Monday, July 15, 2013

Hadapi China, AS Buat Rudal yang Mirip Rudal China

Angkatan Laut Amerika Serikat meminta produsen rudalnya untuk mempercepat rancangan dan pembangunan rudal simulasi sebagai gambaran dari rudal subsonik anti-kapal milik China. Bukan kali ini saja, sebelumnya Angkatan Laut AS sudah banyak berupaya mengembangkan dan membangun rudal simulasi yang mirip dengan rudal subsonik anti-kapal milik negara lain.

Rudal C-802 China
Rudal C-802 China (Foto via indiandefence.com)

Analis pertahanan menilai AS mengkhawatirkan seteru-seteru terdekatnya yang semuanya ternyata memiliki banyak rudal subsonik China, yaitu Korea Utara, Iran dan China sendiri. China telah banyak menjual rudal anti-kapal jenis ini, sebut saja C-801 (Yingji-81) dan C-802 (Yingji-82). -Indonesia juga mengakuisisi rudal C-802 China plus produksi bersama-.

Rudal C-801 memiliki panjang 5,81 m, diameter 360 mm, berat 636 kg dan memiliki jangkauan 42 km. C-801 mirip dengan rudal Exocet Perancis dan analis menyakini China membuatnya berdasarkan rudal ini. Versi C-801 yang lebih baik adalah C-802 yang memiliki panjang 6,8 m, diameter 360 mm, berat 682 kg dengan hulu ledak 165 kg. Rudal C-802 memiliki jangkauan hingga 200 km dan terbang dengan kecepatan antara 980-1100 km/jam

Rudal Exocet Perancis memiliki ukuran dan kemampuan yang terbilang sama dengan rudal China tersebut, namun harganya dua kali lebih mahal (lebih dari USD 1 juta per satuan). Rudal Exocet MM Blok 3 baru memiliki jangkauan yang lebih jauh (180 km) karena dukungan mesin turbojetnya. Exocet adalah rudal 670 kg yang telah ada selama lebih dari tiga dekade, telah terbukti dalam pertempuran, dan terkenal dapat diandalkan. Analis menilai kemampuan C-802 masih dibawah Exocet, namun sudah mendekati. China terus mengembangkan "klon" rudal Exocet tersebut dan hanya menunggu waktu akan melampauinya.

Kembali ke AS, Angkatan Laut AS meminta percepatan pembangunan rudal simulasi subsonik yang memiliki kecepatan sekitar 900 kilometer per jam, bisa terbang di ketinggian 1 meter di atas air, bisa bermanuver, memiliki jangkauan 700 km, dan dengan harga kurang dari USD 200 ribu. Rudal simulasi ini akan dilengkapi dnegan perangkat elektronik canggih agar tetap bisa melakukan manuver dengan dikendalikan oleh operator dari jarak jauh, mampu mengatasi upaya jamming (pengacauan radar) dan segala macam informasi penerbangan.

Angkatan Laut AS berharap untuk mengulang sukses sebelumnya. Tiga tahun lalu, setelah hampir satu dekade upaya pengembangan, Angkatan Laut AS menempatkan rudal simulator anti-kapal berkecapatan tinggi ke dalam layanannya. Adalah Coyote Ssst GQM-163A (Supersonic Sea-Skimming Target) yang panjangnya 9,44 m, berat 800 kg dengan roket kombinasi bahan bakar padat dan propulsi (mesin) Ramjet. Rudal simulasi Coyote ini memiliki jangkauan 110 km dengan kecepatan tertinggi lebih dari 2.600 kilometer per jam (karena Ramjetnya).

Coyote dimaksudkan untuk memberikan gambaran pada kapal perang AS mengenai simulasi nyata serangan oleh rudal jelajah rusia yang serupa (seperti rudal Klub). Setidaknya 39 Coyote yang akan dibangun, dengan biaya masing-masing sekitar USD 515 ribu. Coyote adalah rudal simulasi pertama AS yang berhasil menggunakan mesin Ramjet, dan sekarang teknologi ini sudah bisa diterapkan AS ke rudal-rudal lainnya. Coyote dibuat untuk tujuan antisipasi dalam menghadapi rudal-rudal anti-kapal berkecepatan tinggi yang saat ini sudah banyak dimiliki negara-negara di dunia.

Rudal Klub
Rudal Klub (Foto via defence.pk)

Secara khusus, ada kekhawatiran AS tak mampu membendung serangan dari rudal anti-kapal 3M-54 Rusia (juga dikenal dengan sebutan SS-N-27, Sizzler atau Klub) yang juga digunakan oleh kapal-kapal selam China. Namun bisa jadi juga tidak, karena India (importir utama rudal Klub Rusia) telah bersitegang dengan Rusia karena India telah enam kali menemui kegagalan dalam uji tembak rudal Klub tiga tahun lalu. Rudal-rudal itu ditembakkan India dari kapal selam kelas Kilo, INS Sindhuvijay di lepas pantai Rusia. Kapal selam yang dikirim kembali ke Rusia pada tahun 2006 untuk upgrade. India menolak untuk membayar biaya upgrade, atau mengambil kembali kapal selam tersebut, hingga Rusia menyelesaikan problem pada rudalnya.

Berat rudal Klub 2 ton, dan ditembakkan dari tabung torpedo 533 mm (21 inci) kapal selam kelas Kilo. Rudal Klub bermuatan 200 kg hulu ledak. Versi anti kapal dari rudal Klub memiliki jangkauan 300 km, kecepatannya bisa mencapai 3000 km/jam saat menit terakhir penerbangannya. Ada juga rudal klub versi peluncuran dari udara (pesawat) dan kapal. Untuk versi daratnya dilengkapi dengan hulu ledak 400 kg. Yang membuat rudal Klub sangat berbahaya adalah ketika saat akan mendekati target, yang dimulai sekitar 15 kilometer dari target. Pada saat itu, rudal ini terbang di ketinggian hanya sekitar 30 m. Inilah yang membuat rudal ini sulit dideteksi. Dan juga, pada 15 km terakhir, rudal ini sudah mencapai kecepatan tertingginya, artinya akan segera menghantam target dalam waktu kurang dari 20 detik (kecepatan 3000km/jam). Inilah yang membuat sulit senjata anti-rudal untuk menjatuhkannya.

Rudal Klub ini mirip dengan rudal anti-kapal sebelumnya yang dikembangkan Uni Soviet di era Perang Dingin, yaitu rudal Sunburn (3M80) yang memiliki hulu ledak lebih besar (300 kg), namun dengan jangkauan lebih pendek (120 km). Rudal Sunburn masih dalam tahap pengembangan saat akhir-akhir Perang Dingin dan akhirnya baru masuk ke layanan pada satu dekade lalu. Bahkan juga rudal Klub terbilang mirip dengan rudal yang lebih tua yaitu rudal Shipwreck (P700, yang memiliki hulu ledak 750 kg dan jangkuan 550 km. Rudal ini mulai digunakan Uni Soviet pada tahun 1980.

Rudal-rudal Rusia (atau juga Uni Soviet) ini dianggap sebagai "pembunuh kapal induk," namun tidak diketahui berapa banyak rudal yang harus digunakan untuk benar-benar menghentikan aksi sebuah kapal induk, apalagi untuk menenggelamkannya. Walaupun terbilang canggih pada masanya, Rudal Rusia tidak memiliki pengalaman tempur yang banyak dan kinerjanya juga terkadang tidak menentu (mirip kasus India tadi). Quality control tidak menjadi kekuatan Uni Soviet, tetapi kini Rusia jelas sudah semakin baik.

Kasus yang mirip dengan India ini juga terjadi pada TNI AL 2012 lalu. Namun bukan dengan rudal Klub, tapi rudal Yakhont. Ketika itu dilakukan uji penembakan rudal Yakhont dari KRI Oswald Siahaan 354 (KRI OWA) di Samudera Hindia. Operator dari Rusia pun diperbantukan untuk mengoperasikan rudal Yakhont tersebut (karena baru diakuisisi). Namun rudal gagal mengunci sasarannya, dan operator Rusia tersebut pulang tanpa membuat evaluasi apa pun. Namun saat Latihan Puncak Armada Jaya XXXI/2012, TNI AL kembali menguji tembak rudal Yakhont dengan KRI OWA tanpa bantuan Rusia, berhasil, dan tingkat kehancurannya pun diluar dugaan. Semoga ini cuma faktor sumber daya manusianya saja, bukan karena quality control rudal-rudal buatan Rusia.

Kembali ke topik lagi, AS memang terlihat khawatir. Namun entah, apa ini karena Angkatan Laut AS memang tidak memiliki pertahanan dari rudal semacam Klub. Atau, mungkin mereka sudah mengembangkan/memiliki sistem pertahanannya tapi tidak ingin musuh-musuh potensial AS tahu bagaimana cara kerja sistem pertahanan dari rudal tersebut.