Tampilkan postingan dengan label Kapal Perang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kapal Perang. Tampilkan semua postingan

Senin, Juli 06, 2020

Seberapa Tangguh Kapal-kapal Induk China?

Kapal induk Liaoning
Kapal induk Liaoning China

Mampukah mereka melawan Amerika?

Sementara salah satu kapal induk Amerika Serikat, USS Theodore Roosevelt tengah sibuk menghadapi wabah virus korona yang sekarang telah menjadi mematikan, salah satu kapal induk China berlayar melewati Taiwan untuk unjuk kekuatan. Meskipun Taiwan sudah menggegas jet tempurnya untuk memantau dan mencegat, itu mungkin bukan hal yang bisa diterima Angkatan Laut AS.

China saat ini mengoperasikan dua kapal induk dengan kapal induk ketiga masih berada di galangan kapal, dan yang keempat masih direncanakan. Tapi seperti apakah program kapal induk China dan bagaimana kekuatannya?

Kapal induk kemarin digunakan hari ini
China saat ini memiliki dua kapal induk, dengan kapal induk yang ketiga masih dalam konstruksi awal, dan yang keempat direncanakan pembangunannya pada pertengahan 2020 atau 2030-an.

Kapal induk pertama mereka, Liaoning ditugaskan oleh Angkatan Laut China (PLAN) pada tahun 2012, meskipun lunas kapal ini pertama kali diletakkan pada awal 1990-an. Liaoning sebenarnya kapal induk Ukraina yang belum selesai, diwarisi dari Uni Soviet, yang kemudian dijual ke China.

Kapal induk kedua China, Tipe 002, pada dasarnya adalah tiruan dari Liaoning, meskipun memang menampilkan beberapa peningkatan tambahan seperti peningkatan radar, dan penambahan kapasitas pesawat tempur. Seperti halnya Liaoning, kapal induk Tipe 002 memiliki "ski jump" besar di atas haluan untuk membantu meluncurkan pesawat tempur ke udara.

Baca juga: Kerja Keras China Membangun Kapal Induk Pertamanya
Baca juga: Kisah Xu Zengping yang Membelikan Kapal Induk untuk Angkatan Laut China

Kapal induk Shandong China
Kapal induk Shandong (Tipe 002) China

Tipe 003
Ukuran Tipe 003 akan lebih besar daripada Tipe 002 dan Liaoning, dan memiliki sistem bantuan peluncuran ketapel yang mirip dengan apa yang digunakan kapal induk Amerika Serikat — dan dengan demikian kemungkinan Tipe 003 tidak lagi menggunakan platform peluncuran dengan "ski jump".

Dalam sebuah wawancara dengan laman The National Interest, seorang pakar kemampuan angkatan laut China mengatakan bahwa: "Kapal ketiga akan merupakan ketapel uap dan peralatan penangkap hidraulik yang akan memungkinkan China untuk meluncurkan pesawat dengan muatan bom yang lebih berat dan menempuh jarak yang lebih jauh."

Ahli lain setuju, mengatakan bahwa: "Itu (Tipe 003) juga kemungkinan akan lebih besar dari Tipe 001 atau Liaoning, memungkinkannya untuk mengangkut lebih banyak pesawat. PLAN juga ingin memperluas jangkauan pesawat berbasis kapal induk mereka, dan yang lebih penting, mereka harus mampu meluncurkan pesawat peringatan dini dan peperangan elektronik serta pesawat-pesawat pembom tempur yang lebih besar yang dapat membawa lebih banyak senjata. Mereka membutuhkan ketapel dan alat tangkap untuk mengerahkan pesawat-pesawat jenis ini. Jadi lebih banyak pesawat, dan lebih bersenjata."

Baca juga: Kapal Induk Ketiga China Sekelas Kapal Induk Nimitz AS
Baca juga: 5 Pesawat Tempur Kapal Induk Terbaik dalam Sejarah

Desain kapal induk Tipe 003 China
Desain kapal induk Tipe 003 China

Tipe 004
Jika sudah selesai, Tipe 004 akan menjadi yang paling canggih dari seluruh kapal induk China dan akan dianggap sebagai kapal induk generasi ketiga. Selain kemampuan peluncuran elektromagnetik, Tipe 004 akan menjadi kapal induk pertama di PLAN yang akan menggunakan tenaga nuklir. Tipe 004 juga akan memiliki output daya yang cukup untuk menggunakan senjata railgun dan laser yang saat ini sedang dalam pengembangan dan pengujian.

China dilaporkan menghabiskan lebih dari $ 3 miliar untuk meneliti reaktor nuklir garam cair unik yang dapat digunakan untuk menggerakkan Tipe 004. Konon menghasilkan lebih banyak panas, yang dapat dikonversi menjadi listrik, dan hanya menghasilkan sedikit radiasi sebagai reaktor bertenaga uranium.

Peletakan lunas Tipe 004 diharapkan pada akhir 2020-an atau setelahnya

Baca juga: China Siap Lengkapi Kapal Perusak dengan Railgun Elektromagnetik

Kapal induk masa depan China
China jelas masih harus menempuh jalan panjang. Dua kapal induk yang PLAN operasikan saat ini desainnya berdasarkan teknologi 1980-an yang sama sekali tidak dapat disejajarkan dengan kapal induk nuklir modern saat ini. Tapi tetap saja, China telah mengalami kemajuan pesat. Jika Tipe 003 dan Tipe 004 nantinya sesuai seperti yang diproyeksikan para analis barat dan seperti yang diklaim oleh China — maka PLAN akan mampu memproyeksikan kekuatannya ke belahan bumi mana pun seperti halnya Amerika. (NI)

Senin, Juni 01, 2020

Apache AH-64E : Menjadi Lebih Ganas di Laut

AH-64E

Akhir tahun ini Amerika Serikat (AS) akan mulai memperbarui perangkat keras dan perangkat lunak helikopter serang Apache AH-64E menjadi apa yang disebut Version 6. Ini merupakan peningkatan yang signifikan karena menjadikan AH-64E lebih efektif untuk target yang berlayar laut.

Sejak 1990-an, AH-64 telah populer sebagai senjata laut, sering dioperasikan dari kapal induk atau helipad dari kapal-kapal perang permukaan, disamping tugasnya membantu patroli dan sebagai penjaga pantai ketika ditempatkan di sektor dekat laut. Bahkan sebelum peningkatan terakhir, AH-64 sudah didesain untuk bertahan di kondisi air asin melalui komponen anti-korosifnya, terutama pada bilah rotor.

Version 6 nantinya akan termasuk peningkatan pada radar dan kontrol tembak. Radar AH-64E saat ini memperhitungkan kondisi laut (seberapa kasarnya laut) untuk mendapatkan deteksi dan identifikasi target (seperti kapal) yang lebih akurat dan menampilkan informasi itu sebagai ikon unik pada tampilan layar datar multifungsi di kokpit. Jangkauan deteksi radarnya telah ditingkatkan dari delapan menjadi 16 kilometer. Hal ini membuat AH-64E lebih bermanfaat digunakan untuk operasi penegakan hukum di laut, seperti operasi mengatasi pencurian ikan, penyelundupan, dan perompakan.

Version 6 mengoptimalkan sistem kontrol tembak AH-64E untuk mendeteksi, mengidentifikasi, dan menyerang target di laut. Fitur Version 6 populer lainnya adalah peningkatan pada mesin dan rotor. Selain itu, salah satu pekerjaan yang sudah menjadi PR pengembang adalah perubahan kemampuan melipat dan membuka rotor dengan cepat untuk penyimpanan di kapal.

AH-64E adalah iterasi terbaru dari sebuah senjata perang yang awalnya hanya didesain sebagai helikopter anti tank, tetapi kemudian AH-64E menjadi sangat efektif terhadap target jenis lainnya. Pertama, AH-64 dimodifikasi agar lebih efektif melawan pasukan darat bersenjata ringan, seperti pemberontak. Beberapa peningkatan terakhir juga telah menjadikan AH-64 sebagai senjata ampuh di laut.

AH-64 pertama kali digunakan oleh Angkatan Darat AS pada tahun 1984. Sejauh ini sekitar 2.200 Apache berbagai model telah dikirimkan ke seluruh pelanggan di dunia. Model terbaru, AH-64E, mulai dioperasikan pada tahun 2011 dan telah menarik banyak pelanggan ekspor, termasuk Inggris, Arab Saudi, Korea Selatan, dan Indonesia.

AH-64 adalah helikopter sarat senjata dengan berat lepas landas maksimum 11,5 ton dan kecepatan tertinggi 279 kilometer per jam. Sejak awal, AH-64E telah dibekali fitur-fitur baru termasuk peningkatan radar kontrol tembak Longbow dan kemampuan untuk bekerja sama dengan UAV. AH-64E dapat membawa hingga 16 rudal Hellfire atau 38 rudal APKWS di samping kanon otomatis M230 30 mm. Kedua rudal ini dipandu oleh laser dan memiliki jangkauan maksimal delapan kilometer. Sepasang rudal udara-ke-udara pencari panas Stinger sering dibawa juga untuk digunakan melawan helikopter musuh atau, dalam situasi nekat, pesawat tempur yang terbang rendah.

Penjualan ekspor untuk Apache adalah paket yang lengkap dan berharga karena biasanya mencakup stok suku cadang, termasuk mesin pengganti, sistem akuisisi target AN/ASQ-170, Pilot Night Vision Sensor, radar kontrol tembak dan elektronik lainnya plus peralatan terkait, dukungan, pelatihan, dan logistik. Juga dipesan adalah senjata, terutama ATGM (rudal anti-tank dengan pemandu) seperti Hellfire dan (sejak 2015) APKWS ATGM yang lebih kecil dan beberapa roket Hydra 70mm yang tidak dipandu (yang didasarkan pada APKWS) juga. Namun, rudal AIM-92H Stinger udara-ke-udara cukup jarang pelanggan membelinya.

AH-64E

AH-64E pertama kali dioperasikan Angkatan Darat AS pada tahun 2011 dan produksi massalnya dimulai pada tahun 2012.

AH-64E terbang pertama kali pada tahun 2008. Awalnya, AH-64E disebut sebagai AH-64D Block III tetapi karena peningkatannya begitu signifikan akhirnya diputuskan untuk menyebutnya sebagai AH-64E. Di antara peningkatan AH-64E adalah mesin yang lebih kuat dan hemat bahan bakar, serta elektronik yang jauh lebih baik.

AH-64E juga akan dibekali kemampuan Internet untuk bertukar gambar, video, dan informasi lainnya dengan pesawat dan pasukan darat lainnya secara realtime. AH-64E akan dapat mengontrol beberapa UAV dan meluncurkan rudal pada target yang terlihat oleh UAV ini. Radar AH-64E memiliki jangkauan yang lebih jauh dan komputer yang terpasang jauh lebih kuat. Elektronik lebih mudah ditingkatkan dan dirawat. Kombinasi peningkatan kontrol tembak dan kemampuan Internet akan sangat meningkatkan kemampuan AH-64E.

Pada tahun 2012, AH-64A yang terakhir ditingkatkan ke standar AH-64D. AH-64B adalah peningkatan yang diusulkan pada awal 1990-an tetapi dibatalkan, seperti peningkatan model "C" yang serupa. Beberapa perbaikan yang dibatalkan ini sangat diminati. Akhirnya peningkatan model "B" dan "C" masuk dalam AH-64D Block I(1997). Model AH-64D Longbow (karena tiang radar, memungkinkan untuk mendeteksi target darat dan rintangan terbang di segala cuaca) mulai muncul pada tahun 2002. Pada tahun 2006, lebih dari 500 AH-64A Amerika telah ditingkatkan ke model AH-64D.

Sekarang lebih dari 600 AH-64 milik AS telah ditingkatkan ke AH-64E standar yang baru. Target AS adalah memiliki 791 AH-64E, kebanyakan akan diisi dari hasil peningkatan AH-64D ditambah beberapa AH-64E yang baru.*

Minggu, Mei 24, 2020

Yasen, Jawaban Rusia untuk Kapal Selam Virginia AS

Kazan
Kapal selam kelas Yasen, "Kazan", keluar untuk pertama kalinya untuk uji coba laut, 24 September 2013. (Gambar oleh CrazyMk / forums.airbase.ru)

Kapal selam rudal bertenaga nuklir (SSGN) kelas Yasen Rusia, Kazan, saat ini sedang menjalani uji coba laut dan diperkirakan akan mulai beroperasi pada akhir tahun ini. Rusia berencana untuk membangun sembilan SSGN kelas Yasen dan lima di antaranya sedang dalam pembangunan.

Kazan tampak sangat berbeda dari Severodvinsk, Yasen pertama. Karena perbedaannya, Kazen juga disebut dari kelas Yasen-M. Ukuran Kazan lebih pendek sembilan meter dari Severodvinsk yang 139,2 meter.  Busur Kazan lebih tajam dan ada delapan tabung torpedo bukan sepuluh seperti Severodvinsk. Ukuran dan bentuk sistem kemudi/baling-baling telah ditingkatkan. Sekitar setengah dari pengurangan panjang adalah dengan mengorbankan tempat awak. Namun itu bukan menjadi masalah karena awak Kazan hanya berjumlah 64 orang dibanding Severodvinsk yang 90 orang.

Pengurangan panjang dan jumlah awak tergantikan dengan lebih banyaknya sistem otomatis dan perangkat elektronik yang lebih baik sehingga menghemat tempat dan minim perawatan. Perbaikan dan peningkatan kelas Yasen tampaknya memang sudah direncanakan bahkan sebelum Severodvinsk selesai.

Sementara Severodvinsk menelan biaya $1,6 miliar (sekitar 270T rupiah), biaya Kazan hanya setengahnya dan kapal selam berikutnya diperkirakan masing-masing hanya sekitar $700 juta. Angkatan Laut Rusia yakin perubahan dalam desain Yasen akan memecahkan lebih banyak masalah daripada menghadirkan masalah.

Kelas Yasen memiliki masalah serius, Rusia menyadarinya ketika Severodvinsk menghadapi serangkaian masalah yang tampak tak kunjung habis selama uji coba.

Pada pertengahan 2014, setelah dua dekade upaya konstruksi yang tertunda dan hampir enam bulan uji coba penerimaan, Angkatan Laut Rusia akhirnya benar-benar mengoperasikan Severodvinsk. Severodvinsk memiliki riwayat yang "salah" dalam perjalanannya masuk ke armada Angkatan Laut Rusia. Perlu diketahui, pembangunan Severodvinsk dimulai pada tahun 1993, berdasarkan desain dan teknologi era Perang Dingin. Kemudian ada uji coba laut, yang memakan waktu dua tahun di mana Severodvinsk menghabiskan 30 persen (222 hari) waktunya di laut dan telah menyelam lebih dari seratus kali. Severodvinsk setidaknya juga sudah menembakkan lima rudal jelajahnya secara langsung. Uji coba laut seharusnya tidak berlangsung selama itu, tetapi Rusia tampaknya menginginkan SSGN ini istimewa dalam banyak hal.

Rencana menempatkan Severodvinsk ke layanan sempat dua kali ditunda pada tahun 2013. Pada awal uji coba laut terungkap bahwa reaktor nuklirnya tidak menghasilkan tenaga yang cukup dan kemampuan kapal untuk tetap senyap selama di bawah air tidak seperti yang diharapkan. Kapal selam yang berisik dan kurang bertenaga bukanlah kapal selam yang siap tempur dan Angkatan Laut Rusia menuntut agar pembangun memperbaikinya sebelum 2014.

Pada era 1990-an minimnya pendanaan dan pekerjaan membuat banyak para ahli Rusia meninggalkan perusahaan pembuat kapal selam nuklir dan komponen kompleksnya. Sedangkan mereka yang tetap memilih tinggal telah menghasilkan daftar kesalahan pada produk kapal selamnya seperti Yasen. Adanya masalah yang belum ada solusi, membuat kelas Yasen pertama ditunda untuk memasuki layanan selama setidaknya satu tahun. Yasen kedua, Kazan, kemungkinan juga masih akan menemukan masalah meskipun tentunya bukan lagi masalah serius seperti Yasen pertama.

Pada awal 2011, untuk pertama kalinya awak Severodvinsk menurunkan kapal mereka ke laut, atau setidaknya hanya berlayar di sekitar pelabuhan. Uji coba laut akan dimulai tiga bulan kemudian, tetapi pertama-tama, kapal selam itu harus menjalani beberapa ujian guna memastikan semuanya bekerja. Uji coba pelabuhan dinyatakan berhasil dan dipandang sebagai kemajuan besar. Namun segalanya memburuk setelah itu, dengan beberapa kali penundaan karena semakin banyak masalah yang ditemui.

Kazan
Kapal selam kelas Yasen, "Kazan", keluar untuk pertama kalinya untuk uji coba laut, 24 September 2013. (Gambar oleh CrazyMk / forums.airbase.ru)

Kazan berbeda. Konstruksinya dimulai pada 2009 dan dibangun sampai 2017. Ini dua tahun lebih lama dari yang diharapkan dan tampaknya ini efek dari penerapan perubahan desain. Yasen ketiga, Novosibirsk, konstruksinya belum dimulai hingga 2013 dan sudah diluncurkan pada 2019 lalu. Itu dua tahun lebih cepat dari Kazan, dan Yasen keempat, Krasnoyarsk, yang mulai dikonstruksi pada 2014  diperkirakan akan memakan waktu pembangunan yang sama dan akan diluncurkan pada 2021. Yasen kelima, Arkhangelsk, mulai dikonstruksi setahun setelah Yasen keempat dan diperkirakan akan diluncurkan pada 2022.

Rusia tampak cukup yakin dengan kemampuan Yasen-nya yang sudah didesain ulang, salah satunya karena kemampuan senyap dan tenaga Severodvinsk sudah seperti yang diharapkan. Amerika Serikat (AS) sendiri memberikan pengakuan bahwa, selama pelayaran jarak jauh pertama Severodvinsk pada tahun 2018, Angkatan Laut AS menemukan kesulitan dalam menemukan dan melacaknya. Itu tidak biasa untuk kapal selam Rusia, yang biasanya cukup berisik untuk dilacak oleh sistem deteksi kapal selam AS.

Kazan juga akan berkesempatan untuk membuktikan kemampuan silumannya seperti Severodvinsk dalam beberapa bulan ke depan ketika mengharuskannya berlayar jauh di perairan yang dipatroli oleh pesawat ASW (anti-kapal selam), kapal permukaan, kapal selam, dan sistem deteksi kapal selam AS lainnya.

Pada akhirnya, kapal selam kelas Yasen merupakan kemajuan besar dalam teknologi kapal selam Rusia. Juga menjadi luar biasa karena bangunan kapal selam Rusia itu tetap dijaga untuk "hidup" di kemudian hari sejak Perang Dingin berakhir pada tahun 1991. Memang banyak kapal selam yang sedang dibangun dan dibatalkan pada akhir Perang Dingin, tapi masih ada kapal selam Rusia yang terus menunggu hingga satu dekade untuk dilanjutkan pembangunannya.

Awak Yasen pertama sudah dibentuk pada 2007 dan kemudian menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk pelatihan, dan pastinya menunggu. Para awak akhirnya mendapat kapal baru mereka pada tahun 2013, setelah mengalami beberapa kali penundaan.

Infografik kapal selam Kazan. (Gambar: Hisutton).
Klik untuk resolusi yang lebih besar

Kazan yang berbobot 8.600 ton ini memiliki delapan tabung VLS (sistem peluncuran vertikal) yang dapat membawa 32 rudal anti-kapal Oniks atau empat puluh rudal Kalibr yang lebih lambat (mirip dengan Tomahawk AS) atau rudal jelajah Kn-101 yang lebih kuat, serta tentunya tabung torpedo.

Oniks dirancang sebagai rudal "pembunuh kapal induk" karena berkecepatan tinggi mendekati akhir penerbangannya dan sulit untuk dicegat. Tabung torpedo sebenarnya diinginkan berukuran lebih besar agar dapat menggunakan beberapa torpedo desain baru. Namun desain tersebut tidak berjalan sesuai rencana sehingga diputuskan tetap menggunakan tabung torpedo 533mm standar yang desainnya lebih tua namun telah terbukti.

Yasen kini sangat terotomatisasi, itulah sebabnya hanya perlu diawaki oleh 64 orang, kurang dari setengah awak yang dibutuhkan untuk menjalankan kapal selam kelas Virginia baru AS yang berjumlah 134 orang.

Desain Yasen masih didasarkan pada kapal selam kelas Akula dan Alfa Rusia sebelumnya. Rusia awalnya berencana membangun 30 Yasen, sebelum akhirnya dikurangi menjadi sembilan. Sebagai upaya untuk mengatasi kekurangan ini, Rusia mengatasinya dengan program perbaikan dan peningkatan kapal-kapal selam era Perang Dingin mereka demi mendapatkan sejumlah kapal selam modern di masa mendatang.

Yasen adalah jawaban untuk kelas Virginia Amerika. Bedanya, Virginia adalah desain baru sedangkan Yasen adalah upaya di akhir Perang Dingin yang teknologinya telah ditingkatkan dalam dua dekade yang dibutuhkan untuk membangun Yasen yang pertama. Virginia pertama mulai dikonstruksi pada tahun 1999 dan mulai beroperasi pada tahun 2004. Sejauh ini ada 19 dalam layanan Angkatan Laut AS, 11 lainnya sedang dalam pembangunan dan total 66 pada akhirnya akan memasuki layanan.*

Jumat, Mei 15, 2020

Kapal Nuklir Pemecah Es Rusia 'Leader' akan Operasional pada 2027

Kapal Leader pemecah es Rusia

Perusahaan Atomflot dan galangan kapal Zvezda Rusia pada April lalu menandatangani kontrak untuk pembangunan kapal pemecah es (icebreaker) bertenaga nuklir kelas Leader untuk beroperasi di lintang tinggi, laman Zvezda melaporkan.

Kapal pemecah es baru Rusia harus sudah beroperasi pada tahun 2027 ketika krisis ekonomi diprediksi akan berakhir dan persaingan pemain global untuk sumber daya di Arktik (Kutub Utara) dan Rute Laut Utara dari Pasifik ke Atlantik akan dilanjutkan.

Secara historis, Rusia sangat menunjukkan ketertarikannya dan menikmati kegiatan eksplorasinya di Arktik. Kementerian Pertahanan Rusia terus berupaya untuk menjaga hal itu dan kini tengah membangun kembali infrastruktur militernya di Arktik. Argumen lainnya adalah armada kapal pemecah es yang kuat akan memastikan aktivitas skala penuh Rusia di Arktik dalam kondisi pemanasan global.

Kapal-kapal pemecah es Rusia yang belum tertandingi telah memastikan kepentingan ekonomi Rusia di garis lintang Arktik hingga saat ini. Amerika Serikat dan Tiongkok juga telah mengumumkan pembangunan kapal pemecah es dan kapal kelas es, termasuk kapal perang untuk beroperasi di Arktik.

Iceberg Design Bureau, biro Rusia yang berspesialisasi dalam desain kapal pemecah es bertenaga nuklir, mengembangkan kapal nuklir pemecah es yang baru untuk Rusia. Kapal ini akan didukung oleh reaktor nuklir RITM-400 yang dibuat oleh biro OKBM Africantov di Nizhny Novgorod. Ini adalah perusahaan terkemuka dari perusahaan nuklir Atomflot.

Kapal pemecah es kelas Leader akan berkapasitas besar dan memiliki bobot mati lebih dari 100.000 ton dan lebar lebih dari 50 meter. Propulsi disediakan oleh empat baling-baling tetap empat-pisau. Leader dapat memecah es setebal 4,3 meter dengan kecepatan stabil minimal 1,5-2 knot. Untuk es setebal 2 meter kecepatannya adalah 12 knot. Dengan stok makanan penuh, Leader dapat terus berlayar selama delapan bulan. Awaknya terdiri dari 127 orang. Siklus hidupnya adalah 40 tahun, dengan bobot benaman mendekati 71.380 ton.

Leader akan menjadi kapal pemecah es pertama di dunia yang mampu beroperasi di Rute Laut Utara sepanjang tahun. Atomflot berencana untuk membangun tiga kapal pemecah es hingga tahun 2033.


Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Rusia memprediksi kapal Leader pertama akan menelan biaya 127,5 miliar rubel (sekitar 258 triliun rupiah). Pembangunan dua kapal pemecah es lainnya akan dibiayai bersama oleh anggaran federal dan Atomflot. Konsesi adalah pilihan lainnya, karena semua pengembang Arktik, termasuk perusahaan swasta, tertarik pada perlindungan kepentingan Arktik mereka, kata pakar Vasily Dandykin.

Leader didesain untuk menjadi kapal terkuat di dunia. Selain Leader, tiga kapal pemecah es proyek 22220 juga sedang dibangun di galangan kapal St. Petersburg dan kapal yang pertama sedang menjalani uji coba. Ketiga kapal itu adalah generasi ketiga pemecah es. Sedangkan Leader adalah generasi keempat yang tidak takut akan es setebal 4 meter di seluruh Rute Laut Utara sepanjang tahun yang akan diminati setelah krisis. Ini adalah jalur terpendek dan termurah dari Asia ke Eropa.
“Jelas bahwa Leader dan kapal pemecah es lainnya tidak hanya akan memimpin kapal tanker dan pengangkut kontainer di sepanjang Rute Laut Utara. Tapi pelayarannya sepanjang tahun akan memberikan Kementerian Pertahanan kesempatan untuk memindahkan pasukan dari barat ke timur dan kembali dalam periode ancaman. Hal ini penting mengingat ambisi militer Amerika Serikat dan NATO yang terus meningkat. Oleh karena itu, pembangunan Leader merupakan argumen yang tepat untuk klaim di Arktik,” kata Dandykin.
Sejak runtuhnya Uni Soviet, industri-industri pembuatan kapal Rusia kehilangan banyak pekerjaan dan mengalami masa-masa yang sulit. Namun, sekarang tren kebangkitan telah terbentuk.

Kapal pemecah es Arktika
Kapal pemecah es bertenaga nuklir "Arktika" sedang memasuki tahap pertama uji coba laut di St. Petersburg, 12 Desember 2019. (Kredit JSC United Shipbuilding Corporation)

Sebelum Leader beroperasi, kapal-kapal nuklir pemecah es lainnya yang sedang menjalani uji coba seperti Arktika dan yang sedang dibangun seperti Sibir dan Ural harus sudah beroperasi mengikuti kapal pemecah es Yamal dan 50 Years of Victory yang beroperasi di garis lintang Arktik.

Rusia juga membangun kapal diesel-listrik pemecah es "Ilya Muromets" dan kapal pengawal kelas es "Ivan Papanin" untuk Angkatan Laut.

Bisa membangun kapal pemecah es kelas Leader, berarti galangan kapal Zvezda juga mampu membangun supertanker dan kapal induk, kata Zvezda. (TASS)

Selasa, April 14, 2020

Kapal Fregat vs Perusak : Apa Perbedaan Keduanya?

Kapal perusak kelas Daring Inggris
HMS Dragon, kapal perusak kelas Daring Tipe 45 Angkatan Laut Kerajaan Inggris di Selat Inggris dekat dengan pelabuhannya di Portsmouth, 30 Agustus 2011. (Foto: Wiki Common)

Kapal perang menjadi bagian penting dari armada kapal permukaan setiap angkatan laut di dunia. Kapal perang muncul dalam berbagai bentuk dan ukuran tergantung pada kemampuan dan fungsinya. Dua jenis kapal perang yang umum digunakan di sebagian besar angkatan laut adalah kapal fregat (frigate) dan perusak (destroyer). Apa perbedaan kedua kapal ini?

Fregat dan perusak adalah dua kapal perang yang paling umum dalam suatu angkatan laut. Keduanya didesain untuk bermanuver dengan cepat dan dapat digunakan untuk mengawal dan melindungi kapal yang lebih besar dari ancaman udara, permukaan, dan bawah air. Kemiripan antara fregat dan perusak telah menyebabkan kerancuan di banyak angkatan laut dunia, termasuk di Eropa.

Faktanya, fregat lebih banyak dan lebih umum, dengan hampir setiap angkatan laut di dunia memilikinya sebagai bagian dari armada angkatan lautnya, sementara hanya 13 negara yang memiliki kapal perusak, menurut Global Fire Power Index 2019.

Kapal fregat tipe 054 China
Fregat tipe 054A China menembakkan rudal anti-kapal selama latihan. (Foto: Simon Yang / Flickr user)

Hampir setiap angkatan laut memiliki fregat
Dari 55 negara yang memiliki fregat, China memimpin dengan kepemilikan 52 unit di tiga kelas berbeda, diikuti - cukup mengejutkan - oleh Taiwan yang memiliki 24, dan AS dengan 22 unit.

Kapal perusak tidak seumum fregat, hanya segelintir angkatan laut dunia yang memiliki jenis kapal perang ini. Angkatan Laut AS memiliki kapal perusak terbanyak dengan total 68 yang dioperasikan saat ini. Jepang berada di posisi kedua dengan 37, diikuti oleh China, yang memiliki 33 kapal.

Beberapa negara lain, seperti Spanyol dan Jerman, secara resmi tidak memiliki kapal perusak walaupun banyak dari kapal fregat mereka hampir identik dengan apa yang negara lain sebut sebagai kapal perusak.

Fregat kelas Sachsen Jerman
Fregat kelas Sachsen Jerman. (Foto: Bundeswehr)

Kapal perusak biasanya lebih besar
Kapal perusak dibuat dalam berbagai ukuran. Kapal perusak yang lebih kecil, seperti kelas Daring Tipe 45 Angkatan Laut Kerajaan Inggris dan kelas Sovremenny Proyek 956 Rusia, berukuran panjang sekitar 150 m, dengan lebar sekitar 17-18 m.

Lalu ada kapal perusak kelas Zumwalt Angkatan Laut AS yang memiliki panjang 190 m dengan lebar 24,6 m. Kelas Zumwalt memiliki bobot benaman hampir 16.000 ton, menjadikannya dua kali lipat lebih besar dari bobot benaman kapal perusak kecil yang sekitar 8.000 ton pada muatan penuh.

Sementara ukuran fregat sangat bervariasi, banyak fregat teratas seperti kelas Admiral Gorshkov Rusia dan kelas Sachsen Jerman lebih kecil daripada kapal perusak, berukuran panjang sekitar 130 m - 150 m, dengan lebar yang hampir sama dengan kapal perusak.

Menurut Dr. Sidharth Kaushal, seorang peneliti di Royal United Services Institute untuk Studi Pertahanan dan Keamanan, mengatakan bahwa perbedaan utama antara fregat dan kapal perusak adalah pada ukuran dan fungsinya.

Karena ukurannya lebih besar, kapal perusak dapat lebih mudah membawa dan menghasilkan tenaga untuk radar resolusi tinggi yang lebih kuat dan lebih banyak tabung peluncuran vertikal. Dengan demikian kapal perusak memiliki sistem pertahanan udara yang lebih baik dan rudal yang lebih banyak dan bervariasi untuk pasukan seperti kelompok tempur kapal induk dan biasanya memang ditugaskan untuk fungsi ini.

Sedangkan fregat biasanya digunakan sebagai kapal pengawal untuk melindungi jalur komunikasi laut atau sebagai komponen tambahan dari kelompok tempur, berbeda dengan kapal perusak yang umumnya diintegrasikan ke dalam kelompok tempur kapal induk sebagai komponen pertahanan udara atau digunakan untuk menyediakan pertahanan udara teritorial.

Fregat Admiral Gorshkov Rusia. (Foto: Military Watch Magazine)

Kapal perusak lebih cepat
Fregat pada umumnya lebih lambat daripada kapal perusak, meskipun di zaman modern ini tidak ada lagi perbedaan yang signifikan. Salah satu fregat yang berkecepatan tinggi adalah kelas Shivalik Angkatan Laut India yang disebut-sebut mampu melakukan perjalanan hingga 32kn (59km/jam) dengan kecepatan maksimal, sementara yang lain berkisar antara 26-30kn (48-55km/jam).

Meskipun ukurannya mengesankan, kapal perusak kelas Zumwalt Angkatan Laut AS hanya mampu melakukan perjalanan dengan kecepatan hingga 30kn (56 km/jam), sedikit lebih lambat dari kelas Sovremenny Rusia dan kelas Daring Kerajaan Inggris yang ukurannya lebih kecil,yang memiliki kecepatan maksimal rata-rata 32kn (59km/jam). Tapi kelas Zumwalt masih secepat - jika tidak lebih cepat - daripada kebanyakan fregat.

Kapal perusak modern saat ini pada umumnya berkecepatan maksimal pada sekitar 33kn (61km/jam), sedangkan kapal perusak tercepat yang pernah tercatat adalah Le Terrible Angkatan Laut Perancis yang mencapai 45,1kn (83,5km/jam) selama uji coba laut pada tahun 1935.

Perusak kelas Zumwalt AS
USS Zumwalt tiba di pelabuhannya di San Diego. (Foto: Petty Officer Kelas Tiga Emiline L. M. Senn)

Senjata dan kemampuan peperangan elektronik (EW)
Baik fregat maupun kapal perusak dipersenjatai dengan senjata dan sistem pertahanan terbaru, yang sangat penting untuk melakukan pengawalan dan peran mereka.

Sebagian fregat, seperti kelas Duke Angkatan Laut Kerajaan Inggris, memiliki kemampuan khusus anti-kapal selam (ASW) dan dilengkapi dengan peralatan sonar dan torpedo yang ditingkatkan.

Fregat dengan penyempurnaan kemampuan ASW akan memiliki helipad dan hanggar untuk mengakomodasi helikopter yang mampu mengidentifikasi dan menyerang kapal selam menggunakan torpedo dan depth charges (senjata yang dijatuhkan dan diledakkan di dekat kapal selam).

Kelas Duke dilengkapi dengan dua tabung torpedo Sting Ray dan dapat mengakomodasi helikopter Westland Lynx yang dipersenjatai dengan dua torpedo atau Westland Merlin dengan empat torpedo.

Fregat kelas Duke Inggris
HMS Sutherland, fregat kelas Duke Tipe 23 Angkatan Laut Kerajaan Inggris. (Foto: Royal Navy)

Fregat ukurannya lebih kecil dan memiliki kemampuan pertahanan udara terbatas untuk diri mereka sendiri dan kapal terdekat, tetapi tidak terlalu cocok untuk pertahanan udara teritorial.

Fregat cenderung digunakan untuk peran anti-kapal selam serta memberikan pertahanan udara jarak pendek sebagai bagian dari kelompok tempur kapal permukaan.

Beberapa kapal perusak telah dimodifikasi secara khusus untuk meluncurkan rudal anti-kapal dan anti-pesawat. Kelas Zumwalt dan Arleigh Burke Angkatan Laut AS memiliki kemampuan ini, seperti halnya kelas Daring Angkatan Laut Kerajaan Inggris dan kelas Sovremenny Rusia.

Ambil contoh, misalnya, sistem pertahanan komprehensif Sea Viper kelas Daring memungkinkan Angkatan Laut Kerajaan Inggris untuk melacak target dari jarak 400 km menggunakan array aktif yang dipindai secara elektronik Sampson, dan 48-cell Sylver Vertical Launching System (VLS) dengan rudal permukaan ke udara Aster 15 dan Aster 30.

Kelas Zumwalt raksasa hadir dengan 20 modul Mk57 VLS dengan 80 tabung peluncuran, dan dapat menembakkan rudal Sea Sparrow Evolved dan rudal jelajah subsonik Tactical Tomahawk.

KRI R.E. Martanidata 331 TNI AL
Fregat KRI R.E. Martadinata (331) TNI AL bersiap menerima bahan bakar dari kapal tangki USNS Rappahannock (T-AO-204) Angkatan Laut AS, tidak terlihat, di Laut Cina Selatan, 21 Mei 2018. (Foto: US Navy)

Perbedaan biaya fregat dan perusak
Sangat sulit untuk menentukan harga satuan dari kelas kapal tertentu, apalagi jenis kapal. Namun, berikut adalah beberapa perkiraan kapal yang paling mahal.

Kapal perusak termahal di dunia adalah kelas Zumwalt Angkatan Laut AS. Model pertama, DDG-1000, harganya sekitar $ 4,2 milyar menurut USNI News, $ 3,8 milyar untuk biaya teknik yang tidak berulang dan tambahan $ 400 juta untuk pasca pengiriman dan perlengkapan. Kapal kedua dan ketiga diperkirakan lebih murah, masing-masing $ 2,8 miliar dan $ 2,4 miliar. Ini mahal dibandingkan dengan kapal perusak kelas Daring Angkatan Laut Kerajaan Inggris yang dihargai sedikit di atas £ 1 miliar ($ 1,36 miliar).

Sebaliknya, kapal fregat jauh lebih hemat biaya. Kelas Duke Angkatan Laut Kerajaan Inggris dihargai sekitar £ 130 juta ($ 163 juta) per kapal, sementara fregat Tipe 31 diperkirakan pada tahun 2017 menelan biaya sekitar £ 250 juta ($ 313 juta) per unit, menurut lembar fakta Pemerintah Inggris.

Kelas Sachsen Angkatan Laut Jerman adalah salah satu kelas fregat paling mahal, harnya sekitar € 2,1 miliar ($ 2,4 miliar) untuk total tiga kapal.*

Sabtu, Oktober 27, 2018

Kapal Selam Serang Kelas Yasen Rusia Ancaman Serius Bagi AS?

Peluncuran Kazan, kapal selam kedua kelas Yasen
Peluncuran Kazan, kapal selam kedua kelas Yasen pada Maret 2017
Gambar: Alexander Ryumin (Getty Images)

Ketika diberitakan media, Rusia memiliki banyak senjata-senjata 'ajaib', mulai dari pesawat tempur hingga rudal jelajah bertenaga nuklir. Sebagian dari senjata-senjata ini sulit dipercayai dan belum terkonfirmasi kebenarannya, tetapi sebagian lainnya memang ada dan membuat kekhawatiran.

Sebuah skenario yang membuat petinggi-petinggi di Pentagon tidak tidur nyenyak di malam hari adalah ancaman rudal jelajah yang diluncurkan dari kapal selam baru Rusia, terbang feri melintasi Atlantik dan wilayah udara Amerika untuk mengirimkan hulu ledak nuklir yang mematikan pada sasaran tanpa terduga. Selamat datang di kapal selam kelas Yasen Rusia yang baru.

Pada akhir Perang Dingin, Uni Soviet memiliki kekuatan kapal selam terbesar di dunia. Dari kapal selam Komsomolet berlambung titanium yang mampu menyelam jauh hingga kapal selam nuklir kelas Akula, armada kapal selam Soviet sangat besar dan dengan cepat mengejar armada kapal selam AS.

Runtuhnya Uni Soviet berarti Rusia yang mewarisi Angkatan Laut Soviet menderita karena terlalu banyak kapal perang tapi tidak memiliki cukup uang, sehingga Angkatan Laut Rusia yang baru tertatih-tatih, nyaris tidak ditopang oleh anggaran tahun 1990-an. Ratusan kapal selam dibuang dan proyek konstruksi kapal selam baru yang tengah berjalan dihentikan.

Salah satu proyek yang dihentikan tersebut adalah proyek kapal selam rudal bertenaga nuklir yaitu Proyek 855, atau kelas Yasen. Kapal pertama di kelasnya, Severodvinsk, dimulai pembangunannya pada bulan Desember 1993. Hanya tiga tahun kemudian, Moskow menghentikan pembangunan karena kurangnya dana dengan hanya sepertiga dari lunas kapal yang diselesaikan. Baru pada tahun 2003 pembangunan kapal selam itu dilanjutkan kembali hingga akhirnya resmi beroperasi pada 2014 sebagai kapal selam serang nuklir modern pertama Rusia dari era pasca-Perang Dingin.

Internal diagram dari kelas Yasen
Internal diagram dari kelas Yasen.
Ilustrasi: H.I. Sutton

Severodvinsk adalah kapal selam yang besar. Dia memiliki panjang sekitar 120 meter dan bobot benaman 11.800 ton (menyelam). Reaktor nuklir OK-650KPM menghasilkan daya sebesar 200 megawatt, memberikannya kecepatan 31 knot (57,4 km/jam) saat menyelam. Sistem sonar Irtysh-Amfora menyediakan jangkauan sonar all-around, dengan array sonar spherical bow-mounted, flank arrays di lambung, dan towed sonar array dari bagian belakang ketika kapal selam bergerak.

Sistem tempur kelas Yasen sangat tangguh, dengan sepuluh tabung torpedo 533 milimeter yang dipersenjatai dengan torpedo kelas berat UGST-M. Namun, sistem senjata yang menjadi perhatian terbesar para analis Barat adalah delapan tabung peluncuran vertikalnya yang multiguna. Tabung peluncuran ini dapat menampung P-800 Oniks, rudal bertenaga ramjet pembunuh kapal yang kecepatannya dapat mencapai Mach 2,5 (3.087 km/jam).

Singkatnya, serangan mendadak yang dilakukan Yasen yang bersenjatakan rudal Oniks akan membuat kelompok tempur kapal induk AS kelabakan dan hanya memiliki sedikit waktu untuk bereaksi.

Senjata lain yang cocok dalam tabung peluncuran vertikal Yasen adalah rudal jelajah Kalibr serangan darat. Mirip dengan rudal jelajah Tomahawk Amerika, Rusia telah meluncurkan beberapa gelombang serangan rudal Kalibr dari kapal selam dan kapal permukaan terhadap sasaran ISIS di Suriah. Rudal Kalibr juga dapat berhulu ledak nuklir. Kapal selam pertama dari kelas Yasen, Severodvinsk, dapat membawa hingga 40 rudal jelajah Kalibr sementara kapal kedua yang kedua, Kazan, dapat membawa 32. Hasilnya adalah potensi serangan pertama yang mematikan.

Rudal anti kapal Oniks dan rudal jelajah Kalibr serangan darat.
Gambar: H.I. Sutton

Selama bertahun-tahun, Rusia telah mencoba merancang senjata/sarana yang dapat menembus sistem pertahanan rudal balistik Amerika. Meskipun sistem pertahanan rudal AS yang ada saat ini berorientasi pada negara-negara yang lebih kecil seperti Iran dan Korea Utara, Rusia yakin ada potensi bagi Washington untuk meningkatkan sistem pertahanannya ke titik di mana mereka dapat mengancam rudal nuklir Moskow.

Upaya sistem pertahanan rudal AS terkonsentrasi terhadap rudal balistik terbang tinggi. Rudal-rudal jelajah seperti Kalibr di sisi lain terbang dengan ketinggian rendah, mengikuti medan yang dilaluinya untuk menghindari radar peringatan dini. Ancaman Rusia yang tersirat pada rudal jelajah berhulu nuklirnya adalah bahwa tidak peduli apa pun jenis sistem pertahanan rudal yang dikerahkan AS, rudal jelajah Rusia akan berusaha mengitarinya sampai menemukan jalan masuk.

Masalah dengan rudal seperti Kalibr adalah bahwa mereka bisa dengan mudah menjadi senjata serangan pertama nuklir. Kalibr memiliki jangkauan 1.600 mil (2574 km/jam). Seorang ahli kapal selam H.I. Sutton, penulis "World Submarines: Covert Shores Recognition Guide", mengingatkan bahwa "kapal selam Tipe 855 (kelas Yasen) yang dipersenjatai dengan rudal Kalibr dapat menargetkan kota-kota di Pesisir Timur AS dari Atlantik tengah."

Kapal selam dengan rudal Kalibr dapat melancarkan serangan yang mematikan target-target utama pemerintah di seluruh Amerika Serikat, melumpuhkan kemampuan pasukan strategis AS untuk membalas. Semakin dekat kapal selam Rusia ke daratan AS, semakin semakin sulit menghentikannya.

Itulah ancaman dari rudal jelajah Rusia yang membuat Pentagon bergegas untuk mengembangkan Joint Land Attack Cruise Missile Defense Elevated Netted Sensor System, atau JLENS. JLENS adalah jaringan aerostats yang dilengkapi radar yang terbang tinggi di Timur Laut Amerika Serikat, yang akan melihat/memantau rudal jelajah yang terbang rendah di bawah.

JLENS
JLENS aerostat.
Gambar: U.S. Army (Wikipedia)

Program ini sempat mengalami koma setelah insiden tahun 2015 di mana salah satu aerostat terlepas dari tambatannya dan terbang bebas melintasi negara bagian Pennsylvania.

Moskow mungkin tidak berkeinginan untuk mengerahkan kombinasi Yasen / rudal Kalibr sebagai senjata serangan pertama, tetapi secara teoritis Rusia jelas memiliki kemampuan itu dan Pentagon yakin kemampuan Rusia itu perlu diantisipasi.

Sutton percaya bahwa pemberitaan-pemberitaan media soal kemampuan kelas Yasen dapat dibenarkan secara luas. "Dengan semua kapal selam kelas Severodvinsk (Yasen) adalah ancaman yang sangat tersembunyi dan kuat," katanya. “Saat ini Rusia memiliki kapal selam yang sangat kapabel, tetapi kebanyakan dari mereka satu generasi lebih tua dari rata-rata kapal selam AS atau Inggris. Dengan Rusia sekarang beralih ke mode produksi dengan kelas Severodvinsk, maka akan menjadi penantang nyata untuk kapal selam Angkatan Laut AS dan Ingggis."

Peluncuran Kazan, kapal selam kedua kelas Yasen
Peluncuran Kazan, kapal kedua dari kelas Yasen pada Maret 2017.
Gambar: Alexander Ryumin (Getty Images)


“Dalam banyak hal, Severodvinsk Rusia setara dengan kelas Seawolf Angkatan Laut AS,” Sutton menjelaskan. Seawolf adalah kapal selam serang terbesar milik Angkatan Laut AS yang dibangun selama akhir 1990-an dan awal 2000-an. “Ini adalah kapal selam kelas atas yang mahal yang dikembangkan dari era Perang Dingin. Perbedaan terbesarnya adalah bahwa kapal Rusia memiliki delapan silo untuk rudal jelajah selain apa yang dapat dilakukan di ruang torpedo. Fitur ini telah ditambahkan ke kapal selam serang Amerika tetapi kapasitas senjatanya tidak akan pernah sama. ”

Sementara itu, sistem rudal Kalibr sudah terbukti, seperti yang ditunjukkan Rusia dalam serangannya di Suriah. Sutton mengatakan: "Pengalaman operasional Rusia dengan Kalibr membantu Rusia melakukan uji coba pertempuran rudal jelajah yang dibawa oleh Severodvinsk di Suriah. Hasil awalnya memang bervariasi tetapi serangan berulang, termasuk dari kapal selam, akan meningkatkan pengalaman dan keyakinan Rusia untuk menggunakannya lebih efektif lagi."

Amerika Serikat telah menanggapi ancaman dengan mengaktifkan kembali Armada Kedua, sebuah komando armada berbasis Atlantik yang berorientasi pada pendekatan ke benua Amerika Serikat. Terkait JLENS, ada desas-desus tentang adanya sistem baru yang dirancang untuk mendeteksi rudal yang diluncurkan dari kapal selam di seluruh benua Amerika Serikat. Pesawat P-8 Poseidon anti kapal selam baru dan frigat generasi baru Angkatan Laut AS akan meningkatkan kemampuan bertahan terhadap kapal selam, tetapi semua ini tetap rumit dan kompleks.

Untuk saat ini, harapan terbaik AS agar kelas Yasen tidak akan menjadi ancaman serius adalah keadaan ekonomi Rusia itu sendiri. Meskipun Moskow telah melewati penderitaan ekonomi pada pertengahan 2010 dan dalam pemulihan bertahap, pertumbuhannya lambat dan kelas Yasen sangatlah mahal. Saat ini baru dua kelas Yasen yang telah selesai dibuat, dengan lima lainnya masih dalam tahap konstruksi. Total Rusia menginginkan 10 kelas Yasen bagi angkatan lautnya. Tapi semuanya akan tergantung dari ekonomi Rusia sendiri. (fr)

Kamis, Oktober 25, 2018

Kapal Selam Masa Depan Angkatan Laut AS: Besar dan Mahal

Ilustrasi SSN (X) Angkatan Laut AS

Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) saat ini tengah mendesain kapal selam serang yang besar dan kuat untuk menghadapi peperangan di masa depan. Kapal selam kelas baru ini akan jauh lebih besar dan lebih mampu daripada kelas Virginia saat ini, dengan penekanan pada pertempuran bawah laut.

Kapal selam baru, yang saat ini ditunjuk sebagai SSN (X) akan menjadi kapal selam yang minim suara (siluman), mampu menyelam jauh ke bawah laut, dan sebagai kapal selam bersenjata lengkap yang dimaksudkan untuk mengeliminasi semua musuhnya mulai pertengahan abad 21 ini.

Secara tradisi, armada kapal selam serang bertenaga nuklir Angkatan Laut AS atau biasa disebut SSN diberikan misi untuk memburu armada kapal permukaan dan menyerang kapal selam musuh. Peran sebagai pemburu dan pembunuh ini akan membutuhkan kapal selam yang mampu menemukan kapal musuh, menguntitnya, dan kemudian melepaskan serangan mematikan dengan rudal dan torpedo. Kapal selam seperti ini membutuhkan daya penggerak nuklir, kemampuan menyelam yang dalam, sonar yang kuat, dan senjata jarak jauh yang dipandu. Yang saat ini cocok menjalankan semua tugas itu adalah kapal selam kelas Seawolf Angkatan Laut AS.

Tiga kapal selam kelas Seawolf yang bobot benamannya masing-masing 9.138 ton saat menyelam, praktis bergerak di bawah air dengan kecepatan 35 knot (64,82 km/jam), dilengkapi dengan delapan tabung torpedo, dan mampu menyelam hingga kedalaman 2.000 kaki (609 meter).

Angkatan Laut AS hanya membangun tiga kapal selam kelas Seawolf dari akhir 1990-an hingga awal 2000-an.

Seawolf diklaim analis sebagai kapal selam tercanggih yang pernah dibangun. Runtuhnya Uni Soviet yang diikuti dengan kemunduran Angkatan Laut Uni Soviet /Rusia secara efektif meninggalkan Seawolf tanpa musuh yang sepadan.

Rencananya, Angkatan Laut AS akan membangun 12 kapal selam kelas Seawolf dengan biaya $ 33 miliar. Namun, Angkatan Laut AS akhirnya memangkas program tersebut menjadi hanya 3 kapal, masing-masing dengan biaya $ 4,4 miliar. Angkatan Laut AS kemudian mengalihkan perhatiannya untuk mengembangkan kapal selam kelas Virginia yang ukurannya lebih kecil, lebih fleksibel, dan harganya lebih terjangkau.

Kapal selam kelas Virginia hanya memiliki empat tabung torpedo dan terbatas menyelam pada kedalaman 800 kaki (243 meter). Kelas Virginia lebih cocok untuk mendukung misi yang lebih luas, termasuk pengumpulan data intelijen dan pengerahan Navy SEAL.

Laman USNI News melaporkan bahwa Angkatan Laut AS berada dalam tahap konseptual untuk membuat penerus sejati kelas Seawolf, SSN (X). Bangkitnya Angkatan Laut Tiongkok dan penyebaran besar kapal-kapal selam Rusia membuat Angkatan Laut AS harus bersiap menghadapi bentrokan dengan banyak armada musuh yang berteknologi maju.

Seperti kelas Seawolf, SSN (X) akan berukuran besar dan menjadi penyelam yang handal. Kedalaman menyelam sangat penting mengingat torpedo 'apocalypse' Rusia yang baru, Poseidon, memiliki kedalaman operasi yang diklaim 3.128 kaki (953 meter). Dirancang untuk 'meratakan' kota-kota dan fasilitas militer pantai dengan hulu ledak hingga 100 megaton, torpedo Poseidon yang datang harus dihentikan dengan segala cara. Selain itu, kapal selam rudal jelajah kelas Yasen Rusia yang baru memiliki kedalaman menyelam 2.000 kaki (609 meter).

Menurut USNI News, kapal selam juga akan beralih kembali ke torpedo sebagai senjata utamanya. Sementara tabung torpedo kelas Virginia lebih sedikit dan membawa rudal jelajah Tomahawk untuk menyerang sasaran di darat, SSN (X) akan memasang lebih banyak tabung torpedo dan membawa torpedo lebih banyak untuk menyerang kapal permukaan dan kapal selam.

SSN (X) nantinya juga dapat dilengkapi dengan drone air tanpa awak (UUV) untuk misi seperti memancing kapal musuh ke dalam perangkap atau memberikan panduan terminal untuk torpedo yang dipandu sementara SSN (X) menyelinap pergi.

Konstruksi SSN (X) kemungkinan akan dimulai pada tahun 2030-an, setelah kapal selam rudal balistik kelas Columbia selesai. Kantor Anggaran Kongres AS memperkirakan masing-masing SSN (X) akan seharga $ 5,5 miliar. (fr)

Selasa, September 04, 2018

KRI Yos Sudarso 353, Penjaga Samudera Indonesia

KRI Yos Sudarso 353

Ialah KRI Yos Sudarso yang telah menjaga kedaulatan Indonesia selama puluhan tahun. KRI Yos Sudarso berlayar lintas samudra.

KRI Yos Sudarso menyandang nama besar pahlawan Laksamana Muda Yosafat Sudarso yang pada tahun 1962 gugur dalam sebuah pertempuran laut melawan Belanda dalam merebut Irian Barat.

"Kobarkan terus semangat pertempuran," itu menjadi kata terakhir Yos Sudarso kala itu. Semangat itulah yang menjadikan KRI Yos Sudarso terus berjuang di usianya yang sudah senja. Berjuang untuk menegakkan kedaulatan, menegakkan hak berdaulat, dan menegakkan hukum di laut.

KRI Yos Sudarso merupakan kapal ketiga dari kapal perang kelas Perusak Kawal Berpeluru Kendali Kelas Ahmad Yani milik TNI AL. Total ada enam kapal TNI AL yang sekelas KRI Yos Sudarso. Di Tanah Air, KRI Yos Sudarso memiliki tugas penting. Ia harus menjaga zona ekonomi eksklusif (ZEE) Natuna.

Meski sudah uzur, KRI Yos Sudarso selalu tampil gagah. Berbagai operasi pun sudah dilakukannya mulai dari operasi penyelamatan korban pesawat jatuh Air Asia QZ8501 pada 2015, pembebasan sandera di Bangladesh, hingga pembebasan 20 anak buah kapal (ABK) MV Sinar Kudus di Somalia.

KRI Yos Sudarso memiliki kemampuan peperangan tiga dimensi: peperangan udara, peperangan kapal permukaan, dan peperangan dengan kapal selam.

Peran KRI Yos Sudarso dalam menjaga kedaulatan Indonesia tak bisa diragukan. Meski sepi pemberitaan, KRI Yos Sudarso selalu berhasil menaklukkan kapal asing yang berusaha masuk ke perairan Indonesia.

KRI Yos Sudarso dibuat di Belanda pada tahun 1967 dan diluncurkan setahun kemudian. Kapal perang dengan nomor lambung 353 ini kemudian diserahkan ke Indonesia pada November 1988.

KRI Yos Sudarso memiliki bobot benaman 2.800 ton dengan dimensi 113,42 meter x 12,51 meter x 4,57 meter. Ditenagai oleh mesin diesel 2 x Caterpillar CAT DITA 3616, Reintjes WAV 1000 P gearboxes dengan kekuatan 16.000hp. Repowering mesin penggerak dilakukan oleh PT PAL yang semula menggunakan mesin boiler.

Persenjataan

KRI Yos Sudarso dipersenjatai dengan berbagai jenis persenjataan modern untuk mengawal wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Termasuk diantaranya adalah:
  • 4 Peluru Kendali Permukaan-ke-permukaan China Aerospace Science and Industry Corporation (CASIC) C-802 dengan jangkauan maksimum 120 Km, berkecepatan jelajah Mach 0,8-0,9, berpemandu inertial/GPS dan terminal active radar dengan hulu ledak seberat 150 Kg.
  • 4 Peluru kendali permukaan-ke-udara Mistral dalam peluncur Simbad laras ganda sebagai pertahanan anti serangan udara. Jangkauan efektif 4 Km (2,2 mil laut), berpemandu infra merah dengan hulu ledak 3 Kg. Berkemampuan anti pesawat udara, helikopter dan rudal.
  • 1 meriam OTO-Melara 76/62 compact berkaliber 76mm (3 inchi) dengan kecepatan tembakan 85 rpm, jangkauan 16 km untuk target permukaan dan 12 km untuk target udara.
  • 2 Senapan mesin 12,7mm
  • 12 Torpedo Honeywell Mk. 46, berpeluncur tabung Mk. 32 (324mm, 3 tabung) dengan jangkauan 11 km kecepatan 40 knot dan hulu ledak 44 kg. Berkemampuan anti kapal selam dan kapal permukaan.

Sensor dan elektronik

KRI Yos Sudarso diperlengkapi radar LW-03 2-D air search, sonar PHS-32. Juga diperlengkapi dengan kontrol penembakan (fire control) M-44 SAM control serta perangkat perang elektronik UA-8/9 intercept. Sebagai pertahanan diri mempunyai 2 peluncur decoy RL.

Penerbangan

Memiliki dek untuk 1 helikopter yang sebelumnya adalah Westland Wasp HAS.1 (kini pensiun) dengan fungsi sebagai helikopter anti kapal selam. Digantikan dengan NBO-105 untuk penindakan ringan dan angkut serbaguna. Setelah 11 helikopter Eurocopter AS565 Panther pesanan TNI-AL diserahkan, Panther akan menggantikan NBO-105 untuk angkut, penindakan, dan peperangan anti kapal selam.

Termasuk dalam kelas Ahmad Yani bersama KRI Yos Sudarso antara lain KRI Ahmad Yani (351), KRI Slamet Riyadi (352), KRI Oswald Siahaan (354) KRI Abdul Halim Perdana Kusuma (355) dan KRI Karel Satsuit Tubun (356).

Resources
  • Medcom / Wikipedia

Senin, Agustus 27, 2018

Kecanggihan Kapal Fregat Kelas Admiral Grigorovich Rusia

Admiral Grigorovich

Rusia mengirimkan dua kapal perang jenis fregat (frigate), Admiral Grigorovich dan Admiral Essen, ke Laut Mediterania bergabung dengan Armada Laut Hitam Rusia untuk meningkatkan kekuatan militer Rusia di wilayah itu.

Peningkatan kehadiran militer Rusia di Mediterania ini terjadi ketika Kementerian Pertahanan Rusia menuduh AS, Inggris dan Prancis bersiap untuk melakukan serangan baru terhadap Suriah dengan dalih pasukan pemerintah Suriah menggunakan senjata kimia.

Terlepas dari hal tersebut, apa saja kemampuan kapal fregat Rusia yang membawa rudal jelajah Kalibr ini? Berikut ulasannya.

Fregat kelas Admiral Grigorovich dibuat di galangan kapal Yantar di Kaliningrad, Rusia. Kemampuan fregat kelas Admiral Grigorovich adalah misi anti-permukaan, anti-kapal selam, dan anti-udara, baik sebagai kapal tunggal maupun dalam kelompok tempur.

Admiral Makarov kelas Admiral Grigorovich

Pada tahun 2010 dan 2011 Kementerian Pertahanan Rusia masing-masing menandatangani dua kontrak dengan galangan kapal Yantar Shipyard untuk pembangunan enam fregat dalam Project 11356 P/M.

Admiral Grigorovich merupakan kapal pertama (ditugaskan 11 Maret 2016) dari Project 11356 P/M, kemudian dilanjutkan oleh Admiral Essen  (7 Juni 2016) dan Admiral Makarov (27 Desember 2017). Sedangkan tiga kapal lainnya masih dalam tahap uji coba laut atau konstruksi.

1. Desain

Admiral Essen kelas Admiral Grigorovich

Kelas Admiral Grigorovich memanfaatkan desain lambung pengembangan oleh Biro Desain Severnoye. Lambung dan suprastruktur didesain untuk mempersulit pelacakan radar, akustik dan inframerah musuh. Kapal ini memiliki dek landasan udara untuk mengakomodasi helikopter Kamov Ka-28 atau Ka-31.

Kelas Admiral Grigorovich berdimensi panjang 124,8 meter dan lebar 15,2 meter, dan menampung 220 kru. Bobot benaman (berat perpindahan) kapal ini mencapai 3.620 ton (standar) atau 4.035 ton (muatan penuh)/

2. Sistem Rudal

Kelas Admiral Grigorovich menembakkan rudal Kalibr

Senjata mutakhir yang diusung fregat ini adalah 8-sel Vertical Launch System (VLS) untuk rudal jelajah supersonik Kalibr (SS-N-27 Sizzler). Kalibr dapat digunakan untuk target kapal perang atau aset di daratan. VLS yang sama juga dapat menembakkan rudal jelajah Oniks (SS-N-26 Strobile), yang memiliki jangkauan hingga 600km.

Untuk pertahanan udara, Kelas Admiral Grigorovich dibekali sistem rudal pertahanan udara jarak menengah Shtil-1, sistem rudal permukaan-ke-udara Igla man-portable, dan CIWS Kashtan, termasuk enam modul tembak, modul komando, sistem penyimpanan dan isi ulang, 64 rudal, dan 6.000 amunisi 30 milimeter.

Kompleks Shtil-1 dilengkapi dengan peluncur 3S90E dan sistem kontrol tembak 3R90E1, dan secara bersamaan dapat menghancurkan hingga 12 target dalam rentang jarak 3,5 kilometer hingga 32 kilometer.

3. Artileri dan Senjata Anti-Kapal Selam

Kanon A190E 100 milimeter

Kanon utama yang dipasang di depan busur dek adalah kanon A190E 100 milimeter dengan sistem kontrol tembak 5P-10E, yang memungkinkan untuk melacak dan menghantam beberapa target secara efektif. Senjata laut A-190 dapat menembakkan semburan ledakan tinggi (impact fuse) dan AA (pengatur waktu ledakan) amunisi pada kecepatan 80 peluru per menit untuk jangkauan lebih dari 20 kilometer.

Kemampuan anti-kapal selam disediakan oleh dua tabung torpedo DTA-53-11356, dan sebuah peluncur roket peledak dalam laut RBU-6000 yang menembakkan roket 90R ASW dan roket dalam laut RGB-60.

4. Sensor dan Sistem Serangan Balasan

Admiral Grigorovich

Admiral Grigorovich dilengkapi dengan sonar di lambungnya, SNN-137 yang dipasang sonar array aktif, radar pencarian udara/permukaan Fregat-M2EM, dan radar navigasi MR-212/201-1 dan Nucleus-2-6000A.

Penanggulangan serangan disediakan oleh ASOR-11356 sistem Electronic Counter Measures (ECM) dan sistem pengeluaran umpan PK-10 jarak dekat. Sistem PK-10, yang mencakup dispenser umpan KT-216-E, pengalih radar A3-SR-50, dan pengalih elektro-optik A3-SO-50 / A3-SOM-50, melindungi kapal dari radar yang masuk atau rudal kendali optik.

5. Propulsi

Sistem propulsi gabungan gas dan gas (COGAG), yang memadukan dua turbin jelajah dan dua turbin boost pada kelas Admiral Grigorovich, menghasilkan kecepatan maksimum 30 knot dan jangkauan 5.000 nmi. Mesin propulsi utama menghasilkan output daya maksimum 56.000 tenaga kuda.

Fregat canggih ini juga dilengkapi dengan empat diesel-alternator WCM 800/5, menghasilkan listrik 3.200kW untuk sistem kapal. Untuk penugasan, Kelas Admiral Grigorovich dapat terus bertugas selama 30 hari.

Resources
  • Tempo / Wikipedia
  • Gambar: Wiki common & Sputnik News

Sabtu, Juli 07, 2018

Kekuatan Bawah Laut China: Pasukan Kapal Selam

People's Liberation Army Navy Submarine Force (PLANSF) adalah nama pasukan kapal selam dari Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAN).

Pasukan Kapal Selam PLAN
PLANSF terdiri dari semua jenis kapal selam yang dioperasikan oleh Angkatan Laut PLA yang terbagi menjadi tiga armada: Armada Laut Utara, Armada Laut Timur, dan Armada Laut Selatan.

Pasukan Kapal Selam PLAN
Kapal selam telah lama menjadi salah satu dari tiga fokus Angkatan Laut PLA (dua lainnya adalah kapal perang permukaan dan pesawat). Pada akhir 2006 China membuat keputusan untuk berkonsentrasi pada pembangunan kapal perang permukaan utama untuk memperkuat pertahanan udara dan untuk lebih lanjut menunda pembangunan kapal induk karena masih lemahnya pertahanan udara, kapal selam akan terus memainkan peran dominan utamanya dalam kekuatan penyerangan untuk Angkatan Laut PLA.

Pasukan Kapal Selam PLAN
Saat ini, PLANSF mengoperasikan 68 unit kapal selam yang terdiri dari kapal selam nuklir dan juga kapal selam konvensional (termasuk kapal selam dengan sistem AIP).

Pasukan Kapal Selam PLAN
China adalah negara Asia pertama dan ke-5 di dunia yang mampu mendesain, membangun, dan mengoperasikan kapal selam bertenaga nuklir.

Pasukan Kapal Selam PLAN
Angkatan Laut PLA memahami nilai kapal selam nuklir dan doktrin yang menyelimutinya. Angkatan Laut PLA saat ini mengoperasikan dua jenis kapal selam serang bertenaga nuklir.

Pasukan Kapal Selam PLAN
China sedang membangun sebuah pangkalan kapal selam nuklir bawah tanah terbesar di dekat Sanya, Hainan. The Daily Telegraph pada tanggal 1 Mei 2008 melaporkan bahwa terowongan sedang dibangun di lereng bukit yang akan sanggup menyembunyikan hingga 20 kapal selam nuklir dari satelit mata-mata.

Pasukan Kapal Selam PLAN
Peperangan kapal selam dianggap sebagai bagian penting dari doktrin pertahanan pesisir Angkatan Laut PLA. Sejumlah besar kapal selam bertenaga konvensional telah beroperasi, dan kekuatan ini menjadi bagian terbesar dari armada kapal selam Angkatan Laut PLA, menjadikannya sebagai armada kapal selam terbesar kedua di dunia saat ini.

Resources
  • Gambar: Fotodom.ru/Rex Features

Rabu, Mei 30, 2018

KCR 60, Armada Penjaga Wilayah Indonesia

KCR 60 m PT PAL

Sebagai negeri maritim, Indonesia membutuhkan alat transportasi penghubung antarpulau. Selain itu, wilayah Indonesia yang sangat luas ini dengan hampir 2/3 wilayahnya berupa lautan perlu dijaga. Sebab menyangkut masalah batas wilayah, keamanan, dan keutuhan wilayah NKRI.

PT PAL Indonesia sebagai salah satu industri strategis yang dikenal sebagai penghasil kapal-kapal andalan dalam negeri, harus bisa menjawab tantangan keamanan wilayah NKRI yang mayoritas adalah lautan. Setelah sukses dengan Fast Patrol Boat 57 atau yang lebih dikenal dengan FPB-57, PT PAL kemudian kembali ditunjuk pemerintah untuk memproduksi kapal perang bagi TNI AL.

FPB-57 adalah kapal perang Jerman yang dilisensikan pembuatannya kepada PT PAL. FPB-57 terbukti handal dan TNI AL sudah menggunakan kapal itu lebih dari 15 tahun. Kemudian PT PAL Indonesia meningkatkan inovasi di dunia kapal militer dengan menciptakan sendiri kapal cepat rudal 60 (KCR 60) yang merupakan pengembangan dari FPB-57.

KCR-60 dalam tahap finalisasi sebelum melaut
Angka 60 merujuk pada panjang keseluruhan kapal yaitu 60 meter. Pada 23 Mei 2012 diadakan pemotongan plat pertama. Sedangkan pada 2014, KCR-60 selesai diproduksi. KCR-60 ini memiliki lebar 8,1 meter, tinggi geladak 4,85 meter, sarat air 2,6 meter dan berat total 460 ton.

Jumlah kru yang dapat ditampung sebanyak 55 orang. Sebagai armada pengembangan dari FPB-57, KCR-60 memiliki banyak keunggulan dari pendahulunya tersebut. Di antaranya, pembuatan KCR-60 ini mulai dari konsep sampai menjadi armada perang menggunakan sumber daya manusia dalam negeri.

Sejak dulu, TNI AL terbiasa menerima alutsista kapal perang jadi. Kapal datang sudah jadi, sehingga TNI AL yang menyesuaikan. Sedangkan untuk KCR-60, sejak awal pembuatan, PT PAL terus berkomunikasi dengan TNI AL mengenai apa yang mereka butuhkan. Sehingga lahirlah KCR-60 ini.

Dari segi desain, keunggulan KCR-60 dibandingkan FPB-57 dari segi interior yang sudah sangat modern dan minimalis walaupun untuk fungsi tempur.
Berbagai desain ruangan KCR-60
Selain itu, mesin yang digunakan sangat efisien bahan bakarnya tetapi mampu menghasilkan tenaga sesuai yang diharapkan. Adapun kecepatan maksimal yang dapat dijangkau yaitu 28 knot.

KCR-60 juga sudah diakomodir untuk hentakan senjata. Jadi, ketika menembakkan senjata dari atas kapal, posisi kapal pun tetap stabil. Bentuk lambung kapal yang bagus dan stabil, model dan siluet yang terlihat gagah membuat TNI AL merasa cocok dengan KCR-60 ini.

Walau keseluruhan produksi dikerjakan di Indonesia, namun PT PAL tetap mendapat pengawalan dan pengawasan yang ketat dalam proses produksi oleh Satuan Tugas Kapal Cepat Rudal 60 dari TNI AL dan Biro Klasifikasi Indonesia. Sehingga, kualitas dan keamanan KCR-60 bisa terjamin.

Mengkombinasikan antara kebutuhan TNI-AL dan regulasi pun sempat menjadi tantangan tersendiri bagi PT PAL.
KCR KRI Tombak 629
Saat ini ada tiga unit KCR-60 yang beroperasi untuk mengamankan laut nusantara, yaitu KRI Halasan-630 untuk armada wilayah barat serta KRI Sampari-628 dan KRI Tombak-629 untuk armada wilayah timur. Dengan adanya KCR-60 ini, diharapkan makin memperkuat armada kapal perang Indonesia untuk mewujudkan cita-cita pemerintah membangun poros maritim.

Spesifikasi KCR 60 PT PAL
Kelas dan jenis
Jenis Kapal
Tonase
Bobot benaman
Panjang
Lebar
Tinggi
Sarat air
Tenaga
Kecepatan
Awak kapal
Senjata

: Kelas Sampari
: Kapal Cepat Rudal 60m
: 378,09 (GT); 197,82 (NT)
: 250 ton
: 60 m (19.685 ft 0 in)
: 8,10 m (2.657 ft 6 in)
: 4,85 m (1.591 ft 2 in)
: 2,60 m (853 ft 0 in)
: 2 x 2,880 kW (3,862 hp) (MTU 16V400M73L)
: 28 knot (52 km/h; 32 mph) (maksimum)
: 55
: Meriam Bofors 57 mm
  Rudal anti-kapal C-705 (jangkauan 140 km)

Selasa, Mei 29, 2018

Duel Kapal selam: Kelas Virginia AS VS Kelas Yasen Rusia (Siapa Unggul?)

Severodvinsk Kelas Yasen Rusia
Dalam hal terjadi konfrontasi head-to-head antara kapal selam Kelas Virginia Block III Amerika Serikat dan Kelas Yasen Rusia, siapa yang bakal menang? Kedua kapal selam itu adalah puncak teknologi kapal selam kedua negara. Cukup adil untuk keduanya diadu. Kelas Yasen mungkin lebih lambat, tetapi bisa menyelam lebih dalam. Sedangkan Kelas Virginia mungkin lebih cepat, tetapi lambungnya hanya teruji hingga kedalaman 488 meter.
Sejak Perang Dingin berakhir, armada kapal selam Angkatan Laut AS muncul sebagai penguasa dunia bawah laut yang tak terbantahkan, yang semuanya bertenaga nuklir. Berbeda nasib dari kapal-kapal selam Soviet saingannya yang tidak lagi mampu dipertahankan oleh Federasi Rusia yang baru didirikan.

Setelah lebih dari dua puluh tahun supremasi kapal selam Amerika, penantang baru pun telah muncul dari kedalaman laut. Hampir memakan dua dekade waktu pembuatannya, menjadi penantang serius dan mematikan bagi superioritas Angkatan Laut AS. Bagaimana kapal selam pemula baru ini, kapal selam kelas Yasen Rusia, dibandingkan dengan tulang punggung terbaru armada kapal selam AS, Kelas Virginia Blok III?

Ide pengembangan Kelas Yasen (“Ash Tree”) muncul pada awal pertengahan 1980-an oleh Malakhit Central Design Bureau, salah satu dari tiga biro kapal selam utama Uni Soviet. Konstruksi kapal selam pertama, K-560 Severodvinsk, dimulai pada tahun 1993 di galangan kapal Sevmash Rusia, tetapi kurangnya dana menyebabkan penyelesaian tertunda selama lebih dari satu dekade. Severodvinsk akhirnya diluncurkan pada tahun 2010, dan mulai bertugas pada tahun 2013.

Severodvinsk memiliki panjang 120 meter dan bobot benaman 13.800 ton (menyelam). Severodvinsk hanya diawaki oleh sembilan puluh kru, jauh lebih sedikit daripada seteru Amerika-nya, menunjukkan bahwa Kelas Yasen memiliki tingkat otomatisasi sistem yang tinggi. Bentuknya masih serupa Kelas Akula sebelumnya, tetapi lebih luas di belakang menara komando dan punuk untuk mengakomodasi tabung peluncuran vertikal.

Severodvinsk ditenagai oleh reaktor nuklir OK-650KPM dua ratus megawatt, yang akan menjadi sumber tenaga seumur hidupnya, yang mendorongnya ke kecepatan hingga 16 knot di permukaan dan 31 knot saat menyelam. Severodvinsk bisa berlayar 'tanpa berisik' pada kecepatan 20 knot.

Perlengkapan sensor Severodvinsk terdiri dari sistem sonar Irtysh-Amfora, dengan bow-mounted spherical sonar array, flank sonar array dan towed array untuk deteksi ke belakang. Severodvinsk  dibekali radar pencarian permukaan /navigasi MRK-50 Albatross (Snoop Pair) dan fitur dukungan elektronik (countermeasures ) Rim Hat.

Senjata Severodvinsk terdiri dari empat tabung torpedo standar 533 milimeter dan empat tabung torpedo 650 milimeter. Tabung torpedo dapat menampung torpedo dan rudal 3M54 Klub, yang tersedia dalam varian anti-kapal, serangan darat, dan anti-kapal selam. Untuk senjata yang lebih banyak lagi, kelas Yasen dilengkapi dengan dua puluh empat tabung rudal peluncuran vertikal, masing-masing mampu membawa rudal supersonik tenaga ramjet anti kapal P-800 Oniks.

Kapal selam Kelas Virginia dikembangkan sebagai pengganti yang terjangkau untuk Kelas Seawolf yang berumur pendek, yang meskipun sangat mampu, tapi juga sangat mahal. Artinya, AS telah sukses menggantikannya, dan Kelas Virginia secara berangsur-angsur menjadi kapal selam andalan Angkatan Laut AS.

Dengan panjang 115 meter, Kelas Virginia hanya lima meter lebih pendek dari Kelas Yasen, tetapi bobot benamannya hanya 7.800. Diawaki 113 kru, dan didukung oleh satu reaktor nuklir General Electric SG9, didorong dengan propulsor/pump-jet bukan baling-baling. Kecepatannya dilaporkan 25 knot di permukaan dan 35 knot saat menyelam, dan kapal selam ini dilaporkan tidak berisik pada pada kecepatan 25 knot saat Kelas Los Angeles berada di sampingnya.

Seperti rivalnya dari Rusia, sonar utama di Virginia adalah spherical, bow-mounted type. Namun, sejak muncul Blok III Kelas Virginia, sonar BQQ-10 diganti dengan U-shaped Large Aperture Bow sonar. Yang juga melengkapi adalah array pada port dan sisi sayap, juga dikenal sebagai Light Weight Wide Aperture Arrays, terdiri dari dua kumpulan dari tiga sensor akustik serat optik. LWWAA sangat selaras untuk mendeteksi kapal selam listrik diesel.  Deteksi ke belakang dicover oleh TB-29 (A) towed passive array. Terakhir, sonar array frekuensi tinggi yang dipasang memungkinkan Virginia mendeteksi dan menghindari ranjau laut.

Kelas Virginia hanya memiliki empat tabung torpedo 533 milimeter, yang mampu menembakkan torpedo kelas berat Mk.48 Advanced Capability (ADCAP) untuk digunakan melawan kapal permukaan dan kapal selam dan rudal anti kapal UGM-84 Sub-Harpoon.

USS North Dakota Kelas Virginia Blok III

Versi Virginia sebelumnya membawa dua belas rudal serangan darat Tomahawk di tabung peluncuran vertikal, namun pada Blok III diganti dengan dua peluncur silinder dengan membawa jumlah rudal yang sama. Sedangkan Virginia Blok V nantinya akan memperbanyak jumlah peluncur untuk membawa hingga empat puluh rudal Tomahawk per kapal selam.

Dalam hal terjadi konfrontasi head-to-head antara kapal selam Kelas Virginia Block III AS dan Kelas Yasen Rusia, siapa yang bakal menang? Kedua kapal selam itu adalah puncak teknologi kapal selam kedua negara. Cukup adil untuk membandingkan keduanya. Kelas Virginia Blok III yang pertama USS North Dakota diluncurkan pada tahun 2013 (bertugas pada 2014), sedangkan Kelas Yasen yang pertama K-560 Severodvinsk diluncurkan pada tahun 2010 (bertugas pada 2013).

Kapal selam Severodvinsk mungkin lebih lambat, tetapi bisa menyelam lebih dalam. Sedangkan Virginia mungkin lebih cepat, tetapi menurut Combat Ships of the World, lambungnya hanya diuji hingga kedalaman 488 meter. Virginia kemungkinan memiliki keunggulan dalam deteksi sonar, berkat sonar Large Aperture Bow yang baru.

Dalam hal senjata, kedua kapal selam cukup berimbang, hanya saja Severodvinsk memiliki varian rudal Klub anti kapal selam, yang memungkinkannya secara cepat menembak kapal selam musuh dengan torpedo yang dilepaskan rudal.

Kelas Virginia lebih "siluman" dan memiliki rig sonar yang lebih baik daripada Kelas Yasen. Di dunia peperangan kapal selam, itu adalah kombinasi yang tidak ada duanya. Kelas Virginia dapat bergerak dan mendeteksi dengan caranya yang akan membuat Severodvinsk tidak lagi mampu bersembunyi. Untuk hal ini, Kelas Virginia yang unggul. Tapi satu hal yang menjadi keunggulan Severodvinsk adalah mampu merespon dengan cepat dalam hal menanggapi peluang target secara tiba-tiba dengan rudal supersonik Klub anti kapal selamnya.

Untuk prospek jangka pendek, sonar Virginia dapat terus diupgrade dengan software baru. sedangkan sonar Severodvinsk mungkin tidak lagi dapat diperbarui, menjadikan kapal selam Rusia ini mungkin sulit meningkatkan fitur "silumannya".

Untuk prospek jangka panjang, rivalitas kedua kapal selam mungkin juga akan melihat masuknya drone bawah laut dan sejumah teknologi baru lainnya. Sejak Perang Dingin berakhir, Amerika Serikat kurang mengembangkan teknologi peperangan bawah laut. Namun sekarang tampaknya AS telah kembali menaruh perhatian besar untuk peperangan skala besar, dan peperangan kapal selam khususnya, jika Rusia tidak berbuat banyak, kapal-kapal selam AS mungkin akan kembali mendominasi kekuatan bawah laut.

Article Resources
  • http://nationalinterest.org/blog/the-buzz/submarine-war-americas-virginia-class-vs-russias-deadly-26006
  • Gambar: WIKI Common