Rudal Balistik Iskander: Pembunuh Kapal Terbaru Rusia

Tuesday, August 14, 2018 Add Comment
Rudal balistik Iskander-M

Sebelumnya, China mengembangkan rudal balistik "pembunuh kapal induk" jarak jauh. Sekarang, sistem rudal balistik Iskander Rusia mungkin memiliki tujuan yang sama.

Pada akhir Juli dan awal Agustus tahun ini, Rusia telah melakukan dua kali melakukan simulasi "peluncuran elektronik" dari sistem rudal balistik 9K720 Iskander-M (kode NATO, SS-26 Stone) terhadap target kapal di Laut Hitam, menurut media Rusia.

Peluncuran elektronik merupakan simulasi pertempuran lapangan di mana pasukan unit rudal menyiapkan dan melakukan semua prosedur untuk peluncuran rudal balistik di dunia nyata tapi tidak menembakkan rudal yang sesungguhnya.

Tapi rudal apa persisnya yang akan diluncurkan Rusia itu? Rudal balistik Iskander, dikembangkan pada tahun 1970 sebagai pengganti rudal Scud yang fenomenal, adalah sistem peluncuran mobile yang dapat menembakkan beberapa jenis rudal balistik dan jelajah. Iskander-M adalah rudal balistik satu tahap, dipersenjatai dengan hulu ledak konvensional atau nuklir, dan jangkauan 500 kilometer.

Namun, laman berita Rusia Beyond menjelaskan bahwa sistem rudal Iskander juga dapat menembakkan versi anti-kapal dari rudal jelajah R-500 Kalibr dengan jangkauan 500 kilometer.

"Rudal-rudal ini disetel ulang untuk menargetkan kapal perusak kelas kedua dan ketiga - pada dasarnya kapal yang mampu membawa rudal Tomahawk dan bagian dari sistem pertahanan rudal balistik Aegis," dikutip dari dalam Rusia Beyond.

Rudal anti-kapal ini dapat terbang menuju target mereka dengan kecepatan 2.000 kilometer per jam. Mereka juga dapat terbang rendah di atas ai r- di ketinggian hanya 5 hingga 10 meter, yang berarti hampir tidak mungkin sistem rudal pertahanan berbasis laut apapun mencegatnya. Hulu ledaknya berkisar antara 200 hingga 500 kilogram. Hulu ledak yang lebih kecil biasanya ditargetkan untuk kapal perusak, sedangkan yang lebih besar ditujukan untuk kapal penjelajah.

"Tidak ada yang mampu lari dari para pembunuh ini," Rusia Beyond secara dramatis menyatakan.

Tetapi implikasi dari latihan Rusia tersebut - dan publisitas di media Rusia - jelas. Rusia mengirim pesan bahwa itu dapat menggunakan rudal balistik - atau setidaknya peluncur rudal balistik - sebagai senjata anti-kapal.

Sementara China mungkin banyak mengkloning banyak senjata Rusia, Rusia mungkin mengambil ide dari rudal "pembunuh kapal induk" dari China, yang mana rudal yang dimaksud adalah rudal balistik jarak menengah DF-26.

Meskipun DF-26 membuat Angkatan Laut AS khawatir akan keselamatan kapal induknya, rudal balistik pembunuh kapal induk masih merupakan senjata yang belum teruji, yang masih dihantam oleh pertanyaan seperti kemampuan mereka untuk target bergerak jarak jauh seperti kapal.

Tetapi juga perlu perhatikan bahwa DF-26 memiliki kisaran perkiraan 4.000 km, lebih jauh daripada rudal Kalibr atau Iskander-M. Rudal 500 km seperti Kalibr dan Iskander-M mungkin baik sebagai senjata pertahanan pantai di perairan terbatas seperti Baltik atau Laut Hitam, untuk mencegah kapal NATO mendekati wilayahnya, tapi itu bukan senjata penyangkalan akses jarak jauh.

Pertanyaannya adalah: Jika Rusia dapat meluncurkan rudal jelajah anti-kapal jarak pendek dari peluncur rudal balistik, lalu mengapa Rusia tidak meluncurkan rudal balistik jarak jauh seperti yang dilakukan China? (fr)

India: Kekuatan Kapal Induk Dunia Berikutnya?

Monday, August 13, 2018 Add Comment
Kapal induk India INS Vikramaditya

Pada 2 Agustus lalu, pesawat tempur Tejas Light Combat Aircraft (LCA) buatan India melakukan pendaratan kapal induk untuk pertama kalinya. Varian angkatan laut dari Tejas adalah pesawat berbasis kapal induk pertama buatan India.

Tejas yang dimaksud sebenarnya tidak melakukan pendaratan di dek kapal induk. Hanya saja pesawat itu berlatih mendarat dengan menangkap seutas kabel penahan di darat layaknya di kapal induk.

Mendaratkan pesawat di dek kapal induk merupakan pekerjaan yang sulit. Selain fakta bahwa kapal induk adalah landasan udara bergerak, pesawat juga harus melambat dengan sangat cepat. Ini mengharuskan pilot menangkap kabel penahan dengan tailhook pesawat, yang memperlambat pesawat dalam hitungan detik. Itulah yang dipraktekkan India pada 2 Agustus lalu, meskipun dari posisi di darat.

Meskipun demikian, juru bicara Hindustan Aeronautics Limited (HAL), yang membangun pesawat Tejas, menyatakan: "India telah bergabung dengan klub terpilih AS, Eropa, Rusia, dan China yang memiliki kemampuan pendaratan dek pesawat tempur."

Tapi kenyataannya, ini hanyalah langkah pertama di jalan yang masih panjang. Seperti The Hindustan Times, sebuah surat kabar India populer, menunjukkan: "Ini adalah yang pertama dari serangkaian tes ketat yang akan dilakukan sebelum pesawat tempur diuji beroperasi di dek kapal induk yang sesungguhnya, yang bisa memakan waktu lebih dari setahun."

Meskipun demikian, itu tetap menjadi kabar baik bagi jet tempur Tejas yang diterpa isu kepunahan. Seolah membangkitkan kembali Tejas dari ambang kehancuran.

Bahkan varian Tejas berbasis darat (untuk Angkatan Udara) juga telah diterpa masalah. Pada bulan Maret tahun ini, media India melaporkan bahwa Hindustan Aeronautics Limited telah kehilangan target memproduksi dua puluh pesawat menjadi 6 pesawat saja.

“Kami tidak mendapatkan jet sebanyak yang kami inginkan. Sekarang skuadron Tejas pertama seharusnya melantik 20 pesawat. Enam pesawat hampir tidak bisa disebut skuadron, ”kata sumber yang tidak disebutkan namanya (kemungkinan besar pemerintah) dilansir dari The Hindustan Times.
Jet tempur Tejas India lepas landas dari dek kapal induk tiruan
Jet tempur Tejas India lepas landas dari dek kapal induk Tiruan

Itu belum semuanya. Kementerian Pertahanan India sebelumnya telah menetapkan tenggat waktu hingga Juni 2018 bagi Tejas untuk lulus izin operasional akhir. Sudah dipastikan, itu terlewatkan. Padahal, Kementerian Pertahanan jauh sebelum itu pernah mengatakan bahwa Tejas akan siap tempur pada tahun 2012.

Molornya pengembangan Tejas menyebabkan kesulitan parah bagi Angkatan Udara India. Militer India telah menyatakan bahwa negara itu idealnya memiliki sekitar 42 skuadron untuk menghadapi ancaman yang ditimbulkan oleh China dan Pakistan. Setiap skuadron terdiri dari 18 hingga 20 pesawat.

Saat ini, Angkatan Udara India hanya memiliki 32 skuadron. Sepuluh skuadron diantaranya diisi pesawat buatan Rusia yang sudah tua, dan diperkirakan akan pensiun pada 2022. Beberapa perhitungan bahkan menunjukkan bahwa Angkatan Udara hanya akan memiliki sembilan belas skuadron pada tahun 2027.

Dalam skenario terburuk, jumlahnya itu bisa turun menjadi 16 skuadron — atau sekitar 300 pesawat — pada tahun 2032. Sebaliknya, Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China diperkirakan akan memiliki 1.700 pesawat tempur, meskipun angka ini adalah total pesawat Angkatan Udara dan Angkatan Laut PLA, juga termasuk pesawat pembom.

Selain itu, program kapal induk India sedang mengalami krisisnya sendiri. Baru bulan lalu, media melaporkan bahwa India belum lagi menugaskan kapal induk dalam negeri kedua "IAC-2" dalam kerangka waktu 2030-2032 seperti yang sudah dijadwalkan sebelumnya.

Menurut laporan dari IHS Jane, penundaan ini "karena anggaran yang terus menurun, hambatan teknologi, dan, yang paling penting, penundaan-penundaan oleh Kementerian Pertahanan dalam menyetujui program."

Ini berarti India hanya akan memiliki satu kapal induk untuk waktu yang lebih lama, meskipun Angkatan Laut mengatakan mereka perlu minimal tiga kapal induk. Sejak Maret 2017, ketika Angkatan Laut India menonaktifkan kapal induk Kelas Centaur 23.900 tonnya, Angkatan Laut India praktis hanya memiliki satu kapal induk, kelas INS Vikramaditya, bobot 44.000 ton, kapal induk era Soviet yang diperbarui.

Padahal rencananya, INS Vikramaditya seharusnya sudah memiliki tandem kapal induk buatan dalam negeri pada tahun ini. Tidak mengherankan, ini suatu kemunduran. Bahkan akhir tahun lalu media India melaporkan bahwa kapal induk buatan dalam negeri pertama India INS Vikrant dijadwalkan akan diluncurkan dari Galangan Kapal Cochin pada 2021-23, hampir delapan tahun terlambat. (fr)

Resources
  • Gambar: Wiki Common

Pesawat Hipersonik China, Mampu Luncurkan Rudal Di 6X Kecepatan Suara

Monday, August 13, 2018 Add Comment
Pesawat hipersonik China Starry Sky-2

China menguji pesawat (wahana) hipersonik yang dapat terbang dengan kecepatan 7.400 km per jam (Mach 6) dan mengubah lintasannya selama penerbangan.

China belum lama ini menguji pesawat hipersonik yang dapat menembakkan rudal nuklir pada kecepatan enam kali kecepatan suara (Mach 6).

Pesawat, yang disebut Starry Sky-2, dapat melakukan penerbangan di langit dengan kecepatan hingga 7.400 km per jam, dan dapat mengubah arah penerbangannya secara tiba-tiba selama penerbangannya - yang berarti pesawat ini berpotensi melewati sistem pertahanan rudal yang ada saat ini.

Pesawat Starry Sky-2 diluncurkan dengan roket multi-tahap (multistage), kemudian terus terbang dengan kecepatan sekitar Mach 5,5 selama 400 detik. Selama penerbangan, pesawat hipersonik ini banyak melakukan manuver di ketinggian sekitar 18 mil (29 km) sebelum mendarat.

Starry Sky-2 adalah jenis kendaraan/pesawat "waverider", yang artinya pesawat ini mampu terbang dan mengendalikan dirinya sendiri di atas gelombang kejut dari dorongan tenaga supersoniknya sendiri.

Menurut Global Times, intelijen AS memprediksi bahwa rudal hipersonik pertama China akan siap tempur sekitar tahun 2020. Song Zhongping, seorang ahli militer dan komentator TV, mengatakan bahwa China terus berusaha keras mengembangkan senjata hipersonik untuk menyaingi Rusia dan AS.

Kecepatan yang luar biasa dari kendaraan hipersonik membuat mereka berpotensi menjadi senjata yang menghancurkan. Kemampuan manuver mereka yang tinggi berarti bahwa sistem pertahanan udara saat ini mungkin tidak akan mampu mencegatnya, dan serangan cepat dengan kecepatan hipersonik akan membuat musuh tidak mampu berencana dan mengantisipasi serangan tersebut.


Lebih jauh lagi, menurut Rand Corporation, “kemampuan manuver berpotensi memberikan pesawat hipersonik kemampuan untuk mengubah misi selama penerbangannya untuk menyerang target lain dari yang sebelumnya direncanakan. Dengan kemampuan terbang dengan lintasan yang tidak dapat diprediksi, rudal-rudal ini akan memiliki area serangan yang sangat besar yang sangat berisiko di banyak penerbangan mereka. ”

Sementara itu, AS dan Rusia juga terus melanjutkan pekerjaan mereka untuk membangun senjata hipersonik mereka sendiri. Pada April 2018, Lockheed Martin mendapat kontrak $ 928 juta untuk mengembangkan rudal hipersonik, sedangkan Rusia telah mengembangkan rudal hipersonik Kinzhal yang kecepatannya mencapai Mach 10 yang dapat dilengkapi dengan hulu ledak nuklir.

Resources
  • Livescience - National Interest
  • Gambar: openpaper

AH-64 Apache: "Flying tank killer"

Sunday, August 12, 2018 Add Comment
Helikopter Apache AH-64
Helikopter Apache AH-64 memiliki sensor di "hidung" untuk target acquisition and night vision systems. Dilengkapi dengan chain gun M230 kaliber 30 mm yang dibawa di antara roda pendaratan utama, di bawah heli bagian depan.

Helikopter Apache AH-64
Angkatan Darat AS adalah pengguna utama AH-64; heli ini juga menjadi helikopter serang utama dari berbagai militer dunia, termasuk Yunani, Jepang, Israel, Belanda, Singapura, Uni Emirat Arab, dan Indonesia.

Helikopter Apache AH-64
Apache AH-64 Amerika Serikat telah bertugas dalam konflik di Panama, Teluk Persia, Kosovo, Afghanistan, dan Irak. Israel menggunakan Apache dalam konflik militernya di Lebanon dan Jalur Gaza; Apache Inggris dan Belanda juga disebarkan dalam perang di Afghanistan dan Irak.

Helikopter Apache AH-64
Salah satu fitur revolusioner dari Apache adalah helmet mounted display, Integrated Helmet and Display Sighting System (IHADSS); baik pilot maupun penembak dapat memerintah chain gun otomatis M230 30mm dari helm mereka, senapan dapat mengarah ke titik yang dilihat pilot atau gunner.

Helikopter Apache AH-64
Angkatan Darat AS secara resmi menerima AH-64A pertama pada Januari 1984 dan pelatihan pilot pertama dimulai akhir tahun itu. Unit Apache operasional pertama, 7th Battalion, 17th Cavalry Brigade, mulai berlatih pada AH-64A pada bulan April 1986 di Fort Hood, Texas. Dua unit operasional dengan 68 AH-64 pertama dikerahkan ke Eropa pada bulan September 1987 dan mengambil bagian dalam latihan militer besar di sana.

Helikopter Apache AH-64
Selama Operasi Badai Gurun pada 17 Januari 1991, delapan AH-64As yang dipandu oleh empat MH-53 Pave Low IIIs menghancurkan bagian dari jaringan radar Irak dalam serangan pertama operasi itu, yang memungkinkan pesawat untuk menghindari deteksi radar.

Helikopter Apache AH-64
Meskipun efektif dalam pertempuran, AH-64 juga menghadirkan komplikasi logistik yang serius. Temuan yang dilaporkan pada tahun 1990 menyatakan bahwa "unit perawatan tidak dapat mengikuti beban kerja Apache yang tidak terduga ..." Untuk menyediakan suku cadang untuk operasi tempur, Amerika Serikat secara tidak langsung juga "merumahkan" semua AH-64 lainnya dari seluruh dunia; Apache hanya terbang seperlima dari jam terbang yang seharusnya.

Resources
  • Gambar: Fotodom.ru/Rex Features

7 Pesawat Amfibi Soviet : Beberapa Tetap Digunakan Rusia

Sunday, August 12, 2018 Add Comment
Pesawat amfibi Be-200

Beberapa proyek pesawat amfibi Soviet yang ambisius memang tidak pernah lepas landas, tetapi ada yang terus memperkuat Angkatan Laut Rusia - beberapa di antaranya telah berusia lebih dari 50 tahun.

MBR-2

Pesawat amfibi MBR-2

Pesawat MBR-2 secara efektif digunakan selama Perang Dunia II sebagai pesawat pengintai dan pembom. Disebut para pilot sebagai "Sapi" atau "Lumbung", sebagaimana para pilot menyebutnya, adalah mangsa yang mudah bagi musuh mengingat lapisan baja mereka yang buruk dan kecepatannya yang lambat. Itulah sebabnya MBR-2 digunakan utamanya hanya untuk pengeboman di malam hari.

Beriev R-1

Pesawat amfibi Beriev R-1

Pesawat bertenaga turbojet Soviet pertama, R-1, memiliki kecepatan seperti pesawat tempur Amerika FH1 Phantom dan F9F Panther. Namun demikian, karena masalah teknis dan jangkauan tempur yang tidak memadai, pesawat ini tidak pernah diproduksi.

Be-12

Pesawat amfibi Be-12

Veteran ini telah melayani jajaran Angkatan Laut Soviet dan Rusia selama 58 tahun dan merupakan pesawat amfibi tertua di Rusia. Tugas utama Be-12 adalah mencari dan menghancurkan kapal selam musuh. Teknologi pesawat ini sudah tergerus zaman, ia direncanakan untuk diganti atau dimodernisasi sepenuhnya dalam waktu dekat.

A-40

Pesawat amfibi A-40

Dikembangkan pada 1980-an, A-40 menggantikan Be-12 sebagai pesawat amfibi Soviet utama untuk peperangan anti-kapal selam. Proyek ini kandas seiring runtuhnya Uni Soviet, tetapi saat ini Kementerian Pertahanan Rusia sedang mempertimbangkan memberikan A-40 kesempatan kedua.

Be-200

Pesawat amfibi Be-200

Satu-satunya pesawat amfibi reaktif di dunia, Be-200 adalah mesin serbaguna. Ia dapat digunakan untuk operasi pencarian dan penyelamatan (SAR), transportasi penumpang dan kargo, hingga patroli maritim.

Untuk misi pemadaman kebakaran, pesawat ini mampu mengambil hingga 12,5 metrik ton air hanya dalam waktu beberapa detik dengan berjalan di atas permukaan air dan kemudian menjatuhkannya ke api.

VVA-14

Pesawat amfibi VVA-14

Beriev VVA-14 adalah upaya gagal para perancang Soviet untuk menciptakan pesawat amfibi yang mampu lepas landas vertikal. Pesawat ini itu dapat digunakan sebagai pengeboman strategis, dan rencananya dipersenjatai dengan senjata nuklir. Namun, karena tidak memiliki mesin yang tepat untuk lepas landas vertikal, para perancangnya pertama mengubah VVA-14 menjadi kendaraan ground effect, dan kemudian membatalkan proyek secara keseluruhan.

Beriev-2500

Pesawat amfibi Beriev-2500

Dengan jangkauan penerbangan hingga 16 ribu km, pesawat ini rencananya akan digunakan untuk transportasi kargo penerbangan lintas samudra yang jauh. Proyek pesawat amfibi terbesar yang pernah ada, proyek ini tidak pernah benar-benar terrealisasi.

Resources
  • https://www.rbth.com/science-and-tech/328929-russias-army-soviet-seaplanes

Swedia Tandatangani Perjanjian Pembelian Sistem Pertahanan Udara Patriot dengan AS

Sunday, August 12, 2018 Add Comment
Pemerintah Swedia menandatangani perjanjian pembelian sistem rudal pertahanan udara Patriot dengan Amerika Serikat.

Perjanjian secara resmi disebut sebagai Letter of Offer and Acceptance (Surat Penawaran dan Penerimaan), membuka jalan bagi pasukan Patriot Swedia untuk mencapai Kemampuan Operasional Awal dengan cepat.

Swedia menjadi negara ke 16 yang mempercayakan pertahanan udaranya dan pertahanan tingkat rendah pada sistem rudal Patriot dari Raytheon.
Sistem rudal Patriot
Patriot adalah tulang punggung pertahanan udara Eropa terhadap rudal balistik dan jelajah, pesawat canggih dan pesawat tak berawak.

"Swedia dan 15 negara lain mempercayai sistem Patriot kami untuk membela warganya, militer, dan kedaulatannya karena Patriot memiliki rekam jejak yang terbukti mengalahkan rudal balistik dan sejumlah ancaman udara lainnya," kata Wes Kremer, Presiden Raytheon Integrated Defense Systems.

"Patriot di Swedia akan meningkatkan keamanan Eropa Utara dan lebih memperkuat kemitraan Trans-Atlantik dengan menyediakan pendekatan umum untuk Integrated Air and Missile Defence."

Negara-negara Eropa yang saat ini tercatat menggunakan sistem rudal Patriot adalah Jerman, Yunani, Belanda, dan Spanyol. Dalam 12 bulan terakhir Rumania dan Polandia menandatangani Letters of Acceptance untuk Patriot, masing-masing menjadi negara Eropa ke-5 dan ke-6 yang mendapatkan sistem rudal Patriot. (ar)

AS: Rusia dan China Bukan Teman Jika Kembangkan Senjata yang Tak Bisa Ditangkis

Wednesday, August 08, 2018 Add Comment
Senjata hipersonik

Komandan nuklir utama Amerika Serikat (AS) memperingatkan Rusia dan China bahwa Moskow dan Beijing tidak bisa menjadi teman Washington jika mengembangkan senjata hipersonik yang tak bisa ditangkis oleh Washington..

"Anda tidak dapat menyebut mereka (Rusia dan China) teman-teman kita jika mereka membangun senjata yang dapat menghancurkan Amerika Serikat, dan oleh karena itu, kita harus mengembangkan kemampuan untuk menanggapi," kata Jenderal John Hyten, komandan Komando Strategis AS yang mengendalikan komando serangan nuklir Pentagon.

Pernyataan Jenderal Hyten disampaikan di "Space and Missile Defense Symposium" di Huntsville, Alabama, hari Selasa waktu setempat.

Hyten menambahkan bahwa Pentagon memiliki hampir selusin program yang ditugaskan untuk mengembangkan dan mempertahankan diri melawan jenis senjata baru.

"Saya selalu berharap kita mulai (bekerja pada senjata hipersonik) lima tahun lalu atau 10 tahun yang lalu karena kita tidak akan khawatir, tetapi kita tidak (melakukannya), jadi kita harus melangkah sekarang, dan kita bergegas," ujarnya, seperti dikutip CNBC, Rabu (8/8/2018).

Pentagon memberikan Lockheed Martin kontrak senilai USD928 juta pada bulan April untuk pembuatan sejumlah senjata hipersonik yang tidak ditentukan. Sesuai kontrak, Lockheed Martin akan bertanggung jawab untuk merancang, merekayasa, mengintegrasi senjata dan memberikan dukungan logistik.

Senjata hipersonik adalah senjata yang bergerak pada kecepatan Mach 5 atau lima kali lebih cepat daripada kecepatan suara. Itu berarti senjata hipersonik dapat melakukan perjalanan sekitar satu mil per detik.

Peringatan Hyten juga muncul ketika AS terlibat dalam perang dagang dengan China dan sedang berseteru dengan Rusia terkait tuduhan bahwa Moskow ikut campur pemilu Washington.

Hyten, yang sebelumnya menyebut Rusia sebagai ancaman paling signifikan bagi AS. Dia  baru-baru ini menggambarkan skenario yang suram bagi pasukan Amerika jika berhadapan dengan senjata hipersonik Rusia.

"Kami tidak memiliki pertahanan yang dapat menangkis senjata seperti itu terhadap kami," kata Hyten kepada Komite Angkatan Bersenjata Senat AS Maret lalu.

"Baik Rusia dan China secara agresif mengejar kemampuan hipersonik," ujarnya. "Kami telah menyaksikan mereka menguji kemampuan itu."

Presiden Rusia Vladimir Putin pada bulan Maret juga mengumumkan persenjataan nuklir dan hipersonik terbaru Moskow. Dia megambarkan persenjataan baru itu tak terkalahkan.

"Saya ingin memberitahu semua orang yang telah memacu perlombaan senjata selama 15 tahun terakhir, berusaha untuk mendapatkan keuntungan sepihak atas Rusia, memperkenalkan sanksi yang melanggar hukum yang bertujuan untuk menahan pembangunan negara kita; Anda telah gagal menahan Rusia," kata Putin dalam pidatonya saat itu.

Menurut laporan CNBC, dari enam senjata yang diumumkan Putin, dua di antaranya siap untuk tempur pada tahun 2020. Laporan itu bersumber dari intelijen AS.

Meskipun melontarkan peringatan kepada Rusia dan China, Hyten tetap meremehkan kemampuan Putin.

"Apa yang dibicarakan Putin dalam konferensi pers Maret sebelum pemilu di Rusia, semua kemampuan seperti hipersonik, torpedo nuklir, rudal jelajah nuklir, semua hal semacam itu," kata Hyten.

"Tebak, apa? Dia masih belum dapat menemukan kapal selam, dia masih belum dapat mengambil 400 ladang rudal di seluruh negeri, dia masih tidak bisa berbuat apa-apa tentang itu, jadi kemampuan jera kita masih tidak tertandingi dan bisa mendominasi dan dapat menanggapi ancaman apa pun."

Komentar Hyten mencerminkan bahwa kekuatan militer Moskow masih belum sebaik AS. Khususnya, dalam anggaran pertahanan, Rusia belum mampu bersaing dengan anggaran pertahanan AS yang besar.

"Kami adalah kekuatan militer yang dominan di planet ini di setiap wilayah, dan semua orang mengerti itu," kata Hyten. (CNBC)