Showing posts with label Sejarah dan Perang. Show all posts
Showing posts with label Sejarah dan Perang. Show all posts

Tuesday, November 06, 2018

100 Tahun Lalu, Jerman Mengakui Kekalahan dalam Perang Dunia I

Jerman Mengakui Kekalahan dalam Perang Dunia I

Pagi hari tanggal 11 November 1918, sebuah mobil yang membawa ketua tim negosiator Jerman, Mathias Erzberger, menyeberang perbatasan Belgia-Prancis. Tujuannya sebuah hutan kecil di Compiegne, sekitar 90 kilometer dari Paris. Di sana dia bertemu dengan ketua tim negosiator Perancis, Marshall Ferdinand Foch, yang juga mewakili pihak Sekutu.

Di atas sebuah gerbong kereta api (foto artikel), kedua orang itu menandatangani sebuah dokumen bersejarah: kesepakatan gencatan senjata (armistice) yang mengakhiri Perang Dunia I. Kesepakatan itu secara teknis sebenarnya adalah kapitulasi (pengakuan kalah perang) Jerman. Beberapa bulan kemudian, para pimpinan Jerman dan Sekutu menandatangani perjanjian perdamaian di Istana Versailles.

Di beberapa negara sekutu, gencatan senjata 11 November diperingati sekaligus sebagai Hari Veteran. Jerman, sebagai pihak yang kalah perang, tidak merayakan hari itu, melainkan mulai tahun 1952 merayakan Volkstrauertag (Hari Berkabung) setiap tanggal 16 November.

Geliat terakhir armada perang Jerman

Musim panas 1918, pasukan Jerman melancarkan serangan di sepanjang Front Barat. Mereka berhasil memenangkan beberapa wilayah, sekalipun menderita kerugian besar. Antara Maret sampai Juli saja, jumlah pasukan berkurang dari 5,1 juta menjadi 4,2 juta orang. Kekaisaran Jerman berusaha memobilisasi pasukan tambahan dengan mengerahkan serdadu terluka yang belum pulih dan rekrutan muda usia 18 tahun yang terkena wajib militer.

Kekalahan itu sudah bisa diperkirakan, setelah AS di bawah Presiden Woodrow Wilson pada April 1917 turut menyatakan perang melawan Jerman. Ribuan pasukan lalu dikirim ke Eropa. Awal musim gugur 1918, sekitar 10 ribu tentara AS tiba setiap hari di medan perang.

Kedatangan pasukan AS yang berperalatan lengkap membuat pasukan Jerman kewalahan. Para pemimpin militer dan sipil menyadari, perang tidak bisa dimenangkan lagi, kehancuran total front Jerman hanya bisa dicegah melalui gencatan senjata.

Perang yang menghancurkan

Saat itu Eropa sudah mengalami empat tahun perang yang hebat. Ketika mengendarai mobil melewati daerah Belgia dan Perancis, Mathias Erzberger sendiri terpana dengan kondisi sekitar yang dilihatnya. "Tidak ada satu pun rumah yang tersisa, satu kehancuran datang menyusul yang lain," tulis jurnalis dan politisi Jerman itu. "Di bawah sinar bulan reruntuhan tampak seperti hantu di udara. Tidak ada makhluk hidup yang menunjukkan dirinya."

Perang Dunia I adalah perang yang paling mematikan dalam sejarah. Kemajuan teknologi dan industrialisasi yang terjadi saat itu melahirkan senjata-senjata mengerikan yang belum pernah dilihat sebelumnya, baik dalam kuantitas maupun kualitas: kendaraan lapis baja yang tidak bisa ditembus peluru, perahu yang bisa bermanuver di bawah permukaan air, artileri kaliber besar dengan daya jangkau jauh, senjata kimia dengan gas beracun.

Para sejarawan militer memperkirakan, sekitar 850 juta munisi artileri ditembakkan selama Perang Dunia I. Industri berlomba-lomba memproduksi senjata pembunuh massal. Penemuan senjata mesin jenis baru merenggut nyawa hampir 11 juta tentara. Negara-negara yang terlibat perang memobilisasi hampir 56 juta pasukan. Rata-rata 6.000 tentara tewas setiap hari di medan perang. Lebih dari 21 juta tentara cedera sampai cacat - mereka kehilangan bagian tubuh, harus diamputasi, atau berakhir buta atau tuli.

Kesepakatan gencatan senjata 11 November 1918 akhirnya mengakhiri perang, namun tidak berarti mengakhiri penderitaan. Kesulitan, kesedihan, kemelaratan dan rasa frustasi terus mencengkeram, terutama di Jerman. Ini menjadi lahan subur bagi kebangkitan kembali politik militerisme dan munculnya seorang diktator paling kejam dalam sejarah dunia: Adolf Hitler.

Resources
  • https://www.tempo.co/dw/300/100-tahun-lalu-perang-dunia-i-antara-jerman-dan-sekutu-resmi-berakhir

Monday, September 17, 2018

Pabrik Pindad Pernah Tersambung Rel Kereta Api

Rel kereta api Pindad

Angkutan kereta api menjadi obyek vital di Pulau Jawa, terutama pada zaman kolonial Belanda dan awal-awal masa kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Salah satunya, penggunaan kereta api untuk mengangkut produk-produk militer, terutama senjata dan amunisi dari pabrik senjata dan mesiu Kiaracondong Bandung yang kini bernama PT Pindad (Persero).

Keberadaan rel kereta api menuju kawasan Pindad, diawali sejak didirikannya pabrik senjata dan mesiu di Kiaracondong tahun 1923 setelah dialihkan dari Surabaya. Pada masa itu, banyak industri yang didirikan kolonial Belanda dikoneksikan dengan jalur rel kereta api untuk angkutan massal.

Kini, lintasan rel kereta api yang menuju atau dari pabrik senjata Pindad, nyaris sulit dikenali. Apalagi, lintasan rel umumnya sudah hampir tertutup menjadi Jalan Sukapura dan padatnya pemukiman setempat.

Meski demikian, banyak pegawai senior Pindad masih mengingat dan mengetahui keberadaan lintasan rel kereta api dari Stasiun Kiaracondong ke kawasan Pindad itu. Termasuk masyarakat sekitar yang mendirikan bangunan di bekas-bekas lintasannya.

Beberapa pensiunan Pindad pun menunjukkan tempat parkir sepeda motor yang dahulunya sampai tahun 1970-an dan awal 1980-an, masih berupa ujung percabangan rel kereta api angkutan di kawasan Pindad. Bahkan tahun 1960-an sampai 1970, masih tampak beberapa lokomotif uap berada di lokasi tersebut. Namun tak diingat lagi kapan lokomotif-lokomotif tersebut terakhir masuk ke kawasan Pindad.

Seingat sejumlah pensiunan Pindad, rel kereta api yang tersambung ke Stasiun Kiaracondong, berukuran normal dengan lebar umumnya 1,067 meter. Dari Stasiun Kiaracondong pernah ada percabangan buntu di Stasiun Cikudapateuh yang kini sudah tertutup tanah. Dulu, di sanalah tempat menurunkan senjata dan amunisi untuk kawasan militer setempat.

Ada pula rel ukuran lebih kecil, sekitar 600 mm yang merupakan angkutan kereta api lori berukuran kecil. Saat ini rel tersebut masih relatif utuh di kompleks Pindad, terutama di kawasan-kawasan tertentu yang kini menjadi hutan koloni.

Rata-rata, rel itu tersambung satu sama lain dengan sejumlah tempat penyimpanan hasil produksi yang mirip bunker penyimpanan. Dahulu, rel-rel ukuran kecil inilah yang mengangkut senjata, amunisi, ranjau, dan lainnya, dari pabrik untuk kemudian dipindahkan ke angkutan kereta api besar menuju Stasiun Kiaracondong.

Dari Stasiun Kiaracondong, berbagai produk senjata, amunisi, dan ranjau dikirim dengan kereta api ke gudang senjata di Bandung, Cimahi, Batavia (Jakarta), Jawa Tengah, lalu ke Surabaya (Jawa Timur).
Rel kereta api Pindad
Foto van dhr. Jacobs, werkzaam bij artileri fabriek ACW (Artileri Comstructie Winkel dari Werkplaats) di Bandoeng Tanggal 1 Desember 1920
Sejumlah dokumen sejarah dari Belanda mencatat pabrik senjata dan mesiu Kiaracondong masih menggunakan proses pengiriman tersebut sampai pertengahan tahun 1960-an. Gambaran jalur kereta api di pabrik senjata Kiaracondong, dapat dilihat pada peta Kota Bandung yang dilansir AFNEI pada November 1945 milik Centrale Bibliotheek Amsterdam yang tersimpan di Delft University of Technology Belanda.

Tampak jalur rel ke ACW (Artilerie Constructie Winkel (ACW) yang menjadi bagian dari pabrik senjata dan mesiu Kiaracondong tersebut, mulai dari Stasiun Kiaracondong kemudian percabangan di Sukapura menyisir sungai menuju ke ACW lalu berujung di Cidurian.

Sedangkan dalam dokumen Ministerie van Defensie NIMH Belanda, tampak pula rangkaian pengangkutan produk-produk senjata, bom, ranjau, dan amunisi di dalam kompleks pabrik senjata dan mesiu Kiaracondong yang ditarik lokomotif kecil bertenaga diesel.

Kini di tahun 2018, sebagian bekas-bekas rel yang tersambung ke kawasan Pindad dari Stasiun Kiaracondong masih tampak, misalnya di ujung tempat parkir sepeda motor. Tampak sebuah bundaran (kabarnya bekas jembatan putar lokomotif), di sana terdapat bekas rel yang dilintangkan di atasnya.

Melihat kondisi jalan semakin macet, angkutan kereta api sebenarnya kembali menjadi andalan. Khusus jalur rel kereta api yang menghubungkan kawasan Pindad ke Stasiun Kiaracondong yang kemudian menghubungkan ke berbagai kota lainnya di Pulau Jawa, potensial kembali diaktifkan untuk mendukung distribusi produk-produk Pindad dalam mendukung industri pertahanan nasional di Pulau Jawa.

Resources
  • Pindad Update, April 2018

Saturday, August 25, 2018

3 Senjata Penentu Kemenangan Uni Soviet atas Jerman dalam PD II

Peluncur roket Katyusha

Salah satu babak paling menentukan dalam Perang Dunia II adalah invasi Jerman ke Uni Soviet. 

Adolf Hitler memulai operasi Barbarossa pada 22 Juni 1941 yang diharapkannya mampu menguasai Uni Soviet dengan cepat. Namun, perhitungan Hitler salah besar. Bentang alam yang tak ramah ditambah kegigihan Tentara Merah mengakibatkan Nazi tak bisa menancapkan kukunya.

Selain kegigihan tentara dan keganasan alam, Uni Soviet memiliki sejumlah senjata yang menjadi ancaman serius bagi pasukan Nazi.

Berikut ini adalah tiga senjata yang digunakan Uni Soviet untuk menghalau serangan Nazi.

1. Peluncur Roket Katyusha

Peluncur roket Katyusha
Peluncur roket Katyusha menembaki pasukan Jerman, selama Pertempuran Stalingrad pada 6 Oktober 1942 (Gambar: Wiki Common)
Ada beberapa teori mengapa peluncur roket BM-13 diberi nama ‘Katyusha’, yang merupakan nama perempuan Rusia. Salah satu teori mengatakan, suara yang dihasilkan senjata ini ketika meluncurkan roket sama dengan nada lagu berjudul sama.

Bagi pasukan Jerman, suara proyektil yang melesat dari moncong Katyusha amat menakutkan karena saat menghantam sasaran peluru Katyusha menyebarkan serpihan logam ke berbagai arah.

Senjata ini sangat efektif untuk menghadapi tentara infanteri, tapi tidak untuk menghancurkan tank dan kendaraan lapis baja. Roketnya meski dilengkapi dengan peluru berdaya ledak tinggi, tetapi tak mampu menembus lapis baja tank atau kendaraan taktis lainnya.

2. Tank T-34

Tank T-34 Uni Soviet
Tank T-34 Uni Soviet (Gambar: Youtube)
T-34 adalah tank medium buatan Uni Soviet yang diproduksi dari tahun 1940 sampai 1958.  Tank ini juga membantu mengubah nasib Uni Soviet saat perang. Ia adalah salah satu mesin perang terpenting dalam sejarah Uni Soviet. Tank ini sudah mengalami berbagai upgrade, salah satunya dengan dipasang meriam berkaliber 76 mm.

Tank ini memiliki daya tembak yang luar biasa, bisa menghancurkan lapisan baja tank Tiger milik Jerman. Tank ini juga memiliki mobilitas dan lapisan baja tebal yang melindungi awaknya dari bahaya.

Walaupun lapisan baja dan senjatanya kemudian diungguli oleh tank lainnya pada era itu, T-34 sering disebut sebagai tank paling efektif, efisien, dan memiliki desain paling berpengaruh pada Perang Dunia Ke-II.

3. Pesawat Ilyushin Il-2

Pesawat tempur Ilyushin Il-2
Pesawat tempur Ilyushin Il-2 (Gambar: Wiki Common)
Satu lagi mesin militer yang berperan penting atas kemenangan Uni Soviet di Perang Dunia II adalah pesawat serangan darat Ilyushin Il-2. Pesawat ini  memiliki julukan "Tank Terbang" karena lapisan bajanya yang tebal.

Il-2 bukanlah pesawat memiliki kemampuan manuver terbaik, tapi ia adalah salah satu pesawat tempur paling efektif untuk menghancurkan sasaran terutama di darat. Pesawat ini juga irit bahan bakar. Sekali mengisi BBM, Il-2 bisa terbang sejauh 700 kilometer.

Il-2 dilengkapi dua senapan mesin kaliber 23 mm dan dua senapan mesin 7,62 mm yang amat efektif menghancurkan musuh di darat. Selain itu, ia juga bisa menurunkan bom-bom RS-82 dan RS-132 dengan berat hingga 600 kilogram.

Salah satu fitur paling menarik Il-2 adalah kemampuannya mendarat tanpa roda dalam kondisi darurat.

Resources
  • Intisari

Monday, August 06, 2018

Perang Tahun 1812, Amerika Serikat VS Inggris Raya

Ilustrasi Perang Tahun 1812

Perang yang terjadi antara Amerika Serikat dengan Inggris Raya ini dikenal sebagai "War of 1812",  atau biasa disebut juga “Perang Kesalahan Komunikasi”. 

Perang ini terjadi pada 18 Juni 1812, setelah Amerika Serikat menyatakan perang terhadap Inggris Raya. Amerika Serikat merasa geram dengan tindakan Inggris yang sering mengganggu kapal-kapal dagang Amerika, termasuk melakukan tindakan buruk pada para pelaut Amerika.

Sebelum perang benar-benar terjadi, Perdana Menteri Inggris Spencer Perceval tewas dibunuh pada Mei 1812. Kabinet Inggris yang baru berusaha mencabut Orders in-Council, yang dikenal karena citra buruknya, di mana mereka selalu memaksakan mendahulukan kepentingan umum.

Kabinet Inggris yang baru berusaha menghentikan perang dan mereka mengirimkan perwakilannya untuk memberitahukan kebenaran yang terjadi. Namun, pemerintah Amerika Serikat tidak mengetahui peristiwa tersebut sehingga mereka mengirimkan pasukannya untuk berperang.

Perwakilan Inggris yang tiba di New York City terlambat beberapa hari. Oleh karenanya situasi antara Inggris dan Amerika tidak berubah.

Pasukan Amerika berusaha menangkap orang-orang Inggris yang berada di Kanada. Dengan jumlah yang tidak lebih dari 500.000 jiwa, Kanada akan kesulitan membendung serangan dari Amerika Serikat.

Akan tetapi justru permasalahan berada di kubu pasukan Amerika. Komunikasi di antara para komandan perang Amerika cukup buruk, sehingga membuat mereka kalah dan Inggris berhasil menguasai Benteng Detroit, serta sebuah garnisun penting Amerika.

Pasukan laut Amerika jauh lebih unggul dibandingkan pasukan laut Inggris. Amerika memiliki kapal-kapal perang yang tangguh dan baru, sedangkan Inggris memiliki model kapal yang sudah lama. Amerika beberapa kali memperoleh kemenangan di laut berkat kehebatan pasukan dan peralatan yang mereka miliki.
Perang tahun 1812
Ilustrasi kapal pasukan laut Amerika menenggelamkan kapal pasukan laut Inggris dalam Perang Tahun 1812. (Foto: Wiki Common)

Pada 1813, status quo dipertahankan di wilayah New York tetapi Amerika memenangkan sebuah pertempuran laut yang cukup penting di Danau Eriedd. Selain itu juga seorang kepala suku Shawnee, Tecumseh, yang merupakan sekutu penting Inggris, tewas terbunuh dalam Perang Sungai Thames.

Pasukan Amerika pun berhasil mendominasi sepanjang tahun 1813. Tetapi kekuatan Inggris semakin besar, setelah mereka mendapat tambahan pasukan dari kelompok tentara yang ikut berperang bersama Inggris melawan Prancis.

Prajurit Inggris berhasil menduduki dan membakar sebagian Washington DC pada bulan Agustus. Tetapi mereka berhasil dipukul mundur di Baltimore pada September 1813. Pasukan Inggris berhasil memasuki New York, tetapi segera mundur setelah Amerika memenangkan perang laut di Danau Champlain.

Pada Desember 1814, pasukan Inggris terlah mendekati wilayah New Orleans. Mereka tidak mengetahui perjanjian Damai Ghent telah ditandatangani dan setuju penyelesaian perang. Perang New Orleans pun pecah pada 8 Januari 1815. Perang itu menjadi bencana bagi Inggris karena kehilangan 2.000 prajurit.

Resources
  • Crompton, Samuel Willard. 2007. 100 Peperangan yang Berpengaruh di Dalam Sejarah Dunia. Tanggerang: Karisma

Friday, July 27, 2018

Kopaska Juga Dibekali Kondom Saat Rebut Irian Barat

Kopaska

Pada tahun 1962, ketika pemerintah RI melancarkan operasi militer bersandi Operasi Trikora untuk merebut Irian Barat (Papua) dari tangan Belanda, semua kekuatan militer yang dimiliki oleh Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI/TNI) dikerahkan.

Pasukan khusus seperti Komando Pasukan Gerak Tjepat AURI, RPKAD (TNI AD), dan Kopaska (TNI AL) juga dikerahkan untuk melakukan misi penyusupan, sabotase, intelijen, dan melancarkan perang secara gerilya.

Pasukan Kopaska meski menjadi ujung tombak dalam pertempuran di laut ternyata menjadi pasukan yang paling akhir dikirimkan ketika APRI akan melancarkan serangan besar-besaran melalui operasi militer bersandi Jayawijaya.

Pasukan Kopaska yang diberangkatkan dari Jakarta ke Surabaya melalui misi sangat rahasia ini kemudian menuju ke gudang senjata PAL (Penataran Angkatan Laut) untuk mengambil senjata dan bahan peledak serta peralatan khusus lainnya.

Tapi mereka terkejut karena hampir semua senjata telah digunakan oleh pasukan lain dan sukarelawan demi melaksanakan operasi tempur Jayawijaya.

Pasukan Kopaska yang memiliki motto Tan Hana Wighna Tan Sirna (Tidak Ada Rintangan yang Tidak Dapat Diatasi) pun tetap memiliki semangat tempur tinggi meski hanya berbekal persenjataan yang tersisa.

Persenjataan itu antara lain senapan laras panjang yang hanya efektif untuk keperluan pertempuran jarak dekat seperti Madsen M-50 buatan Denmark.

Padahal idealnya personel Kopaska bersenjata senapan serbu AK-47 buatan Rusia mengingat demi mendukung Operasi Trikora, APRI telah membeli senapan AK-47 dalam jumlah besar.

Semula personel Kopaska juga kesulitan menemukan alat pemicu bahan peledak di gudang PAL karena telah dibawa oleh pasukan lain. Tapi beruntung mereka masih menemukan beberapa gulung kabel firecord yang merupakan kabel berisikan bahan peledak berkekuatan tinggi dan bisa difungsikan sebagai pemicu bahan peledak.

Namun, dalam misi tempurnya, pasukan Kopaska juga selalu dibekali kondom dalam jumlah banyak untuk kepentingan membungkus bahan peledak atau detonator yang akan digunakan untuk operasi bawah air (underwater demolition).

Saat itu kebetulan setiap personel Kopaska hanya mendapat pembagian kondom dalam jumlah terbatas. Sehingga mereka sudah membayangkan misi peledakan bawah air akan mengalami kesulitan akibat kekurangan kondom itu.

Pada awal Agustus 1962 pasukan Kopaska sudah tiba di Teluk Peleng, Maluku dan bersama pasukan lainnya sudah siap melaksanakan operasi tempur habis-habisan (all out) melawan pasukan Belanda.

Misi tempur mereka bahkan bersifat one way tiket atau siap gugur dalam pertempuran demi bangsa dan negara. Apalagi salah satu tugas mereka adalah meledakkan kapal-kapal perang Belanda menggunakan torpedo yang dikendalikan manusia dan merupakan misi beresiko sangat tinggi.

Tapi pasukan Belanda akhirnya merasa gentar dengan persiapan tempur APRI yang begitu lengkap. Pasalnya APRI juga mengerahkan pesawat pembom Tu-16 buatan Rusia, Belanda akhirnya lebih memilih langkah diplomasi dan menyerahkan Irian Barat ke Indonesia melalui PBB pada 15 Agustus 1962.

Semua pasukan APRI pun kemudian ditarik ke Jakarta (Jawa) termasuk pasukan Kopaska yang kemudian kembali ke pangkalan untuk terus berlatih dan berlatih demi kesiapan menjalankan misi tempur rahasia di mana saja.

Resources
  • Sumber : Kopaska Spesialis Pertempuran Laut Khusus, TNI AL, 2012

Thursday, July 19, 2018

Ditemukan: Bangkai Kapal Perang Rusia Bawa Emas Miliaran Dolar

Kapal perang Rusia Dmitrii Donskoi

Sebuah bangkai kapal perang era Kekaisaran Rusia yang bernama Dmitrii Donskoi ditemukan di lepas pantai Korea Selatan (Korsel). Kapal perang yang tenggelam dalam pertempuran laut 113 tahun yang lalu itu diyakini mengangkut 200 ton emas batangan dan koin senilai USD130 miliar (rumor lain menyebutkan 170 miliar).

Kapal perang itu ditemukan sekitar satu mil dari pulau Ulleungdo di kedalaman lebih dari 1.400 kaki. Diperkirakan kapal tersebut tenggelam selama Perang Rusia-Jepang dan mengangkut emas dari seluruh armada kapal.

Dmitrii Donskoi adalah kapal penjelajah lapis baja milik armada Baltik Angkatan Laut Kekaisaran Rusia yang dikerahkan ke Pasifik dalam Perang Rusia-Jepang tahun 1904-1905. Kapal perang itu akan mengambil bagian dalam Pertempuran Tsushima yang menjadi saksi kekalahan Rusia atas tangguhnya armada laut kekaisaran Jepang.

Surat kabar The Daily Telegraph melaporkan bahwa tim gabungan menemukan bangkai kapal pada hari Minggu. Mereka telah menggunakan dua kapal selam berawak untuk merekam bangkai kapal perang tersebut.

"Gambar yang diambil oleh kru kapal selam menunjukkan kerusakan yang luas pada kapal yang disebabkan dalam perjumpaan dengan kapal perang Jepang pada bulan Mei 1905, bersama dengan meriam dan senjata di dek bertatahkan tumbuhan laut, jangkar dan roda kapal," tulis Telegraph, yang dikutip Kamis (19/7/2018).

Beberapa catatan sejarah telah mengungkap bahwa Dmitrii Donskoi membawa perbendaharaan seluruh armada yang akan mencakup biaya pelabuhan dan juga gaji para pelaut dan perwira. Cadangan emas dari berbagai kapal lain yang rusak dalam pertempuran kemungkinan juga diangkut ke kapal perang itu.
Bangkai kapal Angkatan Laut Rusia Dmitrii Donskoi
Bangkai kapal Angkatan Laut Kekaisaran Rusia Dmitrii Donskoi, yang terletak di lepas pantai Ulleungdo Korea Selatan
Perusahaan pemburu harta karun Korsel, Shinil Group, menghabiskan bertahun-tahun mencoba untuk menemukan kapal harta karun dan sekarang sedang mempersiapkan operasi gabungan dengan perusahaan-perusahaan dari China, Kanada dan Inggris untuk mengambil harta karun.

“Kami melihat hal-hal yang terlihat seperti kotak harta karun, tetapi kami belum membukanya," bunyi pernyataan perusahaan tersebut.

"Kami akan membukanya pada waktunya," imbuh pernyataan itu seperti dikutip dari Daily Express, Rabu (18/7/2018).

Perusahaan Shinil telah berjanji untuk menyerahkan 10 persen dari uang yang ditemukan pada kapal perang pada proyek investasi di Pulau Ulleng, yang merupakan tujuan wisata populer bagi warga Korsel.
Bangkai kapal Angkatan Laut Rusia Dmitrii Donskoi
Bangkai kapal Angkatan Laut Kekaisaran Rusia Dmitrii Donskoi
Perusahaan juga berharap dapat membuat museum tentang kapal yang tenggelam. Museum ini kemungkinan akan melakukan pameran bernama Kapten Ivan Lebedev, yang meninggal beberapa hari setelah Pertempuran Tsushima

Rusia juga akan mendapatkan bagian yang sama dari harta karun itu karena mereka adalah pemilik kapal yang sah dan telah membantu perusahaan Korsel dalam melakukan pencarian tersebut.

Dana tersebut dapat digunakan untuk proyek bersama Rusia dan Korsel, seperti kereta api yang menghubungkan Negeri Beruang Merah itu dengan Negeri Ginseng.

Resources
  • https://international.sindonews.com/read/1323003/46/bangkai-kapal-perang-rusia-bawa-miliaran-emas-ditemukan-di-korsel-1531930559
  • Gambar: SHINIL GROUP

Sunday, July 08, 2018

Tinggal Sejarah: Armada Luar Angkasa Uni Soviet

Kosmonot Yuri Gagarin
Meskipun namanya terdengar demikian, Armada Luar Angkasa Soviet tidaklah dirancang untuk pertempuran antargalaksi. Namun, mereka adalah kapal-kapal ilmiah canggih yang memberikan kontribusi luar biasa terhadap eksplorasi ruang angkasa Soviet.

Armada Luar Angkasa Uni Soviet
Ketika Uni Soviet gencar mengembangkan program luar angkasa pada akhir 1950-an 60-an, mereka menghadapi masalah besar. Pusat kendali sistem ruang angkasa hanya dapat secara efektif melacak dan mengontrol pesawat luar angkasa ketika berada di orbit di atas wilayah Uni Soviet saja, sedangkan untuk di orbit lain Soviet "buta" akan pesawat luar angkasa mereka. Maka dari itu Soviet membutuhkan pusat pelacakan di seluruh muka Bumi, tetapi masalahnya mereka tidak punya kekuasaan di luar negeri. Jadi diusulkan untuk menggunakan kapal demi tujuan ini. Dengan demikian, lahirlah Armada Luar Angkasa Angkatan Laut Soviet.

Armada Luar Angkasa Uni Soviet
Kapal-kapal pertama Armada Luar Angkasa muncul pada akhir 1950-an dan untuk sementara dibuat dari kapal-kapal kargo. Namun, sejak tahun 1967 dan seterusnya, kapal-kapal pelacak (tracker) ini dibangun sesuai dengan desain yang seharusnya.

Armada Luar Angkasa Uni Soviet
Kapal tracker dilengkapi dengan peralatan paling canggih, termasuk puluhan parabola dan antena gelombang pendek, yang memungkinkan interaksi efektif dengan pesawat luar angkasa dan transmisi data ke pusat komando di daratan.

Armada Luar Angkasa Uni Soviet
Seluruh kapal tracker dari Armada Luar Angkasa diberi dinamai dari nama para kosmonot dan tokoh terkenal dalam sejarah keantariksaan Soviet: 'Cosmonaut Vladimir Komarov', 'Cosmonaut Vladislav Volkov', 'Akademisi Sergey Korolyov', dan lain-lain.

Armada Luar Angkasa Uni Soviet
Dibangun pada 1971, kapal utama dari Armada Luar Angkasa adalah 'Yuri Gagarin', yang merupakan kapal pelacak terbesar dan paling canggih di Uni Soviet dengan 86 laboratorium dan 75 antena di atas kapal. Stabilizer kapal memastikan kondisi kerja yang nyaman bahkan selama badai kencang.

Armada Luar Angkasa Uni Soviet
Kapal tracker digunakan tidak hanya untuk penelitian ilmiah luar angkasa, tetapi juga untuk menguji rudal balistik Angkatan Laut Uni Soviet. Namun, itu bukan misi utama mereka karena Angkatan Laut Uni Soviet punya kapal tracker militer khusus untuk menjalankan tugas ini, seperti SSV-33 Ural dan Marshal Krylov.

Armada Luar Angkasa Uni Soviet
Setelah Uni Soviet bubar, hampir semua kapal dari Armada Luar Angkasa dibongkar di Pelabuhan Alang, salah satu kuburan kapal terbesar di dunia yang terletak di India.

Kapal terakhir dari Armada Luar Angkasa Angkatan Laut, Cosmonaut Victor Patsayev, telah pensiun pada tahun 2001 dan saat ini menjadi bagian dari World Ocean Museum di Kaliningrad.

Resources
  • https://www.rbth.com/science-and-tech/328318-soviet-naval-space-fleet

Tuesday, June 26, 2018

Kisah Heroik: Personel Kopaska Tanpa Senjata Usir Kapal Perang Malaysia

Kopaska

Setiap kali Indonesia memiliki masalah perbatasan di lautan dengan negara tetangga, maka sebagai tim aju Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL akan menjadi ujung tombaknya. Misalnya, krisis perbatasan RI-Malaysia di Ambalat pada pertengahan 2005 lalu. Dalam sebuah momen, seorang personel Kopaska melaksanakan tindakan heroik demi menjaga keutuhan NKRI.

Saat itu dalam upaya pembangunan mercusuar Karang Unarang sebagai salah satu titik terluar perbatasan, TNI AL menempatkan satu tim Kopaska asal Satkopaska Armada Timur (Armatim) ke lokasi tersebut. Tujuan penggelaran pasukan Kopaska adalah untuk mengamankan proses pembangunan sekaligus juga melindungi para pekerja RI yang ada di situ.

Sebelumnya pihak Malaysia memang pernah berusaha menghambat pembangunan mercusuar tersebut. Caranya adalah dengan mengerahkan kapal-kapal milik Marine Police dan TLDM (Tentara Laut Diraja Malaysia) untuk melakukan manuver-manuver yang bisa menimbulkan ombak tinggi sehingga bisa mengganggu pembangunan mercusuar.

Tak hanya itu, mereka bahkan sempat berlabuh di lokasi pembangunan dan melakukan intimidasi dan penganiayaan terhadap para pekerja.

Pada 1 April 2005, sekitar pukul 06.00 WITA (Waktu Indonesia Tengah), kapal-kapal Malaysia kembali melakukan aksinya. Dua kapal mereka terdeteksi buang jangkar di jarak sekitar 500 yard dari Pontoon Lius Indah, lokasi di mana tim Kopaska ditempatkan.

Ketika diidentifikasikan dua kapal itu adalah satu kapal milik Marine Police Malaysia, sedang satunya lagi adalah kapal TLDM.

Satu jam kemudian upaya pertama pengusiran dilakukan oleh sebuah kapal patroli TNI AL, KRI Todong Naga (819). Tapi upaya ini tak membuahkan hasil, kedua kapal Malaysia tetap berada di tempatnya. Kondisi ini telah diamati oleh personel Kopaska yang berada di pontoon Lius Indah dan tug boat DC-2.

Tak berapa lama kemudian, dari radio komunikasi DC-2 terdengar panggilan radio Komandan KRI Todung Naga. Intinya adalah permintaan untuk membantu upaya pengusiran. Permintaan ini langsung ditanggapi dengan tegas oleh Serka Ismail, anggota Kopaska yang saat itu berada di anjungan tug-boat.

Sebelum melaksanakan aksinya, Serka Ismail terlebih dahulu melaporkan dan meminta izin untuk meluncur ke posisi kedua kapal Malaysia kepada Komandan tim Kopaska, Lettu Laut (E) Berny. Permintaan Ismail dituruti, Lettu Berny membekali Ismail dengan satu perahu karet bermesin, ditemani dua personel Kopaska tapi dilarang membawa senjata apa pun agar tidak memicu reaksi kekerasan.

Tanpa banyak membuang waktu, Ismail langsung meluncur dengan perahu karet bermotor menuju kapal Malaysia pertama. Ia ditemani personel Kopaska bernama Serda Muhadi dan Kelasi Satu Yuli Sungkono.

Begitu mulai mendekati sasaran, Ismail mengambil alih kemudi perahu karet untuk melakukan manuver zig-zag sebagai upaya pengelabuan. Gerakan ini dilakukan dengan kecepatan tinggi sehingga menarik perhatian seluruh awak kapal Malaysia yang sudah tampak siaga.

Yakin bahwa konsentrasi seluruh ABK (Anak Buah Kapal) Malaysia tertuju pada gerakan perahu karet, berikutnya giliran rencana Ismail yang berinisiatif naik ke atas geladak kapal Malaysia. Caranya dengan terjun menjatuhkan diri (cast) dari sisi yang tidak terlihat oleh pihak Malaysia. Lalu berenang senyap menuju kapal Malaysia.

Agar berjalan dengan lancar, perahu yang pengendaliannya dialihkan kepada Muhadi sengaja ‘masuk’ ke sasaran dari arah haluan lambung kiri. Perahu karet lalu menuju buritan untuk selanjutnya memutar dengan cepat ke arah haluan melalui lambung kanan.

Begitu melewati bagian tangga kapal. Ismail diam-diam seperti siluman laut telah melompat ke atas geladak kapal Malaysia tersebut. Sementara pada saat yang sama perahu karet tetap meluncur ke arah haluan dengan cepat.

Gerakan itu begitu cepat, membuat tak ada satu pun ABK kapal Malaysia yang menyadari kehadiran Ismail di atas kapal.

Tanpa basa-basi Ismail langsung mendobrak pintu samping kapal. Suara keras dari dobrakan pintu itu membuat salah satu ABK keluar.

“Di mana komandan kapal?” Suara lantang meluncur dari mulut Ismail. Dengan wajah ketakutan ABK itu menunjuk ruang komandan kapal.

Sebelum komandan kapal muncul, Ismail sempat berteriak pada ABK yang berada di haluan. “Sedang apa kamu berada di haluan?” tanya Ismail, membentak.

Bentakan ini mendapat jawaban lirih dari logat melayu yang begitu kental. Dari jawaban itu bisa diketahui kalau ia sedang bertugas mengawasi meriam. Dalam artian ABK itu sebenarnya sedang pada posisi siap tempur. Tak lama kemudian sang Komandan kapal keluar menemui Ismail.

“Mengapa lego jangkar di sini dan sedang apa kamu di sini?” bentak Ismail masih dengan nada tinggi. Sang Komandan pun menjawab bahwa keberadaan kapal adalah hanya sebatas menjalankan perintah.

Sebuah jawaban yang begitu normatif. “Baiklah kalau begitu, saya turun dari kapal ini, segera pergi dari wilayah ini. Kalau tidak, jangkar akan saya putuskan!” sergah Ismail kepada komandan kapal Malaysia.

Pihak Malaysia sama sekali tak menduga aksi Ismail dan rekan-rekannya yang bak siluman muncul di siang bolong itu. Pasalnya mereka bisa mendekati dan naik ke kapal tanpa dibekali satu pucuk senjata pun. Hal ini pula yang membuat mereka gentar.

Begitu Ismail loncat kembali ke perahu karet, kapal pertama langsung angkat jangkar dan kabur dari Karang Unarang.

Sebaliknya, kapal Malaysia kedua sama sekali belum memperlihatkan tanda-tanda untuk pergi dari wilayah itu. Rupanya kapal kedua itu mencoba mengetes ancaman Ismail.

Apa boleh buat, Ismail dan rekan-rekannya langsung membelokkan arah laju perahu karet menuju kapal Malaysia yang kedua sebagai sasaran berikutnya. Namun target rupanya sudah mengantisipasi gerakan tim Kopaska ini.

Mereka melakukan penjagaan di lambung kanan, kiri, dan buritan dengan senjata lengkap. Hal ini tentu saja mempersempit ruang gerak Ismail, Muhadi, dan Yuli untuk melaksanakan lompatan ke kapal (ship-boarding).

Tak kurang akal, mereka kemudian merapatkan perahu karet ke rantai jangkar kapal Malaysia yang sedang dilegokan. Di sini kembali Ismail berteriak mengancam akan memutuskan rantai jangkar dengan meledakkannya.

Ancaman Ismail dilakukan sambil menggoyang-goyangkan rantai jangkar yang terulur. Teriakan Ismail rupanya sempat didengar oleh seorang ABK kapal Malaysia yang kemudian melaporkannya ke anjungan.

Tak berapa lama kemudian kapal kedua ini juga meninggalkan wilayah perairan Karang Unarang. Setelah melakukan pengawasan sejenak ketiga anggota Kopaska yang baru saja melakukan aksi heroik tanpa senjata itu selanjutnya kembali ke posnya di Pontoon Lius Indah.

Resources
  • http://intisari.grid.id/read/03887737/seperti-siluman-personelkopaska-ini-seorang-diri-dan-tanpa-senjata-menyusup-ke-kapal-perang-malaysia-lalu-mengusirnya?page=all (Buku Kopaska Spesialis Pertempuran Laut Khusus, Kopaska TNI AL 2012)

Wednesday, June 06, 2018

Untuk Memenangkan Perang Dingin, Soviet Pernah Kembangkan Telepati

Pasukan Soviet

Pada era Perang Dingin, baik Amerika atau pun Uni Soviet saling berusaha mengalahkan satu sama lain dalam berbagai hal.

Salah satu yang paling populer di antaranya adalah perihal capaian ke luar angkasa. Hal itu kemudian menghasilkan banyak kesuksesan misi mendaratkan manusia di bulan.

Bahkan bagi kedua belah pihak, adalah penting untuk mengeksplorasi berbagai cara untuk memenangkan Perang Dingin, termasuk telepati.

Baik Amerika atau Soviet berlomba satu sama lain untuk menjadi yang pertama yang mengetahui cara memanfaatkan pikiran manusia. Yakni dengan mengeksplorasi kemampuan potensial individu tentang telepati dan psikokinesis.

Sejauh ini, memang belum ada bukti bahwa manusia dapat dilatih untuk membaca pikiran orang lain atau memindahkan objek tanpa menyentuhnya. Namun, di antara dua pihak itu, nampaknya Soviet yang memiliki penelitian lebih unggul mengenai hal ini.

Di tengah Perang Dingin, Badan Proyek Penelitian Lanjutan Pertahanan (DARPA) Amerika Serikat ingin mengevaluasi dan membandingkan pencapaian yang dicapai oleh Amerika Serikat dan Soviet. Jadi, mereka memberikan wewenang kepada RAND Corporation untuk melakukan studi tentang itu, yang hasilnya diterbitkan pada awal tahun 1970-an.

Dari situ dapat diketahui bahwa Soviet mempertimbangkan untuk menggunakan telepati sebagai sarana berkomunikasi dengan kapal selam tanpa bantuan peralatan elektronik.

Lebih jauh, mereka juga mengeksplorasi kemungkinan melatih kosmonot (sebutan astronot Soviet/Rusia) mereka untuk memanfaatkan kekuatan prakognitif guna memprediksi kemungkinan potensi kecelakaan di luar angkasa.

Tak hanya itu, Soviet juga tertarik menggunakan citra mental atau psikokinesis untuk memindahkan objek. Hal itu diharapkan dapat membantu dalam mengganggu sistem penuntun rudal balistik antarbenua.

Untuk metode telepati ini diketahui dillakukan pada Maret 1967, ketika sebuah pesan telepati berkode dilepaskan dari Moskow ke Leningrad. Bahkan pada Februari 1971, selama penerbangan Apollo 14 ke bulan.

Astronot Edgar Mitchell membuat 150 upaya terpisah untuk memproyeksikan pikirannya dari dalam kapsul ruang angkasa kepada seorang individu di bumi.

Pada tahun 1967, Soviet Maritime News melaporkan bahwa kosmonot ketika berada di orbit, tampaknya dapat berkomunikasi secara telepati dengan lebih mudah satu sama lain daripada di Bumi.

Bahkan Soviet memiliki ilmuwan terorganisir yang terdiri dari para ahli fisiologi, fisikawan, psikolog, matematikawan, cyberneticians, ahli saraf, dan insinyur elektronik. Semuanya bekerja untuk menyelidiki telepati, mencari tahu cara kerjanya , dan menyusun sarana penerapan praktisnya.

Resources
  • http://intisari.grid.id/read/03775854/soviet-pernah-kembangkan-telepati-sebagai-sarana-komunikasi-pada-era-perang-dingin-begini-cara-kerjanya?page=all

Tuesday, May 22, 2018

Belati Firaun Terbuat dari Material Luar Angkasa

Belati Tutankhamun

Masa kini tidak terlepas dari keberadaan masa lalu. Makanya sejumlah ilmuwan berkonsentrasi mempelajari kehidupan ribuan tahun lalu melalui temuan-temuan artefak.

Pada tahun 1907, Pangeran Carnarvon George Herbert meminta seorang arkeolog Inggris sekaligus ahli kimia Howard Carter untuk mengawasi proses penggalian di situs Mesir kuno di Lembah Para Raja.

Pada tanggal 4 November 1922, kelompok Carter ini berhasil menemukan petunjuk yang mengarah pada keberadaan makam Tutankhamun. Mereka kemudian menghabiskan waktu selama berbulan-bulan untuk menelusuri petunjuk itu.

Hingga akhirnya pada Februari 1923 mereka berhasil menemukan sarkofagus, tempat yang digunakan untuk menyimpan mumi. Inilah awal dari temuan makam Tutankhamun atau King Tut.

Tutankhamun merupakan seorang Firaun Mesir dari dinasti ke 18, dan memerintah antara 1332 SM dan 1323 SM. Dia diketahui merupakan putra Akhenaten dan naik tahta pada usia sembilan atau sepuluh tahun.

Saat dia menjadi raja, dia menikahi saudara tirinya, Ankhesenpaaten. Dia meninggal pada usia 18 tahun dan penyebab kematiannya tidak diketahui.

Adapun bersamaan dengan temuan itu, ditemukan pula sejumlah artefak berlapis emas. Uniknya, berdasarkan penelitian Profesor Peter Pfalzner, dari Universitas Tubingen di Jerman, diketahui bahwa artefak-artefak itu bukan dibuat di Mesir. Melainkan berasal dari Suriah Kuno.

Kesimpulan itu diperoleh dari hasil penelitian terhadap motif artefak yang berbeda. "Ini sekali lagi menunjukkan peran besar yang dimainkan oleh orang-orang Siria kuno dalam penyebaran budaya selama Zaman Prunggahan," katanya sebagaimana dilansir Mail Online.

Fakta menarik lainnya yakni keberadaan artefak yang bahan dasarnya ternyata bukan berasal dari bumi. Dikutip dari Live Science, beberapa artefak itu antara lain pisau belati dan perhiasan yang terbuat dari material langka pada zaman perunggu.
Belati Tutankhamun
Belati yang ditemukan di makam Tutankhamun. Belati yang atas terbuat dari emas, sedangkan Belati di bawahnya terbuat dari batuan meteorit (Wikimedia Common)

Menurut sebuah penelitian terbaru, perajin kuno membuat artefak logam ini dengan material besi dari luar angkasa yang dibawa ke bumi oleh meteorit.

Albert Jambon, seorang ilmuwan arkeologi-Prancis dan seorang profesor di Universitas Pierre dan Marie Curie, di Paris menyimpulkan bahwa para perajin kuno ini tahu benar bahan apa yang paling bagus untuk dijadikan perhiasan atau senjata. Sehingga mereka pun mencari batu meteorit untuk mendapatkan material tersebut.

"Besi dari Zaman Perunggu itu berasal dari meteorit, ini membantah anggapan bahwa mereka melakukan peleburan besi di zaman perunggu," tulis Jambon dalam penelitian tersebut.

Ia yang sudah melakukan pengujian terhadap belati kuno, termasuk yang berasal dari makam Tutankhamun, menemukan fakta sebenarnya.

Melalui pemindaian spektrometri sinar-x (XRF), diketahui bahwa belati kuno itu terbuat dari material yang mengandung hampir 11 persen nikel dan jejak kobalt. Sebuah komposisi yang merupakan karakteristik besi dari luar angkasa yang ditemukan di banyak meteorit besi yang telah jatuh ke Bumi.
Meteorit Hoba
Meteorit Hoba, dikenal sebagai meteorit terbesar yang pernah ditemukan. Dikenal pula sebagai material besi murni yang ada di bumi. Meteorit ini berada di Grootfontein, Namibia dan ditemukan pada tahun 1920. Meteorit ini belum pernah dipindahkan sejak jatuh ke bumi sekitar 80 ribu tahun lalu (Wikimedia Common)

Sebagian besar meteorit besi yang menghancurkan Bumi setiap tahun diperkirakan terbentuk di inti logam planetesimals - badan kecil di cakram cakram protoplanet yang mengorbit matahari pada tahap awal tata surya. Akibatnya, meteorit ini mengandung kadar nikel atau kobalt tinggi.

Sebaliknya, zat besi yang berasal dari proses peleburan mengandung kurang dari 1 persen nikel atau kobalt, jauh lebih kecil dari tingkat yang ditemukan di batuan ruang yang kaya zat besi.

Jambon menggunakan penganalisis XRF portabel untuk memindai benda besi kuno lainnya dan meteor besi di museum, serta besi dalam koleksi pribadi di Eropa dan Timur Tengah. Penelitiannya menunjukkan bahwa semua besi di artefak yang diuji berasal dari meteorit, dan bukan dari peleburan terrestrial.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa meteorit besi adalah satu-satunya sumber logam utama sampai ditemukannya besi peleburan dari bijih besi terestrial, yang kali pertama dipraktikan sekitar 3200 tahun yang lalu di Anatolia dan Kaukasus.
Gerzeh terbuat dari besi meteorit
Gerzeh terbuat dari besi meteorit (Open University / University of Manchester)

Albert Jambon juga pernah meneliti benda besi paling kuno yang pernah ditemukan, semisal butiran besi lembaran dari Gerzeh di Mesir, bertanggal 3200 SM. Sebuah kapak dari Ugarit di pantai utara Suriah, bertanggal 1400 SM.

Sebuah belati dari Alaça Höyük di Turki, bertanggal 2500 SM, dan tiga benda besi dari makam Tutankhamun, tertanggal 1350 SM, berikut belati, gelang dan sandaran kepala.

Namun begitu, sejumlah arkeolog mengatakan bahwa artefak - artefak itu bisa saja dibuat dari besi peleburan pada 2000 tahun sebelum teknologinya tersebar pada masa awal zaman besi. Bisa karena tak disengaja, atau karena memang dari hasil eksperimen.

Akan tetapi Albert Jambon mengatakan berdasarkan temuan penelitian, tidak ada bukti kuat bahwa besi peleburan dikenal hingga zaman besi sekitar 1200 SM. Sementara tungku peleburan besi tertua yang pernah ditemukan, berasal dari tahun 930 SM di Tell Hammeh, Yordania.

"Kami tahu dari teks bahwa selama Zaman Perunggu, besi dinilai 10 kali lipat lebih berharga dari emas," katanya.

"(Tapi) di awal Zaman Besi, harganya turun drastis menjadi kurang dari tembaga, dan inilah alasan mengapa besi menggantikan perunggu dengan cukup cepat," tambahnya.

Analisisnya juga menunjukkan bahwa belati, gelang dan sandaran Tutankhamun setidaknya terbuat dari besi dua jenis meteorit yang berbeda.

Hal ini menunjukkan bahwa ada proses pencarian aktif yang dilakukan untuk menemukan meteorit besi yang berharga di zaman kuno.

Resources
  • http://makassar.tribunnews.com/2018/05/22/merinding-ilmuwan-temukan-bukti-ilmiah-senjata-firaun-berasal-dari-material-luar-angkasa

Friday, May 18, 2018

Pemberontakan Permesta: Dogfight P-51 AURI VS B-26 Invader Permesta

Dogfight Mustang dan Invader

Pada bulan Februari 1958 setelah Letnan Kolonel Ventje Sumual memproklamirkan Pemberontakan Rakyat Semesta (Permesta) di wilayah Indonesia Timur segera memicu pertempuran berdarah yang berlangsung hingga tiga tahun.

Untuk menumpas pemberontakan yang mengancam keutuhan NKRI itu, pemerintah RI terpaksa melakukan tindakan tegas berupa operasi militer secara besar besaran.

Operasi tempur yang digelar pemerintah RI untuk melumpuhkan Permesta yang saat itu menguasai wilayah Sulawesi bersandi "Operasi Merdeka" dan dikendalikan langsung oleh KASAD Mayor Jenderal A.H. Nasution.

Meskipun merupakan pasukan pemberontak, dari sisi kekuatan, pasukan Permesta memiliki persenjataan dan pasukan yang cukup. Mulai dari 5.000 personel mantan anggota KNIL yang terlatih, eks anggota ABRI yang membelot, sukarelawan yang juga dikenal Calon Prajurit Permesta kurang lebih berjumlah 30.000 orang, dan sejumlah pesawat tempur yang merupakan tulang punggung kekuatan udara Permesta yang dinamai Angkatan Udara Revolusioner (AUREV).

Lusinan pesawat tempur AUREV itu semuanya didatangkan dari luar negeri sehingga terjamin kualitasnya dan tidak ada satu pun pesawat AUREV yang merupakan milik atau rampasan dari AURI. Pesawat-pesawat sipil milik maskapai penerbangan di Indonesia juga tidak ada yang digunakan oleh AUREV.

Kekuatan udara AUREV yang secara rahasia berpangkalan di salah satu tempat di Filipina itu terdiri dari 19 pesawat serang dan pembom B-26 Invader, dua pesawat tempur pemburu P-51 Mustang, empat pesawat angkut yang terdiri dari dua Curtiss C-46 Commando dan dua Lockheed 12.

Selain itu, AUREV juga diperkuat oleh pesawat-pesawat transport DC-3/C-47 Dakota dan DC-4/C-54 Skymaster.

Adanya sejumlah pesawat-pesawat transport yang pernah berjaya di PD II dan Perang Korea di jajaran alat utama sistem senjata (alutsista) AUREV jelas mengindikasikan adanya kepentingan untuk keperluan angkut logistik dan pasukan tempur.

Persenjataan yang diselundupkan menggunakan pesawat-pesawat tersebut juga juga telah terbukti dikirim ke wilayah yang dikuasai AUREV dan juga pemberontak PRRI yang sedang bergolak di Sumatra.

Pada 18 Mei 1958 dini hari, sebuah pesawat AUREV menyerang Pangkalan Udara Pattimura (Ambon). Pada saat yang sama, di Lanud Liang, pilot P-51 AURI, Kapten Udara Ignatius Dewanto juga sedang bersiap di kokpit pesawatnya untuk melaksanakan serangan udara menuju Lanud Mapanget AUREV di Manado.

Bahan bakar untuk terbang jarak jauh sudah diisi penuh demikian pula amunisi senapan mesin dan roket untuk kepentingan dogfight serta gempuran ke sasaran di darat.

Ketika sedang bersiap-siap untuk take off, tiba-tiba Kapten Dewanto menerima berita tentang serangan udara AUREV di kota Ambon. Sesuai perintah Mayor Leo Wattimena, Kapten Dewanto pun segera take off dan melesat terbang menuju kota Ambon yang berjarak sekitar 31 km dari Lanud Liang.

Tatkala beberapa menit kemudian P-51 yang siap tempur sudah berada di atas udara Ambon, Dewanto melihat asap mengepul di mana-mana. Puing-puing yang berserakan dan tersebar dalam jarak tertentu serta pohon-pohon yang hangus berasap menandakan baru saja terjadi serangan udara terhadap Ambon.

Kapten Dewanto kemudian melaksanakan terbang search and destroy sambil melaksanakan manuver berputar-putar untuk melakukan observasi secara visual.

Setelah sekian menit terbang, B-26 Invader AUREV ternyata tidak terlihat. Kemudian Kapten Dewanto mengarahkan pesawatnya ke barat menuju lautan.

Demi persiapan dogfight sesuai prosedur tanki bahan bakar cadangan untuk terbang jarak jauh (ferry tank) dilepas sehingga kecepatan dan kelincahan pesawat bertambah.

Kapten Udara Dewanto terbang makin rendah di atas permukaan laut, sambil pandangannya tertuju kepada konvoi kapal ALRI yang akan melaksanakan serangan ke Sulawesi. Sekonyong-konyong dilihatnya pesawat B-26 Invader AUREV yang sedang melaju ke arah konvoi kapal ALRI di bawahnya.

Menyadari hadirnya pesawat asing semua kapal ALRI segera mengumandangkan peran tempur udara sambil menyiapkan senapan dan meriam antiserangan udara.

P-51 Dewanto segera dipacu terbang mengejar dan beruntung bisa menempatkan diri persis berada di belakang B-26 tersebut.

Walaupun sempat ragu karena posisi musuh tepat antara kapal dan P-51, dan menyadari bahwa kapal-kapal perang ALRI mulai melepaskan tembakan, Kapten Dewanto juga langsung menembak dengan roketnya.

Sebagai roket tanpa pemandu, roket yang cocok untuk sasaran statis itu ternyata sulit menghantam sasaran bergerak. Oleh karena itu semua roket yang ditembakkan Kapten Dewanto meleset. Gagalnya gempuran roket kemudian disusul tembakan gencar senapan mesin 12.7 mm P-51 dalam jarak tembak efektif.

Pada saat bersamaan, kapal kapal perang ALRI juga terus melepaskan tembakan antiserangan udara. Salah satunya, adalah KRI Sawega yang segera menembakkan senapan mesin mitraliur kaliber 12.7 mm dan senapan mesin water mantle kaliber 7.62 mm secara serempak.

Pesawat B-26 yang diterbangkan Allen Pope (CIA) dan sedang memfokuskan sasarannya terhadap kapal-kapal perang ALRI pada awalnya rupanya tidak menyadari serangan gencar yang dilaksanakan P-51.

Akibat hantaman peluru senapan mesin P-51, B-26 tampak terguncang dan kemudian terbakar. Pope beserta juru radio yang semula personel AURI, Hary Rantung tampak berhasil bail out menggunakan parasut.

Atas keberhasilannya menembak jatuh B-26 Invader AUREV, Kapten Udara Dewanto pun menjadi ace pertama bagi Indonesia. Posisi jatuhnya pesawat B-26 tersebut pada koordinat 03.40 LS dan 127.51 BT.

Dalam penilaian untuk menentukan confirmed kill, Kapten Dewanto yakin bahwa peluru 12.7 mm P-51 tepat mengenai sasaran. Tanda hantaman peluru senapan mesin itu dikuatkan dengan adanya asap yang mengepul keluar dari badan pesawat.

Sementara dua awak pesawat B-26 yang kelihatan berhasil meloncat menggunakan parasut untuk sementara terapung-apung di udara sambil mencari lokasi pendaratan di pinggiran pantai yang banyak ditumbuhi pohon kelapa.

Sewaktu berusaha mendarat payung Allen Pope yang berhasil bail out kemudian menyangkut di pohon kelapa di Pulau Tiga. Pope pun berusaha turun dari pohon kelapa yang cukup tinggi itu. Tapi karena kurang mahir memanjat, ketika hendak turun dari pohon kelapa, Pope jatuh terhempas ke batu karang sehingga kakinya patah serta badannya luka-luka.

Sedangkan operator Radio Harry Rantung juga jatuh ke laut dan kemudian dapat berenang ke tepi. Tetapi kedua awak pesawat B-26 yang nahas itu akhirnya dapat ditangkap oleh patroli pasukan ALRI.

Sementara itu, saat dalam perjalanan terbang pulang menuju Lanud Liang usai menembak jatuh B-26 yang diterbangkan Pope, Dewanto tiba-tiba berpapasan dengan B-26 lainnya yang baru saja melaksanakan bombardemen di Ambon.

Mirip dengan para pilot Kamikaze yang bertempur dalam PD II, Dewanto langsung mengarahkan P-51 secara berhadap-hadapan, head to head, menuju B-26 yang juga dipiloti orang asing itu.

Duel udara secara berhadap-hadapan pun berlangsung sengit. Dengan berani Dewanto menghujani tembakan kearah B-26 yang diterbangkan pilot kulit putih bernama Cony tersebut menggunakan senapan mesin sampai peluru habis.

B-26 AUREV juga balas menembak menggunakan senapan mesinnya. Akibat dogfight sengit itu kedua pesawat sama-sama mengalami kerusakan tapi tidak jatuh.

Namun kemudian B-26 memilih kabur mengingat P-51 bukan merupakan tandingannya dalam dogfight. Dewanto sendiri memutuskan terus return to base (RTB) mengingat amunisinya juga sudah habis.

Sejak tertangkapnya Allen Pope yang membikin malu Pemerintah AS, kekuatan AUREV seperti telah lumpuh dan keunggulan udara di wilayah Indonesia Timur dikuasai AURI. Pesawat-pesawat AUREV kemungkinan memang masih bisa menyerang dan diterbangkan oleh segelintir pilot yang membelot dari AURI.

Operasi-operasi pendaratan pasukan untuk menggempur Permesta pun mulai dilakukan di berbagai tempat oleh pasukan gabungan TNI.

Kendati satu B-26 AUREV sudah tertembak jatuh dan berhasil menurunkan moril tempur pasukan Permesta, masih perlu waktu yang panjang bagi pasukan RI untuk menaklukkan pasukan darat Permesta yang jumlahnya puluhan ribu personel melalui operasi gabungan ABRI (TNI).

Tapi berkat keunggulan udara yang berhasil diraih oleh AURI terutama peran dominan Mustang di udara, kekuatan pasukan Permesta akhirnya berhasil dihancurkan.

Resources
  • Intisari
  • Gambar: TNI AU 

Wednesday, May 09, 2018

OV-10 Bronco, Si Kampret Legendaris di TNI AU

OV-10 Bronco

OV-10 Bronco memang sudah 11 tahun dipensiunkan dari TNI AU, namun kisah kehebatannya di sejumlah medan tempur masih dikenang dan jadi kisah yang legendaris. Sosok Si "Kampret" - julukan OV-10 Bronco - masih bisa dilihat di Museum Pusat TNI Angkatan Udara, Dirgantara Mandala, Yogyakarta. 

OV-10 Bronco resmi menjadi salah satu koleksi Museum Dirgantara pada 25 Januari 2011, setelah dipensiunkan pada pertengahan 2007. Pesawat bernomor registrasi TT-1015 mewakili teman-temannya yang begitu perkasa semasa masih aktif berdinas di TNI AU.

OV-10 Bronco adalah pesawat militer ringan berbaling-baling bermesin turboprop ganda dengan high wing (sayap tinggi) buatan North American Rockwell. Pesawat bermesin turboprop ini dikembangkan pada tahun 1960-an sebagai pesawat khusus untuk pertempuran anti-gerilya atau Counter-Insurgency (COIN).

TNI AU membeli 16 unit OV-10 Bronco pada 1976 sebagai pengganti pesawat tempur B-26 Invader yang sudah uzur dan P-51D Mustang yang digrounded. Salah satu alasan yang membuat TNI AU tertarik kepada OV-10 Bronco adalah kesuksesannya dalam Perang Vietnam.

Pada 28 September 1976, tiga pesawat OV-10 Bronco dengan nomor registrasi S-101, S-102, dan S-103 tiba di Jakarta. Secara bergelombang pesawat dikirim ke Indonesia lewat penerbangan yang melelahkan dengan rute San Fransisco - Honolulu - Guam - Manado - Halim.

Ketiga pesawat itu langsung bergabung dengan tim demo udara untuk ikut fly-pass pada 5 Oktober 1976 di Parkir Timur Senayan, Jakarta.  Setelah tampil pertama kali di hadapan publik, pesawat OV-10 Bronco langsung diberangkatkan ke Bacau guna melaksanakan operasi militer ke Timor Timur.

Gelombang kedua datang tiga pesawat pada 13 November 1976, gelombang ketiga datang tiga pesawat pada 17 Desember 1976. Kemudian, tiga pesawat datang pada 16 Februari dan dua pesawat pada 16 Maret 1977. Terakhir dua pesawat tiba pada 17 Mei 1977, semuanya memakai registrasi S-115 dan S-116.  Belakangan registrasi pesawat diubah menjadi TT-1001 sampai  TT-1016, yaitu Tempur Taktis.

OV-10 Bronco

TNI AU memberi nama sandi Kampret untuk pesawat tempur taktis OV-10F Bronco melaksanakan Operasi Udara Tempur Taktis di Timor Timur. Nama Kampret ini diberikan bukan tanpa alasan, nama ini disematkan lantaran OV-10 Bronco ini memiliki kemampuan yang mengagumkan. Pesawat double tail ini dikenal sebagai light attacker paling handal dan termudah dalam pengoperasian.

Desain Si Kampret mungkin agak nyeleneh, karena bentuk sayap belakangnya yang tergabung menjadi satu. Namun, OV-10 Bronco yang memiliki rentang sayap 12,9 meter dan tinggi 4,62 meter mampu bermanuver baik, saat terbang rendah, tinggi, maupun akrobatik. Tenaga OV-10 Bronco pun terbilang kuat dengan kemampuan terbang tanpa henti selama 3 jam atau lebih, melaju pada kecepatan sekitar 560 km/jam, dan menenteng persenjataan seberat 3 ton.

OV-10 Bronco dilengkapi empat senapan mesin kaliber 7,62 mm; bom jenis ZAB, MK-28, OFAB, seberat 750 kg; dan bisa disiapkan dengan peluncur roket FFAR. Hebatnya, OV-10 Bronco mampu beroperasi dari landasan pendek dan landasan rumput serta dilengkapi kursi pelontar. Untuk melindung pilot dan navigator dari terjangan peluru lawan, kanopi depan dan lantai dasar OV-10-Bronco ditambah lapisan anti-peluru.

OV-10 Bronco

Kiprah terbesar Si Kampret saat memberikan bantuan tembakan udara (BTU) saat Operasi Seroja melawan pasukan Fretilin di Timor-Timur. Saat memberikan bantuan tembakan udara, Si Kampret menggunakan Merica (sandi untuk peluru senapan mesin kaliber 7,62mm), Lontong (sandi untuk roket FFAR), dan Nangka (sandi untuk dua bom di bawah sayap).

Kehadiran OV-10 Bronco dalam operasi di Timor Timur juga mampu menekan jumlah korban perang di pihak Indonesia. Di awal perang, Indonesia telah kehilangan 184 prajurit dalam waktu tiga bulan. Kesuksesan dalam Operasi Seroja membuat OV-10 Bronco tak pernah ketinggalan dalam berbagai operasi keamanan dalam negeri.

OV-10 Broco bergabung dalam Skadron-3, Skadron-1, dan Skadron-21 TNI-AU yang bermarkas di Pangkalan Utama Abdurachman Saleh, Malang. Prestasi yang diukir OV-10 Bronco sangat gemilang, yaitu satu-satunya pesawat militer TNI AU yang paling banyak berpindah domisili, paling banyak dalam penugasan, dan paling lama dioperasikan.
OV-10 Bronco
Pesawat OV-10 Bronco di Museum Pusat TNI Angkatan Udara, Dirgantara Mandala, Yogyakarta.
Bukan itu saja, OV-10 Bronco melahirkan penerbang-penerbang handal bagi TNI AU. Terdapat sekitar 100-an veteran pilot OV-10 Bronco TNI-AU dan 21 di antaranya adalah marsekal purnawirawan bintang 1 hingga bintang 4. Bahkan empat di antaranya pernah menjabat Kepala Staf TNI AU (KSAU), yaitu Rilo Pambudi, Hanafie Asnan, Herman Prayitno, dan Imam Sufaat. Nama-nama penerbang Bronco juga tercatat dalam daftar di museum OV-10 Bronco di Amerika Serikat.

Dengan usia terbang yang lebih dari 30 tahun, membuat penggunaan OV-10 Bronco lumayan berisiko. Terakhir satu pesawat OV-10 Bronco jatuh pada Juli 2007 di area persawahan di Kota Malang. TNI-AU pun menggantikan peran OV-10 Bronco dengan Embraer EMB 314 Super Tucano buatan Brasil.

Resources
  • https://daerah.sindonews.com/read/1191777/29/kisah-ov-10-bronco-tni-au-si-kampret-legendaris-di-medan-tempur-1490534145
  • Gambar: Angkasa Online, Sindonews

Monday, May 07, 2018

Vasa, Kapal Perang Megah Swedia yang Tenggelam di Pelayaran Perdana

Kapal Perang Vasa di Museum Vasamuseet

Vasa adalah kapal perang Swedia yang dibuat pada awal abad ke-17 atas pesanan Raja Gustav II Adolf dengan tujuan meningkatkan kekuatan militer kerajaannya. Saat itu, pembuatan Vasa dirasa penting karena Swedia tengah terlibat perang dengan Persemakmuran Lithuania dan Polandia.

Sayangnya, meski diharapkan menjadi kapal perang terkuat Swedia, Vasa tidak sempat terjun ke medan pertempuran. Kapal megah itu tenggelam dalam pelayaran perdananya, bukan karena tembakan meriam, melainkan karena hembusan angin. 

Kisah mengenai Vasa, kapal perang megah Swedia dimulai pada Januari 1625 saat Raja Gustav II Adolf menyepakati kontrak dengan pembuat kapal Belanda, Henrik Hybertsson dan mitranya Arendt de Groote. Berdasarkan kontrak tersebut, Henrik dan Arendt harus membuat empat kapal baru untuk Gustav, salah satunya adalah Vasa.

Namun, pada tahun 1627 di tengah proses pembuatan kapal, Henrik yang sebelumnya telah sakit parah akhirnya meninggal dunia. Pekerjaan Henrik kemudian diambil alih oleh asistennya Hein Jakobsson yang menjadi pimpinan proyek.

Kapal Perang Vasa di Museum Vasamuseet

Vasa diluncurkan pada musim semi tahun 1627, di waktu yang hampir bersamaan dengan meninggalnya Henrik. Pembuatannya diselesaikan pada musim panas 1628. Kapal megah dan indah itu berukuran panjang 69 meter dan tinggi 50 meter diukur dari dasar sampai tiang tertingginya.

Disebut indah karena Vasa memiliki 700 patung dan ornamen kayu, mencerminkan gaya masa akhir Rennaisance sekaligus awal Baroque. Ornamen-ornamennya terinspirasi dari mitologi Yunani, kitab Injil, juga sejarah Kerajaan Romawi.

Dengan berat sekitar 1.200 ton, serta dilengkapi 10 layar, 64 meriam, 120 ton pemberat, Vasa adalah pemandangan yang menakjubkan untuk dilihat. Hanya saja, kapal megah itu memiliki sebuah masalah yang sama besarnya, ketidakstabilan.

Salah satu alasan yang menyebabkan munculnya masalah ini adalah perubahan yang terjadi pada Vasa sendiri. Dalam rencana awalnya, Henrik ingin membangun dua kapal kecil dan dua kapal besar. Awalnya, Vasa direncanakan sebagai kapal berukuran kecil. Tetapi, saat kapal itu selesai dibuat, Vasa justru menjadi sebuah kapal besar.

Kapal Perang Vasa di Museum Vasamuseet

Ketidakstabilan Vasa telah menjadi perhatian dari Angkatan Laut Swedia yang khawatir kapal itu akan tenggelam. Namun, atas perintah raja untuk berlayar, Laksamana Muda Klas Fleming akhirnya memerintahkan kaptennya untuk membawa Vasa berlayar.

Pada 10 Agustus 1628, Vasa melakukan pelayaran perdananya. Ribuan orang berkumpul di Pelabuhan Stockholm untuk menyaksikannya. Tetapi baru menempuh 1.300 meter, tiupan angin kencang membuat kapal itu miring ke arah kiri. Karena lubang meriam terbuka, air pun masuk ke dalam kapal. Hanya dalam hitungan menit, Vasa yang megah telah tenggelam 32 meter di bawah permukaan air.

Insiden memalukan itu segera memicu dilakukannya penyelidikan. Henrik sebagai pembuat kapal menjadi kambing hitam. Karena pria malang itu telah meninggal dunia, maka tidak ada pembelaan bagi dirinya dan tidak ada hukuman yang dapat dijatuhkan. Kasus pun akhirnya ditutup.

Ilustrasi tenggelamnya kapal Vasa

Selama berabad-abad upaya untuk menarik Vasa ke permukaan telah beberapa kali dilakukan, tanpa ada yang berhasil. Setelah sempat terlupakan, pada 1950 kapal itu kembali ditemukan dan akhirnya berhasil diangkat ke permukaan pada 1961.

Kondisi Vasa yang semakin rusak setelah diangkat dari air membuat kapal tersebut membutuhkan perawatan yang terus menerus bahkan sampai hari ini. Meski begitu, Vasa tetap menarik banyak perhatian warga Swedia, karena dianggap sebagai simbol masa kala Swedia merupakan salah satu kekuatan besar di Eropa.

Kapal Perang Vasa di Museum Vasamuseet

Kapal perang Vasa itu kini berada di Vasamuseet atau Vasa Museum di Kota Stockholm, Swedia. Dipajang di tengah museum dengan dipasangi penyangga. Ada patung singa di beberapa sisinya yang disebut sebagai simbol kekuatan. Keaslian kapal ini adalah 98 persen.

Vasamuseet adalah salah satu tujuan favorit wisatawan. Tak jarang turis menemukan kemiripan antara Vasa dengan Black Pearl, kapal legendaris yang difilmkan dalam Pirates of Carribean.

Resources
  • https://news.okezone.com/read/2017/08/09/18/1752877/historipedia-berlayar-perdana-kapal-perang-termegah-swedia-malah-tenggelam-ditiup-angin
  • https://news.detik.com/berita/4007374/melihat-vasa-kapal-perang-swedia-yang-berusia-390-tahun
  • Gambar: Photo: Scoobyfoo / FlickrKlaus Stiefel / Flickr: Nick Lott / Wikimedia Commonshttp://www.stockholmfreetour.com

Monday, April 30, 2018

Welbike, Motor Mini Tentara Inggris Dalam Perang Dunia II

Welbike

Bahasan tentang Perang Dunia II tidak ada habisnya. Pertempuran, senjata, dan berbagai kisah unik lainnya seolah terus terlahir untuk dikisahkan.Yang dibahas kali ini adalah salah satu motor terkecil dalam Perang Dunia II yang digunakan oleh tentara Inggris.

Selama Perang Dunia II, motor adalah salah satu kendaraan perang yang banyak digunakan oleh banyak negara. Hal ini karena negara yang berperang dituntut memiliki pasukan cepat dengan mobilitas tinggi. Termasuk negara sekutu seperti Inggris yang terlibat di Perang Dunia II.

Karena punya mobilitas tinggi, para pasukan cepat itu harus disenjatai dengan kendaraan khusus pula. Maka dibuatkanlah sebuah motor perang berukuran mini untuk memenuhi kebutuhan mereka. Namanya Welbike.

Welbike

Welbike adalah motor buatan Inggris yang digunakan pasukan Special Operations Executive (SOE) tentara rahasia Winston Churchill. Mereka punya tugas sebagai spionase dan sabotase.

Karena tugasnya dituntut memiliki mobilitas tinggi, Welbike dipercaya menjadi motor terkecil dengan kapasitas mesin 98 cc, two stroke, dengan gearbox single speed. Berat Welbike sendiri 32 kilogram dengan kapasitas bahan bakar 3,7 liter.

Menurut catatan sejarah, motor ini dibangun pada sekitar tahun 1942 dan 1943 dengan jumlah produksi mencapai 3.641 unit.

Welbike

Welbike

Banyak dari motor ini yang berhasil selamat dari Perang Dunia II sehingga banyak kolektor Eropa yang mengoleksi motor mini ini.

Tidak hanya Inggris, selama Perang Dunia II orang Italia, Jerman dan Amerika juga mengembangkan sepeda motor kecil untuk pasukan mereka.

Article Resources
  • https://motorplus.gridoto.com/read/04242802/siapa-sangka-ini-motor-terkecil-di-perang-dunia-ke-2-tunggangan-tentara-rahasia-inggris?page=all#!%2F
  • https://en.wikipedia.org/wiki/Welbike

Gavric Momcilo, Bocah Serbia Usia 8 Tahun yang Menjadi Serdadu

Gavric Momcilo

Perang kolosal besar, Perang Dunia I dimulai dari benua biru Eropa. Negara-negara yang terlibat Perang Dunia I saling serang hingga tak peduli lagi berapa nyawa manusia yang melayang. Hingga pihak-pihak yang bertikai menyadari bahwa negara mereka sudah kekurangan serdadu atau tentara untuk digunakan dalam pertempuran selanjutnya.

Tak ayal, semua lapisan masyarakat dimobilisasi untuk mendukung kemenangan di peperangan. Berkurangnya "stok" pria dewasa dikarenakan tewas dalam pertempuran membuat anak kecil harus kembali menjadi korban perang.

Tercatat dalam Perang Dunia I ada sekitar 250 ribu anak dibawah usia 18 tahun yang ikut angkat senjata membela negaranya masing-masing. Salah satu anak yang ikut dalam Perang Dunia I ialah bocah bernama Gavric Momcilo asal Serbia.
Gavric Momcilo
Gavric Momcilo
Gavric Momcilo merupakan serdadu termuda kalau tak mau dibilang paling kecil karena usianya masih 8 tahun ketika ia masuk dinas ketentaraan resmi Serbia.

Gavric Momcilo lahir pada tanggal 1 Mei 1906 di desa Loznica, Serbia Barat. Momcilo adalah anak kedelapan dari 11 orang bersaudara.

Sebelum Perang Dunia I berkecamuk, Momcilo hanyalah anak kecil biasa. Namun semuanya berubah ketika tahun 1914 awal babakan dimulainya Perang Dunia I. Pada tahun tersebut tentara Austria menyerbu desanya, membakar dan membunuhi warga setempat. Di antara para warga yang terbunuh oleh tentara Austria itu ada kedua orang tua dan tujuh saudara kandungnya.

Momcilo entah bagaimana selamat dari pembantaian massal tersebut. Dengan instingnya sendiri Momcilo kemudian kabur dari kampung halamannya. Ia kabur menuju gunung Gucevo untuk mencari bantuan. Sekonyong-konyong ia malah menemui Divisi Artileri Keenam Serbia yang sedang berada di gunung Gucevo.

Singkat cerita Momcilo memutuskan bergabung ke Divis Artileri Keenam yang ia temui sebagai serdadu resmi negara Serbia pada usia 8 tahun. Ini menjadikan ia prajurit termuda dalam Perang Dunia I.
Divisi Artileri Keenam Serbia berfoto bersama Momcilo
Divisi Artileri Keenam Serbia berfoto bersama Momcilo (tengah)
Kemudian pada pertengahan Agustus 1914, Momcilo ikut serta dalam bertempur dalam Battle of Cer melawan tentara Austria. Battle of Cer merupakan debut pertempuran pertama bocah usia 8 tahun itu.

Dalam pertempuran tersebut tentara Serbia menang dan Momcilo kemudian dihadiahi seragam militer resmi serta pangkatnya dinaikkan menjadi Kopral. Tapi perang belum selesai sampai disitu.

Pada tahun 1915 gantian Austria bersama Jerman menyerang Serbia hingga negara Balkan itu jatuh ke tangan musuh. Karena kekalahan itu memaksa Momcilo dan para serdadu lainnya yang tersisa melarikan diri ke Yunani.

Pelarian itu bukanlah pelarian yang mudah bagi Momcilo dan kawan-kawan tentaranya. Mereka harus melewati perbukitan, pegunungan, sungai dan menerobos hutan lebat. Belum lagi para sisa serdadu Serbia itu harus diburu oleh tentara musuh dan cuaca dingin menusuk tulang yang menyerang mereka. Namun Momcilo dan serdadu lainnya berhasil sampai di Yunani dengan selamat. Berkat kegigihannya itu, Momcilo menerima medali kehormatan.

Di Yunani tepatnya di kota Thessaloniki, baru pada umur 10 tahun Momcilo mendapatkan pendidikan dasar formal lazimnya bocah pada usia sedemikian. Tapi jiwa nasionalisnya kembali terpanggil pada tahun 1916 ketika tentara Serbia hendak merebut kembali tanah air mereka.

Momcilo bergabung kembali ke dinas ketentaraan dan ikut ambil bagian dalam pertempuran Kaymakchalan. Saat itulah ia bertemu dengan komandan pasukan Serbia, Zivojin Misic.
Momcilo memberi hormat pada komandannya, Zivojin Misic
Momcilo memberi hormat pada komandannya, Zivojin Misic
Betapa terkejutnya Misic ketika ia mengetahui bahwa terdapat anak kecil dalam kesatuan militer yang ia pimpin. Setelah mengetahui latar belakang Momcilo, Misic kemudian menaikkan pangkat bocah itu menjadi Sersan.

Setelah itu Momcilo selalu terlibat dalam pertempuran untuk membela tanah airnya, termasuk saat Serbia menang dan bersatu dengan negara Balkan lainnya menjadi negara Yugoslavia. Untungnya ia tak harus meregang nyawa dalam peperangan dan hanya mengalami cedera ditubuhnya.
Momcilo usia 10 tahun
Momcilo saat menginjak usia 10 tahun
Namun setelah Perang Dunia I usai, nasib sial menghampiri Momcilo yang saat itu sudah beranjak remaja. Pada tahun 1929 ia dituduh melarikan diri dari dinas militernya.

Juga tragisnya para petinggi militer saat itu tak mempercayai bahwa Momcilo sudah ikut bertaruh nyawa dalam Perang Dunia I membela negaranya walaupun sudah ada bermacam bukti di pengadilan.

Sialnya lagi saat Perang Dunia II berkecamuk, Nazi Jerman menangkap Momcilo dan ia dipaksa kerja rodi di kamp konsentrasi Beograd.

Belum selesai kesialan Momcilo yang sempat jadi pahlawan cilik negaranya.

Setelah Perang Dunia II usai, ia malah dituduh pemerintahannya sendiri telah bersekongkol dengan Nazi saat perang berlangsung dan terancam hukuman mati. Tapi untungnya ia lolos dari hukuman mati tersebut setelah tak ada bukti yang mendukung tuduhannya.

Momcilo kemudian hidup sebagai warga sipil biasa setelah pergolakan tersebut, ia kemudian meninggal pada usia 87 tahun 1993.

Article Resources
  • http://www.grid.id/read/04211090/gavric-momcilo-bocah-usia-8-tahun-yang-sudah-menjadi-serdadu-ada-kisah-tragis-di-balik-keiikutsertaannya-dalam-perang?page=all

Friday, April 27, 2018

C-130 B Hercules Beristirahat di Museum Dirgantara Yogyakarta

Hercules AURI T-1301

Dalam satu upacara meriah pada hari Selasa (24/4/2018), Panglima TNI meresmikan koleksi pesawat C-130B Hercules T-1301, Fokker F27 T-2707, AVIA-14 T-414, Hawker Hunter F.Mk 4 N-112 dan Museum Engine R Ahmad Imanullah di Museum Pusat Angkatan Udara Mandala, Yogyakarta.

Hercules dengan nomor registrasi T-1301 adalah pesawat Hercules yang kali pertama menjejakkan roda pendaratnya di Kemayoran, Jakarta, Indonesia.

Menjadi istimewa karena pesawat Hercules inilah yang pada saat terbang perdana dari Amerika Serikat ke Jakarta Indonesia pada 1960 telah diawaki oleh para kru Angkatan Udara Republik Indonesia di bawah pimpinan Kapten Pilot S. Tjokro Adiredjo.

Khusus tentang registrasi pesawat Hercules yang kini menggunakan huruf A (Angkut), dahulu menggunakan huruf T (Transport) yang merupakan penyesuaian dalam proses perkembangan penyempurnaan administrasi, khususnya soal registrasi pesawat-pesawat terbang Angkatan Udara secara keseluruhan pada waktu lalu.

Untuk mengabadikan Hercules pertama yang tiba di Indonesia, Hercules C-130 B yang menjadi koleksi museum pusat Angkatan Udara dikembalikan lagi nomor registrasinya di badan pesawat dengan huruf T, yaitu T-1301.

Dengan demikian, kita dapat menyaksikan pesawat Hercules yang orisinil, pertama kali datang di Indonesia dalam Museum Angkatan Udara Jogyakarta.

Selain sebagai pesawat terbang Hercules yang pertama tiba di Indonesia, Indonesia juga merupakan negara pertama di luar Amerika Serikat yang menggunakan pesawat Hercules.

Pada 1960-an, Hercules masih merupakan produk baru di gudang senjata Amerika Serikat. Hercules dikembangkan sebagai pengganti pesawat Dakota C-47 yang banyak jasanya dalam kancah Perang Dunia.

Kita patut berbangga hati karena telah menjadi negara pertama pula di luar Amerika Serikat yang telah juga menjalani proses tahap awal peningkatan performa unsur angkut strategisnya dari Dakota ke Hercules.

Keistimewaan Hercules dalam pelaksanaan operasi penerbangan telah banyak sekali mengukir sejarah spektakuler di seluruh dunia, yang tidak hanya mencakup operasi militer, tetapi juga banyak operasi kemanusiaan.

Di samping jasa yang sangat luar biasa dari armada Hercules dalam berbagai operasi penerbangan di Tanah Air, antara lain Dwikora dan Trikora, ada beberapa operasi kemanusiaan yang dijalankan sebagai bagian dari penyelamatan korban bencana alam, seperti tsunami Aceh dan badai besar di Darwin.

Seperti dikutip oleh Marsekal Pertama Purn Darmadji pada kesempatan kata sambutan dalam upacara tersebut, salah satu misi yang sangat luar biasa adalah tentang penerbangan Hercules terakhir dalam operasi penyelamatan pengungsi pada pengunjung perang Vietnam.

Ketika itu, Hercules yang hanya berdaya tampung tidak lebih dari 92 orang ternyata telah "dipaksa" membawa para pengungsi keluar Vietnam sebanyak 352 orang.

Tidak itu saja, ruang yang cukup lebar pada "Flight Station" atau kokpit sebenarnya juga hanya diperuntukkan bagi tidak lebih dari 4 sampai 5 orang awak, tetapi ketika itu dipenuhi 32 orang pengungsi.

Catatan ini tercantum dalam buku "Pelangi Dirgantara" terbitan Dispenau, yang merujuk pada catatan dalam buku prestasi pesawat Hercules di seluruh dunia keluaran Pabrik pesawat Hercules, Lockheed Marietta, Georgia, AS.

Bertambah lagi ukiran sejarah penting dalam perjalanan pembinaan dirgantara di Tanah Air dengan masuknya pesawat terbang Hercules pertama yang mendarat di Indonesia pada 1960 sebagai bagian dari koleksi pesawat terbang yang memiliki peran dalam sejarah perjuangan Angkatan Udara Indonesia di Museum Lanud Adistjipto, Yogyakarta.

Semoga minat dirgantara generasi muda bangsa dapat terpelihara dan senantiasa berkembang terus dengan baik.

Nenek moyangku orang pelaut, anak cucuku insan dirgantara.

Chappy Hakim
KSAU 2002-2005
Penulis buku "Tanah Air Udaraku Indonesia"

Article Resources
  • https://nasional.kompas.com/read/2018/04/27/07050071/c-130-b-hercules-t-1301-beristirahat-di-museum-dirgantara-yogyakarta