Tampilkan postingan dengan label Indonesiana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesiana. Tampilkan semua postingan

Selasa, Juni 16, 2020

Fregat Kelas 'Berat' Iver Huitfeldt Incaran TNI AL

fregat kelas Iver Huitfeldt

Di tengah ancaman agresivitas China di Laut China Selatan, Indonesia membuat langkah maju untuk mendapatkan kapal fregat kelas Iver Huitfeldt buatan Denmark.

Bila Indonesia sukses mendapatkannya, fregat Iver Huitfeldt akan menjadi kapal perang permukaan terbesar di antara Angkatan Laut di kawasan Asia Tenggara.

Fregat Iver Huitfeldt berdimensi panjang 138,7 m dan bobot benaman penuh 6.645 t, hanya kalah dari kapal perusak kelas Hobart milik Angkatan Laut Australia yang memiliki panjang 147,2 meter dan bobot benaman penuh 7.700 ton.

Karena bobot benamannya yang besar, sebagian analis yang menggolongkan fregat kelas Iver Huitfeldt sebagai kapal perusak ringan. Sebab kapal perusak didefinisikan (tidak resmi) memiliki bobot benaman antara 6.000 - 12.000 t. Sebagian lainnya menggolongkan kelas Iver Huitfeldt sebagai fregat kelas berat.

Kementerian Pertahanan Indonesia (Kemenhan) baru-baru ini diketahui telah menandatangani preamble contract (kontrak pembukaan) untuk akuisisi fregat kelas Iver Huitfeldt. Turut hadir manajemen PT PAL, PT Sinar Kokoh Persada,  dan agen Indonesia untuk perusahaan Denmark Odense Maritime Technology (OMT).

Melansir laman Janes, kontrak ini mencakup pengaturan workshare (pembagian kerja) yang akan dilakukan setelah kontrak aktual untuk fregat pertama terwujud, kata sumber industri pertahanan yang mengetahui masalah tersebut sambil memberikan bukti dokumenter tentang peristiwa tersebut.

Baca juga: Kapal Fregat vs Perusak : Apa Perbedaan Keduanya?

fregat kelas Iver Huitfeldt

Maret 2019, laman Janes menyebut Indonesia semakin tertarik pada fregat kelas Iver Huitfeldt untuk menggantikan fregat kelas Ahmad Yani yang akan pensiun.

Sepotong korespondensi tanpa klasifikasi antara Menteri Pertahanan saat itu, dan Sekretaris Kabinet diungkap Janes bulan itu menyebutkan bahwa kelas Iver Huitfeldt sebagai salah satu fregat yang memiliki kemampuan tempur yang andal, dan dapat beroperasi di ekstremitas zona ekonomi eksklusif Indonesia.

Februari 2020, delegasi pertahanan Indonesia mengunjungi Denmark dan meninjau langsung fregat kelas Iver Huitfeldt, yang aktif di Angkatan Laut Denmark, Niels Juel. Delegasi Indonesia mendapat pengarahan dari Odense Maritime Technology (OMT) dan Tim Angkatan Laut Denmark.

Maret 2020, media online melansir Wakil Menteri Pertahanan mengatakan PT PAL Indonesia ditugaskan untuk mengembangkan desain untuk 2 kapal selama 5 tahun, untuk Rp1,1 triliun (atau USD720 juta) bekerja sama dengan Denmark, untuk TNI AL.

Namun saat dikonfirmasi Naval News, Direktur Pelaksana Tim Angkatan Laut Denmark dan mantan Kepala Angkatan Laut Denmark, enggan berkomentar soal pembelian fregat oleh Indonesia.

''Tim Angkatan Laut Denmark dapat mengonfirmasi bahwa Indonesia - di antara negara-negara lain - telah menunjukkan minat untuk fregat Denmark Iver Huitfeldt. Namun, saya tidak dapat mengomentari pertanyaan spesifik Anda,'' ujar Rear Admiral (ret.) Nils Wang.

Baca juga: KRI Yos Sudarso 353, Penjaga Samudera Indonesia

fregat kelas Iver Huitfeldt

Collin Koh, Peneliti Senior Program Keamanan Maritim, Sekolah Studi Internasional S Rajaratnam di Singapura yang diwawancarai Naval News memberikan analisanya atas rencana Indonesia untuk membeli fregat Iver Huitfeldt.

Collin, apakah dua fregat besar cukup untuk mencegah China di Laut China Selatan? Bukankah pengadaan kapal yang lebih kecil (seperti PKR atau bahkan ocean going vessel atau kapal pelayaran samudera) akan lebih bermanfaat karena untuk anggaran yang sama Indonesia akan mendapatkan lebih banyak kapal?

Collin Koh - Dua fregat besar tidak cukup untuk menutupi perairan Natuna, di mana serangan China sering terjadi. Paling-paling, di setiap titik waktu, 1 dari pasangan fregat baru ini akan ada di stasiun, meskipun untuk jangka waktu terbatas dan menyediakan perawatan yang tepat, jadwal perbaikan dan perbaikan diikutinya. Tentu saja, dengan anggaran yang sama, lebih banyak OPV (seperti PKR) yang lebih kecil dapat diperoleh.

Namun, saya menduga ada beberapa alasan di balik pencarian Indonesia untuk kelas Iver Huitfeldt.

Yang pertama adalah bahwa orang Indonesia sedang mencari kapal perang (kombatan) permukaan yang lebih besar di luar PKR yang didasarkan pada kelas SIGMA, yang diklasifikasikan sebagai fregat ringan.

Yang kedua adalah konsep modular misi unik yang ditawarkan untuk desain Denmark, diminati oleh orang Indonesia untuk kapal perang masa depan. Tampaknya orang Indonesia tertarik pada kesamaan antara Angkatan Laut dan BAKAMLA, yang dapat dimungkinkan dengan konsep modular yang kuat.

Baca juga: Kapal Perusak Tipe 052D dan Tipe 054A Baru AL China Kini Siap Tempur

fregat kelas Iver Huitfeldt

Yang ketiga, yang saya percaya perlu ditinjau secara serius, adalah apakah orang Indonesia mungkin tidak begitu puas dengan program PKR, dan apakah ini ada hubungannya dengan hubungan pembuat kapal lokal dengan Damen. Sekali lagi, poin ini perlu dieksplorasi.

(Sekadar diketahui sebelumnya, Damen (Belanda) yang memasok kapal korvet nasional dalam program Patroli Kawal Rudal/PKR kelas Diponegoro dan fregat ringan kelas Martadinata)

Naval News - Iver Huitfeldt adalah kapal yang cukup kompleks (dan lebih besar) dibandingkan dengan PKR. Apakah Anda percaya bahwa galangan kapal lokal PT PAL tidak akan memiliki masalah dalam membangun kapal-kapal tersebut secara lokal?

Collin Koh - Iver Huitfeldt juga lebih besar dari kapal yang pernah dibuat PT PAL, desain juga sepenuhnya baru. Dengan transfer teknologi yang tepat di bawah bimbingan rekan-rekan mereka dari Denmark, dan tentu saja dengan komitmen Jakarta terhadap program ini, adalah mungkin bagi PT PAL untuk mengatasi masalah awal dari kurva pembelajaran dan secara bertahap menjadi mampu membangun kapal secara mandiri. Kami dapat mengambil contoh dari kolaborasi PT PAL dengan DSME dalam pembangunan lisensi kapal selam. Ada cegukan awal, terutama karena alih teknologi, tetapi ini kemudian diatasi dan Indonesia akhirnya berhasil membangun kapal selam kelas Nagapasa ketiga, dan menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang membangun kapal selam secara lokal.

Iver Huitfeldt Class sendiri dibangun oleh Odense Steel Shipyard pada tahun 2008. AL Denmark membangun tiga kapal di kelas ini yakni Iver Huitfeldt (F 361), Peter Willemoes (F362), dan Niels Juel (F363).

Untuk mata dan telinga, di Iver Huitfeldt Class bercokol radar MART-L (Signal Multibeam Acquisition Radar for Tracking) yang berjalan di frekuensi L band. Radar ini mampu menyapu area sejauh 400 km, jauh sebelum musuh mendeteksi duluan.

fregat kelas Iver Huitfeldt

Belum cukup sampai situ ada pula radar SCANTER 6000 yang berjalan di frekuensi I Band, penjejak kapal selam sonar ATLAS ASO 94, Saab CEROS 200 dan ES-3701 Tactical Radar Electronic Support Measures untuk menghadapi peperangan elektronika.

Untuk persenjataan, Iver Huitfeldt Class dibekali amat komplit yakni canon reaksi cepat Oto Melara 76 mm Super Rapid, 32 sel peluncur rudal vertikal (VLS) Mk 41 untuk rudal permukaan ke udara SM-2 IIIA, 24 sel VLS Mk 56 untuk rudal permukaan ke udara RIM-162 ESSM (Evolved SeaSparrow Missile), 2 peluncur berisi empat tabung untuk rudal anti kapal Harpoon, satu unit Oerlikon Millennium 35 mm sebagai CIWS, dan dua peluncur torpedo MU90.

Dengan panjang 138,7 meter dan lebar 19,75 meter, fregat raksasa ini mampu melaju 30 knot karena dukungan empat mesin diesel MTU 8000 20V M70.

Ada dek dan hanggar helikopter di fregat ini yang mampu menampung heli ukuran medium untuk misi buru kapal selam dan lainnya.

Meski Denmark bukan negara yang punya historis kuat di bidang pertahanan maritim seperti Inggris atau Spanyol, tapi Iver Huitfeldt didaulat sebagai satu fregat terbaik di dunia.

Situs defencyclopedia mendaulat Iver Huitfeldt sebagai fregat terbaik keempat dunia hanya kalah dari kelas Admiral Gorshkov (Rusia), kelas Sachsen (Jerman], dan kelas De Zeven Provincien (Belanda).

Situs ini juga menyebut fregat Iver Huitfeldt merupakan yang termurah di antara fregat paling canggih di dunia. Hal ini disebabkan fregat Iver Huitfeldt menggunakan desain lambung kapal kelas Absalon yang sudah ada, sehingga mengurangi biaya desain secara signifikan.

Itu sebabnya fregat berbobot 6.600 ton ini terlihat agak tebal dan kaku dibandingkan fregat lain. Tapi kekurangan ini ditutupi kombinasi senjata dan sensor yang mematikan.

fregat kelas Iver Huitfeldt

Keandalan Iver Huitfeldt sudah terbukti mengarungi Laut Utara yang ganas. Bahkan saat terjebak dalam badai ganas 24 jam saat mengarungi Samudra Atlantik menuju Amerika, fregat Iver Huitfeldt hanya mengalami kerusakan ringan.

Peristiwa ini terjadi Januari 2020, saat badai yang luar biasa dahsyat menghantam fregat Iver Huitfeldt ketika berlayar ke Amerika Serikat untuk berlatih dengan kelompok kapal induk AS.

Prakiraan cuaca sudah menunjukkan cuaca buruk ketika Iver Huitfeldt melewati Azores di Atlantik dalam perjalanan ke Norfolk, AS.

Namun di sepanjang jalan, makin buruk dan Iver Huitfeldt menghindar atau mundur lagi. Akhirnya Iver Huitfeldt berlayar dalam badai dengan kecepatan serendah mungkin selama 24 jam.

Ketinggian ombaknya mencapai sekitar 15 meter ketika cuaca buruk. Tidak ada kru yang terluka karena hantaman cuaca buruk. Tapi Iver Huitfeldt mengalami beberapa kerusakan ringan, termasuk lemari terpisah, kerusakan tekanan pada lambung dan beberapa kebocoran di lubang palka.

Iver Huitfeldt juga kehilangan kubah sonar - pelindung fiberglass besar di bagian depan kapal di bawah garis air yang melindungi sonar. Iver Huitfeldt  akhirnya berada di Norfolk dan dapat berlatih dengan kelompok kapal induk AS. Selama latihan, kru Iver Huitfeldt  memperbaiki sebagian besar kerusakan yang terjadi. (Tribunnews - Edited)

Jumat, Mei 08, 2020

Pandemi Covid-19, F-16 TNI AU Tetap Amankan Laut Indonesia

F-16 TNI AU
F-16 TNI AU berpatroli amankan wilayah ALKI I. (Foto: Lanud Roesmin Nurjadin)

Dalam situasi pandemi Covid-19 dan bulan cuci Romadhon, Skadron Udara 16 meningkatkan kewaspadaan dan patroli udara untuk kemungkinan adanya gangguan keamanan di wilayah ALKI I (Alur Laut Kepulauan Indonesia) I, Riau, Rabu (6/5/2020).

Komandan Lanud Roesmin Nurjadin (RSN), Marsma Ronny Irianto Moningka, mengatakan, bahwa Skadron Udara 16 tetap bersiaga mengamankan perairan NKRI dalam situasi yang sedang tidak menentu, dimana perhatian segenap komponen bangsa tersedot dalam penanganan wabah covid-19.

"Ini bukan merupakan alasan untuk menurunkan kesiapsiagaan di bidang pertahanan, TNI AU selalu siap dalam melaksanakan tugasnya, yaitu menegakkan hukum dan menjaga keamanan di wilayah udara yurisdiksi nasional," ungkap Ronny.

Danlanud RSN menjelaskan, bahwa kegiatan pengamanan ini dilaksanakan secara terjadwal dan terkoordinasi dengan satuan tugas laut. Operasi ini bertujuan untuk menegakkan hukum dan kedaulatan di perairan yurisdiksi nasional ALKI I.

Selanjutnya Komandan Wing 6 Lanud Roesmin Nurjadin Kolonel PNB Setiawan menjelaskan, bahwa Skadron Udara 16 tetap beroperasi secara penuh dengan melaksanakan kegiatan pengamanan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I dengan sandi Operasi Alur Samudera-20.

"Skadron Udara 16 yang berada dibawah kendali satuan tugas udara, dikerahkan untuk melaksanakan patroli udara maritim bersenjata di sektor yang sudah ditentukan. Beroperasi dari Pangkalan TNI AU Roesmin Nurjadin Pekanbaru, pesawat F-16 dapat dengan cepat menjangkau jalur ALKI I yang meliputi perairan Selat Karimata sampai dengan Selat Sunda," ungkap Setiawan.

Kolonel PNB Setiawan menjelaskan, bahwa Flight F-16 bertugas untuk mendeteksi, mengidentifikasi dan mengadakan kerjasama dengan unsur laut untuk menindaklanjuti segala bentuk ancaman dan sasaran yang mencurigakan.

"Dalam pelaksanaan patroli, segenap awak pesawat F-16 diharuskan untuk selalu dapat berkonsentrasi penuh, karena sewaktu-waktu dituntut bisa turun ke ketinggian rendah dan bermanuver untuk menindaklanjuti sasaran," ungkap Setiawan.

Kemudian Komandan Skadud 16 Letkol PNB Bambang Apriyanto, S.T. menjelaskan, bahwa durasi patroli yang cukup lama dan jarak jauh yang membutuhkan stamina dan kondisi fisik yang prima, seluruh awak pesawat dituntut untuk tetap profesional meskipun melaksanakan operasi di bulan Ramadhan, dimana sebagian besar personelnya sedang menjalankan ibadah puasa.

"Meskipun di tengah pandemi Covid 19 dan bulan suci Ramadhan, Rydder tidak sedikitpun akan menurunkan kesiapan operasionalnya, karena kedaulatan dan keamanan nasional adalah hal yang mutlak dan merupakan prioritas yang utama, terlebih lagi kemungkinan ancaman yang datang tidak  mengenal waktu dan tempat." ungkap Bambang.

Operasi pengamanan ALKI I ini telah berlangsung dari tanggal 29 April 2020 sampai tanggal 11 Mei 2020. (Lanud Roesmin Nurjadin)

Rabu, Mei 06, 2020

3 Alutsista Canggih yang Terancam Gagal Dimiliki TNI

Korvet kelas Gowind
Korvet kelas Gowind. (Gambar: Naval Group)

Jet tempur Rafale, kapal selam kelas Scorpene, dan  korvet kelas Gowind terancam gagal dibeli oleh TNI.

Kementerian Pertahanan (Kemenhan) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) harus menunda pembelian alutsista baru. Pasalnya, Presiden Joko Widodo diketahui sudah mengesahkan Peraturan Presiden (Perpres) terkait pemangkasan dana sejumlah kementerian/lembaga akibat pandemi Covid-19.

Jokowi menandatangani Perpres tersebut pada awal April 2020 lalu. Perpres ini dibuat dan ditetapkan guna mengalokasikan dana untuk penanggulangan Covid-19.

Pemberitaan media sebelumnya melaporkan bahwa juru bicara Kemenhan, Dahnil Anzar Simanjuntak, membenarkan ada pemangkasan dana di Kementerian Pertahanan. Tak cuma Kemenhan, Dahnil juga menyebut bahwa anggaran belanja TNI juga bakal dipangkas.

Di sisi lain, pemangkasan anggaran belanja sejumlah kementerian/lembaga pasti menimbulkan dampak tersendiri. Kemenhan adalah salah satunya. Sebelum pandemi Covid-19 melanda Indonesia, Menteri Pertahanan (Menhan), Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto, diketahui telah berencana untuk membeli tiga alutsista baru.

Ketiga alutsista tersebut semuanya adalah buatan Prancis. Ada jet tempur Rafale, kapal selam kelas Scorpene, dan korvet kelas Gowind. Meski belum melakukan kontrak untuk pembelian ketiga alutsista tersebut, namun Kemenhan sudah menunjukkan minat besar untuk tiga alutsista canggih ini.

1. Rafale
Jet tempur Rafale
Jet tempur Rafale. (Gambar via www.hottail.nl)

Rafale adalah jet tempur hasil pengembangan pabrik Dassault Aviation, Prancis.  Rafale didesain sebagai jet tempur multiperan, dapat digunakan oleh angkatan udara maupun angkatan laut (basis kapal induk). Jet tempur bersensor radar elektronik ini memiliki sayap delta yang dipadukan dengan kanard aktif terintegrasi, sehingga dapat memaksimalkan kemampuan manuver gravitasi maksimal (+9 g atau -3 g) dengan stabil.

Rafale juga memiliki fitur pengabur radar sehingga meningkatkan kemampuannya untuk sulit terdeteksi sistem pertahanan udara musuh. Kabarnya Rafale saat ini dibanderol dengan harga sekira USD 115 juta atau sekitar Rp1,5 triliun per unitnya. Negara-negara di luar Prancis yang saat ini mengoperasikan Rafale antara lain India, Libya, Inggris, dan Swiss. 

2. Kapal selam kelas Scorpene
Kelas Scorpene
Kapal selam kelas Scropene. (Gambar via Navy Recognition)

Kapal selam kelas Scorpone adalah kelas kapal selam serang diesel-elektrik hasil pengembangan bersama perusahaan asal Prancis, French Direction des Constructions Navales (DCN) dan perusahaan Spanyol Navantia, dan sekarang oleh DCNS. Kelas Scorpene sudah dilengkapi sistem propulsi udara independen (AIP) sehingga bisa terus menyelam untuk waktu yang lama tanpa perlu muncul ke permukaan untuk mengambil udara.

Kelas Scorpene dipersenjatai dengan berbagai ranjau, torpedo dan rudal untuk berbagai misi. Kapal selam yang memiliki kecepatan 20 knot ini memiliki teknologi senyap yang baik sehingga menyulitkan sistem deteksi musuh.

3. Korvet kelas Gowind
El Fateh (971), korvet kelas Gowind Angkatan Laut Mesir. (Gambar via DSM Forecast International)

Korvet kelas Gowind juga menjadi salah satu kapal perang yang menarik perhatian Menhan untuk dilengkapkan kepada TNI AL. Korvet buatan Naval Group atau DCNS asal Prancis ini didesain untuk misi anti pembajakan, anti terorisme, SAR, perlindungan tambang minyak dan gas, dan untuk dukungan operasi kemanusiaan.

Kelas Gowind bisa berpatroli selama tiga minggu dan menjelajah laut hingga 6.900 km jauhnya. Kecepatan tertingginya 25 knot. Di dek belakangnya, kelas Gowind memiliki helipad untuk mengakomodasi helikopter ukuran sedang, berbobot maksimal 10 ton.

Untuk persenjataan, kelas Gowind memiliki sebuah meriam OTO Melara 76mm, dua meriam Nexter Narhwal 20 mm, 16 VLS untuk rudal permukaan ke udara, delapan peluncur rudal anti kapal Exocet, meriam air, dan dua peluncur triple torpedo. Korvet ini sarat dengan persenjataan.

Di sistem elektroniknya, kelas Gowind dilengkapi sensor anti-udara dan anti-permukaan, dengan rudal VL Mica untuk ancaman vertikal dan rudal Exocet MM40 untuk ancaman permukaan.

Kelas Gowind akan sangat efektif untuk menjaga perbatasan Indonesia sebagai negara kepulauan.*

Sabtu, April 25, 2020

Di Tengah Pandemi, TNI AU Tetap Laksanakan Latihan Terbang

Latihan terbang TNI AU
(Gambar: Pen Lanud Adi)

Berada di tengah-tengah situasi seperti sekarang ini karena adanya virus Corona, tidak lantas membuat anggota TNI Angkatan Udara (AU) menjadikannya sebagai alasan untuk tidak menggelar sesi latihan.

Sebagai garda terdepan pertahanan Republik Indonesia, anggota TNI dari semua satuan harus tetap mempersiapkan diri guna sewaktu-waktu Indonesia mendapat serangan dari negara lain.

TNI AU yang menjaga langit Indonesia kini tengah menggelar sesi latihan penerbangan sebagai tugas pokok mereka.

Latihan terbang TNI AU
(Gambar: Pen Lanud Adi)

Berdasarkan informasi yang didapat dari laman resmi TNI AU Jumat 24 April 2020, Komandan Lanud Adisutjipto Marsma TNI Ir. Bob Henry Panggabean melaksanakan kegiatan latihan terbang dengan salah satu instruktur penerbang yaitu Mayor Pnb Krisna HW di langit Yogyakarta.

Kegiatan latihan terbang ini juga diikuti oleh salah satu siswa Sekbang Angkatan 98 dengan menggunakan pesawat latih Grob dari hanggar Skadik 101, Landasan Udara Adisutjipto, Yogyakarta.

Latihan terbang TNI AU
(Gambar: Pen Lanud Adi)

Kegiatan latihan penerbangan di Sekolah Penerbang Lanud Adisutjipto mulai dilaksanakan pada pukul 7 pagi yang diawali dengan kegiatan briefing penerbangan. Para petugas lapangan telah mempersiapkan segala yang diperlukan ketika berlatih sebelum kegiatan latihan dimulai.

“Pelaksanaan kegiatan Tugas Pokok Organisasi Lanud Adisutjipto terus dilaksanakan di tengah pandemi dan penanganan Covid 19, meskipun melalui beberapa pembatasan dan protokol kesehatan yang telah ditetapkan,” kata Danlanud.

(Gambar: Pen Lanud Adi)

Komandan juga berharap bahwa kegiatan pendidikan dan latihan, siswa dapat dilaksanakan dengan aman dan lancar. Serta seluruh personel dapat menerapkan disiplin yang ketat dalam menerapkan prosedur kesehatan yang telah ditetapkan di masa pandemi.*

Selasa, Maret 31, 2020

Elang Hitam Penjaga Kedaulatan NKRI

Penggunaan pesawat udara nirawak jadi tren global. Selain lebih murah, risikonya pun kecil. Kini saatnya Indonesia mandiri penuh merancang dan memproduksi pesawat tanpa awak.

PUNA Elang Hitam
Pesawat udara nirawak Elang Hitam diperkenalkan kepada publik di hanggar PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jawa Barat, pada Senin, 30 Desember 2019. Pesawat ini diharapkan bisa digunakan untuk membantu pertahanan dan keamanan negara. (Gambar: PTDI)

Luasnya wilayah dan tingginya ancaman yang dihadapi membuat Indonesia harus bisa segera mandiri merancang dan memproduksi pesawat udara nirawak (PUNA). Kemandirian itu penting bukan hanya untuk menghindari potensi sabotase asing dalam komunikasi data selama pengoperasian PUNA, melainkan juga demi ketahanan negara.

Untuk itu, Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pertahanan (Kemenhan) menginisiasi pembuatan PUNA yang mampu terbang di ketinggian menengah dan terbang lama (medium altitude long endurance/MALE) pada 2015. PUNA bernama Elang Hitam itu dikerjakan konsorsium yang terdiri atas tujuh lembaga mulai 2017.

Ketujuh lembaga yang terlibat, selain Balitbang Kemenhan, adalah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan (Ditjen Pothan) Kemenhan, dan Institut Teknologi Bandung. Sementara industri yang terlibat adalah PT. Dirgantara Indonesia (PTDI) dan PT. Len Industri.

”Elang Hitam dirancang sesuai kebutuhan TNI Angkatan Udara sebagai pengguna,” kata Deputi Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa BPPT Wahyu Widodo Pandoe di Jakarta, Kamis (26/3/2020). Dalam konsorsium ini,  BPPT bertugas merancang dan menguji pesawatnya.

Sesuai kebutuhan, pesawat didesain untuk melakukan patroli wilayah, seperti memantau perbatasan atau mengawasi lautan dari pencurian ikan. Pesawat juga dilengkapi senjata sehingga bisa melakukan tindakan awal bagi pelanggar hukum dan kedaulatan negara.

Meski  pesawat tanpa awak, tantangan mewujudkan PUNA ini sangat besar. ”Pembuatan PUNA MALE ini sarat teknologi tinggi,” kata Manajer Program Pesawat Terbang Tanpa Awak PTDI  Bona P Fitrikananda. PTDI dalam proyek ini berperan memproduksi dan mengintegrasikan berbagai sistem yang ada.

Tantangan membuat PUNA MALE itu salah satunya berasal dari ketinggian jelajah pesawat. Ketinggian menengah (medium altitude), berkisar 15.000-30.000 kaki atau 4,5-9,2 kilometer dari permukaan laut, juga merupakan wilayah terbang pesawat lain, termasuk pesawat penumpang. Karena itu, PUNA harus bisa mendeteksi dan menghindar apabila ada pesawat lain di dekatnya. Karena itu, pesawat harus dilengkapi dengan berbagai sensor, baik untuk mengukur kecepatan, ketinggian, maupun kemiringan pesawat.

Selain itu, suhu dan tekanan udara pada ketinggian menengah juga sudah turun. Situasi lingkungan itu harus diantisipasi agar tak memengaruhi kinerja pesawat.

Elang Hitam juga dirancang mampu terbang lama (long endurance) selama 24-30 jam. Pesawat didesain memiliki waktu terbang optimal 24 jam, sedangkan enam jam sisanya untuk mengantisipasi jika pesawat membutuhkan waktu terbang tambahan akibat adanya persoalan tertentu.

Untuk terbang selama itu, pesawat harus berukuran dan bertenaga besar. Pesawat juga harus bisa membawa banyak bahan bakar avtur. Semua itu akan berimbas pada besar dan beratnya PUNA. Dimensi besar dan berat Elang Hitam ini sudah mirip dengan pesawat berawak kecil.

Untuk mengatasi itu, lanjut Bona, pesawat dibuat menggunakan material komposit hingga 95 persen, termasuk untuk struktur utamanya, seperti rangka pesawat. Material komposit membuat bobot pesawat menjadi lebih ringan. Untuk PUNA, belum ada aturan keharusan penggunaan logam pada rangka pesawat seperti pada pesawat penumpang.

”Bahan bakar PUNA masih menggunakan avtur yang sudah teruji, bukan listrik atau tenaga surya,” ujarnya. Selain penggunaan listrik dan tenaga surya belum teruji, penggunaan baterai untuk menyimpan energi juga akan menambah berat pesawat.

Tantangan lain membuat PUNA dibandingkan pesawat berawak adalah memindahkan sistem kendali dari pilot di kokpit pesawat ke pengendali di darat yang tak melihat langsung pesawat. Dengan kondisi itu, selain banyak sensor, pesawat juga harus memiliki sistem kendali terbang (flight control system/FCS) yang mumpuni.

PUNA Elang Hitam
Pesawat udara nirawak Elang Hitam diperkenalkan kepada publik di hanggar PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jawa Barat, pada 30 Desember 2019. Pesawat dengan panjang 8,9 meter, lebar rentang sayap 16 meter, dan berat 1.300 kilogram ini sarat dengan teknologi tinggi di dalamnya. (Gambar: PTDI)

FCS itu akan menjadi otak pesawat. Elang Hitam harus bisa lepas landas dan mendarat secara mandiri dalam berbagai kondisi landasan pacu. Pesawat juga harus bisa mengikuti jalur terbang yang telah ditentukan dan melakukan sejumlah tindakan, termasuk saat terjadi kedaruratan.

”Sistem autopilot yang mumpuni jadi sangat penting pada PUNA,” kata Bona.

Untuk tahap awal, FCS menggunakan produk buatan luar negeri. Namun, saat ini, Lapan bersama PT Len Industri sedang merancang FCS sendiri yang akan digunakan pada produksi Elang Hitam berikutnya. PT Len Industri juga membuat sistem kendali di darat (ground control system/GCS) yang akan memandu pergerakan pesawat.

Menentukan misi dan memilih senjata yang akan dilekatkan pada pesawat juga jadi persoalan genting. Misi PUNA ini ditentukan oleh Ditjen Pothan Kemenhan, sedangkan senjatanya dipilih berdasarkan kebutuhan TNI Angkatan Udara sebagai pengguna atau yang menjalankan misi.

Untuk pengintaian, PUNA dilengkapi dengan kamera resolusi tinggi yang bisa bekerja siang dan malam serta radar bukaan sintetis (synthetic aperture radar/SAR). Sementara senjata untuk penindakan awal itu masih berupa pilihan, antara roket yang  dikendalikan dan bom pintar (smart bomb).

Pesawat dirancang setidaknya mampu membawa empat roket yang masing-masing memiliki berat 30-40 kilogram. Jika dipilih roket, kata Wahyu, roket akan dilengkapi sistem pemandu laser agar bisa pas mencapai target.

”Pemilihan jenis dan peletakan senjata itu akan sangat memengaruhi performa terbang pesawat,” katanya. Penghidupan (firing) senjata pun akan memengaruhi stabilitas pesawat.

PUNA Elang Hitam
Pesawat udara nirawak Elang Hitam diperkenalkan kepada publik di hanggar PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jawa Barat, pada 30 Desember 2019. Pesawat tak berawak dengan tipe jelajah medium altitude long endurance atau ketinggian menengah dan kemampuan terbang lama itu diharapkan bisa membantu menjaga kedaulatan negara. (Gambar: PTDI)

Uji terbang
Elang Hitam pertama kali diperkenalkan kepada publik (roll out) pada 30 Desember 2019 di hanggar PTDI di Bandung, Jawa Barat. Menurut rencana, pesawat ini akan terbang perdana pada akhir 2020.

Menurut Wahyu, karena pesawat ini tanpa awak, uji terbang perdana akan dilakukan di daerah yang jauh dari kepadatan penduduk guna menghindari kemungkinan gagal terbang. Meski belum ditentukan lokasinya, sejumlah daerah yang memiliki lapangan terbang sudah menjadi pilihan, seperti Cirebon dan Pangandaran di Jawa Barat atau Natuna di Kepulauan Riau.

Tahun ini juga, konsorsium akan membuat dua purwarupa Elang Hitam lainnya hingga total ada tiga pesawat yang digunakan untuk keperluan berbeda. Satu pesawat akan digunakan untuk uji pengembangan sebelum sertifikasi, satu pesawat untuk uji terbang dan sertifikasi, serta satu pesawat lain untuk uji struktur dan kekuatan di laboratorium uji milik BPPT.

Pesawat akan disertifikasi sebagai pesawat militer yang membawa senjata (unmanned combat aerial vehicle/UCAV) oleh Indonesia Military Airworthiness Authority (IMAA) yang ada di Kemenhan.

PUNA Elang Hitam
Pesawat udara nirawak Elang Hitam diperkenalkan kepada publik di hanggar PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jawa Barat, pada 30 Desember 2019. Pesawat ini dibuat oleh konsorsium lima lembaga riset pemerintah dan dua perusahaan negara untuk kebutuhan TNI Angkatan Udara. (Gambar: PTDI)

Jika nanti Elang Hitam dimodifikasi untuk keperluan sipil, misalkan untuk pemetaan atau pemantauan wilayah bencana, PUNA akan disertifikasi ulang di  Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU) Kementerian Perhubungan. Proses sertifikasi pesawat militer dan sipil memang berbeda.

Pada 2022, proses sertifikasi sebagai UCAV diharapkan bisa selesai. Proses sertifikasi memang membutuhkan waktu lama, terutama karena adanya persenjataan yang dibawa. Namun, ”Pemerintah komitmen untuk menyelesaikan PUNA MALE Elang Hitam itu sebelum 2024,” ujar Wahyu.

Sertifikasi di dalam negeri itu dipilih karena Elang Hitam akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang sangat besar. Luasnya wilayah Indonesia dan banyaknya pangkalan udara TNI AU membuat kebutuhan PUNA MALE sangat besar. Dibandingkan penggunaan pesawat tempur, pemakaian PUNA akan menekan biaya dan meminimalkan risiko operasi. Kalaupun pemerintah mengizinkan inovasi teknologi anak bangsa itu diekspor, pasar Asia Afrika sangat menjanjikan.

Wahyu berharap proyek konsorsium PUNA MALE ini berhasil, Elang Hitam benar-benar bisa digunakan, diproduksi, dan dipasarkan. ”Sudah saatnya Indonesia masuk dalam jajaran negara-negara  maju yang bisa memproduksi teknologi tinggi,” katanya. (M. Zaid Wahyudi)

Perusahaan Ceko dan Pindad Kerjasama Kirim 23 Ranpur Pandur II ke TNI AD

Pandur II TNI AD
Pandur II TNI AD (Foto: TNI AD)

Berdasarkan laporan yang dipublikasikan pada tanggal 25 Maret 2020 di situs web czdefence, perusahaan pertahanan Ceko bekerja sama dengan PT. Pindad akan mengirimkan 23  kendaraan lapis baja Pandur II 8x8 untuk TNI AD  sesuai dengan kontrak yang disepakati pada Desember 2019.

Dalam rentang 2021 hingga 2022, TNI AD akan mendapatkan kendaraan lapis baja Pandur II yang dilengkapi dengan turet yang dipersenjatai dengan meriam 30mm. Proyek ini akan dipimpin oleh perusahaan Ceko Excalibur Army yang sebelumnya telah sukses mengirimkan berbagai peralatan militer ke Indonesia. Excalibur Army memproduksi Pandur II di Republik Ceko dengan lisensi.

Pada tanggal 12 April 2019, Kementerian Pertahanan Indonesia memberikan PT. Pindad kontrak senilai $ 80 juta untuk memproduksi 22 kendaraan tempur infanteri Pandur seri II 8x8 yang dinamakan Cobra di Indonesia.

Pandur II versi Indonesia akan dilengkapi dengan modul tempur remot kontrol jarak jauh U30MK.II buatan Elbit Systems, Israel, dipersenjatai dengan meriam otomatis 30mm Northrop Grumman Bushmaster Mk.44 30mm dan dua senapan mesin 7,62mm.

PT. Pindad, dalam kemitraannya dengan Czechoslovak Group, mempromosikan Pandur II 8x8 TNI AD dalam beberapa versi. Pada 2017, PT Pindad menerima empat unit Pandur II dari Republik Ceko, dan melengkapinya dengan persenjataan: dua Pandur II dilengkapi dengan modul tempur Ares REMAX (Elbit Systems) remot kontrol jarak jauh yang dipersenjatai dengan senapan mesin 12,7 mm, satu kendaraan lainnya dilengkapi dengan modul tempur Sistem Elbit nir-awak Ares UT30MK.II dengan meriam Bushmaster Mk 44 30mm (kendaraan ini didemonstrasikan di IndoDefense 2018, pada November 2018) dan satu kendaraan lainnya dipersenjatai dengan CMI Defense CMI-3105HP turret (Cockerill Series 3000)Belgia. dengan meriam 105mm (menara serupa dipasang pada tank medium Harimau PT.Pindad).

Pandur II TNI AD
Pandur II TNI AD (Foto: TNI AD)

Pandur II TNI AD
Pandur II TNI AD (Foto: TNI AD)

Pandur II adalah versi yang disempurnakan dari kendaraan lapis baja beroda Pandur I APC (Armoured Personel Carrier). Pandur dikembangkan sebagai usaha swasta oleh perusahaan Austria Steyr-Daimler-Puch Spezialfahrzeuge yang sekarang menjadi bagian dari General Dynamics European Land Combat Systems.

Dibandingkan dengan pendahulunya, Pandur II memiliki dasar roda yang lebih panjang dan modifikasi pada bagian lambung. Paket pelindung kendaraan akan memberikan perlindungan terhadap senjata kaliber kecil 7,62mm. Pandur II juga dapat dilengkapi dengan add-on armor untuk meningkatkan perlindungan balistik terhadap 14.5mm shell piercing di 100m. Opsi lainnya, Pandur II dapat dilengkapi dengan spall liner dan pelindung lapis baja tambahan untuk memberikan perlindungan dari ledakan ranjau.

Pandur II dimotori oleh mesin diesel Cummins ISC 350 yang menghasilkan tenaga 285 hp. Menggunakan transmisi otomatis ZF 6HP 602C, Pandur II memiliki kecepatan 100 km/jam dengan jarak jelajah maksimum 700 km.


Perusahaan Ceko Army Excalibur EXCALIBUR ARMY, anggota CSG, telah menyelesaikan beberapa proyek yang sukses di Asia Tenggara. Diantaranya kontrak tahun 2017 untuk kendaraan jembatan amfibi khusus untuk TNI AD yang saat ini masih berlangsung. Pengiriman terakhir telah dijadwalkan paruh kedua tahun ini. Sebelumnya, Excalibur Army juga mengirimkan peluncur roket Vampire RM-70 bersama dengan dukungan khusus dan kendaraan komando ke Indonesia.

Rabu, Maret 04, 2020

'The Croc', Kapal Perang Canggih Buatan ITS Surabaya

Kapal perang The Croc ITS

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tengah membangun sebuah kapal perang canggih yang dapat berubah menjadi tiga mode sekaligus.

Sebagai negara maritim, Indonesia sudah selayaknya memiliki pertahanan dan keamanan maritim yang mumpuni untuk menegakkan kedaulatannya. Berkaca dari itu, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya segera merampungkan pembuatan kapal perang canggih mereka yang bernama "The Croc."

Kapal perang The Croc ITS

Kapal "The Croc" dibekali kemampuan untuk berubah menjadi tiga mode pelayaran, yakni mode hidrofoil, mode selam, dan mode konvensional.

Pada mode hidrofoil "The Croc" akan berlayar di atas permukaan air. "The Croc" akan memiliki bagian seperti sayap yang dipasangkan pada penyangga di bawah lambung kapal. Ketika kecepatan meningkat, lambung kapal ini akan terangkat dari air dan terlihat seperti melayang. Kecepatannya saat mode hidrofoil akan berkisar antara 35-45 knot.

Untuk kemampuan selam, "The Croc" akan mampu menyelam sejauh 5-10 meter. Kecepatan pelayarannya selama mode selam bisa mencapai 15 knot. Sedangkan dalam mode konvensional atau mode kapal permukaan, kecepatannya standar di kisaran 25-30 knot.

Kapal perang The Croc ITS

Kapal yang dilengkapi dengan dua mesin berkekuatan 350 hp (tenaga kuda) ini mulai dirancang sejak 2011 lalu. Kapal yang terbuat dari bahan aluminium ini berukuran ramping dengan panjang 12 meter dan lebar hanya 3 meter.

Kapal yang berpenumpang 4 orang ini sengaja dirancang memiliki bobot 15 ton dan cukup ringan agar bisa melayang. Sedangkan sayapnya sendiri terbuat dari baja karbon.

Kapal perang The Croc ITS

Diharapkan, The Croc sebagai kapal perang buatan dalam negeri ini bisa membantu dalam menjaga pertahanan dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bahkan untuk kasus penyelundupan atau pencurian yang kerap terjadi di perairan Indonesia.

"Kalau kapal hidrofoil saja itu bergerak di atas permukaan, jadi dia bisa terdeteksi radar musuh. Jadi kalau ada kapal pencuri, dari jauh sudah ketahuan ada kapal mendekat. Oleh karena itu kita rancang dapat menyelam supaya menghindari radar, jadi mereka tidak sadar kalau kita dekati," ujar Wisnu Wardhana, dosen ITS perancang The Croc.

Kapal perang The Croc ITS

Dalam proses pembuatan "The Croc" yang telah menghabiskan dana Rp 4 miliar ini, ITS bekerjasama dengan TNI AL dan Kemenristek, serta beberapa pihak lainnya. Proses pembuatan "The Croc" kini telah mencapai 90 persen, dan diperkirakan akan selesai akhir tahun ini. Namun setelahnya masih diperlukan riset dan uji coba fungsi dan pelayaran selama kurang lebih 3 tahun sebelum dioperasikan sepenuhnya.

Rabu, Februari 19, 2020

TNI AU Sukses Upgrade Mandiri F-16

F-16 TNI AU

TNI AU sukses melakukan uji coba pesawat tempur F-16 A/B Block 15 hasil upgrade yang dipiloti Dwayne "Pro" Opella di Apron Skadron Udara 3 Lanud Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur, Selasa (18/2/2020).

"Dengan terbangnya pesawat TS-1610, telah menjadi bukti pencapaian, bahwa anak bangsa juga mampu untuk meng-upgrade secara mandiri pesawat tempur yang dimiliki Indonesia," ujar Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna dalam keterangan tertulis kepada media, Rabu (19/2/2020).

Yuyu mengatakan, pesawat tempur F-16 berhasil diperbarui dalam program Enhanced Mid-Life Update (EMLU) - The Falcon Structural Augmentation Rodmap (Falcon STAR) yang dilakukan TNI AU dibantu PT Dirgantara Indonesia.

Dimana dalam proyek ini juga melibatkan Lockheed Martin, pengawas dari pabrik pesawat F-16 di Amerika Serikat.

Yuyu mengatakan, meskipun menemui beberapa kendala, namun program Falcon Star dan EMLU dirasa berhasil melahirkan pesawat perdana untuk kembali mengudara di langit Indonesia.

KSAU juga menjelaskan, program Falcon Star dan EMLU bertujuan untuk meningkatkan kemampuan airframe, avionic, dan armament system pesawat F-16 A/B Block 15, serta memaksimalkan usia pakainya menjadi 8.000 actual flying hours.

"Kita harus bangga bahwa bangsa Indonesia sudah mampu meng-upgrade pesawat F-16 menjadi lebih canggih setara dengan pesawat paling baru, yang mampu membawa persenjataan rudal jarak jauh, dilengkapi radar dan avionic terbaru," tegas dia.

Selain itu, Yuyu juga menambahkan, pihak-pihak terkait diharapkan dapat meningkatkan kerjasama dengan lebih baik lagi. Sehingga sembilan pesawat lainnya dapat segera kembali terbang di angkasa.

"Saya optimis, keberhasilan perdana ini, ditambah dengan adanya masukan yang konstruktif dari Lockheed Martin, akan menjadi pembuka jalan dalam percepatan proses upgrade sembilan pesawat F-16 A/B lainnya," terang KSAU.

F-16 TNI AU

Kasau Apresiasi Program Falcon Star-eMLU Pesawat F-16 A/B Block 15

Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal TNI Yuyu Sutisna, SE., M.M mengapresiasi pelaksanaan program Falcon Star-eMLU pesawat F-16 A/B Block 15 yang pengerjaannya dilakukan oleh teknisi-teknisi TNI AU di Skadron Teknik 042, Lanud Iswahjudi.

Apresiasi ini disampaikan Kasau pada saat menyaksikan Functional Check Flight atau uji terbang perdana, pesawat F-16 TS-1610 yang dilaksanakan di Skadron Udara 3, Lanud Iswahjudi, Selasa (18/2/2020). Pesawat F-16 TS-1610 merupakan salah satu dari 10 pesawat yang akan di upgrade melalui program ini.

Program Falcon Star-eMLU Pesawat F-16 A/B Block 15 TNI AU bertujuan meningkatkan kemampuan Airframe, Avionic dan Armament serta memaksimalkan usia pakai pesawat F-16 A/B Block 15 yang telah dioperasionalkan TNI AU sejak 30 tahun yang lalu.

Sementara Uji terbang perdana yang disaksikan langsung oleh Kepala Staf Angkatan Udara tersebut, merupakan fase akhir dari task pengerjaan program Falcon Star-eMLU untuk menguji  seluruh hasil pengerjaan yang telah dilaksanakan meliputi  struktur pesawat, sistem avionic, dan sistem persenjataan.

F-16 TNI AU

“Yang lebih membanggakan adalah proyek ini dikerjakan langsung oleh teknisi TNI Angkatan Udara, sehingga melalui program ini kita dapat meningkatkan kemampuan pesawat, sekaligus transfer of teknologi dalam pengerjaannya dapat meningkatkan kemampuan teknisi-teknisi TNI Angkatan Udara,” demikian disampaikan Kasau saat diwawancarai oleh sejumlah awak media massa di hanggar Skadron Udara 3.

Sebelum pesawat melaksanakan uji terbang, Kasau berkesempatan membubuhkan tanda tangannya di bagian depan badan pesawat sebagai apresiasi atas keberhasilan program Falcon Star-eMLU Pesawat F-16 A/B Block 15 TNI AU.

Functional Check Flight dengan tema First Flight Ceremony TS-1610 ini turut dihadiri oleh sejumlah pejabat teras TNI AU diantaranya para Asisten Kasau, Koorsahli Kasau, Pangkoopsau II, Pangkoopsau I, Dankoharmatau, Kadispenau, Kadislitbangau, Kadiskomlekau, Kadislambangjaau, Kadisadaau dan sejumlah pejabat teras TNI AU lainnya.

Resources
  • Dispenau
  • Kompas
  • Gambar: Dispenau

Selasa, Mei 14, 2019

Tontaipur Pasukan Khusus Andalan Kostrad TNI AD

Pasukan elite TNI AD seperti Kopassus, Kopaska, Paskhas dan Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) sudah familiar di telinga masyarakat. Tapi sebenarnya, TNI AD masih memiliki pasukan khusus lain dengan kemampuan tempur hebat.

Pasukan itu adalah Peleton Intai Tempur (Tontaipur). Tontaipur merupakan pasukan andalan Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) TNI AD karena mampu bertempur di darat, laut dan udara. Selain itu, masih banyak kemampuan lain Tontaipur yang mengundang decak kagum. Berikut kemampuannya:

Tontaipur

1. Menyusup ke Daerah Musuh Untuk Mengintai

Tontaipur merupakan pasukan yang ahli dalam dalam pengintaian dan pertempuran jarak dekat. Selain itu, Tontaipur juga ahli menyusup ke wilayah musuh dan mengumpulkan info intelijen, melakukan sabotase, melakukan serangan dadakan, dan lainnya.

Yang perlu ditakuti oleh lawan adalah kemampuan Tontaipur. Mereka ahli dalam pengintaian, dan menghancurkan musuh dalam jarak dekat.
 Tontaipur

2. Bernapas dalam Air atau Lumpur

Secara garis komando, Tontaipur berada di bawah naungan Datasemen Intel Kostrad. Salah satu kemampuan yang cukup istimewa dan harus dikuasai setiap prajurit Tontaipur adalah bersembunyi di dalam tanah dan air selama berjam-jam.

Ketika sedang berlatih mengubur diri dalam tanah atau air bersama-sama perlengkapan tempurnya itu, personel Tontaipur hanya mengandalkan alat bantu pernapasan yang sederhana berupa pelepah daun pepaya atau batang dahan bambu.

Tontaipur

3. Mahir Bertempur dengan Aneka Senjata

Tontaipur merupakan pasukan elite TNI AD. Pasukan ini sangat terlatih untuk melakukan serbuan cepat, intelijen, gerilya dan anti-gerilya serta kemampuan sebagai layaknya pasukan elite.

Salah satu kemampuan yang dimiliki Tontaipur adalah penggunaan senjata tradisional macam Sumpit. Penggunaan sumpit ini berawal dari masa Kolonial. Saat itu sumpit senjata handal untuk pertempuran jarak dekat bagi suku Dayak Kalimantan yang memang memiliki keahlian menggunakan sumpit. Keunggulan sumpit ialah senjata 'silent killer' karena tak berbunyi ketika ditembakkan ke arah musuh.

Tontaipur

4. Dipilih dari Prajurit Terbaik Kostrad

Tontaipur merupakan pasukan yang dipilih dari prajurit terbaik Kostrad. Prajurit Tontaipur dipilih melalui kualifikasi panjang. Mereka terlebih dulu mengikuti pelatihan Cakra sekitar tiga bulan. Yang terbaik akan mengikuti kualifikasi Raider empat bulan. Selanjutnya mereka yang terbaik akan dipilih dalam Taipur yang akan dilatih selama enam bulan.

Selama pelatihan, prajurit Tontaipur akan digembleng secara profesional. Mereka harus mahir dalam pengintaian dan seni tempur di udara, air, dan darat karena pelatihan melibatkan semua bagian pasukan TNI.

Resources
  • Merdeka

Sabtu, November 10, 2018

Indo Defence 2018: Indonesia akan Dapatkan Peluncur VL MICA untuk Fregat SIGMA 10514

KRI R.E. Martadinata 331

Kapal perusak kawal rudal kelas Martadinata (SIGMA 10514) milik TNI AL masing-masing akan mendapat satu peluncur 12 celll untuk sistem pertahanan udara VL MICA pada tahun 2019, sebuah sumber industri mengonfirmasi kepada IHS Jane pada pameran Indo Defence 2018 di Jakarta. 

Kontrak untuk mengirimkan peluncur telah disepakati, dan pemasangan sistem senjata akan dilakukan sendiri oleh PT PAL di Surabaya, bekerja sama dengan Damen dan MBDA, sumber itu menambahkan.

Kapal perusak kawal rudal (PKR) SIGMA 10514, KRI Raden Eddy Martadinata (331), dan KRI I Gusti Ngurah Rai (332), masing-masing ditugaskan pada April 2017 dan Januari 2018. Kedua kapal dikirim ke TNI-AL dalam konfigurasi 'dipasang untuk tetapi tidak dengan' (FFBNW) untuk sistem persenjataan utamanya termasuk point-defence missiles, rudal permukaan-ke-permukaan, dan close-in weapon system (CIWS).

Namun, kedua PKR masing-masing telah dipersenjatai dengan satu kanon Leonardo (Oto Melara) Super Rapid gun 76/62 di posisi utama.

Ilustrasi pertahanan udara VL MICA
Ilustrasi pertahanan udara dengan VL MICA (Gambar: MBDA)

Pertahanan VL MICA dilepaskan secara vertikal, dan sebagai sistem pertahanan udara area dekat yang memberikan perlindungan kapal terhadap berbagai ancaman udara termasuk pesawat musuh, dan amunisi berpandu presisi.

Sistem ini tidak memerlukan sensor atau konsol khusus, dan dapat sepenuhnya terintegrasi ke dalam infrastruktur tempur SIGMA 10514 yang sudah ada.

Sementara kontrak untuk peluncurnya sudah selesai, Indonesia belum mengonfirmasi perihal akuisisi rudalnya, meskipun sumber menyebutkan bahwa kesepakatan untuk rudal pada akhirnya akan mengikuti.

"Kontrak untuk rudal akan mengikuti secara logis, dan kami berharap itu akan segera terjadi," tambahnya.

Kamis, November 08, 2018

Tank Medium Harimau Pindad Hadir di Indo Defence 2018

Tank Harimau buatan Indonesia-Turki di Pameran Indo Defence 2018 (Photo : VIVA/Eduward)

Pameran dan Forum Internasional di bidang pertahanan Indo Defence 2018 Expo dan Forum resmi dibuka hari ini 7 November - 10 November 2018.

Acara yang menggelar alat utama sistem persenjataan (alutsista) dalam dan luar negeri itu tidak hanya memamerkan senjata, tetapi juga peralatan tempur dan segala jenis perangkat lainnya.

Segala jenis senjata seperti yang diproduksi perusahaan negara yang memproduksi alat pertahanan dan keamanan yakni PT Pindad, juga metampilkan tank medium baru yang disebut Harimau.

Photo: Antara

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan, acara ini merupakan wadah untuk industri pertahanan dari dalam negeri menawarkan alat pertahanannya kepada negara lain.

Ia berharap, 867 peserta dari 45 negara yang ikut ambil bagian saling bertukar informasi terkait bisnis dan kemampuan militer di negaranya masing-masing.

"Saya berharap berbagai kegiatan dalam event ini akan memperluas pasar bagi produk industri pertahanan Indonesia baik sebagai produk utuh maupun sebagai bagian dari mata rantai industri pertahanan global," kata Ryamizard saat menyampaikan sambutan di lokasi acara JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu 7 November 2018.

Photo: Kricom

Tank medium Harimau diproduksi PT Pindad bekerjasama dengan dengan FNSS Savunma Sistemleri, perusahaan pertahanan asal Turki.

Selaku penyelenggara acara, Managing Director PT Napindo Media Ashatama, Arya Seta Wiriadipura, mengatakan bahwa sedianya Presiden Jokowi akan hadir pada hari ini sekaligus pemberian nama Harimau pada tank medium baru buatan Pindad. Namun informasi terakhir, Jokowi masih ada agenda rapat terbatas di Istana Negara.

"Kami sangat berharap, Bapak Presiden Jokowi dapat hadir di Indo Defence 2018 Expo dan Forum. Kehadiran beliau akan memberikan nilai lebih dan menjadi semangat serta motivasi bagi kami anak-anak bangsa dan tentunya industri dalam negeri dalam menuju kemandirian," kata Arya.

Photo: Times Indonesia

Acara ini dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Kementerian Pertahanan selaku penggagas acara berharap, Indo Defence 2018 ajang mempromosikan produk industri pertahanan nasional dan memperkuat kolaborasi industri dalam negeri dengan industri pertahanan negara sahabat.

Selain itu, industri pertahanan yang kuat juga disebut akan membantu proses pertumbuhan dan kemandirian ekonomi.

Resources
  • https://www.viva.co.id/berita/nasional/1092080-tank-harimau-buatan-pindad-dipamerkan-di-indo-defence-2018

Rabu, November 07, 2018

Pameran Pertahanan Indo Defence 2018 Diikuti 59 Negara

Indo Defence 2018 Diikuti 5 Negara

Kementerian Pertahanan Republik Indonesia bekerja sama dengan PT Napindo Media Ashatama kembali menggelar pameran internasional bidang teknologi industri pertahanan tiga matra, "Indo Defence 2018 Expo & Forum", di JIExpo  Kemayoran, Jakarta pada 7 November-10 November 2018.

Bersamaan dengan pameran industri pertahanan itu, juga akan digelar pameran kedirgantaraan dan helikopter, Indo Aerospace Featuring Indo Helicopter 2018 Expo & Forum dan pameran kemaritiman Indo Marine 2018 Expo & Forum.

Pameran kali ini mengambil tema Building Global Defence Partnerships to Secure the Future.

Indo Defence 2018 Expo & Forum merupakan ajang promosi bagi produsen peralatan pertahanan dan keamanan internasional yang digelar dua tahun sekali sebagai wadah untuk memperkuat kapasitas industri pertahanan lokal dengan cara membangun kemitraan dengan pihak asing.

Penyelenggaraan Indo Defence 2018 Expo & Forum adalah bagian dari konsep diplomasi pertahanan Indonesia untuk meningkatkan interdependensi demi mencapai perdamaian dan kemakmuran dunia, serta dapat dijadikan sebagai media komunikasi dan informasi yang efektif untuk menjalin kontak bisnis dan transfer teknologi, yang pada akhirnya akan memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan industri pertahanan dan keamanan di Indonesia.

Pameran Indo Defence tahun ini diikuti oleh 867 peserta pameran dari 59 negara. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan Indo Defence tahun 2016, yakni sebanyak 847 perserta.

Puluhan negara-negara sahabat akan mengirimkan Official Delegation untuk menyaksikan pameran internasional ini, antara lain Malaysia, Australia, Yunani, Jepang, Fiji, Belarus, Arab Saudi, Slovakia dan Uni Emirat Arab.

Total 30 Negara paviliun yang telah mengkonfirmasi keikutsertaannya tahun ini dan terdapat paviliun khusus antara lain UAV, MRO, Defence Security dan First Time exhibitor zone.

Sedangkan, perusahaan asing yang akan memamerkan produknya antara lain Rheinmetall, SAAB, Lockheed Martin, KAI, FN Herstal, Beretta, Excalibur, SVOS, Nexter, Reutech, Turkish Aerospace Industries, Inc, Polish Armanent Group/PGZ dan sebagainya.

Sejumlah perusahaan industri pertahanan dalam negeri baik milik pemerintah maupun swasta juga akan turut serta dalam pameran antara lain PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, PT PAL Indonesia, PT Len, PT Dahana, PT Sritex, Infoglobal, Bhimasena Group, PT Sentra Surya Ekajaya, PT Ridho Agung dan yang lainnya. Selain itu, ada pula dari instansi pemerintah, perguruan tinggi dan media.

Melalui skenario live demonstration, kesempatan ajang pameran ini akan digunakan oleh PT Pindad diikuti dengan PT Saba Wijaya, PT Sri Rejeki Isman, PT Sentra Surya Ekajaya (SSE), PT Cakra Tunggal Dharma, PT Sport Glove Indonesia, PT Promatra Nusantara (Rudy Project Indonesia), PT Motorola Solutions Indonesia, PT Mandira Jaya Abadi (MJA Tech) dan didukung penuh oleh Kostrad Batalyon Intai & Tempur untuk memberikan pemahaman mengenai keunggulan alat-alat pertahanan hasil produksi dalam negeri kepada seluruh pengunjung.

Selain pameran produk, pada penyelenggaraan Indo Defence 2018 Expo & Forum juga akan diselenggarakan forum internasional bertemakan Ensuring Regional Stability through Cooperation on Counter Terrorism dan Indo Marine 2018 forum yang bertemakan Ensuring Regional Stability Through Development Of National Maritime Capability and Maritime Security Cooperation, serta  Indo Aerospace Business Forum bertemakan Sustainability of Civil Aviation in Indonesia.

Untuk pertama kalinya, juga akan diselenggarakan Forum Bisnis bertemakan Promoting National Defence Industry untuk melengkapi kegiatan forum di Indo Defence 2018.

Forum bisnis ini sebagai sarana untuk mempertemukan para calon negara pembeli non tradisional dengan para pemain industri pertahanan dalam negeri.

Penyelenggaraan Indo Defence 2018 Expo & Forum juga didukung penuh oleh kementerian/lembaga pemerintah dan asosiasi terkait antara lain Kemendag, Kemenlu, Kemenkeu, Kemendikbud, Kemenristek dan Dikti, Kemenperin, Kemenhub, Kemenpar, KKP, TNI, Polri, Bakamla, BNPT, Universitas Hang Tuah, Unhan, ITB, Asosiasi Pilot Drone Indonesia, Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia dan Indonesia Aircraft Maintenance Services Association.

Selama empat hari kegiatan penyelenggaraan, Indo Defence 2018 Expo & Forum diharapkan akan dapat dikunjungi kurang lebih sebanyak 25.000 pengunjung. Dua hall baru B3 dan C3 di JIExpo Kemayoran akan menambah luas pameran indoor Indo Defence 2018 dan diyakini mampu mengakomodir target kepesertaan tahun ini.

Jam buka pameran direncanakan mulai pukul 12.00 hingga pukul 17.00 WIB (7 November 2018), 10.00 hingga 17.00 WIB (8-10November 2018). Pameran ini dikhususkan untuk pengunjung bisnis dan profesional, sedangkan pada dua hari terakhir pameran, 9-10 November 2018 akan dibuka untuk umum dengan pre-registrasi online atau dikenakan biaya masuk.

Resources
  • https://www.antaranews.com/berita/763607/kemhan-kembali-gelar-pameran-industri-pertahanan-2018

Kemhan Kembali Gelar Pameran Pertahanan Internasional Indo Defence

Indo Defence 2018

Gelaran pameran industri pertahanan internasional oleh Kementerian Pertahanan, Indo Defence Expo & Forum, dihadirkan lagi kepada publik nasional.

Kali ini, Indo Defence 2018 merupakan gelaran yang kedelapan lagi, hasil kerja sama Kementerian Pertahanan dengan PT Napindo Media Ashatama.

Buku manual pameran yang dikeluarkan panitia pelaksana di Jakarta, Selasa, menyebutkan, tempat pelaksanaan masih sama dengan beberapa kali gelaran serupa yang pernah dilaksanakan, yaitu arena Pekan Raya Jakarta, Jakarta Pusat, dan kali ini mengambil waktu pada 7-10 November 2018.

Laiknya yang pernah dilaksanakan selama ini, perkembangan industri pertahanan dan teknologi pertahanan ketiga matra militer dan hal-hal lain terkait diusung oleh banyak partisipan dalam dan luar negeri.

Selain itu, pada Indo Defence & Expo Forum 2018 kali ini juga dilaksanakan pameran helikopter, Indo Aerospace/Indo Helicopter 2018 Expo & Forum, serta pameran kemaritiman Indo Marine 2018 Expo & Forum.

Tema besar Indo Defence & Expo Forum 2018 adalah Membangun Kemitraan Pertahanan Global Untuk Mengamankan Masa Depan dan direncanakan dibuka Presiden Jokowi, pada Rabu (7/11).

“Indo Defence semakin diakui di tingkat dunia. Kesertaan negara dan pabrikan semakin banyak dan semakin berkualitas,” kata Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Bondan T Sofyan di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Yang cukup berbeda kali ini, kata dia, adalah forum pertemuan bisnis di antara partisipan, baik secara negara ataupun pabrikan alias perusahaan manufaktur sistem kesenjataan dan pendukung. Panitia pelaksana sangat mendorong ada kontak bisnis di antara mereka sehingga terjadi arus investasi dan volume bisnis yang menjanjikan.

Indonesia —melalui beberapa BUMN di sektor pertahanan— menyasar banyak negara Afrika yang dipandang sebagai pasar potensial pada masa kini dan masa mendatang. “Tentu kami membuka diri untuk kerja sama dengan negara-negara lain,” kata dia.

Sejak pertama kali digelar, pameran dua tahunan Indo Defence telah menjadi ajang promosi bagi produsen peralatan pertahanan dan keamanan internasional.

Dari sisi dalam negeri, Indo Defence menjadi forum diplomasi pertahanan nasional di pentas dunia selain untuk mewujudkan kemandirian industri pertahanan dan sesuai dengan konsep bebas-aktif Indonesia di tingkat dunia.

Kali ini, terdaftar 867 peserta dari 59 negara. Di antaranya Malaysia, Australia, Yunani, Jepang, Fiji, Belarus, Arab Saudi, Slovakia dan Uni Emirat Arab, yang mengirimkan delegasi resmi.

Akan ada pertemuan di tingkat menteri pertahanan pada Indo Defence kali ini. 68 negara mengirimkan delegasi resmi, antara lain Amerika Serikat, Rusia, China, Swedia, Afrika Selatan, Korea Selatan, India, Kroasia dan Singapura.

Dilihat dari paviliun negara, tercatat juga 30 negara yang mendirikan paviliunnya, di antaranya Jepang, yang untuk pertama kali mendirikan paviliun negaranya.

Paviliun khusus untuk kepentingan bisnis yang khas dan tertentu juga disediakan panitia pelaksana, di antaranya untuk pegiat di subsektor pesawat terbang nirawak (UAV), perawatan dan pemeliharaan pesawat terbang, keamanan-pertahanan dan juga untuk peserta yang pertama kali turut.

Adapun jadwal pameran adalah: 7 November (pukul 12.00-17.00 WIB, untuk undangan/ofisial, pers, dan pebisnis), 8-9 November (pukul 10.00-17.00 WIB, untuk undangan/ofisial, pers dan pebisnis) dan 10 November (pukul 10.00-17.00 WIB, untuk umum).

Resources
  • https://www.antaranews.com/berita/765616/indo-defence-2018-hadirkan-perkembangan-terkini-teknologi-pertahanan

Jumat, November 02, 2018

PT LEN Luncurkan Radio Militer, Radar Surveilans Udara, dan Sistem Traksi Elektrik

Radar S-200 PT LEN

PT Len Industri (Persero) telah mengenalkan produk terbarunya kepada masyarakat. Setidaknya ada lima produk yang diluncurkan langsung oleh Menteri BUMN Rini M Soemarno pada Rabu (31/10/2018).

Direktur Utama PT Len Industri Zakky Gamal Yasin mengatakan lima produk baru tersebut merupakan murni karya anak bangsa. Meski demikian, kualitas produk baru ini diklaim cukup canggih.

"Ini dalam rangka membangun kemandirian teknologi dan turut menjaga kedaulatan negara, dengan produk-produk pertahanan, transportasi dan ICT (Information & Communication Technology)," kata Zakky di kantornya, Bandung, Rabu (31/10/2018).

Lalu apa saja produk terbaru PT Len Industri itu? Berikut daftar dan keunggulannya :

1. LenSTRAD-M5 dan LenHDR20-M

LenSTRAD-M5

  • LenSTRAD singkatan dari Len Software Tactical Radio. Merupakan implementasi dari Software Defined Radio (SDR) yang digunakan untuk radio taktis. M5 singkatan dari Multiband dengan maksimum daya 5 Watt.
  • Berbentuk Handheld dan digunakan untuk kebutuhan komunikasi dalam kota yang membutuhkan komunikasi data antar personel. Radio ini dapat diintegrasikan dengan Battlefield Management System (BMS).
  • Dilengkapi dengan Keamanan Transmisi (Transmission security/Transec) dan Keamanan Komunikasi (Communication Security/Comsec).
  • LenSRAD-M5 adalah radio transceiver Handheld yang bekerja pada frekuensi VUHF 30 MHz sampai 512 MHz. Karena lebarnya range frekuensi kerja ini, radio ini dikatakan sebagai radio multiband.
  • Band frekuensi yang tercakup pada radio ini adalah VHF low band 30-108, GTA 118-137, VHF High band 140-300, serta UHF 300-512 MHz.
  • Dilengkapi dengan antenna whip 38 cm dan antenna whip 84cm. Juga dilengkapi dengan baterai Rechargable Lithium-Ion 14.4V. Preset channel yang dapat disimpan sebanyak 1300 channel.
  • Radio ini menggunakan platform SDR (Software Defined Radio). Platform ini memiliki fleksibilitas cukup baik untuk pengembangan waveform. Waveform adalah bentuk gelombang digital yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan yang kaitannya erat dengan komunikasi data.

LenHDR20-M

  • Len HDR20-M adalah suatu radio transceiver Manpack yang bekerja pada frekuensi HF : 2 - 30 MHz.
  • LenHDR merupakan singkatan dari Len HF Digital Radio. 20 merupakan angka dari maksimum power RF yang dapat dipancarkan sebesar 20 Watt. M merupakan singkatan dari Manpack.
  • Digunakan pada komunikasi jarak jauh karena karakter frekuensi yang dapat memantul pada ionosfer.
  • Terdapat fitur ALE (Automatic Link Establishment) yang membantu mencari frekuensi terbaik untuk berkomunikasi. ALE ini sangat berguna untuk komunikasi dengan jarak yang cukup jauh (puluhan sampai ratusan kilometer).
  • Dilengkapi dengan ATU (Automatic Tuning Unit) internal untuk digunakan pada antenna 1.5m, 3m, dan 6. ATU membantu mengoptimalkan daya pancar dan sensitivitas penerimaan.
  • Dilengkapi dengan Keamanan Transmisi (Transmission security/Transec) dan Keamanan Komunikasi (Communication Security/Comsec).
  • Radio ini menggunakan platform SDR (Software Defined Radio). Platform ini memiliki fleksibilitas cukup baik untuk pengembangan waveform. Waveform adalah bentuk gelombang digital yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan yang kaitannya erat dengan komunikasi data.
  • Mode modulasi yang digunakan yaitu AM (Amplitude Modulaton), SSB (Single Side Band), dan CW (Continuous Wave).
  • Dilengkapi dengan GPS internal, sehingga radio ini dapat digunakan untuk menentukan lokasi pada peta.

2. Len S-200 (Air Surveillance Radar 2D)

  • Radar Len S-200 adalah produk radar dua dimensi yang ditujukan untuk melakukan pengawasan wilayah udara.
  • Beroperasi di pita frekuensi S dan menggunakan teknologi pulse compression, Radar Len S-200 mampu mendeteksi target udara hingga jarak 200 km pada ketinggian 10.000 kaki.
  • Produk ini menggunakan teknologi solid-state di bagian modul transceiver RF-nya yang terbukti memiliki performa dan ketahanan yang baik.
  • Len S-200 tidak hanya memiliki primary surveillance radar tetapi juga dilengkapi oleh secondary surveillance radar (IFF) sehingga mampu mendeteksi target udara dan melakukan fungsi identifikasi.
  • Radar Len S-200 juga dapat diintegrasikan dengan produk Battle Management System (BMS) maupun Combat Management System (CMS) sehingga mampu memberikan tactical situation awareness (kesadaran situasi taktis) yang lebih komprehensif kepada satuan TNI yang bertugas.\
  • Radar Len S-200 memiliki fitur frequency agility (kelincahan frekuensi) untuk mengantisipasi gangguan jammer terhadap radar.
  • Semua modul-modul software dalam produk ini, seperti modul radar signal processor, data processor, hingga radar server, semuanya 100% dikembangkan oleh PT Len Industri sehingga kustomisasi fitur dapat dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan operasi TNI.

3. Len Dynatron

(Sistem Traksi Elektric Buggy)
  • Sistem Traksi Elektrik ialah sistem pengendali dan penggerak wahana/kendaraan yang bertujuan untuk menarik atau mendorong menggunakan daya listrik.
  • PT Len industri termasuk pionir di bidang sistem traksi elektrik nasional.
  • PT Len Industri mengembangkan sistem traksi elektrik karena ada kebutuhan pasar di perkeretaapian dan pasar yang baru mulai muncul di EV (Electric Vehicle).
  • Sistem traksi elektrik yang dikembangkan PT Len Industri bisa diimplementasikan antara lain di Lokomotif, LRT, Electric Buggy, Electric Bus, Sepeda motor listrik.
  • Cakupan Sistem Traksi Elektrik pada Len Dynatron adalah: Main Inverter, Battery Pack (Battery Management System), DC-DC Converter, Electronic Control Unit.

4. LenSOLAR

  • Sistem Rooftop PV (Photovoltaics) untuk perumahan dan perkantoran.
  • PV On-Grid System atau terhubung langsung dengan jaringan PLN dengan mengoptimalkan pemanfaatan energi dari panel surya (PV).
  • Terdapat 3 tipe yaitu LenSOLAR 1.5KW, LenSOLAR 3KW, dan LenSOLAR 5KW.
  • Skema impor dan ekspor listrik dari, dan, ke jaringan lisrik PLN.
  • Dapat menghemat tagihan listrik hingga 30 persen.
  • Harga kompetitif.
  • Dikelola di bawah PT Surya Energi Indotama (SEI), anak perusahaan PT Len Industri, perusahaan yang sudah sangat berpengalaman di bidang sistem tenaga surya.
  • Dibentuk untuk menyukseskan target pemerintah Indonesia untuk mengubah 23 persen dari total pasokan energi menjadi energi terbarukan pada tahun 2025 dan 31 persen pada tahun 2050.

5. Len Rescue (LENTERA)

  • Fast Emergency Response.
  • Sumber daya energi untuk kondisi darurat seperti pada bencana alam, area terpencil atau terisolir serta kawasan pertambangan, peternakan, atau pertanian.
  • Memenuhi kebutuhan dasar pada kondisi darurat misalnya air, listrik, internet dan obat-obatan.
  • Dilengkapi dengan pompa air, lampu penerangan LED, mobile satellite internet, P3K . Serta peralatan di dalamnya dapat diganti sesuai kebutuhan.
  • Dilengkapi dengan peralatan tambahan seperti tenda, handy talkie, sleeping bag, perlengkapan sanitasi, selimut darurat, kotak peralatan, payung dll.
  • Menggunakan Hybrid Power: PV System (tenaga surya) dan Genset.
  • Genset berkapasitas 10 KVA, PV System berkapasitas 5 KWp dilengkapi 5 buah baterai 72 Ah, dan inverter hybrid 5 KW.
  • Desain ringkas, tahan air hujan, dan mudah dalam pemasangan.

Resources
  • https://www.liputan6.com/bisnis/read/3681283/len-industri-luncurkan-5-produk-karya-anak-bangsa

PT Len Kembangkan Radar Militer dengan Jangkauan 200 km

Radar S-200 PT LEN

BANDUNG - PT Len Industri (Persero) berhasil mengembangkan sistem radar militer Len S-200 dengan kemampuan mendeteksi target hingga 200 km pada ketinggian 10.000 kaki (3.048 meter). Radar ini menjadi produk radar yang berhasil dikeluarkan Len Industri.

Direktur Utama PT Len Industri Zakky Gamal Yasin mengatakan, produk ini adalah radar dua dimensi yang ditujukan untuk pengawasan wilayah udara. Untuk mempertahankan performanya, radar ini menggunakan teknologi solid state dibagian modulnya serta mengunakan pita frekwensi S.

“Kelebihan radar ini yaitu tak hanya memiliki primary surveillance radar, tetapi juga dilengkapi secondary surveillance radar, sehingga mampu mendeteksi target udara dan melakukan fungsi identifikasi. Sedangkan untuk TNI, radar dilengkapi sistem yang mampu memberikan situasi taktik,” kata dia pada acara Excelen: Inovasi Untuk Negeri di Pelataran Kawasan PT Len Industri, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Rabu (31/10/2018).

Selain radar, Len juga merilis produk terbaru hasil karya anak negeri, Lensolar. Produk tersebut jawaban Len Industri terhadap rencana pemerintah mengubah 23% pasokan energi menjadi energi terbarukan.

Zakky Gamal Yasin mengatakan, inovasi Lensolar menggunakan sistem solar PV yang ditujukan bagi perumahan dan perkantoran. Produk ini cenderung lebih terjangkau dan mampu dibeli masyarakat luas.

“Untuk produk solar, kami buat sendiri.  Bahan baku yang masih impor hanya solar sel saja. Sisanya menggunakan bahan baku dalam negeri. Ini sejalan upaya kami sebagai BUMN menjadi pelopor produk dalam negeri untuk mengurangi impor,” kata Zakky.

Radar S-200 PT LEN

Menurut dia, Lensolar dibuat dalam tiga tipe, yaitu 1,5KW, 3KW, dan 5KW. Lensolar didesain mampu melakukan skema impor dan ekspor listrik dari dan ke jaringan listrik PLN. Produk ini juga diklaim dapat menghemat listrik hingga 30% dan dijual dengan harga kompetitif.

Tak hanya produk komersial, Len juga membuat produk bernama Len Rescue. Sebuah peralatan fast emergency responder yang dapat menyediakan sumber energi dan perlengkapan darurat. Produk ini dipakai dalam misi bencana alam dan kemanusiaan.

“Kami juga meluncurkan sistem traksi Len Dynatron. Sistem elektrik ini diaplikasikan pada lokomotif, LRT, elektrik bus, dan sepeda motor listrik. Kami juga merilis produk pertahanan, yaitu Radar Len-S200 dan radio militer,” tuturnya.

Resources
  • https://nasional.sindonews.com/read/1350866/14/len-industri-kembangkan-radar-militer-daya-jangkau-200-km-1540994699