Friday, November 16, 2018

Rusia Kembangkan Roket Luar Angkasa Bertenaga Nuklir

Soyuz MS-10
Roket luar angkasa Soyuz MS-10, Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan

Rusia sedang membangun sebuah roket luar angkasa dengan terobosan terbaru. Roket yang sedang dibuat ini bertenaga nuklir dan diklaim mampu pergi ke Mars dan lokasi lain yang lebih jauh.

Vladimir Koshlakov, kepala Keldysh Research Center di Rusia, mengatakan kepada media lokal Rossiyskaya Gazeta bahwa roket itu bisa melakukan perjalanan pulang ke Bumi 48 jam setelah mendarat di Mars.

Newsweek melansir bahwa pembuatan roket ini sudah dilakukan sejak 2009. Uniknya, Koshlakov mengatakan bahwa roket ini memiliki sistem pendorong yang unik, mirip dengan yang ada di film fiksi ilmiah.

"Misi ke Mars sangat mungkin dilakukan dalam jangka waktu yang dekat, tapi tujuan mesin kami bukan hanya itu. Mesin kami bisa jadi landasan dari dilakukannya misi luar angkasa jarak jauh yang sekarang mungkin terlihat seperti di cerita fiksi ilmiah," kata Koshlakov.

Meski terdengar menjanjikan, Koshlakov tidak menjelaskan kapan roket buatannya ini akan siap digunakan.

Koshlakov menjelaskan bahwa roketnya harus memiliki mesin yang tidak harus terus menerus menjalani servis atau dibetulkan lebih dari sekali setiap 10 kali terbang. Ia juga menambahkan bahwa roket ini akan bisa sampai di tempat tujuannya jauh lebih cepat dibanding roket lainnya.

Soyuz MS-10
Roket luar angkasa Soyuz MS-10, Baikonur Cosmodrome, Kazakhstan

Koshlakov mengklaim bahwa mesin roket buatan mereka bisa membawa roket sampai Bulan dalam beberapa hari dan Mars dalam tujuh hingga delapan bulan.

"Sistem yang kami kembangkan cukup menjanjikan untuk penerbangan antar orbit dan antar planet," kata Koshlakov.

Cara kerja mesin

"Ini adalah sebuah reaktor nuklir yang menghangatkan 'working fluid'. 'Working fluid' yang sudah dihangatkan kemudian akan memasuki turbin, dan di tempat yang sama akan ada generator listrik," kata dia.

"Dengan merotasikan turbin, kita bisa mendapatkan aliran listrik, yang penting bagi operasi pesawat luar angkasa secara umum dan mesin plasma listrik. Tenaga dari mesin elektroplasma menjadi kekuatan pendorong bagi pesawat luar angkasa," tambah Koshlakov.

Lebih baik dari SpaceX

Peluncuran Roket Falcon Heavy milik SpaceX
Peluncuran Roket Falcon Heavy milik SpaceX

Menurut Koshlakov, pesaing utama mereka adalah Amerika Serikat. Ia menambahkan bahwa sekarang Elon Musk dan SpaceX menggunakan teknologi tua yang bukan merupakan masa depan dari perjalanan luar angkasa.

"Dia (Musk) membuat roketnya sendiri berdasarkan pada mesin tua dan bekas. Ia bersikap layaknya seorang pedagang: ia mengambil mesin yang sudah siap, ia uji solusinya dan sukses mengaplikasikannya," imbuh Koshlakov.

Resources
  • Kumparan via MSN

HUT Korps Marinir ke-73: Parade Hingga Serangan Kilat

Tanggal 15 November 1945 ditetapkan sebagai hari jadi atau Hari Ulang Tahun (HUT) Koprs Marinir Tentara Negara Indonesia (TNI) Angkatan Laut.

Korps Marinir merupakan satu dari beberapa komando utama (Kotama) TNI Angkatan Laut.

Dalam struktur organisasi TNI AL, Korps Marinir sejajar dengan Kotama lain seperti (Koarmada I, Koarmada II, Koarmada III, Kolinlamil, Kodiklatal, Seskoal dan AAL).

HUT Korps Marinir ke-73
Kendaraan tempur Korps Marinir melakukan defile pada upacara HUT ke-73 Korps Marinir di Bumi Marinir Karangpilang, Surabaya, Kamis, 15 November 2018. Ratusan prajurit Korps Marinir mengikuti upacara peringatan hari ulang tahun ke-73 Korps Marinir. ANTARA/Zabur Karuru

HUT Korps Marinir ke-73
Prajurit Korps Marinir melakukan serangan saat demo serangan kilat pada upacara HUT ke-73 Korps Marinir di Bumi Marinir Karangpilang, Surabaya, Kamis, 15 November 2018.  Dalam kesempatan itu KSAL Laksamana TNI Siwi Sukma Adji dinobatkan sebagai warga kehormatan Korps Marinir melalui proses pembaretan. ANTARA/Zabur Karuru/aww.

HUT Korps Marinir ke-73
Sejumlah tank melakukan serangan saat demo serangan kilat pada upacara HUT ke-73 Korps Marinir di Bumi Marinir Karangpilang, Surabaya, Kamis, 15 November 2018. ANTARA/Zabur Karuru

HUT Korps Marinir ke-73
Prajurit Korps Marinir melakukan serangan  saat demo serangan kilat pada upacara HUT ke-73 Korps Marinir di Bumi Marinir Karangpilang, Surabaya, Kamis, 15 November 2018. ANTARA/Zabur Karuru

HUT Korps Marinir ke-73
Sejumlah kendaraan tempur Korps Marinir melakukan defile pada upacara HUT ke-73 Korps Marinir di Bumi Marinir Karangpilang, Surabaya, Kamis, 15 November 2018. ANTARA/Zabur Karuru

HUT Korps Marinir ke-73
KSAL Laksamana TNI Siwi Sukma Adji (tengah) bersama  Komandan Korps Marinir TNI AL Mayjen TNI (Mar) Bambang Suswantono (kiri) berada di atas tank ketika mengikuti upacara HUT ke-73 Korps Marinir di Bumi Marinir Karangpilang, Surabaya, Kamis, 15 November 2018. ANTARA/Zabur Karuru

AS Akan Kalah Jika Perang Melawan Rusia dan China

AS VS Rusia dan China

Sebuah laporan menyatakan militer Amerika Serikat (AS) berisiko menderita kekalahan jika berkonflik dengan Rusia maupun China.

Laporan tersebut dikeluarkan Komisi Strategi Pertahanan Nasional yang dibentuk Kongres AS untuk memberi pandangan secara netral.

Dilaporkan BBC Kamis (15/11/2018), komisi itu diketuai Eric Edelman, mantan pejabat Pentagon di era Presiden George W Bush.

Dalam laporan tersebut, kekuatan militer AS yang dominan dalam beberapa generasi terakhir mulai tergerus dan harus dicarikan solusinya.

"Keunggulan militer Amerika telah terkikis dalam tingkat yang sangat berbahaya. Tantangan yang harus ditangani jika tidak ingin keamanan nasional jadi taruhannya," demikian bunyi laporan itu.

Peringatan kepada pemerintahan Presiden Donald Trump itu muncul setelah anggaran pertahanan terancam dipangkas pada tahun fiskal 2018 dan 2019.

Terjunnya AS ke konflik Timur Tengah seperti Irak dan Afghanistan memberikan imbas negatif karena pasukan hampir tak menemui tantangan berarti.

Selain mereka tak menerima ancaman dari udara, militer AS di sana juga tidak mendapat permasalahan di bidang komunikasi seperti penggunaan GPS.

Di sisi lain, China dan Rusia telah mempelajari militer AS dan melakukan peremajaan terhadap angkatan bersenjata mereka.

Mereka memodernisasi militer berbasis dengan kekuatan tradisional mereka, sekaligus mulai menangkal AS di tempat yang mereka kuasai.

Salah satu contoh adalah intervensi yang dilakukan Rusia di Ukraina menunjukkan kekuatan penghancur dari artileri Moskwa.

Ditunjang dengan peralatan yang canggih, mereka membuat tentara Ukraina tak berdaya sambil terus menyembunyikan kekuatan mereka.

Laporan itu memberikan apresiasi kepada pemerintahan Trump yang mulai memfokuskan diri terhadap Negeri "Panda" dan Rusia.

Namun dikutip CNN, komite mengkritisi strategi dari pemerintah tak dibarengi penjelasan gol apa yang ingin dicapai militer.

Strategi Pertahanan Nasional Trump terlalu terpaku pada asumsi dan kurang analisis yang berimbas kepada pertanyaan kritis tak terjawab bagaimana AS menghadapi tantangan.

Resources
  • Tempo

Rusia Mulai Uji Kostum Anti Gravitasi Pilot Su-57

Su-57

MOSKOW - Rusia dilaporkan mulai melakukan uji coba kostum anti gravitasi kepada pilot-pilotnya yang akan berada di balik kokpit jet tempur generasi kelima Su-57.

Baju anti gravitasi dianggap cocok untuk digunakan oleh pilot jet tempur Su-57.

“Kostum anti-gravitasi untuk Su-57 telah melalui banyak tahapan uji pabrik, dan sekarang mereka berada di tahap akhir - tahap uji penerbangan negara. Pilot uji coba sudah terbang menggunakan peralatan ini,” ujar sebuah sumber di industri pertahanan seperti dikutip dari Sputnik, Jumat (16/11/2018).

Dia menambahkan bahwa pakaian itu akan masuk ke tahap produksi massal segera setelah tes selesai. Namun sumber itu tidak menyebutkan tanggal untuk penyelesaiannya.

Kostum anti gravitasi, kadang-kadang disebut sebagai g-suit, adalah pakaian terbang yang dikenakan oleh pilot pada tingkat kekuatan akselerasi tinggi.

Kostum ini dirancang untuk mencegah hilangnya kesadaran yang disebabkan oleh penyatuan darah di bagian bawah tubuh saat berada di bawah kecepatan tinggi.

Pembuatan jet tempur Su-57, jet generasi kelima dengan teknologi siluman, dimulai pada awal tahun 2001 dan direncanakan akan digunakan pada 2019, sementara model dengan mesin canggih dijadwalkan tiba pada tahun 2025. Angkatan Udara Rusia berencana untuk mengakuisisi batch pertama dari 12 jet canggih itu di 2019.

Resources
  • Sindonews



13 Negara Lebih Minati S-400 Ketimbang Sistem Rudal AS

S-400

WASHINGTON - Setidaknya 13 negara telah menyatakan minatnya untuk membeli sistem rudal pertahanan udara S-400 Triumph Rusia daripada sistem pertahanan udara buatan perusahaan-perusahaan pertahanan Amerika Serikat (AS). Data ini berasal dari intelijen Amerika Serikat yang diungkap CNBC, hari Kamis.

Salah satu sumber yang mengetahui data intelijen tersebut mengatakan Arab Saudi, Qatar, Aljazair, Maroko, Mesir, Vietnam, dan Irak berada di antara negara-negara yang telah membahas rencana pembelian sistem pertahanan rudal S-400 Rusia.

Data 13 negara itu tak dirilis secara detail. Namun, selain ketujuh negara yang telah disebutkan tersebut, tiga negara lain sudah membeli senjata pertahanan termutakhir Moskow itu. Ketiga negara itu adalah China—sudah dikirim—, Turki, dan India yang keduanya masih dalam tahap pengiriman.

Washington tak tinggal diam untuk mengganggu penjualan senjata pertahanan Moskow. Negeri Paman Sam ini sudah melakukan tekanan diplomatik dan memberlakukan sanksi di bawah Countering America's Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA) terhadap negara-negara yang membeli persenjataan Rusia.

China telah terkena sanksi AS karena membeli S-400 dan jet tempur Su-35. Meski dihantui ancaman sanksi Washington, belasan negara itu tetap berambisi untuk membeli sistem pertahanan rudal S-400.

Pesaing S-400 Rusia dari AS adalah sistem pertahanan rudal Patriot dan sistem pertahanan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). Keduanya produksi Raytheon dan Lockheed Martin AS.

Pentagon dan Gedung Putih belum bersedia memberikan komentar atas laporan tersebut.

Ditanya mengapa belasan negara berusaha membeli S-400 daripada sistem Patriot atau THAAD Amerika, sumber yang tahu laporan intelijen menjelaskan bahwa militer asing tidak mau mengikuti proses rumit dalam membeli senjata dari AS.

"Banyak dari negara-negara ini tidak ingin menunggu hambatan peraturan AS," katanya.

"S-400 memiliki lebih sedikit pembatasan ekspor dan Kremlin bersedia untuk mempercepat penjualan dengan melewati rintangan peraturan. Ini seperti membelinya dari rak," ujar sumber itu.

Selain itu, meski tidak jelas berapa banyak negara akan membayar untuk kedua sistem rudal Amerika tersebut, senjata Rusia umumnya dianggap lebih murah dan tanpa dukungan perawatan yang banyak.

Sumber kedua yang berbicara dengan CNBC mengatakan bahwa Moskow biasanya dapat memberikan sistem pertahanan itu dalam waktu dua tahun setelah penandatanganan kontrak. Jadwal yang cepat seperti itu tidak mungkin dipenuhi oleh AS.

Sistem S-400—penerus sistem rudal S-300—memulai debutnya di panggung dunia pada tahun 2007. Dibandingkan dengan sistem pertahanan AS, S-400 Rusia mampu melibatkan lebih banyak target, dengan jangkauan yang lebih jauh dan melawan berbagai ancaman secara simultan (bersamaan).

Dalam hal kemampuan, lanjut sumber itu, belum ada senjata yang sempurna yang menandingi kemampuan S-400 Rusia.

"Tidak ada sistem AS lain yang dapat menandingi kemampuan S-400 untuk melindungi sebagian besar wilayah udara dalam jarak yang begitu jauh," kata sumber itu, yang tidak berwenang untuk berbicara secara terbuka kepada media.

S-400 dapat menargetkan target di ketinggian yang sangat tinggi seperti pesawat pembom siluman, pesawat jet tempur, rudal jelajah, amunisi presisi, dan beberapa rudal balistik taktis.

Sumber itu mengatakan, sistem buatan Rusia ini juga mampu bertahan melawan serangan pesawat tak berawak, seperti yang digunakan oleh pemberontak Houthi untuk menghancurkan sebuah baterai sistem rudal Patriot yang digunakan militer Uni Emirat Arab (UEA) pada bulan Februari.

"Ini adalah aspek geopolitik dari penawaran S-400 yang paling menarik," kata Thomas Karako, direktur Proyek Pertahanan Rudal di Center for Strategic and International Studies.

Karako menekankan bahwa meskipun diminati banyak negara, S-400 belum terlihat perannya dalam pertempuran nyata. Sedangkan sistem pertahanan rudal Patriot Amerika sudah dipraktikkan oleh Arab Saudi dan koalisi Arab-nya dalam melawan serangan rudal Houthi Yaman.

"Rusia tampaknya menggunakan penjualan pertahanan udara dalam kerangka politik dan ekonomi yang jauh lebih besar," kata Karako. "Dalam beberapa kasus, pembelian S-400 terlihat sedikit seperti apa yang orang-orang Romawi kuno sebut sebagai upeti."

Resources
  • https://international.sindonews.com/read/1355131/42/13-negara-tertarik-beli-s-400-rusia-daripada-sistem-rudal-as-1542308484/15


Korea Utara Uji Coba Senjata Berteknologi Tinggi Baru

Kim Jong-un
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, saat melakukan inspeksi ke detasemen pertahanan Jangjae Islet dan detasemen Hero Defence di Mu Islet, 5 Mei 2017. KCNA/ via REUTERS

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dilaporkan meninjau uji coba senjata teknologi tinggi yang baru dikembangkan.

Media Korea Utara mengatakan bahwa senjata itu bukan rudal strategis tetapi laporan tersebut menandai pertama kalinya selama satu tahun terakhir, Kim Jong Un kembali meninjau tes senjata, seperti dilaporkan dari KBS Radio, 16 November 2018.

Ketika Washington dan Pyongyang gagal mencapai kemajuan dalam negosiasi denuklirisasi, media Korea Utara mengatakan Kim Jong Un menghadiri pengujian senjata yang mereka sebut sebagai senjata taktis berteknologi tinggi yang baru.

Kim Jong-un
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, mengawasi peluncuran roket balistik dari unit artileri Hwasong Angkatan Strategis KPA dalam foto yang dirilis di Pyongyang, 7 Maret 2017. Foto ini dirilis oleh kantor berita Korut Korean Central News Agency. REUTERS/KCNA

Kantor Berita Korea Utara dan media pemerintah lainnya mengatakan pada Jumat bahwa Kim jong Un mengunjungi situs uji coba senjata di lembaga pertahanan nasional.

"Pameran lain dari kemampuan pertahanan yang tumbuh dengan cepat ke seluruh wilayah," kata laporan media tersebut, namun tidak menyebut secara spesifik jenis senjata yang diuji coba, waktu dan rincian lain dari uji coba.

Media Korea Utara menyebut Kim Jong-un memimpin dan mengawasi langsung dalam pengembangan sistem senjata.

Para pejabat intelijen Korea Selatan mengatakan Kim Jong Un kemungkinan meninjau peluncur roket baru, namun intelijen masih berupaya mengidentifikasi senjata.

Roket taktis Korea Utara pada umumnya merupakan ancaman bagi bagian Korea Selatan.

Rudal Hwasong-15
Rudal Hwasong-15 Korea Utara yang diklaim menjangkau daratan Amerika. Kredit: Military Today

Ini menandai pertama kalinya Kim Jong Un menghadiri pengujian senjata di tempat ditempat yang sama saat ia menghadiri uji coba rudal balistik antar benua "Hwasong-15" pada November tahun lalu.

Pengamat meyakini Korea Utara siap untuk kembali ke hubungan militeristik dengan Amerika Serikat jika pembicaraan terus berjalan buruk.

"Korea Utara kembali ke arah yang lebih agresif dalam negosiasi dengan AS dan memberi isyarat bahwa Kim Jong Un tidak akan menyerah dan hanya dapat kembali ke praktek lamanya jika (AS) tidak mengubah pendekatan mereka," kata Josh Pollack dari asosiasi peneliti senior di Middlebury Institute of International Studies di Monterrey, mengatakan kepada CNN.

Resources
  • Tempo

Wednesday, November 14, 2018

Inilah 6 Fakta Menarik Senapan Serbu AK-47

Mikhail Kalashnikov menunjukkan sebuah model senapan serbu AK-47 di rumahnya pada tahun 1997 (Foto: AP)

Perang Dingin membawa pengaruh ke berbagai belahan dunia. Sejumlah negara khawatir jika teknologi nuklir digunakan dalam peperangan dan berdampak negatif terhadap mereka.

Sebenarnya, Perang Dingin tak melibatkan Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam perang langsung. Namun, kedua negara yang bersitegang memiliki senjata nuklir yang dapat menyebabkan kehancuran besar.

Di sisi lain, pengembangan senjata api non-nuklir juga tetap dilakukan. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi pecahnya perang darat. 

Saat itu juga, senapan serbu fenomenal lahir dari tangan mantan komandan perang, yaitu Mikhail Timofeyevich Kalashnikov.

Senapan serbu yang dikenal dengan nama " AK-47" ini memiliki desain yang simpel dan akhirnya banyak digunakan sipil maupun militer di belahan dunia.

Berikut beberapa fakta menarik mengenai penemuan AK-47:

1. Ditemukan prajurit yang terluka

Mikhail Kalashnikov lahir di sebuah keluarga petani di Rusia selatan pada 1919. Sebagai seorang anak laki-laki, ia ingin menjadi seorang penyair, tetapi seperti kebanyakan orang di Uni Soviet, ia pun menjadi tentara.

Kalashnikov naik pangkat untuk menjadi komandan tank sampai dia terluka saat melawan Nazi Jerman di Pertempuran Bryansk pada 1941. Dia mengambil cuti enam bulan. Pada masa cuti itulah dia mendapatkan pemikiran soal versi pertama AK-47.

Atasan Kalashnikov yang melihat bakatnya mendorong karyanya. Pada 1945, rancangan Kalashnikov sudah dibuatkan prototipe untuk kompetisi. Desain itu kemudian direkomendasikan untuk tentara Rusia merupakan rancangan versi 1947.

Setahun kemudian, Kalashnikov ditugaskan ke pabrik senjata Izmash di Izhevsk, pabrik yang sudah dikenal sejak masa kekaisaran. Dia ditugaskan di bagian produksi senjata.

2. Nama AK-47

Senjata ini dinamakan "AK-47" yang merupakan akronim dari "Avtomat Kalashnikova". Nama ini merujuk pada Kalashnikov, yang merupakan desainer senjata api itu.

Sedangkan 47 merujuk tahun 1947, saat kantor teknis di Kovrov, sebuah kota di sebelah timur Moskow, menyelesaikan prototipe senjata ini.

Senapan ini mempunyai ukuran kecil dengan jangkauan yang pendek. Peluru yang digunakan adalah kaliber 7,62 x 39 mm.

Banyak anggapan bahwa senapan ini hampir mirip dengan senapan StG44 buatan Jerman. Namun, Kalashnikov menampiknya.

3. Penemu AK-47 tak dapat untung

Meski terdapat lebih dari 100 juta senapan serbu AK-47 yang beredar di seluruh dunia ini tidak membuat Mikhail Kalashnikov jadi orang kaya.

Fakta ini jauh seperti yang didapatkan Eugene Stoner, penemu senapan serbu M16 Amerika, yang menjadi kaya.

Negara-negara komunis tidak memiliki hak paten. Hingga keruntuhan Uni Soviet pada 1991, Kalashnikov hanyalah seorang karyawan negara di Uni Soviet.

"Karier saya telah didedikasikan untuk negara saya," ucap Kalashnikov.

Meski Soviet memberikan gelar pahlawan, pada 1932, Kalashnikov dan keluarga pernah mendapat kecaman dari polisi khusus di era Joseph Stalin dan diasingkan ke Siberia.

4. Banyak digunakan di seluruh dunia

Karena mudah diproduksi, banyak negara yang mengembangkan senjata AK-47 setelah mendapatkan lisensi pembuatan.

AK-48 menjadi dasar berbagai senjata derivatif seperti Finlandia Rk 62, Galil Israel, dan China Norinco Tipe 86S.

Pada periode 1970-an, keluarga senjata AK-47 tetap digunakan militer secara luas dengan negara-negara lain. Karena senjata itu mudah dipelajari, dioperasikan, dan diperbaiki, AK-47 dianggap alat yang efektif untuk tentara non-profesional dan kelompok milisi.

Selain militer profesional, AK-47 telah dimanfaatkan oleh berbagai kelompok perlawanan dan revolusioner termasuk Viet Cong, milisi Sandinista di Nikaragua, dan kelompok Taliban di Afghanistan. AK-47 juga telah dimanfaatkan oleh organisasi kejahatan dan teroris.

5. Mikhail Kalashnikov merasa berdosa

Mikhail Kalashnikov mengaku menanggung beban dosa selama hidupnya. Menjelang akhir hayatnya, Kalashnikov yang menganut Kristen Ortodoks mengaku takut berdosa atas kematian semua orang yang diakibatkan senjata ciptaannya itu.

Sebelum meninggal, dia menulis surat yang berisi penyesalannya karena telah menciptakan senjata tersebut. Ribuan nyawa melayang berkat penciptaan senjata serbu pertama tersebut.

Surat yang diketik di atas kertas surat pribadi Kalashnikov tersebut ditandatangani langsung pria yang menyebut dirinya "budak" Tuhan itu.

Sekretaris Pers Patriakh Kirill, Alexander Volkov mengatakan, Gereja Ortodoks Rusia memang telah menerima surat dari Kalashnikov itu dan sudah membalasnya secara pribadi.

Kalashnikov, yang pemakamannya dihadiri Presiden Vladimir Putin, menciptakan sebuah senapan serbu yang sederhana dan terbukti tangguh saat digunakan Tentara Merah.

Kini, AK-47 merupakan senjata serbu yang paling banyak diproduksi di dunia secara legal maupun ilegal.

6. Dijual relatif murah

Senjata Kalashnikov memang simpel. Beratnya pada awal sekitar 4,3 kilogram. Namun, kini dibuat versi dengan berat hanya 3,6 kilogram.

Itu sebabnya banyak anak-anak anggota kelompok bersenjata dengan enteng menyandang AK-47. Harga AK-47 juga relatif murah, bisa diperoleh dengan 125 dollar AS di pasar gelap.

Izhmash, produsen AK-47 di Rusia, mengaku, senjata AK-47 yang dipalsu diproduksi di Bulgaria, China, Polandia, dan AS. Aksi pemalsuan ini membuat Izhmash merugi hingga 360 juta dollar AS atau sekitar Rp 3,6 triliun per tahun.

Senapan AK-47 dikenal luas karena biaya produksinya yang rendah dan kemampuannya bertahan di kondisi ekstrem.

Resources
  • Internasional Kompas