Paulo). KC-390 baru akan menggantikan pesawat turboprop Hercules C-130 / KC-130 yang telah dioperasikan Brasil sejak 1960-an.

KC-390 dirancang untuk mengangkut pasukan dan kargo, pendaratan, dan mengisi ulang bahan bakar pesawat terbang dan helikopter di udara, melakukan operasi pencarian dan penyelamatan (SAR), evakuasi medis, pemadam kebakaran, serta mendukung misi kemanusiaan.

Pesawat dapat dilengkapi dengan kontainer yang berisi peralatan pengawasan elektro-optik/inframerah untuk digunakan dalam misi pencarian dan penyelamatan (SAR).

Prototipe pertama KC-390 terbang pertama kali pada 3 Februari 2015. Pada 9 Oktober 2018, uji penerbangan produksi pertama KC-390 dimulai. Pesawat KC-390 pertama (nomor register FAB 2853) diserahkan kepada Angkatan Udara Brasil pada 4 September 2019, dan yang kedua pada 13 Desember 2019.

Pada Agustus 2019, Embraer menandatangani kontrak ekspor pertama untuk pasokan lima pesawat KC-390 untuk Angkatan Udara Portugal. Pengiriman direncanakan akan dimulai pada 2023.

KC-390 dapat mengangkut 26 ton kargo, mengembangkan kecepatan maksimum hingga 470 knot (870 km/jam), dan dapat digunakan pada landasan pacu yang tidak beraspal atau rusak. Jangkauan dengan 23 ton kargo adalah 1.380 mil laut (2.556 km), sedangkan jangkauan feri dengan tangki bahan bakar internal mencapai 4.640 mil laut.

Ketinggian maksimum terbang adalah 11 km. KC-390 dilengkapi dengan dua mesin turbojet International Aero Engines V2500-E5, avionik terbaru, pintu belakang, sistem penanganan kargo canggih, dan radar Leonardo Gabbiano.

Kemampuan muat KC-390 termasuk 80 personel militer atau 66 penerjun payung; tiga kendaraan lapis baja jenis Humvee atau satu helikopter multiguna Black Hawk UH-60; dua BBM M-ATVs atau satu BBM "Boxer", "Stryker", BMP-3 atau AMV.

Pesawat ini dapat dilengkapi dengan tangki bahan bakar internal yang dapat dilepas dan sistem pengisian bahan bakar kontainer underwing, menerima bahan bakar dari pesawat tanker lainnya.

KC-390

Brasil menguji KC-390 tahun lalu
Tahun lalu, Angkatan Darat AS mengumumkan bahwa industri pertahanan Brasil bekerja sama dengan Angkatan Udara negara itu akan melakukan serangkaian uji coba pesawat pengangkut militer Embraer KC-390 yang baru di Yuma Proving Ground.

Yuma Proving Ground (YPG), salah satu instalasi militer besar seluas 827.000 hektar, adalah pusat uji coba utama Angkatan Darat AS untuk berbagai kendaraan dan sistem senjata.

Saat itu YPG mengakomodasi sekitar 70 orang dari Brasil, yang meliputi pemelihara, pilot uji, dan insinyur, yang berada di sana untuk sertifikasi pengujian airdrop dari pesawat Embraer KC-390.

Mengingat Embraer KC-390 adalah pesawat angkut militer bertenaga jet bermesin ganda dengan penggunaan multi-fungsi segera akan digunakan Angkatan Brasil dalam waktu dekat, maka sertifikasi harus lengkap sebelum pesawat menjalankan misi.

Proses sertifikasi di YPG terdiri dari beberapa tes. Angkatan Udara Brasil menetapkan persyaratan dan YPG mendukung Embraer dalam melakukan setiap tes kritis.

Kala itu, petugas uji Carlos Anaya menjelaskan, "Peran YPG untuk proyek ini adalah mengatur semua muatan, mengepak parasut, mengumpulkan data instrumentasi, foto, video, dan dukungan jangkauan koordinat."

Roberto Becker, seorang kepala insinyur uji terbang untuk Embraer, di mana ia telah bekerja di sana selama 30 tahun. Meskipun ini bukan pertama kalinya ia berada di YPG, tapi ini adalah pertama kalinya dia datang ke YPG untuk untuk tes ini. Setelah tes, ia yakin dengan KC-390.

"Pesawatnya luar biasa," katanya. "Pesawatnya bekerja dengan sempurna, tidak ada kerusakan, sistem beroperasi berjalan dengan sangat baik."

Becker menjelaskan bahwa KC-390 telah menjalani sertifikasi dasar dan sekarang YPG mendukung untuk sertifikasi misi militer. Dia senang dengan prosesnya. "Staf YPG benar-benar profesional dan mereka tahu apa yang mereka lakukan."

Jumat, Juli 03, 2020

Dua Fregat Jumbo Kelas Iver Huitfedlt untuk TNI AL

Iver Huitfedlt

Kementerian Pertahanan Indonesia telah menandatangani kontrak awal dengan perwakilan Odense Maritime Technology (OMT) Denmark untuk memasok dua fregat kelas Iver Huitfeldt dalam waktu lima tahun dengan total biaya $ 720 juta.

OMT telah mempromosikan fregat kelas Ivan Huitfeldt mereka sebagai alutsista matra laut untuk persyaratan fregat besar baru TNI AL, pihak Kementerian Pertahanan juga menyetujui hal itu untuk menjadi solusi terbaik di antara beberapa pilihan fregat yang dipertimbangkan.

Varian kelas Iver Huitfedlt TNI AL nantinya akan memiliki tata letak desain eksterior, subsistem dan sistem sensor dan persenjataan yang berbeda, sedangkan fitur desain dasarnya akan tetap serupa dengan varian Angkatan Laut Kerajaan Denmark.

Fregat berukuran jumbo ini diakuisisi sebagai bagian dari modernisasi alutsista dalam program Minimum Essential Force (MEF) aau Kekuatan Pook Minimum tahap kedua yang berlangsung dari 2015 hingga 2019. Setelah diluncurkan nanti, fregat ini akan menjadi kapal perang permukaan terbesar di Asia Tenggara, jika kapal induk Thailand tidak dihitung.

Sebagai catatan, dalam program MEF, TNI AL sebelumnya mengakuisisi dua kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) SIGMA 10514 dari Damen Belanda yang sekarang adalah Kelas R.E.Martadinata, tetapi ini masih kurang, TNI AL setidaknya masih membutuhkan empat "lambung besi" lagi untuk memenuhi persyaratan MEF dalam jangka panjang.

Iver Huitfedlt

Baca juga: Mengenal 4 Korvet Kelas Sigma TNI AL
Baca juga: Kapal Perang Tercanggih TNI AL Ambil Bagian dalam MNEK 2018

Iver Huitfedlt

Sekilas Fregat Kelas Iver Huitfeldt

Kelas Iver Huitfeldt berbobot benaman 6.500 ton saat muatan penuh dan didorong oleh empat mesin diesel MTU 20V 8000 M70 dalam konfigurasi CODAD (Combined Diesel and Diesel), yang memungkinkan kecepatan maksimum 30 knot, dan jangkauan maksimum 9.300 mil laut dengan kecepatan 18 knot.

Frigat kelas Iver Huitfeldt dilengkapi dengan empat sistem peluncur vertical (VLS) Mk. 41 VLS 8 sel, dua VLS Mk. 56 VLS 12-sel, hingga 16 rudal jelajah anti-kapal Harpoon, 2 kanon OTO Melara 76 mm, senjata angkatan laut Oerlikon Millenium 35 mm, dan dua peluncur triple torpedo ringan.

Fregat yang berdimensi panjang 138,7 m dan lebar 19,75 m ini juga memiliki hanggar dan dek helikopter untuk mengakomodasi helikopter militer berukuran sedang.

Kamis, Juli 02, 2020

India Siap Tinggalkan Su-57 dan Fokus Membeli F-35

F-35

Menurut beberapa sumber militer di India yang tertuang di media setempat, serta menurut publikasi laman Sohu China, ada kemungkinan besar bahwa India akan meninggalkan Super Sukhoi Su-57 Rusia dan pindah ke F-35 Amerika Serikat (AS).

Tingginya biaya varian upgrade Super Sukhoi Su-57 akan menjadi masalah bagi India, dan Su-57 versi dasar saat ini kemampuannya belum maksimal.

India mungkin sudah ngebet untuk membeli Su-57. Jika pun kontrak terjadi sekarang, pesawat kemungkinan baru bisa dikirimkan 5 tahun lagi, untuk inilah India mulai mempertimbangkan kemungkinan mengakuisisi F-35A AS.

Menurut beberapa laporan, biaya varian upgrade dari Su-57 akan bervariasi mulai dari 150 hingga 200 juta dolar, dan mengingat fakta bahwa India berencana untuk memperoleh beberapa ratus pesawat tempur generasi kelima, jelas ini nilainya sangat besar sekali - miliaran dolar.

Mengingat harga ekspor F-35 Amerika ada kisaran 120-140 juta dolar, dan pesawat tempur ini sudah terjun langsung melakukan operasi militer, India kemungkinan akan benar-benar meninggalkan Super Sukohi Rusia tersebut.

Tidak berlebihan jika mengatakan bahwa Su-57 yang asli adalah Su-57 dari produksi tahap kedua nanti yang rencananya akan dirilis pada 2024. Su-57 saat ini hanya dianggap sebagai Su-57 pra- produksi. Bahkan Angkatan Udara Rusia tidak ingin menerimanya dalam jumlah besar.

Satu hal yang tampak jelas bahwa Angkatan Udara India tidak mau menerima Su-57 versi dasar saat ini. Kalaupun India menginginkan Su-57, maka yang dimaksud adalah Su-57 varian kedua yang baru akan muncul pada tahun 2025. Jadi jika India ingin memiliki pesawat tempur generasi kelima dalam kurun waktu lima tahun ini, F-35A/B adalah pilihan paling ideal. Lagipula, Rusia tidak mungkin akan meminta kurang dari 150 juta dolar kepada India untuk satu unitnya.

Sebelum ini, India pernah bersama Rusia mengembangkan bersama pesawat tempur generasi kelima dalam proyek Fifth Generation Fighter Aircraft (FGFA), namun akhirnya batal di tengah jalan mengingat efisiensinya yang rendah dan biaya yang terlalu mahal.

Baca juga: Rusia Sedang Kembangkan Senjata Baru untuk Su-57
Baca juga: Proyek Jet Tempur Siluman India-Rusia Alami Kendala


Pasar Su-57
Rusia siap menggandeng India untuk menciptakan pesawat tempur generasi kelima; proyek ini mungkin akan termasuk dalam kontrak penjualan Su-57, ini pernytaan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rusia Denis Manturov pada Februari lalu. Manturov juga mengatakan bahwa Rusia siap melanjutkan negosiasi dengan India untuk pesawat tempur generasi kelima.

Manturov kala itu juga menyebutkan bahwa Kementerian Pertahanan Rusia telah memesan 76 pesawat tempur Su-57. Hal ini bisa menjadi sinyal positif bagi India yang merupakan mitra lama Rusia.

Manutrov juga mencatat bahwa pesawat tempur MiG-35 Rusia yang baru, yang juga masuk dalam kandidat tender India, melampaui banyak pesaingnya dalam hal kinerja penerbangan dan persenjataan.

Hal lain yang tidak bisa diabaikan dalam kemungkinan penjualan Su-57 ke India adalah India memiliki dana yang banyak dan Angkatan Udara India telah mengoperasikan peralatan buatan Rusia selama lebih dari 50 tahun. Tapi tetap saja keputusan menjadi milik India.

Baca juga: Asal-Usul Nama dan Keunggulan Su-57
Baca juga: India Mulai Pengembangan Pesawat Tempur Mesin Ganda Berbasis Kapal Induk

Angkatan Udara India
Pada 22 Juni, kolumnis Amerika di Forbes, David Axe, mengingatkan kejadian baru-baru ini tentang kematian 20 tentara India dalam bentrokan dengan tentara China di sepanjang perbatasan sengketa India-China, yang merupakan kawasan pegunungan yang menjulang tinggi. Dia juga mencatat bahwa, setidaknya empat puluh tiga tentara Tiongkok terluka dalam bentrokan itu.

"Tidak mengherankan bahwa India minggu ini diduga melakukan pemesanan dengan Rusia sebesar $ 780 juta untuk 33 pesawat tempur, yang cukup untuk melengkapi dua skuadron," kata publikasi itu.

Diketahui bahwa New Delhi baru-baru ini membeli 21 pesawat tempur MiG-29 dan belasan Su-30.

Angkatan Udara India telah lama merencanakan untuk membeli pesawat tambahan untuk memperkuat Angkatan Udara mereka, yang terdiri dari sekitar 230 Su-30 dan 60 MiG-29. Di tahun-tahun mendatang, New Delhi juga berencana mengakuisisi 83 pesawat tempur ringan Tejas buatan lokal, serta 144 pesawat tempur medium.

David Axe mencatat bahwa semua pesawat tempur baru itu adalah bagian dari upaya untuk meningkatkan kekuatan garis depan Angkatan Udara India dari 28 skuadron menjadi 40 skuadron, jumlah yang dianggap cukup memadai oleh New Delhi untuk bertempur secara serentak dengan Pakistan dan China.

Ke 28 skuadron ini terbang dengan beragam pesawat tempur yang menakjubkan, termasuk buatan India dan Rusia, Mirage 2000 dan Rafale Prancis, dan Jaguar Eropa.

Tom Cooper, seorang penulis dan pakar penerbangan, menyatakan keterkejutannya bahwa Angkatan Udara India menginginkan Su-30 dan MiG-29 untuk memenuhi dua skuadronnya. Su-30, meskipun di atas kertas tampak mengesankan, dibandingkan dengan model Barat, menurutnya pesawat ini belum memiliki kinerja nyata dalam pertempuran sesungguhnya.

David Axe menjelaskan bahwa sudut pandang Cooper adalah seperti ini: selama beberapa dekade di dalam Angkatan Udara India, Mirage 2000 adalah pesawat tempur yang lebih efektif ketimbang Su-30. Rafale, penerus Mirage buatan Prancis, juga merupakan salah satu pesawat tempur terbaik India.

Forbes mengatakan bahwa selain belum memiliki amunisi udara-ke-darat presisi tinggi terbaru, Su-30 belum terbukti berkinerja baik dengan pangkalan udara ketinggian tinggi yang mendukung operasi India di sepanjang perbatasannya dengan China.

MiG-29 yang lebih ringan lebih cocok untuk Angkatan Udara India daripada Su-30. Namun, ini tidak berarti bahwa MiG lama adalah pilihan yang tepat untuk New Delhi.

Baca juga: 5 Hal yang Mungkin Tidak Anda Ketahui dari F-35
Baca juga: 10 Pesawat Tempur Tercepat di Dunia (2014)
Baca juga: 5 Pesawat Tempur Kapal Induk Terbaik dalam Sejarah

Su-57 dan F-35
Pesawat tempur Rusia Su-57 memang diakui sebagai mesin tempur yang bagus saat ini. Namun, pengamat menilai masih ada sesuatu yang perlu diperbaiki, termasuk indikator dasar.

Jika kita membandingkan Su-57 dengan F-35 Amerika, maka Su-57 unggul dalam hal kemampuan manuver, jangkauan penerbangan, dan kecepatan tertinggi, yang membuatnya lebih menarik bagi pembeli di pasar luar negeri. Tidak sia-sia bahwa Turki, yang dalam situasi bahaya akan melanggar kontrak pasokan F-35, semakin berfikir untuk membeli Su-57 dari Rusia.

Meskipun demikian, F-35 memiliki satu fitur penting yang telah diperolehnya secara historis. Faktanya adalah pesawat tempur Amerika selalu dirancang sebagai pesawat berbasis kapal induk, dan karenanya memiliki kemampuan untuk lepas landas dan mendarat dalam jarak pendek.

Perlu dicatat bahwa bahkan dalam komponen ini pesawat Rusia memiliki beberapa dasar untuk perbaikan. Desainer Rusia, antara lain, memiliki pengalaman dalam menciptakan pesawat dengan sistem take-off dan landing vertikal, sehingga mereka dapat menggabungkan kualitas pesawat tempur Su-57 terbaru dengan kemampuan Yak-141 yang terkenal di masa lalu sehingga menjadi lebih canggih dari F-35 dalam segala hal.*