Friday, October 19, 2018

Mengapa Su-35 Menjadi Salah Satu Pesawat yang Perlu Ditakuti AS

Su-35

Sukhoi Su-35 Flanker-E adalah jet tempur superioritas udara terbaik yang dioperasikan Rusia saat ini, dan mewakili puncak desain jet tempur generasi keempat. Su-35 akan terus seperti itu sampai Rusia mengoperasikan pesawat tempur siluman generasi kelima PAK-FA.

Dibedakan oleh kemampuan manuvernya yang tak tertandingi, sebagian besar kemampuan elektronik dan senjata Su-35 telah berhasil melampaui pesaing Baratnya, seperti F-15 Eagle. Tapi sementara Su-35 mungkin menjadi musuh yang mematikan bagi F-15, Eurofighter, dan Rafale, sebuah tanda tanya besar seberapa efektif pesawat ini dapat bersaing dengan jet tempur siluman generasi kelima seperti F-22 dan F-35.

Sejarah

Su-35 adalah evolusi dari Su-27 Flanker, desain era akhir Perang Dingin yang dimaksudkan untuk dicocokkan dengan F-15 dalam hal konsep. Su-27 adalah sebuah pesawat tempur multiperan bermesin ganda yang mengkombinasikan kemampuan kecepatan, dogfighting, dan muatan senjata yang sangat baik.

Pada tahun 1989, Su-27 mengejutkan penonton di Paris Air Show ketika mendemonstrasikan Pugachev Cobra, sebuah manuver di mana pesawat harus menahan moncongnya hingga vertikal 120 derajat — tetapi terus melambung di depan sikap asli pesawat.

Meskipun sudah banyak yang diekspor, Flanker sama sekali belum berbenturan dengan pesawat Barat, tetapi pernah terlibat dalam pertempuran udara-ke-udara militer Ethiopia selama perang perbatasan dengan Eritrea, 'membunuh' empat MiG-29 tanpa kerugian. Flanker juga telah digunakan untuk misi serangan darat.

Sejarah perkembangan Su-35 sedikit rumit. Upgrade Flanker dengan kanard (tambahan sayap kecil di depan pesawat) yang disebut sebagai Su-35 (Su-27M) pertama kali muncul pada tahun 1989, tetapi itu bukan pesawat yang sama dengan model Su-35 sekarang; hanya lima belas yang diproduksi. Upgrade Flanker, Su-30 dua kursi, telah diproduksi dalam jumlah signifikan, dan variannya diekspor ke belasan negara.

Model Su-35 saat ini adalah tanpa kanard, dan merupakan tipe keluarga Flanker yang paling modern. Ini mulai dikembangkan pada tahun 2003 oleh Komsomolsk-on-Amur Aircraft Production Association (KnAAPO), subkontraktor dari Sukhoi. Prototipe pertama diluncurkan pada 2007 dan produksi dimulai pada 2009.

Airframe dan Mesin

Keluarga pesawat Flanker adalah supermaneuverable — artinya direkayasa untuk melakukan manuver terkendali yang tidak mungkin melalui mekanisme aerodinamis reguler. Pada Su-35, ini sebagian dicapai melalui penggunaan mesin thrust-vectoring: nozel turbofan mesin Saturn AL-41F1S dapat secara independen mengarah ke arah yang berbeda dalam penerbangan untuk membantu pesawat dalam berguling dan mengoleng (menyimpang dari lintasan lurus). Hanya satu jet tempur operasional Barat yang memiliki teknologi serupa, yakni F-22 Raptor.

Ini juga memungkinkan Su-35 untuk mencapai sudut serangan yang sangat tinggi — dengan kata lain, pesawat bisa bergerak ke satu arah sementara moncongnya mengarah ke arah lain. Sudut serangan yang tinggi memungkinkan Su-35 lebih mudah menghajar target dengan rudalnya dan melakukan manuver yang sempit.

Manuver seperti itu mungkin berguna untuk menghindari rudal atau dogfighting pada jarak dekat — meskipun melakukannya akan menguras energi pesawat.

Flanker-E dapat mencapai kecepatan maksimum Mach 2,25 (2.778km/jam) pada ketinggian tinggi (lebih kurang sama dengan F-22 dan tapi lebih cepat daripada F-35 atau F-16) dan memiliki akselerasi yang sangat baik. Namun, berbeda dengan isu awal, Su-35 tampaknya tidak supercruise — melakukan penerbangan supersonik secara kontinyu tanpa menggunakan afterburner — saat muatan penuh. Ketinggian terbang maksimal pesawat ini adalah 60.000 kaki (16.288 meter), setara dengan F-15 dan F-22, dan sepuluh ribu kaki lebih tinggi daripada Super Hornet, Rafale, dan F-35.

Kapasitas bahan bakar Su-35 telah ditingkatkan, memberikannya jangkauan 2.200 mil (3.540 km) dengan menggunakan bahan bakar internal, atau 2.800 mil (4.506 km) dengan dua tangki bahan bakar eksternal. Baik airframe (badan pesawat) yang merupakan titanium ringan dan mesin memiliki usia pakai yang secara signifikan lebih lama dari pendahulunya, yakni masing-masing 6.000 dan 4.500 jam penerbangan, masing-masing. (Sebagai perbandingan, usia pakai airframe F-22 dan F-35 adalah 8.000 jam).

Airframe Flanker bukan berteknologi siluman tulen. Namun, penyesuaian pada kanopi dan inlet (lubang masuk) mesin, dan penggunaan bahan penyerap radar, diduga mengurangi radar cross-section Su-35; sebuah artikel bahkan mengklaim radar cross-section Su-35 mungkin turun menjadi antara satu dan tiga meter. Ini bisa menurunkan kemampuan musuh untuk mendeteksi dan menargetkan, tetapi tetap saja Su-35 bukan pesawat siluman.

Persenjataan

Su-35 memiliki dua belas hingga empat belas cantelan senjata, yang memberikannya kemampuan memuat senjata yang sangat baik dibandingkan F-15C dan F-22 yang delapan cantelan, atau empat rudal internal saja pada F-35.

Untuk target jarak jauh, Su-35 dapat menggunakan rudal-rudal yang dipandu radar K-77M (dikenal oleh NATO sebagai AA-12 Adder), yang diklaim dapat menjangkau target lebih dari 200 km.

Untuk serangan jarak pendek, rudal R-74 (sebutan NATO: AA-11 Archer) dipandu inframerah dengan melihat target melalui penglihatan optik-mount helm, pilot dapat menargetkan pesawat musuh naik enam puluh derajat dari lokasinya. R-74 memiliki jangkauan lebih dari 25 mil (40 km), dan juga menggunakan teknologi thrust-vectoring.

Rudal R-27 jarak menengah dan tambahan R-37 jarak jauh (alias AA-13 Arrow, untuk digunakan melawan pesawat AWAC, EW dan tanker) melengkapi ragam rudal udara ke udara yang melengkapi Su-35.

Selain itu, Su-35 dipersenjatai dengan kanon 30mm 150 putaran untuk memberondong atau dogfighting.

Flanker-E juga dapat membawa hingga 17.000 pon (7.711 kg) amunisi udara ke darat. Namun, secara historis Rusia membatasi penggunaan precision-guided munitions (PGM) dibanding angkatan udara Barat.

Sensor dan Avionik

Peningkatan paling penting Su-35 dari pendahulunya mungkin dalam perangkat keras. Su-35 dilengkapi dengan sistem penanggulangan elektronik L175M Khibiny yang kuat yang dimaksudkan untuk mendistorsi gelombang radar dan mengacaukan arah rudal musuh. Ini dapat secara signifikan menurunkan upaya musuh untuk menargetkan dan memukul Flanker-E.

Radar IRBIS-E passive electronically scanned array (PESA) dibekalkan pada Su-35 agar dapat memberikan kinerja yang lebih baik dalam menghadapi pesawat siluman. Radar PESA diklaim mampu melacak hingga tiga puluh target udara dengan Radar-cross section tiga meter hingga 250 mil (402 km) jauhnya - dan target dengan radar cross-sections kecil 0,1 meter lebih dari lima puluh mil (80 km) jauhnya. Namun, radar PESA lebih mudah dideteksi dan dijamming daripada radar Active Electronically Scan Array (AESA) yang sekarang digunakan oleh pesawat-pesawat tempur Barat. IRBIS juga memiliki mode udara ke darat yang dapat menitik hingga empat target permukaan pada satu waktu untuk PGM.

Melengkapi radar adalah sistem penargetan OLS-35 yang mencakup sistem Infra-Red Search and Track (IRST) yang disebutkan memiliki jangkauan 50 mil (80 km) - berpotensi memberikan ancaman signifikan pada pesawat siluman.

Sistem yang umum pada jet tempur tetapi vital — seperti multi-function display pilot dan avionik fly-by-wire — juga telah diperbarui secara signifikan.

Unit Operasional dan Pengguna di Masa Depan

Saat ini, Angkatan Udara Rusia hanya mengoperasikan 48 Su-35. Lima puluh lainnya dipesan pada Januari 2016, dan akan diproduksi dengan sebanyak 10 unit setiap tahun. Empat Su-35 dikerahkan ke Suriah Januari lalu setelah Su-24 Rusia ditembak jatuh oleh F-16 Turki. Bersenjata penuh dengan rudal udara-ke-udara, Su-35 dimaksudkan untuk mengirim pesan bahwa Rusia akan menimbulkan ancaman udara jika diserang.

China telah memesan dua puluh empat Su-35 dengan biaya $ 2 miliar, tetapi diperkirakan tidak akan membeli lebih banyak. Minat Beijing membeli Su-35 diyakini hanya karena ingin mengcopy mesin thrust-vector Su-35 untuk digunakan pada pesawat desainnya sendiri. Sebelum ini, China sudah mengoperasikan Shenyang J-11, yang merupakan copy dari Su-27.

Upaya untuk memasarkan Su-35 di luar negeri, terutama ke India dan Brasil, tampaknya telah kandas. Terakhir, Indonesia telah menyatakan niatnya membeli 11 unit, meskipun penandatanganan kontrak sempat tertunda beberapa kali. Aljazair dilaporkan mempertimbangkan akuisisi sepuluh Su-35 senilai $ 900 juta. Mesir, Venezuela, dan Vietnam juga merupakan pelanggan potensial.

Perkiraan harga per unit Su-35 adalah antara $ 40 juta dan $ 65 juta; Namun, untuk kontrak ekspor telah berada di harga lebih dari $ 80 juta per unit.

Melawan Pesawat Generasi Kelima

Su-35 setidaknya sama — jika bukan melebihi — kemampuan pesawat-pesawat tempur generasi empat Barat yang tercanggih. Pertanyaan besarnya, seberapa baik Su-35 untuk dihadapkan pada pesawat siluman generasi kelima seperti F-22 atau F-35?

Kemampuan manuver Su-35 membuatnya menjadi dogfighter yang tak tertandingi saat ini. Namun, pertempuran udara di masa depan menggunakan rudal terbaru (R-77, Meteor, AIM-120) dapat berpotensi terjadi pada jarak yang sangat jauh, bahkan untuk pertempuran jarak pendek dengan rudal seperti AIM-9X dan R-74 tidak lagi perlu untuk mengarahkan pesawat ke target. Meskipun demikian, kecepatan Su-35 (yang berkontribusi terhadap kecepatan rudal) dan kemampuan membawa muatan yang besar berarti Su-35 akan dapat mempertahankan kemampuannya sendiri dalam pertempuran jarak jauh. Sementara itu, kelincahan dan penanggulangan elektronik Flanker-E ini dapat membantu menghindari rudal lawan.

Masalahnya adalah kita tidak tahu seberapa efektif teknologi siluman bila berhadapan dengan lawan berteknologi tinggi. F-35 bila melakukan duel jarak dekat dengan Flanker-E maka akan berada dalam kesulitan besar - tapi seberapa baik kesempatan Flanker E untuk mendekati pesawat siluman itu yang perlu dicari tahu.

Sebagaimana kemampuan yang Angkatan Udara AS miliki, pesawat tempur siluman akan melepaskan rudal-rudal dari jarak seratus mil tanpa musuh memiliki cara untuk membalas tembakan sampai mereka berada jarak dekat, di mana visual dan IR scanning ikut bermain. Para proponen pesawat tempur Rusia berpendapat bahwa mereka dapat mengandalkan radar low-bandwidth berbasis darat, dan radar PESA dan sensor IRST on-board, untuk mendeteksi pesawat siluman. Namun, perlu diingat bahwa kedua teknologi ini kurang akurat untuk menargetkan senjata.

Kedua belah pihak jelas memiliki kepentingan ekonomi dan politik yang sangat besar untuk mengunggulkan produk mereka. Meskipun berguna untuk memeriksa teknis dari Su-35 dan pesawat tempur siluman, tapi jawaban pastinya hanya dapat diselesaikan dengan pertempuran yang sesungguhnya. Selanjutnya, faktor-faktor lain seperti aset pendukung, profil misi, pelatihan pilot dan jumlah juga memainkan peran besar dalam menentukan hasil dari pertarungan udara.

Sukhoi Su-35 mungkin adalah dogfighter terbaik yang pernah dibuat dan platform pengiriman rudal yang mumpuni — tetapi apakah itu cukup mengingat sekarang adalah era teknologi siluman? (ni/fr)

Thursday, October 18, 2018

Ketangguhan Sistem Rudal Pertahanan Udara S-400 Triumf Rusia

S-400 Triumf

S-400 Triumf (nama pelaporan NATO: SA-21 Growler) adalah sistem rudal pertahanan udara jarak jauh dan menengah buatan Rusia. S-400 dirancang untuk menghancurkan target udara, termasuk rudal balistik dan rudal jelajah, serta pesawat siluman, bahkan dalam situasi serangan udara massal dan peperangan elektronik.

Pengembangan dan induksi ke militer

Pekerjaan pada desain konseptual dari S-400 titik awalnya ditunjuk sebagai S-300PM3 yang diluncurkan oleh asosiasi penelitian dan produksi Almaz pada pertengahan 1980-an di bawah pengawasan Chief Designer Alexander Lemansky. Pekerjaan ini diintensifkan pada akhir 1990-an dan pada 12 Februari 1999 sistem ini diuji coba untuk pertama kalinya di lokasi latihan Kapustin Yar wilayah Astrakhan.

S-400 Triumf
S-400 Triumf selama pengujian di Saint Petersburg (AP Photo / Dmitry Lovetsky)

S-400 Triumf
S-400 Triumf adalah sistem rudal anti-pesawat jarak jauh dan menengah Rusia yang dirancang untuk menyerang pesawat serta target udara lainnya di bawah kondisi tembakan musuh yang intensif dan penanggulangan elektronik (Sergei Malgavko / TASS)

Pada tanggal 28 April 2007, S-400 mulai beroperasi dan batalyon pertama S-400 melaksanakan tugas tempur pada 6 Agustus di kota Elektrostal (Wilayah Moskow). Enam minggu kemudian, Pada tanggal 27 September 2007, pengembang Triumf, Alexander Lemansky yang masih sempat menyaksikan sistem rudalnya rancangannya masuk ke dalam lini produksi, meninggal di lokasi latihan Kapustin Yar. Latihan live-fire pertama S-400 berhasil dilakukan di lokasi latihan Kapustin Yar pada tahun 2011.

S-400 didasarkan pada sistem rudal pertahanan udara S-300PMU2. Perbedaan dengan pendahulunya adalah jangkauan tempurnya yang lebih jauh dan kemampuan menggunakan sistem rudal permukaan ke udara baru. S-400 mampu mendeteksi dan menghancurkan target udara yang low-observable (siluman) dan yang bergerak cepat.

S-400 dan bagian integralnya

S-400 Triumf terdiri dari:
  • pos kontrol tempur;
  • jam-resistant phased array radar tiga koordinat untuk mendeteksi target udara;
  • enam - delapan kompleks rudal pertahanan udara (dengan hingga 12 transporter-peluncur, dan radar deteksi dan iluminasi empat koordinat multifungsi;
  • sistem pendukung teknis;
  • kendaraan pengangkut rudal;
  • simulator pelatihan.

Sistem S-400 juga dapat ditambahkan radar ketinggian (detektor) dan tower bergerak untuk pos antena. Semua sarana S-400 dipasang pada sasis semua kendaraan beroda (diproduksi oleh Minsk Wheeled Tractor Factory dan Bryansk Automobile Enterprise) dan dapat diangkut dengan kereta api, laut, dan transportasi udara.

S-400 Triumf
S-400 resimen rudal Distrik Militer Selatan Rusia dalam tugas tempur (Sergei Malgavko / TASS)

S-400 Triumf
S-400 telah dioperasikan Angkatan Bersenjata Rusia sejak 2007 (Vitaly Nevar / TASS)

S-400 dapat beroperasi secara selektif dengan menggunakan tidak kurang dari 5 jenis rudal berbagai bobot lepas landas dan jangkauan untuk menciptakan zona pertahanan udara berlapis.

S-400 juga mampu mengendalikan sistem rudal pertahanan udara lainnya, seperti Tor-M1, Pantsyr-S1, menyediakan pertahanan udara yang sangat efektif bahkan di tengah serangan udara massal dengan menggunakan peralatan peperangan elektronik.

Karakteristik teknis

Karakteristik teknis S-400:
  • jangkauan pendeteksian target - hingga 600 km;
  • jangkauan sasaran tembak aerodinamis - dari 3 hingga 250 km;
  • jarak pencegatan rudal balistik taktis - dari 5 hingga 60 km;
  • ketinggian pencegatan target - dari 2 hingga 27 km;
  • kecepatan target - hingga 17.300 km / jam;
  • jumlah target yang terlibat dalam satu waktu - hingga 36 (maksimal enam dalam satu kompleks;
  • jumlah rudal yang dipandu secara bersamaan - 72;
  • persiapan tempur dari posisi pawai - 5-10 menit, waktu untuk membuat sistem siap tempur dari posisi pengerahan - 3 menit;
  • usia pakai - tidak kurang dari 20 tahun, rudal pertahanan udara - tidak kurang dari 15 tahun;

Wakil Panglima Angkatan Udara Rusia Viktor Gumyonny mengatakan pada 8 April 2017 bahwa rudal yang mampu "menghancurkan target di luar angkasa, pada jarak jauh dan kecepatan besar" telah mulai datang untuk sistem S-400.

S-400 Triumf
Unit S-400 Baltik Rusia dalam sebuah latihan (Vitaly Nevar / TASS)

S-400 Triumf
Latihan oleh unit pertahanan udara Baltik Rusia yang melibatkan sistem rudal pertahanan udara Triumf S-400 (Vitaly Nevar / TASS)

S-400 di di Angkatan Bersenjata Rusia

Berdasarkan informasi-informasi publik, 19 resimen yang dipersenjatai dengan kompleks S-400 sedang dalam tugas tempur di Angkatan Bersenjata Rusia per April 2017. Secara keseluruhan, resimen ini termasuk total 38 batalion dan 304 peluncur di Elektrostal, Dmitrov, Zvenigorod, Kurilovo (wilayah Moskow), Nakhodka (Wilayah Primorye), Kaliningrad, Novorossiysk (Wilayah Krasnodar), Polyarny (Wilayah Murmansk), Petropavlovsk-Kamchatsky (Wilayah Kamchatka), Novosibirsk, Vladivostok, Sevastopol dan tempat-tempat lain.

Rusia melalui program persenjataan negara memerintahkan pemenuhan 56 batalion S-400 untuk pasukannya pada tahun 2020.

S-400 Triumf
Tentara hormat di dekat sistem rudal S-400 Triumf yang ditempatkan di sebuah unit militer di kota Elektrostal, wilayah Moskow (Marina Lystseva / TASS)

S-400 Triumf
S-400 yang dikerahkan Rusia di pangkalan udara Hmeymim di Suriah (Vadim Savitsky / Russian Defense Ministry Press)

Rusia Kirim Sistem Rudal S-400 ke India dalam Waktu 2 tahun

S-400

S-400 Triumf Rusia adalah sistem rudal anti-pesawat jarak jauh terbaru yang mulai digunakan Rusia pada tahun 2007.

Pengiriman pertama sistem rudal S-400 ke India akan terlaksana dalam waktu dua tahun, Dmitry Shugaev, kepala Federal Service for Military Technical Cooperation Rusia, mengatakan kepada wartawan dilansir TASS.

"Pengiriman pertama diharapkan dalam dua tahun," katanya.

Kontrak untuk pengiriman sistem rudal permukaan-ke-udara S-400 ke India ditandatangani selama kunjungan Putin ke India awal bulan ini.

Selama kunjungan itu, ajudan Putin, Yuri Ushakov, mengatakan kepada para wartawan bahwa berdasarkan kontrak itu India akan menerima lima set sistem rudal S-400 Triumf Rusia. Jumlah kesepakatan itu melebihi lima miliar dolar AS, katanya.

S-400 Triumf Rusia (nama pelaporan NATO: SA-21 Growler) adalah sistem rudal anti-pesawat dan anti rudal jarak jauh terbaru yang mulai digunakan Rusia pada tahun 2007.

S-400 dirancang untuk menghancurkan pesawat, rudal jelajah dan rudal balistik, termasuk rudal jarak menengah, dan target permukaan.

S-400 ini dapat mencegat target aerodinamis pada kisaran hingga 400 kilometer dan target balistik taktis yang terbang dengan kecepatan 4,8 km / detik pada jarak hingga 60 kilometer. Target tersebut termasuk rudal jelajah, pesawat taktis dan strategis dan hulu ledak rudal balistik.

Sistem radar S-400 mendeteksi target udara pada jarak hingga 600 kilometer. Sedangkan rudal permukaan-ke-udara 48N6E3 dapat mencapai target aerodinamis pada ketinggian 10.000-27.000 meter dan ancaman balistik pada ketinggian 2.000-25.000 meter. (fr)

Pilot AS Tewas dalam Kecelakaan Su-27 di Ukraina

Sukhoi Su-27UB Ukraina

Pilot dari Air National Guard Amerika Serikat tewas pada Selasa ketika jet tempur Sukhoi Su-27UB Ukraina jatuh di Ukraina barat-tengah, menurut laporan Staf Umum Ukraina.

Sebuah pesawat tempur Su-27UB Ukraina dengan dua pilot jatuh saat latihan pada hari Selasa.

Kecelakaan itu terjadi sekitar pukul 5:00 waktu setempat pada 16 Oktober 2018, dekat desa Ulaniv, yang terletak sekitar 185 mil barat daya ibukota Ukraina, Kyiv.

Dilaporkan juga bahwa pilot dan co-pilot telah tewas setelah jet tempur Su-27UB (70 Blue) jatuh selama penerbangan pelatihan Clear Sky 18 di barat-tengah Ukraina.

Menurut Staf Umum Ukraina, mayat dua pilot ditemukan: satu pilot berasal dari Angkatan Udara Ukraina, yang kedua - pilot Air National Guard AS.

"Kami menyesal untuk menginformasikan bahwa menurut tim penyelamat, mayat dua pilot telah ditemukan: satu adalah prajurit Angkatan Udara Ukraina, yang lain adalah anggota Air National Guard AS," katanya.

Petugas urusan publik Angkatan Udara AS mengatakan: "Kami mengetahui adanya pesawat tempur Su-27UB Ukraina yang jatuh di wilayah Vinnytsia sekitar pukul 5 sore waktu setempat saat Clear Sky 2018 hari ini."

“Kami juga telah melihat laporan yang mengklaim korban AS dan saat ini sedang menyelidiki dan bekerja untuk mendapatkan lebih banyak informasi. Kami akan memberikan lebih banyak informasi segera setelah tersedia. ”

Kemudian, Angkatan Udara AS di Eropa (USAFE) telah mengonfirmasi bahwa seorang anggota layanan AS benar menjadi korban dalam insiden itu, tetapi tidak membuat pengumuman resmi mengenai status mereka. USAFE juga mengatakan bahwa kecelakaan sudah diselidiki.

Jet Su-27UB mengambil bagian dalam Clear Sky 2018, latihan militer bersama dengan anggota NATO yang berlangsung 8 hingga 19 Oktober di Ukraina Barat.

Clear Sky 2018 adalah latihan bersama dan multinasional yang melibatkan sekitar 950 personel dari sembilan negara, termasuk Belgia, Denmark, Estonia, Belanda, Polandia, Rumania, Ukraina, Inggris, dan Amerika Serikat.

Pelatihan Clear Sky 18 dimaksudkan untuk meningkatkan tingkat interoperabilitas Angkatan Udara Angkatan Bersenjata Ukraina dengan Angkatan Udara AS dan NATO, menyusun manajemen operasi gabungan yang efektif di udara, menyusun pembagian intelijen dan kemampuan pengawasan, serta pertahanan maya berfokus pada kebutuhan pasukan udara. (fr)

Wednesday, October 17, 2018

UAV Baru Turki Uji Coba Gunakan Wind Tunnel Indonesia

Model UAV TAI Turki
Sebuah model pesawat tanpa awak buatan Turkish Aerospace Industries (TAI) terlihat sebelum pengujian di terowongan angin di Pusat Teknologi Aerodinamika, Aerolastika dan Aeroakustika (BBTA3), di kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUSPITEK ) di Tangerang, Indonesia pada 11 Oktober 2018. ( Anton Raharjo - Anadolu Agency )

Unmanned Aircraft Vehicle (UAV) generasi terbaru milik Turki yang sedang dikembangkan akan mulai diproduksi dalam 3 hingga 4 tahun mendatang

Perusahaan dirgantara Turki, Turkish Aerospace Industry (TAI), sedang mengembangkan pesawat terbang tanpa awak (Unmanned Aircraft Vehicle/UAV) generasi terbaru.

Saat ini, UAV terbaru tersebut sedang diuji coba di fasilitas Indonesian Low Speed Tunnel (ILST) milik Balai Besar Teknologi Aerodinamika, Aeroelastika, dan Aeroakustika (BBTA3) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Serpong, Banten.

Vice President Corporate Marketing and Communications TAI Tamer Ozmen mengatakan kepada Anadolu Agency saat mengunjungi BPPT akhir pekan lalu, UAV generasi terbaru ini akan mulai diproduksi dalam 3 hingga 4 tahun mendatang.

UAV generasi terbaru tersebut, menurut dia, memiliki dua mesin dan kapasitas payload (muatan) yang lebih besar.

“Proses uji coba dan pengetesan saat ini sudah mencapai 80 persen dan 20 persen sisanya akan difinalisasi dalam beberapa minggu ke depan,” ungkap Tamer.

Tamer mengungkapkan alasan pihaknya bekerja sama dengan BPPT dalam pengujian UAV terbaru karena telah memiliki pengalaman yang sukses pada saat pengembangan UAV Turki bernama Anka sejak 2008 lalu.

UAV Anka saat ini sudah memiliki pengalaman yang matang untuk berbagai aktivitas seperti anti terorisme serta pengintaian di darat dan laut dan dipakai oleh Angkatan Bersenjata Turki dan Badan Intelijen Turki. Anka, menurut Tamer, juga sudah dipakai di Turki dan di berbagai negara.

“BPPT memiliki andil dalam kesuksesan pengembangan Anka,” tegas Tamer.

Tamer menambahkan saat ini TAI juga sedang mencari kesempatan untuk bekerja sama dengan industri pertahanan di Indonesia.

“Pada bulan November nanti kita akan hadir di pameran Indo Defence di Jakarta dan TAI akan membawa model ANKA dengan skala penuh,” imbuh Tamer.

Saat ini, pesawat UAV Anka produksi TAI sedang mengikuti tender di Kementerian Pertahanan Indonesia untuk pengembangan pesawat terbang tanpa awak di Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Balai Besar Teknologi Aerodinamika, Aeroelastika, dan Aeroakustika (BBTA3) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Fadilah Hasim mengakui kerjasama dengan TAI dalam pengetesan UAV sangat bermanfaat.

Fadilah mengatakan pada tahun 2008 ketika BBTA3 BPPT memulai kerja sama pengembangan UAV Anka dengan TAI, teknologi pesawat tanpa awak baru mulai berkembang.

“Dengan pengujian Anka, kami juga dapat kesempatan untuk mendapatkan pengalaman mempelajari pesawat-pesawat kecil UAV atau pesawat dengan bilangan reynolds rendah,” ungkap Fadilah.

Sebelum memulai program kerja sama pengetesan Anka, dia mengakui database yang ada di BBTA3 BPPT adalah untuk pengujian pesawat-pesawat besar yang sudah banyak terdapat di buku dan literatur.

“Tapi pesawat dengan sayap kecil yang sangat sensitif dengan kecepatan angin masih belum banyak database-nya. Kami jadi ada kesempatan belajar,” imbuh dia.

Fadilah menjelaskan fasilitas pengujian pesawat yang ada di BBTA3 BPPT adalah wind tunnel (terowongan angin) Indonesian Low Speed Tunnel (ILST) dengan seksi uji berukuran 4x3 meter yang dibangun oleh Presiden BJ Habibie dengan menggunakan teknologi asal Jerman dan Belanda.

“Terowongan angin kami sangat akurat dengan intensitas turbulensinya sangat rendah di bawah 0,1 persen,” ujar Fadilah.

Selain itu, pada terowongan angin tersebut juga memiliki sudut aliran yang sangat seragam dan lapisan batas yang sangat tipis.

“Terowongan angin ILST adalah terowongan angin kelas dunia,” lanjut dia.

Resources
  • https://www.aa.com.tr/id/headline-hari/turki-uji-coba-uav-terbaru-di-indonesia/1283111

Kembangkan Pesawat Tempur, Turki Cari Partner di Indonesia

Pengembangan UAV Turki - Indonesia
Vice President Corporate Marketing and Communication Turkish Aerospace Industries (TAI) Tamer Özmen bersama dengan staff lainnya berpose, sebelum pengujian terowongan angin untuk pengembangan pesawat tanpa awak (UAV) Indonesia-Turki, di Pusat Teknologi Aerodinamika, Aerolastika dan Aeroakustika (BBTA3), di kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PUSPITEK ) di Tangerang, Indonesia pada 11 Oktober 2018. ( Anton Raharjo - Anadolu Agency )

Turki memiliki program pengembangan pesawat tempur yang ditargetkan akan mulai mengudara pada 2023 mendatang dan memulai operasional penerbangan pada 2026

Turkish Aerospace Industries (TAI) sedang mencari mitra strategis di Indonesia untuk pengembangan pesawat tempur.

Vice Presiden Corporate Marketing and Communications TAI Tamer Ozmen mengatakan hal tersebut kepada Anadolu Agency saat berkunjung ke fasilitas pengujian pesawat terbang di BPPT Serpong, Banten, akhir pekan lalu.

Tamer mengatakan pihaknya sedang berusaha memperkuat kerja sama dengan industri pertahanan yang ada di Indonesia. Upaya tersebut dimulai melalui proses tender pengembangan pesawat terbang tanpa awak (Unmanned Aircraft Vehicle) oleh Kementerian Pertahanan Indonesia yang diikuti TAI.

Turki menurut dia, memiliki program pengembangan pesawat tempur yang ditargetkan akan mulai mengudara pada 2023 mendatang dan memulai operasional penerbangan pada 2026.

“Pesawat tempur tersebut akan menggantikan seluruh pesawat tempur F-16 yang dimiliki Turki pada 2040 mendatang,” ungkap Tamer.

Program tersebut menurut Tamer, membutuhkan dukungan banyak teknisi. Oleh karena itu, TAI ingin menggandeng kemitraan dengan industri dirgantara dan pertahanan di Indonesia seperti PT Dirgantara Indonesia serta universitas di Indonesia untuk penyediaan sumber daya manusianya.

Perusahaan tersebut lanjut Tamer, sedang mempertimbangkan untuk menggunakan teknisi asal Indonesia.

“Mungkin kita akan membuka kantor di Jakarta atau Bandung. Kita tahu universitas di Bandung (ITB) cukup kuat untuk pengembangan pesawat tempur,” imbuh dia.

Selain itu, TAI menurut Tamer, juga sedang mencari kesempatan untuk bekerja sama dalam pengembangan pesawat regional dengan menggandeng PT Regio Aviasi Industri (PT RAI) yang saat ini sedang menggarap pesawat R80.

“Turki memiliki kehebatan dalam pengembangan pesawat regional dan mungkin bisa menggandeng PT RAI untuk bekerja sama,” aku Tamer.

Resources
  • https://www.aa.com.tr/id/ekonomi/turki-gandeng-indonesia-kembangkan-pesawat-tempur/1283242

Tuesday, October 16, 2018

Inilah Alasan Mengapa Tidak Semua Jet Tempur Bisa Langsung Terbang Untuk Menghindari Badai

F-22 Raptor

Banyak yang mengkritisi keputusan Angkatan Udara AS (USAF) atau khususnya komandan Pangkalan Angkatan Udara Tyndall (Tyndall AFB) yang tidak menerbangkan seluruh pesawat untuk menghindari badai Michael sehingga kerusakan pada F-22 Raptor tidak perlu terjadi.

Sebelumnya Artileri melaporkan dan memposting foto-foto yang menunjukkan pesawat QF-16, Mu-2, dan bahkan, F-22 Raptor, teronggok tertimpa reruntuhan di dalam hanggar yang rusak parah di Tyndall AFB akibat badai Michael. USAF menyatakan bahwa pesawat-pesawat tersebut memang tetap berada disana selama badai, dengan angka tidak resmi dilaporkan berkisar dari tiga hingga 18 F-22 Raptor tetap di hanggarnya selama badai.

Untuk diketahui, Tyndall AFB adalah pangkalan dan rumah bagi 55 unit pesawat tempur siluman F-22, serta rumah bagi banyak pesawat lainnya.

Banyak yang bertanya-tanya kenapa USAF tidak menerbangkan seluruh pesawatnya dari Tyndall AFB? Apakah USAF ceroboh atau angkuh dalam menyikapi badai? Sebenarnya ada alasan mengapa tidak semua pesawat disana dapat terbang sebelum badai Michael menerpa.

F-22 Raptor rusak akibat badai
Sebuah F-22 Raptor tertangkap foto udara tertimpa reruntuhan hanggar akibat badai Michael

F-22 Raptor rusak akibat badai
F-22 Raptor tertimpa reruntuhan hanggar yang rusak akibat badai Michael

Perlu disadari bahwa pesawat tempur modern bukanlah Toyota Avanza yang dapat dikendarai berbulan-bulan lalu ke bengkel untuk ganti oli selama satu jam lalu bisa dikendarai lagi. Kalaupun ingin disamakan, pesawat tempur modern lebih mirip dengan mobil sport kelas atas yang butuh lebih banyak TLC mahal agar dapat terus digunakan. F-22, khususnya, lebih mirip dengan supercar eksotis atau mobil balap kelas atas. Diperlukan lusinan jam pemeliharaan untuk setiap jam penerbangannya dan perawatan detail yang dapat memakan waktu berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu, tergantung pada apa yang perlu dilakukan dan ketersediaan suku cadang.

Ada F-22 Raptor yang harus mendekam di hanggar untuk waktu yang lama untuk perbaikan, yang lainnya harus melalui servis berkala, inspeksi komponen dengan ketelitian tinggi, dan pemeriksaan fase invasif, dan ada juga yang komponennya sedang dibongkar sebelum bisa disatukan kembali dan harus melalui uji terbang lagi sebelum statusnya menjadi operasional kembali. Dengan kata lain, banyak dari pekerjaan ini yang tidak dapat dihentikan secara tiba-tiba atau dikerjakan dengan cepat agar pesawat dapat terbang dalam hitungan 1-2 hari. Bahkan kenyataannya, selalu ada pesawat yang masa perbaikannya diluar jadwal.

Airmen F-22 Raptor
Airman Service F-22 Raptor (USAF)

Disassembling mesin F-22 Raptor
Penggantian mesin F119 pada F-22 Raptor (USAF)

Jadi tidak jarang bagi suatu pangkalan angkatan udara memiliki setidaknya beberapa unit pesawat yang tidak mampu terbang karena perawatan rutin, belum lagi kalau ada masalah tak terduga. Angka itu bisa tumbuh lebih banyak berdasarkan jenis, usia pesawat, dan status kesiapan umum komunitas pesawat secara keseluruhan. Dibanding armada jet-jet tempur AS lainnya, armada F-22 memiliki kesiapan terendah. Ada sejumlah faktor yang berkontribusi terhadap hal ini, termasuk karena masa produksinya yang singkat.

Jadi para komandan di Tyndall AFB tidak bisa dengan mudah memerintahkan bawahannya agar menerbangkan seluruh (55 unit) F-22 sebelum badai..

Ada yang lebih dipedulikan komandan daripada jet mereka? Ya, hidup para anak buahnya. Kepala kru, teknisi pesawat, pilot, akuntan, orang-orang operasi, dan seluruh orang yang membentuk skuadron harus dilindungi.

Pada titik tertentu, mereka ini juga harus bergegas ke tempat aman dan berkumpul dengan keluarganya. Perlu diketahui bahwa 100 persen perumahan dan infrastruktur di Tyndall untuk mendukung kehidupan sehari-hari dihancurkan oleh badai Michael. Semuanya hilang, namun tidak ada yang meninggal.

F-22 Raptor

F-22 Raptor di Tyndall AFB sebelum badai
Suasana F-22 Raptor di dalam hanggar di Tyndall AFB sebelum badai Michael (USAF)

Ada pula yang berpendapat kenapa tidak memasukkannya ke pesawat C5 atau membawanya dengan truk? Pesawat-pesawat ini bukanlah lego yang dapat dengan mudah dipisah degan cepat dan dimasukkan ke C-5. Untuk melepas sayap F-22 sudah merupakan pekerjaan besar yang tidak selesai dalam waktu singkat. Menaruhnya ke truk besar? Raptor itu besar, lebarnya 13,5m dan panjangnya 19m.

Memang F-22 adalah pesawat langka dan terbatas dalam USAF. Kerugian, atau bahkan kerusakan pada Raptor adalah peristiwa penting yang memiliki dampak nyata pada kekuatan F-22 total. Tidak hanya Raptor, juga ada kerugian besar pada T-38A Talon dan Mu-2, belum lagi QF-16, karena badai Michael. Ketika datang ke QF-16, USAF telah menghabiskan jutaan dolar pada airframenya untuk mengubahnya menjadi full-scale aerial target (FSAT) seperti saat ini. Pesawat ini dapat terbang dengan atau tanpa pilot di kokpit setelah menjalani konversi itu, sehingga kehilangan sejumlah dari mereka bukanlah hal sepele dan airframenya sangat diperlukan untuk pengujian dan pengembangan senjata kritis.

Fakta yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa pesawat tempur modern berbeda dengan Boeing 737. Pesawat-pesawat tempur modern adalah barang yang rewel, butuh pemeliharaan intensif, dan seringkali lebih banyak menghabiskan waktu di darat karena perawatan atau rusak ketimbang di udara. (fr)