Tampilkan postingan dengan label Aerospace. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aerospace. Tampilkan semua postingan

Rabu, Mei 13, 2020

Astronot NASA Pesan Kursi di Soyuz MS Rusia Seharga 1,3T

Astronot NASA Anne McClain di dalam Soyuz MS-11
Astronot NASA Anne McClain menjalankan prosedur pemeriksaan kecocokan kendaraan di pesawat ruang angkasa Soyuz MS-11 Rusia di Fasilitas Integrasi di Baikonur Cosmodrome di Kazakhstan, 20 November 2018. (Kredit: NASA/Victor Zelentsov)

NASA telah memesan sebuah kursi untuk astronotnya di pesawat ruang angkasa berawak Soyuz MS-17 Rusia senilai $ 90 juta (1,3 triliun rupiah) untuk penerbangan ke Stasiun Luar Angkasa Internasional atau International Space Station (ISS), sebuah kesepakatan yang ditandatangani pada hari Selasa, 13 Mei 2020.

"Sebuah kontrak ditandatangani hari ini (Selasa, 13 Mei 2020) untuk menyediakan tempat duduk bagi astronot AS di dalam pesawat ruang angkasa berawak Soyuz MS yang akan diluncurkan ke ISS pada musim gugur 2020," kata layanan pers Badan Antariksa Rusia, Roscosmos, seperti dikutip oleh TASS.

Sementara Roscosmos tidak mengungkapkan nilai kesepakatan dengan menyatakan bahwa itu adalah "rahasia komersial," seorang pejabat NASA dikutip oleh media Rusia mengatakan bahwa organisasinya akan membayar lebih dari 90 juta dolar AS untuk sebuah kursi di Soyuz MS dan layanannya.

NASA mengatakan sebelumnya bahwa pihaknya telah menyelesaikan konsultasi dengan Roscosmos tentang pemesanan kursi di pesawat ruang angkasa Soyuz MS-17 yang akan diluncurkan ke ISS pada musim gugur.

Administrator NASA Jim Bridenstine pada 1 Mei lalu mengatakan, pihaknya sudah mendekati pencapaian kesepakatan tentang pembelian kursi Soyuz. Peluncuran direncanakan untuk Oktober 2020. Dia tidak mengesampingkan bahwa NASA bisa membeli satu kursi lagi.

Soyuz MS-09 di ruang angkasa
Soyuz MS-09 di ruang angkasa. (Kredit: European Space Agency)

Amerika Serikat menghentikan penerbangan luar angkasa berawaknya sendiri pada 2011 sejak program Space Shuttle ditutup. Sejak itu, astronot NASA pergi ke ISS dengan menggunakan pesawat ruang angkasa Soyuz Rusia. Saat ini, sejumlah perusahaan AS sedang mengembangkan pesawat ruang angkasa baru untuk program berawak.

Soyuz-MS adalah revisi terbaru dari pesawat ruang angkasa Soyuz. Soyuz MS merupakan evolusi dari pesawat ruang angkasa Soyuz TMA-M, dengan modernisasi yang sebagian besar terkonsentrasi pada subsistem komunikasi dan navigasi. Soyuz MS digunakan oleh Roscosmos untuk penerbangan berawak ke luar angkasa.

Hingga saat ini Rusia telah membangun 16 pesawat Soyuz MS dengan 15 misi berhasil dan satu misi batal. Peluncuran pertama adalah Soyuz MS-01 pada 7 Juli 2016 di atas kendaraan peluncuran Soyuz-FG menuju ISS. Perjalanan termasuk fase checkout dua hari untuk desain sebelum docking di ISS pada 9 Juli. Soyuz MS-16 saat ini masih menjalankan misi di luar angkasa dengan dua astronot Rusia dan satu astronot NASA.*

Selasa, Mei 05, 2020

China Sukses Luncurkan Pesawat Ruang Angkasa Tak Berawak

Roket Long March 5B baru China lepas landas dari Pusat Peluncuran Luar Angkasa Wenchang di Pulau Hainan pada hari Selasa, 5 Mei 2020. (Foto: Weibo)

Kesuksesan peluncuran pesawat ruang angkasa pada Selasa (5/5) merupakan bagian dari ambisi Tiongkok untuk mengoperasikan stasiun ruang angkasa dan mengirim taikonot (astronot China) ke Bulan, media pemerintah China melaporkan.

Roket Long March-5B lepas landas dari situs peluncuran Wenchang di Pulau Hainan, Selatan China, dan memasuki orbit yang direncanakan, menurut kantor berita Xinhua. "Ini adalah pesawat ruang angkasa purwarupa tanpa awak," sebut Xinhua.

Melansir Channelnewsasia.com, peluncuran tersebut adalah misi pertama roket Long March-5B, stasiun televisi Pemerintah China, CCTV melaporkan, mengutip China Manned Space Engineering Office.

Roket Long March-5B, dengan panjang sekitar 53,7 meter dan berat 849 ton, lepas landas dengan membawa modul pengembalian kargo tiup.

Pada Maret lalu China melaporkan bahwa negaranya berencana meluncurkan pesawat ruang angkasa eksperimental tak berawak. Ini bagian dari program pesawat luar angkasa yang lebih luas untuk mengantar taikonot ke stasiun ruang angkasa masa depan.

Sekaligus, program tersebut untuk eksplorasi ruang angkasa berawak di masa depan. Sebelumnya, peluncuran pesawat ruang angkasa eksperimental tanpa awak dijadwalkan pada pertengahan hingga akhir April.

China berencana menyelesaikan multi-modul, stasiun ruang angkasa yang yang siap huni pada 2022. Tiongkok jadi negara ketiga yang menempatkan manusia di luar angkasa dengan roketnya sendiri pada 2003 lalu, setelah Uni Soviet dan Amerika Serikat (AS).

Sejak itu, China telah berpacu untuk mengejar ketinggalan dengan Rusia dan AS untuk menjadi kekuatan ruang angkasa utama di dunia pada 2030 mendatang.*

Rabu, April 22, 2020

Foto dan Video Keberhasilan Peluncuran Satelit Militer Iran

Dalam foto ini yang dirilis Rabu, 22 April 2020, oleh Sepahnews, Jenderal Amir Ali Hajizadeh, kepala divisi kedirgantaraan Garda Revolusi Iran berdiri di depan roket Iran yang membawa satelit militer di Gurun Markazi, Iran. (Kredit: Sepahnews via AP)

Iran mengumumkan bahwa mereka berhasil meluncurkan satelit militer pertamanya pada 22 April 2020 setelah berbulan-bulan gagal, sebuah program yang menurut Amerika Serikat adalah kedok untuk pengembangan rudal balistik.

Disebutkan satelit itu, yang dijuluki Noor, dikirimkan oleh roket dua tahap Qassed dari gurun Markazi, sebuah bentangan luas di dataran tinggi tengah Iran. Satelit itu mengorbit Bumi pada ketinggian 425 kilometer.

Ketika dunia bergulat dengan pandemi coronavirus dan harga minyak dunia yang rendah secara historis, peluncuran roket itu mungkin menandakan kesiapan Iran untuk mengambil risiko baru.

Analis militer menilai berdasarkan gambar media pemerintah, peluncuran itu tampaknya terjadi di pangkalan Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) di dekat Shahroud, Iran, sekitar 330km timur laut Teheran. Pangkalan itu berada di provinsi Semnan, di mana disanalah lokasi Imam Khomeini Spaceport, tempat program ruang angkasa sipil Iran beroperasi.

Sepahnews via AP

Sepahnews via AP

Sepahnews via AP

Sepahnews via AP

Sepahnews via AP


Ini adalah pertama kalinya Iran berhasil meluncurkan satelit militer yang mana akan digunakan secara khusus untuk pengumpulan data intelijen dan komunikasi yang aman untuk navigasi pasukan Iran.

Dalam beberapa bulan terakhir, Teheran telah mengalami beberapa kali kegagalan dalam peluncuran satelit. Yang terakhir adalah pada bulan Februari ketika Iran gagal menempatkan satelit komunikasi Zafar 1 ke orbit.

Kegagalan itu terjadi menyusul dua peluncuran gagal sebelumnya, yaitu satelit Payam dan Doosti tahun lalu, serta ledakan launchpad roket pada bulan Agustus. Kebakaran di Imam Khomeini Space Center pada Februari 2019 juga menewaskan tiga peneliti.*

Iran Berhasil Luncurkan Satelit Militer Pertamanya

Foto ini dirilis Rabu, 22 April 2020, oleh Sepahnews, menunjukkan roket Iran yang membawa satelit militer diluncurkan dari Gurun Markazi, Iran. (Kredit: Sepahnews via AP)

Garda Revolusi Iran mengumumkan mereka telah berhasil meluncurkan satelit militer pertama negara itu pada hari Rabu, 22 April 2020.

"Satelit yang dijuluki Noor itu berhasil diluncurkan dari (roket) peluncur dua tahap, Qassed, dari Gurun Markazi di Iran," kata situs web milik Garda, Sepahnews, sebagaimana dilaporkan AFP.

Reuters melaporkan, pasukan elit Iran itu mengatakan bahwa satelit telah mencapai orbit. "Satelit itu mengorbit bumi pada ketinggian 425 kilometer," menurut situs web pasukan itu.

"Tindakan ini akan menjadi sukses besar dan perkembangan baru di bidang ruang angkasa untuk Republik Islam Iran," tambahnya, sebagaimana dilaporkan Barrons.

Peluncuran mendadak satelit itu terjadi lebih dari dua bulan setelah Iran meluncurkan satelit lainnya yang gagal mengorbit. Satelit sebelumnya bernama Zafar, yang diluncurkan pada awal Februari, beberapa hari sebelum peringatan ke-41 Revolusi Islam.

Iran klaim roketnya bukan untuk nuklir
Keberhasilan Iran ini tidak serta merta membuat Amerika Serikat (AS) senang. AS menyebut peluncuran satelit Iran sebagai sebuah program kedok untuk pengembangan rudal balistiknya.

Sebelumnya saat Iran meluncurkan roket lainnya pada Januari 2019, AS juga mengkritik program itu. AS menyamakan peluncuran roket itu sebagai pelanggaran pembatasan rudal balistik oleh Iran.

Hubungan Iran dan AS telah memanas sejak Trump menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018 lalu. Di mana setelahnya AS menerapkan kembali sanksi ekonomi pada Iran dengan tujuan agar Iran mau membatasi pengembangan senjata nuklirnya.

Namun Iran terus mengatakan negaranya tidak berniat untuk membuat senjata nuklir dan mengatakan bahwa kegiatan kedirgantaraannya damai dan mematuhi resolusi Dewan Keamanan PBB.

Sejumlah pejabat AS telah  mengkhawatirkan bahwa teknologi roket jarak jauh yang digunakan Iran untuk menempatkan satelit ke orbitnya dapat dimanfaatkan pula sebagai rudal balistik yang berkemampuan nuklir. Namun Iran membantah pernyataan AS dan mengklaim tak pernah mengejar pengembangan senjata nuklir.*

Minggu, Juni 03, 2018

Kapsul Soyuz MS-07 Bawa 3 Astronot Ke Bumi Setelah 168 Hari di Ruang Angkasa


Sebuah pesawat ruang angkasa Rusia yang membawa tiga anggota kru pulang kembali ke Bumi pada hari Minggu (3 Juni 2018) setelah lima bulan tinggal di Stasiun Luar Angkasa Internasional ISS.

Kosmonot Rusia Anton Shkaplerov, Norishige "Neemo" Kanai dari Badan Eksplorasi Ruang Angkasa Jepang (JAXA) dan astronot Scott "Maker" Tingle dari NASA mendarat dengan kapsul ruang angkasa Soyuz MS-07 Rusia di padang rumput Kazakhstan. Turun dengan parasut, kapsul dilambatkan dengan mendorong pendorong dan mendarat di tenggara kota Dzhezkazgan pada pukul 8:39 pagi waktu setempat.

Pesawat ruang angkasa itu dijemput oleh tim recovery yang dipimpin oleh pasukan Rusia yang tergabung di dalamnya petugas medis NASA dan Jepang untuk membantu Shkaplerov, Kanai dan Tingle ketika mereka mulai penyesuaian kembali ke gravitasi Bumi.

Para kru tampak sehat, bersemangat, dan tersenyum. "Pertama-tama, merasa baik," kata Shkaplerov setelah pendaratan. "Kami merasa sedikit lelah. Di saat yang sama, kami bangga telah mencapainya dan kami senang dapat kembali ke Bumi. Kami senang bahwa cuacanya indah, cuaca cerah. Dan pendaratan yang 'lembut.'" kata Shkaplerov setelah pendaratan.
Kru Soyuz MS-07
Kru Soyuz mS-07 Norshige Kanai, Anton Shkaplerov, dan Scott Tingle sesaat setelah mendarat pada 3 Juni (NASA / Bill Ingalls)
Trio astronot ini memulai perjalanan pulang sekitar tiga jam sebelum pendaratan mereka dengan melepas Soyuz mereka dari modul penelitian mini ruang angkasa Rassvet pada jam 5:16 pagi. Keberangkatan itu menandai akhir resmi Ekspedisi 55, kontingen ke-55 stasiun itu sejak tahun 2000.

"Sudah tiga bulan sejak kami memulai Ekspedisi 55 dan saya mengambil alih komando," kata Shkaplerov.

Astronot Drew Feustel dan Ricky Arnold dari NASA dan kosmonot Oleg Artemyev dari Roscosmos, tiba di stasiun luar angkasa pada 23 Maret dan melayani sebagai anggota kru Expedition 55 di bawah komando Shkaplerov, saat ini masih berada ruang angkasa.

Feustel, yang mengambil alih komando stasiun ruang angkasa dari Shkaplerov. mempresentasikan para awak yang berangkat dengan token waktu mereka bersama di orbit. "Saya menawarkan koin Ekspedisi 56 yang kami bertiga telah tandatangani dan simpan untuk Anda sebagai hadiah perpisahan," kata Feustel.

Tiga anggota lagi untuk awak Ekspedisi 56 - Sergey Prokopyev dari Roscosmos, Alexander Gerst dari Badan Antariksa Eropa (ESA) dan Serena Auñón-Chancellor dari NASA - dijadwalkan untuk diluncurkan ke stasiun luar angkasa pada hari Rabu (6 Juni) dan tiba dua hari kemudian.

Pendaratan Shkaplerov, Kanai dan Tingle mengakhiri 168 hari petualangan bersama mereka di ruang angkasa sejak mereka diluncurkan dari Kosmodrom Baikonur di Kazakhstan pada 17 Desember. Selama waktu mereka di orbit, kru Ekspedisi 54/55 berpartisipasi dan membantu melakukan ratusan penyelidikan sains.

Shkaplerov juga melakukan extravehicular activity (EVA, atau spacewalk), yang kedua dari karirnya, bertualang di luar dengan komandan Ekspedisi 54 Alexander Misurkin untuk membantu mengkonfigurasi ulang sistem komunikasi dan melakukan eksperimen sains di sisi stasiun luar angkasa Rusia. Dengan 8 jam dan 13 menit, spacewalk tersebut menetapkan rekor baru untuk EVA Rusia terlama dalam sejarah. Tingle dan Kanai juga melakukan satu EVA-nya masing-masing dengan kru ekspedisi 54 Mark Vande Hei.

Shkaplerov sekarang memiliki tiga misi ruang angkasa untuk catatannya, termasuk masa tinggal 165 hari sebelumnya di stasiun luar angkasa pada tahun 2012 dan ekspedisi 200 hari pada tahun 2015. Shkaplerov kini mencatat total 533 hari, 5 jam dan 31 menit meninggalkan Bumi, peringkat ke-16 di dunia sebagai orang terbanyak menghabiskan waktu di ruang angkasa.

Shkaplerov kembali ke Bumi dengan bola yang akan digunakan dalam pertandingan pembukaan Piala Dunia FIFA 2018, yang akan berlangsung di Rusia dari 14 Juni hingga 15 Juli.

"Sebuah bola Telstar 18 resmi secara khusus dibawa ke stasiun untuk tujuan ini dan bola itu direncanakan untuk dikembalikan ke Bumi bersama dengan kru saya," Shkaplerov men-tweet sehari sebelum pendaratannya.
Shkaplerov dengan bola piala dunia di ISS
Kosmonot Anton Shkaplerov dengan bola sepak bola Telstar 18 di Stasiun Ruang Angkasa Internasional ISS. (TV Roscosmos)
Ini adalah penerbangan pertama Tingle dan Kanai ke luar angkasa. Kanai adalah astronot ke-11 Jepang yang terbang di luar angkasa sejak 1992. Tingle adalah anggota ketujuh (dari sembilan) grup astronot ke-20 NASA yang terbang sejak mereka terpilih pada 2009.

Ketika sudah di Bumi, tiga awak kapal Soyuz MS-07 akan kembali ke agensi masing-masing setelah singgah sebentar di kota Karaganda, Kazakhstan. Shkaplerov akan diterbangkan ke Star City, di luar Moskow; Tingle dan Kanai akan kembali dengan jet NASA ke Johnson Space Center di Houston.

Soyuz MS-07 adalah Soyuz ke-53 yang terbang ke Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Resources
  • http://www.collectspace.com/news/news-060318a-soyuz-ms07-landing.html

Selasa, Mei 22, 2018

China Ambisi Daratkan Pesawat di Sisi Jauh Bulan

Roket Long March-4C
Roket Long March-4C membawa satelit relay, bernama Queqiao (Magpie Bridge), diluncurkan dari Pusat Peluncuran Satelit Xichang barat daya China, pada 21 Mei 2018. (Cai Yang / Xinhua via AP)

China telah memulai tahap pertama rencana ambisiusnya untuk mendaratkan pesawat antariksa di sisi jauh bulan.

Roket Long March-4C telah diluncurkan dari pangkalan antariksa Xichang, barat daya China Senin pagi, 21 Mei 2018, membawa satelit relay Queqiao ke luar angkasa.

Badan Antariksa Nasional China mengatakan satelit Queqiao akan ditempatkan di orbit kira-kira 455 ribu kilometer dari Bumi, di mana satelit itu akan me-relay komunikasi antara pengendali di darat dan pesawat penyelidik bulan Chang’e-4 yang akan diluncurkan kemudian tahun ini.

Jika berhasil, Chang’e-4 akan menjadi pesawat antariksa China yang kedua melakukan pendaratan empuk di bulan, setelah misi penjelajahan bulan tahun 2013.

China berencana meluncurkan satu lagi kendaraan bulan tahun depan, Chang’e-5, yang diperkirakan akan mengumpulkan sampel dari permukaan bulan dan membawanya pulang ke Bumi.

Resources
  • https://www.voaindonesia.com/a/china-mulai-tahap-pertama-pendaratan-di-bulan/4402925.html
  • https://www.ctvnews.ca/sci-tech/china-launches-relay-satellite-for-far-side-moon-landing-1.3938831

Kamis, Mei 17, 2018

Industri Ruang Angkasa China yang Menggeliat

Ilustrasi peluncuran satelit China

Peluncuran roket dan satelit telah menjadi tradisi perusahaan-perusahaan ruang angkasa milik negara China, tetapi kini perusahaan-perusahaan ruang angkasa swasta China telah bermunculan dan berharap mendapatkan "emas" dari debu angkasa.

Sebuah laporan oleh FutureAerospace, sebuah lembaga investasi yang berbasis di Beijing, mengatakan bahwa dalam tiga tahun terakhir lebih dari 60 perusahaan swasta China telah terjun ke industri ruang angkasa komersial, dengan fokus pada produksi dan peluncuran satelit dan roket.

Sebagian besar perusahaan swasta tersebut berbasis di Beijing, rumah bagi banyaknya ahli ruang angkasa China, serta Guangdong, Shaanxi, dan Hubei, di mana industri manufaktur lebih berkembang dari provinsi lain.

Tren ini sejalan dengan kebijakan pemerintah China yang dikeluarkan pada 2015 untuk mendorong perusahaan swasta agar turut serta dalam industri ruang angkasa.

Analis mengatakan bahwa aktivitas ruang angkasa komersial semacam ini dapat membantu menurunkan biaya dan meningkatkan efisiensi kegiatan-kegiatan ruang angkasa, dan mempercepat pengembangan teknologi.

Spacex-nya China?

Perusahaan-perusahaan ruang angkasa ternama Amerika Serikat seperti SpaceX, Blue Origin, dan Virgin Galactic saat ini tengah mengembangkan kendaraan luar angkasa yang hemat biaya dengan tujuan agar orang biasa dapat ikut dalam perjalanan ke luar angkasa. Perusahaan-perusahaan ini telah menginspirasi para pengusaha China.

Didirikan pada Juni 2015, LandSpace, produsen roket, telah memperoleh investasi lebih dari 500 juta yuan (sekitar 78,61 juta dolar AS). Teknisinya adalah mantan pekerja perusahaan ruang angkasa milik negara China.

"Ini adalah waktu terbaik bagi perusahaan ruang angkasa China. Keunggulan perusahaan swasta adalah pengambilan keputusan yang cepat dan peningkatan teknis yang cepat," kata Zhang Changwu, CEO LandSpace, yang menandatangani kontrak dengan perusahaan Denmark untuk menyediakan jasa peluncuran satelit di tahun ini.

LandSpace telah merancang roket kecil propelan-padat "LandSpace-1" yang dapat membawa hingga 300 kilogram muatan ke orbit rendah Bumi. Roket ini akan meluncurkan satelit Denmark di paruh kedua tahun ini. Perusahaan ini sekarang berfokus pada pengembangan mesin propelan cair dan roket ukuran medium berbahan bakar oksigen cair dan metana.

LandSpace tidak sendirian di pasar peluncuran

Ketika Shu Chang tiga tahun lalu menyatakan dia akan memproduksi roket, koleganya mengatakan dia gila.

Menjawab pertanyaan dan ejekan, ia mendirikan OneSpace pada Agustus 2015. Empat bulan kemudian, SpaceX meluncurkan roket Falcon 9 dan me-recovery roket tahap pertama untuk pertama kalinya.

Sebagian memuji Shu sebagai Elon Musk-nya China (CEO SpaceX), tetapi sebagian lainnya menyebutnya sebagai penipu.

Dengan investasi sebesar 500 juta yuan, OneSpace telah mengembangkan mesin roket yang lulus uji coba pabrik. Roket mini pertamanya, yang mampu mengirim kargo 100 kg ke ketinggian 800 km, diharapkan segera diluncurkan.

"SpaceX telah menginspirasi industri ruang angkasa China. Tapi saya tidak ingin menduplikasi cerita SpaceX. Saya ingin perusahaan saya memiliki kelebihan sendiri," kata Shu.

Rising star

Memproduksi satelit diyakini memiliki ambang masuk yang lebih rendah dan potensi komersial yang lebih besar daripada roket, dan telah menarik banyak start-up dan investasi.

Dengan perkembangan sistem kendali otomatis, Internet of Vehicles dan Internet of Things, penginderaan jauh dan komunikasi satelit disebut memiliki banyak prospek cerah.

SpaceOK, sebuah perusahaan yang berbasis di Shanghai, berencana untuk memproduksi dan meluncurkan hingga 40 satelit komunikasi kecil dalam tiga tahun ke depan untuk membantu mengembangkan Internet of Things.

"Kami bertujuan untuk memecahkan masalah klasik perusahaan kedirgantaraan, seperti kurangnya inovasi, biaya tinggi, dan tidak cukupnya aplikasi data satelit," kata Wang Yang, CEO SpaceOK.

"Kami juga mendukung (strategi) Belt and Road Initiative negara (China), dan akan menggunakan data satelit kami untuk melayani negara-negara di sepanjang Belt and Road (jalur sutra maritim)."

Nilai pasar ruang angkasa global diperkirakan mencapai 485 miliar dolar AS pada 2020, dimana nilai pasar luar angkasa China diproyeksikan menjadi 800 miliar yuan (125,78 miliar dolar AS). Sekitar dua pertiga pesanan satelit global akan datang dari pelanggan komersial dalam dekade berikutnya.

Terpikat oleh pasar yang menjanjikan, perusahaan ruang angkasa China baru-baru ini meluncurkan serangkaian program untuk memproduksi dan meluncurkan satelit kecil dan mikro.

"Kami berharap program-program ini sesuai dengan rencana tingkat atas bangsa," kata Li Guoping, juru bicara China National Space Administration (CNSA).

Dukungan pemerintah

"Kami terutama menggalakkan sosial kapital (permodalan madani) untuk berinvestasi di sektor aplikasi satelit," kata Li.

"Nilai output dari sektor aplikasi satelit lebih dari 80 persen dari seluruh rantai industri satelit. Jadi kami mendorong perusahaan swasta dan sosial kapital untuk berinvestasi dalam aplikasi komunikasi satelit, penginderaan jauh dan navigasi," katanya.

"Ketika kami membuat rencana besar untuk pengembangan kedirgantaraan China, kami akan mempertimbangkan pengembangan aktivitas ruang angkasa komersial. Pemerintah akan membuka program ruang angkasa yang dapat dilakukan dengan cara komersial, dan membeli layanan dari perusahaan komersial."

Proyek-proyek penelitian dasar terdepan yang didanai negara yang dulunya dilaksanakan oleh lembaga penelitian dan perusahaan milik negara juga akan dibuka untuk perusahaan swasta yang telah memenuhi syarat.

"Kami mendukung pengembangan roket oleh perusahaan swasta pada tingkat tertentu, tetapi penelitian, produksi dan peluncuran mereka harus sesuai dengan peraturan negara," kata Li. "Kami sedang merumuskan panduan untuk mempromosikan perkembangan tertib industri ruang angkasa komersial di China."

Tian Yulong, sekretaris jenderal CNSA, mengatakan pengembangan industri ruang angkasa komersial akan membantu meningkatkan daya saing Tiongkok di pasar internasional.

Pemerintah akan meningkatkan pengawasan keamanan, dan membina perusahaan ruang komersial baru yang kompetitif secara internasional, kata Tian. (ART/SD)

Resources
  • Gambar:http://sanshodhan.in

Kamis, Februari 12, 2015

Rusia Tak Lagi Mampu Mendeteksi Rudal Balistik yang Datang dari Luar Angkasa

Peluncuran rudal balistik DF-15

Rusia tidak lagi memiliki sistem peringatan dini untuk mendeteksi rudal balistik yang datang dari luar angkasa akibat satelit yang selama ini menjaga Rusia tidak lagi berfungsi dan ditundanya peluncuran satelit sistem peringatan ini "Tundra".

Menurut surat kabar Kommersant Rusia, sistem satelit Tundra akan diluncurkan untuk menggantikan satelit-satelit tua yang diluncurkan dalam program Oko (Eye). Satelit Oko yang pertama diluncurkan pada tahun 1972 dan beberapa satelit yang masih aktif belakangan usianya telah melebihi 5-7 tahun dari usia hidupnya. Sistem satelit Oko telah banyak mengalami masalah teknis dan pada bulan Januari tahun ini dua satelit yang terakhir, yang hanya mampu beroperasi selama beberapa jam sehari, akhirnya mati total.

Satelit Tundra, dirancang untuk mampu melacak rudal taktis dan balistik, dan untuk menggantikan sistem satelit Oko yang sudah mati. Satelit Tundra pertama kali akan diluncurkan pada tahun 2013 lalu, namun ditunda akibat masalah teknis yang tidak diungkapkan. Akhirnya peluncuran Tundra direncanakan kembali pada tahun 2014, namun kembali gagal. Sekarang satelit ini rencananya baru akan diluncurkan sekitar bulan Juni tahun ini, menurut harian Kommersant.

Kehilangan satelit geostasioner menjadikan sistem peringatan dini Rusia berada dalam risiko dalam menghadapi peluncuran rudal balistik. Sumber di Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan bahwa hilangnya kemampuan tersebut masih dapat dikompensasi oleh sistem radar di darat yang terletak di beberapa wilayah Rusia, seperti, Kaliningrad, Leningrad, Irkutsk, dan Krasnodar.

Namun, pihak militer Rusia tidak mengonfirmasi seberapa efektif radar-radar darat tersebut dalam melacak peluncuran rudal balistik.

Pada bulan September tahun 2014 lalu, Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu menyinggung soal sistem satelit Tundra (Unified Space System Tundra) sebagai kunci utama dari pencegahan terhadap nuklir. Penundaan peluncuran Tundra yang telah terjadi beberapa kali ini dapat membuat malu pemerintah Rusia yang telah berjanji untuk meningkatkan pertahanan dan industri high-tech di Rusia.

Senin, Februari 09, 2015

Skylon, Pesawat Ruang Angkasa Masa Depan

Skylon

Perusahaan Inggris Reaction Engines sedang membangun pesawat yang mampu terbang langsung ke luar angkasa. Badan Antariksa Eropa sangat tertarik dengan pesawat futuristik seperti ini mengingat upaya untuk menurunkan mahalnya biaya sebuah peluncuran ke luar angkasa.

Reaction menamakan pesawat ini sebagai Skylon, yang kecepatannya lebih dari mach 5 (6.125 km per jam). Skylon ditenagai oleh mesin SABRE, yang merupakan singkatan dari Synergetic Air-Breathing Rocket Engine. Mesin-mesin ini dapat didinginkan sampai -160 derajat celcius menggunakan helium terkompresi.

Skylon

Skylon didesain untuk mampu menjalankan semua misi utama peluncuran luar angkasa, seperti: peluncuran satelit Geo-stasioner (GSO) untuk komunikasi, peluncuran beberapa satelit kecil dalam sekali peluncuran, membawa orang dan kargo ke luar angkasa di sebuah kompartemen khusus yang dapat dipasang pada Skylon, sebagai pesawat penyuplai kebutuhan stasiun ruang angkasa, meluncurkan elemen atau infrastruktur orbital untuk keperluan pengetahuan atau misi-misi planet dan satelit.

Berbekal mesin oksigen cair, Skylon masuk ke orbit Bumi dan bahan komposit keramik akan menjaganya dari kerusakan ketika masuk kembali.

Skylon

Apapun itu, Skylon saat ini masih dalam tahap awal pengembangan, dengan tujuan utama sebagai kendaraan yang hemat biaya untuk ke luar angkasa.

Karakteristik Skylon
Panjang 82m
Diameter 6,25m
Rentang sayap 25m
Berat kosong 41,000kg
BBM 220,000kg
Berat maksimum
muatan
12,000kg
Berat maksimum
lepas landas
275,000kg

Gambar: Reaction Engines

Selasa, November 25, 2014

NASA Rilis Foto Menakjubkan Bulan Planet Jupiter

Europa

Menakjubkan, foto olahan dari Europa, bulan milik planet Jupiter. Foto ini menunjukkan warna yang belum pernah NASA lihat sebelumnya dari satelit alam Jupiter ini.

Foto-foto asli Europa dikumpulkan oleh pesawat ruang angkasa tak berawak Galileo milik NASA, yang mengeksplorasi planet Jupiter dan bulan-bulannya dari orbit pada tahun 1990-an. Pejabat NASA mengolah data Galileo dengan menggunakan teknik pencitraan canggih yang menyempurkan warna sesungguhnya dari Europa. Foto yang dirilis NASA pada 12 November ini, menunjukkan proporsi terbesar dari permukaan Europa dengan resolusi gambar tertinggi, pejabat NASA mengatakan.

NASA merilis foto Europa sebagaimana mereka bersemangat dengan rencana untuk mengeksplorasi Europa di dekade mendatang. Berdasarkan teori NASA, di bawah 'icy shell' Europa terdapat air. Air akan dapat menopang kehidupan, para ilmuwan NASA mengatakan.

"Kisah kehidupan di Bumi dimulai dari lautan, dan karena itu -dan tentu saja- jika kita telah mempelajari tentang kehidupan di Bumi, bahwa dimana Anda bisa menemukan air, maka disitu Anda akan menemukan kehidupan," Kevin Hand, seorang astrobiologis di NASA Jet Propulsion Laboratory, mengatakan dalam sebuah video baru tentang Europa.

Europa, Hand mengatakan, merupakan "game-changer" untuk misi NASA mencari kehidupan karena sumber utama energi Europa berasal dari Jupiter, bukan dari matahari. Sebagaimana Europa mengorbit planet gas raksasa Jupiter, gravitasi besar dari Jupiter menyebabkan terciptanya interaksi yang berpotensi menciptakan energi yang diperlukan bagi kehidupan.

Di antara misi yang direncanakan NASA ke bulan-bulan Jupiter adalah Europa Clipper, misi ini akan menelan biaya sekitar USD 2 miliar. Misi ini akan mengorbit Jupiter dan mencari informasi lebih lanjut mengenai air di Europa. Jika didanai, misi ini akan meluncur ke ruang angkasa sekitar tahun 2025.

Europa

Europa

Europa

Europa

Sumber: Elizabeth Howell (Space.com)
Gambar: NASA

Jumat, November 14, 2014

Rusia akan Tempatkan Stasiun Navigasi Satelit di China

Glonass

Beberapa stasiun bumi Global Navigation Satellite System Rusia (Glonass) akan ditempatkan di China, perusahaan Rusia mengatakan, Selasa.

"Kami dengan rekan-rekan China kami telah memeriksa situs di sekitar kota Urumqi dan Changcun China. Pada bulan Desember kami akan mulai bekerjasama di lokasi yang disepakati," kata Andrei Tyulin, general manager dari perusahaan Russian Space Systems.

Penyebaran stasiun navigasi tersebut akan meningkatkan layanan navigasi untuk pengguna sistem navigasi global Glonass Rusia, memperbaiki tingkat akurasi menjadi satu meter atau bahkan lebih baik, kantor berita Interfax mengutip pernyataan Tyulin.

"Kerja sama dengan mitra dari China menjadi sangat penting dalam rangka memenuhi permintaan untuk layanan presisi (ketepatan) posisi," kata Tyulin.

Russian Space Systems adalah perusahaan terkemuka Rusia untuk urusan desain, produksi, supervisi dan pengoperasian sistem ruang angkasa. Beberapa bidang kerja Russian Space Systems antara lain mengembangkan dan mengoperasikan sistem navigasi global Glonass, eksplorasi ruang angkasa, geodesi dan automated ground control untuk satelit dan roket ruang angkasa.

Receiver Glonass
Perangkat receiver Glonass sederhana militer Rusia
Saat ini Glonass memiliki dan mengoperasikan 19 stasiun bumi di Rusia, tiga di Antartika dan satu di Brasil. Dua tambahan stasiun lainnya akan ditempatkan di Kazakhstan dan satu lagi di Belarus.

Rencananya Rusia akan menyebarkan 40 sampai 50 stasiun bumi Glonass di seluruh dunia, termasuk di Amerika Serikat dan Afrika Selatan. Penyebaran stasiun bumi Glonass ini mulai dilakukan Rusia pada tahun 1993 sebagai jawaban Rusia atas Global Positioning System (GPS) Amerika Serikat.

Wakil Perdana Menteri Rusia Dmitry Rogozin mengatakan pada bulan April lalu bahwa Rusia ingin memiliki hubungan ekonomi yang lebih dekat dengan China terutama pada proyek-proyek bersama di bidang teknologi, termasuk Glonass dan sistem navigasi satelit Beidou China. (Xinhua)

Selasa, Mei 27, 2014

Bayar USD 50 Juta, Anda Bisa ke Luar Angkasa dengan Soyuz

Siapapun yang sanggup membayar USD 45-50 juta boleh ikut ke orbit dan berkunjung ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Harga yang senilai 520-580 miliar rupiah ini adalah harga untuk tur selama dua minggu di luar angkasa yang perjalanannya menggunakan pesawat ruang angkasa Rusia Soyuz, Energia Rocket and Space Corporation Rusia mengungkapkan.

Stasiun Luar Angkasa Internasional
ISS difoto dari pesawat ulang alik AS pada 8 September 2009. Setelah tahun 2011 hanya roket Soyuz Rusia yang melayani perjalanan ke ISS. (Gambar: NASA)
"Perjalanan ke luar angkasa (yang lebih jauh dari orbit) adalah perjalanan untuk jarak tak lebih dari 100 kilometer. Berbicara tentang perjalanan ke orbit, sudah ada beberapa wisatawan yang melakukannya, namun tidak banyak orang yang tertarik," kata Presiden RKK Energia Rusia, Vitaly Lopota.

Baca juga: Rusia Stop Stasiun Luar Angkasa Internasional pada 2020

"Satu kursi untuk pergi ke ISS selama sekitar dua minggu adalah sekitar USD 45-50 juta," tambahnya seperti dikutip oleh Kantor Berita Itar-Tass.

Sebagai perbandingan, turis antariksa pertama di dunia, Dennis Tito, seorang multijutawan dan mantan insinyur NASA, ikut menumpang pesawat ruang angkasa Rusia Soyuz pada tahun 2001 dengan biaya sebesar USD 20 juta. Perjalannya ke ISS berlangsung selama delapan hari.

Pesawat ruang angkasa Soyuz
Pesawat ruang angkasa Soyuz. Dikirimkan dari Bumi menggunakan roket Soyuz.
Untuk saat ini ada 925 aplikasi untuk tur perjalanan ke suborbital, yang terbagi pada empat perusahaan Amerika.

Tapi minimnya ketertarikan wisatawan tidak boleh menghentikan pengembangan bisnis pariwisata luar angkasa. Di masa depan, para ilmuwan ruang angkasa harus fokus pada kolonisasi planet lain.

"Lebih jauh dari Mars, kita tidak akan pergi," kata Lopota, sembari menambahkan bahwa untuk masuk lebih jauh ke ruang angkasa, maka harus diciptakan sistem perjalanan yang berbeda. Rusia sudah menyuarakan rencananya untuk menjajah bulan pada tahun 2030. Tahap pertama dari proyek ambisius ini kemungkinan akan segera dimulai setelah dua tahun dari sekarang. (Voice of Russia)

Jumat, Mei 16, 2014

Rusia Stop Stasiun Luar Angkasa Internasional pada 2020. Bagaimana dengan AS?

Stasiun Luar Angkasa Internasional

Seorang pejabat senior Rusia pada hari Selasa mengatakan bahwa Rusia hanya akan menggunakan Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station/ISS) sampai tahun 2020, berbeda dengan keinginan Washington yang akan menggunakannya sampai 2024. Tidak jelas apakah keinginan Rusia ini terkait krisis Ukraina atau memang sudah diprogramkan Rusia sejak lama.

"Kami berencana untuk menggunakan ISS hanya sampai tahun 2020," Wakil Perdana Menteri Rusia Dmitry Rogozin mengatakan seperti yang dilaporkan Interfax. "Setelah tahun 2020, kami akan menggunakan sumber daya tersebut untuk proyek luar angkasa menjanjikan lainnya," tambah Rogozin.

Pada bulan Januari lalu, NASA mengatakan bahwa pemerintah AS akan memperpanjang umur pakai stasiun luar angkasa yang senilai USD 100 miliar tersebut selama 4 tahun (2020-2024).

ISS adalah stasiun ruang angkasa internasional yang merupakan program gabungan dari 16 negara di dunia, termasuk AS dan Rusia.  ISS berfungsi sebagai laboratorium penelitian mikrogravitasi dan lingkungan luar angkasa di mana disana awak melakukan ekperimen biologi, biologi manusia, fisika, astronomi, meteorologi dan bidang ilmu lainnya. ISS juga menjadi tempat yang cocok untuk menguji sistem dan peralatan pesawat luar angkasa yang dibutuhkan untuk misi ke Bulan dan Planet Mars.

Badan antariksa federal Rusia Roscosmos, yang selama ini bertanggung jawab untuk semua penerbangan ruang angkasa ke ISS (dengan roket Soyuz) setelah Amerika Serikat memensiunkan Program Pesawat Ulang Alik pada tahun 2011, sebelumnya dikabarkan akan menandatangani kerjasama dengan AS terkait pemanjangan masa pakainya hingga tahun 2024.

Pernyataan Rogozin tampaknya telah menempatkan proyek pemanjangan masa pakai ISS ini tertumpu pada keraguan, sebagaimana dia menambahkan bahwa Rusia punya beberapa ide strategis baru untuk industri luar angkasa yang akan membutuhkan sumber daya besar.

Pada saatnya ISS telah benar-benar 'mati', yang diluncurkan pada tahun 1998, akan dikeluarkan dari orbit dan dijatuhkan ke laut.

Dalam serangkaian pernyataannya yang tampaknya ditujukan untuk AS, Rogozin, yang telah masuk dalam daftar hitam oleh Barat atas keterlibatannya dalam krisis Ukraina, mengatakan bahwa Rusia juga akan menghentikan pengoperasian stasiun GPS (Global Positioning System) di wilayah Rusia.

Dikabarkan, Rusia telah melobi AS untuk menempatkan stasiun monitor sendiri di wilayah AS untuk meningkatkan kinerja sistem satelit Glonass Rusia. Namun inisiatif untuk bertemu oposisi di AS telah tertunda.

Rogozin mengatakan bahwa ada 11 stasiun infrastruktur GPS yang dikelola AS di sepuluh wilayah Rusia dan pengoperasian mereka akan dihentikan mulai 1 Juni, memberikan Washington tenggat waktu tiga bulan untuk menyetujui permintaan Rusia tersebut, katanya.

Apa yang dimaksud oleh Rogozin ini sesungguhnya masih tidak jelas, karena diketahui tidak ada Base Stations (BTS) GPS yang terletak di Rusia. Rogozin kemudian mengatakan di Twitter bahwa langkah tersebut tidak akan mempengaruhi kualitas penerimaan sinyal bagi pengguna-pengguna sistem navigasi di Rusia.

Gambar : Foto Stasiun Ruang Angkasa Internasional (ISS) pada 23 Mei 2010 (NASA).

Senin, September 02, 2013

AS Luncurkan Roket Besar yang Membawa Satelit Mata-mata

Roket Delta 4 Heavy

Sebuah roket terbesar milik Amerika Serikat meluncur membawa satelit mata-mata dalam sebuah misi peluncuran secara diam-diam, Rabu, 28 Agustus 2013.

Roket tak berawak yang bernama Delta 4-Heavy itu diluncurkan dari Pangkalan Angkatan Udara Vanderberg, California, pukul 14:03 waktu setempat, membawa muatan satelit milik Kantor Pengintaian Nasional AS (NRO) ke orbit polar.

"Peluncuran hari ini didedikasikan untuk pria dan wanita yang telah berjuang demi kemerdekaan bangsa kita," kata seorang komentator beberapa menit setelah roket tersebut lepas landas.

Tidak jelas apa fitur unggulan dari satelit yang dikenal dengan sebuatan NROL-65 ini, tapi yang jelas untuk mengumpulan data-data di planet Bumi.

Dihormati

"Delta 4 Heavy adalah roket terbesar di dunia saat ini, menjalankan tugas-tugas bangsa dengan andal, terbukti dengan kemampuan muatannya untuk keamanan nasional negara kita mulai dari pantai timur hingga barat," kata Jim Sponnick, wakil presiden United Launch Alliance (ULA) untuk program Atlas dan Delta.

Roket Delta 4 Heavy dibangun oleh ULA dan pertama kali terbang pada tahun 2004, merupakan roket terbesar dan paling kuat yang dimiliki Amerika. Tinggi peluncurnya yang 72 meter menghasilkan daya dorong 2 juta pon saat lepas landas, menurut pejabat ULA.

Peluncuran pada hari Rabu itu sudah sesuai jadwal, padahal sebelumnya program ini sempat memiliki masalah terkait dana karena kebijakan pemotongan anggaran yang sudah berlaku sejak 1 Maret tadi. Lepas landasnya roket ini menandai 364 kalinya penerbangan menggunakan roket Delta secara keseluruhan, dan 24 kali penerbangan untuk varian roket Delta 4. Roket Delta 4 saat ini sudah membawa delapan muatan milik NRO ke ruang angkasa, yang mana kantor inilah (NRO) yang membangun dan mengoperasikan satelit-mata-mata AS.

Roket besar lain

Sementara Delta 4 Heavy untuk saat ini adalah juara kelas berat dari seluruh roket Amerika, beberapa roket yang jauh lebih besar dan kuat lainnya juga tengah dibangun. Sebut saja NASA yang saat ini sedang membangun roket raksasa yang disebut Space Launch System (SLS) untuk mengirimkan astronot ke asteroid, planet Mars dan tempat-tempat lain di luar angkasa.

Inkarnasi pertama dari SLS setidaknya memiliki tinggi 98 meter dan mampu membawa 70 metrik ton muatan. Namun NASA berencana untuk mengembangkannya lebih besar menjadi 117 meter tinggi dan membawa muatan sebanyak 130 metrik ton ke luar angkasa, sehingga akan menjadikannya sebagai roket paling besar dan kuat yang pernah di bangun manusia.

SLS ini dirancang untuk meluncurkan kapsul kru yang disebut Orion, yang mana saat ini juga tengah dikembangkan. Roket dan kapsul dijadwalkan untuk terbang bersama-sama untuk yang pertama kalinya saat uji coba pada 2017 nanti, dengan misi pertama yang berawak dijadwalkan pada tahun 2021.

Pembangunan Orion akan lebih dulu selesai daripada SLS. Uji terbang pertama Orion dijadwalkan pada 2014, ketika pada saat itu NASA akan menggunakan roket Delta 4 Heavy guna mengirimkan Orion (tanpa kru) keluar 6.000 kilometer dari Bumi.

Selain NASA, ada juga perusahaan swasta SpaceX yang juga sedang mengerjakan roket besar, yang mereka sebut dengan Heavy Falcon. Peluncur ini dijadwalkan akan terbang untuk pertama kali pada tahun depan, dan menghasilkan 4 juta pon daya dorong saat lepas landas. Soal tinggi dan muatannya, tidak diinformasikan.

Rabu, Januari 16, 2013

Senjata Anti Satelit China Ancam GPS Amerika

Senjata anti satelit China

ARTILERI - China saat ini dikabarkan sedang bersiap untuk melakukan lagi sebuah uji senjata anti-satelit (anti-satellite weapons test/ASAT) yang menempatkan Global Positioning System (GPS) milik AS dalam resiko. Media pemerintah China saat ini menegaskan bahwa Beijing juga memiliki hak untuk melaksanakan tes tersebut dan sebagai "kartu truf" untuk menghadapi Washington.

Menurut sebuah media di Amerika Serikat, China akan melakukan tes ASAT kontroversialnya pada bulan ini, mungkin 1 atau 2 minggu kedepan. Pada tahun 2007 dan 2010, China melakukan tes serupa. Rumor yang beredar selama beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa pejabat-pejabat pertahanan dan komunitas intelijen AS meyakini saat China sedang mempersiapkan untuk melakukan tes lain ASAT.

Tes ASAT China sebelumnya menimbulkan kekhawatiran bagi India, hal ini dinyatakan oleh pejabat pertahanan India dengan mengatakan bahwa New Delhi juga harus memiliki teknologi seperti itu - jika bukan karena bantuan Rusia, rasanya tidak mungkin saat ini India bisa mengembangkan teknologi semacam itu-.

"Tepat sebelum Natal, seorang pejabat tinggi di pertahanan AS mengatakan bahwa pemerintahan Obama sangat prihatin dengan tes ASAT yang akan dilakukan China," Gregory Kulacki, analis senior untuk China mengatakan dua hari lalu.

"Mengingat kekhawatiran dan praktek China di masa lalu, tampaknya kuat dugaan China akan melakukan tes ASAT dalam beberapa minggu ke depan. Jenis tes dan apa yang menjadi target belum diketahui," tulis Kulacki dalam laporannya. Bereaksi terhadap laporan tersebut, sebuah editorial Global Times mengatakan bahwa kekhawatiran akan tes ASAT China yang menempatkan satelit strategis AS dalam resiko hanya dibesar-besarkan saja.

"China dilaporkan melakukan tes anti-satelit pada awal tahun 2007, yang menyebabkan perbincangan dunia. Beberapa analis mengatakan bahwa bahkan jika China benar-benar sekali lagi meluncurkan tes ASAT, itu tidak akan menjatuhkan satelit," lanjut Kulacki tanpa menyatakan jenis tes apa yang akan dilakukan China.

"Apakah China kembali akan meluncurkan test ASAT masih belum diketahui. Namun China harus melanjutkan penelitian substantif pada striking satellites. Di masa mendatang, kesenjangan teknologi antara China dan Amerika Serikat tidak dapat dibiaskan dengan pembangunan senjata ruang angkasa China, "kata editorial itu. "Keunggulan AS sangat banyak. Sebelum ketidakpastian strategis antara China dan AS dapat hilang, China harus memiliki kartu truf untuk program luar angkasa," katanya.

Kebijakan publik China adalah misi damai program ruang angkasa, yang memang menjadi keinginan nyata China. Terlepas dari china memiliki kepentingan skala besar untuk berlomba dengan program ruang angkasa AS, China dan Rusia sebelumnya memang sudah bersama-sama memulai program untuk menghindari perlombaan senjata di luar angkasa pada tahun 2008 lalu, namun usulan ini ditolak oleh AS.

"Dari latar belakang ini, maka perlu bagi China untuk memiliki kemampuan guna menyerang satelit AS. Jera ini dapat memberikan perlindungan strategis untuk satelit China dan keamanan nasional seluruh negeri itu ", katanya.

AS akan terus mengganggu dan bahkan menghalangi China mengembangkan kemampuan ruang angkasanya. China harus melakukan penyesuaian taktis untuk mengurangi masalah ini. Ini adalah kunci bagi China untuk memiliki kemampuan pembalasan strategis. Ini adalah perlindungan bagi China untuk mencegah AS dari mengambil tindakan berisiko terhadap China dalam masa transisi yang besar.

Tes yang direncanakan oleh China di latar belakangi dari peluncuran GPS China sendiri yang disebut Beidou Navigation Satellite System (BDS) yang saat ini sedang digunakan oleh militer dan sejumlah badan-badan resmi china.

Rencana China Luncurkan Lebih dari 20 Satelit

Beberapa pejabat AS menduga China ingin mencapai hasil yang lebih baik ketimbang hasil yang dicapai pada 2007 atau 2010, menargetkan 12.000 mil objek atau lebih di atas permukaan bumi. Kemampuan untuk mencapai Medium-Earth Orbit (MEO) secara teoritis bisa menempatkan konstelasi satelit navigasi GPS AS beresiko, sebuah laporan di Space.Com mengatakan.

"Tetapi ada alasan yang baik bagi China untuk tidak menghancurkan satelit di orbit ini, termasuk bahwa China berencana untuk menggunakan ini bagian program ruang angkasnya," tulis Kulacki. "Menciptakan puing-puing di luar angkasa, akan mengancam satelit mereka sendiri. Selama beberapa tahun berikutnya, China berencana untuk menempatkan lebih dari 20 satelit navigasi baru di MEO, "tulisnya.

Kulacki mendesak pemerintahan Obama untuk mencoba menghalangi China dari melakukan setiap tes ASAT yang merusak/beresiko. Baik Amerika Serikat dan Uni Soviet telah meninggalkan tes semacam ini karena program antariksa mereka sudah matang, ia menambahkan.

"Mudah-mudahan, China akan memiliki kesimpulan yang sama," tulis Kulacki dengan menambahkan bahwa "memulai dialog bilateral yang penting bagi keamanan ruang antara Amerika Serikat dan China bisa menyelesaikan masalah ini." (FS)