Tampilkan postingan dengan label Fakta dan Analisa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fakta dan Analisa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Juli 18, 2020

MiG dan Sukhoi Bersama-sama Kembangkan Jet Tempur Generasi Keenam Rusia

Ilustrasi pesawat tempur generasi keenam Rusia
Ilustrasi pesawat tempur generasi keenam Rusia

Perusahaan MiG dan Sukhoi bersama-sama akan mengembangkan pesawat tempur generasi keenam Rusia, Ilya Tarasenko, direktur jenderal MiG dan Sukhoi, mengutip laman RIA Novosti.

"Pesaing kami adalah pabrikan pesawat Amerika dan Eropa. Dan untuk mempertahankan kepemimpinan yang kuat dalam industri ini, kami perlu mengkonsolidasikan kompetensi terbaik yang ada saat ini di MiG dan Sukhoi dan menciptakan pesawat generasi keenam baru. Menggabungkan kemampuan adalah peluang luar biasa untuk membuat terobosan besar. Perusahaan asing tidak lagi memiliki peluang seperti itu," kata Tarasenko.

Menjawab pertanyaan apakah pesawat generasi keenam Rusia nantinya merupakan  pengembangan bersama MiG dan Sukhoi, Tarasenko menjawab dengan tegas. "Ya, itu akan menjadi pengembangan divisi penerbangan militer UAC," jelasnya.

UAC atau United Aircraft Corporation adalah perusahaan penerbangan dan ruang angkasa Rusia. Dengan saham mayoritas milik Pemerintah Rusia, Rusia mengkonsolidasikan perusahaan manufaktur dan aset milik swasta dan milik negara Rusia yang terlibat dalam pembuatan, desain, dan penjualan pesawat militer, sipil, transportasi, dan tak berawak.

Saat ini di Rusia, produksi massal pesawat tempur Su-57 generasi kelima telah dimulai. Pesawat pertama harus sudah diterima Angkatan Udara Rusia tahun ini.

Ilya Tarasenko menerima jabatan sebagai CEO Sukhoi pada Februari tahun ini. Dengan demikian, ia merangkap tiga posisi - selain Sukhoi, Tarasenko memimpin perusahaan MiG, dan juga bertanggung jawab untuk pemasaran dan kerja sama militer-teknis di United Aircraft Corporation.

Baca juga: Rusia Berencana Ekspor Massal Su-57 dan Masuk Pasar Drone Tempur

Mesin hidrogen NK-88 membuka cakrawala baru bagi jet tempur generasi ke-6 Rusia

Pesawat generasi kelima Rusia saat ini sudah terbang, tetapi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak berhenti, sehingga semakin banyak informasi yang muncul tentang pengerjaan proyek-proyek pesawat generasi ke-6. Tetapi agar sebuah pesawat generasi keenam muncul, sebuah mesin baru yang fundamental harus muncul terlebih dahulu.

Saat ini, dunia penerbangan sedang ditantang untuk menciptakan mesin baru yang tidak hanya efektif di atmosfer, tetapi juga memiliki kemampuan untuk pergi ke luar angkasa.

Karena mesin atmosfer yang ada saat ini tidak dapat melakukannya, para ilmuwan kemudian secara aktif mengembangkan hibrida dari mesin roket dan pesawat terbang. Istilah untuk ini adalah mesin hidrogen. Jika mesin hidrogen sukses, penerbangan kriogenik akan segera hadir, dan Rusia akan menjadi yang terdepan untuk konstruksi pesawat terbang generasi keenam.

Penerbangan kriogenik tampak fantastis dan mungkin terkesan mengada-mengada dan sepertinya tidak mungkin tercapai. Tetapi ingatlah fakta bahwa lebih dari 30 tahun yang lalu, Uni Soviet telah menguji pesawat Tu-155 dengan menggunakan mesin hidrogen NK-88.

Pengembangan dan penelitian yang diperoleh sebagai hasil pengujian dari mesin hidrogen NK-88 sebelumnya diletakkan sebagai dasar untuk pengembangan mesin hipersonik.

Sayangnya, runtuhnya Uni Soviet juga turut meruntuhkan proyek-proyek tersebut. Tetapi beban penelitian di masa lalu tetap ada dan belum menghilang, para insinyur Rusia saat ini masih dapat memanfaatkan pencapaian insinyur-insinyur sebelumnya.

Saat ini Rusia secara signifikan lebih banyak berinvestasi dalam pengembangan dan industri pertahanan, dan oleh karena itu ada kemungkinan besar bahwa pengerjaan mesin baru telah lama Rusia dilakukan.

Bisa jadi Rusia setelah ini akan mengumumkan tentang mesin barunya, siapa tahu, mengingat contoh serupa Rusia yang mengumumkan telah berhasil mengembangkan rudal hipersonik.

Baca juga: Rusia Tampilkan Rudal Hipersonik pada MiG-31

Pesawat pembom siluman generasi ke-6 Rusia

Ketika pesawat tempur generasi kelima Su-57 sudah masuk fase produksi dalam jumlah yang jauh lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya, muncul pula laporan pada akhir 2019 lalu bahwa perusahaan pertahanan Rusia juga sedang berfokus pada pengembangan pesawat pembom siluman "generasi keenam."

CEO Tupolev Alexander Konyukhov kala itu mengatakan bahwa ada rencana besar ke depan untuk pengujian dan lebih lanjut mengembangkan pesawat Tu-22M3M, Tu-160 dan Tu-95MS hasil upgrade bersama dengan pekerjaan besar untuk pesawat pembom baru PAK-DA.

Kantor berita Rusia melaporkan bahwa PAK-DA, akan menjalani pengujian awal di Zhukovsky Center. Menurut Wakil Menteri Pertahanan Yuri Borisov, prototipe pertama PAK DA diharapkan selesai pada 2021-2022, penerbangan perdananya dijadwalkan pada 2025-2026, dan pengiriman serial akan dimulai pada 2028-2029.

Jangka waktu yang masih lama ini harus membuat Rusia menjamin pertahanannya dengan memanfaatkan seluruh alutsista mulai dari S-500 hingga Su-57. Sebelum PAK-DA, Rusia tidak lagi mengembangkan pesawat pembom sejak era Uni Soviet.

Pesawat-pesawat pembom strategis dan berkemampuan nuklir Rusia yang ada saat ini seluruhnya merupakan desain era Uni Soviet. PAK-DA akan menggunakan desain yang benar-benar baru.

Saat ini sangat sedikit yang diketahui dari spesifikasi konkret PAK-DA. Namun analisis pertahanan Rusia menyebutkan bahwa kemungkinan jangkauan operasionalnya 12.000 kilometer, dengan muatan hingga 30 ton, dan kecepatan penerbangan subsonik.

Fakta terakhir ini menunjukkan bahwa PAK-DA lebih mengutamakan kemampuan silumannya ketimbang kecepatannya. Dengan pengetahuan saat ini, hampir mustahil untuk membuat pesawat pembom yang membawa banyak rudal yang berkemampuan siluman tapi juga memiliki kecepatan supersonik. Inilah sebabnya mengapa Rusia fokus pada kemampuan silumannya.

PAK-DA akan membawa rudal dengan kecerdasan buatan dengan jangkauan hingga 7.000 km. Rudal semacam itu dapat menganalisis situasi radar udara dan radio dan menentukan arah, ketinggian, dan kecepatannya. Rusia mengklaim sedang bekerja mengembangkan rudal itu.

Rudal-rudal pintar ini, yang konon dapat mengubah target di tengah penerbangannya dan menyesuaikan jalur penerbangan mereka secara mandiri untuk menghindari radar, sedang dikembangkan Rusia. Dan mengingat bahwa PAK-DA mengandalkan kemampuan silumannya, maka hampir pasti rudal itu akan disimpan di ruang senjata internalnya.

PAK-DA disebut-sebut sebagai pengganti Tu-160 dan Tu-22M3, tetapi tampaknya tidak akan diproduksi dalam jumlah besar untuk menjadikannya sebagai tulang punggung kekuatan pembom strategis Rusia.

Rusia pernah mengatakan bahwa pembom Tu-160 dan Tu-22 akan tetap mereka gunakan di masa depan, karena keduanya masing-masing telah mendapatkan upgrade avionik, kualitas hidup, dan perlengkapan persenjataan baru lainnya.

Sebaliknya, tampaknya PAK-DA lebih dirancang untuk mengisi ceruk konflik nuklir intensitas tinggi, untuk penetrasi dalam terhadap sistem pertahanan udara canggih dunia.

Baca juga: 7 Pesawat Pembom Terbaik di Dunia

Pesawat generasi keenam Amerika Serikat

Pada awal Juni lalu, media internet melaporkan bahwa militer AS mulai menguji pesawat baru rahasia di atas Gurun Mojave, yang menurut majalah The Drive Amerika, bisa menjadi musuh ideal untuk sistem pertahanan udara Rusia.

Menurut publikasi The Drive, pesawat seperti itu sudah muncul dalam bingkai fotografi biasa. Namun beberapa hari lalu, mereka berhasil melakukan tes penuh, yang jelas menunjukkan bahwa militer AS sudah mendekati fase tes penerbangan prototipe.

"Di Amerika Serikat di atas gurun Mojave (California), pengujian sistem pesawat rahasia sedang dilakukan, yang dapat membuatnya kebal terhadap rudal Rusia. Kita berbicara tentang dua pesawat, Model 401 dan Proteus, yang terbang bersama pesawat tempur F-15D NASA dan pesawat tanker KC-10. Pada bagian belakang Model 401, terlihat belah ketupat (mungkin radar tersembunyi atau beberapa sensor), dan sistem elektro-optik tertentu dipasang pada Proteus," kata majalah itu.

Jurnalis percaya bahwa kedua pesawat itu tidak berawak dan dikendalikan oleh F-15D NASA, media Rusia melaporkan mengutip The Drive.

Jika argumen para jurnalis itu benar, maka tes tersebut mungkin mengindikasikan bahwa Amerika Serikat hampir membuat pesawat tempur generasi keenam, karena yang terakhir diposisikan sebagai kendaraan udara tak berawak dengan semua kemampuan pesawat tempur penuh.

Baca juga: X-47B, UAV Tempur Siluman Amerika Serikat

Jet tempur generasi keenam Eropa

Menurut laman La Stampa Italia, Italia akan bergabung dalam program pesawat tempur generasi keenam Tempest Inggris.

Italia sedang mencari jet tempur canggih untuk menggantikan armada Eurofighter Typhoon Angkatan Udara mereka di masa depan.

Program Tempest diumumkan selama Farnborough International Airshow 2018. Pemerintah Inggris, melalui Kementerian Pertahanan, telah mengalokasikan 2 miliar pound (2,3 miliar euro) untuk pengembangan awal pesawat tempur generasi keenam tersebut.

Tempest ditujukan untuk menggantikan pesat tempur Typhoon Angkatan Udara Kerajaan Inggris pada tahun 2035 dan untuk bersaing dengan program pesawat tempur generasi baru Prancis-Jerman yang diumumkan selama International Paris Air Show - Le Bourget pada 12 Juli 2017 oleh Angela Merkel dan Emmanuel Macron.

Baca juga: Inggris Perkenalkan Model Jet Tempur Baru "Tempest"

Italia telah menyatakan minatnya sejak program Tempest diumumkan, tetapi sejauh ini negara itu belum pernah merumuskan perjanjian mengenai program tersebut, meskipun beberapa perusahaan Italia bekerja pada proyek itu.

Keanggotaan Italia dalam program Tempest akan membawa beberapa manfaat juga bagi industri Italia karena Leonardo Italia terlibat dalam proyek Inggris itu bersama dengan BAE Systems, Rolls Royce dan MBDA.

Senin, Juli 13, 2020

Jerman Luncurkan Tank Challenger 2 Versi Upgrade

Tank Challenger 2

Muncul sebuah video versi baru dari tank tempur utama (MBT) Challenger 2 Inggris dari laman Youtube pabrikan pertahanan jerman Rheinmetall Defense pada 10 Juli lalu.



Angkatan Darat Kerajaan Inggris berencana untuk terus menggunakan tank Challenger 2 setidaknya sampai tahun 2035. Pada tahun 2013 Inggris memulai program modernisasi pada tank ini. Program ini ditugaskan kepada BAE Systems cabang Inggris dan Rheinmetall Jerman sektor darat.

Pada tahun 2018, BAE Systems memperkenalkan versi tank Challenger 2 upgrade yang dijuluki Black Night. BAE Systems memutuskan untuk hanya melakukan perubahan kecil, dengan menekankan pada penggantian sistem kontrol tembak dan peralatan komunikasi. Lambung, turet (kubah), dan mesin tank tetap sama.

Tapi Jerman fokus pada perbuahan lain: dalam proyek ini diusulkan untuk menggunakan turet yang sama sekali baru, yang mampu mengakomodasi perangkat kontrol tembak modern dan senjata lainnya. Manakah dari kedua opsi tersebut yang akhirnya dipilih Angkatan Darat Kerajaan Inggris masih belum diketahui.


Challenger 2 - tank tempur utama Angkatan Darat Britania Raya, juga melayani Angkatan Darat Oman. Tank ini telah digunakan dalam operasi tempur di Kosovo dan Irak. Pada musim semi 2009, BAE Systems mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan produksi Challenger karena kurangnya order pertahanan dari pemerintah Inggris.

Pekerjaan pada tank Challenger 2 dimulai pada 2018

Pada 3 Oktober 2018, perusahaan multinasional Inggris, BAE Systems, yang mengkhususkan diri di bidang pertahanan, keamanan, dan kedirgantaraan, telah mengungkapkan prototipe pertama dari tank Challenger 2 hasil upgrade mereka, yaitu Black Night.

Team Challenger 2 merupakan kemitraan strategis dari beberapa perusahaan pertahanan, yang dipimpin oleh BAE Systems dan dibentuk untuk mengajukan penawaran untuk program MBT Life Extension Project (LEP) Angkatan Darat Inggris.

Yang ditunjuk oleh konsorsium Kementerian Pertahanan Inggris untuk proyek tersebut, terdiri dari BAE Systems Land (Inggris), General Dynamics Land Systems-UK, Leonardo, Safran Electronics & Defense, Moog, QinetiQ, dan General Dynamics Mission Systems-Kanada.

Black Night adalah tank tempur utama Challenger 2 yang dimodifikasi dan ditingkatkan, dilengkapi dengan kemampuan tempur malam yang lebih baik, yang memiliki dua sistem penglihatan malam independen untuk lebih fokus pada target. Ini akan memungkinkan komandan dan penembak di tank untuk beroperasi secara serentak.


Fitur canggih dari Black Night lainnya yang ditawarkan Team Challenger 2 meliputi sistem perlindungan aktif, sistem peringatan berbasis laser dan rudal, sumber daya regeneratif, teknologi pencitraan termal, dan akselerasi tempur yang lebih baik.

Pengembangan dan modernisasi tank Challenger 2 dilakukan BAE Systems di fasilitas kendaraan tempur perusahaan di West Midlands, Inggris.

"Inggris adalah rumah bagi beberapa perusahaan teknik terbaik di dunia, yang telah mendorong batas-batas desain kendaraan tempur dengan Black Night. Kami menyediakan sebagian besar peningkatan ini dari tanah air, namun, kami telah memilih perusahaan-perusahaan pertahanan terbaik dari seluruh dunia untuk berkolaborasi dengan kami juga, termasuk dari Kanada, Prancis dan Jerman yang memiliki teknologi dan keterampilan unik yang telah terbukti. Angkatan Darat Kerajaan Inggris memiliki komitmen kami bahwa kami akan memberikan peningkatan yang paling mampu, dan dengan harga terbaik," Simon Jackson, pemimpin kampanye BAE Systems Team Challenger 2.

Minggu, Juli 12, 2020

Rusia: Turki Mencoba Deteksi Kelemahan S-400 Selama Uji Coba

Peluncur S-400

Militer Turki melakukan tes S-400, ini memungkinkan mereka untuk menilai efektivitas sistem pertahanan udara buatan Rusia itu, dan mungkin untuk menemukan kelemahannya, mantan wakil komandan pasukan pertahanan udara dari Pasukan Darat Uni Soviet, Letnan Jenderal Alexander Luzan.

"Selama pengujian sistem rudal anti-pesawat S-400, militer Turki berhasil mendeteksi objek pesawat dan melakukan peluncuran elektronik. Ini memungkinkan kita untuk secara bersamaan mempelajari fitur aplikasi, mengevaluasi efektivitasnya, mungkin tujuan lain adalah menemukan kelemahannya," kata Luzan kepada RIA Novosti.

Dia menjelaskan bahwa "secara teknis tidak mungkin" untuk mengekstraksi teknologi dari S-400, karena Turki harus mempelajari sistem ini "secara empiris".

Pada November 2019, Turki juga menguji stasiun radar S-400 menggunakan pesawat tempur F-16 AS. Tes divideokan. Amerika Serikat menyatakan kekhawatirannya tentang hal ini.

Kini, fungsionalitas sistem pertahanan udara S-400 Rusia kembali Turki uji pada pesawat tempur AS, yang mendekati pangkalan udara Turki.

Pengujian lulus meskipun ada peringatan AS tentang kemungkinan pengenaan sanksi. Tes senjata serupa terjadi pada musim gugur 2019. Sebelumnya, pembelian S-400 oleh Turki menjadi onak dalam hubungannya dengan AS.

Lokasi militer Turki melakukan tes terbaru S-400 tidak jauh dari Ankara. Mereka dikirim dari pangkalan udara Myurt untuk melawan melawan pesawat tempur F-16 dan F-4 AS, menurut Fighter Jets World.

Portal itu mencatat bahwa pengujian senjata Rusia dimulai pada 4 Juli dan akan berlangsung beberapa bulan - hingga 26 November. Menurut publikasi itu, pihak berwenang Turki mengabaikan peringatan AS tentang kemungkinan pengenaan sanksi dalam hal uji coba rudal pertahanan udara.

Negosiasi Rusia-Turki untuk pengiriman batch kedua S-400 masih berlanjut

Negosiasi antara Rusia dan Turki tentang pengiriman set kedua sistem anti-pesawat Triumph S-400 sedang dalam tahap lanjut.

"Negosiasi sedang berlangsung, ini adalah proses yang melelahkan yang membutuhkan banyak waktu. Tetapi mengingat pembatasan saat ini sehubungan dengan pandemi, kurang pas untuk memprediksi syarat-syarat kesimpulan kontrak ini," kepala Layanan Federal untuk Kerjasama Militer-Teknis (FSMTC) Dmitry Shugaev mengatakan pada 8 Juni lalu.

Pada bulan Mei, Turki blokir akses militer Rusia ke sistem S-400 mereka

Sejak bulan Mei, Turki melarang militer Rusia berada di fasilitas militer di mana penyebaran sistem pertahanan udara S-400 sedang berlangsung, menurut pernyataan Kepala Direktorat Industri Pertahanan Turki, Ismail Demir.

Menurut Demir, kendali atas S-400 sepenuhnya diserahkan kepada militer Turki, dan pemeliharaan kompleks-kompleks ini akan dipercayakan kepada perusahaan-perusahaan Turki.

"Kepala industri pertahanan, Ismail Demir, mengatakan bahwa proses instalasi untuk sistem pertahanan udara S-400, yang tertunda karena coronavirus, sedang berlangsung. Petugas Rusia tidak lagi dapat mengakses baterai S -400," kata Demir. "Proses pemasangan sistem S-400 dilanjutkan, dan beberapa sistem telah dioperasikan. Meskipun ada perjanjian pasokan mencakup item-item seperti pelatihan, pemeliharaan, dan dukungan teknis, personel Rusia tidak akan dapat mengakses baterai S-400 sesuka mereka. Ini adalah garis merah kita. Perusahaan Turki dan Angkatan Udara Turki akan menjadi pihak yang terkait dengan sistem ini," lanjut Demir dalam publikasi berita Miliyet Turki.

Apa sebenarnya alasan militer Turki memblokir akses petugas Rusia ke S-400 Turki tidak diketahui sepenuhnya. Ada ahli yang berpendapat bahwa ini karena kemungkinan risiko bahwa Rusia dapat benar-benar menguasai S-400 Turki, karena negara ini adalah anggota NATO.

Tidak diketahui secara pasti kapan Turki akan menyelesaikan penyebaran S-400, namun, ada informasi yang beredar bahwa proses tersebut dapat berlangsung hingga akhir tahun ini.

Apa dan bagaimana S-400?

S-400 Triumph adalah sistem rudal anti-pesawat jarak jauh dan jarak menengah Rusia. S-400 dirancang untuk menghancurkan semua target udara yang modern dan canggih, termasuk target yang berkecepatan hipersonik.

Menurut analis Barat, S-400, bersama dengan sistem rudal lainnya seperti Iskander OTRK dan sistem rudal anti-kapal pesisir Bastion, memainkan peran kunci dalam konsep baru Angkatan Bersenjata Rusia, yang dikenal di Barat sebagai "Access Denied Zone " (Anti-Akses/Area Denial, A2/AD), yang artinya pasukan NATO tidak bisa berada dan bergerak dalam jangkauan sistem area terbatas A2/AD Rusia tanpa risiko serangan yang mengakibatkan kerusakan yang tidak dapat diterima.

Triumph adalah sebutan untuk versi ekspor. Harga pasar untuk satu divisi dari sistem rudal anti-pesawat S-400 adalah sekitar $ 500 juta.

Karakteristik teknis S-400

Karakteristik kinerja S-400 Triumph adalah: mendeteksi target pada jarak 600 km; menyerang target pada jarak 400 km; kecepatan maksimum target sasaran - 4,8 km/detik; pada saat yang sama dapat menembak 36 target dengan menggunakan hingga 72 rudal; waktu penyebaran sistem dari keadaan penyimpanan - 5-10 menit; waktu untuk membawa sistem ke dalam posisi siap tempur adalah 3 menit.

Bagaimana cara kerja sistem pertahanan udara Triumph ?

S-400 Triumph bukan hanya instalasi untuk meluncurkan rudal, tetapi merupakan seluruh kompleks sistem yang terkoordinasi, yang komponennya diangkut oleh truk-truk mobilitas tinggi kelas berat.

Seluruh proses dari mendeteksi hingga mengeliminasi target terjadi secara otomatis:
  • Sistem radar mendeteksi ratusan target dalam radius 600 km dan menentukan jenisnya
  • Data dikirim ke pos komando (55K6E). Pos komando pada gilirannya mendistribusikan target ke beberapa peluncur (5P85TE2)
  • Setiap pos komando dapat mengendalikan delapan sistem peluncur, yang masing-masingnya membawa hingga 12 peluncur. Mereka, pada gilirannya, menampung empat rudal dengan massa, jangkauan, dan kemampuan yang berbeda
  • Tergantung pada jenis target, sistem S-400 akan memilih rudal yang efisien. S-400 Triumph dipersenjatai dengan rudal dengan massa, jangkauan, dan kemampuan berbeda: 48N6E, 48N6E2, 48N6E3, 9M96E, dan 9M96E2.
  • Rudal jarak jauh (hingga 400 km) mampu menghancurkan target bahkan di luar jangkauan lokator target, yang rudal memiliki kepala pelacak yang unik. Setelah naik, rudal masuk ke mode pencarian.

Jumat, Juli 10, 2020

Jepang : F-35 Dapat Terlihat dari Satelit

F-35A

Departemen Luar Negeri AS telah setuju untuk menjual 105 pesawat tempur generasi kelima F-35 serta peralatan terkait ke Jepang, Departemen di Pentagon untuk Kerjasama Pertahanan dan Keamanan mengungkapkan beberapa waktu lalu.

Tokyo berniat membeli 63 pesawat tempur varian standar F-35A untuk Angkatan Udara dan 42 F-35B yang berkemampuan take-off pendek dam pendaratan vertkal (STOVL), yang dibuat khusus untuk Korps Marinir AS.

Penjualan ini akan berkontribusi pada kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional AS dengan meningkatkan keamanan salah sekutu utamanya Jepang, yang merupakan kekuatan bagi stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik. Untuk kepentingan keamanan nasional AS, membantu Jepang mengembangkan pertahanan militernya adalah hal yang sangat penting bagi AS.

Pemerintah AS juga telah memberi tahu Kongres tentang keputusan ini. Kongres sekarang memiliki waktu 30 hari mempelajari kontrak militer baru ini untuk menyetujui atau menolaknya.

Perlu diperhatikan, ini adalah pembelian kedua pesawat tempur generasi kelima oleh Jepang. Kontrak yang saat ini sedang berjalan adalah untuk pasokan 42 pesawat F-35A oleh Angkatan Udara Jepang.

Baca juga: Berkat F-35, Terjadi Perlombaan Senjata di Asia

Jepang mulai kembangkan pesawat tempur sendiri

Tim khusus untuk mengembangkan penerus pesawat tempur Mitsubishi F-2 Jepang telah dibentuk oleh Badan Pengadaan, Teknologi, dan Logistik Kementerian Pertahanan Jepang, seperti yang dilaporkan media April lalu.

Tim ini dipimpin oleh seorang Mayor Jenderal Angkatan Udara Jepang, dan termasuk di dalamnya sekitar 30 perwira, insinyur, dan pegawai lainnya.

Jepang berencana untuk meluncurkan pesawat tempur generasi berikutnya pada tahun 2035 dan sudah berencana untuk menciptakan infrastruktur pada akhir tahun ini untuk pengembangan bersama dan kerja sama teknis dengan Amerika Serikat atau Inggris.

Menurut persyaratan dari Angkatan Udara Jepang, pesawat tempur baru itu harus memiliki sensor siluman canggih, kemampuan peperangan elektronik (EW) dan kapasitas rudal yang sama atau lebih besar dari pesawat tempur siluman F-35 AS, serta memiliki kemampuan untuk berinteraksi dalam misi bersama dengan unit militer Amerika.

Sekitar 11,1 miliar yen telah dialokasikan untuk pengembangan pesawat tempur terbaru dalam anggaran negara Jepang untuk tahun 2020.

Perlu juga diketahui bahwa Amerika Serikat dan Inggris bersaing untuk menjadi menjadi mitra Jepang dalam pengembangan bersama penerus pesawat tempur F-2. Untuk mengalahkan pesaingnya dalam perjuangan di bidang industri militer Jepang ini, Amerika Serikat setuju untuk mengungkapkan kode program (kode sumber) untuk perangkat lunak pesawat tempur F-35 (atas dasar inilah pesawat tempur baru Jepang akan dibuat), serta untuk kemungkinan mengganti komponen Jepang dalam pesawat tempur baru dengan komponen Amerika.

Baca juga: Mitsubishi F-2 - Jet Tempur Multiperan Jepang

Ilmuwan Jepang sebut F-35 dapat terlihat di satelit

Siluman Amerika Serikat, F-35, dapat dilihat dari satelit, kata profesor Shizuoka Kazuhisa Ogawa pada 6 Juni lalu dalam sebuah wawancara dengan RIA Novosti.

Ogawa, seorang pakar militer yang juga bertugas sebagai penasihat tiga perdana menteri Jepang mencatat bahwa pesawat-pesawat tempur siluman dapat dengan mudah dideteksi dari luar angkasa dengan menggunakan satelit. Tidak terkecuali F-35 Lightning II.

Ogawa menjelaskan bahwa dengan komputer on-board modern, pilot lawan dapat menentukan arah, tinggi, dan kecepatan pesawat siluman menggunakan data satelit.

Kurangnya keunggulan teknologi siluman disebabkan oleh fakta bahwa bahan pesawat menyerap dan menyebarkan gelombang radar yang menabrak pesawat dari depan. Namun, pesawat siluman tidak berdaya bersembunyi dari satelit yang terbang di atasnya.

Baca juga: China Membuat Sendiri Versi Murah dari F-35 Amerika

F-35 Jepang jatuh tahun lalu

Sebuah F-35A milik Angkatan Udara Jepang hilang pada April tahun lalu. Kementerian Pertahanan mengumumkan bahwa pesawat tersebut jatuh dengan merujuk temuan puing-puing yang terlihat dan dikumpulkan oleh kapal dan helikopter pencari beberapa hari setelah kejadian.

Saat itu, aset-aset militer AS juga turut serta dalam pencarian, termasuk pesawat multi-misi Angkatan Laut AS Boeing P-8A Poseidon yang sedang bertugas di Jepang.

Pesawat yang jatuh, yang bernomor seri 79-8705, adalah yang pertama dari 13 F-35A Jepang yang dirakit kala itu oleh fasilitas check out dan perakitan akhir Mitsubishi di Nagoya. Karena kejadian ini, seluruh F-35A hasil rakit Jepang dikenai larangan terbang untuk sementara waktu.

Media lokal melaporkan bahwa kontak dengan pesawat tempur siluman buatan Lockheed Martin itu hilang tepat sebelum jam 7:30 malam. waktu setempat, dengan lokasi terakhir pesawat yang dilaporkan diidentifikasi di atas Samudra Pasifik sekitar 85 mil di sebelah timur kota Misawa di prefektur Aomori, di bagian utara pulau utama Jepang Honshu.

Lembaga penyiaran publik nasional Jepang, NHK, mengutip pejabat Angkatan Udara Jepang, melaporkan bahwa F-35A yang hilang adalah salah satu dari empat F-35A Jepang yang telah lepas landas dari Pangkalan Udara Misawa terdekat untuk misi pelatihan pada pukul 7:00 malam. waktu setempat.

Pesawat dan kapal Angkatan Laut Jepang dengan cepat memulai misi pencarian, dengan Coast Guard Jepang mengirim dua kapal segera setelahnya. Pesawat Angkatan Udara Jepang lainnya, pesawat pencarian dan penyelamatan U-125A dan helikopter Black Hawk UH-60J yang dikerahkan di seluruh pangkalan udara Jepang, juga bergabung dalam upaya pencarian.

Senin, Juli 06, 2020

Seberapa Tangguh Kapal-kapal Induk China?

Kapal induk Liaoning
Kapal induk Liaoning China

Mampukah mereka melawan Amerika?

Sementara salah satu kapal induk Amerika Serikat, USS Theodore Roosevelt tengah sibuk menghadapi wabah virus korona yang sekarang telah menjadi mematikan, salah satu kapal induk China berlayar melewati Taiwan untuk unjuk kekuatan. Meskipun Taiwan sudah menggegas jet tempurnya untuk memantau dan mencegat, itu mungkin bukan hal yang bisa diterima Angkatan Laut AS.

China saat ini mengoperasikan dua kapal induk dengan kapal induk ketiga masih berada di galangan kapal, dan yang keempat masih direncanakan. Tapi seperti apakah program kapal induk China dan bagaimana kekuatannya?

Kapal induk kemarin digunakan hari ini
China saat ini memiliki dua kapal induk, dengan kapal induk yang ketiga masih dalam konstruksi awal, dan yang keempat direncanakan pembangunannya pada pertengahan 2020 atau 2030-an.

Kapal induk pertama mereka, Liaoning ditugaskan oleh Angkatan Laut China (PLAN) pada tahun 2012, meskipun lunas kapal ini pertama kali diletakkan pada awal 1990-an. Liaoning sebenarnya kapal induk Ukraina yang belum selesai, diwarisi dari Uni Soviet, yang kemudian dijual ke China.

Kapal induk kedua China, Tipe 002, pada dasarnya adalah tiruan dari Liaoning, meskipun memang menampilkan beberapa peningkatan tambahan seperti peningkatan radar, dan penambahan kapasitas pesawat tempur. Seperti halnya Liaoning, kapal induk Tipe 002 memiliki "ski jump" besar di atas haluan untuk membantu meluncurkan pesawat tempur ke udara.

Baca juga: Kerja Keras China Membangun Kapal Induk Pertamanya
Baca juga: Kisah Xu Zengping yang Membelikan Kapal Induk untuk Angkatan Laut China

Kapal induk Shandong China
Kapal induk Shandong (Tipe 002) China

Tipe 003
Ukuran Tipe 003 akan lebih besar daripada Tipe 002 dan Liaoning, dan memiliki sistem bantuan peluncuran ketapel yang mirip dengan apa yang digunakan kapal induk Amerika Serikat — dan dengan demikian kemungkinan Tipe 003 tidak lagi menggunakan platform peluncuran dengan "ski jump".

Dalam sebuah wawancara dengan laman The National Interest, seorang pakar kemampuan angkatan laut China mengatakan bahwa: "Kapal ketiga akan merupakan ketapel uap dan peralatan penangkap hidraulik yang akan memungkinkan China untuk meluncurkan pesawat dengan muatan bom yang lebih berat dan menempuh jarak yang lebih jauh."

Ahli lain setuju, mengatakan bahwa: "Itu (Tipe 003) juga kemungkinan akan lebih besar dari Tipe 001 atau Liaoning, memungkinkannya untuk mengangkut lebih banyak pesawat. PLAN juga ingin memperluas jangkauan pesawat berbasis kapal induk mereka, dan yang lebih penting, mereka harus mampu meluncurkan pesawat peringatan dini dan peperangan elektronik serta pesawat-pesawat pembom tempur yang lebih besar yang dapat membawa lebih banyak senjata. Mereka membutuhkan ketapel dan alat tangkap untuk mengerahkan pesawat-pesawat jenis ini. Jadi lebih banyak pesawat, dan lebih bersenjata."

Baca juga: Kapal Induk Ketiga China Sekelas Kapal Induk Nimitz AS
Baca juga: 5 Pesawat Tempur Kapal Induk Terbaik dalam Sejarah

Desain kapal induk Tipe 003 China
Desain kapal induk Tipe 003 China

Tipe 004
Jika sudah selesai, Tipe 004 akan menjadi yang paling canggih dari seluruh kapal induk China dan akan dianggap sebagai kapal induk generasi ketiga. Selain kemampuan peluncuran elektromagnetik, Tipe 004 akan menjadi kapal induk pertama di PLAN yang akan menggunakan tenaga nuklir. Tipe 004 juga akan memiliki output daya yang cukup untuk menggunakan senjata railgun dan laser yang saat ini sedang dalam pengembangan dan pengujian.

China dilaporkan menghabiskan lebih dari $ 3 miliar untuk meneliti reaktor nuklir garam cair unik yang dapat digunakan untuk menggerakkan Tipe 004. Konon menghasilkan lebih banyak panas, yang dapat dikonversi menjadi listrik, dan hanya menghasilkan sedikit radiasi sebagai reaktor bertenaga uranium.

Peletakan lunas Tipe 004 diharapkan pada akhir 2020-an atau setelahnya

Baca juga: China Siap Lengkapi Kapal Perusak dengan Railgun Elektromagnetik

Kapal induk masa depan China
China jelas masih harus menempuh jalan panjang. Dua kapal induk yang PLAN operasikan saat ini desainnya berdasarkan teknologi 1980-an yang sama sekali tidak dapat disejajarkan dengan kapal induk nuklir modern saat ini. Tapi tetap saja, China telah mengalami kemajuan pesat. Jika Tipe 003 dan Tipe 004 nantinya sesuai seperti yang diproyeksikan para analis barat dan seperti yang diklaim oleh China — maka PLAN akan mampu memproyeksikan kekuatannya ke belahan bumi mana pun seperti halnya Amerika. (NI)

Minggu, Juli 05, 2020

Desain Mengesankan Pesawat Pembom Nuklir Swedia yang Terlupakan

Desain Saab 36

Swedia menginginkan pesawat pembom nuklir untuk mempertahankan diri. Ini adalah sejarah dari program pesawat pembom nuklir Swedia.

Setelah Perang Dunia II berakhir, Swedia memprakarsai program nuklir rahasia - dan juga berencana memiliki pesawat pembom nuklir berkecepatan supersonik.

Nuklir untuk Perdamaian
Pasca Perang Dunia II, negara-negara Eropa dihantui kekuatan Uni Soviet. Seperti negara-negara pasca perang lainnya, Swedia juga ingin melindungi dirinya dari invasi Soviet - dan memutuskan untuk membuat senjata nuklir untuk memastikan keamanan wilayahnya.

Awalnya, Swedia berusaha memperoleh keahlian senjata nuklir dari luar negeri. Amerika Serikat, sebagai ahli nuklir pertama di dunia dan penjamin keamanan Eropa, adalah mitra yang logis.

Pada hari-hari awal Perang Dingin, Amerika Serikat giat mempromosikan tenaga nuklir untuk produksi energi - konsep "Atoms for Peace" dari Presiden Eisenhower. Amerika hanya mau mentransfer materi dan pengetahuan nuklir ke negara lain dengan syarat bahwa penelitian dan pengembangan nuklir hanya untuk tujuan damai, tidak untuk senjata. Karena alasan ini, Swedia pun menolak.

Membeli senjata nuklir langsung dari Amerika Serikat juga bukan merupakan pilihan yang menarik bagi Swedia.

Beruntung bagi Swedia, tanah Swedia mengandung serpihan yang mengandung Uranium dalam jumlah berlimpah.

Pengembangan pembom nuklir
Pada era 1950-an, Swedia memiliki bahan fisil yang cukup untuk membuat bom nuklir dalam waktu enam bulan. Dan itu jelas membutuhkan pesawat untuk mengirimkannya - muncullah desain Saab 36.

Saab 36 adalah pesawat pembom supersonik bermesin ganda. Saab-36 memiliki sayap delta, dan terbang di kisaran kecepatan Mach 2+. Ketinggian terbang harus 18.000 meter atau 60.000 kaki.

Saab 36 harus berurusan dengan beberapa batasan desain yang akan memengaruhi muatannya.

Desainer di Saab khawatir bahwa senjata yang melekat secara eksternal pada badan pesawat atau sayap akan menimbulkan hambatan, sehingga menurunkan kinerja jet. Kecepatan Mach 2+ yang tinggi juga akan menghasilkan panas dalam jumlah besar yang dapat merusak senjata - atau lebih buruk menyebabkan senjata "mati" atau meledak secara tidak sengaja.

Bom harus disimpan secara internal di ruang senjata tertutup, jauh dari suhu tinggi yang berpotensi bahaya. Ruang senjata internal akan sangat mahal, dan hanya akan ada ruang untuk muatan 800 kilogram, atau 1.800 pon, dan bom nuklir yang jatuh bebas tentu mengurangi kemanjuran dan tujuan pesawat pembom itu sendiri, dan membatasi penggunaannya pada sistem pengiriman senjata taktis daripada sebagai pencegah strategis.

Pada akhirnya, seiring dihentikannya program nuklir Swedia pada tahun 1968, program pengembangan Saab 36 juga terhenti. Gambar desainnya menunjukkan Saab 36 dengan dua mesin jet yang terintegrasi di sayap delta.

Meskipun pesawat pembom Saab 36 tidak pernah diproduksi, namun pekerjaan pada Saab 36 turut berkontribusi untuk pengembangan Saab 37, sebuah pesawat tempur yang merupakan salah satu jet sukses pertama yang menggunakan desain sayap delta.

Baca juga: Swedia Akan Mulai Pengembangan Pesawat Tempur Baru
Baca juga: 7 Pesawat Pembom Terbaik di Dunia

Spesifikasi Saab 36
Karakteristik umum
  • Kru: Satu percontohan
  • Panjang: 17 m
  • Rentang sayap: 9,6 m
  • Luas area sayap: 54 m2
  • Berat kosong: 9.000 kg
  • Berat penuh : 15.000 kg
  • Mesin: 1 × Bristol Olympus, 44 kN
Performa
  • Kecepatan maksimum: Mach 2.14 (2.642 km/jam)
  • Ketinggian terbang: 18.000 m
Persenjataan
  • 1 × 600 kg - 800 kg bom nuklir jatuh bebas

Kamis, Juli 02, 2020

India Siap Tinggalkan Su-57 dan Fokus Membeli F-35

F-35

Menurut beberapa sumber militer di India yang tertuang di media setempat, serta menurut publikasi laman Sohu China, ada kemungkinan besar bahwa India akan meninggalkan Super Sukhoi Su-57 Rusia dan pindah ke F-35 Amerika Serikat (AS).

Tingginya biaya varian upgrade Super Sukhoi Su-57 akan menjadi masalah bagi India, dan Su-57 versi dasar saat ini kemampuannya belum maksimal.

India mungkin sudah ngebet untuk membeli Su-57. Jika pun kontrak terjadi sekarang, pesawat kemungkinan baru bisa dikirimkan 5 tahun lagi, untuk inilah India mulai mempertimbangkan kemungkinan mengakuisisi F-35A AS.

Menurut beberapa laporan, biaya varian upgrade dari Su-57 akan bervariasi mulai dari 150 hingga 200 juta dolar, dan mengingat fakta bahwa India berencana untuk memperoleh beberapa ratus pesawat tempur generasi kelima, jelas ini nilainya sangat besar sekali - miliaran dolar.

Mengingat harga ekspor F-35 Amerika ada kisaran 120-140 juta dolar, dan pesawat tempur ini sudah terjun langsung melakukan operasi militer, India kemungkinan akan benar-benar meninggalkan Super Sukohi Rusia tersebut.

Tidak berlebihan jika mengatakan bahwa Su-57 yang asli adalah Su-57 dari produksi tahap kedua nanti yang rencananya akan dirilis pada 2024. Su-57 saat ini hanya dianggap sebagai Su-57 pra- produksi. Bahkan Angkatan Udara Rusia tidak ingin menerimanya dalam jumlah besar.

Satu hal yang tampak jelas bahwa Angkatan Udara India tidak mau menerima Su-57 versi dasar saat ini. Kalaupun India menginginkan Su-57, maka yang dimaksud adalah Su-57 varian kedua yang baru akan muncul pada tahun 2025. Jadi jika India ingin memiliki pesawat tempur generasi kelima dalam kurun waktu lima tahun ini, F-35A/B adalah pilihan paling ideal. Lagipula, Rusia tidak mungkin akan meminta kurang dari 150 juta dolar kepada India untuk satu unitnya.

Sebelum ini, India pernah bersama Rusia mengembangkan bersama pesawat tempur generasi kelima dalam proyek Fifth Generation Fighter Aircraft (FGFA), namun akhirnya batal di tengah jalan mengingat efisiensinya yang rendah dan biaya yang terlalu mahal.

Baca juga: Rusia Sedang Kembangkan Senjata Baru untuk Su-57
Baca juga: Proyek Jet Tempur Siluman India-Rusia Alami Kendala


Pasar Su-57
Rusia siap menggandeng India untuk menciptakan pesawat tempur generasi kelima; proyek ini mungkin akan termasuk dalam kontrak penjualan Su-57, ini pernytaan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rusia Denis Manturov pada Februari lalu. Manturov juga mengatakan bahwa Rusia siap melanjutkan negosiasi dengan India untuk pesawat tempur generasi kelima.

Manturov kala itu juga menyebutkan bahwa Kementerian Pertahanan Rusia telah memesan 76 pesawat tempur Su-57. Hal ini bisa menjadi sinyal positif bagi India yang merupakan mitra lama Rusia.

Manutrov juga mencatat bahwa pesawat tempur MiG-35 Rusia yang baru, yang juga masuk dalam kandidat tender India, melampaui banyak pesaingnya dalam hal kinerja penerbangan dan persenjataan.

Hal lain yang tidak bisa diabaikan dalam kemungkinan penjualan Su-57 ke India adalah India memiliki dana yang banyak dan Angkatan Udara India telah mengoperasikan peralatan buatan Rusia selama lebih dari 50 tahun. Tapi tetap saja keputusan menjadi milik India.

Baca juga: Asal-Usul Nama dan Keunggulan Su-57
Baca juga: India Mulai Pengembangan Pesawat Tempur Mesin Ganda Berbasis Kapal Induk

Angkatan Udara India
Pada 22 Juni, kolumnis Amerika di Forbes, David Axe, mengingatkan kejadian baru-baru ini tentang kematian 20 tentara India dalam bentrokan dengan tentara China di sepanjang perbatasan sengketa India-China, yang merupakan kawasan pegunungan yang menjulang tinggi. Dia juga mencatat bahwa, setidaknya empat puluh tiga tentara Tiongkok terluka dalam bentrokan itu.

"Tidak mengherankan bahwa India minggu ini diduga melakukan pemesanan dengan Rusia sebesar $ 780 juta untuk 33 pesawat tempur, yang cukup untuk melengkapi dua skuadron," kata publikasi itu.

Diketahui bahwa New Delhi baru-baru ini membeli 21 pesawat tempur MiG-29 dan belasan Su-30.

Angkatan Udara India telah lama merencanakan untuk membeli pesawat tambahan untuk memperkuat Angkatan Udara mereka, yang terdiri dari sekitar 230 Su-30 dan 60 MiG-29. Di tahun-tahun mendatang, New Delhi juga berencana mengakuisisi 83 pesawat tempur ringan Tejas buatan lokal, serta 144 pesawat tempur medium.

David Axe mencatat bahwa semua pesawat tempur baru itu adalah bagian dari upaya untuk meningkatkan kekuatan garis depan Angkatan Udara India dari 28 skuadron menjadi 40 skuadron, jumlah yang dianggap cukup memadai oleh New Delhi untuk bertempur secara serentak dengan Pakistan dan China.

Ke 28 skuadron ini terbang dengan beragam pesawat tempur yang menakjubkan, termasuk buatan India dan Rusia, Mirage 2000 dan Rafale Prancis, dan Jaguar Eropa.

Tom Cooper, seorang penulis dan pakar penerbangan, menyatakan keterkejutannya bahwa Angkatan Udara India menginginkan Su-30 dan MiG-29 untuk memenuhi dua skuadronnya. Su-30, meskipun di atas kertas tampak mengesankan, dibandingkan dengan model Barat, menurutnya pesawat ini belum memiliki kinerja nyata dalam pertempuran sesungguhnya.

David Axe menjelaskan bahwa sudut pandang Cooper adalah seperti ini: selama beberapa dekade di dalam Angkatan Udara India, Mirage 2000 adalah pesawat tempur yang lebih efektif ketimbang Su-30. Rafale, penerus Mirage buatan Prancis, juga merupakan salah satu pesawat tempur terbaik India.

Forbes mengatakan bahwa selain belum memiliki amunisi udara-ke-darat presisi tinggi terbaru, Su-30 belum terbukti berkinerja baik dengan pangkalan udara ketinggian tinggi yang mendukung operasi India di sepanjang perbatasannya dengan China.

MiG-29 yang lebih ringan lebih cocok untuk Angkatan Udara India daripada Su-30. Namun, ini tidak berarti bahwa MiG lama adalah pilihan yang tepat untuk New Delhi.

Baca juga: 5 Hal yang Mungkin Tidak Anda Ketahui dari F-35
Baca juga: 10 Pesawat Tempur Tercepat di Dunia (2014)
Baca juga: 5 Pesawat Tempur Kapal Induk Terbaik dalam Sejarah

Su-57 dan F-35
Pesawat tempur Rusia Su-57 memang diakui sebagai mesin tempur yang bagus saat ini. Namun, pengamat menilai masih ada sesuatu yang perlu diperbaiki, termasuk indikator dasar.

Jika kita membandingkan Su-57 dengan F-35 Amerika, maka Su-57 unggul dalam hal kemampuan manuver, jangkauan penerbangan, dan kecepatan tertinggi, yang membuatnya lebih menarik bagi pembeli di pasar luar negeri. Tidak sia-sia bahwa Turki, yang dalam situasi bahaya akan melanggar kontrak pasokan F-35, semakin berfikir untuk membeli Su-57 dari Rusia.

Meskipun demikian, F-35 memiliki satu fitur penting yang telah diperolehnya secara historis. Faktanya adalah pesawat tempur Amerika selalu dirancang sebagai pesawat berbasis kapal induk, dan karenanya memiliki kemampuan untuk lepas landas dan mendarat dalam jarak pendek.

Perlu dicatat bahwa bahkan dalam komponen ini pesawat Rusia memiliki beberapa dasar untuk perbaikan. Desainer Rusia, antara lain, memiliki pengalaman dalam menciptakan pesawat dengan sistem take-off dan landing vertikal, sehingga mereka dapat menggabungkan kualitas pesawat tempur Su-57 terbaru dengan kemampuan Yak-141 yang terkenal di masa lalu sehingga menjadi lebih canggih dari F-35 dalam segala hal.*

Selasa, Juni 30, 2020

India Tidak Bisa Mengandalkan Rafale untuk Melawan China

Rafale

India kemungkinan sudah akan menerima pengiriman gelombang pertama enam pesawat tempur Rafale pada 27 Juli nanti. Kedatangan Rafale diyakini akan meningkatkan kemampuan tempur Angkatan Udara India (IAF) secara signifikan.

Selama dua minggu terakhir, IAF dalam status siaga penuh mengingat meningkatnya ketegangan dengan China menyusul bentrokan antara pasukan kedua negara di Lembah Galwan di timur Ladakh di mana 20 personel Angkatan Darat India tewas. Kedua tentara terkunci dalam kebuntuan di wilayah itu selama tujuh minggu.

Hingga 2025, total 36 pesawat tempur Rafale dengan senjata dalam bentuk rudal udara-ke-udara Meteor dan rudal jelajah SCALP akan hadir di Angkatan Udara India. India cukup yakin karakteristik dan persenjataan Rafale akan membantu melawan Tiongkok secara efektif.

Namun faktanya, pesawat tempur Prancis yang tergabung dalam generasi 4++ itu tidak akan banyak membantu India jika konflik sudah meningkat dari "tongkat dan batu" menjadi konfrontasi militer yang sesungguhnya, termasuk konfrontasi di udara.

Konfrontasi semacam itu, tentu saja, tidak berada dalam keinginan kedua negara, tetapi tetap saja ada sesuatu yang bisa memicu kedua negara raksasa ini untuk beradu dahi.

Salah satu masalah penting dalam kaitannya dengan pembelian pesawat tempur Rafale oleh India adalah soal biaya. Seperti dicatat oleh Military Review, sumber-sumber India yang terbuka menyebut harga yang luar biasa untuk setiap Rafale yang menghabiskan anggaran India lebih dari $200 juta!

Jika benar, ini dua setengah kali lebih mahal daripada pesawat tempur generasi kelima Amerika F-35 dan sekitar tiga kali lebih mahal dari harga J-20 yang harus China bayar untuk angkatan udaranya. Dengan kata lain, 36 pesawat tempur Rafale buatan Prancis yang akan muncul di Angkatan Udara India, maka China dapat meresponnya dengan pesawat tempur generasi kelima J-20 tiga kali lipat lebih banyak dengan jumlah uang yang sama.

Bahkan seandainya karakteristik J-20 generasi kelima berada di belakang Rafale generasi keempat, China tetap memiliki daya hancur dengan kuantitasnya.

Tapi China, sedang membeli pesawat tempur lain untuk Angkatan Udaranya. Salah satunya adalah J-16. Di China sendiri, J-16 dianggap sebagai analog dari Su-35 Rusia. Jika kita membandingkan karakteristiknya dengan Rafale, maka pesawat Prancis itu belum disebut memiliki keunggulan.

Ambil contoh, kecepatan maksimum Rafale adalah Mach 1.8, dan kecepatan J-16 adalah Mach 2.2. Ketinggian terbang praktis Rafale masih sekitar 3,8 km lebih rendah dari J-16. Bahkan di mesin dorong, Su-35 China masih lebih unggul dari  Rafale Prancis.

Kalaupun India mengirim semua Rafale-nya ke perbatasan China, maka India akan kesulitan untuk menang, mengingat keunggulan teknis pesawat tempur masih di sisi China.

Baca juga: Mengapa Su-35 Menjadi Salah Satu Pesawat yang Perlu Ditakuti AS
Baca juga: Perbandingan: J-20 China VS F-22 Raptor AS

India beli 12 Sukhoi Rusia baru

Pertengahan Juni lalu, India memutuskan untuk membeli 12 pesawat Sukhoi dan 21 MiG-29 baru dari Rusia. Proposal ini diajukan ke Kementerian Pertahanan negara itu.

Ini akan menjadi angkatan kedua dari 33 pesawat tempur baru yang akan dibeli oleh Angkatan Udara India setelah menandatangani kontrak untuk 36 pesawat tempur Rafale Prancis di tahun 2016. Namun masih belum jelas Sukhoi mana yang India inginkan itu.

Meskipun yang paling mungkin adalah Su-30MKI, yang India miliki dalam angkatan udaranya, tapi kita tidak bisa juga mengecualikan Su-57 terbaru. Seperti diketahui, Sukhoi sudah melaporkan bahwa mereka sudah memulai produksi serial pesawat tempur generasi ke-5 tersebut, beserta ekspornya.

Baca juga: Asal-Usul Nama dan Keunggulan Su-57
Baca juga: India: Kekuatan Kapal Induk Dunia Berikutnya?

India kirim heli Apache dan Su-30 ke timur Ladakh

Pada 20 Juni India mengerahkan helikopter serang Apache dan pesawat tempur Su-30MKI ke timur Ladakh untuk memperkuat pertahanannya menyusul bentrokan antara pasukan India dan China.

TASS kala itu melaporkan bahwa helikopter serang Apache dengan rudal udara ke darat Hellfire, serta helikopter Chinook yang mampu mengirim artileri ke daerah-daerah dataran tinggi telah dipindahkan ke timur Ladakh.

Juga, India menempatkan pesawat tempur Su-30 MKI, MiG-29 dan Jaguar disana. Untuk transportasi peralatan militer digunakan pesawat angkut berat S-17 Globemaster, S-130J Super Hercules dan An-32.

Selain kekuatan darat dan udara, Angkatan Laut India memperkuat pengelompokan kapal perang di perairan Teluk Bengal.

Tindakan-tindakan semacam itu merupakan sinyal yang jelas ke Beijing bahwa New Delhi siap untuk meningkatkan konflik militer di garis kontrol aktual di Ladakh.

Baca juga: India Minta Rusia Percepat Pengiriman Sistem Rudal S-400
Baca juga: Sistem Pertahanan Rudal Tersukses Israel Dimiliki oleh India

India sebar sistem pertahanan udara ke Ladakh

Kemarin dulu, ramai media melaporkan bahwa India telah mengerahkan sistem pertahanan udara reaksi cepat ke wilayah Ladakh, karena kedua kekuatan super terus memperkuat pasukan mereka di sepanjang perbatasan yang disengketakan.

India mengatakan bahwa itu adalah bagian dari pembangunan berkelanjutan di sektor itu. Disebutkan bahwa sistem pertahanan udara dari Angkatan Darat dan Angkatan Udara India yang disebarkan ke Ladakh ditujukan untuk mencegah kesalahan penanganan oleh jet tempur atau helikopter tentara China.

Senin, Juni 29, 2020

India akan Menjadi Kekuatan Nuklir Ketiga Dunia

Rudal berkemampuan  nuklir India

Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) baru-baru ini merilis buku tahunan tahun 2020, tentang persenjataan, perlucutan senjata, dan keamanan internasional saat ini.

SIPRI menyinggung bahwa selama ini India terus menjaga kebiasaannya yang menjaga jumlah hulu ledak nuklir mereka tetap di bawah Pakistan. biasanya selalu lebih sedikit 10 unit. Namun sekarang, India sedang memacu program senjata nuklirnya.

New Delhi saat ini sedang membangun triad nuklir yang termasuk di dalamnya kapal selam nuklir dengan rudal balistik, rudal balistik antarbenua (ICBM), rudal jelajah, dan modernisasi besar angkatan laut.

Berbagai pakar dan politisi India mengklaim bahwa India membutuhkan lebih dari 300-400 hulu ledak nuklir untuk pasukan strategisnya.

Analisis mendalam menunjukkan bahwa India memiliki sumber daya yang cukup untuk memproduksi antara 356 dan 492 hulu ledak nuklir. Sebuah studi yang disebut Indian Unsecured Nuclear Program, yang diterbitkan oleh Institute for Strategic Studies of Islamabad (ISSI), menunjukkan penilaian terkini dan terperinci tentang potensi program senjata nuklir India.

Saat ini, New Delhi memiliki fasilitas untuk memproduksi sekitar 80-90 hulu ledak nuklir berbasis plutonium dan 7-8 hulu ledak nuklir berbasis uranium setiap tahun. Menurut penelitian ini, jika kita memperhitungkan semua jenis senjata dan reaktor plutonium, serta stok uranium yang sangat diperkaya, maka India dapat memproduksi dari 2.261 hingga 2.686 hulu ledak.

India dengan cepat memperluas program senjata nuklirnya melalui banyak proyek rahasia. Misalnya, New Delhi belakangan diketahui mengoperasikan reaktor produksi plutonium Dhruva dan pabrik pengayaan uranium yang tidak tunduk pada otoritas Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA).

India juga sedang membangun kompleks militer laboratorium penelitian dan sentrifugal nuklir besar. Fasilitas ini akan memungkinkan India memproduksi banyak senjata nuklir dan bom hidrogen berkapasitas besar.

Dalam beberapa tahun ke depan, India akan dapat menggantikan posisi China, Prancis, dan Inggris dalam kemampuan memproduksi senjata nuklir, menjadikannya sebagai kekuatan nuklir ketiga setelah Rusia dan Amerika Serikat.

Selama ini India telah meningkatkan pengembangan dan pengadaan strategis untuk menimbun bahan nuklir untuk digunakan di masa depan dalam program modernisasi militer mereka. Peningkatan stok bahan fisil level-senjata New Delhi ini akan memiliki konsekuensi besar dalam hal stabilitas strategis di Asia Selatan.

Baca juga: 10 Negara yang Memiliki Kekuatan Nuklir

Rudal nuklir Agni-III India jatuh Desember tahun lalu
Desember tahun lalu, rudal nuklir Agni-III India jatuh di dekat pangkalan militer di lepas pantai Odisha.

Media menyebutkan bahwa rudal itu jatuh ke laut setelah pemisahan motor roket tahap pertama. Rudal itu menempuh jarak 115 km sebelum akhirnya keluar lintasan sehingga memaksa tim uji coba menjatuhkannya.

Walaupun gagal, hasil uji coba ini sangat penting karena dapat mengonfirmasi ulang parameter teknis yang ditetapkan untuk pengguna dan kesiapan tim dalam menangani senjata. Lintasan penerbangan rudal itu yang ditetapkan adalah hampir 2.800 km.

Meskipun kegagalan teknologi yang menjadi penyebab di balik "kegagalan" itu belum dapat dipastikan, investigasi awal menghubungkannya dengan cacat produksi. Menatap dari peluncuran hingga pemisahan tahap pertama, semuanya berjalan lancar sesuai dengan rencana misi. Tapi kemudian tiba-tiba rudal bertingkah tidak normal dan kelar dari lintasan. Analis India menilai mungkin karena cacat metalurgi.

Rudal yang digunakan dalam uji coba diambil secara acak dari tempat produksi. Agni-III adalah rudal yang dilengkapi dengan avionik dan komputer canggih, dan fitur terbaru untuk memandu dan memperbaiki gangguan dalam penerbangan. Namun, itu bukan kegagalan pertama dari rudal seri Agni India.

Dua varian rudal sebelumnya, Agni-I dan Agni-II, telah gagal selama uji coba pengembangan dan penggunaan di masa lalu. Agni-II gagal memberikan hasil yang diharapkan selama uji terbang malam pertamanya pada tahun 2009.

Baca juga: India Mulai Pengembangan Pesawat Tempur Kapal Induk

Sembilan negara memiliki senjata nuklir
Dalam laporan tahunannya, SIPRI menyebutkan bahwa selama kurun 2019, jumlah stok hulu ledak nuklir di seluruh dunia telah berkurang sebanyak 600 dan pada akhir 2018 jumlahnya 13.865.

SIPRI telah memperhitungkan hulu ledak yang siap dan disimpan di gudang senjata atau yang siap untuk dibongkar. Jumlah keseluruhan senjata nuklir di dunia memang sedang menurun tetapi semua negara pemilik senjata nuklir telah memodernisasi atau telah mengumumkan rencana untuk memodernisasi senjata nuklir mereka.

Sembilan negara yang memiliki senjata nuklir: Inggris Raya, Israel, India, China, Pakistan, Rusia, Korea Utara, Amerika Serikat, dan Prancis. Terlihat jelas bahwa senjata nuklir masih menjadi elemen utama dalam strategi militer dan doktrin keamanan nasional negara-negara tersebut.

SIPRI mengingatkan bawa sekitar 2.000 hulu ledak nuklir di dunia dalam keadaan kesiapan tempur yang tinggi. Amerika Serikat dan Rusia - kekuatan nuklir terbesar di dunia - memiliki lebih dari 90 persen persenjataan nuklir di dunia. Di awal tahun, Amerika Serikat memiliki 6.185 hulu ledak nuklir, dan Rusia 6.500.

Sebenarnya Amerika Serikat dan Rusia telah mengurangi stok nuklir mereka sejalan dengan Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis bilateral tahun 2010, yang dikenal sebagai New START. Pengurangan tersebut memengaruhi hulu ledak usang dari era Perang Dingin kedua negara, tetapi laju pengurangannya saat ini melambat dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu.

India dan Pakistan terus meningkatkan persenjataan nuklir mereka dan keduanya dapat meningkatkannya secara signifikan dalam 10-15 tahun mendatang. India saat ini memiliki antara 130-140 hulu ledak nuklir, dan Pakistan antara 150-160, yang angka ini sebenarnya mengalami sedikit peningkatan dibandingkan tahun 2018.

Minggu, Juni 28, 2020

Setelah India, Mesir juga Borong Ratusan Tank T-90MS Rusia

T-90MS

Moskow dan Kairo telah menandatangani kontrak penjualan ratusan tank tempur utama (MBT) T-90MS untuk Angkatan Darat Mesir. Kontrak tersebut juga termasuk transfer teknologi dan produksi tank bersama di Mesir.

Dengan produksi bersama tank T-90MS, Mesir akan memperoleh teknologinya. Ini semakin memperkaya pengalaman Mesir yang sudah pernah memproduksi bersama tank M1A1 Abrams dengan Amerika Serikat (AS) yang telah berlangsung sejak 1992.

Kesepakatan ini juga berarti akan memberikan peluang Mesir meningkatkan kekuatan militernya di wilayah tersebut secara signifikan, menjadikannya sebagai pengguna terbesar tank T-90MS. Di saat yang sama, Mesir juga akan menjadi negara pertama yang memproduksi tank Rusia dan AS.

Mesir memiliki pasukan tank dalam jumlah besar. Diketahui, Mesir memiliki 34 tank T-80U, 1.100 M1A1 Abrams, 840 tank T-54/55, dan 260 tank Ramses II (modernisasi dari T-54/55 Amerika). Ada pula 500 tank T-62, namun hanya 200 yang dioperasikan. Juga masih ada 850 tank M60A3 dan 300 tank tua M60A1 AS.

400 tank T-90MS untuk India

Pada Maret lalu, kepala Layanan Federal untuk Kerjasama Militer-Teknis (FSMTS) Rusia Dmitry Shugaev mengumumkan bahwa India telah memutuskan untuk membeli 400 tank T-90S tambahan dari Rusia, yang nantinya akan diproduksi di negara tersebut di bawah lisensi.

Pada awal Februari, Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rusia Denis Manturov mengumumkan bahwa Rusia telah menandatangani kontrak dengan India untuk memperpanjang program lisensi produksi tank T-90S hingga tahun 2028.

Baca juga: 10 Tank Terbaik di Dunia

T-90MS

Media sebut keunggulan T-90 dibanding Abrams

Karakteristik taktis dan teknis tank Rusia T-90 dibandingkan dengan tank Barat. Perbandingan dilakukan oleh jurnalis The National Interest.

Penulis menyebut T-90 ibarat senapan serbu Kalashnikov di antara senapan serbu lainnya. Pakar Barat mencatat bahwa T-90 memiliki perlindungan multi-level, mudah dimodernisasi dan diminati banyak angkatan bersenjata di dunia.

Penulis juga menunjukkan bahwa T-90 diproduksi masih mempertahankan pendekatan tradisional, sehingga ukurannya low profile, yang menurut mereka, membuat tank menjadi kurang rentan di medan perang.

Jika kita membandingkan T-90 Rusia dengan tank Leopard dan M1 Abrams Barat, maka T-90 memang menang untuk soal kekompakannya. Keunggulan yang paling menonjol dari tank Rusia itu adalah pemuat senjata (loader), yang mengurangi kru menjadi tiga orang, sementara pada tank-tank barat ada anggota kru yang keempat, yaitu pemuat senjata.

Tank Rusia juga lebih mobile dan lebih mudah dioperasikan. Juga, salah satu keunggulan kompetitif utama dari tank T-90 adalah biaya.

Baca juga: T-80, Tank Berkecepatan Tinggi Rusia

T-90M mulai digunakan Angkatan Darat Rusia

Angkatan Darat Rusia saat ini sudah mulai mengoperasikan tank-tank T-90M modern terbaru mereka.

Komandan Angkatan Darat Letnan Jenderal Sergey Kisel, mengatakan bahwa pengiriman tank T-90M yang sudah dimodernisasi kepada pasukan tank penjaga Distrik Militer Barat, yang dikerahkan di lima wilayah Rusia, sudah dimulai sejak April.

Dia juga menyebutkan bahwa beberapa T-90M sudah mulai digunakan di divisi infanteri mekanik Taman, yang juga bagian dari pasukan.

Menurutnya, pasukan tak dari Distrik Militer Barat sudah menyelesaikan pelatihan komandonya, latihan menembak, dan beradaptasi dalam kondisi tempur tank baru.

T-90MS

Rusia menggunakan tank T-90 di Suriah dan Libya

Rusia, Suriah, dan Iran telah mengerahkan ratusan tank di Suriah dan kemungkinan bersiap untuk meluncurkan operasi militer skala besar di negara itu.

Kita berbicara tidak hanya tentang persenjataan militer Rusia, tetapi juga tentang pemindahan kendaraan lapis baja berat ke pasukan Iran yang berniat untuk mengambil bagian dalam operasi ofensif, seperti foto-foto terbukti yang diterbitkan di media China Sohu.

Menurut sebuah laporan baru-baru ini oleh Al-Jazeera di Timur Tengah, mengingat stabilitas di Suriah, Rusia telah mengirimkan sejumlah besar tank, kendaraan tempur lapis baja, dll. kepada tentara Iran dan kelompok-kelompok di Suriah. Pada saat yang sama, ini adalah masalah besar, yang Rusia kirimkan itu adalah T-90, tank tempur paling elit tentara Rusia.

Seorang pengamat Timur Tengah mengatakan tujuan Rusia memberi Iran sejumlah besar peralatan militer adalah mereka ingin bergabung di Suriah dan mengeluarkan militer AS dan sekutunya dari Suriah sepenuhnya.

Pada saat yang sama, media Suriah juga menerbitkan beberapa foto tank T-90, dilengkapi dengan brigade Iran. Bahkan Suriah secara terbuka telah menghubungi pasukan bersenjata Iran dan Irak untuk melakukan patroli militer di wilayah timur untuk bersama-sama mengusir pasukan bersenjata anti-pemerintah di sini.

Seperti dilaporkan media pada April lalu, kapal pendaratan Saratov Rusia melintasi selat Bosphorus dengan membawa 150 tank berat dan kendaraan angkut personel lapis baja, serta senjata dan amunisi lainnya.

Baca juga: 10 Negara dengan Angkatan Darat Terbesar di Dunia



T-90MS - Juga dikenal sebagai T-90SM

T-90MS, juga dikenal sebagai T-90SM, ini adalah versi terbaru dari T-90S. Ini dilengkapi dengan mesin 1.130 hp, pandangan penembak PNM Sosna-U, UDP T05BV-1 RWS dengan senapan mesin 7,62 mm, GLONASS, sistem navigasi inersia, explosive reactive armour (ERA) Relikt baru yang melindungi lebih banyak body tank dan roda.

Termasuk turet (kubah) yang dapat dilepas, yang menyediakan penyimpanan untuk delapan putaran tambahan. T-90MS siap untuk produksi serial. 4 kamera video memberikan tampilan 360° dari lingkungan sekitar, sementara tank lebih terhubung ke komando. T-90MS juga mengalami peningkatan imager termal yang dapat mendeteksi tank musuh pada jarak lebih dari 3.300 meter.

Sabtu, Juni 27, 2020

Sambil Menunggu Pembelian Su-30, Iran Gunakan Jet Tempur Baru Buatan Lokal

Jet tempur Kowsar Iran
Jet tempur Kowsar Iran. (IRNA)

Teheran, Artileri

Perusahaan Industri Pesawat Terbang Iran (HESA) menyerahkan tiga jet tempur Kowsar produksi lokal kepada Angkatan Udara Republik Islam dalam sebuah upacara pada hari Kamis, 25 Juni 2020.

Acara tersebut dihadiri oleh Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Amir Khatami, Komandan Angkatan Darat Iran Brigadir Jenderal Abdolrahim Musavi, Komandan Angkatan Udara Iran Brigadir Jenderal Aziz Nasirzadeh.

Jet tempur Kowsar mulai diperkenalkan oleh Iran pada Juli 2017 dan didemonstrasikan di hadapan audiensi internasional di pertunjukan udara MAKS di Moskow, kantor berita Iran Mehr melaporkan pada hari Kamis.

Pesawat dua pilot bermesin ganda ini sukses melewati uji terbang pada 21 Agustus 2018 di hadapan Presiden Iran Hassan Rouhani.

Kowsar memiliki banyak fitur canggih, termasuk sistem pengendalian tembakan dan avionik terintegrasi, tampilan digital multi-fungsi, sistem Head Up Display (HUD) canggih untuk meningkatkan akurasi serangan dan radar pengendali tembakan multi-fungsi canggih untuk mempercepat identifikasi target dan ancaman eksternal, Mehr mencatat.

Kowsar saat ini tengah diproduksi secara massal dalam versi kursi tunggal dan ganda, versi yang terakhir dapat digunakan untuk pendidikan pilot dan keperluan militer lainnya.

Komandan pangkalan udara Shahid-Lashkari di Teheran, Brigadir Jenderal Mohammad Zalbeiji mengatakan kepada Mehr pada akhir Mei lalu bahwa: "pesawat tempur (Kowsar) dilengkapi dengan peralatan paling modern dan mampu menggunakan senjata presisi tinggi."

Baca juga: 4 Senjata Andalan Iran Bila Terjadi Perang

Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA)

Pada Juli 2015, Iran dan enam negosiator internasional mencapai kesepakatan bersejarah  untuk menyelesaikan masalah klasik soal atom Iran. Negosiasi selama berbulan-bulan akhirnya melahirkan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), implementasi yang akan sepenuhnya menghapus sanksi ekonomi dan keuangan bagi Iran yang sebelumnya diberlakukan oleh Dewan Keamanan PBB, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

Perjanjian tersebut juga menetapkan bahwa embargo senjata akan dicabut dari Iran dalam waktu 5 tahun, pengiriman senjata tetap dimungkinkan sebelum batas itu, tetapi hanya dengan izin Dewan Keamanan PBB. Kesepakatan tidak bertahan bahkan tiga tahun: pada bulan Mei 2018, Amerika Serikat mengumumkan keluar secara sepihak dari JCPOA dan mengembalikan sanksi keras terhadap Teheran.

Baca juga: Kekuatan Kapal Selam Iran Salah Satu yang Terkuat di Dunia

AS ingin embargo senjata terhadap Iran terus berlanjut

Amerika Serikat tidak akan mengizinkan niat Iran membeli jet tempur Rusia atau China, terlepas dari apakah PBB memperpanjang embargo senjata terhadap Iran pada Oktober nanti.

AS mencatat bahwa pencabutan larangan penjualan senjata ke Teheran bukan berarti bahwa Iran dapat membeli pesawat tempur, seperti Su-30 Rusia atau J-10 China. Menurut menteri luar negeri AS Mike Pompeo, ini tidak bisa dibiarkan.

"Dengan pesawat mematikan ini, Eropa dan Asia akan berada di bawah todongan senjata Iran. Amerika Serikat tidak akan pernah membiarkan ini terjadi," tulis Pompeo.

Pompeo juga melampirkan gambar dalam publikasinya, yang menggambarkan jangkauan tempur dari Su-30 dan J-10, masing-masing, 3.000 dan 1.648 km. Angka tersebut menunjukkan bahwa sebuah jet tempur Rusia dari Iran akan dapat terbang ke Jerman, Swiss, Finlandia, Italia dan negara-negara lain. Sedangkan jet tempur China akan dapat mencapai perbatasan barat daya beberapa negara di Eropa Timur.

Baca juga: Peta Kekuatan Perang Iran VS Israel
Baca juga: Iran Berhasil Luncurkan Satelit Militer Pertamanya

Amerika Serikat dan Rusia saling berhadapan atas embargo senjata Iran

Pada 23 Juni 2020, Amerika Serikat mengajukan ke Dewan Keamanan PBB sebuah rancangan resolusi tentang perpanjangan embargo senjata terhadap Iran, yang akan berakhir pada musim gugur ini.

Sebelumnya, menteri luar negeri Rusia Sergey Lavrov mengirim surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Anthony Guterresch, di mana ia menyebutkan bahwa perwakilan senior Departemen Luar Negeri AS sedang mempromosikan ide-ide tentang memaksakan embargo senjata tanpa batas ke Iran melalui Dewan Keamanan PBB dan menggunakan mekanisme yang disediakan untuk dalam resolusi 2231 (mengatur pembentukan rencana aksi Komprehensif Bersama).

Di saat yang sama, menteri Rusia menekankan bahwa tidak ada alasan obyektif untuk mengangkat lagi masalah embargo senjata terhadap Iran. Dia mengingatkan bahwa "permissive order of deliveries" peralatan militer ke Iran bersifat sementara - ini dilakukan untuk mematuhi perjanjian yang dicapai pada 2015, yang sekarang tidak lagi relevan.

Seperti yang ditekankan Lavrov, penerapan pembatasan pasokan senjata ke Iran setelah 18 Oktober 2020 tidak pernah diharapkan, dan tidak ada alasan hukum atau alasan lain untuk mempertimbangkan kembali pembatasan ini.

Baca juga: Analis: Jet Tempur Kowsar Iran Sebenarnya F-5 AS
Baca juga: F-14 Tomcat, Garda Terdepan Angkatan Udara Iran

Jet tempur Kowsar

Kowsar atau juga disebut Kosar adalah jet tempur generasi keempat yang diproduksi oleh Iran. Pesawat ini sepenuhnya dikembangkan oleh Iran.

Kowsar dilengkapi dengan komputer balistik dan radar multiguna. Produksi Kowsar di Perusahaan Manufaktur Pesawat Iran diresmikan pada hari Sabtu, 3 November 2018, oleh Komandan Angkatan Darat Iran Abdulrahim Mousavi dan Menteri Pertahanan Iran Amir Khatami.

Menurut analis penerbangan Barat, jet tempur Kowsar tidak efektif sebagai senjata dalam perang modern, tetapi bila sebagai pesawat latih dan serang ringan maka pesawat ini memiliki beberapa potensi positif.

Kowsar adalah salinan lanjutan dari pesawat tempur multiperan Amerika Serikat Northrop F-5, yang dikembangkan pada akhir tahun 50-an.*

Kamis, Juni 25, 2020

Jepang Batalkan Sistem Pertahanan Rudal Aegis Ashore Amerika Serikat

Kompleks sistem Aegis Ashore
Kompleks sistem Aegis Ashore Amerika Serikat di Rumania. (Defense Media Network)

Tokyo, Artileri

Pemerintah Jepang memutuskan untuk membatalkan rencana penempatan sistem pertahanan rudal AEGIS Ashore berbasis darat buatan AS di prefektur Akita dan Yamaguchi. Sejatinya penempatan sistem pertahanan rudal tersebut ditujukan untuk mengantisipasi ancaman rudal Korea Utara atau China.

Keputusan ini diumumkan pada hari Kamis, 25 Juni 2020, oleh Menteri Pertahanan Jepang Taro Kono selama pertemuan tentang masalah keamanan Partai Demokrat Liberal yang berkuasa. 

"Sebagai hasil dari diskusi (Rabu, 24 Juni 2020) dari pertemuan Dewan Keamanan Nasional, diputuskan untuk membatalkan rencana penyebaran kompleks Aegis Ashore di prefektur Akita dan Yamaguchi. Saya ingin meminta maaf secara mendalam atas hal ini," kata Kono mengutip NHK. "Mengingat situasi saat ini di Laut China Timur, dari sudut pandang kebijakan keamanan, tidak akan dapat disandarkan hanya pada sistem pertahanan rudal melalui kapal yang dilengkapi dengan kompleks Aegis."

Dia juga menekankan bahwa permasalahan ini akan diangkat melalui pertukaran pandangan antara pemerintah dan partai.

Pemerintah Jepang sekarang perlu mengadakan negosiasi ulang dengan AS tentang apa yang harus dilakukan dengan pembayaran dan kontrak pembelian yang sudah dibuat untuk sistem Aegis Ashore yang bernilai miliaran dolar AS tersebut.

Baca juga: Bagaimana Cara Kerja Rudal Balistik Antarbenua?
Baca juga: 10 Sistem Rudal Pertahanan Udara Terbaik di Dunia

Dua kompleks sistem Aegis Ashore, yang pembeliannya dilakukan tahun 2017, diperkirakan memakan biaya operasi dan perawatan selama tiga dekade sebesar US$ 4,2 miliar, setara nyaris Rp 60 triliun. Namun sejumlah klaim menyebut perkiraan awal itu lebih rendah dari biaya sebenarnya.

Pada 22 Juni, laman Kyodo, mengutip Otoritas Keselamatan Maritim Jepang (JMSA), melaporkan bahwa jumlah kapal-kapal patroli China telah memecahkan rekor di Kepulauan Senkaku (Diaoyu-dao) yang dikontrol Tokyo di Laut China Timur, yang Beijing anggap sebagai wilayah pendudukan ilegal. Menurut JMSA, "anjing-anjing" penjaga China telah ada di sana selama 70 hari.

Sebelumnya pada 15 Juni, Kepala Departemen Militer Jepang mengumumkan penghentian program penempatan sistem rudal Aegis Ashore. Dia merujuk fakta bahwa ketika kompleks Aegis Ashore meluncurkan rudal, tidak mungkin untuk menjamin secara tepat booster blocks (penguat roket) akan jatuh di dalam pangkalan militer atau di laut, ini jelas akan membahayakan keselamatan penduduk.

Untuk mengoreksi kelemahan ini, katanya, akan membutuhkan biaya dan waktu yang lebih banyak untuk memastikan bahwa tempat tinggal penduduk tidak akan terdampak penguat roket. Para ahli, pada gilirannya, juga menunjukkan bahwa kompleks Aegis Ashore dalam konfigurasi yang dipesan Jepang tidak mampu mencegat rudal balistik dari modifikasi terbaru, serta rudal jelajah.

Dua kompleks Aegis Ashore seharusnya diletakkan di prefektur Yamaguchi di barat daya Pulau Honshu dan di prefektur Akita di bagian utara. Menurut Tokyo, keduanya seharusnya sudah mengkover hampir seluruh wilayah negara itu dari dampak rudal balistik. Pada saat yang sama, otoritas lokal tidak memberikan izin untuk penempatan Aegis Ashore, menyatakan keraguan tentang kemampuan kompleks dan keselamatan mereka.

Baca juga: Mengapa Rudal Jelajah Sulit Dihentikan
Baca juga: Rudal Hipersonik Baru Jepang akan Jebol Dek Kapal Induk China

Pada 18 Juni, Perdana Menteri Shinzo Abe mengumumkan bahwa ia bermaksud untuk memulai diskusi di musim panas mengenai arah baru untuk strategi pertahanan nasional sehubungan dengan rencana untuk menghentikan pelaksanaan pengadaan dan penyebaran kompleks Aegis Ashore di Jepang.

Abe mengatakan pemerintah juga akan mempertimbangkan kemungkinan memperoleh kemampuan serangan preemptif (pendahuluan), sebuah rencana kontroversial yang menurut para kritikus akan melanggar konstitusi Jepang yang menolak memulai perang.

Sejak lama militer Jepang membatasi diri mereka hanya untuk pertahanan diri dan negara ini sangat bergantung pada AS di bawah aliansi keamanan bilateral.

Kompleks sistem pertahanan rudal Aegis berbasis darat, Aegis Ashore, pertama kali ditempatkan di Rumania pada 2016. Kompleks ini terdiri dari peralatan-peralatan dari sistem Aegis yang biasa digunakan pada kapal perang Angkatan Laut AS, hanya saja ditempatkan di darat. Ini termasuk radar SPY-1 dan baterai Standard Missile-3 (SM-3). Pada 2018, AS juga menempatkan Aegis Ashore di Polandia.*

Rabu, Juni 24, 2020

Sistem Pertahanan Rudal Tersukses Israel Dimiliki oleh India

Barak 8 versi darat
Sistem pertahanan rudal Barak-8 versi darat (darat-ke-udara). ( Gambar via davar1.co.il)

India, yang secara aktif mengembangkan angkatan bersenjatanya dan berusaha menangkal perkembangan rudal China dan Pakistan, telah menaruh perhatian besar pada sistem pertahanan rudal.

Awalnya, India mengembangkan sendiri program rudal Trishul dan Akash. Namun, setelah banyak pengujian hasilnya tidak memenuhi harapan, dan di tengah mendesaknya kebutuhan untuk pertahanan rudal, pada 2009 India menandatangani perjanjian dengan Israel untuk menciptakan sistem pertahanan rudal jarak menengah baru senilai $ 1,1 miliar. Sistem pertahanan rudal Barak-1, yang sudah digunakan oleh angkatan laut India dan Israel, dipilih sebagai dasar untuk pengembangan lebih lanjut dari sistem pertahanan udara/pertahanan rudal yang lebih canggih, yang disebut Barak-8.

Barak-8 dikembangkan bersama oleh Israel Aerospace Industries (IAI), Defence Research and Development Organisation (DRDO) India, Israel Weapons and Technology Infrastructure Administration, Rafael, Elta Systems dan lainnya. Setiap kompleks sistem Barak-8 (terdiri dari peluncur, radar, komputer, dan instalasi) berharga sekitar $ 24 juta.

Tes pertama roket Barak-8 berlangsung di Israel pada Mei 2010. Program sertifikasi kompleks itu termasuk delapan uji tembak yang dilakukan di Israel dan India.

Marine Barak-8 / LRSAM
Barak 8 versi laut
Barak 8 versi laut. (Gambar via hamodia.com)

Sistem pertahanan udara Barak-8 adalah sistem pertahanan udara jarak menengah. Kompleks ini mencakup sistem komando umum, sistem kontrol senjata, sistem kontrol, komunikasi, dan intelijen. 

Versi angkatan laut dari kompleks Barak-8 LRSAM menggunakan rudal kecil dan peluncur vertikal, sehingga menghemat penempatannya di geladak kapal. Rudal itu mampu mencegat rudal supersonik anti-kapal, pesawat, dan drone.

Rudal ini didesain untuk low infrared signature saat peluncuran, yang meningkatkan kemampuan bertahan kapal. Ini dilengkapi dengan pencari radar aktif dan kanal data dua arah dengan sistem kontrol senjata. Rudal ini memiliki mesin roket dua-dorongan dengan kontrol dorong vektor dan memiliki kemampuan manuver yang tinggi pada kisaran target intersepsi. Mesin kedua aktif selama fase akhir, di mana pencari radar diaktifkan untuk menentukan lokasi rudal musuh.

Barak-8 memiliki panjang sekitar 4,5 m, diameter 0,54 m, rentang sayap 0,94 m dan berat 275 kg, termasuk hulu ledak 60 kg. Roket ini memiliki kecepatan maksimum Mach 2. Kisaran terjauh awalnya 70 km, tetapi kemudian ditingkatkan menjadi 100 km. Intersepsi dapat dilakukan pada jarak hingga 500 meter dari kapal.

Barak-8 dilengkapi dengan radar array bertahap bertahap EL/M-2248 MF-STARAESA yang menyediakan perlindungan 360 derajat terhadap berbagai ancaman udara pada jarak 30-35 km. Radar menggunakan metode multipath, pulse Doppler dan penghitung elektronik untuk mendeteksi target yang bergerak cepat dan target dengan area radar rendah, bahkan dalam kondisi cuaca dan gangguan yang ekstrem.

Sejak 2016-2017 kompleks-kompleks ini mulai diterapkan pada korvet Sa'ar-5 Israel dan kapal perusak kelas Kolkata India. Di masa depan, Barak-8 akan dipasang pada empat kapal perusak kelas Visakhapatnam India yang sedang dibangun di galangan kapal Mazagon, serta pada kapal induk INS Vikramaditya yang ada, dan INS Vikranta yang sedang dibangun.

Barak-8ER / LRSAM

Ini adalah varian Barak-8 sedang dikembangkan dengan jangkauan lebih jauh hingga 150 km. Barak-8ER kemungkinan akan mempertahankan sistem pencarian radar aktif dan navigasi inertial yang sama dengan Barak-8. Dengan meningkatnya jangkauan, ukuran dan berat roket juga akan meningkat. Panjangnya harusnya meningkat dari 4,5 m saat ini menjadi hampir 6 m.

Ground Barak-8 / MR-SAM
Peluncur Barak-8
Peluncur sistem rudal Barak-8 versi darat. (Gambar via i-hls.com)

Sejak 2009, konfigurasi MR-SAM berbasis-roket telah dikembangkan. Kompleks ini terdiri dari sistem komando dan kontrol, pelacakan radar, peluncur bergerak dan stasioner. Setiap peluncur akan memiliki delapan rudal seperti dalam dua wadah. Sistem ini juga dilengkapi dengan pencari frekuensi radio canggih. 

Mantan Menteri Pertahanan India Manohar Parrikar mengatakan: "MR-SAM dapat mendeteksi pesawat musuh yang mendekat pada jarak 100 km dan menghancurkannya pada ketinggian hingga 70 km."

Pada 2017, India menandatangani kontrak dengan Israel sebesar $ 2,4 miliar untuk penyediaan kompleks ini. Militer India akan menggantikan sistem pertahanan udara Kvadrat dan Osa-AKM Rusia yang dibeli pada tahun 70-an dan 80-an. Diharapkan bahwa kompleks baru sudah dapat dioperasikan secara penuh.

Boaz Levy, Wakil Presiden Eksekutif dan CEO Systems Missiles & Space Group, sebuah perusahaan Israel, mengatakan: "Barak-8, dengan versi angkatan laut dan daratnya, ada dalam daftar perkembangan militer Israel paling sukses di dunia."

Dan jika ini bukan sekedar iklan, maka militer India akan memiliki kemampuan mumpuni untuk mengatasi rudal-rudal China dan Pakistan.*

Sabtu, Juni 20, 2020

Berkat F-35, Terjadi Perlombaan Senjata di Asia

F-35B Angkatan Laut AS

China kian menampakkan arogansinya di Laut China Selatan, dan negara-negara Asia bereaksi.

Pada Januari 2019, Singapura mengumumkan rencana mereka untuk membeli sejumlah pesawat tempur F-35 untuk tujuan evaluasi. Walaupun ini bukan keputusan yang mengejutkan bagi banyak pengamat militer Singapura, keputusan itu muncul pada saat yang menegangkan bagi Singapura, dengan China yang semakin meningkatkan ketegangan dengan Malaysia.

Mungkinkah pembelian F-35 mempercepat perlombaan senjata di kawasan ini? Bagaimana karakteristik teknis F-35 sehingga membuatnya cocok untuk lingkungan taktis Singapura?

Untuk mengetahui efek yang ditimbulkan F-35 untuk pertahanan nasional Singapura, penting untuk mengetahui bahwa Singapura memaksudkan F-35 sebagai pengganti varian F-16 mereka yang canggih.

Baca juga: Pesawat Pembom Siluman H-20 China akan Melakukan Debut Tahun Ini

Singapura mengoperasikan sekitar 60 unit F-16 Block 52, yang sedang menjalani program upgrade untuk memasukkan fitur yang lebih canggih seperti radar AESA. Meski demikian, Kementerian Pertahanan Singapura (MINDEF) menyatakan bahwa pesawat-pesawat itu tetap akan pensiun pada tahun 2030.

Dalam layanan Singapura, F-16 berfungsi dalam kapasitas multiperan. Namun, upgrade terbaru tampaknya telah memprioritaskan perannya sebagai pesawat serang daripada pertempuran udara-ke-udara. Sementara beberapa rudal udara-ke-udara yang termasuk dalam paket upgrade, mereka adalah rudal AIM-9X jarak pendek.

Mayoritas peralatan yang dibeli dimaksudkan untuk misi penyerangan, mulai dari kit yang dipandu laser untuk bom hingga rudal udara-ke-darat Maverick AGM-65. Untuk misi udara-ke-udara murni, Singapura kemungkinan akan bergantung pada F-15SG-nya, yang dioptimalkan untuk peran tersebut dengan sistem tambahan seperti infrared search and track (IRST).

Baca juga: F-15 Eagle: Jet Tempur Tua dengan Sejarah Tempur Mengesankan

Dengan demikian, jika F-35 ditujukan untuk menggantikan F-16, kemungkinan karena Singapura memandangnya sebagai pesawat serang ringan yang paling aman di wilayah udara yang akan diisi dengan ancaman yang semakin mematikan.

Sementara jumlah F-35 Angkatan Udara Singapura mungkin tidak cukup untuk serangan saturasi pada lawan besar seperti China yang memiliki kemampuan anti-akses mumpuni, F-35 dapat secara signifikan mengurangi risiko serangan preemptif (pendahuluan) terhadap lawan yang kurang siap seperti Malaysia. Serangan preemptif merupakan bagian penting dari doktrin Singapura mengingat bahwa negara-kota itu tidak memiliki kedalaman defensif, sehingga peningkatan kemampuan di bagian itu mungkin memberikan efek jera.

Varian F-35B juga dapat secara signifikan meningkatkan kemampuan bertahan Singapura jika terjadi kerusakan landasan oleh serangan mendadak karena kemampuan VTOL-nya. Karena Singapura sangat kecil, pangkalan udara yang dimilikinya merupakan target empuk. Sementara serangan terhadap fasilitas ini bisa melumpuhkan kemampuan terbang sortie F-16 atau F-15, kemampuan VTOL dari F-35 memungkinkannya tetap bertahan dalam pertarungan lebih lama ketimbang pesawat-pesawat konvensional.

Singapura mempertahankan kemampuan untuk membuat lapangan terbang yang sesuai dengan bidang udara di Air Power Generation Command mereka, jalur lepas landas pendek dari F-35 akan memungkinkan Air Power Generation Command ini melakukan lebih banyak hal.

Baca juga: 5 Hal yang Mungkin Tidak Anda Ketahui dari F-35
Baca juga: 10 Pesawat Serang Ringan Terbaik di Dunia

F-35 juga terintegrasi dengan baik dengan pesawat Amerika lainnya di Singapura: ia menggunakan datalink, radar, dan ergonomi pilot yang sama. Ini juga terintegrasi dengan baik dengan doktrin Singapura modern.

Militer Singapura sedang berusaha untuk menjadi kekuatan yang gesit dan berjejaring, dalam apa yang mereka sebut IKC2 (Integrated Knowledge-based Command and Control) atau Komando dan Kontrol Berbasis Pengetahuan Terpadu. Kemampuan F-35 untuk memberikan gambar sensor yang kaya dari lingkungan taktis akan membuatnya menjadi aset yang sangat penting dalam doktrin IKC2.

Pindah ke pertimbangan strategis, keputusan Singapura untuk membeli F-35 menempatkannya dalam apa yang oleh China disebut "U.S. F-35 friends circle." Istilah untuk sekelompok negara yang berbatasan dengan Tiongkok yang telah membeli F-35 untuk melawan kekuatan udara Tiongkok yang semakin kuat. Grup ini saat ini termasuk Korea Selatan, Jepang, dan Australia.

Baca juga: Rudal Hipersonik Baru Jepang akan Jebol Dek Kapal Induk China

Pembelian F-35 Singapura menegaskan kembali komitmennya untuk kerja sama pertahanan dan integrasi dengan sekutu regional ini, dalam apa yang oleh beberapa orang disebut "strategic quadrangle."

Keputusan Singapura untuk mengumumkan pembelian F-35 ketika terjadinya serangkaian sengketa laut dan udara dengan Malaysia menunjukkan bahwa kemampuan F-35 dapat menjadi "tongkat besar" yang mungkin digunakan di masa depan dalam urusan regional.

Sementara kekuatan angkatan udara Malaysia masih cukup layak untuk kawasan ini, pesawat terbaru yang sedang mereka pertimbangkan untuk beli hanyalah generasi keempat dan mungkin hanya akan sebanding dengan F-16 Singapura yang telah diupgrade. F-35 akan menjadi keuntungan strategis yang signifikan bagi Singapura, dan dapat mempengaruhi Malaysia untuk mungkin ke Rusia mencari senjata anti-akses yang lebih canggih. (NI)