Wednesday, October 17, 2018

UAV Baru Turki Uji Coba Gunakan Wind Tunnel Indonesia

Model UAV TAI Turki
Sebuah model pesawat tanpa awak buatan Turkish Aerospace Industries (TAI) terlihat sebelum pengujian di terowongan angin di Pusat Teknologi Aerodinamika, Aerolastika dan Aeroakustika (BBTA3), di kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUSPITEK ) di Tangerang, Indonesia pada 11 Oktober 2018. ( Anton Raharjo - Anadolu Agency )

Unmanned Aircraft Vehicle (UAV) generasi terbaru milik Turki yang sedang dikembangkan akan mulai diproduksi dalam 3 hingga 4 tahun mendatang

Perusahaan dirgantara Turki, Turkish Aerospace Industry (TAI), sedang mengembangkan pesawat terbang tanpa awak (Unmanned Aircraft Vehicle/UAV) generasi terbaru.

Saat ini, UAV terbaru tersebut sedang diuji coba di fasilitas Indonesian Low Speed Tunnel (ILST) milik Balai Besar Teknologi Aerodinamika, Aeroelastika, dan Aeroakustika (BBTA3) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Serpong, Banten.

Vice President Corporate Marketing and Communications TAI Tamer Ozmen mengatakan kepada Anadolu Agency saat mengunjungi BPPT akhir pekan lalu, UAV generasi terbaru ini akan mulai diproduksi dalam 3 hingga 4 tahun mendatang.

UAV generasi terbaru tersebut, menurut dia, memiliki dua mesin dan kapasitas payload (muatan) yang lebih besar.

“Proses uji coba dan pengetesan saat ini sudah mencapai 80 persen dan 20 persen sisanya akan difinalisasi dalam beberapa minggu ke depan,” ungkap Tamer.

Tamer mengungkapkan alasan pihaknya bekerja sama dengan BPPT dalam pengujian UAV terbaru karena telah memiliki pengalaman yang sukses pada saat pengembangan UAV Turki bernama Anka sejak 2008 lalu.

UAV Anka saat ini sudah memiliki pengalaman yang matang untuk berbagai aktivitas seperti anti terorisme serta pengintaian di darat dan laut dan dipakai oleh Angkatan Bersenjata Turki dan Badan Intelijen Turki. Anka, menurut Tamer, juga sudah dipakai di Turki dan di berbagai negara.

“BPPT memiliki andil dalam kesuksesan pengembangan Anka,” tegas Tamer.

Tamer menambahkan saat ini TAI juga sedang mencari kesempatan untuk bekerja sama dengan industri pertahanan di Indonesia.

“Pada bulan November nanti kita akan hadir di pameran Indo Defence di Jakarta dan TAI akan membawa model ANKA dengan skala penuh,” imbuh Tamer.

Saat ini, pesawat UAV Anka produksi TAI sedang mengikuti tender di Kementerian Pertahanan Indonesia untuk pengembangan pesawat terbang tanpa awak di Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Balai Besar Teknologi Aerodinamika, Aeroelastika, dan Aeroakustika (BBTA3) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Fadilah Hasim mengakui kerjasama dengan TAI dalam pengetesan UAV sangat bermanfaat.

Fadilah mengatakan pada tahun 2008 ketika BBTA3 BPPT memulai kerja sama pengembangan UAV Anka dengan TAI, teknologi pesawat tanpa awak baru mulai berkembang.

“Dengan pengujian Anka, kami juga dapat kesempatan untuk mendapatkan pengalaman mempelajari pesawat-pesawat kecil UAV atau pesawat dengan bilangan reynolds rendah,” ungkap Fadilah.

Sebelum memulai program kerja sama pengetesan Anka, dia mengakui database yang ada di BBTA3 BPPT adalah untuk pengujian pesawat-pesawat besar yang sudah banyak terdapat di buku dan literatur.

“Tapi pesawat dengan sayap kecil yang sangat sensitif dengan kecepatan angin masih belum banyak database-nya. Kami jadi ada kesempatan belajar,” imbuh dia.

Fadilah menjelaskan fasilitas pengujian pesawat yang ada di BBTA3 BPPT adalah wind tunnel (terowongan angin) Indonesian Low Speed Tunnel (ILST) dengan seksi uji berukuran 4x3 meter yang dibangun oleh Presiden BJ Habibie dengan menggunakan teknologi asal Jerman dan Belanda.

“Terowongan angin kami sangat akurat dengan intensitas turbulensinya sangat rendah di bawah 0,1 persen,” ujar Fadilah.

Selain itu, pada terowongan angin tersebut juga memiliki sudut aliran yang sangat seragam dan lapisan batas yang sangat tipis.

“Terowongan angin ILST adalah terowongan angin kelas dunia,” lanjut dia.

Resources
  • https://www.aa.com.tr/id/headline-hari/turki-uji-coba-uav-terbaru-di-indonesia/1283111

Kembangkan Pesawat Tempur, Turki Cari Partner di Indonesia

Pengembangan UAV Turki - Indonesia
Vice President Corporate Marketing and Communication Turkish Aerospace Industries (TAI) Tamer Özmen bersama dengan staff lainnya berpose, sebelum pengujian terowongan angin untuk pengembangan pesawat tanpa awak (UAV) Indonesia-Turki, di Pusat Teknologi Aerodinamika, Aerolastika dan Aeroakustika (BBTA3), di kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUSPITEK ) di Tangerang, Indonesia pada 11 Oktober 2018. ( Anton Raharjo - Anadolu Agency )

Turki memiliki program pengembangan pesawat tempur yang ditargetkan akan mulai mengudara pada 2023 mendatang dan memulai operasional penerbangan pada 2026

Turkish Aerospace Industries (TAI) sedang mencari mitra strategis di Indonesia untuk pengembangan pesawat tempur.

Vice Presiden Corporate Marketing and Communications TAI Tamer Ozmen mengatakan hal tersebut kepada Anadolu Agency saat berkunjung ke fasilitas pengujian pesawat terbang di BPPT Serpong, Banten, akhir pekan lalu.

Tamer mengatakan pihaknya sedang berusaha memperkuat kerja sama dengan industri pertahanan yang ada di Indonesia. Upaya tersebut dimulai melalui proses tender pengembangan pesawat terbang tanpa awak (Unmanned Aircraft Vehicle) oleh Kementerian Pertahanan Indonesia yang diikuti TAI.

Turki menurut dia, memiliki program pengembangan pesawat tempur yang ditargetkan akan mulai mengudara pada 2023 mendatang dan memulai operasional penerbangan pada 2026.

“Pesawat tempur tersebut akan menggantikan seluruh pesawat tempur F-16 yang dimiliki Turki pada 2040 mendatang,” ungkap Tamer.

Program tersebut menurut Tamer, membutuhkan dukungan banyak teknisi. Oleh karena itu, TAI ingin menggandeng kemitraan dengan industri dirgantara dan pertahanan di Indonesia seperti PT Dirgantara Indonesia serta universitas di Indonesia untuk penyediaan sumber daya manusianya.

Perusahaan tersebut lanjut Tamer, sedang mempertimbangkan untuk menggunakan teknisi asal Indonesia.

“Mungkin kita akan membuka kantor di Jakarta atau Bandung. Kita tahu universitas di Bandung (ITB) cukup kuat untuk pengembangan pesawat tempur,” imbuh dia.

Selain itu, TAI menurut Tamer, juga sedang mencari kesempatan untuk bekerja sama dalam pengembangan pesawat regional dengan menggandeng PT Regio Aviasi Industri (PT RAI) yang saat ini sedang menggarap pesawat R80.

“Turki memiliki kehebatan dalam pengembangan pesawat regional dan mungkin bisa menggandeng PT RAI untuk bekerja sama,” aku Tamer.

Resources
  • https://www.aa.com.tr/id/ekonomi/turki-gandeng-indonesia-kembangkan-pesawat-tempur/1283242

Tuesday, October 16, 2018

Inilah Alasan Mengapa Tidak Semua Jet Tempur Bisa Langsung Terbang Untuk Menghindari Badai

F-22 Raptor

Banyak yang mengkritisi keputusan Angkatan Udara AS (USAF) atau khususnya komandan Pangkalan Angkatan Udara Tyndall (Tyndall AFB) yang tidak menerbangkan seluruh pesawat untuk menghindari badai Michael sehingga kerusakan pada F-22 Raptor tidak perlu terjadi.

Sebelumnya Artileri melaporkan dan memposting foto-foto yang menunjukkan pesawat QF-16, Mu-2, dan bahkan, F-22 Raptor, teronggok tertimpa reruntuhan di dalam hanggar yang rusak parah di Tyndall AFB akibat badai Michael. USAF menyatakan bahwa pesawat-pesawat tersebut memang tetap berada disana selama badai, dengan angka tidak resmi dilaporkan berkisar dari tiga hingga 18 F-22 Raptor tetap di hanggarnya selama badai.

Untuk diketahui, Tyndall AFB adalah pangkalan dan rumah bagi 55 unit pesawat tempur siluman F-22, serta rumah bagi banyak pesawat lainnya.

Banyak yang bertanya-tanya kenapa USAF tidak menerbangkan seluruh pesawatnya dari Tyndall AFB? Apakah USAF ceroboh atau angkuh dalam menyikapi badai? Sebenarnya ada alasan mengapa tidak semua pesawat disana dapat terbang sebelum badai Michael menerpa.

F-22 Raptor rusak akibat badai
Sebuah F-22 Raptor tertangkap foto udara tertimpa reruntuhan hanggar akibat badai Michael

F-22 Raptor rusak akibat badai
F-22 Raptor tertimpa reruntuhan hanggar yang rusak akibat badai Michael

Perlu disadari bahwa pesawat tempur modern bukanlah Toyota Avanza yang dapat dikendarai berbulan-bulan lalu ke bengkel untuk ganti oli selama satu jam lalu bisa dikendarai lagi. Kalaupun ingin disamakan, pesawat tempur modern lebih mirip dengan mobil sport kelas atas yang butuh lebih banyak TLC mahal agar dapat terus digunakan. F-22, khususnya, lebih mirip dengan supercar eksotis atau mobil balap kelas atas. Diperlukan lusinan jam pemeliharaan untuk setiap jam penerbangannya dan perawatan detail yang dapat memakan waktu berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu, tergantung pada apa yang perlu dilakukan dan ketersediaan suku cadang.

Ada F-22 Raptor yang harus mendekam di hanggar untuk waktu yang lama untuk perbaikan, yang lainnya harus melalui servis berkala, inspeksi komponen dengan ketelitian tinggi, dan pemeriksaan fase invasif, dan ada juga yang komponennya sedang dibongkar sebelum bisa disatukan kembali dan harus melalui uji terbang lagi sebelum statusnya menjadi operasional kembali. Dengan kata lain, banyak dari pekerjaan ini yang tidak dapat dihentikan secara tiba-tiba atau dikerjakan dengan cepat agar pesawat dapat terbang dalam hitungan 1-2 hari. Bahkan kenyataannya, selalu ada pesawat yang masa perbaikannya diluar jadwal.

Airmen F-22 Raptor
Airman Service F-22 Raptor (USAF)

Disassembling mesin F-22 Raptor
Penggantian mesin F119 pada F-22 Raptor (USAF)

Jadi tidak jarang bagi suatu pangkalan angkatan udara memiliki setidaknya beberapa unit pesawat yang tidak mampu terbang karena perawatan rutin, belum lagi kalau ada masalah tak terduga. Angka itu bisa tumbuh lebih banyak berdasarkan jenis, usia pesawat, dan status kesiapan umum komunitas pesawat secara keseluruhan. Dibanding armada jet-jet tempur AS lainnya, armada F-22 memiliki kesiapan terendah. Ada sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap hal ini, termasuk karena masa produksinya yang singkat.

Jadi para komandan di Tyndall AFB tidak bisa dengan mudah memerintahkan bawahannya agar menerbangkan seluruh (55 unit) F-22 sebelum badai..

Ada yang lebih dipedulikan komandan daripada jet mereka? Ya, hidup para anak buahnya. Kepala kru, teknisi pesawat, pilot, akuntan, orang-orang operasi, dan seluruh orang yang membentuk skuadron harus dilindungi.

Pada titik tertentu, mereka ini juga harus bergegas ke tempat aman dan berkumpul dengan keluarganya. Perlu diketahui bahwa 100 persen perumahan dan infrastruktur di Tyndall untuk mendukung kehidupan sehari-hari dihancurkan oleh badai Michael. Semuanya hilang, namun tidak ada yang meninggal.

F-22 Raptor

F-22 Raptor di Tyndall AFB sebelum badai
Suasana F-22 Raptor di dalam hanggar di Tyndall AFB sebelum badai Michael (USAF)

Ada pula yang berpendapat kenapa tidak memasukkannya ke pesawat C5 atau membawanya dengan truk? Pesawat-pesawat ini bukanlah lego yang dapat dengan mudah dipisah degan cepat dan dimasukkan ke C-5. Untuk melepas sayap F-22 sudah merupakan pekerjaan besar yang tidak selesai dalam waktu singkat. Menaruhnya ke truk besar? Raptor itu besar, lebarnya 13,5m dan panjangnya 19m.

Memang F-22 adalah pesawat langka dan terbatas dalam USAF. Kerugian, atau bahkan kerusakan pada Raptor adalah peristiwa penting yang memiliki dampak nyata pada kekuatan F-22 total. Tidak hanya Raptor, juga ada kerugian besar pada T-38A Talon dan Mu-2, belum lagi QF-16, karena badai Michael. Ketika datang ke QF-16, USAF telah menghabiskan jutaan dolar pada airframenya untuk mengubahnya menjadi full-scale aerial target (FSAT) seperti saat ini. Pesawat ini dapat terbang dengan atau tanpa pilot di kokpit setelah menjalani konversi itu, sehingga kehilangan sejumlah dari mereka bukanlah hal sepele dan airframenya sangat diperlukan untuk pengujian dan pengembangan senjata kritis.

Fakta yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa pesawat tempur modern berbeda dengan Boeing 737. Pesawat-pesawat tempur modern adalah barang yang rewel, butuh pemeliharaan intensif, dan seringkali lebih banyak menghabiskan waktu di darat karena perawatan atau rusak ketimbang di udara. (fr)

Monday, October 15, 2018

Kecelakaan Aneh: F-16 Belgia Hancur Total Ditembak F-16 Lainnya

Kecelakaan F-16 Belgia Hancur Total

Kecelakaan aneh ini bukan terjadi di udara, tapi saat kedua F-16 berada di darat. Ini merupakan kejadian kecelakaan pelepasan senjata kedua di Eropa tahun ini.

Sebuah F-16 Angkatan Udara Belgia (BAF) hancur dan F-16 lainnya rusak ketika kanon M61A1 Vulcan 20mm milik F-16 lainnya secara tidak sengaja ditembakkan oleh personel perawatan di Pangkalan Udara Florennes di daerah Walloon di Belgia Selatan pada hari Jumat, 12 Oktober 2018.

Beberapa laporan menyebutkan bahwa teknisi yang bekerja pada F-16 yang diparkir itu secara tidak sengaja menembakkan kanon enam laras Vulcan 20mm dari jarak dekat ke dua F-16 yang tengah parkir. Foto-foto menunjukkan satu F-16 hancur total di darat. Dua personel pemeliharaan dilaporkan terluka dan dirawat.

Kecelakaan F-16 Belgia Hancur Total

Kecelakaan F-16 Belgia Hancur Total

Kecelakaan F-16 Belgia Hancur Total

Di sebuah hanggar, diposisikan pada perpanjangan jalur penerbangan, seorang teknisi sedang mengerjakan sebuah F-16. Dikatakan bahwa teknisi itu secara tidak sengaja mengaktifkan kanon enam laras 20mm Vulcan M61A-1 milik F-16 yang dikerjakannya. Rupanya, kanon itu memuat amunisi dan beberapa amunisi menghantam F-16 lainnya yang bernomor registrasi FA128. FA128 itu baru saja diisi bahan bakar dan disiapkan untuk terbang sortie bersama F-16 lainnya. Terkena dampak peluru 20mm, FA128 meledak seketika dan ledakannya merusak F-16 lainnya.

Pangkalan udara di Florennes adalah rumah bagi Belgian 2nd Tactical Wing yang terdiri dari 1st ‘Stingers’ Squadron and the 350th Squadron.

Sebuah laporan di F-16.net mengatakan bahwa, “F-16 (# FA-128) hancur total sementara F-16 kedua mengalami kerusakan akibat ledakan. Dua personel terluka dan dirawat di tempat kejadian. Cedera yang diderita sebagian besar disebabkan oleh ledakan. ”

Laporan berita yang diterbitkan Jumat malam lalu mengatakan, “F-16 diparkir di dekat hanggar ketika secara tidak sengaja ditembak oleh F-16 lain yang menjalani perawatan darat rutin. Beberapa detonasi terdengar dan asap hitam tebal terlihat bermil-mil di sekitarnya. Petugas pemadam kebakaran sipil bahkan telah dipanggil untuk membantu petugas pemadam kebakaran di pangkalan udara untuk mengatasi insiden itu. Sekitar tiga puluh orang dikerahkan di lokasi dan beberapa ambulans diberangkatkan. Direktorat Keselamatan Penerbangan (ASD) saat ini sedang menyelidiki penyebab pasti. "

Kecelakaan F-16 Belgia Hancur Total

Kecelakaan F-16 Belgia Hancur Total

Kecelakaan itu cukup aneh: tidak jelas mengapa teknisi itu bekerja pada F-16 bersenjata yang dekat dengan jalur penerbangan. Bahkan jenis pemeriksaan atau pekerjaan tidak pernah diungkapkan. Yang pasti itu adalah pekerjaan yang telah mengaktifkan kanon meskipun pesawat berada di darat: penggunaan senjata onboard (termasuk kanon) biasanya diblokir oleh saklar yang aman ketika peralatan pesawat turun dengan tujuan mencegah kecelakaan serupa.

Ini adalah kali kedua di tahun ini, pelepasan senjata pesawat secara tak sengaja juga terjadi di Eropa. Pada 7 Agustus 2018, Eurofighter Typhoon Angkatan Udara Spanyol secara tidak sengaja meluncurkan rudal AIM-120 Advanced Medium Range Air to Air Missile (AMRAAM) saat menjalankan misi pemolisian udara di dekat Otepää di Valga County, Estonia selatan. Insiden itu terjadi hanya 50km dari perbatasan Rusia.

Sebuah laporan sepuluh hari pasca insiden itu mengatakan pencarian senjata yang hilang itu dibatalkan. Rudal itu tidak pernah ditemukan. "Semua poin dampak teoritis dari rudal kini telah dicari secara hati-hati," kata Panglima Angkatan Udara Estonia Kolonel Riivo Valge dalam siaran pers EDF.

Selama dua minggu terakhir, kami mempekerjakan tiga helikopter, lima patroli darat, dan lima puluh unit personel yang kuat untuk melakukan pencarian di lapangan. Kami juga mendapat bantuan dari Rescue Board (Päästeamet) Explosive Ordnance Disposal Centre dan menggunakan drone Angkatan Udara dalam pencarian,” tambah Col. Valge.

"Meskipun pendekatan sistematis kami dan tindakan lokasi rudal yang terkena dampak belum diidentifikasi dan semua lokasi kemungkinan telah dikesampingkan seperti yang sekarang," Kolonel Valge menyimpulkan dalam rilis media 17 Agustus 2018 sepuluh hari setelah rudal itu secara tidak sengaja ditembakkan.

Karena protokol keamanan senjata ketat, terutama dengan amunisi seperti itu, berada di tempat selama penanganan darat, sangat jarang bagi personel perawatan untuk secara tidak sengaja melepaskan senjata pesawat.

Resources
  • Gambar 1: BAF via Scramble.nl
  • Gambar 4 : f-16.net
  • Gambar 2,3.5 & 6 :  Twitter (Tony Delvita)

Sunday, October 14, 2018

Foto: Kerusakan Parah Pangkalan Udara Tyndall AS Akibat Badai

Pangkalan Angkatan Udara Tyndall (Tyndall AFB) Amerika Serikat (AS) mengalami kerusakan dahsyat ketika Badai Michael menerpa Florida Panhandle Jumat lalu.

Dilaporkan, pesawat tempur F-22 yang berada di dalam hanggar mengalami kerusakan akibat tertimpa runtuhan bangunan hanggar.

Berikut foto-foto kerusakan parah di Tyndall AFB:

Pangkalan Udara Tyndall rusak akibat badai
Foto sebuah F-22 Raptor berada di dalam hanggar di Tyndall AFB yang rusak akibat badai (Reuters).

Pangkalan Udara Tyndall rusak akibat badai
Hanggar pesawat yang rusak oleh badai (Reuters).

Pangkalan Udara Tyndall rusak akibat badai
Hanggar lainnya yang rusak parah. Foto diambil dari helikopter oleh grup pengejar badai yang disebut WXChasing (WXChasing).

Pangkalan Udara Tyndall rusak akibat badai
Di dalam hanggar tampak dua QF-16, yang merupakan pensiunan F-16 yang membantu melatih para pilot (WXChasing).

Pangkalan Udara Tyndall rusak akibat badai
Ada juga di dalam hanggar yang tampaknya adalah dua Mitsubishi MU-2, yang merupakan pesawat turboprop (WXChasing).

Pangkalan Udara Tyndall rusak akibat badai
Dan membalikkan trailer-trailer (WXChasing)

Pangkalan Udara Tyndall rusak akibat badai
Badai itu juga merusak beberapa bangunan lain di pangkalan itu (WXChasing)

Pangkalan Udara Tyndall rusak akibat badai
Beberapa pesawat lama yang menjadi "pajangan" juga rusak (WXChasing)

Pangkalan Udara Tyndall rusak akibat badai
Termasuk F-15 Eagle, yang tampak nyata sudah terbalik.

Tyndall AFB adalah rumah bagi 325th Fighter Wing ke-325, yang misi utamanya adalah untuk pelatihan pilot dan personel pemeliharaan.

Pesawat Tempur F-22 Raptor AS Rusak Akibat Badai

Pangkalan Udara Tyndall rusak akibat badai
Foto sebuah F-22 Raptor berada di dalam hanggar di Tyndall AFB yang rusak akibat badai (Reuters)

Pangkalan Angkatan Udara Tyndall (Tyndall AFB) Amerika Serikat (AS) mengalami kerusakan dahsyat ketika Badai Michael menerpa Florida Panhandle Jumat lalu, merobek atap hanggar pesawat, akibatnya F-22 Raptor mengalami kerusakan.

Sementara sebagian besar pesawat di Tyndall AFB sudah dievakuasi dari pangkalan sebelum badai, beberapa pesawat tetap berada di hanggar pangkalan untuk alasan pemeliharaan atau keselamatan, kata Erica Vega, Air Force’s Air Combat Command. Sejauh mana kerusakan pada pesawat-pesawat di Tyndall AFB masih belum diungkapkan, tetapi semua hanggar mengalami kerusakan parah.

Di antara pesawat-pesawat ini, ada satu unit F-22 Raptor yang dilaporkan mengalami kerusakan pada sayap akibat tertimpa material rangka.

Sumber lokal melaporkan bahwa F-22 Raptor itu tidak mengalami rusak arah dan setelah perbaikan akan dapat kembali beroperasi. Sumber menambahkan bahwa jumlah Raptor yang tetap berada di Tyndall AFB selama badai ada empat unit, tetapi sumber itu tidak tahu berapa total pesawat yang ada disana.

Tapi di laman Air Force Forum, disebutkan ada tiga Raptor yang berada di satu hanggar yang mengalami kerusakan signifikan, dan Raptor yang keempat berada di hanggar terpisah yang hanya mengalami sedikit kerusakan. Angkatan Udara AS sendiri tidak mengonfirmasi kerusakan F-22 dalam badai itu.

Tyndall AFB adalah rumah bagi 325th Fighter Wing ke-325, yang misi utamanya adalah untuk pelatihan pilot dan personel pemeliharaan F-22 Raptor.

Tyndall juga menjadi rumah bagi sejumlah drone QF-4 dan QF-16. Pada 8 Oktober, beberapa hari sebelum badai, pangkalan itu memerintahkan evakuasi pesawat ke Wright-Patterson AFB, Ohio, dan Fort Worth Alliance Airport, Texas.

Hingga dilaporkan, pangkalan itu tetap tertutup karena pepohonan dan jaringan listrik yang tumbang memblokir hampir setiap jalan. Angkatan darat AS menyimpulkan bahwa pangkalan akan memerlukan pembersihan dan perbaikan yang luas.

Suasana hanggar F-22 Raptor di Tyndall AFB sebelum badai (Foto: USAF)

Tapi, 24th Special Operations Wing Public Affairs melaporkan bahwa Air Force Special Tactics Airmen bersama 23rd Special Tactics Squadron telah menilai kerusakan, membuka dan mengendalikan lalu lintas udara di Tyndall AFB.

Special Tactics Airmen memiliki kemampuan untuk menilai, membuka, dan mengendalikan lapangan udara utama dan menyiapkan lajur penerbangan di lingkungan apa pun, termasuk yang telah terdampak bencana alam.

Dilaporkan bahwa Special Tactics Airmen telah membersihkan dan mendirikan landasan pacu pada Jumat malam, dan menerima pesawat pertama pada jam 7:06 malam. (fr)

Awak Helikopter Mi-24 Ukraina Menembak Jatuh UAV Rusia

UAV Orlan-10 Rusia

Pada 13 Oktober, awak helikopter serang Mi-24 Ukraina menembak jatuh kendaraan udara tak berawak (UAV) Orlan-10 buatan Rusia di sepanjang rute Lysychansk-Severodonetsk di timur Ukraina, Joint Forces Operation (JFO) melaporkan.

Menurut JFO, UAV buatan Rusia itu melakukan manuver, melakukan penerbangan pengintaian di sepanjang rute Lysychansk-Severodonetsk.

"Komandan JFO Letnan Jenderal Serhiy Nayev membuat keputusan untuk menghancurkan target dengan menarik helikopter Mi-24 dari fire support operations," kata JFO.

UAV ditembak jatuh pada pukul 09:58 waktu setempat dekat pemukiman Borovske (wilayah Luhansk). Sub-unit pasukan darat JFO menemukan fragmennya dan mengidentifikasinya.

UAV yang jatuh itu diidentifikasi sebagai kendaraan udara tak berawak (UAV) Orlan-10 yang dikembangkan oleh industri Rusia, yang beroperasi dengan Angkatan Bersenjata Federasi Rusia.

UAV Orlan-10 Rusia

UAV Orlan-10 Rusia

Orlan-10 adalah UAV jangkauan menengah, multiguna yang dikembangkan oleh perusahaan Rusia Special Technology Center LLC di St Petersburg. UAV ini dioperasikan oleh Kementerian Pertahanan Federasi Rusia.

Orlan10 digunakan untuk berbagai misi seperti pengintaian, observasi, pemantauan, pencarian dan penyelamatan (SAR), pelatihan tempur, jamming, deteksi sinyal radio, dan pelacakan target.

Sistem Orlan-10 terdiri dari dua hingga empat UAV dan pelontar ketapel. Setiap UAV masing-masing memiliki berat take-off maksimum 18 kg, rentang sayap 3,1 m, dan mampu membawa muatan 3 kg. Didukung oleh mesin piston, Orlan-10 memiliki daya tahan terbang hingga 10 jam, jarak terbang maksimum 300 km, dan terbang dengan kecepatan 70-150 km / jam pada ketinggian hingga 5.000 m.

Menurut airforce-technology.com, produksi Orlan-10 dimulai pada tahun 2010. Unit UAV dari pangkalan militer Rusia yang berlokasi di Armenia menerima UAV Orlan-10 pada Oktober 2015, untuk melakukan pengintaian udara di daerah pegunungan tinggi. (fr)