Minggu ini, Iran Akan Pamerkan Jet Tempur Baru

Monday, August 20, 2018 Add Comment
Jet tempur Qaher 313 Iran
Prototipe jet tempur Qaher 313 Iran selama 'taxi test' pertamanya, 15 April 2017 (Gambar: Wiki Common)
Iran akan mengungkap jet tempur baru minggu depan dan akan terus mengembangkan kemampuan rudal sebagai prioritas utama. Hal itu diungkapkan oleh Menteri Pertahanan Iran, menentang sanksi baru Amerika Serikat (AS) yang ditujukan untuk membatasi program rudal Teheran dan pengaruh regionalnya.

"Sebuah pesawat, yang telah melewati beberapa tahap (pengujian), akan dipresentasikan pada Hari Industri Pertahanan dan orang-orang akan melihat jet tempur itu terbang dari jarak dekat serta peralatan yang digunakan untuk pembuatannya," kata Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Amir Hatami seperti dikutip dari Press TV Iran, Minggu (19/8/2018).

Sekedar informasi, Iran merayakan Hari Industri Pertahanan Nasional pada 22 Agustus.

Menurut laporan itu, jet tempur baru, yang telah lolos "semua tes," akan terbang pada hari Rabu dalam peringatan Hari Industri Pertahanan Iran. Komponen pesawat juga akan dipajang.

Meskipun tidak diketahui jet tempur mana yang Hatami rujuk, tapi diyakini itu adalah Qaher 313 Iran yang mulai diuji tahun lalu.

Jet tempur yang diklaim Iran berteknologi siluman, mesin kembar, dan satu-kursi itu dilaporkan dilengkapi dengan tangki bahan bakar eksternal dan teluk bom internal, serta kemampuan untuk mendarat di landasan pacu pendek. Laporan-laporan Iran setempat mengatakan pesawat itu juga dapat terbang di ketinggian rendah dan terbang di dekat dukungan udara dan misi pengintaian.

Mantan presiden Mahmoud Ahmadinejad mengatakan pada tahun 2013 bahwa membangun jet menunjukkan kehendak Iran untuk "menaklukkan puncak ilmiah," tetapi banyak pakar penerbangan mengatakan ukuran jet itu terlalu kecil bahkan untuk seorang pilot, apalagi untuk membawa muatan senjata pada umumnya.

Terus jalankan program rudal

Selain jet tempur baru, Hatami mengatakan Republik Islam Iran akan terus berinovasi pada program rudal sebagai "prioritas utama."

“Prioritas utama kami adalah pengembangan program rudal kami. Kami berada dalam posisi yang bagus di bidang ini, tetapi kami perlu mengembangkannya,” kata Brigadir Jenderal Amir Hatami.

Menurut Hatami, sistem pertahanan udara "Bavar-373" buatan Iran akan mulai beroperasi pada Maret 2019 dan dapat diproduksi secara massal dan diekspor ke negara-negara yang bersahabat dengan Iran.

Meskipun sanksi baru AS yang dikenakan pada Iran pekan lalu dimaksudkan untuk menekan Teheran atas aktivitas militernya di Timur Tengah dan program rudal balistik, tapi Teheran terus meningkatkan persenjataan rudal.

"Kami beroperasi dalam kerangka strategi Iran berdasarkan pencegahan aktif," kata Hatami, menambahkan bahwa "Iran tidak pernah menginvasi sebuah negara, tetapi musuh harus memahami bahwa jika itu menyerang kami sekali, itu akan dipukuli sepuluh kali."

Kantor Berita Tasnim semi-resmi Iran juga melaporkan angkatan laut negara itu menguji sistem senjata Kamand jarak dekat, yang dilaporkan mampu melibatkan dan menghancurkan target yang berjarak dua kilometer.

Menurut Komandan Angkatan Laut Laksamana Hossein Khanzadi, "pengujian pesisir dan laut dari sistem pertahanan Kamand jarak pendek berhasil dilakukan," dan sistem itu akan dipasang pada kapal yang "melaksanakan misi di perairan yang dalam dan jauh."

Pekan lalu, Hatami meluncurkan generasi baru rudal Fateh jarak pendek, hanya beberapa hari setelah Republik Islam Iran menembakkan rudal balistik Fateh 110. Pada hari Minggu, Fox News melaporkan bahwa Korps Pengawal Revolusi Islam Iran menembakkan generasi ketiga Fateh-110 dalam konfigurasi anti-kapal dari daratan Iran yang melintasi bagian Selat Hormuz, sebelum menghantam lokasi target yang berjarak 100 mil.

Resources
  • Jpost

Rusia Klaim Sukhoi Su-57 Sudah Teruji Perang di Suriah

Monday, August 20, 2018 Add Comment
Sukhoi Su-57

Rusia mengklaim pesawat tempur generasi kelimanya "Sukhoi Su-57" sudah membuktikan dirinya selama misi tempurnya di Suriah, anggota parlemen Rusia Viktor Bondarev mengatakan.

"Su-57 telah berhasil menyelesaikan tahap pertama uji coba negara dan membuktikan semua karakteristik penerbangan yang ditentukan. Ini membuktikan nilainya tidak hanya pada alasan uji coba, tetapi juga dalam operasi tempur nyata," ujar Bondarev, yang menjabat sebagai ketua komite pertahanan dan keamanan parlemen Rusia kepada wartawan.

Dia ingat bahwa prototipe Su-57 dikirim ke pangkalan udara Khmeimim Rusia di Suriah enam bulan lalu. Padahal, militer Moskow kala itu menyatakan, kehadiran dua jet tempur Su-57 di Suriah untuk uji penerbangan, bukan untuk misi tempur.

"Su-57 memiliki potensi besar untuk modernisasi, yang (penggunaannya) akan cukup untuk 50 tahun," katanya. Menurutnya, elektronik yang tersemat dalam pesawat itu dibangun berdasarkan prinsip arsitektur terbuka.

"Faktanya, jet tempur ini memiliki semua yang diperlukan untuk kemudian dikembangkan menjadi pesawat perang tanpa awak yang sepenuhnya otomatis," ujar Bondarev, seperti dikutip TASS, Senin (20/8/2018).

Pesawat tempur kebanggaan Kremlin ini diproduksi oleh United Aircraft Corporation (UAC) Rusia. Presiden UAC, Yuri Slyusar, mengatakan bahwa UAC dan Kementerian Pertahanan Rusia berencana untuk menandatangani kontrak untuk batch pertama jet tempur Su-57 pada akhir musim panas ini.

Jet tempur Su-57 generasi kelima Rusia menampilkan teknologi siluman dengan penggunaan material komposit yang luas. Pesawat ini diklaim mampu mempertahankan kecepatan jelajah supersonik dan dilengkapi dengan peralatan radio elektronik yang paling canggih, termasuk komputer onboard yang kuat yang dianggap sebagai pilot kedua secara elektronik.

Selain itu, sistem radar menyebar di seluruh bodi pesawat. Sistem kontrol onboard pesawat diklaim mampu melibatkan hingga 60 target dan melepaskan 16 tembakan di antaranya secara simultan. Pesawat-pesawat ini diharapkan sudah dioperasikan Angkatan Udara Rusia secara penuh pada tahun depan.

Resources
  • Sindonews

AS Berencana Bekali Angkatan Luar Angkasa dengan Laser

Monday, August 20, 2018 Add Comment
Penembakan senjata laser

Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) "Pentagon" tengah menjajaki pemasangan lebih banyak jaringan satelit yang mengorbit bumi terkait pembentukan cabang militer baru "angkatan luar angkasa."

Jaringan satelit militer ini akan dilengkapi berbagai sensor dan pelacak gerakan seperti sensor inframerah untuk mengunci posisi penerbangan rudal musuh.

Pentagon juga menyiapkan sistem pencegat kinetik baru (new kinetic interceptor) dengan menggandeng raksasa pertahanan AS Raytheon.

Michael Griffin, Wakil Menteri Pertahanan bidang Riset dan Teknik, mendukung pengembangan sistem senjata baru berbasis senjata laser dan sistem sinar partikel (particle beam system) untuk menembak jatuh rudal musuh di luar angkasa.

“Pada dekade berikutnya, saya ingin ada sistem senjata yang bisa dipasang di luar angkasa dan melindungi kita dari serangan strategis musuh,” kata Griffin dalam penjelasan di Kongres pada awal 2018 seperti dilansir Boston Globe pada Sabtu, 18 Agustus 2018. “Teknologi ini berada dalam genggaman kita jika kita fokus mengembangkannya.”

Griffin merupakan veteran dari tim Strategic Defense Initiative pada era pemerintahan Presiden Ronald Reagen pada era 1990an. SDI merupakan sistem pertahanan yang juga disebut sebagai Perang Bintang atau Star Wars, yang bertugas untuk melumpuhkan berbagai serangan musuh yang datang dari luar angkasa.

Seperti diberitakan sebelumnya, Wakil Presiden Mike Pence, seperti dilansir Reuters, mengatakan pemerintah AS menginginkan adanya korps pasukan luar angkasa yang mandiri dan beroperasi pada 2020. Anggota pasukan ini berasal dari angkatan lainnya seperti darat, laut, udara, penjaga pantai dan marinir. Mereka bertugas untuk melindungi sejumlah aset strategis militer AS seperti satelit dan melakukan eksplorasi luar angkasa.

Menurut Boston Globe, para pendukung kuat pembentukan angkatan luar angkasa di AS mendorong dipasangnya sistem senjata laser dan particle-beam di orbit Bumi dalam sepuluh tahun mendatang.

Menurut Senator Ed Markey dari Partai Demokrat, senjata berbasis luar angkasa bakal mendapat respon dari Rusia, China dan negara lainnya. Sehingga, ini bakal mendorong meningkatnya anggaran angkatan luar angkasa. “Kita harus belanja cerdas dan bukannya belanja gila,” kata Markey.

Resources
  • Tempo

Bagaimana Cara Kerja Rudal Balistik Antarbenua?

Monday, August 20, 2018 Add Comment
Rudal balistik Hwasong-14 Korea Utara

Rudal balistik antarbenua atau ICBM (intercontinental ballistic missile) adalah rudal balistik yang dipandu (guided) dengan jangkauan minimal 5.500 kilometer. ICBM utamanya dirancang untuk mengirimkan satu atau lebih hulu ledak nuklir.

Bagaimana cara kerja rudal balistik antarbenua? Jawabannya tergantung pada jenis rudalnya, tetapi sebagian besar rudal ini diluncurkan dari peluncur di darat, baik dari kendaraan peluncur mobile atau dari silo (lokasi peluncuran statis).

Setelah diluncurkan, ICBM akan melakukan perjalanan ke luar angkasa dan akhirnya masuk kembali ke atmosfer Bumi, kemudian jatuh dengan cepat sampai mengenai target.

Hingga saat ini, belum ada negara yang telah meluncurkan ICBM sebagai tindakan serangan terhadap negara lain, meskipun beberapa negara pemilik ICBM masing-masing telah menguji cobanya dalam latihan.

Rudal balistik antarbenua, sesuai dengan namanya, dapat melakukan perjalanan dari satu benua ke benua lain. Setelah diluncurkan, ICBM terbang parabola, seperti lintasan (trajektori) bola bisbol yang terbang di udara. Sama seperti bisbol, ICBM dapat diluncurkan dari berbagai sudut, bahkan dengan sudut yang lurus.

Muatan ICBM akan sangat berpengaruh pada jangkauannya. Semakin besar muatannya, akan semakin mengurangi jangkauannya. Itulah mengapa ICBM akan sangat efisien apabila bermuatan hulu ledak nuklir, yang ringan namun daya ledaknya luar biasa.

Tiga tahap

Saat lepas landas, ICBM memasuki tahap dorongan (boost). Selama tahap ini, roket mengirim ICBM ke udara, mendorongnya ke atas selama sekitar 2 hingga 5 menit hingga mencapai angkasa. ICBM dapat memiliki hingga tiga tahap roket. Masing-masing roket akan dibuang (atau dilepaskan) setelah pembakaran. Dengan kata lain, setelah pembakaran roket tahap pertama berhenti, roket nomor 2 yang melanjutkan pembakaran dan penerbangan, dan seterusnya.

Selain itu, bahan bakar roket ini dapat berupa propelan cair atau padat. Propelan cair umumnya membakar lebih lama dalam tahap dorongan ketimbang roket propelan padat. Tetapi, roket propelan padat akan memberikan energi yang besar dalam waktu yang singkat karena pembakarannya yang lebih cepat.

Baik propelan cair maupun padat akan sama jauhnya dalam mengirimkan roket. Tetapi, bagi negara yang baru mengembangkan ICBM akan lebih menyukai propelan cair karena teknologinya masih lebih mudah dipahami. Ketika sudah berhasil dengan propelan cair, mereka pindah ke propelan padat untuk mendapatkan waktu pembakaran yang lebih singkat. Ini juga untuk menghindari bahaya berurusan dengan propelan cair yang beracun dan mudah terbakar (kecelakaan).

Pada tahap kedua, ICBM memasuki ruang angkasa sesuai lintasan balistiknya. ICBM akan terbang sangat cepat ketika di ruang angkasa, mungkin bisa mencapai 30 ribu km/jam ini karena fakta bahwa tidak ada hambatan udara di luar angkasa.

Lintasan rudal balistik antar benua

Pada tahap ketiga, ICBM kembali memasuki atmosfer bumi dan kemudian mengenai targetnya hanya dalam hitungan beberapa menit. ICBM yang memiliki pendorong roket akan lebih dalam menyesuaikan diri terhadap targetnya. ICBM juga harus memiliki perisai panas yang tepat, karena panas yang intens yang didapati ketika ICBM memasuki kembali atmosfer dapat membakar dan menghancurkannya.

Negara-negara pemilik ICBM - seperti Amerika Serikat, Rusia, China, Korea Utara, dan India - memang belum ada yang menembakkannya dalam serangan yang disengaja terhadap negara lain. Tetapi uji coba sudah menunjukkan bahwa mereka semua mampu melakukannya. Jika negara-negara pemilik ICBM saling serang dengan hulu ledak nuklir, tidak terbayang dampak kerusakan dunia yang akan dibuatnya. (fr)

Ukraina Berhasil Uji Coba Rudal Jelajah Anti-Kapal Neptun

Friday, August 17, 2018 Add Comment
Rudal jelajah anti kapal Neptun

Ukraina berhasil menguji tembak sistem rudal jelajah anti-kapal Neptun di lepas pantai selatan negara itu pada 17 Agustus. Neptun adalah rudal jelajah buatan dalam negeri Ukraina.

Di selatan wilayah Odesa, tahap reguler pengujian rudal jelajah Neptun dilakukan; Sekretaris Keamanan Nasional dan Dewan Pertahanan (NSDC) Ukraina Oleksandr Turchynov turut menghadiri tes.

"Hari ini, selama tahap penting dari tes penerbangan, rudal jelajah produksi Ukraina telah sepenuhnya menyelesaikan program yang direncanakan,"Mr. Turchynov mengatakan dengan menambahkan bahwa target maritim dalam uji coba adalah sejauh 100 km.

Sekretaris NSDC itu menekankan bahwa rudal-rudal dari kelas ini adalah senjata berkekuatan tinggi yang sangat kuat yang “mampu menghancurkan target laut dan darat”.

"Rudal jelajah Ukraina mampu menghadirkan pertahanan yang andal dari Laut Hitam dan pantai Azov, mempengaruhi kapal musuh pada jarak hingga 300 kilometer, jika perlu, bahkan di pelabuhan dimana kapal musuh berbasis", - dia menegaskan.

Menurut Mr. Turchynov, fasilitas militer dan infrastruktur, khususnya, "jembatan strategis dan penyeberangan feri dalam kasus penggunaannya oleh musuh untuk agresi terhadap negara kita" juga dapat dihancurkan dengan bantuan rudal jelajah.

Neptun adalah rudal jelajah anti-kapal subsonik yang dikembangkan oleh Biro Desain Negara Ukraina ‘LUCH’ dari Kyiv. Rudal Neptun akan menggunakan panduan inersia dengan pencari radar aktif untuk menemukan targetnya. Rudal itu diarahkan ke sasarannya pada lintasan terakhir oleh perintah yang diumpankan dari active radar homing head dan altimeter radio.

Rudal Neptun akan diintegrasikan ke dalam peluncur rudal pertahanan pesisir dan kapal rudal modern Ukraina.

Resources
  • Defence Blog

Satelit Baru Rusia adalah Senjata Luar Angkasa?

Thursday, August 16, 2018 Add Comment
Ilustrasi satelit

Ketika Amerika Serikat berniat membentuk Angkatan Luar Angkasa sebagai cabang baru militer, kritikus mengatakan itu adalah langkah yang sia-sia dan tidak perlu, yang hanya menambah birokrasi untuk sesuatu yang tidak menghadirkan ancaman.

Tapi sekarang Departemen Luar Negeri AS menyuarakan keprihatinannya dan mengklaim bahwa ancaman itu sangat nyata - khususnya menunjuk pada "perilaku yang abnormal" dari satelit Rusia.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa perilaku satelit baru Rusia tidak sejalan dengan misi yang dinyatakan. Satelit yang diklaim Rusia dirancang untuk melakukan manuver yang mendekati dan memeriksa satelit lain, telah menarik perhatian pengamat intelijen AS dengan aktivitas mencurigakannya.

Militer dan intelijen AS sangat bergantung pada satelit hampir untuk semua kegiatannya, mulai dari komunikasi dan navigasi hingga spionase, dan ada kekhawatiran kekuatan Rusia dapat menyerang satelit-satelit AS ketika perang untuk mendapatkan keuntungan strategis.

Satelit ini diluncurkan pada 23 Juni 2017 lalu dari Plesetsk Cosmodrone, Rusia. Pemerintah Rusia menggambarkan satelit itu sebagai satelit berukuran kecil yang dirancang untuk berbagai jenis muatan yang misinya adalah untuk memeriksa kondisi satelit-satelit Rusia lainnya.
Satelit inspeksi
Ilustrasi satelit inspeksi. (Kredit: SSL)

Pada tanggal 14 Agustus 2018, Asisten Sekretaris Negara untuk Kontrol, Verifikasi, dan Kepatuhan Senjata Amerika Serikat, Yleem D.S. Poblete, dikutip dari C4ISRNet, mengatakan selama konferensi perlucutan senjata PBB di Jenewa pada hari Selasa: "Pada bulan Oktober tahun lalu, Kementerian Pertahanan Rusia meluncurkan sebuah objek antariksa yang mereka klaim sebagai 'inspektur aparatur luar angkasa'. Tetapi perilakunya di orbit tidak konsisten dengan apa pun yang dilihat sebelumnya dari pemeriksaan orbit atau kemampuan kesadaran situasional ruang angkasa, termasuk aktivitas satelit inspeksi Rusia lainnya. Kami prihatin dengan apa yang tampaknya perilaku sangat tidak normal oleh 'inspektur aparatur ruang angkasa."

Tanpa mengatakannya secara langsung, dapat dipahami bahwa Poblete menyiratkan bahwa objek itu bisa jadi adalah senjata, tetapi AS tidak dapat mengetahuinya dengan pasti karena tidak ada cara untuk memverifikasinya.

Menurut media negara Rusia, satelit induknya adalah Kosmos-2519. Satelit yang lebih kecil "melakukan penerbangan otonom, perubahan orbit, dan inspeksi satelit sebelum kembali ke stasiun pangkalan."

Satelit inspeksi merupakan perkembangan baru dalam dunia teknologi satelit. Satelit mahal dan sering dimaksudkan untuk bertahan selama bertahun-tahun di lingkungan yang tidak bersahabat. Jika ada yang salah, maka akan sulit untuk mendiagnosis masalahnya. Sebuah satelit inspeksi dapat mengawasi satelit yang 'sakit' dan membantu teknisi di lapangan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.

Masalah dengan satelit inspeksi adalah mereka bisa dengan mudah digunakan sebagai senjata. Sebuah satelit yang dapat dengan tepat melakukan manuver ke posisi untuk mengambil gambar satelit lain berarti juga dapat menembakkan laser ke arahnya, menyilaukan sensor optiknya, atau menggunakan lengan robot untuk merusaknya secara fisik. Bahkan bisa ditabrakkan dengan satelit lain, mengeksekusinya ala serangan kamikaze.
Peluncuran roket Soyuz 2.1A
Sebuah roket Soyuz 2.1A yang membawa satelit Lomonosov, Aist-2D dan SamSat-218 terangkat dari landasan peluncuran di kosmodrom Vostochny di luar kota Uglegorsk, di wilayah Amur timur jauh, Rusia pada 28 April 2016. (Kirill Kudryavtsev/Reuters)

Semua ini terjadi karena adanya kekhawatiran AS pada Rusia dan China yang mengembangkan senjata anti-satelit untuk digunakan melawan AS jika terjadi perang. Dalam setiap konflik di masa depan, militer AS akan bertempur ribuan mil jauhnya dari negaranya, membuat mereka sangat bergantung pada satelit untuk berkomunikasi dengan komando di Washington D.C. atau di tempat lain di Amerika Serikat.

Rusia memiliki sistem rudal Nudol anti-satelit berbasis darat, tetapi sistem berbasis darat bergantung pada satelit yang melintas di atas. Menurut Washington Free Beacon, dua sistem senjata anti-satelit Rusia sedang dalam pengembangan, Rudolph dan Tirada-2S, sementara China secara bersamaan mengembangkan satelit, laser, dan rudal anti-satelit.

Apakah ini berarti peperangan satelit tidak dapat dihindari dalam konflik di masa depan? Belum tentu. Tapi semua negara yang menjadi pemain utama ruang angkasa mengakui bahwa satelit adalah aset yang rentan terkena serangan, dan peperangan satelit akan menjadi kasus perusakan strategis.

Militer AS bisa saja kehilangan satelitnya karena suatu serangan, tetapi pemerintah dan bahkan swasta AS memiliki kemampuan meluncurkan satelit pengganti dengan cepat ke orbitnya. Suatu kemampuan diunggulkan dari China maupun Rusia. Dalam hal konflik dimana satelit AS diserang dan mengalami kerusakan, AS akan dengan cepat menggantinya, memberikan AS keunggulan tersendiri. (fr)

Resources
  • https://www.telegraph.co.uk/news/2018/08/15/us-raise-questions-abnormal-russian-satellite-row-space-arms/
  • https://abcnews.go.com/International/us-concerned-russian-satellites-abnormal-behavior/story?id=57206620
  • https://www.space.com/41503-russian-satellite-possible-space-weapon.html
  • https://www.popularmechanics.com/military/weapons/a22739471/is-russias-mysterious-new-satellite-a-space-weapon/

10 Sistem Rudal Pertahanan Udara Terbaik di Dunia

Wednesday, August 15, 2018 Add Comment
Rudal permukaan-ke-udara (SAM), atau juga disebut sebagai rudal darat-ke-udara (GTAM), adalah rudal yang dirancang untuk diluncurkan dari permukaan/darat untuk menghancurkan pesawat atau rudal yang memasuki wilayah pertahanan.

Sistem pertahanan rudal tidak hanya terdiri dari peluncur rudal dan rudal itu sendiri, melainkan terdiri dari berbagai unit seperti unit sensor dan unit komando yang lokasinya bisa saja tidak berdekatan dengan unit peluncur rudal.

Berikut ini adalah Daftar 10 Sistem Rudal Pertahanan Udara Terbaik di Dunia:

10. 2K11 Krug - Uni Soviet

Sistem rudal 2K11 Krug

2K11 Krug (kode NATO: SA-4 Ganef) adalah sistem rudal pertahanan udara jarak menengah buatan Uni Soviet. Negara yang saat ini menggunakannya adalah Armenia, Azerbaijan, Korea Utara, Suriah, Turkmenistan, dan Kirgizstan.

Kecepatan rudalnya mencapai Mach 4 (4.939 km /jam) dan memiliki jangkauan efektif 50-55 km tergantung dari varian. Rudal 2K11 membawa hulu ledak fragmentasi 135 kg dengan ketinggian maksimal penerbangan rudal maksimal 27 kilometer.

9. Barak 8 - India - Israel

Sistem pertahanan udara Barak 8

Barak 8 juga dikenal sebagai LR-SAM atau sebagai MR-SAM adalah rudal permukaan-ke-udara buatan India-Israel, yang tersedia dalam versi sistem berbasis darat maupun laut. Barak 8 dirancang untuk mencegat berbagai ancaman udara termasuk pesawat, helikopter, rudal anti-kapal, dan UAV serta rudal balistik dan rudal jelajah.

Rudal Barak 8 memiliki kecepatan terbang Mach 2 (2.469 km/jam) dengan jangkauan tembak 70 kilometer. Selain Israel dan India, negara lain yang menggunakan Barak 8 adalah Azerbaijan.

8. Tipe 03 Chū-SAM - Jepang

Sistem rudal Tipe 03 Chū-SAM

Sistem rudal permukaan-ke-udara jarak menengah Tipe 03 atau SAM-4 atau Chū-SAM adalah sistem rudal pertahanan udara buatan Jepang yang saat ini dioperasikan oleh Angkatan Darat Pasukan Bela Diri Jepang (JGSDF).

Sasis kendaraan Tipe 03 didasarkan pada truk berat 8x8 Kato Works Ltd / Mitsubishi Heavy Industries NK series. Tipe 03 menggunakan radar active electronically scanned array (AESA). Rudalnya mampu terbang dengan kecepatan Mach 2,5 (3.087 km/jam).

7) 9K37 Buk - Uni Soviet-Rusia

Sistem rudal 9K37 Buk

Sistem rudal pertahanan udara Buk dikembangkan oleh Uni Soviet dan diteruskan oleh Federasi Rusia. Buk dirancang untuk mencegat rudal jelajah, bom pintar, pesawat sayap tetap dan sayap putar (helikopter), dan kendaraan udara tak berawak (UAV).

Sistem peluncur rudal BUK adalah salah satu senjata yang paling efektif dalam sistem persenjataan pertahanan udara (anti-pesawat). Senjata ini berfungsi menghancurkan rudal balistik dan melumpuhkan objek udara di ketinggian hingga 18 kilometer.

Sistem Buk pertama kali masuk dalam koleksi persenjataan Uni Soviet pada 1979. Saat ini angkatan bersenjata Rusia memiliki sekitar 360 unit modifikasi Buk-M2, sementara militer Ukraina memiliki sekitar 50 unit Buk-M1-2. Pada Perang Ossetia Selatan antara Georgia dengan Rusia tahun 2008, misil Buk-lah yang menembak jatuh empat pesawat Rusia.

6. ASTER 30-SAMP/T - Eropa

Sistem rudal ASTER 30-SAMP/T

FSAF SAMP / T adalah sistem rudal pertahanan udara generasi baru yang dikembangkan oleh konsorsium Eropa Eurosam yang dibentuk oleh MBDA Italia, MBDA Prancis, dan Thales. Sistem ini menggunakan rudal Aster 30. Baterai terdiri dari peluncur dengan jumlah rudal variabel dari 8 hingga 48 buah. Rudal Aster akan melindungi situs-situs sensitif dari rudal balistik, rudal jelajah, dan pesawat.

5. NASAMS 2 - Norwegia- Amerika Serikat

Sistem rudal Nasams

The Norwegian Advanced Surface-to-Air Missile System 2 (NASAMS 2) adalah sistem rudal pertahanan udara jarak menengah yang dirancang oleh Kongsberg Defence & Aerospace Swedia dan bersama Raytheon Amerika Serikat. Nasams 2 adalah versi terbaru dari sistem pertahanan udara NASAMS dan telah beroperasi sejak 2007.

NASAMS lebih berfungsi sebagai pelapis sistem pertahanan yang luas karena mudah diintegrasikan lewat radio data link. NASAMS yang mobile untuk meng-cover wilayah lembah yang tidak terjangkau dengan baik oleh radar utama. NASAMS menghadirkan gambar udara real-time yang dapat dibagikan dengan sistem lainnya.

Kelebihan lain dari NASAMS, rudal ini dapat diluncurkan meski radarnya telah dihancurkan musuh karena NASAMS juga menggunakan sumber data eksternal untuk mengunci atau melacak posisi target.

4)HQ-9 - China


HQ-9 adalah rudal pertahanan udara generasi baru menengah ke jarak jauh panjang China. Serupa dengan S-300V Rusia, HQ-9 adalah rudal dua tahap. Tahap pertama memiliki diameter 700 mm dan tahap kedua 560 mm, dengan massa total hampir 2 ton dan panjang 6.8m. Rudal ini membawa hulu ledak 180 kg, memiliki kecepatan maksimum Mach 4,2 (5.186 km/jam) dan memiliki jangkauan maksimum 200 km.

3. David's Sling -Israel - Amerika Serikat

Sistem rudal David's Sling

David's Sling juga sebelumnya dikenal sebagai Magic Wand adalah sistem rudal pertahanan udara Israel yang dikembangkan bersama oleh Israel dan Amerika Serikat.

David's Sling dirancang untuk mencegat pesawat tak berawak, rudal balistik taktis, roket jarak menengah hingga jarak jauh dan rudal jelajah, menembak dengan jangkauan 40 km hingga 300 km dengan kecepatan hingga Mach 7,5.

2) MIM-104 Patriot - Amerika Serikat

Sistem rudal Patriot

MIM-104 Patriot adalah sistem rudal pertahanan udara yang diproduksi oleh kontraktor pertahanan AS Raytheon. Nama Patriot berasal dari komponen radar AN/MPQ-53 sebagai jantung sistem ini yang dikenal sebagai “Phased array Tracking Radar to Intercept on Target” yang bila diakronimkan menjadi Patriot.

Baterai Rudal Patriot atau unit tembak adalah elemen operasi dasar. Biasanya unit ini termasuk pos komando, radar, 8 peluncur dan kendaraan pendukung. Baterai dapat mencegat hingga 8 target secara bersamaan. Jika dimodifikasi, baterai Rudal Patriot dapat dipasang hingga 16 peluncur. Peluncur dapat melacak target hingga 1 kilometer dari radar atau kendaraan pos komando. Sementara untuk pertahanan efektif, baterai Rudal Patriot ditempatkan dengan jarak 30-40 kilometer pada jarak masing-masing unit baterai.

Radar Patriot mampu melacak jet tempur pada jarak 110-130 kilometer, pesawat pembom pada jarak 160-190 kilometer, rudal pada jarak 85-100 kilometer dan hulu ledak rudal di kisaran jarak 60-70 kilometer. Rudal Patriot juga dapat menerima data target dari pos komando pusat atau pesawat pengintai, seperti E-3 Sentry.

1. S-400 Triumph - Rusia

Sistem rudal S-400 Triumph

S-400 Triumph sebelumnya dikenal sebagai S-300PMU-3 adalah sistem senjata pertahanan udara anti pesawat dan rudal. S-400 menggunakan empat rudal jenis rudal tergantung tujuannya: rudal 40N6 (400 km), 48N6 (250 km), 9M96E2 (120 km) dan 9M96E (40 km).

S-400 dapat mencegat semua jenis target udara seperti jet tempur, UAV, rudal balistik dan jelajah dalam kisaran 400 km - 600 km. Mampu melacak 300 target sekaligus dan melumpuhkan 36 target secara bersamaan. S-400 dua kali lebih efektif dibandingkan sistem pertahanan udara Rusia sebelumnya dan dapat disiapkan hanya dalam waktu 5 menit.

Resources
  • Wikipedia
  • Gambar: Wiki Common