Inggris Perkenalkan Model Jet Tempur Baru "Tempest"

Wednesday, July 18, 2018 Add Comment
Tempest

Inggris meluncurkan model jet tempur "Tempest" pada Senin 16 Juli, untuk menyaingi program kerjasama Jerman dan Perancis yang meluncurkan program jet tempur mereka sendiri setahun yang lalu.

Dilaporkan Reuters, 17 Juli 2018, saat Farnborough Airshow, Menteri Pertahanan Inggris Gavin Williamson mengatakan dana sebesar US$ 2,7 miliar atau Rp 38 triliun telah dialokasikan untuk membiayai program ini hingga 2025 dan Inggris akan mencari mitra internasional untuk mendapatkan dana tambahan.

Pesawat yang rencananya akan menggantikan jet tempur Eurofighter Typhoon ini, akan dikembangkan dan dibangun oleh BAE Systems, perusahaan pertahanan terbesar Inggris, bersama pembuat mesin Inggris Rolls-Royce, perusahaan pertahanan Italia Leonardo, dan perusahaan pembuat rudal Eropa, MBDA.

Dilansir dari The Sun, jet baru Tempest dapat diterbangkan oleh pilot atau dioperasikan sebagai drone alias tanpa awak. Pesawat ini menggunakan kecerdasan buatan dan sistem pengenalan untuk mencapai targetnya. Jet Tempest juga dilengkapi senjata laser untuk menghancurkan target.

Di sisi lain, Jerman dan Perancis sudah bekerjasama untuk mengembangkan jet baru, dengan program yang dipimpin oleh Airbus Perancis, bagian dari konsorsium Eurofighter dan Dassault Aviation SA, yang membuat pesawat tempur Rafale.

Para eksekutif industri mengatakan kedua program akan dikembangkan, setelah Inggris keluar dari Uni Eropa sembilan bulan mendatang melalui Brexit-nya.

Konsep Tempest

Rencana Inggris menyerukan agar jet baru beroperasi pada 2035, bertepatan dengan penggantian armada Eurofighter Typhoon yang berakhir pada tahun 2040. Eurofighter Typhoon, dikembangkan oleh kelompok empat negara Jerman, Spanyol, Inggris dan Italia pada 1980-an.

Pesawat jet adalah inti dari strategi udara tempur Inggris yang baru, yang Perdana Menteri Theresa May katakan untuk mempertahankan kemampuan kekuatan udara kelas dunia Inggris.

Seorang juru bicara kementerian pertahanan Jerman menolak berkomentar mengenai program Inggris, tetapi mengatakan proyek Franco-Jerman terbuka untuk mitra tambahan.

Michael Christie, direktur strategi BAE Systems untuk sistem pertahanan udara, mengatakan Inggris mampu mengembangkan Tempest sendirian tetapi akan lebih baik mengembangkannya dengan mitra mengingat biaya yang tinggi dan keinginan untuk menargetkan penjualan masa depan.

Inggris belum mengembangkan jet tempur sendiri sejak 1960-an. Namun Inggris membantu mengembangkan dan membangun pesawat tempur siluman yang paling canggih di armada Inggris, F-35 produksi AS, dengan BAE Systems menjalankan sekitar 15 persen pekerjaan di masing-masing jet.

Resources
  • Tempo (https://dunia.tempo.co/read/1107955/inggris-kembangkan-jet-tempur-canggih-dengan-senjata-laser)

Mengenal Kh-29, Rudal ASM Andalan Sukhoi TNI AU

Wednesday, July 18, 2018 Add Comment
Kh-29TE

Rudal Vympel Kh-29 atau X-29 (kode NATO: AS-14 'Kedge') yang dalam inventori Departemen Pertahanan Rusia diberi kode 9M721 mulai digunakan dalam jajaran dinas AU Rusia (Uni Soviet kala itu) sejak tahun 1980. Hingga kini Kh-29 masih menjadi salah satu rudal udara ke permukaan (ASM - air to surface missile) paling berbahaya.

Pembuatan rudal ini dimulai tahun 1975 oleh biro desain Molniya di Ukraina yang sebelumnya telah melahirkan rudal udara ke udara semacam R-8, R-4 (K-80) dan R-40.

Dibandingkan dengan rudal AGM-65 buatan Hughes Missile Systems/Raytheon Amerika Serikat, kehadiran Kh-29 memang delapan tahun lebih lambat. AU AS mulai menggunakan AGM-65 Maverick sejak 1972 dan kini telah memasuki masa operasional 42 tahun serta digunakan oleh lebih 30 negara.

Rudal Kh-29 pertama kali diuji coba tahun 1976 dan terus disempurnakan hingga akhirnya masuk ke dalam jajaran arsenal AU Uni Soviet. Setahun berikutnya, pengembangan Kh-29 dilanjutkan oleh biro desain Vympel di Tushino dekat Moskow karena Molniya beralih ke proyek ruang angkasa.

Pada awal masa operasional, rudal Kh-29 menjadi senjata ampuh bagi armada pesawat penyerang darat Su-24M "Fencer". Rudal ini tercatat banyak digunakan perang Iran-Irak.

Rudal dengan panjang 3,9 m dan diameter 38 cm (40 cm lebih panjang dan 8 cm lebih besar dari Maverick). Dilengkapi hulu ledak seberat 320 kg, berarti lebih banyak dari hulu ledak Maverick yang berkisar antara 37-136 kg. Bobot keseluruhan rudal Kh-29 adalah 660-690 kg, atau lebih dua kali bobot Maverick yang 210-304 kg.

Dari sisi kecepatan terbang, Kh-29 mampu terbang dengan kecepatan 1.470 km/jam, atau lebih cepat dibanding Maverick yang 1.150 km/jam. Dibandingkan dari berbagai sisi, rudal Vympel Kh-29 dapat dikatakan memang lebih superior ketimbang AGM-65 Maverick buatan AS.

Tidak salah bila rudal Kh-29 didesain untuk menghancurkan sasaran yang lebih besar dari apa yang dapat dihancurkan Maverick. Kh-29 dapat menghancurkan infrastruktur seperti gedung industri, depot senjata, jembatan, shelter pesawat, landasan beton, hingga kapal dengan bobot benaman 10.000 ton.

Kh-29TE

Dari sisi kompatibilitas penggunaannya, Kh-29 dapat diluncurkan dari Su-22, Su-24, Su25, MiG-27, MiG-29, Su-27/30, Su-33, Su-34, dan bahkan penempur baru Su-35. Sementara Maverick dapat diluncurkan dari pesawat F-16, F-15, F/A-18, AV-8B, A-10, Hawk 100/200 dan beberapa pesawat baru seperti FA-50 dari Korea Selatan.

Di medan perang, Maverick tercatat lebih banyak digunakan di perang-perang besar. Termasuk dalam Operasi Badai Gurun di Irak tahun 1991. Sebanyak 5.000 rudal ini diluncurkan untuk menghancurkan kendaraan-kendaraan lapis baja Irak. Kemudian tahun 2003 sekira 1.000 rudal ini kembali diluncurkan dalam Operasi Iraqi Freedom.

TNI AU telah melengkapi armada Flanker Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanuddin dengan rudal Kh-29T dan Kh-29TE (extended range).

Tidak ada perbedaan mencolok dari kedua varian ini kecuali jarak jangkau yang lebih jauh untuk varian Kh-29TE serta bobot yang lebih berat dan dimensi panjang yang lebih pendek sedikit. Kedua rudal ini berpemandu TV pasif (passive TV guided).

Kh-29T/TE memiliki ciri khas berupa kepala bulat dengan kaca transparan serta sirip-sirip lebar dan tipis di bagian depan dan belakang. Hal ini berbeda dengan varian Kh-29L yang memiliki kepala mengecil dan meruncing berpemandu laser semi aktif.

Basis rancangan Kh-29 secara umum diambil dari rudal udara ke udara R-60 (AA-8 Aphid), menunjukkan sisa-sisa peninggalan Molniya dalam merancang rudal udara ke udara sebelumnya. Sementara pemandu TV-nya diambil dari Kh-59 (AS-13 Kingbolt), rudal jelajah buatan Raduga.

Resources
  • http://www.tribunnews.com/sains/2018/07/17/kehebatan-rudal-kh-29-senjata-andalan-tni-au-untuk-menghancurkan-sasaran-di-darat

Pindad Berhasil Uji Coba "Mine Blast" Tank Medium

Wednesday, July 18, 2018 Add Comment
Uji coba peledakan tank tempur medium Pindad

PT Pindad bekerjasama dengan Dislitbangad melaksanakan mine blast test atau uji ledak ranjau terhadap tank medium pengembangan bersama Pindad dan FNSS Turki pada 12 Juli 2018 di Lapangan Tembak Pussenarmed, Batujajar dengan mengacu pada standar internasional.

Pengujian ini merupakan rangkaian kegiatan National Seminar on Mine Blast Test for Medium Tank yang diselenggarakan pada 13 Juli 2018 di Graha Pindad Bandung.

Kegiatan National Seminar of Mine Blast Test for Medium Tank dilakukan sebagai sarana untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman  yang lebih dalam dan komprehensif tentang perancangan dan pengujian perlindungan kendaraan tempur terhadap ledakan ranjau sesuai standar internasional STANAG 4569.

Uji ledak yang dilakukan sesuai kriteria kebutuhan pengguna ini merupakan bagian dari penyelesaian kontrak Joint Production Tank Medium Pindad dengan Kementerian Pertahanan. Kegiatan ini juga merupakan sarana untuk sosialisasi dan pengenalan mine blast test kepada para pengguna dan praktisi/ahli.

Uji ledak ranjau ini merupakan yang pertama di Indonesia yang dilakukan terhadap produk tank medium. Besaran ranjau yang diledakkan adalah sebesar 8 kg TNT di bawah hull (lambung) dan 10 kg TNT di track (roda trek).

Uji coba peledakan tank tempur medium Pindad

Maksud peledakan pada dasarnya untuk verifikasi desain sesuai level proteksi ranjau yang ditetapkan TNI AD dan menguji kemampuan kendaraan dalam melindungi awak kendaraan dari ancaman ranjau yang ditetapkan dalam standar, sehingga awak didalamnya tidak mengalami luka atau cedera fatal yang menyebabkan kematian.

Untuk mensimulasikan awak kendaraan maka dipasang sebuah manekin khusus (crush test dummy) yang dilengkapi sensor untuk mengukur daya rusak akibat ledakan, sehingga besaran cedera terhadap personil didalamnya dapat diketahui dan diukur sesuai standar.

Wakasad Letjen TNI Tatang Sulaiman yang menghadiri acara mengungkapkan kebanggaannya karena industri dalam negeri mampu menghadirkan tank medium yang dalam prosesnya diikuti oleh TNI AD sebagai pengguna yang senantiasa memberikan masukkan untuk perbaikan.

Uji coba peledakan tank tempur medium Pindad

"Kita dari TNI AD tentunya ikut bangga bahwa dari dalam negeri dalam hal ini Pindad bisa melangkah lebih jauh untuk bisa menghadirkan tank dalam kelas medium. TNI AD nanti sebagai user yang akan menggunakan, oleh karena itu kita harus menyaksikan ini secara langsung untuk kepentingan kita semua,” ujar Tatang Sulaiman.

Tank medium merupakan program pemerintah yang termasuk pada 7 pengembangan strategis Kementerian Pertahanan untuk meningkatkan kemampuan BUMNIS agar dapat bersaing dengan industri pertahanan luar negeri. Kehadiran tank medium merupakan bukti kemampuan industri pertahanan dalam negeri menghasilkan produk inovatif berteknologi tinggi dalam mendukung kemandirian alutsista  menjaga kedaulatan NKRI.

Dirut Pindad Abraham Mose, mengatakan tahapan selanjutnya tank medium dipersiapkan untuk serangkaian uji sertifikasi bersama TNI AD. Setelah mendapat sertifikat lulus uji coba dari TNI AD, maka dilanjutkan pada tahapan produksi untuk memenuhi kebutuhan modernisasi tank medium di TNI AD dan pasar ekspor.

"Setelah blasting test kemudian ada uji lintas lagi, lalu ada sertifikat, kemudian baru kita siap masuk mass production, kita usahakan di akhir tahun ini," ujar Abraham.

Resources
  • Pindad
  • Gambar: Detik / Sindonews / Kompas

F-15 Eagle: Jet Tempur Tua dengan Sejarah Tempur Mengesankan

Wednesday, July 18, 2018 Add Comment
F-15

Pada akhir 1980-an, dikembangkanlah F-15E untuk melengkapi - dan akhirnya menggantikan pesawat tempur F-111 Aardvark sebagai pesawat taktis berkecepatan tinggi yang didesain untuk menyerang jauh ke dalam garis pertahanan musuh dalam perang  NATO / Pakta Warsawa di Eropa.

Untuk meningkatkan jangkauannya, Model E diberikan tangki bahan bakar conformal dengan muatan bom kelas berat, radar APG-63, dan LANTRIN forward-looking infrared dan laser targeting pod. Dengan pensiunnya F-111, F-15E "Strike Eagle" sekarang menjadi pesawat tempur pembom taktis utama Angkatan Udara AS (USAF).

Selama hampir tiga dekade, F-15 Eagle dianggap sebagai raja langit yang tak terbantahkan. Hingga penggantinya F-22 Raptor muncul, F-15 adalah pejuang superioritas udara garis depan USAF. Bahkan saat ini pun, Eagle masih dianggap sebagai lawan yang tangguh, dan produsennya Boeing di Amerika Serikat bahkan telah mengusulkan versi terbarunya.

Kelahiran F-15 berakar dari pertempuran udara dalam Perang Vietnam, yang merupakan pertempuran yang tidak menguntungkan jet-jet tempur USAF dan US Navy (Angkatan Laut AS) menghadapi Korea Utara. Jet tempur AS yang besar dan kuat, yang didesain untuk menjalankan misi udara-ke-udara dan udara-ke-darat, ternyata berkinerja buruk dalam melawan musuh mereka yang lebih kecil, kurang bertenaga - tetapi lebih bisa dikendalikan - oleh Vietnam Utara. Kill ratio 13:1 penerbang Amerika yang dinikmati dalam Perang Korea jatuh ke rasio yang sangat buruk antara 1,5 hingga 1 selama Perang Vietnam.

Jet tempur kontemporer AS, seperti F-4 Phantom, dirancang dengan asumsi bahwa rudal udara-ke-udara telah membuat dogfight tidak berlaku lagi. Asumsi yang salah khususnya dalam Perang Vietnam. Akhirnya USAF memutuskan bahwa mereka membutuhkan jet tempur superioritas udara khusus, yang memiliki dua mesin yang kuat, radar yang kuat, membawa sejumlah besar rudal dan senjata. Selain itu, jet baru itu harus cukup bermanuver untuk memenangkan dogfight.

Setelah menolak program VFX Angkatan Laut AS (yang akhirnya menghasilkan F-14 Tomcat), USAF mengeluarkan permintaan untuk proposal jet tempur FX baru pada tahun 1966, dan tidak kurang dari enam perusahaan menyerahkan desain kertas yang semuanya bersaing. Desain yang terpilih menggunakan ekor ganda mirip dengan F-14, namun tidak menggunakan sayap lipat. McDonnell Douglas (sekarang bagian dari Boeing) yang terpilih, pada tahun 1969, mendapatkan order 107 unit F-15.

F-15 adalah pesawat yang tangguh. Versi awal didukung oleh dua mesin turbofan afterburning Pratt & Whitney F100-PW-100, menghasilkan 14.500 dari static thrust - 23.500 dengan afterburners. Ini memberikan F-15 rasio dorong-ke-berat lebih besar dari satu, membuatnya sangat kuat sehingga F-15 menjadi jet tempur pertama yang melebihi kecepatan suara dalam penerbangan vertikal. F-15 memiliki dorongan yang begitu kuat yang bisa naik ke 65.000 kaki hanya dalam 122 detik. Dalam penerbangan horizontal, F-15 bisa mencapai kecepatan Mach 2.5, dan terbang jelajah dengan kecepatan Mach 0.9.

Radar AN / APG-63 Eagle adalah yang paling canggih pada zamannya, radar solid state dengan kemampuan "melihat ke bawah/menembak jatuh" dan jangkauan hingga 200 mil. Ini memungkinkan F-15 untuk menembak musuh terbang rendah di radar dia atas kekacauan di darat. Ini juga menjadi radar pertama yang menggabungkan prosesor sistem yang dapat diprogram, yang memungkinkan upgrade moderat untuk dilakukan melalui perangkat lunak dan bukan pembaruan perangkat keras.

Eagle awalnya dipersenjatai dengan empat rudal AIM-7 Sparrow yang dipandu radar untuk pertempuran jarak jauh dan empat rudal AIM-9 Sidewinder yang dipandu inframerah untuk pertempuran jarak dekat. Dalam perang udara atas Vietnam, F-4C Phantom USAF, kurang memiliki senjata khusus, sehingga sering melewatkan kesempatan menjatuhkan pesawat Vietnam Utara. Kelemahan inilah yang diperbaiki pada F-15 dengan melengkapinya dengan senapan gatling M61 Vulcan 20 milimeter.

F-15 juga dirancang untuk jarak jauh. Membawa tiga tangki bahan bakar enam ratus pon, F-15 memiliki jangkauan tiga ribu mil, sehingga memungkinkan untuk terbang dari Amerika Serikat ke Eropa tanpa perlu berhenti atau mengisi bahan bakar, termasuk mengisi di udara. Ini akan memungkinkan AS dengan cepat memperkuat pertahanan udara NATO jika terjadi krisis di Eropa, atau kemudian untuk untuk segera mengirim F-15 ke Arab Saudi selama Operasi Badai Gurun.

F-15

Prototipe F-15 pertama terbang pada 1972, dan produksinya dimulai pada tahun 1973. Pesawat itu dengan cepat mulai melayani USAF dan pasukan udara sekutu, termasuk Israel, Jepang, dan Arab Saudi. F-15 pertama kali melakukan "kill" pada 27 Juni 1979, ketika penerbang F-15A Angkatan Udara Israel Moshe Melnik menembak jatuh MiG-21 Angkatan Udara Suriah. Pada akhirnya Melnik menjatuhkan empat pesawat musuh dari F-15A dan F-15C, untuk total karir sebelas pesawat tempur musuh ditembak jatuh.

Aksi Melnik hanyalah awal dari serangkaian 104 kemenangan berturut-turut pertempuran udara-ke-udara F-15, dengan tidak ada satu pun Eagle yang hilang. F-15 Israel, Saudi dan AS lah bertanggung jawab atas rentetan "pembunuhan" yang mengesankan ini. "Pembunuhan" oleh F-15 Israel terjadi antara 1979 dan 1982, yang menjadi korban diantaranya MiG-25 Foxbat , MiG-21 dan MiG-23 Suriah, dan sejumlah serangan darat.

Selama Perang Teluk 1991, penghitungan korban F-15 AS dan Saudi termasuk pesawat tempur Irak MiG-29 Fulcrum, Mirage F-1 dan bahkan pesawat transportasi medium Il-76 "Candid". Satu F-15E Strike Eagle bahkan mencetak serangan udara-ke-udara terhadap helikopter serangan Mi-24 Irak dengan bom yang dipandu laser.

F-15A akhirnya digantikan oleh F-15C, yang memiliki radar aperture sintetis AN / APG-70 yang lebih baru dan mesin F100-PW-220 yang lebih kuat.

USAF membeli F-15 terakhir pada tahun 2001. Dalam beberapa tahun terakhir, Boeing telah dua kali mencoba untuk kembali menarik minat USAF, pertama dengan Silent Eagle semi-siluman pada tahun 2010. Pada tahun 2016, Boeing kembali memperkenalkan F-15 baru, Eagle 2040C. Eagle 2040C dirancang untuk membawa hingga enam belas rudal AIM-120D AMRAAM radar-guided, lebih dari empat kali lipat dari aslinya. Sedangkan Talon HATE datalink akan memungkinkan versi terbaru Eagle untuk melakukan pertukaran data dengan F-22 Raptor.

Hari ini, USAF masih mengoperasikan sekitar 177 F-15C dan model dua kursi, dan sekitar 224 F-15E Strike Eagles. F-15 dikerahkan di pangkalan-pangkalan AS di Eropa dan Asia, terutama di RAF Lakenheath di Inggris dan pangkalan Angkatan Udara Kadena di pulau Okinawa Jepang.  F-15J Jepang juga beroperasi dari Okinawa, dan diduga terlibat dalam pertemuan udara pada Juni 2016 yang melibatkan Flanker China Su-30. F-15E saat ini dikerahkan di pangkalan udara Incirlik, Turki, di mana mereka berpartisipasi dalam perang udara melawan ISIS.

Di dunia yang saat ini masih didominasi oleh jet tempur generasi keempat, F-15 adalah pesawat tempur tua - namun masih tangguh. Minimnya jumlah F-22 Raptor yang cukup untuk menggantikan Eagle telah membuat AS menunda pensiunnya, dan sekarang digunakan untuk melengkapi F-22 di medan perang. Kurangnya pengganti yang layak saat ini berarti F-15 akan terus AS gunakan setidaknya sampai model C dan E yang tersisa pensiun pada awal 2030-an. (FR)

Resources
  • Kyle Mizokami. The National Interest
  • Gambar: Wiki Common

Pesanan Meningkat, Harga F-35 Turun

Monday, July 16, 2018 Add Comment
F-35

Amerika Serikat telah mencapai kesepakatan awal untuk pembelian jet F-35 dari Lockheed Martin senilai US$ 13 miliar atau Rp 187 triliun. Kesepakatan ini membuka jalan untuk pembelian tahunan yang lebih besar yang bertujuan agar biaya per pesawat jet turun menjadi US$ 80 juta atau pada tahun 2020.

Dilaporkan Reuters, 16 Juli 2018, kesepakatan untuk 141 F-35 menurunkan harga F-35A, versi standar F-35, hingga sekitar US$ 89 juta atau Rp 1,1 triliun, turun sekitar 6 persen dari harga awal yakni US$ 94,3 juta atau Rp 1,3 triliun dalam kesepakatan terakhir dilakukan pada Februari 2017.

Menurunkan biaya program pertahanan paling mahal di dunia sangat penting untuk mengamankan lebih banyak pesanan, baik di Amerika Serikat maupun di luar negeri.

Presiden Donald Trump dan pejabat AS lainnya telah mengkritik program F-35 karena molor dan pembengkakan biaya, tetapi harga per jet terus menurun dalam beberapa tahun terakhir karena produksi meningkat.

Kesepakatan saat ini akan disatukan bersama dengan penetapan harga dan ketentuan lainnya dalam kontrak yang akan diumumkan dalam beberapa minggu mendatang, ungkap sumber yang enggan disebut namanya.

Kesepakatan dengan Departemen Pertahanan AS menghapus hambatan dari negosiasi yang sedang berlangsung untuk kesepakatan multi-tahun untuk pesawat yang diperkirakan terdiri dari tiga tahap selama tahun fiskal 2018-2020.

"Pentagon dan Lockheed Martin telah membuat kemajuan dan berada di tahap akhir negosiasi. Perjanjian melambangkan komitmen Departemen Pertahanan untuk melengkapi pasukan AS dan sekutu, sambil memberikan manfaat besar kepada pembayar pajak AS," ungkap kepala akuisisi Pentagon, Ellen Lord

Musim panas lalu, Australia, Denmark, Israel, Italia, Jepang, Belanda, Norwegia, Turki, Korea Selatan, Inggris dan Amerika Serikat dilaporkan akan mengeluarkan US$ 88 juta Rp 1,2 triliun untuk masing-masing 135 unit atau lebih F-35 pada tahun fiskal 2018, untuk pengiriman pada 2020.

Bersamaan dengan itu, pemerintah AS merundingkan pembelian 440 F-35 pesawat tempur hingga lebih dari US$ 37 miliar atau Rp 532 triliun sebagai bagian dari program multi-tahun.

Pesawat jet tempur F-35 Lightning II milik Lockheed Martin adalah keluarga jet tempur multiperan siluman dengan kursi tunggal, mesin tunggal, dan tahan segala cuaca. Pesawat tempur generasi kelima ini dirancang untuk melakukan serangan darat dan head to head di udara.

F-35 memiliki tiga model utama, yakni varian take-off dan pendaratan konvensional F-35A, F-35B varian take-off pendek dan pendaratan vertikal, dan F-35C versi untuk kapal induk.

Resources
  • https://dunia.tempo.co/read/1107260/harga-pesawat-jet-tempur-canggih-f-35-turun-kenapa

Kelemahan F-35 Bisa Terbongkar jika Turki Operasikan S-400

Monday, July 16, 2018 Add Comment
F-35

Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) semakin khawatir dengan Turki yang akan mengoperasikan pesawat jet tempur F-35 dan sistem rudal pertahanan S-400 Rusia secara bersamaan. Jika itu terjadi, kelemahan jet tempur siluman kebanggaan NATO itu bisa diekspos Ankara.

"Apa pun yang bisa dilakukan oleh S-400 yang memberikannya kemampuan untuk lebih memahami kapabilitas seperti F-35, jelas bukan untuk keuntungan bagi koalisi," kata Komandan NATO Jenderal Tod Wolters kepada Reuters, Senin (16/7/2018).

Turki sudah mencapai kesepakatan dengan Rusia untuk membeli sistem S-400. Pengiriman pertama dari senjata pertahanan canggih itu akan berlangsung akhir 2019.

Parahnya, Ankara juga telah memperoleh jet tempur F-35 dari kontraktor pertahanan Amerika Serikat (AS) Lockheed Martin sebanyak dua unit. Namun, serah terima kedua jet tempur itu berlangsung di AS dan kedua pesawat masih di negeri Paman Sam tersebut untuk latihan bagi para pilot Ankara.

Senat AS telah meloloskan undang-undang untuk memblokir pengiriman F-35 ke Ankara. Pemerintah Washington juga bertekad untuk menahan kedua jet tempur itu sampai Ankara membatalkan kesepakatan pembelian S-400 Rusia.

"Sampai saat ini belum diketahui berapa banyak, untuk berapa lama dan seberapa dekat pesawat tempur dapat dioperasikan di dekat sistem S-400 untuk menjaga kemampuan radar-mengelaknya secara rahasia," kata Jenderal Wolters.

"Semua itu harus ditentukan. Kami tahu sekarang ini adalah tantangan," ujarnya.

Pada akhir tahun depan, Inggris, Norwegia, Italia, dan Belanda akan memiliki sekitar 66 pesawat tempur F-35 Lightning II. Sedangkan pengiriman untuk Turki belum bisa dipastikan karena masalah itu. Padahal, Ankara sudah membeli 116 unit F-35 di bawah kesepakatan program Joint Strike Fighter yang ditandatangani pada tahun 2014 dan 2016.

Dalam kesepakatan itu, pengiriman untuk Ankara seharusnya dilakukan pada 2018-2019,

Sementara itu, Moskow dan Ankara juga menandatangani kesepakatan senilai USD2,5 miliar untuk pengadaan S-400 Triumph Rusia pada Desember tahun lalu. Meskipun ada tekanan dari AS, Ankara sejauh ini telah berulang kali menyatakan bahwa akuisisi sistem pertahanan Rusia akan berjalan seperti yang direncanakan.

Resources
  • https://international.sindonews.com/read/1322130/41/kelemahan-jet-tempur-f-35-terbongkar-jika-turki-operasikan-s-400-rusia-1531719733

India Kembali Uji Rudal Supersonik BrahMos

Monday, July 16, 2018 Add Comment
Rudal BrahMos

India menguji tembak rudal supersonik BrahMos dalam kondisi ekstrem pada Senin (16/7/2018). Tes untuk memvalidasi "perpanjangan umur" senjata itu diklaim berhasil.

Uji coba dilakukan oleh BrahMos Aerospace bersama Badan Penelitian dan Pengembangan Pertahanan (DRDO) India pukul 10.30 pagi waktu setempat dari Rentang Uji Terpadu (ITR) Balasore untuk memvalidasi teknologi "perpanjangan umur" rudal.

Umur penggunaan rudal BrahMos akan diperpanjang dari sepuluh tahun menjadi 15 tahun. Namun, belum ada informasi lebih lanjut mengenai teknis perpanjangan usia BrahMos.

Rudal BrahMos memiliki jangkauan hingga 290 km dengan kecepatan supersonik sepanjang penerbangan. Rudal milik India ini diklaim tidak dapat diintersep oleh sistem pertahanan rudal yang ada di dunia saat ini. Rudal itu bisa melesat dengan kecepatan hingga Mach 3.0, atau tiga kali kecepatan suara.

Mengutip laporan India Today, daya destruktif rudal itu meningkat karena energi kinetik yang besar pada benturan. Ketinggian jelajahnya kini bisa hingga 15km dan ketinggian terminal serendah 10 meter. BrahMos bisa membawa hulu ledak konvensional dengan berat 200kg hingga 300kg.

Rudal BrahMos telah resmi masuk layanan Angkatan Darat dan Angkatan Laut India. Senjata ini akan segera menjadi bagian dari rudal jet tempur Angkatan Udara Sukhoi 30 MKI.

Resources
  • https://international.sindonews.com/read/1322216/40/india-tes-rudal-supersonik-brahmos-dalam-kondisi-ekstrem-1531731474