F-15 Eagle: Jet Tempur Tua dengan Sejarah Tempur Mengesankan

Wednesday, July 18, 2018
F-15

Pada akhir 1980-an, dikembangkanlah F-15E untuk melengkapi - dan akhirnya menggantikan pesawat tempur F-111 Aardvark sebagai pesawat taktis berkecepatan tinggi yang didesain untuk menyerang jauh ke dalam garis pertahanan musuh dalam perang  NATO / Pakta Warsawa di Eropa.

Untuk meningkatkan jangkauannya, Model E diberikan tangki bahan bakar conformal dengan muatan bom kelas berat, radar APG-63, dan LANTRIN forward-looking infrared dan laser targeting pod. Dengan pensiunnya F-111, F-15E "Strike Eagle" sekarang menjadi pesawat tempur pembom taktis utama Angkatan Udara AS (USAF).

Selama hampir tiga dekade, F-15 Eagle dianggap sebagai raja langit yang tak terbantahkan. Hingga penggantinya F-22 Raptor muncul, F-15 adalah pejuang superioritas udara garis depan USAF. Bahkan saat ini pun, Eagle masih dianggap sebagai lawan yang tangguh, dan produsennya Boeing di Amerika Serikat bahkan telah mengusulkan versi terbarunya.

Kelahiran F-15 berakar dari pertempuran udara dalam Perang Vietnam, yang merupakan pertempuran yang tidak menguntungkan jet-jet tempur USAF dan US Navy (Angkatan Laut AS) menghadapi Korea Utara. Jet tempur AS yang besar dan kuat, yang didesain untuk menjalankan misi udara-ke-udara dan udara-ke-darat, ternyata berkinerja buruk dalam melawan musuh mereka yang lebih kecil, kurang bertenaga - tetapi lebih bisa dikendalikan - oleh Vietnam Utara. Kill ratio 13:1 penerbang Amerika yang dinikmati dalam Perang Korea jatuh ke rasio yang sangat buruk antara 1,5 hingga 1 selama Perang Vietnam.

Jet tempur kontemporer AS, seperti F-4 Phantom, dirancang dengan asumsi bahwa rudal udara-ke-udara telah membuat dogfight tidak berlaku lagi. Asumsi yang salah khususnya dalam Perang Vietnam. Akhirnya USAF memutuskan bahwa mereka membutuhkan jet tempur superioritas udara khusus, yang memiliki dua mesin yang kuat, radar yang kuat, membawa sejumlah besar rudal dan senjata. Selain itu, jet baru itu harus cukup bermanuver untuk memenangkan dogfight.

Setelah menolak program VFX Angkatan Laut AS (yang akhirnya menghasilkan F-14 Tomcat), USAF mengeluarkan permintaan untuk proposal jet tempur FX baru pada tahun 1966, dan tidak kurang dari enam perusahaan menyerahkan desain kertas yang semuanya bersaing. Desain yang terpilih menggunakan ekor ganda mirip dengan F-14, namun tidak menggunakan sayap lipat. McDonnell Douglas (sekarang bagian dari Boeing) yang terpilih, pada tahun 1969, mendapatkan order 107 unit F-15.

F-15 adalah pesawat yang tangguh. Versi awal didukung oleh dua mesin turbofan afterburning Pratt & Whitney F100-PW-100, menghasilkan 14.500 dari static thrust - 23.500 dengan afterburners. Ini memberikan F-15 rasio dorong-ke-berat lebih besar dari satu, membuatnya sangat kuat sehingga F-15 menjadi jet tempur pertama yang melebihi kecepatan suara dalam penerbangan vertikal. F-15 memiliki dorongan yang begitu kuat yang bisa naik ke 65.000 kaki hanya dalam 122 detik. Dalam penerbangan horizontal, F-15 bisa mencapai kecepatan Mach 2.5, dan terbang jelajah dengan kecepatan Mach 0.9.

Radar AN / APG-63 Eagle adalah yang paling canggih pada zamannya, radar solid state dengan kemampuan "melihat ke bawah/menembak jatuh" dan jangkauan hingga 200 mil. Ini memungkinkan F-15 untuk menembak musuh terbang rendah di radar dia atas kekacauan di darat. Ini juga menjadi radar pertama yang menggabungkan prosesor sistem yang dapat diprogram, yang memungkinkan upgrade moderat untuk dilakukan melalui perangkat lunak dan bukan pembaruan perangkat keras.

Eagle awalnya dipersenjatai dengan empat rudal AIM-7 Sparrow yang dipandu radar untuk pertempuran jarak jauh dan empat rudal AIM-9 Sidewinder yang dipandu inframerah untuk pertempuran jarak dekat. Dalam perang udara atas Vietnam, F-4C Phantom USAF, kurang memiliki senjata khusus, sehingga sering melewatkan kesempatan menjatuhkan pesawat Vietnam Utara. Kelemahan inilah yang diperbaiki pada F-15 dengan melengkapinya dengan senapan gatling M61 Vulcan 20 milimeter.

F-15 juga dirancang untuk jarak jauh. Membawa tiga tangki bahan bakar enam ratus pon, F-15 memiliki jangkauan tiga ribu mil, sehingga memungkinkan untuk terbang dari Amerika Serikat ke Eropa tanpa perlu berhenti atau mengisi bahan bakar, termasuk mengisi di udara. Ini akan memungkinkan AS dengan cepat memperkuat pertahanan udara NATO jika terjadi krisis di Eropa, atau kemudian untuk untuk segera mengirim F-15 ke Arab Saudi selama Operasi Badai Gurun.

F-15

Prototipe F-15 pertama terbang pada 1972, dan produksinya dimulai pada tahun 1973. Pesawat itu dengan cepat mulai melayani USAF dan pasukan udara sekutu, termasuk Israel, Jepang, dan Arab Saudi. F-15 pertama kali melakukan "kill" pada 27 Juni 1979, ketika penerbang F-15A Angkatan Udara Israel Moshe Melnik menembak jatuh MiG-21 Angkatan Udara Suriah. Pada akhirnya Melnik menjatuhkan empat pesawat musuh dari F-15A dan F-15C, untuk total karir sebelas pesawat tempur musuh ditembak jatuh.

Aksi Melnik hanyalah awal dari serangkaian 104 kemenangan berturut-turut pertempuran udara-ke-udara F-15, dengan tidak ada satu pun Eagle yang hilang. F-15 Israel, Saudi dan AS lah bertanggung jawab atas rentetan "pembunuhan" yang mengesankan ini. "Pembunuhan" oleh F-15 Israel terjadi antara 1979 dan 1982, yang menjadi korban diantaranya MiG-25 Foxbat , MiG-21 dan MiG-23 Suriah, dan sejumlah serangan darat.

Selama Perang Teluk 1991, penghitungan korban F-15 AS dan Saudi termasuk pesawat tempur Irak MiG-29 Fulcrum, Mirage F-1 dan bahkan pesawat transportasi medium Il-76 "Candid". Satu F-15E Strike Eagle bahkan mencetak serangan udara-ke-udara terhadap helikopter serangan Mi-24 Irak dengan bom yang dipandu laser.

F-15A akhirnya digantikan oleh F-15C, yang memiliki radar aperture sintetis AN / APG-70 yang lebih baru dan mesin F100-PW-220 yang lebih kuat.

USAF membeli F-15 terakhir pada tahun 2001. Dalam beberapa tahun terakhir, Boeing telah dua kali mencoba untuk kembali menarik minat USAF, pertama dengan Silent Eagle semi-siluman pada tahun 2010. Pada tahun 2016, Boeing kembali memperkenalkan F-15 baru, Eagle 2040C. Eagle 2040C dirancang untuk membawa hingga enam belas rudal AIM-120D AMRAAM radar-guided, lebih dari empat kali lipat dari aslinya. Sedangkan Talon HATE datalink akan memungkinkan versi terbaru Eagle untuk melakukan pertukaran data dengan F-22 Raptor.

Hari ini, USAF masih mengoperasikan sekitar 177 F-15C dan model dua kursi, dan sekitar 224 F-15E Strike Eagles. F-15 dikerahkan di pangkalan-pangkalan AS di Eropa dan Asia, terutama di RAF Lakenheath di Inggris dan pangkalan Angkatan Udara Kadena di pulau Okinawa Jepang.  F-15J Jepang juga beroperasi dari Okinawa, dan diduga terlibat dalam pertemuan udara pada Juni 2016 yang melibatkan Flanker China Su-30. F-15E saat ini dikerahkan di pangkalan udara Incirlik, Turki, di mana mereka berpartisipasi dalam perang udara melawan ISIS.

Di dunia yang saat ini masih didominasi oleh jet tempur generasi keempat, F-15 adalah pesawat tempur tua - namun masih tangguh. Minimnya jumlah F-22 Raptor yang cukup untuk menggantikan Eagle telah membuat AS menunda pensiunnya, dan sekarang digunakan untuk melengkapi F-22 di medan perang. Kurangnya pengganti yang layak saat ini berarti F-15 akan terus AS gunakan setidaknya sampai model C dan E yang tersisa pensiun pada awal 2030-an. (FR)

Resources
  • Kyle Mizokami. The National Interest
  • Gambar: Wiki Common

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

No comments:

Post a Comment