Thursday, August 16, 2018

Satelit Baru Rusia adalah Senjata Luar Angkasa?

Ilustrasi satelit

Ketika Amerika Serikat berniat membentuk Angkatan Luar Angkasa sebagai cabang baru militer, kritikus mengatakan itu adalah langkah yang sia-sia dan tidak perlu, yang hanya menambah birokrasi untuk sesuatu yang tidak menghadirkan ancaman.

Tapi sekarang Departemen Luar Negeri AS menyuarakan keprihatinannya dan mengklaim bahwa ancaman itu sangat nyata - khususnya menunjuk pada "perilaku yang abnormal" dari satelit Rusia.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa perilaku satelit baru Rusia tidak sejalan dengan misi yang dinyatakan. Satelit yang diklaim Rusia dirancang untuk melakukan manuver yang mendekati dan memeriksa satelit lain, telah menarik perhatian pengamat intelijen AS dengan aktivitas mencurigakannya.

Militer dan intelijen AS sangat bergantung pada satelit hampir untuk semua kegiatannya, mulai dari komunikasi dan navigasi hingga spionase, dan ada kekhawatiran kekuatan Rusia dapat menyerang satelit-satelit AS ketika perang untuk mendapatkan keuntungan strategis.

Satelit ini diluncurkan pada 23 Juni 2017 lalu dari Plesetsk Cosmodrone, Rusia. Pemerintah Rusia menggambarkan satelit itu sebagai satelit berukuran kecil yang dirancang untuk berbagai jenis muatan yang misinya adalah untuk memeriksa kondisi satelit-satelit Rusia lainnya.
Satelit inspeksi
Ilustrasi satelit inspeksi. (Kredit: SSL)

Pada tanggal 14 Agustus 2018, Asisten Sekretaris Negara untuk Kontrol, Verifikasi, dan Kepatuhan Senjata Amerika Serikat, Yleem D.S. Poblete, dikutip dari C4ISRNet, mengatakan selama konferensi perlucutan senjata PBB di Jenewa pada hari Selasa: "Pada bulan Oktober tahun lalu, Kementerian Pertahanan Rusia meluncurkan sebuah objek antariksa yang mereka klaim sebagai 'inspektur aparatur luar angkasa'. Tetapi perilakunya di orbit tidak konsisten dengan apa pun yang dilihat sebelumnya dari pemeriksaan orbit atau kemampuan kesadaran situasional ruang angkasa, termasuk aktivitas satelit inspeksi Rusia lainnya. Kami prihatin dengan apa yang tampaknya perilaku sangat tidak normal oleh 'inspektur aparatur ruang angkasa."

Tanpa mengatakannya secara langsung, dapat dipahami bahwa Poblete menyiratkan bahwa objek itu bisa jadi adalah senjata, tetapi AS tidak dapat mengetahuinya dengan pasti karena tidak ada cara untuk memverifikasinya.

Menurut media negara Rusia, satelit induknya adalah Kosmos-2519. Satelit yang lebih kecil "melakukan penerbangan otonom, perubahan orbit, dan inspeksi satelit sebelum kembali ke stasiun pangkalan."

Satelit inspeksi merupakan perkembangan baru dalam dunia teknologi satelit. Satelit mahal dan sering dimaksudkan untuk bertahan selama bertahun-tahun di lingkungan yang tidak bersahabat. Jika ada yang salah, maka akan sulit untuk mendiagnosis masalahnya. Sebuah satelit inspeksi dapat mengawasi satelit yang 'sakit' dan membantu teknisi di lapangan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.

Masalah dengan satelit inspeksi adalah mereka bisa dengan mudah digunakan sebagai senjata. Sebuah satelit yang dapat dengan tepat melakukan manuver ke posisi untuk mengambil gambar satelit lain berarti juga dapat menembakkan laser ke arahnya, menyilaukan sensor optiknya, atau menggunakan lengan robot untuk merusaknya secara fisik. Bahkan bisa ditabrakkan dengan satelit lain, mengeksekusinya ala serangan kamikaze.
Peluncuran roket Soyuz 2.1A
Sebuah roket Soyuz 2.1A yang membawa satelit Lomonosov, Aist-2D dan SamSat-218 terangkat dari landasan peluncuran di kosmodrom Vostochny di luar kota Uglegorsk, di wilayah Amur timur jauh, Rusia pada 28 April 2016. (Kirill Kudryavtsev/Reuters)

Semua ini terjadi karena adanya kekhawatiran AS pada Rusia dan China yang mengembangkan senjata anti-satelit untuk digunakan melawan AS jika terjadi perang. Dalam setiap konflik di masa depan, militer AS akan bertempur ribuan mil jauhnya dari negaranya, membuat mereka sangat bergantung pada satelit untuk berkomunikasi dengan komando di Washington D.C. atau di tempat lain di Amerika Serikat.

Rusia memiliki sistem rudal Nudol anti-satelit berbasis darat, tetapi sistem berbasis darat bergantung pada satelit yang melintas di atas. Menurut Washington Free Beacon, dua sistem senjata anti-satelit Rusia sedang dalam pengembangan, Rudolph dan Tirada-2S, sementara China secara bersamaan mengembangkan satelit, laser, dan rudal anti-satelit.

Apakah ini berarti peperangan satelit tidak dapat dihindari dalam konflik di masa depan? Belum tentu. Tapi semua negara yang menjadi pemain utama ruang angkasa mengakui bahwa satelit adalah aset yang rentan terkena serangan, dan peperangan satelit akan menjadi kasus perusakan strategis.

Militer AS bisa saja kehilangan satelitnya karena suatu serangan, tetapi pemerintah dan bahkan swasta AS memiliki kemampuan meluncurkan satelit pengganti dengan cepat ke orbitnya. Suatu kemampuan diunggulkan dari China maupun Rusia. Dalam hal konflik dimana satelit AS diserang dan mengalami kerusakan, AS akan dengan cepat menggantinya, memberikan AS keunggulan tersendiri. (fr)

Resources
  • https://www.telegraph.co.uk/news/2018/08/15/us-raise-questions-abnormal-russian-satellite-row-space-arms/
  • https://abcnews.go.com/International/us-concerned-russian-satellites-abnormal-behavior/story?id=57206620
  • https://www.space.com/41503-russian-satellite-possible-space-weapon.html
  • https://www.popularmechanics.com/military/weapons/a22739471/is-russias-mysterious-new-satellite-a-space-weapon/