Sabtu, Juli 18, 2020

MiG dan Sukhoi Bersama-sama Kembangkan Jet Tempur Generasi Keenam Rusia

Ilustrasi pesawat tempur generasi keenam Rusia
Ilustrasi pesawat tempur generasi keenam Rusia

Perusahaan MiG dan Sukhoi bersama-sama akan mengembangkan pesawat tempur generasi keenam Rusia, Ilya Tarasenko, direktur jenderal MiG dan Sukhoi, mengutip laman RIA Novosti.

"Pesaing kami adalah pabrikan pesawat Amerika dan Eropa. Dan untuk mempertahankan kepemimpinan yang kuat dalam industri ini, kami perlu mengkonsolidasikan kompetensi terbaik yang ada saat ini di MiG dan Sukhoi dan menciptakan pesawat generasi keenam baru. Menggabungkan kemampuan adalah peluang luar biasa untuk membuat terobosan besar. Perusahaan asing tidak lagi memiliki peluang seperti itu," kata Tarasenko.

Menjawab pertanyaan apakah pesawat generasi keenam Rusia nantinya merupakan  pengembangan bersama MiG dan Sukhoi, Tarasenko menjawab dengan tegas. "Ya, itu akan menjadi pengembangan divisi penerbangan militer UAC," jelasnya.

UAC atau United Aircraft Corporation adalah perusahaan penerbangan dan ruang angkasa Rusia. Dengan saham mayoritas milik Pemerintah Rusia, Rusia mengkonsolidasikan perusahaan manufaktur dan aset milik swasta dan milik negara Rusia yang terlibat dalam pembuatan, desain, dan penjualan pesawat militer, sipil, transportasi, dan tak berawak.

Saat ini di Rusia, produksi massal pesawat tempur Su-57 generasi kelima telah dimulai. Pesawat pertama harus sudah diterima Angkatan Udara Rusia tahun ini.

Ilya Tarasenko menerima jabatan sebagai CEO Sukhoi pada Februari tahun ini. Dengan demikian, ia merangkap tiga posisi - selain Sukhoi, Tarasenko memimpin perusahaan MiG, dan juga bertanggung jawab untuk pemasaran dan kerja sama militer-teknis di United Aircraft Corporation.

Baca juga: Rusia Berencana Ekspor Massal Su-57 dan Masuk Pasar Drone Tempur

Mesin hidrogen NK-88 membuka cakrawala baru bagi jet tempur generasi ke-6 Rusia

Pesawat generasi kelima Rusia saat ini sudah terbang, tetapi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak berhenti, sehingga semakin banyak informasi yang muncul tentang pengerjaan proyek-proyek pesawat generasi ke-6. Tetapi agar sebuah pesawat generasi keenam muncul, sebuah mesin baru yang fundamental harus muncul terlebih dahulu.

Saat ini, dunia penerbangan sedang ditantang untuk menciptakan mesin baru yang tidak hanya efektif di atmosfer, tetapi juga memiliki kemampuan untuk pergi ke luar angkasa.

Karena mesin atmosfer yang ada saat ini tidak dapat melakukannya, para ilmuwan kemudian secara aktif mengembangkan hibrida dari mesin roket dan pesawat terbang. Istilah untuk ini adalah mesin hidrogen. Jika mesin hidrogen sukses, penerbangan kriogenik akan segera hadir, dan Rusia akan menjadi yang terdepan untuk konstruksi pesawat terbang generasi keenam.

Penerbangan kriogenik tampak fantastis dan mungkin terkesan mengada-mengada dan sepertinya tidak mungkin tercapai. Tetapi ingatlah fakta bahwa lebih dari 30 tahun yang lalu, Uni Soviet telah menguji pesawat Tu-155 dengan menggunakan mesin hidrogen NK-88.

Pengembangan dan penelitian yang diperoleh sebagai hasil pengujian dari mesin hidrogen NK-88 sebelumnya diletakkan sebagai dasar untuk pengembangan mesin hipersonik.

Sayangnya, runtuhnya Uni Soviet juga turut meruntuhkan proyek-proyek tersebut. Tetapi beban penelitian di masa lalu tetap ada dan belum menghilang, para insinyur Rusia saat ini masih dapat memanfaatkan pencapaian insinyur-insinyur sebelumnya.

Saat ini Rusia secara signifikan lebih banyak berinvestasi dalam pengembangan dan industri pertahanan, dan oleh karena itu ada kemungkinan besar bahwa pengerjaan mesin baru telah lama Rusia dilakukan.

Bisa jadi Rusia setelah ini akan mengumumkan tentang mesin barunya, siapa tahu, mengingat contoh serupa Rusia yang mengumumkan telah berhasil mengembangkan rudal hipersonik.

Baca juga: Rusia Tampilkan Rudal Hipersonik pada MiG-31

Pesawat pembom siluman generasi ke-6 Rusia

Ketika pesawat tempur generasi kelima Su-57 sudah masuk fase produksi dalam jumlah yang jauh lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya, muncul pula laporan pada akhir 2019 lalu bahwa perusahaan pertahanan Rusia juga sedang berfokus pada pengembangan pesawat pembom siluman "generasi keenam."

CEO Tupolev Alexander Konyukhov kala itu mengatakan bahwa ada rencana besar ke depan untuk pengujian dan lebih lanjut mengembangkan pesawat Tu-22M3M, Tu-160 dan Tu-95MS hasil upgrade bersama dengan pekerjaan besar untuk pesawat pembom baru PAK-DA.

Kantor berita Rusia melaporkan bahwa PAK-DA, akan menjalani pengujian awal di Zhukovsky Center. Menurut Wakil Menteri Pertahanan Yuri Borisov, prototipe pertama PAK DA diharapkan selesai pada 2021-2022, penerbangan perdananya dijadwalkan pada 2025-2026, dan pengiriman serial akan dimulai pada 2028-2029.

Jangka waktu yang masih lama ini harus membuat Rusia menjamin pertahanannya dengan memanfaatkan seluruh alutsista mulai dari S-500 hingga Su-57. Sebelum PAK-DA, Rusia tidak lagi mengembangkan pesawat pembom sejak era Uni Soviet.

Pesawat-pesawat pembom strategis dan berkemampuan nuklir Rusia yang ada saat ini seluruhnya merupakan desain era Uni Soviet. PAK-DA akan menggunakan desain yang benar-benar baru.

Saat ini sangat sedikit yang diketahui dari spesifikasi konkret PAK-DA. Namun analisis pertahanan Rusia menyebutkan bahwa kemungkinan jangkauan operasionalnya 12.000 kilometer, dengan muatan hingga 30 ton, dan kecepatan penerbangan subsonik.

Fakta terakhir ini menunjukkan bahwa PAK-DA lebih mengutamakan kemampuan silumannya ketimbang kecepatannya. Dengan pengetahuan saat ini, hampir mustahil untuk membuat pesawat pembom yang membawa banyak rudal yang berkemampuan siluman tapi juga memiliki kecepatan supersonik. Inilah sebabnya mengapa Rusia fokus pada kemampuan silumannya.

PAK-DA akan membawa rudal dengan kecerdasan buatan dengan jangkauan hingga 7.000 km. Rudal semacam itu dapat menganalisis situasi radar udara dan radio dan menentukan arah, ketinggian, dan kecepatannya. Rusia mengklaim sedang bekerja mengembangkan rudal itu.

Rudal-rudal pintar ini, yang konon dapat mengubah target di tengah penerbangannya dan menyesuaikan jalur penerbangan mereka secara mandiri untuk menghindari radar, sedang dikembangkan Rusia. Dan mengingat bahwa PAK-DA mengandalkan kemampuan silumannya, maka hampir pasti rudal itu akan disimpan di ruang senjata internalnya.

PAK-DA disebut-sebut sebagai pengganti Tu-160 dan Tu-22M3, tetapi tampaknya tidak akan diproduksi dalam jumlah besar untuk menjadikannya sebagai tulang punggung kekuatan pembom strategis Rusia.

Rusia pernah mengatakan bahwa pembom Tu-160 dan Tu-22 akan tetap mereka gunakan di masa depan, karena keduanya masing-masing telah mendapatkan upgrade avionik, kualitas hidup, dan perlengkapan persenjataan baru lainnya.

Sebaliknya, tampaknya PAK-DA lebih dirancang untuk mengisi ceruk konflik nuklir intensitas tinggi, untuk penetrasi dalam terhadap sistem pertahanan udara canggih dunia.

Baca juga: 7 Pesawat Pembom Terbaik di Dunia

Pesawat generasi keenam Amerika Serikat

Pada awal Juni lalu, media internet melaporkan bahwa militer AS mulai menguji pesawat baru rahasia di atas Gurun Mojave, yang menurut majalah The Drive Amerika, bisa menjadi musuh ideal untuk sistem pertahanan udara Rusia.

Menurut publikasi The Drive, pesawat seperti itu sudah muncul dalam bingkai fotografi biasa. Namun beberapa hari lalu, mereka berhasil melakukan tes penuh, yang jelas menunjukkan bahwa militer AS sudah mendekati fase tes penerbangan prototipe.

"Di Amerika Serikat di atas gurun Mojave (California), pengujian sistem pesawat rahasia sedang dilakukan, yang dapat membuatnya kebal terhadap rudal Rusia. Kita berbicara tentang dua pesawat, Model 401 dan Proteus, yang terbang bersama pesawat tempur F-15D NASA dan pesawat tanker KC-10. Pada bagian belakang Model 401, terlihat belah ketupat (mungkin radar tersembunyi atau beberapa sensor), dan sistem elektro-optik tertentu dipasang pada Proteus," kata majalah itu.

Jurnalis percaya bahwa kedua pesawat itu tidak berawak dan dikendalikan oleh F-15D NASA, media Rusia melaporkan mengutip The Drive.

Jika argumen para jurnalis itu benar, maka tes tersebut mungkin mengindikasikan bahwa Amerika Serikat hampir membuat pesawat tempur generasi keenam, karena yang terakhir diposisikan sebagai kendaraan udara tak berawak dengan semua kemampuan pesawat tempur penuh.

Baca juga: X-47B, UAV Tempur Siluman Amerika Serikat

Jet tempur generasi keenam Eropa

Menurut laman La Stampa Italia, Italia akan bergabung dalam program pesawat tempur generasi keenam Tempest Inggris.

Italia sedang mencari jet tempur canggih untuk menggantikan armada Eurofighter Typhoon Angkatan Udara mereka di masa depan.

Program Tempest diumumkan selama Farnborough International Airshow 2018. Pemerintah Inggris, melalui Kementerian Pertahanan, telah mengalokasikan 2 miliar pound (2,3 miliar euro) untuk pengembangan awal pesawat tempur generasi keenam tersebut.

Tempest ditujukan untuk menggantikan pesat tempur Typhoon Angkatan Udara Kerajaan Inggris pada tahun 2035 dan untuk bersaing dengan program pesawat tempur generasi baru Prancis-Jerman yang diumumkan selama International Paris Air Show - Le Bourget pada 12 Juli 2017 oleh Angela Merkel dan Emmanuel Macron.

Baca juga: Inggris Perkenalkan Model Jet Tempur Baru "Tempest"

Italia telah menyatakan minatnya sejak program Tempest diumumkan, tetapi sejauh ini negara itu belum pernah merumuskan perjanjian mengenai program tersebut, meskipun beberapa perusahaan Italia bekerja pada proyek itu.

Keanggotaan Italia dalam program Tempest akan membawa beberapa manfaat juga bagi industri Italia karena Leonardo Italia terlibat dalam proyek Inggris itu bersama dengan BAE Systems, Rolls Royce dan MBDA.

Rabu, Juli 15, 2020

Boeing akan Bangun Jet Tempur F-15EX Baru untuk Angkatan Udara AS

F-15EX
Ilustrasi F-15EX dari Boeing

Raksasa penerbangan AS Boeing Company telah menerima kontrak senilai 1,2 miliar dolar AS pada bulan Juli untuk mulai membangun delapan jet tempur F-15EX pertama.

Kontrak menugaskan Boeing untuk membuat desain, pengembangan, integrasi, pembuatan, pengujian, verifikasi, sertifikasi, pengiriman, pemeliharaan, dan modifikasi pesawat F-15EX, termasuk suku cadang, peralatan pendukung, materi pelatihan, data teknis, dan dukungan teknis.

Menariknya, F-15EX akan menggantikan F-15C/D tua Angkatan Udara Amerika Serikat. Delapan pesawat F-15EX disetujui dalam anggaran tahun anggaran 2020 dan 12 lainnya diminta dalam anggaran tahun fiskal 2021. Angkatan Udara AS berencana untuk membeli total 76 pesawat F-15EX selama kurun 5 tahun sesuai program Future Years Defense Program.

"F-15EX adalah cara yang paling terjangkau dan segera untuk menyegarkan kapasitas dan memperbarui kemampuan yang disediakan oleh armada F-15C/D kami yang sudah tua,” kata Jenderal Mike Holmes, komandan Air Combat Command. "F-15EX siap bertarung segera setelah melewati garis."

Pekerjaan untuk F-15EX ini akan dilakukan di St. Louis, Missouri; dan di Pangkalan Angkatan Udara Eglin, Florida, dan diperkirakan akan selesai pada 31 Desember 2023, menurut siaran pers yang dipublikasikan Senin oleh Departemen Pertahanan AS.

F-15EX adalah pesawat tempur dua kursi dengan kemampuan khusus. Pesawat ini memiliki daya angkut besar dan mampu membawa banyak senjata canggih. F-15EX baru nantinya juga akan membutuhkan pelatihan transisi minimal untuk memastikan kelanjutan misi Angkatan Udara AS.

Baca juga: Kala Itu Seorang Pilot F-15 Menembak Jatuh Satelit

F-15EX
Ilustrasi F-15EX dari Boeing

"Ketika sudah diterima, kami berharap pangkalan yang saat ini mengoperasikan F-15 untuk melakukan transisi ke platform EX baru dalam hitungan bulan," kata Holmes.

Perbedaan paling signifikan antara F-15EX dan F-15 standar terletak pada arsitektur Open Mission Systems (OMS). Arsitektur OMS akan memungkinkan penyisipan cepat teknologi pesawat terbaru. F-15EX juga akan memiliki kontrol penerbangan fly-by-wire, sistem peperangan elektronik baru, sistem kokpit canggih, dan sistem misi terbaru dan kemampuan perangkat lunak yang tersedia untuk F-15 yang lama.

Baca juga: F-15 Eagle: Jet Tempur Tua dengan Sejarah Tempur Mengesankan

"Tulang punggung digital, arsitektur OMS, dan kapasitas muatan yang besar dari F-15EX sangat sesuai dengan visi kami untuk peperangan di masa depan," kata Dr. Will Roper, asisten sekretaris Angkatan Udara untuk Akuisisi, Teknologi, dan Logistik. “Sistem yang terus ditingkatkan, dan bagaimana mereka berbagi data antara Angkatan, sangat penting untuk mengalahkan ancaman lanjutan. F-15EX dirancang untuk berkembang sejak hari pertama. "

Delapan pesawat F-15EX pertama akan ditempatkan di Pangkalan Angkatan Udara Eglin, Florida, untuk mendukung upaya pengujian. Pengiriman dua pesawat pertama dijadwalkan untuk kuartal kedua tahun fiskal 21. Enam pesawat sisanya dijadwalkan untuk dikirim di tahun fiskal 23. Angkatan Udara AS menggunakan Strategic Basing Process untuk menentukan lokasi untuk lot pesawat berikutnya.

Senin, Juli 13, 2020

Jerman Luncurkan Tank Challenger 2 Versi Upgrade

Tank Challenger 2

Muncul sebuah video versi baru dari tank tempur utama (MBT) Challenger 2 Inggris dari laman Youtube pabrikan pertahanan jerman Rheinmetall Defense pada 10 Juli lalu.



Angkatan Darat Kerajaan Inggris berencana untuk terus menggunakan tank Challenger 2 setidaknya sampai tahun 2035. Pada tahun 2013 Inggris memulai program modernisasi pada tank ini. Program ini ditugaskan kepada BAE Systems cabang Inggris dan Rheinmetall Jerman sektor darat.

Pada tahun 2018, BAE Systems memperkenalkan versi tank Challenger 2 upgrade yang dijuluki Black Night. BAE Systems memutuskan untuk hanya melakukan perubahan kecil, dengan menekankan pada penggantian sistem kontrol tembak dan peralatan komunikasi. Lambung, turet (kubah), dan mesin tank tetap sama.

Tapi Jerman fokus pada perbuahan lain: dalam proyek ini diusulkan untuk menggunakan turet yang sama sekali baru, yang mampu mengakomodasi perangkat kontrol tembak modern dan senjata lainnya. Manakah dari kedua opsi tersebut yang akhirnya dipilih Angkatan Darat Kerajaan Inggris masih belum diketahui.


Challenger 2 - tank tempur utama Angkatan Darat Britania Raya, juga melayani Angkatan Darat Oman. Tank ini telah digunakan dalam operasi tempur di Kosovo dan Irak. Pada musim semi 2009, BAE Systems mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan produksi Challenger karena kurangnya order pertahanan dari pemerintah Inggris.

Pekerjaan pada tank Challenger 2 dimulai pada 2018

Pada 3 Oktober 2018, perusahaan multinasional Inggris, BAE Systems, yang mengkhususkan diri di bidang pertahanan, keamanan, dan kedirgantaraan, telah mengungkapkan prototipe pertama dari tank Challenger 2 hasil upgrade mereka, yaitu Black Night.

Team Challenger 2 merupakan kemitraan strategis dari beberapa perusahaan pertahanan, yang dipimpin oleh BAE Systems dan dibentuk untuk mengajukan penawaran untuk program MBT Life Extension Project (LEP) Angkatan Darat Inggris.

Yang ditunjuk oleh konsorsium Kementerian Pertahanan Inggris untuk proyek tersebut, terdiri dari BAE Systems Land (Inggris), General Dynamics Land Systems-UK, Leonardo, Safran Electronics & Defense, Moog, QinetiQ, dan General Dynamics Mission Systems-Kanada.

Black Night adalah tank tempur utama Challenger 2 yang dimodifikasi dan ditingkatkan, dilengkapi dengan kemampuan tempur malam yang lebih baik, yang memiliki dua sistem penglihatan malam independen untuk lebih fokus pada target. Ini akan memungkinkan komandan dan penembak di tank untuk beroperasi secara serentak.


Fitur canggih dari Black Night lainnya yang ditawarkan Team Challenger 2 meliputi sistem perlindungan aktif, sistem peringatan berbasis laser dan rudal, sumber daya regeneratif, teknologi pencitraan termal, dan akselerasi tempur yang lebih baik.

Pengembangan dan modernisasi tank Challenger 2 dilakukan BAE Systems di fasilitas kendaraan tempur perusahaan di West Midlands, Inggris.

"Inggris adalah rumah bagi beberapa perusahaan teknik terbaik di dunia, yang telah mendorong batas-batas desain kendaraan tempur dengan Black Night. Kami menyediakan sebagian besar peningkatan ini dari tanah air, namun, kami telah memilih perusahaan-perusahaan pertahanan terbaik dari seluruh dunia untuk berkolaborasi dengan kami juga, termasuk dari Kanada, Prancis dan Jerman yang memiliki teknologi dan keterampilan unik yang telah terbukti. Angkatan Darat Kerajaan Inggris memiliki komitmen kami bahwa kami akan memberikan peningkatan yang paling mampu, dan dengan harga terbaik," Simon Jackson, pemimpin kampanye BAE Systems Team Challenger 2.

Minggu, Juli 12, 2020

Rusia: Turki Mencoba Deteksi Kelemahan S-400 Selama Uji Coba

Peluncur S-400

Militer Turki melakukan tes S-400, ini memungkinkan mereka untuk menilai efektivitas sistem pertahanan udara buatan Rusia itu, dan mungkin untuk menemukan kelemahannya, mantan wakil komandan pasukan pertahanan udara dari Pasukan Darat Uni Soviet, Letnan Jenderal Alexander Luzan.

"Selama pengujian sistem rudal anti-pesawat S-400, militer Turki berhasil mendeteksi objek pesawat dan melakukan peluncuran elektronik. Ini memungkinkan kita untuk secara bersamaan mempelajari fitur aplikasi, mengevaluasi efektivitasnya, mungkin tujuan lain adalah menemukan kelemahannya," kata Luzan kepada RIA Novosti.

Dia menjelaskan bahwa "secara teknis tidak mungkin" untuk mengekstraksi teknologi dari S-400, karena Turki harus mempelajari sistem ini "secara empiris".

Pada November 2019, Turki juga menguji stasiun radar S-400 menggunakan pesawat tempur F-16 AS. Tes divideokan. Amerika Serikat menyatakan kekhawatirannya tentang hal ini.

Kini, fungsionalitas sistem pertahanan udara S-400 Rusia kembali Turki uji pada pesawat tempur AS, yang mendekati pangkalan udara Turki.

Pengujian lulus meskipun ada peringatan AS tentang kemungkinan pengenaan sanksi. Tes senjata serupa terjadi pada musim gugur 2019. Sebelumnya, pembelian S-400 oleh Turki menjadi onak dalam hubungannya dengan AS.

Lokasi militer Turki melakukan tes terbaru S-400 tidak jauh dari Ankara. Mereka dikirim dari pangkalan udara Myurt untuk melawan melawan pesawat tempur F-16 dan F-4 AS, menurut Fighter Jets World.

Portal itu mencatat bahwa pengujian senjata Rusia dimulai pada 4 Juli dan akan berlangsung beberapa bulan - hingga 26 November. Menurut publikasi itu, pihak berwenang Turki mengabaikan peringatan AS tentang kemungkinan pengenaan sanksi dalam hal uji coba rudal pertahanan udara.

Negosiasi Rusia-Turki untuk pengiriman batch kedua S-400 masih berlanjut

Negosiasi antara Rusia dan Turki tentang pengiriman set kedua sistem anti-pesawat Triumph S-400 sedang dalam tahap lanjut.

"Negosiasi sedang berlangsung, ini adalah proses yang melelahkan yang membutuhkan banyak waktu. Tetapi mengingat pembatasan saat ini sehubungan dengan pandemi, kurang pas untuk memprediksi syarat-syarat kesimpulan kontrak ini," kepala Layanan Federal untuk Kerjasama Militer-Teknis (FSMTC) Dmitry Shugaev mengatakan pada 8 Juni lalu.

Pada bulan Mei, Turki blokir akses militer Rusia ke sistem S-400 mereka

Sejak bulan Mei, Turki melarang militer Rusia berada di fasilitas militer di mana penyebaran sistem pertahanan udara S-400 sedang berlangsung, menurut pernyataan Kepala Direktorat Industri Pertahanan Turki, Ismail Demir.

Menurut Demir, kendali atas S-400 sepenuhnya diserahkan kepada militer Turki, dan pemeliharaan kompleks-kompleks ini akan dipercayakan kepada perusahaan-perusahaan Turki.

"Kepala industri pertahanan, Ismail Demir, mengatakan bahwa proses instalasi untuk sistem pertahanan udara S-400, yang tertunda karena coronavirus, sedang berlangsung. Petugas Rusia tidak lagi dapat mengakses baterai S -400," kata Demir. "Proses pemasangan sistem S-400 dilanjutkan, dan beberapa sistem telah dioperasikan. Meskipun ada perjanjian pasokan mencakup item-item seperti pelatihan, pemeliharaan, dan dukungan teknis, personel Rusia tidak akan dapat mengakses baterai S-400 sesuka mereka. Ini adalah garis merah kita. Perusahaan Turki dan Angkatan Udara Turki akan menjadi pihak yang terkait dengan sistem ini," lanjut Demir dalam publikasi berita Miliyet Turki.

Apa sebenarnya alasan militer Turki memblokir akses petugas Rusia ke S-400 Turki tidak diketahui sepenuhnya. Ada ahli yang berpendapat bahwa ini karena kemungkinan risiko bahwa Rusia dapat benar-benar menguasai S-400 Turki, karena negara ini adalah anggota NATO.

Tidak diketahui secara pasti kapan Turki akan menyelesaikan penyebaran S-400, namun, ada informasi yang beredar bahwa proses tersebut dapat berlangsung hingga akhir tahun ini.

Apa dan bagaimana S-400?

S-400 Triumph adalah sistem rudal anti-pesawat jarak jauh dan jarak menengah Rusia. S-400 dirancang untuk menghancurkan semua target udara yang modern dan canggih, termasuk target yang berkecepatan hipersonik.

Menurut analis Barat, S-400, bersama dengan sistem rudal lainnya seperti Iskander OTRK dan sistem rudal anti-kapal pesisir Bastion, memainkan peran kunci dalam konsep baru Angkatan Bersenjata Rusia, yang dikenal di Barat sebagai "Access Denied Zone " (Anti-Akses/Area Denial, A2/AD), yang artinya pasukan NATO tidak bisa berada dan bergerak dalam jangkauan sistem area terbatas A2/AD Rusia tanpa risiko serangan yang mengakibatkan kerusakan yang tidak dapat diterima.

Triumph adalah sebutan untuk versi ekspor. Harga pasar untuk satu divisi dari sistem rudal anti-pesawat S-400 adalah sekitar $ 500 juta.

Karakteristik teknis S-400

Karakteristik kinerja S-400 Triumph adalah: mendeteksi target pada jarak 600 km; menyerang target pada jarak 400 km; kecepatan maksimum target sasaran - 4,8 km/detik; pada saat yang sama dapat menembak 36 target dengan menggunakan hingga 72 rudal; waktu penyebaran sistem dari keadaan penyimpanan - 5-10 menit; waktu untuk membawa sistem ke dalam posisi siap tempur adalah 3 menit.

Bagaimana cara kerja sistem pertahanan udara Triumph ?

S-400 Triumph bukan hanya instalasi untuk meluncurkan rudal, tetapi merupakan seluruh kompleks sistem yang terkoordinasi, yang komponennya diangkut oleh truk-truk mobilitas tinggi kelas berat.

Seluruh proses dari mendeteksi hingga mengeliminasi target terjadi secara otomatis:
  • Sistem radar mendeteksi ratusan target dalam radius 600 km dan menentukan jenisnya
  • Data dikirim ke pos komando (55K6E). Pos komando pada gilirannya mendistribusikan target ke beberapa peluncur (5P85TE2)
  • Setiap pos komando dapat mengendalikan delapan sistem peluncur, yang masing-masingnya membawa hingga 12 peluncur. Mereka, pada gilirannya, menampung empat rudal dengan massa, jangkauan, dan kemampuan yang berbeda
  • Tergantung pada jenis target, sistem S-400 akan memilih rudal yang efisien. S-400 Triumph dipersenjatai dengan rudal dengan massa, jangkauan, dan kemampuan berbeda: 48N6E, 48N6E2, 48N6E3, 9M96E, dan 9M96E2.
  • Rudal jarak jauh (hingga 400 km) mampu menghancurkan target bahkan di luar jangkauan lokator target, yang rudal memiliki kepala pelacak yang unik. Setelah naik, rudal masuk ke mode pencarian.

Jumat, Juli 10, 2020

Jepang : F-35 Dapat Terlihat dari Satelit

F-35A

Departemen Luar Negeri AS telah setuju untuk menjual 105 pesawat tempur generasi kelima F-35 serta peralatan terkait ke Jepang, Departemen di Pentagon untuk Kerjasama Pertahanan dan Keamanan mengungkapkan beberapa waktu lalu.

Tokyo berniat membeli 63 pesawat tempur varian standar F-35A untuk Angkatan Udara dan 42 F-35B yang berkemampuan take-off pendek dam pendaratan vertkal (STOVL), yang dibuat khusus untuk Korps Marinir AS.

Penjualan ini akan berkontribusi pada kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional AS dengan meningkatkan keamanan salah sekutu utamanya Jepang, yang merupakan kekuatan bagi stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik. Untuk kepentingan keamanan nasional AS, membantu Jepang mengembangkan pertahanan militernya adalah hal yang sangat penting bagi AS.

Pemerintah AS juga telah memberi tahu Kongres tentang keputusan ini. Kongres sekarang memiliki waktu 30 hari mempelajari kontrak militer baru ini untuk menyetujui atau menolaknya.

Perlu diperhatikan, ini adalah pembelian kedua pesawat tempur generasi kelima oleh Jepang. Kontrak yang saat ini sedang berjalan adalah untuk pasokan 42 pesawat F-35A oleh Angkatan Udara Jepang.

Baca juga: Berkat F-35, Terjadi Perlombaan Senjata di Asia

Jepang mulai kembangkan pesawat tempur sendiri

Tim khusus untuk mengembangkan penerus pesawat tempur Mitsubishi F-2 Jepang telah dibentuk oleh Badan Pengadaan, Teknologi, dan Logistik Kementerian Pertahanan Jepang, seperti yang dilaporkan media April lalu.

Tim ini dipimpin oleh seorang Mayor Jenderal Angkatan Udara Jepang, dan termasuk di dalamnya sekitar 30 perwira, insinyur, dan pegawai lainnya.

Jepang berencana untuk meluncurkan pesawat tempur generasi berikutnya pada tahun 2035 dan sudah berencana untuk menciptakan infrastruktur pada akhir tahun ini untuk pengembangan bersama dan kerja sama teknis dengan Amerika Serikat atau Inggris.

Menurut persyaratan dari Angkatan Udara Jepang, pesawat tempur baru itu harus memiliki sensor siluman canggih, kemampuan peperangan elektronik (EW) dan kapasitas rudal yang sama atau lebih besar dari pesawat tempur siluman F-35 AS, serta memiliki kemampuan untuk berinteraksi dalam misi bersama dengan unit militer Amerika.

Sekitar 11,1 miliar yen telah dialokasikan untuk pengembangan pesawat tempur terbaru dalam anggaran negara Jepang untuk tahun 2020.

Perlu juga diketahui bahwa Amerika Serikat dan Inggris bersaing untuk menjadi menjadi mitra Jepang dalam pengembangan bersama penerus pesawat tempur F-2. Untuk mengalahkan pesaingnya dalam perjuangan di bidang industri militer Jepang ini, Amerika Serikat setuju untuk mengungkapkan kode program (kode sumber) untuk perangkat lunak pesawat tempur F-35 (atas dasar inilah pesawat tempur baru Jepang akan dibuat), serta untuk kemungkinan mengganti komponen Jepang dalam pesawat tempur baru dengan komponen Amerika.

Baca juga: Mitsubishi F-2 - Jet Tempur Multiperan Jepang

Ilmuwan Jepang sebut F-35 dapat terlihat di satelit

Siluman Amerika Serikat, F-35, dapat dilihat dari satelit, kata profesor Shizuoka Kazuhisa Ogawa pada 6 Juni lalu dalam sebuah wawancara dengan RIA Novosti.

Ogawa, seorang pakar militer yang juga bertugas sebagai penasihat tiga perdana menteri Jepang mencatat bahwa pesawat-pesawat tempur siluman dapat dengan mudah dideteksi dari luar angkasa dengan menggunakan satelit. Tidak terkecuali F-35 Lightning II.

Ogawa menjelaskan bahwa dengan komputer on-board modern, pilot lawan dapat menentukan arah, tinggi, dan kecepatan pesawat siluman menggunakan data satelit.

Kurangnya keunggulan teknologi siluman disebabkan oleh fakta bahwa bahan pesawat menyerap dan menyebarkan gelombang radar yang menabrak pesawat dari depan. Namun, pesawat siluman tidak berdaya bersembunyi dari satelit yang terbang di atasnya.

Baca juga: China Membuat Sendiri Versi Murah dari F-35 Amerika

F-35 Jepang jatuh tahun lalu

Sebuah F-35A milik Angkatan Udara Jepang hilang pada April tahun lalu. Kementerian Pertahanan mengumumkan bahwa pesawat tersebut jatuh dengan merujuk temuan puing-puing yang terlihat dan dikumpulkan oleh kapal dan helikopter pencari beberapa hari setelah kejadian.

Saat itu, aset-aset militer AS juga turut serta dalam pencarian, termasuk pesawat multi-misi Angkatan Laut AS Boeing P-8A Poseidon yang sedang bertugas di Jepang.

Pesawat yang jatuh, yang bernomor seri 79-8705, adalah yang pertama dari 13 F-35A Jepang yang dirakit kala itu oleh fasilitas check out dan perakitan akhir Mitsubishi di Nagoya. Karena kejadian ini, seluruh F-35A hasil rakit Jepang dikenai larangan terbang untuk sementara waktu.

Media lokal melaporkan bahwa kontak dengan pesawat tempur siluman buatan Lockheed Martin itu hilang tepat sebelum jam 7:30 malam. waktu setempat, dengan lokasi terakhir pesawat yang dilaporkan diidentifikasi di atas Samudra Pasifik sekitar 85 mil di sebelah timur kota Misawa di prefektur Aomori, di bagian utara pulau utama Jepang Honshu.

Lembaga penyiaran publik nasional Jepang, NHK, mengutip pejabat Angkatan Udara Jepang, melaporkan bahwa F-35A yang hilang adalah salah satu dari empat F-35A Jepang yang telah lepas landas dari Pangkalan Udara Misawa terdekat untuk misi pelatihan pada pukul 7:00 malam. waktu setempat.

Pesawat dan kapal Angkatan Laut Jepang dengan cepat memulai misi pencarian, dengan Coast Guard Jepang mengirim dua kapal segera setelahnya. Pesawat Angkatan Udara Jepang lainnya, pesawat pencarian dan penyelamatan U-125A dan helikopter Black Hawk UH-60J yang dikerahkan di seluruh pangkalan udara Jepang, juga bergabung dalam upaya pencarian.

Kamis, Juli 09, 2020

Video Kapal Selam Besar Iran Dipindahkan dengan Truk

Pemindahan kapal selam kelas Kilo Iran

Tiga kapal selam kelas Kilo Iran adalah kapal selam paling modern di antara banyak kapal selam angkatan laut mereka. Sebuah video muncul di Twitter yang menunjukkan salah satunya sedang diangkut melalui jalan darat.

Kemampuan servis galangan kapal Iran masih diragukan, dan langkah pemindahan itu tampaknya bukan hal biasa bagi mereka. Tapi yang jelas, salah satu dari tiga kapal selam kelas Kilo Iran sedang tidak beroperasi.

Video memperlihatkan kapal selam kelas Kilo (Project 877) ditempatkan pada low-loader khusus. Meskipun video ini tidak bertanggal, tapi diyakini baru. Video ini juga dipublikasikan media berbahasa Iran seperti Harian Jamejam, setelah diposting di media sosial.


Deskripsi yang disampaikan mengatakan bahwa kapal selam ini sedang menuju (atau di) Bandar Abbas, pangkalan angkatan laut utama di Iran. Ini adalah pangkalan untuk tiga kelas Kilo Angkatan Laut Iran, ditambah sebagian besar kapal perang permukaan utama dan kapal selam cebol.

Iran menerima kelas Kilo dari Rusia pada awal 1990-an. Saat ini ketiganya menjadi kapal selam terbesar dan terkuat di Teluk Persia, asalkan tidak ada kapal selam Angkatan Laut AS atau Kerajaan Inggris di sana.

Kapal selam bertenaga diesel-listrik ini masih dapat diandalkan untuk peperangan saat ini, namun ke depan akan semakin ketinggalan zaman. Kelas Kilo dapat membawa torpedo kelas berat dan memiliki kemampuan anti-kapal selam yang sederhana.

Kelas Kilo Iran telah dirombak dan dirawat sendiri oleh Iran. Dan kemampuan ketiganya mungkin telah ditingkatkan selama bertahun-tahun. Namun Iran mengalami kesulitan mempertahankan beberapa fitur asli, seperti lapisan anechoic. Ini adalah ubin karet yang mengurangi kebisingan, faktor penting dalam kemampuan siluman kapal selam. Kapal selam dalam video tampaknya kehilangan sebagian lapisan ubin ini, yang biasanya menutupi bagian luar kapal.

Baca juga: Kekuatan Kapal Selam Iran Salah Satu yang Terkuat di Dunia
Baca juga: 4 Senjata Andalan Iran Bila Terjadi Perang

Kapal selam kelas Kilo Iran
Kapal selam kelas Kilo Iran

Meskipun memindahkan kapal selam melalui darat bukanlah hal yang unik, tapi tetap saja itu bukan hal biasa. Pada umumnya kita sering melihat kapal selam yang dipindahkan ke pantai untuk menjadi kapal museum, atau pemindahan selama konstruksi.

Kelas Kilo memiliki panjang 70 m, lebar 9,7 m dan bobot benaman (saat menyelam) sekitar 3.000 ton lebih. Jadi kapal selam ini tidak mudah dipindahkan melalui jalan darat. Ini juga menunjukkan bahwa kapal selam Iran ini tidak bisa dipindahkan melalui air, entah karena alasan apa, baik dengan tenaganya sendiri atau dengan cara ditarik. Bahkan untuk perawatan rutin mereka biasanya dipindahkan melalui air. Iran memiliki dok kering di Bandar Abbas di mana kapal selam Kelas Kilo secara rutin dirombak di sana.

Titik terang untuk usaha pemindahan kapal selam ini diyakini adalah di galangan kapal di dekat Bostanu. Analis pertahanan Joseph Dempsey dari Institut Internasional untuk Studi Strategis (IISS) menggunakan citra satelit untuk mengidentifikasi kapal selam kelas Kilo di sana dari Februari-Maret tahun ini. Kemungkinan benar kapal selam itu.

Kapal selam kelas Kilo di Bostanu tampak juga telah digambarkan dalam siaran pers pemerintah Iran pada akhir Mei, meskipun tidak ada rincian lebih lanjut.

Galangan kapal berjarak sekitar 15 mil ke barat di sepanjang pantai dari Bandar Abbas dan dihubungkan oleh jalanan yang baik. Iran banyak melakukan pekerjaan pada kapal selam dan kapal perang lainnya di sana. Dan lokasinya dekat dengan kapal tongkang target Iran yang dirancang agar terlihat seperti kapal induk kelas Nimitz Angkatan Laut AS.

Kisah pasti di balik langkah Iran ini belum jelas. Dan seperti biasanya sering tidak terungkap. Tetapi analis pertahanan dunia terus mengawasi dengan cermat untuk mencari tahu tentang apa saja kegiatan dan kesiapan Angkatan Laut Iran.*

Rabu, Juli 08, 2020

Kala Itu Seorang Pilot F-15 Menembak Jatuh Satelit

F-15 menembakkan rudal ASAT
Peluncuran rudal ASAT (anti-satelit) pada 13 September 1985. (USAF / Paul Reynolds)

Pada 13 September 1985, seorang pilot tes F-15, Mayor Wilbert D. "Doug" Pearson, berangkat dari Pangkalan Angkatan Udara Edwards, California, Amerika Serikat (AS), untuk sebuah misi yang akan menjadikannya sebagai orang pertama dalam sejarah penerbangan.

Dinamai sebagai "Celestial Eagle Flight," misi itu memerintahkan Pearson untuk terbang melakukan pendakian vertikal dekat hingga lebih dari 35.000 kaki (10.668 m) menggunakan pesawat tempur F-15A yang dimodifikasi, untuk menembakkan rudal sepanjang 18 kaki (5,5 m) dan berat 2.700 pon (1.225 kg), ke ruang angkasa dan "membunuh" satelit usang pada ketinggian 340 mil (547 km - sekitar setinggi yang bisa diterbangkan pesawat ulang-alik).

Misi itu adalah puncak dari program pengembangan dan pengujian selama enam tahun untuk rudal anti-satelit (ASAT). Penerbangan itu mengharuskan Pearson untuk tiba pada titik dan waktu yang tepat di kisaran Pacific Missile Test Range, dan menembakkan rudal ASM-135A ASAT secara otomatis dari perut pesawatnya, membidik laboratorium surya Solwind P78-1 seberat 2.000 pound (907 kg), yang diluncurkan pada tahun 1979.

Senjata di ruang angkasa masih kontroversial, bahkan hingga hari ini terus dikembangkan. Begitu juga usaha untuk menembak jatuh satelit, terutama di komunitas sains, karena meskipun satelit itu tidak lagi beroperasi, masih dapat memberikan data berharga. Tapi itu cerita lain.

F-15 membawa rudal ASAT
F-15A yang membawa rudal ASM-135 ASAT. (USAF
F-15 menembakkan rudal ASAT
Peluncuran rudal ASAT (anti-satelit) pada 13 September 1985. (USAF / Paul Reynolds)

Mencapai kecepatan supersonik di Mach 1.2 (1.470 km/jam), Mayor Pearson melakukan pendakian 3.8g, 65 derajat, melambat hingga tepat di bawah Mach 1 (1.225 km/jam), sebelum akhirnya menembakkan rudal pada ketinggian 38.100 kaki (11.613 m), sekitar 200 mil (322 km) sebelah barat Pangkalan Angkatan Udara Vandenberg.

Rudal itu berpisah dari roket pendorong setelah tahap pertama, dan kemudian didorong kendaraan homing miniatur dengan sensor inframerah ke ruang angkasa mencegat satelit, memakukan target dengan kecepatan akhir 15.000 mph (24.140 km/jam) dan menandai pembunuhan satelit pertama kali dalam sejarah oleh rudal yang diluncurkan dari pesawat tempur.

Diketahui, alasan AS mengembangkan program dan misi ini adalah untuk mengonter Uni Soviet yang memiliki kemampuan kuat dalam meluncurkan dan menyebarkan satelit-satelit mini untuk memata-matai keberadaan pasukan militer AS, terutama kapal perang di laut.

Baca juga: Rusia Menguji Rudal Anti-Satelit 'Direct-Ascent'
Baca juga: MiG-31 Rusia Bawa Senjata Anti Satelit?
Baca juga: Satelit Baru Rusia adalah Senjata Luar Angkasa?

Rudal ASAT
Rudal ASAT anti-satelit di Space Gallery di Museum Nasional Angkatan Udara AS di Dayton, Ohio. Rudal ini pada akhirnya tidak pernah masuk produksi dan tidak pernah melayani militer AS. (USAF/Ken LaRock)

Pada awalnya Angkatan Udara AS ingin memodifikasi 20 buah F-15 untuk melakukan hal yang sama, tetapi karena biaya yang mahal dan masalah teknis lainnya, program akhirnya dihentikan pada tahun 1988 (setelah F-15 sudah dimodifikasi tentu saja).

Berdasar keterangan dari Angkatan Udara AS, pesawat itu, F-15A dengan register 76-0084, adalah F-15 ke-275 yang diproduksi dari jalur perakitan McDonnell Douglas di St. Louis, dan pesawat itu terbang pertama kali pada Hari Veteran pada tahun 1977.

F-15 kala itu memiliki banyak keunggulan dari semua pesawat tempur, dan cukup besar dan kuat sehingga bisa membawa rudal yang cukup besar. Memiliki kemampuan navigasi yang baik, sangat andal, dan dapat beroperasi dari banyak pangkalan udara, F-15 merupakan pilihan yang sempurna.

Baca juga: F-15 Eagle, Salah Satu yang Terbaik dari AS
Baca juga: F-15 Eagle: Jet Tempur Tua dengan Sejarah Tempur Mengesankan

Pilot Pearson
Mayor Jenderal Doug Pearson, kiri, dan Kapten Todd Pearson, kanan, sesaat sebelum Kapten Pearson terbang untuk memperingati misi Celestial Eagle 13 September 2007. (USAF / Erik Hofmeyer)

Pesawat bersejarah itu pensiun di Pusat Pemeliharaan dan Regenerasi Aerospace "Boneyard" di Pangkalan Angkatan Udara Davis Monthan sejak tahun 2009. Pearson sendiri pada akhirnya menjadi Komandan Pusat Tes Penerbangan Angkatan Udara AS dengan pangkat terakhir mayor jenderal. Putra Pearson, Todd Pearson juga mengikuti jejak sang ayah sebagai penerbang F-15.