Friday, October 19, 2018

Mengapa Su-35 Menjadi Salah Satu Pesawat yang Perlu Ditakuti AS

Su-35

Sukhoi Su-35 Flanker-E adalah jet tempur superioritas udara terbaik yang dioperasikan Rusia saat ini, dan mewakili puncak desain jet tempur generasi keempat. Su-35 akan terus seperti itu sampai Rusia mengoperasikan pesawat tempur siluman generasi kelima PAK-FA.

Dibedakan oleh kemampuan manuvernya yang tak tertandingi, sebagian besar kemampuan elektronik dan senjata Su-35 telah berhasil melampaui pesaing Baratnya, seperti F-15 Eagle. Tapi sementara Su-35 mungkin menjadi musuh yang mematikan bagi F-15, Eurofighter, dan Rafale, sebuah tanda tanya besar seberapa efektif pesawat ini dapat bersaing dengan jet tempur siluman generasi kelima seperti F-22 dan F-35.

Sejarah

Su-35 adalah evolusi dari Su-27 Flanker, desain era akhir Perang Dingin yang dimaksudkan untuk dicocokkan dengan F-15 dalam hal konsep. Su-27 adalah sebuah pesawat tempur multiperan bermesin ganda yang mengkombinasikan kemampuan kecepatan, dogfighting, dan muatan senjata yang sangat baik.

Pada tahun 1989, Su-27 mengejutkan penonton di Paris Air Show ketika mendemonstrasikan Pugachev Cobra, sebuah manuver di mana pesawat harus menahan moncongnya hingga vertikal 120 derajat — tetapi terus melambung di depan sikap asli pesawat.

Meskipun sudah banyak yang diekspor, Flanker sama sekali belum berbenturan dengan pesawat Barat, tetapi pernah terlibat dalam pertempuran udara-ke-udara militer Ethiopia selama perang perbatasan dengan Eritrea, 'membunuh' empat MiG-29 tanpa kerugian. Flanker juga telah digunakan untuk misi serangan darat.

Sejarah perkembangan Su-35 sedikit rumit. Upgrade Flanker dengan kanard (tambahan sayap kecil di depan pesawat) yang disebut sebagai Su-35 (Su-27M) pertama kali muncul pada tahun 1989, tetapi itu bukan pesawat yang sama dengan model Su-35 sekarang; hanya lima belas yang diproduksi. Upgrade Flanker, Su-30 dua kursi, telah diproduksi dalam jumlah signifikan, dan variannya diekspor ke belasan negara.

Model Su-35 saat ini adalah tanpa kanard, dan merupakan tipe keluarga Flanker yang paling modern. Ini mulai dikembangkan pada tahun 2003 oleh Komsomolsk-on-Amur Aircraft Production Association (KnAAPO), subkontraktor dari Sukhoi. Prototipe pertama diluncurkan pada 2007 dan produksi dimulai pada 2009.

Airframe dan Mesin

Keluarga pesawat Flanker adalah supermaneuverable — artinya direkayasa untuk melakukan manuver terkendali yang tidak mungkin melalui mekanisme aerodinamis reguler. Pada Su-35, ini sebagian dicapai melalui penggunaan mesin thrust-vectoring: nozel turbofan mesin Saturn AL-41F1S dapat secara independen mengarah ke arah yang berbeda dalam penerbangan untuk membantu pesawat dalam berguling dan mengoleng (menyimpang dari lintasan lurus). Hanya satu jet tempur operasional Barat yang memiliki teknologi serupa, yakni F-22 Raptor.

Ini juga memungkinkan Su-35 untuk mencapai sudut serangan yang sangat tinggi — dengan kata lain, pesawat bisa bergerak ke satu arah sementara moncongnya mengarah ke arah lain. Sudut serangan yang tinggi memungkinkan Su-35 lebih mudah menghajar target dengan rudalnya dan melakukan manuver yang sempit.

Manuver seperti itu mungkin berguna untuk menghindari rudal atau dogfighting pada jarak dekat — meskipun melakukannya akan menguras energi pesawat.

Flanker-E dapat mencapai kecepatan maksimum Mach 2,25 (2.778km/jam) pada ketinggian tinggi (lebih kurang sama dengan F-22 dan tapi lebih cepat daripada F-35 atau F-16) dan memiliki akselerasi yang sangat baik. Namun, berbeda dengan isu awal, Su-35 tampaknya tidak supercruise — melakukan penerbangan supersonik secara kontinyu tanpa menggunakan afterburner — saat muatan penuh. Ketinggian terbang maksimal pesawat ini adalah 60.000 kaki (16.288 meter), setara dengan F-15 dan F-22, dan sepuluh ribu kaki lebih tinggi daripada Super Hornet, Rafale, dan F-35.

Kapasitas bahan bakar Su-35 telah ditingkatkan, memberikannya jangkauan 2.200 mil (3.540 km) dengan menggunakan bahan bakar internal, atau 2.800 mil (4.506 km) dengan dua tangki bahan bakar eksternal. Baik airframe (badan pesawat) yang merupakan titanium ringan dan mesin memiliki usia pakai yang secara signifikan lebih lama dari pendahulunya, yakni masing-masing 6.000 dan 4.500 jam penerbangan, masing-masing. (Sebagai perbandingan, usia pakai airframe F-22 dan F-35 adalah 8.000 jam).

Airframe Flanker bukan berteknologi siluman tulen. Namun, penyesuaian pada kanopi dan inlet (lubang masuk) mesin, dan penggunaan bahan penyerap radar, diduga mengurangi radar cross-section Su-35; sebuah artikel bahkan mengklaim radar cross-section Su-35 mungkin turun menjadi antara satu dan tiga meter. Ini bisa menurunkan kemampuan musuh untuk mendeteksi dan menargetkan, tetapi tetap saja Su-35 bukan pesawat siluman.

Persenjataan

Su-35 memiliki dua belas hingga empat belas cantelan senjata, yang memberikannya kemampuan memuat senjata yang sangat baik dibandingkan F-15C dan F-22 yang delapan cantelan, atau empat rudal internal saja pada F-35.

Untuk target jarak jauh, Su-35 dapat menggunakan rudal-rudal yang dipandu radar K-77M (dikenal oleh NATO sebagai AA-12 Adder), yang diklaim dapat menjangkau target lebih dari 200 km.

Untuk serangan jarak pendek, rudal R-74 (sebutan NATO: AA-11 Archer) dipandu inframerah dengan melihat target melalui penglihatan optik-mount helm, pilot dapat menargetkan pesawat musuh naik enam puluh derajat dari lokasinya. R-74 memiliki jangkauan lebih dari 25 mil (40 km), dan juga menggunakan teknologi thrust-vectoring.

Rudal R-27 jarak menengah dan tambahan R-37 jarak jauh (alias AA-13 Arrow, untuk digunakan melawan pesawat AWAC, EW dan tanker) melengkapi ragam rudal udara ke udara yang melengkapi Su-35.

Selain itu, Su-35 dipersenjatai dengan kanon 30mm 150 putaran untuk memberondong atau dogfighting.

Flanker-E juga dapat membawa hingga 17.000 pon (7.711 kg) amunisi udara ke darat. Namun, secara historis Rusia membatasi penggunaan precision-guided munitions (PGM) dibanding angkatan udara Barat.

Sensor dan Avionik

Peningkatan paling penting Su-35 dari pendahulunya mungkin dalam perangkat keras. Su-35 dilengkapi dengan sistem penanggulangan elektronik L175M Khibiny yang kuat yang dimaksudkan untuk mendistorsi gelombang radar dan mengacaukan arah rudal musuh. Ini dapat secara signifikan menurunkan upaya musuh untuk menargetkan dan memukul Flanker-E.

Radar IRBIS-E passive electronically scanned array (PESA) dibekalkan pada Su-35 agar dapat memberikan kinerja yang lebih baik dalam menghadapi pesawat siluman. Radar PESA diklaim mampu melacak hingga tiga puluh target udara dengan Radar-cross section tiga meter hingga 250 mil (402 km) jauhnya - dan target dengan radar cross-sections kecil 0,1 meter lebih dari lima puluh mil (80 km) jauhnya. Namun, radar PESA lebih mudah dideteksi dan dijamming daripada radar Active Electronically Scan Array (AESA) yang sekarang digunakan oleh pesawat-pesawat tempur Barat. IRBIS juga memiliki mode udara ke darat yang dapat menitik hingga empat target permukaan pada satu waktu untuk PGM.

Melengkapi radar adalah sistem penargetan OLS-35 yang mencakup sistem Infra-Red Search and Track (IRST) yang disebutkan memiliki jangkauan 50 mil (80 km) - berpotensi memberikan ancaman signifikan pada pesawat siluman.

Sistem yang umum pada jet tempur tetapi vital — seperti multi-function display pilot dan avionik fly-by-wire — juga telah diperbarui secara signifikan.

Unit Operasional dan Pengguna di Masa Depan

Saat ini, Angkatan Udara Rusia hanya mengoperasikan 48 Su-35. Lima puluh lainnya dipesan pada Januari 2016, dan akan diproduksi dengan sebanyak 10 unit setiap tahun. Empat Su-35 dikerahkan ke Suriah Januari lalu setelah Su-24 Rusia ditembak jatuh oleh F-16 Turki. Bersenjata penuh dengan rudal udara-ke-udara, Su-35 dimaksudkan untuk mengirim pesan bahwa Rusia akan menimbulkan ancaman udara jika diserang.

China telah memesan dua puluh empat Su-35 dengan biaya $ 2 miliar, tetapi diperkirakan tidak akan membeli lebih banyak. Minat Beijing membeli Su-35 diyakini hanya karena ingin mengcopy mesin thrust-vector Su-35 untuk digunakan pada pesawat desainnya sendiri. Sebelum ini, China sudah mengoperasikan Shenyang J-11, yang merupakan copy dari Su-27.

Upaya untuk memasarkan Su-35 di luar negeri, terutama ke India dan Brasil, tampaknya telah kandas. Terakhir, Indonesia telah menyatakan niatnya membeli 11 unit, meskipun penandatanganan kontrak sempat tertunda beberapa kali. Aljazair dilaporkan mempertimbangkan akuisisi sepuluh Su-35 senilai $ 900 juta. Mesir, Venezuela, dan Vietnam juga merupakan pelanggan potensial.

Perkiraan harga per unit Su-35 adalah antara $ 40 juta dan $ 65 juta; Namun, untuk kontrak ekspor telah berada di harga lebih dari $ 80 juta per unit.

Melawan Pesawat Generasi Kelima

Su-35 setidaknya sama — jika bukan melebihi — kemampuan pesawat-pesawat tempur generasi empat Barat yang tercanggih. Pertanyaan besarnya, seberapa baik Su-35 untuk dihadapkan pada pesawat siluman generasi kelima seperti F-22 atau F-35?

Kemampuan manuver Su-35 membuatnya menjadi dogfighter yang tak tertandingi saat ini. Namun, pertempuran udara di masa depan menggunakan rudal terbaru (R-77, Meteor, AIM-120) dapat berpotensi terjadi pada jarak yang sangat jauh, bahkan untuk pertempuran jarak pendek dengan rudal seperti AIM-9X dan R-74 tidak lagi perlu untuk mengarahkan pesawat ke target. Meskipun demikian, kecepatan Su-35 (yang berkontribusi terhadap kecepatan rudal) dan kemampuan membawa muatan yang besar berarti Su-35 akan dapat mempertahankan kemampuannya sendiri dalam pertempuran jarak jauh. Sementara itu, kelincahan dan penanggulangan elektronik Flanker-E ini dapat membantu menghindari rudal lawan.

Masalahnya adalah kita tidak tahu seberapa efektif teknologi siluman bila berhadapan dengan lawan berteknologi tinggi. F-35 bila melakukan duel jarak dekat dengan Flanker-E maka akan berada dalam kesulitan besar - tapi seberapa baik kesempatan Flanker E untuk mendekati pesawat siluman itu yang perlu dicari tahu.

Sebagaimana kemampuan yang Angkatan Udara AS miliki, pesawat tempur siluman akan melepaskan rudal-rudal dari jarak seratus mil tanpa musuh memiliki cara untuk membalas tembakan sampai mereka berada jarak dekat, di mana visual dan IR scanning ikut bermain. Para proponen pesawat tempur Rusia berpendapat bahwa mereka dapat mengandalkan radar low-bandwidth berbasis darat, dan radar PESA dan sensor IRST on-board, untuk mendeteksi pesawat siluman. Namun, perlu diingat bahwa kedua teknologi ini kurang akurat untuk menargetkan senjata.

Kedua belah pihak jelas memiliki kepentingan ekonomi dan politik yang sangat besar untuk mengunggulkan produk mereka. Meskipun berguna untuk memeriksa teknis dari Su-35 dan pesawat tempur siluman, tapi jawaban pastinya hanya dapat diselesaikan dengan pertempuran yang sesungguhnya. Selanjutnya, faktor-faktor lain seperti aset pendukung, profil misi, pelatihan pilot dan jumlah juga memainkan peran besar dalam menentukan hasil dari pertarungan udara.

Sukhoi Su-35 mungkin adalah dogfighter terbaik yang pernah dibuat dan platform pengiriman rudal yang mumpuni — tetapi apakah itu cukup mengingat sekarang adalah era teknologi siluman? (ni/fr)