Sistem Pertahanan Udara Korut : Jika AS Menyerang

Thursday, April 26, 2018 Add Comment
S-125 Pechora Korea Utara

Jika Donald Trump lebih memilih untuk menyerang negara Kim Jong-un dengan militernya untuk menyelesaikan krisis semenanjung Korea, maka Washington akan menemukan bahwa Pyongyang adalah musuh yang tangguh, tidak seperti perkiraan banyak orang.

Selain kekuatan senjata nuklirnya yang tidak terungkap, kerajaan Kim Jong-un ini memiliki pertahanan udara maju yang mungkin tidak disangka. Selain itu, Pyongyang juga telah mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan ketahanannya terhadap serangan udara apapun yang mungkin dilancarkan oleh Amerika Serikat jika pecah perang.

Negara dengan nama lengkap Republik Rakyat Demokratik Korea ini tidak melupakan pelajaran dari Perang Korea - yang secara teknis belum berakhir hingga saat ini.

Dilansir dari The National Interest, Mike McDevitt, seorang analis pertahanan di Center for Naval Analyses menyebutkan bahwa antara tahun 1950 dan 1953, Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS meratakan Korea Utara. Jadi, selama 65 tahun belakangan Korut memikirkan bagaimana memastikan agar hal itu tidak terjadi lagi dengan menggali lebih banyak tempat perlindungan dan terowongan bom.

Tetapi selain melindungi fasilitasnya, Pyongyang memiliki sistem pertahanan udara yang lebih maju daripada yang diasumsikan banyak orang. Memang, mayoritas sistem pertahanan udara Korea Utara adalah warisan teknologi Soviet yang sudah tua, namun, Pyongyang juga memiliki beberapa sistem buatan dalam negeri yang mampu memberikan kejutan.

Korea Utara memiliki rudal-rudal SAM (permukaan ke udara) lama era Soviet, termasuk S-75, S-125, S-200, dan Kvadrat, yang diperkirakan dalam kondisi yang bagus. Dulu Korea Utara memproduksi S-75 sendiri dan melakukan beberapa upgrade signifikan. Selain itu, sejak awal tahun 2010 mereka sudah mengoperasikan sistem SAM modern buatan sendiri yang disebut KN-06.

Tidak jelas berapa banyak baterai KN-06 yang telah dibangun dan disebarkan Pyongyang, tetapi SAM Korea Utara itu adalah sistem yang mirip dengan S-300 versi model awal buatan Rusia. KN-06 dilengkapi phased array radar dan tracks via missile guidance system dan mungkin setara dengan versi awal S-300 tetapi dengan jangkauan yang lebih jauh.

Vasily Kashin, spesialis masalah Asia dari Center for Comprehensive European and International Studies,  mengatakan bahwa sumber dari Korea Selatan menyebutkan bahwa KN-06 telah berhasil diuji coba. Senjata ini diperkirakan memiliki jangkauan hingga 150 km. Salah satu alasan mengapa KN-06 sering diabaikan - meskipun informasi tentang senjata Korea Utara tersedia - adalah bahwa analis Barat selalu meremehkan kemampuan industri Pyongyang.
Rudal KN-06
Peluncuran rudal KN-06 (Foto: CSIS)
Secara umum, banyak yang terlalu meremehkan kemampuan industri Korea Utara. Kashin menyebutkan bahwa Korut telah menghasilkan beberapa peralatan mesin komputer dan industri robotika, serat optik, beberapa semikonduktor serta berbagai truk dan mobil, railroad rolling stock, elektronik konsumen dll.

"Pertahanan udara low altitude Korea Utara juga cukup kuat. Mereka memproduksi MANPAD (pertahanan udara portabel manusia) dalam jumlah yang besar dan ribuan  artileri 23-57mm anti-pesawat," kata Kashin.

Korea Utara juga memiliki angkatan udara yang besar meskipun hampir sepenuhnya kuno. Satu-satunya pesawat tempur Pyongyang yang mungkin sedikit memberi ancaman kekuatan udara AS adalah armada kecil MiG-29 Fulcrum milik Mikoyan. "Mereka seharusnya memiliki hingga 40 MiG-29, tapi saya tidak yakin berapa banyak dari mereka masih layak terbang tetapi beberapa pasti masih bisa terbang," kata Kashin. "Pelatihan pilot terbatas dan tidak pernah melebihi 20 jam penerbangan per tahun."

Namun, sementara teknologi pertahanan Korea Utara relatif kuno - pertahanan udaranya terkoordinasi dengan baik. “Mereka memiliki sistem kontrol dan komando anti pesawat terkomputerisasi warisan soviet. Sebagian besar memang menggunakan radar tua, tetapi mereka juga memperoleh beberapa phased array radar baru dari Iran,”kata Kashin. "Ini yang aku tahu, unit anti-pesawat secara ekstensif menggunakan tempat penampungan bawah tanah untuk perlindungan - tidak mudah dihancurkan."

Jadi, meskipun secara umum kuno, pertahanan Korea Utara mungkin lebih sulit dijebol daripada perkiraan banyak orang. Terlebih lagi, meski teknologi mereka sudah tua, filsafat Korea Utara tentang kemandirian telah mampu menghasilkan sebagian besar perangkat militernya sendiri. Meskipun teknologinya mungkin bukan teknologi masa kini tapi jelas mereka membuatnya sendiri.

Article Resources
  • National Interest

Mengenal Rudal : Senjata Presisi Tinggi

Wednesday, April 25, 2018 Add Comment
Rudal Tomahawk diluncurkan dari kapal selam kelas Virginia

Dalam serangan rudal di Suriah beberapa waktu lalu oleh militer AS dan koalisinya, rudal-rudal berhasil menghantam sasaran, dan korban jiwa yang ditimbulkan nyaris tidak ada. Menurut laporan CNN, hanya tiga warga sipil Suriah yang terluka akibat serangan rudal tersebut.

Serangan yang melibatkan lebih dari 100 rudal itu menunjukan bahwa rudal-rudal jelajah berpemandu satelit berhasil mengenai sasaran dengan tepat dan tidak menyasar ke permukiman warga sipil meski rudal ditembakkan dari jarak ratusan kilometer.

Kecanggihan rudal-rudal di peperangan modern jelas spektakuler, mengingat sesungguhnya rudal hanyalah benda mati yang ternyata bisa menentukan sasarannya sendiri secara presisi, layaknya memiliki otak sendiri.

Pada awalnya, rudal adalah bom yang dipasangi sirip dan bisa terbang menuju sasaran karena dikendalikan oleh remote-control sederhana oleh manusia. Belakangan, karena celah menuju sasaran semakin dipersempit, sistem kendali dan sistem penjejak sasaran berkembang semakin impresif.

Rudal udara ke udara, udara ke permukaan, dan permukaan ke udara adalah berbagai jenis rudal yang pernah menggiring dunia ke dalam masa-masa yang amat genting. Jauh berbeda saat pertama kali rudal diperkenalkan dalam Perang Eropa pada PD II, kini, teknologi rudal sudah jauh lebih maju.

Jika rudal pertama, yakni Fritz-buatan Jerman yang amat merepotkan armada Sekutu pada masa itu, hanya mengandalkan prinsip radio-kontrol, kini untuk sistem penjejaknya saja telah diterapkan teknik penyocokan kontur digital dan stellarinertial.

Kedua teknik itu memungkinkan hulu ledak dibawa terbang menjelajah ribuan kilometer atau melintas benua lalu tepat mengenai sasaran dengan tingkat kesalahan hanya satu meter dalam rentang 10.000 km.

Sejak Fritz yang masih amat sederhana itu berhasil menjebol kapal-kapal perang Sekutu, sejumlah negara yang terlibat perang – terutama AS – pun langsung memahami betapa tingginya manfaat rudal dalam mempersingkat dogfight yang berkepanjangan.
Rudal Fritz
Rudal Fritz atau Ruhrstahl X-1, rudal anti kapal mematikan yang digunakan Jerman dalam Perang Dunia II
Sementara di darat, rudal akan memudahkan pasukan kavaleri menjebol garis depan kekuatan lawan.

Kepintaran para insinyur Jerman dalam upaya pengembangan senjata pun membuka wawasan para insinyur Barat. Kehebatan Fritz yang tak terbantahkan memicu mereka untuk bisa membuat rudal-rudal yang jauh lebih canggih. Mereka giat melakukan percobaan dan selalu mencari pemecahan setiap kali menemukan kelemahan dari sebuah rudal yang baru saja diciptakan.

Di lain pihak lawan berhasil menciptakan penangkalnya. Pamor Fritz sendiri langsung tenggelam tak lama setelah Jerman kalah terhadap Sekutu pada Mei 1945. Namun, setelah itu, meski tak ada perang yang bisa digunakan sebagai laboratorium alam, AS, Uni Soviet, Inggris, dan Perancis berhasil membuat rudal-rudal yang semakin canggih dan semakin mematikan.

Memasuki masa Perang Dingin pada dasawarsa 1970-an, perkembangan yang ada bahkan telah menggiring dunia ke dalam masa-masa yang genting dan mencekam. Pada masa itu telah bermunculan rudal-rudal balistik pemicu kiamat berhulu ledak nuklir macam Minuteman, Titan, Poseidon, dan Trident.

Hulu ledak rudal-rudal buatan AS ini ada yang mencapai sembilan megaton. Soviet pun tak kira-kira dalam membuat penandingnya. Mereka menciptakan SS-13, SS-4, SS-N-5, SS-N-6, dan masih banyak lagi, dengan kekuatan hulu ledak rata-rata 1 megaton.

Sebagai akibat dari perlombaan itu, seperti diungkap Mark Dartford dalam buku Military Technology (1985), pada tahun itu dunia sempat mengalami kejenuhan yang luar biasa.

Pada tahun 1985 itu pula, paling tidak di dunia ada lebih dari 40.000 hulu ledak nuklir dengan kekuatan ledak berkisar antara seperduapuluh sampai ribuan kali dari ledakan atom yang terjadi di Hiroshima.

Rudal-rudal itu tentu amat menggetarkan. Namun, negara-negara pembuatnya seolah menikmati benar predikat yang kemudian disandang. Sebagai pembuat, mereka selanjutnya dikenal sebagai negara digdaya yang bisa mengatur dunia.

Rudal-rudal yang amat mematikan itu sendiri kemudian sering dikedepankan setiap kali mereka terlibat dalam konflik kepentingan skala global.
Rudal SS-4
Rudal Balistik Uni Sovyet SS-4 di Red Square, Moskow
Selain dari bobot dan jenis hulu ledak yang dibawa, kedigdayaan rudal-rudal itu bisa dirunut dari seberapa hebat sistem navigasi dan sistem penjejak sasaran yang diadopsi.

Dalam kaitan ini secara umum rudal-rudal tersebut dikelompokkan ke dalam tiga kategori: Pertama, adalah rudal bersistem penjejak pasif. Kedua, rudal bersistem penjejak aktif. Dan, ketiga, rudal-rudal preset atau dengan sasaran yang telah di-set tetap beberapa saat sebelum diluncurkan.

Rudal pasif, maksudnya adalah rudal yang menuju sasaran dengan penjejak yang telah dirancang mengikuti sinyal atau jejak yang ditinggalkan atau dipancarkan sasaran tersebut. Perancangnya biasa menyebut manuvernya sebagai “home in” atau “pulang ke rumah”. Masuk ke dalam kategori ini adalah rudal-rudal dengan sistem penjejak panas, seperti AIM-9 Sidewinder.

Kebalikannya adalah rudal aktif. Rudal jenis ini harus mengaktifkan radar atau kamera atau dikendalikan dari jauh agar bisa mencapai sasarannya. Di antara sistem aktif pasif, sekelompok perancang toh bisa menggabungkannya menjadi rudal dengan sistem semi-aktif.

Lalu bagaimana dengan rudal preset? Sistem ini biasa digunakan untuk rudal-rudal balistik yang diluncurkan dari suatu tempat ke sasaran di lokasi tetap. Rudal jenis ini biasa digunakan rudal-rudal strategis untuk menghancurkan pangkalan militer atau kota seperti tiga sasaran strategis Suriah yang berhasil dihantam militer AS dan koalisinya beberapa waktu lalu.

Dari sekian banyak teknologi penjejak sasaran yang digunakan pada masa kini; sistem inertial guidance, stellar inertial guidance, dan Tercom (Terrain Contour Matching) adalah yang paling diandalkan rudal-rudal modern.

Pencapaian teknologi ini tak lain adalah untuk meminimalisasi rintangan alam maupun rintangan buatan hasil rekayasa teknologi penangkal rudal.

Teknik penyocokan kontur digital atau yang biasa disebut sebagai Terrain Contour Matching, misalnya, dibuat agar sang rudal bisa mengecoh radar pertahanan udara.

Dengan Tercom, rudal akan terbang rendah dan mencapai sasaran dengan cara mengikuti koordinat tiga dimensi dari peta kontur yang direkam di kepalanya.

Teknologi semacam ini diadopsi rudal jelajah BGM-109 Tomahawk yang namanya makin populer setelah digunakan oleh militer AS untuk menghantam sejumlah sasaran strategis di Suriah pada pertengahan April 2018.

Article Resources
  • Intisari Online

Di Indonesia, Apache dan Mi-35 Jadi Sahabat

Wednesday, April 25, 2018 Add Comment
Apache dan Mi-35

TNI AD juga memiliki sejumlah pesawat tempur khususnya helikopter yang dioperasikan oleh Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Puspenerbad). Bisa disebut unik karena saat ini, Puspenerbad mengoperasikan dua jenis heli serang yang sangat berbeda, yakni heli produksi Amerika Serikat, AH-64 Apache Guardian dan Mi-35 Hind produksi Rusia.

Sejatinya, dua jenis heli serang ini merupakan heli yang saling bermusuhan terutama soal gengsi teknologi Rusia dan AS. AS memproduksi heli Apache salah satunya adalah untuk menandingi Mi-35 Rusia.

Ketika Rusia berhasil memproduksi heli Mi-35 dan menggunakannya di berbagai medan perang di kawasan Eropa Timur dan Afghanistan, AS yang belum memiliki heli serang mumpuni segera memproduksi Apache untuk menandingi Mi-35.

Kedua jenis heli ini adalah musuh satu sama lain, dan seharusnya berhadapan dalam pertempuran karena keduanya memiliki kemampuan yang mirip. Yakni sama-sama sebagai heli penghancur tank, heli penghancur sesama heli serang, dukungan dan bantuan tempur pasukan darat, penghancur sasaran berat seperti bunker musuh, heli anti serangan gerilya, dan lainnya.

Persaingan terus berlanjut hingga saat ini seiring munculnya upgrade-upgrade dan varian terbaru.

Uniknya kedua jenis heli yang beda pabrik produksinya itu, menjadi sahabat dalam pertempuran jika dioperasikan oleh TNI AD.

Misalnya ketika Apache sedang melaksanakan misi tempur menghancurkan tank-tank musuh, maka Mi-35 akan bertugas sebagai pelindung (escort) Apache dari sergapan heli musuh atau incaran operator rudal anti-heli.

Niat memiliki heli serang produk AS dan Rusia sekaligus bagi TNI memang bukan hanya kebetulan tapi melalui pertimbangan yang matang.

Seperti yang dilakukan oleh TNI AU yang kini juga menggunakan jet-jet tempur produksi AS dan Rusia sekaligus, seperti F-16 serta Sukhoi. Salah satu pertimbangannya adalah untuk menghindari "mati langkah" ketika salah satu negara mengembargo.

Misalnya jika AS sampai menerapkan embargo militer ke Indonesia, TNI masih memiliki alutsista dari Rusia atau negara lain. Apalagi Rusia sangat jarang menerapkan embargo senjata dan Rusia juga terkesan tidak peduli alutsista buatannya digunakan untuk misi apa. Berbeda dengan kebijakan pembelian alutsista dari AS karena harus jelas penggunaannya dan biasanya dilarang untuk digunakan dalam peperangan melawan negara sekutu-sekutu AS atau bahkan untuk melawan kelompok separatis di dalam negeri.

Maka demi menghindari embargo senjata dari AS yang kadang muncul tiba-tiba karena masalah sepele, misalnya pencekalan pejabat AS masuk ke Indonesia lalu malah berakibat pada embargo senjata, TNI (Kemhan) melakukan tindakan antisipasi dengan cara membeli juga alutsista dari Rusia.

Karena kebijakan seperti itulah alutsista seperti heli Apache dan Mi-35, jet tempur F-16 dan Sukhoi bisa menjadi bagian dari TNI.

Article Resources
  • http://intisari.grid.id/read/03209364/apache-dan-mi-35-heli-tempur-yang-biasanya-jadi-musuh-bebuyutan-tapi-di-tni-ad-malah-jadi-sahabat-karib?page=all

Denmark VS Kanada: Inilah Perang Paling Sopan di Dunia

Tuesday, April 24, 2018 Add Comment
Ilustrasi Perang Denmark - Kanada

Sengketa wilayah biasanya menjadi pemicu ketegangan dan konflik bersenjata antarnegara. Namun, bagi Kanada dan Denmark sengketa wilayah tak harus berkembang menjadi pertikaian militer hingga memakan korban jiwa.

Sejak tahun 1984, Kanada dan Denmark terlibat "perang" memperebutkan sebuah pulau kecil nan tandus bernama Hans yang terletak di Lingkar Arktik (Kutub Utara). Namun, perang perebutan wilayah ini bisa dikatakan sebagai "perang paling sopan" yang pernah terjadi di dunia.

Pulau Hans adalah sebuah pulau kecil tak berpenghuni seluas 1,3 kilometer persegi terletak di Selat Nares yang memisahkan Pulau Ellsmere, Kanada dan Greenland, wilayah seberang lautan Denmark.

Sebenarnya, kekisruhan soal kepemilikan pulau antara Kanada dan Denmark sudah terjadi sejak 1930-an. Sebab, sesuai dengan aturan internasional, semua negara di dunia berhak mengklaim wilayah yang berada di jarak maksimal 12 mil atau sekitar 19 kilometer dari pesisir mereka.

Karena lebar Selat Nares hanya 22 mil atau 35 kilometer maka membuat Pulau Hans terletak kurang lebih di tengah-tengah selat. Akibatnya, baik Kanada maupun Denmark merasa berhak untuk memiliki pulau tersebut.
Pulau Hans
Pulau Hans dan letaknya di tengah Selat Nares
Pada 1933, Mahkamah Internasional di bawah Liga Bangsa-Bangsa (LBB) memutuskan pulau kecil itu menjadi milik Denmark. Keputusan itu sempat membuat sengketa kedua negara berhenti.

Sayangnya, ketika Liga Bangsa-bangsa bubar pada 1946 (untuk selanjutnya digantikan oleh PBB), maka semua keputusan organisasi itu termasuk soal kepemilikan Pulau Hans ikut gugur.

Hanya saja, isu pulau kecil ini tenggelam dalam masalah yang jauh lebih besar saat Perang Dunia II pecah yang disusul Perang Dingin.

Masalah pulau ini baru muncul kembali pada 1984 ketika Menteri Urusan Greenland berkunjung ke pulau itu dan memasang bendera Denmark.

Di bawah tiang bendera disiapkan sebuah plakat berbunyi "Selamat Datang di pulau milik Denmark". Selain itu, Denmark juga meletakkan sebotol minuman brandy. Dan sejak itu, kedua negara terlibat dalam sebuah "konflik" memperebutkan Pulau Hans.


Tantangan Denmark akhirnya dijawab Kanada. Marinir Kanada kemudian mendarat di pulau itu, memasang bendera, meninggalkan plakat, dan sebotol whiski. Akhirnya, "Perang Whiski" itu masih berlangsung hingga hari ini sambil terus melakukan diplomasi terkait status kepemilikan pulau kecil itu.

"Saat militer Denmark datang ke pulau itu mereka akan meninggalkan sebotol schnapps. Dan, ketika militer Kanada datang mereka meninggalkan sebotol wiski Canadian Club," ujar Dubes Denmark untuk AS, Peter Takso Jensen.

Article Resources
  • https://internasional.kompas.com/read/2018/04/23/15311841/berebut-pulau-kanada-dan-denmark-terlibat-perang-paling-sopan.
  • Gambar: Reddit, Business Insider, Buzz Feed

Jepang Masih Pertimbangkan Pengganti Mitsubishi F-2

Tuesday, April 24, 2018 Add Comment
Mitsubishi F2

Badan Akuisisi, Teknologi, & Logistik Jepang (ATLA) masih mempertimbangkan pesawat tempur futuristik apa yang cocok untuk menggantikan Mitsubishi F-2.

"Kami telah melakukan proses request for information secara terus-menerus, dan pertanyaan kami telah berubah," kata seorang pejabat yang akrab dengan program untuk mengembangkan sebuah pesawat tempur baru Jepang, yang kemungkinan akan disebut sebagai F-3.

Dia menolak untuk mengomentari pemberitaan Reuters terkait perusahaan pertahanan AS Lockheed Martin yang menawarkan pesawat persilangan dari F-22 dan F-35 sebagai pesawat tempur masa depan Jepang.

Laporan Reuters mengutip sebuah sumber yang mengatakan bahwa pesawat hibrid dari F-22 dan F-35 akan lebih unggul dari keduanya.

Pejabat Jepang itu mengatakan bahwa sejumlah proposal sedang dipertimbangkan, dan juga perlu diketahui bahwa saat ini Jepang dan Inggris juga melakukan penelitian bersama untuk potensi pengembangan pesawat tempur masa depan.

Beberapa tahun belakangan, Tokyo dengan sungguh-sungguh bereksplorasi untuk mendapatkan pesawat tempur baru. Beberapa pilihannya antara lain, pengembangan pesawat tempur baru secara mandiri, berkolaborasi dengan mitra asing, membeli, atau mengupgrade pesawat tempur yang ada.

Mengembangkan pesawat tempur berdasarkan pesawat tempur AS bukan hal yang baru bagi Jepang. Sebagaimana diketahui bahwa Mitsubishi F-2 Jepang sebagian besar didasarkan pada F-16 AS. F2 dirancang untuk membawa muatan yang lebih besar terutama untuk konfigurasi anti-kapal, memiliki luas area sayap 25% lebih besar daripada F-16, dan modifikasi lainnya seperti penggunaan bahan komposit yang lebih banyak.

Sayangnya, F-2 terlalu mahal sehingga Tokyo hanya memperoleh 94 dari rencana akuisisi sebanyak 144 unit. Pesawat hasil persilangan dari F-35 dengan F-22 akan secara efektif menjadi sebuah pesawat baru, namun dengan potensi pembengkakan biaya yang besar.

Tokyo pernah ingin membeli F-22 Raptor AS, tetapi pada tahun 1998 Kongres AS memblokir penjualan dan lisensi produksi F-22 di luar negeri. Pada 2006, AS pernah berniat untuk eskpor F-22 (varian downgrade) ke Jepang, tetapi AS khawatir Jepang tidak mampu menjaga kerahasiaan teknologinya mengingat kebocoran data sistem tempur Aegis tahun 2002.

Sementara Mitsubishi memiliki lisensi untuk memproduksi 42 unit F-35 di Nagoya, tidak jelas seberapa jauh pemerintah AS akan mentransfer teknologi yang diperlukan untuk pengembangan hibrid dari F-22 dan F-35.
X-2 Jepang
Pesawat demonstrator X-2 Jepang
Sementara itu, pejabat itu juga menegaskan bahwa uji coba pesawat demonstrator X-2 telah berakhir setelah mencapai 34 penerbangan. Awalnya diperkirakan baru akan selesai pada penerbangan yang ke-50

"Kami telah menyelesaikan pengujian yang kami rencanakan," katanya. “Tidak ada yang ditentukan tentang masa depan X-2. Kami dapat melakukan lebih banyak pengujian. ”

Pesawat itu tetap di pangkalan udara Gifu. Pesawat ini aslinya disebut sebagai ATDX, bukan sebagai prototipe pesawat tempur yang akan diproduksi, tapi merupakan bagian dari upaya Jepang dalam teknologi yang diperlukan untuk mengembangkan pesawat generasi kelima atau keenam. Upaya ini terdiri dari 15 program terpisah yang menyelidiki teknologi spesifik seperti ruang senjata, sensor, tautan data, dan area lain yang dianggap perlu untuk pesawat tempur canggih.

Program X-2 juga dilihat sebagai cara bagi para insinyur pesawat senior Jepang mentransfer ilmunya kepada insinyur muda.

Article Resources
  • https://www.flightglobal.com/news/articles/tokyo-eyes-multiple-routes-for-new-fighter-jet-447911/

DARPA Ingin Persiapan Peluncuran Roket Hanya Hitungan Hari

Monday, April 23, 2018 Add Comment
SpaceX - peluncuran

Untuk mengirimkan roket ke luar angkasa dibutuhkan waktu persiapan hingga beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun.

DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency) - Badan riset militer Amerika Serikat yang sering melakukan riset hal-hal yang tak lazim - percaya, waktu tersebut bisa dipangkas hingga menjadi beberapa hari saja.

DARPA belum lama ini memulai Launch Challenge, yang menantang perusahaan-perusahaan pengirim roket menekan waktu yang dibutuhkan untuk mengirimkan roket ke luar angkasa menjadi dalam hitungan hari, bukan bulan apalagi tahun, lapor Engadget.

Perusahaan pengirim roket harus bisa membuat sistem yang bisa meluncurkan roket ke orbit rendah Bumi dari tempat yang lain hanya dengan jeda waktu beberapa hari, tanpa pemberitahuan akan misi itu sejak lama.

Perusahaan akan tahu dimana tempat peluncuran dilakukan dalam waktu "beberapa minggu" sebelum peluncuran dan mereka akan tahu tentang beban yang diangkut hanya dalam waktu beberapa hari sebelum roket diterbangkan.

Kompetisi ini akan diadakan pada akhir 2019. Untuk membuat para perusahaan pengirim roket tertarik, DARPA menyiapkan hadiah yang tidak sedikit.

Untuk posisi pertama, DARPA menyiapkan USD 10 juta (Rp 139 miliar), USD 9 juta (Rp125 miliar) untuk posisi dua dan USD 8 juta (Rp 111 miliar) untuk posisi tiga. Dan semua tim yang bisa mengirimkan satu roket akan mendapatkan USD2 juta (Rp 27,7 miliar).

Dalam kompetisi ini, kecepatan tidak menjadi satu-satunya tolok ukur. Para juri juga akan menilai tingkat akurasi, muatan yang dibawa dan juga massa roket itu sendiri.

Jika perusahaan pengirim roket memang bisa memotong waktu persiapan pengiriman roket, ini akan membantu militer untuk mengirimkan satelit komunikasi dan mata-mata Meskipun begitu, tantangan ini juga bisa membantu peluncuran berbagai jenis satelit di masa depan.

Article Resources
  • http://news.metrotvnews.com/read/2018/04/23/864366/militer-as-ingin-bisa-luncurkan-roket-dalam-hitungan-hari

China Mulai Uji Coba Kapal Induk Pertama Buatan Sendiri

Monday, April 23, 2018 Add Comment
Kapal induk China Type-001A

China akan mulai uji coba kapal induk pertama buatan sendiri dalam minggu ini. Tiga jalur laut di Bohai timur laut dan Laut Kuning telah ditutup otoritas setempat.

Kapal induk yang akan melakukan uji coba laut ini adalah kapal induk Type 001A. Tanggal dan lokasi uji coba tak diungkap militer Beijing, namun diperkirakan akan bertepatan dengan ulang tahun ke-69 Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) pada hari Senin , 23 April 2018.

Sumber militer yang mengonfirmasi laporan itu mengatakan, pelaksanaan uji coba tergantung pada kondisi cuaca dan laut.

Administrasi Keselamatan Kelautan Liaoning mengumumkan pada hari Jumat lalu bahwa tiga kawasan di Bohai timur laut dan Laut Kuning ditutup untuk kegiatan militer dari 20 hingga 28 April 2018. Area-area yang terlarang tersebut dekat dengan galangan kapal di Provinsi Liaoning, tempat di mana kapal induk baru dibangun.

Sumber lain yang menyaksikan uji mesin kapal induk mengatakan bahwa sebuah mesin utama diaktifkan yang menunjukkan uji coba laut akan segera dimulai.

Kapal induk baru Beijing ini diperkirakan akan beroperasi akhir tahun ini, atau 12 bulan lebih cepat dari yang dijadwalkan. Menurut seorang ahli Angkatan Laut China, dimajukannya jadwal itu seiring dengan persaingan yang kuat antara Beijing dan Washington.

Sumber militer lain mengatakan kepada South China Morning Post bahwa uji coba akan mencakup fungsi dasar kapal, termasuk kekuatan, kontrol kerusakan, sistem radar dan komunikasi, serta pemeriksaan kebocoran.

Kapal yang akan diuji coba, lanjut sumber tersebut, diperkirakan tidak akan berlayar jauh pada pelayaran pertamanya. Kemungkinan hanya tinggal di Teluk Bohai.

Liu Zheng, Ketua Industri Perkapalan Dalian, menegaskan bulan lalu bahwa kapal induk baru sudah siap untuk memulai uji coba laut.
Kapal induk Tipe 001A China
Kapal induk Type 001A yang merupakan kapal induk Kelas Admiral Kuznetsov Rusia
Kapal Type 001A seberat 70.000 ton (bobot benaman ketika muatan penuh) diluncurkan pada bulan April tahun lalu dan diperkirakan akan bergabung dengan Angkatan Laut China paling cepat akhir tahun ini, jauh sebelum targetnya awal 2019.

Type 001A merupakan kapal induk kelas Admiral Kuznetsov Rusia. Moda militer raksasa baru Beijing ini diklaim mampu mengangkut hingga 35 pesawat jet tempur.

Ambisi Beijing untuk mempercepat operasional kapal induk terbarunya ini seiring dengan situasi krisis di Laut China Selatan. Seperti diketahui, Beijing mengklaim hampir seluruh kawasan laut tersebut dan bersengketa dengan sejumlah negara Asia yang juga memiliki klaim di kawasan yang sama.

Negara kekuatan dunia lainnya, terutama Amerika Serikat, juga memprotes klaim Beijing atas kawasan laut tersebut. Washington yang kerap mengoperasikan kapal induk dan beberapa kapal perang di dekat kawasan sengketa tersebut menilai klaim China bisa menghilangkan kebebasan navigasi di kawasan laut internasional.

"Ada tekanan eksternal yang berkembang bagi China untuk mempercepat pengembangan kapal induknya sehingga menjadi kekuatan utama angkatan laut, terutama sejak Amerika Serikat meningkatkan penyebarannya di Asia," kata Ni Lexiong, seorang ahli angkatan laut di Shanghai University of Political Science and Law.

"Tapi China masih 10 hingga 20 tahun lagi dan Amerika Serikat dalam kompetisi ini," ujar Lexiong.

Terbaru, kapal induk Amerika Serikat, USS Gerald R Ford yang memiliki bobot benaman 100.000 ton dan dapat menampung lebih dari 75 pesawat, beroperasi di kawasan Laut China Selatan.

Article Resources
  • https://international.sindonews.com/read/1300088/40/uji-coba-kapal-induk-buatan-sendiri-china-tutup-jalur-laut-1524466977/13