Minggu, Mei 02, 2021

Belanja Militer Dunia Naik Rp 29 Kuadriliun Meskipun Pandemi Covid-19

Militer China

Kelesuan ekonomi akibat wabah virus corona tidak menyurutkan rencana negara-negara di dunia meningkatkan anggaran pertahanan. Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI), melaporkan belanja militer global 2020, mencapai 2 triliun dollar AS (sekitar Rp 29 kuadriliun).

Sepanjang tahun lalu, anggaran pertahanan internasional tercatat sebesar 1,981 triliun dollar AS (sekitar Rp 28,7 kuadriliun), setelah naik sebanyak 2,6 persen dibandingkan 2019, menurut sumber DW Indonesia pada Senin (26/4/2021).

Lima negara dengan anggaran pertahanan terbesar adalah Amerika Serikat, China, India, Rusia, dan Inggris. Kelima negara mewakili sekitar 62 persen anggaran belanja militer di seluruh dunia. Terutama China mencatatkan kenaikan anggaran berturut-turut dalam 26 tahun terakhir.

"Kita bisa katakan bahwa pandemi tidak berdampak signifikan terhadap anggaran belanja pertahanan pada 2020," kata Stockholm di SIPRI. "Tapi, masih harus dilihat apakah negara-negara di dunia mempertahankan level belanja ini pada tahun kedua pandemi," imbuhnya.

Namun, tidak semua negara mencatatkan fenomena serupa.

Di Korea Selatan dan Chile, pemerintah menggeser sebagian anggaran pertahanan untuk membiayai penanggulangan pandemi Covid-19.

Sementara negara lain, terutama Brasil dan Rusia, membelanjakan lebih sedikit ketimbang yang dianggarkan pada 2020.

AS saat ini memimpin daftar negara dengan anggaran militer terbesar. Pada 2020, militer AS mendapat anggaran sebesar 778 miliar dollar AS (sekitar Rp 11,3 kuadriliun), atau meningkat sebanyak 4,4 persen dari 2019.

Ini merupakan tahun ketiga, di mana AS menambah anggaran pertahanan tahunannya, terutama di masa kepresidenan Donald Trump.

Adapun belanja pertahanan China yang terbesar kedua di dunia, diperkirakan mencapai 252 miliar (sekitar Rp 3,6 kuadriliun) pada 2020 silam.

Menurut SIPRI, sejak 2011, anggaran militer China meroket sebesar 76 persen, sebagai bagian dari upaya Beijing memodernisasi sistem persenjataannya.

Data SIPRI


Ekspansi NATO

Saat ini anggaran pertahanan China jauh lebih tinggi ketimbang Rusia yang sebesar 61,7 miliar dollar AS (sekitar Rp 895,2 triliun), Inggris dengan 59,2 milliar dan Arab Saudi yang menganggarkan 57,5 miliar dollar AS (sekitar Rp 834,3 triliun) pada tahun lalu.

Jerman yang menaikkan anggaran pertahanan sebesar 5,2 persen menjadi 52,8 miliar dollar AS (sekitar Rp 766,1 triliun) pada 2020, berada di atas Perancis di posisi ketujuh.

Jerman yang sejak lama didesak untuk mengimbangi ambang batas belanja militer NATO sebesar 2 persen dari APBN, tercatat sudah menaikkan anggaran sebesar 28 persen sejak 2011.

"Kita menyaksikan tren kenaikan anggaran militer di Jerman sudah sejak beberapa tahun terakhir," kata Alexandra Marksteiner, salah seorang peneliti SIPRI.

"Menurut data kami, Jerman mulai menaikkan lagi anggaran militernya baru sejak 2014," kata SIPRI, hampir semua negara NATO menambah anggaran pertahanan pada 2020.

Saat ini, sebanyak 12 negara anggota NATO membelanjakan lebih dari 2 persen anggaran tahunan untuk keperluan militer.

Pada 2019, hanya 9 negara yang memenuhi ambang batas tersebut.

Namun menurut da Silva, kenaikan prosentase anggaran bisa diakibatkan menyusutnya produk domestik brutto karena pandemi virus corona, ketimbang komitmen untuk memenuhi target belanja pertahanan NATO.

Tren kenaikan anggaran belanja militer pada negara NATO akan terus berlanjut, kata Niklas Schornig, peneliti konflik Jerman. 

"Setidaknya di bawah pemerintahan Biden, tekanan terhadap negara sekutu untuk menaikkan anggaran pertahanan tidak akan mengendur," ucapnya.

Laporan tahunan SIPRI menyimpan koleksi paling lengkap seputar belanja alutsista dan pertahanan di seluruh dunia.

Resources
  • Kompas

Menengok Anggaran Alutsista Kemenhan di Bawah Pimpinan Prabowo

Prabowo dan F-16

Musibah tenggelamnya KRI Nanggala 402 yang menyebabkan 53 awak kapal selam tersebut gugur menjadi pukulan bagi Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Hal tersebut sekaligus menjadi evaluasi bagi pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) di dalam negeri.

Anggota Komisi I DPR Syaifullah Tamliha menuturkan, saat ini hampir seluruh alutsista yang dimiliki Indonesia merupakan pembelian atau hibah negara asing di masa lalu.

Dengan demikian, anggaran TNI lebih banyak digunakan untuk pemeliharaan alutsista alih-alih pembelian baru, khususnya alutsista Angkatan Laut dan Angkatan Udara.

Syaifullah Tamliha berpendapat, pemerintah sebaiknya membeli alutsista yang baru sehingga beban anggaran tiap tahunnya tidak terkuras untuk pemeliharaan alutsista yang telah usang.

"Agar musibah yang menewaskan putra-putri terbaik bangsa tersebut jangan terus berulang, maka ada baiknya alutsista yang tidak jelas pemeliharaan tersebut diparkir saja menjadi museum," ujar Syaifullah dilansir Kompas.com, Senin (26/4/2021).

Lalu, sebenarnya seberapa besar anggaran Kementerian Pertahanan? Kemudian berapa porsi anggaran untuk pengadaan alutsista oleh kementerian yang dipimpin Prabowo Subianto itu?

Anggaran 2021
Berdasarkan Buku III Himpunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA/KL) Tahun Anggaran 2021, pagu anggaran Kemenhan tahun 2021 ini mencapai Rp 136,995 triliun. Jumlah tersebut meningkat bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2020 lalu yang mencapai Rp 117,909 triliun.

Anggaran Kemenhan pun tercatat terus meningkat sepanjang tahun sejak tahhun 2016 hingga tahun 2019. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan, untuk anggaran tahun 2020 yang sebesar Rp 117,909 triliun, jumlah tersebut lebih rendah Rp 383,75 miliar dari pagu anggaran awal karena terjadi realokasi untuk penanganan pandemi Covid-19.

Dari total jumlah anggaran tersebut, Kemenhan mengalokasikan sebagian untuk alutsista.

Berdasarkan rincian anggaran belanja Kementerian Negara/Lembaga Per program pada tahun 2020, Kemenhan mengalokasikan anggaran untuk program modernisasi alutsista/non-alutsista/sarana dan prasarana integratif Rp 1,01 triliun, program modernisasi alutsista dan non alutsista/sarana dan prasarana matra darat Rp 5,06 triliun, matra laut Rp 2,77 triliun, dan matra udara Rp 2,19 triliun.

Sementara tahun 2021 ini, dengan total anggaran sebesar Rp 136,995 triliun jumlah anggaran yang dialokasikan untuk alutsista mengalami peningkatan.

Bila tahun lalu anggaran terkait alutsista hanya untuk modernisasi, tahun ini pemerintah mengalokasikan anggaran untuk dukungan pengadaan alutsista sebesar Rp 9,305 triliun.

Rincian Per Matra
Sementara itu untuk anggaran modernisasi dan harwat alutsista rinciannya sebagai berikut:
  1. TNI AD sebesar Rp 2,651 triliun untuk pengadaan material dan alutsista strategis, dan untuk perawatan alutsista Arhanud, overhaul pesawat terbang, dan heli angkut sebesar RP 1,236 triliun.
  2. TNI AL sebesar Rp 3,751 triliun antara lain pengadaan kapal patroli cepat, dan peningkatan pesawat udara matra laut serta Rp 4,281 triliun untuk pemeliharaan dan perawatan alutsista dan komponen pendukung alutsista.
  3. TNI AU sebesar Rp 1,193 triliun antara lain untuk pengadaan Penangkal Serangan Udara (PSU) dan material pendukung, serta pemeliharaan dan perawatan pesawat tempur senilai Rp 7,004 triliun.
Resources
  • Kompas

Sabtu, Mei 01, 2021

Pindad Cobra: Panser Sesuai Kebutuhan Infanteri TNI AD

Cobra Pindad

Pindad Cobra. Kendaraan tempur jenis panser ini, adalah hasil kerjasama antara PT. Pindad dengan perusahaan asal Czech, Excalibur Army Group dari CzechoSlovak Group. Kendaraan tempur ini sudah datang dari Czech (Ceko) sejak 4 Februari 2020. Dalam hal ini PT. Pindad dan Kementerian Pertahanan sepakat membuat pengadaan kendaraan tempur senilai 80 juta dolar AS untuk memasok 22 unit kendaraan tempur.

Pesanan ini diperuntukkan untuk Batalyon Infantri Mekanis (Yonifmek). Yonifmek sendiri adalah pasukan Infanteri yang termekanisasi yang dibekali dengan pengangkut personel lapis baja (APC) atau kendaraan tempur infanteri (IFV) sebagai kendaraan pengangkut personel untuk tempur. Beberapa satuan di luar Jawa juga mulai dilengkapi dengan ranpur Anoa untuk menunjang tugas pokoknya, seperti Yonif Mekanis 113/Jaya Sakti di Kodam Iskandar Muda, Yonif Raider Khusus 134/Tombak Sakti di Kodam I/Bukit Barisan dan Yonif Raider Khusus 744/Satya Yudha Bhakti di Kodam IX/Udayana.

Bila menilik lebih lanjut, kerjasama dengan Czech ini sebenarnya menguntungkan Indonesia. Hal ini karena Excalibur Army Group, memberikan kemudahan produksi panser buatannya dengan memberikan Transfer of Technology (ToT) kepada PT. Pindad, sehingga PT. Pindad dapat meracik spek khusus yang disesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan Yonifmek TNI AD sebagai pengguna. Jadi PT. Pindad bisa melakukan eksplorasi lebih dalam untuk pengembangan dari panser buatan Czech ini.

Cobra Pindad

Bicara soal spesifikasi, panser Cobra ini memiliki beberapa spesifikasi yang mumpuni. Berikut ini akan kita bahas satu per satu:

Kubah tempur tanpa awak U30 MK II buatan Elbit System
Elbit System sendiri adalah perusahaan yang mengkhususkan diri dalam pembuatan kendaraan dan alat tempur asal Israel.

Menggunakan Kanon Kaliber 30 mm Bushmater MK 44
Kanon kaliber ini dibuat oleh Northrop Grumman, perusahaan asal Amerika yang memiliki beberapa divisi perusahaan, dari mulai penerbangan sampai dengan penyediaan alat tempur.

Senjata Sekunder buatan PT. Pindad
Untuk senjata sekundernya, dilengkapi dengan SMS 7,62 mm buatan dari PT. Pindad sendiri.

Kapasitas yang luas
Bicara soal kapasitas, kendaraan tempur Cobra ini dapat diawaki tiga orang, yakni komandan, pengemudi dan juru senjata. Untuk kabin belakang dapat menampung hingga delapan pasukan bersenjata lengkap dengan muatan bawaan mencapai 8,5 ton.

Dimensi yang kompak
Untuk ukuran dimensi, kendaraan tempur ini memiliki panjang 7,5 m, lebar 2,67 m dan tinggi 2,1 m. Bobot tempurnya sendiri mencapai 17,6 ton, namun dengan tambahan add-on armor menjadi 22 ton.

Proteksi tambahan
Untuk bagian luar dari kendaraan tempur cobra menggunakan add-on passive armour buatan Rafael, Israel. Lapisan ini mampu menahan laju munisi SMB kaliber 14,5 mm. Bagian bawah lambung Cobra dilapisi SSAB ARMOX 500 yang sanggup bertahan dari ranjau darat dan IED. Rafael ini seperti PT. Pindad yang menyediakan kebutuhan alat tempur negaranya.

Cobra Pindad

Memiliki Pemecah Gelombang
Pada bagian depan, kendaraan tempur ini dilengkapi dengan perisai pemecah gelombang air/ombak.

Spesifikasi Mesin
Untuk mesin, mesin diesel Cummins EURO III berdaya 455 hp. Kendaraan dapat melaju di jalan datar keras dengan kecepatan mencapai 105 km/jam dan kecepatan berenang di air pada 10 km/jam. Sementara untuk jangkauan operasi, Pandur II CZ mampu menjelajah hingga 700 km.

Sistem Penglihatan Malam
Pada bagian palka pengemudi juga telah dipasangi sistem penglihatan malam CDND-1. CDND-1, Combined Day/Night Day terdiri dari dua prisma yang dipotong dari kaca optik khusus untuk bidang pandang yang ekstra luas yang dilengkapi dengan filter anti-laser untuk panjang gelombang 800, 900, 1064, 1540 nm. (KKIP)

Menhan Siapkan 3 Kapal Selam Baru untuk TNI AL

KRI Nanggala 402
Banner Infografis Hilangnya Kapal Selam KRI Nanggala 402. (Kredit: Handout/Indonesia Military/AFP)


Tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala-402 di perairan laut Bali menyisakan duka mendalam bagi seluruh masyarakat Indonesia. Khususnya bagi kalangan TNI Angkatan Laut (AL) dan juga para keluarga 53 awak personel onboard yang ditinggalkan.

Insiden tenggelamnya kapal selam ini membuat Menteri Pertahanan (Menhan) Indonesia Prabowo Subianto mengambil langkah cepat. Prabowo berencana membeli kapal selam baru untuk menggantikan KRI Nanggala 402. Berikut ulasannya.

Ada 3 Kapal Selam
Menhan Prabowo Subianto akan segera membeli 3 buah kapal selam untuk TNI AL. Hal ini  dilakukan untuk menggantikan kapal selam KRI Nanggala 402 yang tenggelam pada Sabtu (24/4) lalu di perairan laut utara Bali.

"Kita baru ada ngadakan tiga kapal selam baru, dari Korea Selatan," ucap Prabowo Subianto dalam siaran pers seperti yang terlihat dalam tayangan unggahan saluran Youtube Metrotvnews.

Sudah Lakukan Uji Coba
Tak hanya itu, Prabowo Subianto juga menjelaskan bahwa pihaknya sudah melakukan uji coba. Ia mengatakan uji coba tersebut akan terus dilakukan demi mengetahui kemampuan kapal selam.

"Masih terus diadakan uji coba," jelas Prabowo dalam siaran pers.

Penambahan Kapal Selam
Lebih lanjut, Prabowo juga membenarkan bahwa Indonesia memiliki sebuah rencana untuk menambah kapal selam. Hal tersebut dilakukan sejak insiden KRI Nanggala 402 mengalami subsunk ketika beroperasi di perairan laut Utara Bali.

"Dan terus memang kita rencananya akan tambah kapal selam. Rencana kita memang terus mengadakan penambahan kapal selam," ungkap dia. [bil]

Jumat, April 30, 2021

Pesawat Raksasa Stratolaunch Terbang Untuk Kedua Kalinya

Stratolaunch
Pesawat Stratolaunch lepas landas untuk uji terbang keduanya. (Kredit: Stratolaunch)

Pesawat Stratolaunch lepas landas dari Mojave Air and Space Port dua tahun setelah penerbangan perdananya.

Stratolaunch, pesawat dengan enam mesin Jet yang memiliki rentang sayap terbesar di dunia, baru saja diluncurkan dari Mojave Air and Space Port, California, Amerika Serikat, untuk melakukan penerbangan keduanya.
“We are airborne”, akun resmi Stratolaunch men-tweet pada 14.32 waktu setempat pada 29 April 2021, memposting video pesawat, yang dijuluki "Roc", saat meluncur di landasan untuk kemudian mengudara.

Penerbangan kedua dari pesawat terbesar di dunia ini berlangsung sekitar 3 jam 15 menit dan terjadi kurang lebih 2 tahun setelah Stratolaunch Launch Systems Stratolaunch Aircraft Carrier, terbang untuk pertama kalinya pada 13 April 2019. Saat itu, pesawat melakukan uji terbang inisialisasi awal yang berlangsung selama 2,5 jam mencapai ketinggian maksimum 17.000 kaki (5.181 m) dan kecepatan tertinggi 189 MPH (304 km/jam) sebelum akhirnya mendarat.
Perusahaan Stratolaunch didirikan oleh Paul G. Allen, mantan mitra Bill Gates di Microsoft, yang meninggal beberapa bulan sebelum penerbangan pertama pesawat, pada Oktober 2018.

Pesawat Stratolaunch ditujukan fungsinya untuk membawa pesawat ruang angkasa ke ketinggian tertentu untuk dilepas-jatuhkan dan kemudian terbang ke orbit dengan power-nya sendiri. Berdasarkan Stratolaunch Launch Systems, Stratolaunch dapat membawa muatan hingga 500.000 pound atau 250 ton.

Stratolaunch raksasa memiliki rentang sayap terbesar di dunia yakni 117,3 meter, jauh lebih besar dari pemegang rekor sebelumnya, pesawat kargo angkut berat Antonov An-225 “Mriya”. Stratolaunch didukung oleh enam mesin jet Pratt & Whitney PW4000 super besar yang sebelumnya digunakan pada Boeing 747 yang hanya menggunakan empat mesin.

Stratolaunch

Namun, tak lama setelah penerbangan pertama, isu bahwa Stratolaunch akan ditutup mulai muncul secara online. Perusahaan, menghadapi masalah keuangan yang serius, dijual dan pesawat raksasa itu tampaknya ditakdirkan untuk bernasib sama dengan Hughes H-4 Hercules yang gagal, atau "Spruce Goose" yang melakukan penerbangan satu-satunya pada tahun 1947. Namun, di bawah pemilik baru, yang sekarang berencana untuk menggunakan pesawat raksasa itu sebagai platform peluncuran untuk kendaraan penelitian penerbangan hipersonik yang reusable, Stratolaunch Carrier Aircraft telah berhasil menyelesaikan uji terbang kedua, dan lebih banyak lagi mungkin akan menyusul dalam beberapa bulan ke depan, membuka jalan untuk penggunaan Stratolaunch sebagai platform peluncuran untuk kendaraan hipersonik yang beroperasi penuh. (fr)

Selasa, Oktober 13, 2020

Kapal Bersayap Lun: Mesin Perang Raksasa Soviet yang Terbuang

Lun

Tak terlihat radar dan cepat, kapal bersayap ini telah menjadi mesin perang yang tangguh sebelum dibuang untuk selamanya.

Bloger Rusia Vitaliy Raskalov baru-baru ini menemukan ekranoplan (kendaraan efek tanah [ground-effect vehicle]) —  sebuah kendaraan menyerupai pesawat terbang, tetapi beroperasi atas efek tanah — buatan Soviet. Monster perang Soviet itu terlantar di pantai Laut Kaspia, Dagestan, Rusia.

“Ekranoplan  berbaring pada perutnya di pantai liar dan terendam air karena rusak ketika pengangkutan (ke lokasinya saat ini). Saya berharap ekranoplan Lun, satu-satunya dari jenisnya, akan tetap utuh dan tidak akan dihancurkan oleh para penjarah,” tulis sang bloger di akun Instagram-nya.


Karena desainnya yang sangat tidak biasa, pengikut Raskalov membandingkan kapal bersayap itu dengan pesawat luar angkasa asing.

Lun memang terlihat tidak biasa. Perawakannya sangat besar — panjangnya 74 meter dan tingginya 19 meter. Mesin perang raksasa ini didukung oleh delapan mesin turbojet dan dilengkapi dengan enam rudal jelajah antikapal. Saat masih digunakan, kecepatan jelajahnya bisa mencapai 550 km/jam, tingkat yang tak tertandingi oleh kapal-kapal berat lain yang ada.


Intinya, Lun adalah hibrida antara kapal dan pesawat: pesawat apung yang dihasilkan menggunakan sayap untuk menciptakan tekanan di bawah tubuhnya dan mengangkatnya ke ketinggian minimal (hanya beberapa meter), cukup untuk terbang di atas permukaan air, es, atau bahkan tanah datar. Sejalan dengan itu, pesawat bisa mendarat di ketiga permukaan itu tanpa landasan pacu.

Tujuan utama dari pesawat semacam itu adalah untuk menggunakannya dalam pertempuran melawan kapal induk musuh, karena diasumsikan bahwa kemampuan kapal bersayap untuk terbang rendah dengan permukaan air atau tanah akan memungkinkannya untuk menghindari sistem radar musuh.

Lun

Monster perang ini dirancang oleh Biro Desain Hidrofoil Pusat Alekseyev Soviet pada 1980-an. Satu-satunya pesawat bersayap dari jenisnya ini resmi mengudara pada 1986, tiga tahun setelah biro tersebut mulai mengerjakan pesawat tersebut.

Setelah peluncuran, kapal bersayap unik itu dipindahkan ke Armada Kaspia Angkatan Laut Soviet untuk uji coba di lapangan. Namun, runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1991 membuat para perancang dan militer lengah. Tes dihentikan, kapal bersayap itu dicampakkan dari ketentaraan dan ditarik ke Kota Derbent di Dagestan, Rusia.

Video di bawah ini menunjukkan seberapa besar ekranoplan Lun dibandingkan dengan kapal yang digunakan untuk menurunkannya ke lokasi saat ini.


Awalnya, Lun akan digunakan sebagai barang pameran di taman masa depan. Namun, karena rencana tersebut direvisi, sejak saat itu mesin perang raksasa terlantar tanpa pengawasan di pantai Laut Kaspia, sebagaimana yang dikatakan Raskalov. (Russia Beyond)

Sabtu, Juli 18, 2020

MiG dan Sukhoi Bersama-sama Kembangkan Jet Tempur Generasi Keenam Rusia

Ilustrasi pesawat tempur generasi keenam Rusia
Ilustrasi pesawat tempur generasi keenam Rusia

Perusahaan MiG dan Sukhoi bersama-sama akan mengembangkan pesawat tempur generasi keenam Rusia, Ilya Tarasenko, direktur jenderal MiG dan Sukhoi, mengutip laman RIA Novosti.

"Pesaing kami adalah pabrikan pesawat Amerika dan Eropa. Dan untuk mempertahankan kepemimpinan yang kuat dalam industri ini, kami perlu mengkonsolidasikan kompetensi terbaik yang ada saat ini di MiG dan Sukhoi dan menciptakan pesawat generasi keenam baru. Menggabungkan kemampuan adalah peluang luar biasa untuk membuat terobosan besar. Perusahaan asing tidak lagi memiliki peluang seperti itu," kata Tarasenko.

Menjawab pertanyaan apakah pesawat generasi keenam Rusia nantinya merupakan  pengembangan bersama MiG dan Sukhoi, Tarasenko menjawab dengan tegas. "Ya, itu akan menjadi pengembangan divisi penerbangan militer UAC," jelasnya.

UAC atau United Aircraft Corporation adalah perusahaan penerbangan dan ruang angkasa Rusia. Dengan saham mayoritas milik Pemerintah Rusia, Rusia mengkonsolidasikan perusahaan manufaktur dan aset milik swasta dan milik negara Rusia yang terlibat dalam pembuatan, desain, dan penjualan pesawat militer, sipil, transportasi, dan tak berawak.

Saat ini di Rusia, produksi massal pesawat tempur Su-57 generasi kelima telah dimulai. Pesawat pertama harus sudah diterima Angkatan Udara Rusia tahun ini.

Ilya Tarasenko menerima jabatan sebagai CEO Sukhoi pada Februari tahun ini. Dengan demikian, ia merangkap tiga posisi - selain Sukhoi, Tarasenko memimpin perusahaan MiG, dan juga bertanggung jawab untuk pemasaran dan kerja sama militer-teknis di United Aircraft Corporation.

Baca juga: Rusia Berencana Ekspor Massal Su-57 dan Masuk Pasar Drone Tempur

Mesin hidrogen NK-88 membuka cakrawala baru bagi jet tempur generasi ke-6 Rusia

Pesawat generasi kelima Rusia saat ini sudah terbang, tetapi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak berhenti, sehingga semakin banyak informasi yang muncul tentang pengerjaan proyek-proyek pesawat generasi ke-6. Tetapi agar sebuah pesawat generasi keenam muncul, sebuah mesin baru yang fundamental harus muncul terlebih dahulu.

Saat ini, dunia penerbangan sedang ditantang untuk menciptakan mesin baru yang tidak hanya efektif di atmosfer, tetapi juga memiliki kemampuan untuk pergi ke luar angkasa.

Karena mesin atmosfer yang ada saat ini tidak dapat melakukannya, para ilmuwan kemudian secara aktif mengembangkan hibrida dari mesin roket dan pesawat terbang. Istilah untuk ini adalah mesin hidrogen. Jika mesin hidrogen sukses, penerbangan kriogenik akan segera hadir, dan Rusia akan menjadi yang terdepan untuk konstruksi pesawat terbang generasi keenam.

Penerbangan kriogenik tampak fantastis dan mungkin terkesan mengada-mengada dan sepertinya tidak mungkin tercapai. Tetapi ingatlah fakta bahwa lebih dari 30 tahun yang lalu, Uni Soviet telah menguji pesawat Tu-155 dengan menggunakan mesin hidrogen NK-88.

Pengembangan dan penelitian yang diperoleh sebagai hasil pengujian dari mesin hidrogen NK-88 sebelumnya diletakkan sebagai dasar untuk pengembangan mesin hipersonik.

Sayangnya, runtuhnya Uni Soviet juga turut meruntuhkan proyek-proyek tersebut. Tetapi beban penelitian di masa lalu tetap ada dan belum menghilang, para insinyur Rusia saat ini masih dapat memanfaatkan pencapaian insinyur-insinyur sebelumnya.

Saat ini Rusia secara signifikan lebih banyak berinvestasi dalam pengembangan dan industri pertahanan, dan oleh karena itu ada kemungkinan besar bahwa pengerjaan mesin baru telah lama Rusia dilakukan.

Bisa jadi Rusia setelah ini akan mengumumkan tentang mesin barunya, siapa tahu, mengingat contoh serupa Rusia yang mengumumkan telah berhasil mengembangkan rudal hipersonik.

Baca juga: Rusia Tampilkan Rudal Hipersonik pada MiG-31

Pesawat pembom siluman generasi ke-6 Rusia

Ketika pesawat tempur generasi kelima Su-57 sudah masuk fase produksi dalam jumlah yang jauh lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya, muncul pula laporan pada akhir 2019 lalu bahwa perusahaan pertahanan Rusia juga sedang berfokus pada pengembangan pesawat pembom siluman "generasi keenam."

CEO Tupolev Alexander Konyukhov kala itu mengatakan bahwa ada rencana besar ke depan untuk pengujian dan lebih lanjut mengembangkan pesawat Tu-22M3M, Tu-160 dan Tu-95MS hasil upgrade bersama dengan pekerjaan besar untuk pesawat pembom baru PAK-DA.

Kantor berita Rusia melaporkan bahwa PAK-DA, akan menjalani pengujian awal di Zhukovsky Center. Menurut Wakil Menteri Pertahanan Yuri Borisov, prototipe pertama PAK DA diharapkan selesai pada 2021-2022, penerbangan perdananya dijadwalkan pada 2025-2026, dan pengiriman serial akan dimulai pada 2028-2029.

Jangka waktu yang masih lama ini harus membuat Rusia menjamin pertahanannya dengan memanfaatkan seluruh alutsista mulai dari S-500 hingga Su-57. Sebelum PAK-DA, Rusia tidak lagi mengembangkan pesawat pembom sejak era Uni Soviet.

Pesawat-pesawat pembom strategis dan berkemampuan nuklir Rusia yang ada saat ini seluruhnya merupakan desain era Uni Soviet. PAK-DA akan menggunakan desain yang benar-benar baru.

Saat ini sangat sedikit yang diketahui dari spesifikasi konkret PAK-DA. Namun analisis pertahanan Rusia menyebutkan bahwa kemungkinan jangkauan operasionalnya 12.000 kilometer, dengan muatan hingga 30 ton, dan kecepatan penerbangan subsonik.

Fakta terakhir ini menunjukkan bahwa PAK-DA lebih mengutamakan kemampuan silumannya ketimbang kecepatannya. Dengan pengetahuan saat ini, hampir mustahil untuk membuat pesawat pembom yang membawa banyak rudal yang berkemampuan siluman tapi juga memiliki kecepatan supersonik. Inilah sebabnya mengapa Rusia fokus pada kemampuan silumannya.

PAK-DA akan membawa rudal dengan kecerdasan buatan dengan jangkauan hingga 7.000 km. Rudal semacam itu dapat menganalisis situasi radar udara dan radio dan menentukan arah, ketinggian, dan kecepatannya. Rusia mengklaim sedang bekerja mengembangkan rudal itu.

Rudal-rudal pintar ini, yang konon dapat mengubah target di tengah penerbangannya dan menyesuaikan jalur penerbangan mereka secara mandiri untuk menghindari radar, sedang dikembangkan Rusia. Dan mengingat bahwa PAK-DA mengandalkan kemampuan silumannya, maka hampir pasti rudal itu akan disimpan di ruang senjata internalnya.

PAK-DA disebut-sebut sebagai pengganti Tu-160 dan Tu-22M3, tetapi tampaknya tidak akan diproduksi dalam jumlah besar untuk menjadikannya sebagai tulang punggung kekuatan pembom strategis Rusia.

Rusia pernah mengatakan bahwa pembom Tu-160 dan Tu-22 akan tetap mereka gunakan di masa depan, karena keduanya masing-masing telah mendapatkan upgrade avionik, kualitas hidup, dan perlengkapan persenjataan baru lainnya.

Sebaliknya, tampaknya PAK-DA lebih dirancang untuk mengisi ceruk konflik nuklir intensitas tinggi, untuk penetrasi dalam terhadap sistem pertahanan udara canggih dunia.

Baca juga: 7 Pesawat Pembom Terbaik di Dunia

Pesawat generasi keenam Amerika Serikat

Pada awal Juni lalu, media internet melaporkan bahwa militer AS mulai menguji pesawat baru rahasia di atas Gurun Mojave, yang menurut majalah The Drive Amerika, bisa menjadi musuh ideal untuk sistem pertahanan udara Rusia.

Menurut publikasi The Drive, pesawat seperti itu sudah muncul dalam bingkai fotografi biasa. Namun beberapa hari lalu, mereka berhasil melakukan tes penuh, yang jelas menunjukkan bahwa militer AS sudah mendekati fase tes penerbangan prototipe.

"Di Amerika Serikat di atas gurun Mojave (California), pengujian sistem pesawat rahasia sedang dilakukan, yang dapat membuatnya kebal terhadap rudal Rusia. Kita berbicara tentang dua pesawat, Model 401 dan Proteus, yang terbang bersama pesawat tempur F-15D NASA dan pesawat tanker KC-10. Pada bagian belakang Model 401, terlihat belah ketupat (mungkin radar tersembunyi atau beberapa sensor), dan sistem elektro-optik tertentu dipasang pada Proteus," kata majalah itu.

Jurnalis percaya bahwa kedua pesawat itu tidak berawak dan dikendalikan oleh F-15D NASA, media Rusia melaporkan mengutip The Drive.

Jika argumen para jurnalis itu benar, maka tes tersebut mungkin mengindikasikan bahwa Amerika Serikat hampir membuat pesawat tempur generasi keenam, karena yang terakhir diposisikan sebagai kendaraan udara tak berawak dengan semua kemampuan pesawat tempur penuh.

Baca juga: X-47B, UAV Tempur Siluman Amerika Serikat

Jet tempur generasi keenam Eropa

Menurut laman La Stampa Italia, Italia akan bergabung dalam program pesawat tempur generasi keenam Tempest Inggris.

Italia sedang mencari jet tempur canggih untuk menggantikan armada Eurofighter Typhoon Angkatan Udara mereka di masa depan.

Program Tempest diumumkan selama Farnborough International Airshow 2018. Pemerintah Inggris, melalui Kementerian Pertahanan, telah mengalokasikan 2 miliar pound (2,3 miliar euro) untuk pengembangan awal pesawat tempur generasi keenam tersebut.

Tempest ditujukan untuk menggantikan pesat tempur Typhoon Angkatan Udara Kerajaan Inggris pada tahun 2035 dan untuk bersaing dengan program pesawat tempur generasi baru Prancis-Jerman yang diumumkan selama International Paris Air Show - Le Bourget pada 12 Juli 2017 oleh Angela Merkel dan Emmanuel Macron.

Baca juga: Inggris Perkenalkan Model Jet Tempur Baru "Tempest"

Italia telah menyatakan minatnya sejak program Tempest diumumkan, tetapi sejauh ini negara itu belum pernah merumuskan perjanjian mengenai program tersebut, meskipun beberapa perusahaan Italia bekerja pada proyek itu.

Keanggotaan Italia dalam program Tempest akan membawa beberapa manfaat juga bagi industri Italia karena Leonardo Italia terlibat dalam proyek Inggris itu bersama dengan BAE Systems, Rolls Royce dan MBDA.

Rabu, Juli 15, 2020

Boeing akan Bangun Jet Tempur F-15EX Baru untuk Angkatan Udara AS

F-15EX
Ilustrasi F-15EX dari Boeing

Raksasa penerbangan AS Boeing Company telah menerima kontrak senilai 1,2 miliar dolar AS pada bulan Juli untuk mulai membangun delapan jet tempur F-15EX pertama.

Kontrak menugaskan Boeing untuk membuat desain, pengembangan, integrasi, pembuatan, pengujian, verifikasi, sertifikasi, pengiriman, pemeliharaan, dan modifikasi pesawat F-15EX, termasuk suku cadang, peralatan pendukung, materi pelatihan, data teknis, dan dukungan teknis.

Menariknya, F-15EX akan menggantikan F-15C/D tua Angkatan Udara Amerika Serikat. Delapan pesawat F-15EX disetujui dalam anggaran tahun anggaran 2020 dan 12 lainnya diminta dalam anggaran tahun fiskal 2021. Angkatan Udara AS berencana untuk membeli total 76 pesawat F-15EX selama kurun 5 tahun sesuai program Future Years Defense Program.

"F-15EX adalah cara yang paling terjangkau dan segera untuk menyegarkan kapasitas dan memperbarui kemampuan yang disediakan oleh armada F-15C/D kami yang sudah tua,” kata Jenderal Mike Holmes, komandan Air Combat Command. "F-15EX siap bertarung segera setelah melewati garis."

Pekerjaan untuk F-15EX ini akan dilakukan di St. Louis, Missouri; dan di Pangkalan Angkatan Udara Eglin, Florida, dan diperkirakan akan selesai pada 31 Desember 2023, menurut siaran pers yang dipublikasikan Senin oleh Departemen Pertahanan AS.

F-15EX adalah pesawat tempur dua kursi dengan kemampuan khusus. Pesawat ini memiliki daya angkut besar dan mampu membawa banyak senjata canggih. F-15EX baru nantinya juga akan membutuhkan pelatihan transisi minimal untuk memastikan kelanjutan misi Angkatan Udara AS.

Baca juga: Kala Itu Seorang Pilot F-15 Menembak Jatuh Satelit

F-15EX
Ilustrasi F-15EX dari Boeing

"Ketika sudah diterima, kami berharap pangkalan yang saat ini mengoperasikan F-15 untuk melakukan transisi ke platform EX baru dalam hitungan bulan," kata Holmes.

Perbedaan paling signifikan antara F-15EX dan F-15 standar terletak pada arsitektur Open Mission Systems (OMS). Arsitektur OMS akan memungkinkan penyisipan cepat teknologi pesawat terbaru. F-15EX juga akan memiliki kontrol penerbangan fly-by-wire, sistem peperangan elektronik baru, sistem kokpit canggih, dan sistem misi terbaru dan kemampuan perangkat lunak yang tersedia untuk F-15 yang lama.

Baca juga: F-15 Eagle: Jet Tempur Tua dengan Sejarah Tempur Mengesankan

"Tulang punggung digital, arsitektur OMS, dan kapasitas muatan yang besar dari F-15EX sangat sesuai dengan visi kami untuk peperangan di masa depan," kata Dr. Will Roper, asisten sekretaris Angkatan Udara untuk Akuisisi, Teknologi, dan Logistik. “Sistem yang terus ditingkatkan, dan bagaimana mereka berbagi data antara Angkatan, sangat penting untuk mengalahkan ancaman lanjutan. F-15EX dirancang untuk berkembang sejak hari pertama. "

Delapan pesawat F-15EX pertama akan ditempatkan di Pangkalan Angkatan Udara Eglin, Florida, untuk mendukung upaya pengujian. Pengiriman dua pesawat pertama dijadwalkan untuk kuartal kedua tahun fiskal 21. Enam pesawat sisanya dijadwalkan untuk dikirim di tahun fiskal 23. Angkatan Udara AS menggunakan Strategic Basing Process untuk menentukan lokasi untuk lot pesawat berikutnya.

Senin, Juli 13, 2020

Jerman Luncurkan Tank Challenger 2 Versi Upgrade

Tank Challenger 2

Muncul sebuah video versi baru dari tank tempur utama (MBT) Challenger 2 Inggris dari laman Youtube pabrikan pertahanan jerman Rheinmetall Defense pada 10 Juli lalu.



Angkatan Darat Kerajaan Inggris berencana untuk terus menggunakan tank Challenger 2 setidaknya sampai tahun 2035. Pada tahun 2013 Inggris memulai program modernisasi pada tank ini. Program ini ditugaskan kepada BAE Systems cabang Inggris dan Rheinmetall Jerman sektor darat.

Pada tahun 2018, BAE Systems memperkenalkan versi tank Challenger 2 upgrade yang dijuluki Black Night. BAE Systems memutuskan untuk hanya melakukan perubahan kecil, dengan menekankan pada penggantian sistem kontrol tembak dan peralatan komunikasi. Lambung, turet (kubah), dan mesin tank tetap sama.

Tapi Jerman fokus pada perbuahan lain: dalam proyek ini diusulkan untuk menggunakan turet yang sama sekali baru, yang mampu mengakomodasi perangkat kontrol tembak modern dan senjata lainnya. Manakah dari kedua opsi tersebut yang akhirnya dipilih Angkatan Darat Kerajaan Inggris masih belum diketahui.


Challenger 2 - tank tempur utama Angkatan Darat Britania Raya, juga melayani Angkatan Darat Oman. Tank ini telah digunakan dalam operasi tempur di Kosovo dan Irak. Pada musim semi 2009, BAE Systems mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan produksi Challenger karena kurangnya order pertahanan dari pemerintah Inggris.

Pekerjaan pada tank Challenger 2 dimulai pada 2018

Pada 3 Oktober 2018, perusahaan multinasional Inggris, BAE Systems, yang mengkhususkan diri di bidang pertahanan, keamanan, dan kedirgantaraan, telah mengungkapkan prototipe pertama dari tank Challenger 2 hasil upgrade mereka, yaitu Black Night.

Team Challenger 2 merupakan kemitraan strategis dari beberapa perusahaan pertahanan, yang dipimpin oleh BAE Systems dan dibentuk untuk mengajukan penawaran untuk program MBT Life Extension Project (LEP) Angkatan Darat Inggris.

Yang ditunjuk oleh konsorsium Kementerian Pertahanan Inggris untuk proyek tersebut, terdiri dari BAE Systems Land (Inggris), General Dynamics Land Systems-UK, Leonardo, Safran Electronics & Defense, Moog, QinetiQ, dan General Dynamics Mission Systems-Kanada.

Black Night adalah tank tempur utama Challenger 2 yang dimodifikasi dan ditingkatkan, dilengkapi dengan kemampuan tempur malam yang lebih baik, yang memiliki dua sistem penglihatan malam independen untuk lebih fokus pada target. Ini akan memungkinkan komandan dan penembak di tank untuk beroperasi secara serentak.


Fitur canggih dari Black Night lainnya yang ditawarkan Team Challenger 2 meliputi sistem perlindungan aktif, sistem peringatan berbasis laser dan rudal, sumber daya regeneratif, teknologi pencitraan termal, dan akselerasi tempur yang lebih baik.

Pengembangan dan modernisasi tank Challenger 2 dilakukan BAE Systems di fasilitas kendaraan tempur perusahaan di West Midlands, Inggris.

"Inggris adalah rumah bagi beberapa perusahaan teknik terbaik di dunia, yang telah mendorong batas-batas desain kendaraan tempur dengan Black Night. Kami menyediakan sebagian besar peningkatan ini dari tanah air, namun, kami telah memilih perusahaan-perusahaan pertahanan terbaik dari seluruh dunia untuk berkolaborasi dengan kami juga, termasuk dari Kanada, Prancis dan Jerman yang memiliki teknologi dan keterampilan unik yang telah terbukti. Angkatan Darat Kerajaan Inggris memiliki komitmen kami bahwa kami akan memberikan peningkatan yang paling mampu, dan dengan harga terbaik," Simon Jackson, pemimpin kampanye BAE Systems Team Challenger 2.

Minggu, Juli 12, 2020

Rusia: Turki Mencoba Deteksi Kelemahan S-400 Selama Uji Coba

Peluncur S-400

Militer Turki melakukan tes S-400, ini memungkinkan mereka untuk menilai efektivitas sistem pertahanan udara buatan Rusia itu, dan mungkin untuk menemukan kelemahannya, mantan wakil komandan pasukan pertahanan udara dari Pasukan Darat Uni Soviet, Letnan Jenderal Alexander Luzan.

"Selama pengujian sistem rudal anti-pesawat S-400, militer Turki berhasil mendeteksi objek pesawat dan melakukan peluncuran elektronik. Ini memungkinkan kita untuk secara bersamaan mempelajari fitur aplikasi, mengevaluasi efektivitasnya, mungkin tujuan lain adalah menemukan kelemahannya," kata Luzan kepada RIA Novosti.

Dia menjelaskan bahwa "secara teknis tidak mungkin" untuk mengekstraksi teknologi dari S-400, karena Turki harus mempelajari sistem ini "secara empiris".

Pada November 2019, Turki juga menguji stasiun radar S-400 menggunakan pesawat tempur F-16 AS. Tes divideokan. Amerika Serikat menyatakan kekhawatirannya tentang hal ini.

Kini, fungsionalitas sistem pertahanan udara S-400 Rusia kembali Turki uji pada pesawat tempur AS, yang mendekati pangkalan udara Turki.

Pengujian lulus meskipun ada peringatan AS tentang kemungkinan pengenaan sanksi. Tes senjata serupa terjadi pada musim gugur 2019. Sebelumnya, pembelian S-400 oleh Turki menjadi onak dalam hubungannya dengan AS.

Lokasi militer Turki melakukan tes terbaru S-400 tidak jauh dari Ankara. Mereka dikirim dari pangkalan udara Myurt untuk melawan melawan pesawat tempur F-16 dan F-4 AS, menurut Fighter Jets World.

Portal itu mencatat bahwa pengujian senjata Rusia dimulai pada 4 Juli dan akan berlangsung beberapa bulan - hingga 26 November. Menurut publikasi itu, pihak berwenang Turki mengabaikan peringatan AS tentang kemungkinan pengenaan sanksi dalam hal uji coba rudal pertahanan udara.

Negosiasi Rusia-Turki untuk pengiriman batch kedua S-400 masih berlanjut

Negosiasi antara Rusia dan Turki tentang pengiriman set kedua sistem anti-pesawat Triumph S-400 sedang dalam tahap lanjut.

"Negosiasi sedang berlangsung, ini adalah proses yang melelahkan yang membutuhkan banyak waktu. Tetapi mengingat pembatasan saat ini sehubungan dengan pandemi, kurang pas untuk memprediksi syarat-syarat kesimpulan kontrak ini," kepala Layanan Federal untuk Kerjasama Militer-Teknis (FSMTC) Dmitry Shugaev mengatakan pada 8 Juni lalu.

Pada bulan Mei, Turki blokir akses militer Rusia ke sistem S-400 mereka

Sejak bulan Mei, Turki melarang militer Rusia berada di fasilitas militer di mana penyebaran sistem pertahanan udara S-400 sedang berlangsung, menurut pernyataan Kepala Direktorat Industri Pertahanan Turki, Ismail Demir.

Menurut Demir, kendali atas S-400 sepenuhnya diserahkan kepada militer Turki, dan pemeliharaan kompleks-kompleks ini akan dipercayakan kepada perusahaan-perusahaan Turki.

"Kepala industri pertahanan, Ismail Demir, mengatakan bahwa proses instalasi untuk sistem pertahanan udara S-400, yang tertunda karena coronavirus, sedang berlangsung. Petugas Rusia tidak lagi dapat mengakses baterai S -400," kata Demir. "Proses pemasangan sistem S-400 dilanjutkan, dan beberapa sistem telah dioperasikan. Meskipun ada perjanjian pasokan mencakup item-item seperti pelatihan, pemeliharaan, dan dukungan teknis, personel Rusia tidak akan dapat mengakses baterai S-400 sesuka mereka. Ini adalah garis merah kita. Perusahaan Turki dan Angkatan Udara Turki akan menjadi pihak yang terkait dengan sistem ini," lanjut Demir dalam publikasi berita Miliyet Turki.

Apa sebenarnya alasan militer Turki memblokir akses petugas Rusia ke S-400 Turki tidak diketahui sepenuhnya. Ada ahli yang berpendapat bahwa ini karena kemungkinan risiko bahwa Rusia dapat benar-benar menguasai S-400 Turki, karena negara ini adalah anggota NATO.

Tidak diketahui secara pasti kapan Turki akan menyelesaikan penyebaran S-400, namun, ada informasi yang beredar bahwa proses tersebut dapat berlangsung hingga akhir tahun ini.

Apa dan bagaimana S-400?

S-400 Triumph adalah sistem rudal anti-pesawat jarak jauh dan jarak menengah Rusia. S-400 dirancang untuk menghancurkan semua target udara yang modern dan canggih, termasuk target yang berkecepatan hipersonik.

Menurut analis Barat, S-400, bersama dengan sistem rudal lainnya seperti Iskander OTRK dan sistem rudal anti-kapal pesisir Bastion, memainkan peran kunci dalam konsep baru Angkatan Bersenjata Rusia, yang dikenal di Barat sebagai "Access Denied Zone " (Anti-Akses/Area Denial, A2/AD), yang artinya pasukan NATO tidak bisa berada dan bergerak dalam jangkauan sistem area terbatas A2/AD Rusia tanpa risiko serangan yang mengakibatkan kerusakan yang tidak dapat diterima.

Triumph adalah sebutan untuk versi ekspor. Harga pasar untuk satu divisi dari sistem rudal anti-pesawat S-400 adalah sekitar $ 500 juta.

Karakteristik teknis S-400

Karakteristik kinerja S-400 Triumph adalah: mendeteksi target pada jarak 600 km; menyerang target pada jarak 400 km; kecepatan maksimum target sasaran - 4,8 km/detik; pada saat yang sama dapat menembak 36 target dengan menggunakan hingga 72 rudal; waktu penyebaran sistem dari keadaan penyimpanan - 5-10 menit; waktu untuk membawa sistem ke dalam posisi siap tempur adalah 3 menit.

Bagaimana cara kerja sistem pertahanan udara Triumph ?

S-400 Triumph bukan hanya instalasi untuk meluncurkan rudal, tetapi merupakan seluruh kompleks sistem yang terkoordinasi, yang komponennya diangkut oleh truk-truk mobilitas tinggi kelas berat.

Seluruh proses dari mendeteksi hingga mengeliminasi target terjadi secara otomatis:
  • Sistem radar mendeteksi ratusan target dalam radius 600 km dan menentukan jenisnya
  • Data dikirim ke pos komando (55K6E). Pos komando pada gilirannya mendistribusikan target ke beberapa peluncur (5P85TE2)
  • Setiap pos komando dapat mengendalikan delapan sistem peluncur, yang masing-masingnya membawa hingga 12 peluncur. Mereka, pada gilirannya, menampung empat rudal dengan massa, jangkauan, dan kemampuan yang berbeda
  • Tergantung pada jenis target, sistem S-400 akan memilih rudal yang efisien. S-400 Triumph dipersenjatai dengan rudal dengan massa, jangkauan, dan kemampuan berbeda: 48N6E, 48N6E2, 48N6E3, 9M96E, dan 9M96E2.
  • Rudal jarak jauh (hingga 400 km) mampu menghancurkan target bahkan di luar jangkauan lokator target, yang rudal memiliki kepala pelacak yang unik. Setelah naik, rudal masuk ke mode pencarian.

Jumat, Juli 10, 2020

Jepang : F-35 Dapat Terlihat dari Satelit

F-35A

Departemen Luar Negeri AS telah setuju untuk menjual 105 pesawat tempur generasi kelima F-35 serta peralatan terkait ke Jepang, Departemen di Pentagon untuk Kerjasama Pertahanan dan Keamanan mengungkapkan beberapa waktu lalu.

Tokyo berniat membeli 63 pesawat tempur varian standar F-35A untuk Angkatan Udara dan 42 F-35B yang berkemampuan take-off pendek dam pendaratan vertkal (STOVL), yang dibuat khusus untuk Korps Marinir AS.

Penjualan ini akan berkontribusi pada kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional AS dengan meningkatkan keamanan salah sekutu utamanya Jepang, yang merupakan kekuatan bagi stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik. Untuk kepentingan keamanan nasional AS, membantu Jepang mengembangkan pertahanan militernya adalah hal yang sangat penting bagi AS.

Pemerintah AS juga telah memberi tahu Kongres tentang keputusan ini. Kongres sekarang memiliki waktu 30 hari mempelajari kontrak militer baru ini untuk menyetujui atau menolaknya.

Perlu diperhatikan, ini adalah pembelian kedua pesawat tempur generasi kelima oleh Jepang. Kontrak yang saat ini sedang berjalan adalah untuk pasokan 42 pesawat F-35A oleh Angkatan Udara Jepang.

Baca juga: Berkat F-35, Terjadi Perlombaan Senjata di Asia

Jepang mulai kembangkan pesawat tempur sendiri

Tim khusus untuk mengembangkan penerus pesawat tempur Mitsubishi F-2 Jepang telah dibentuk oleh Badan Pengadaan, Teknologi, dan Logistik Kementerian Pertahanan Jepang, seperti yang dilaporkan media April lalu.

Tim ini dipimpin oleh seorang Mayor Jenderal Angkatan Udara Jepang, dan termasuk di dalamnya sekitar 30 perwira, insinyur, dan pegawai lainnya.

Jepang berencana untuk meluncurkan pesawat tempur generasi berikutnya pada tahun 2035 dan sudah berencana untuk menciptakan infrastruktur pada akhir tahun ini untuk pengembangan bersama dan kerja sama teknis dengan Amerika Serikat atau Inggris.

Menurut persyaratan dari Angkatan Udara Jepang, pesawat tempur baru itu harus memiliki sensor siluman canggih, kemampuan peperangan elektronik (EW) dan kapasitas rudal yang sama atau lebih besar dari pesawat tempur siluman F-35 AS, serta memiliki kemampuan untuk berinteraksi dalam misi bersama dengan unit militer Amerika.

Sekitar 11,1 miliar yen telah dialokasikan untuk pengembangan pesawat tempur terbaru dalam anggaran negara Jepang untuk tahun 2020.

Perlu juga diketahui bahwa Amerika Serikat dan Inggris bersaing untuk menjadi menjadi mitra Jepang dalam pengembangan bersama penerus pesawat tempur F-2. Untuk mengalahkan pesaingnya dalam perjuangan di bidang industri militer Jepang ini, Amerika Serikat setuju untuk mengungkapkan kode program (kode sumber) untuk perangkat lunak pesawat tempur F-35 (atas dasar inilah pesawat tempur baru Jepang akan dibuat), serta untuk kemungkinan mengganti komponen Jepang dalam pesawat tempur baru dengan komponen Amerika.

Baca juga: Mitsubishi F-2 - Jet Tempur Multiperan Jepang

Ilmuwan Jepang sebut F-35 dapat terlihat di satelit

Siluman Amerika Serikat, F-35, dapat dilihat dari satelit, kata profesor Shizuoka Kazuhisa Ogawa pada 6 Juni lalu dalam sebuah wawancara dengan RIA Novosti.

Ogawa, seorang pakar militer yang juga bertugas sebagai penasihat tiga perdana menteri Jepang mencatat bahwa pesawat-pesawat tempur siluman dapat dengan mudah dideteksi dari luar angkasa dengan menggunakan satelit. Tidak terkecuali F-35 Lightning II.

Ogawa menjelaskan bahwa dengan komputer on-board modern, pilot lawan dapat menentukan arah, tinggi, dan kecepatan pesawat siluman menggunakan data satelit.

Kurangnya keunggulan teknologi siluman disebabkan oleh fakta bahwa bahan pesawat menyerap dan menyebarkan gelombang radar yang menabrak pesawat dari depan. Namun, pesawat siluman tidak berdaya bersembunyi dari satelit yang terbang di atasnya.

Baca juga: China Membuat Sendiri Versi Murah dari F-35 Amerika

F-35 Jepang jatuh tahun lalu

Sebuah F-35A milik Angkatan Udara Jepang hilang pada April tahun lalu. Kementerian Pertahanan mengumumkan bahwa pesawat tersebut jatuh dengan merujuk temuan puing-puing yang terlihat dan dikumpulkan oleh kapal dan helikopter pencari beberapa hari setelah kejadian.

Saat itu, aset-aset militer AS juga turut serta dalam pencarian, termasuk pesawat multi-misi Angkatan Laut AS Boeing P-8A Poseidon yang sedang bertugas di Jepang.

Pesawat yang jatuh, yang bernomor seri 79-8705, adalah yang pertama dari 13 F-35A Jepang yang dirakit kala itu oleh fasilitas check out dan perakitan akhir Mitsubishi di Nagoya. Karena kejadian ini, seluruh F-35A hasil rakit Jepang dikenai larangan terbang untuk sementara waktu.

Media lokal melaporkan bahwa kontak dengan pesawat tempur siluman buatan Lockheed Martin itu hilang tepat sebelum jam 7:30 malam. waktu setempat, dengan lokasi terakhir pesawat yang dilaporkan diidentifikasi di atas Samudra Pasifik sekitar 85 mil di sebelah timur kota Misawa di prefektur Aomori, di bagian utara pulau utama Jepang Honshu.

Lembaga penyiaran publik nasional Jepang, NHK, mengutip pejabat Angkatan Udara Jepang, melaporkan bahwa F-35A yang hilang adalah salah satu dari empat F-35A Jepang yang telah lepas landas dari Pangkalan Udara Misawa terdekat untuk misi pelatihan pada pukul 7:00 malam. waktu setempat.

Pesawat dan kapal Angkatan Laut Jepang dengan cepat memulai misi pencarian, dengan Coast Guard Jepang mengirim dua kapal segera setelahnya. Pesawat Angkatan Udara Jepang lainnya, pesawat pencarian dan penyelamatan U-125A dan helikopter Black Hawk UH-60J yang dikerahkan di seluruh pangkalan udara Jepang, juga bergabung dalam upaya pencarian.

Kamis, Juli 09, 2020

Video Kapal Selam Besar Iran Dipindahkan dengan Truk

Pemindahan kapal selam kelas Kilo Iran

Tiga kapal selam kelas Kilo Iran adalah kapal selam paling modern di antara banyak kapal selam angkatan laut mereka. Sebuah video muncul di Twitter yang menunjukkan salah satunya sedang diangkut melalui jalan darat.

Kemampuan servis galangan kapal Iran masih diragukan, dan langkah pemindahan itu tampaknya bukan hal biasa bagi mereka. Tapi yang jelas, salah satu dari tiga kapal selam kelas Kilo Iran sedang tidak beroperasi.

Video memperlihatkan kapal selam kelas Kilo (Project 877) ditempatkan pada low-loader khusus. Meskipun video ini tidak bertanggal, tapi diyakini baru. Video ini juga dipublikasikan media berbahasa Iran seperti Harian Jamejam, setelah diposting di media sosial.


Deskripsi yang disampaikan mengatakan bahwa kapal selam ini sedang menuju (atau di) Bandar Abbas, pangkalan angkatan laut utama di Iran. Ini adalah pangkalan untuk tiga kelas Kilo Angkatan Laut Iran, ditambah sebagian besar kapal perang permukaan utama dan kapal selam cebol.

Iran menerima kelas Kilo dari Rusia pada awal 1990-an. Saat ini ketiganya menjadi kapal selam terbesar dan terkuat di Teluk Persia, asalkan tidak ada kapal selam Angkatan Laut AS atau Kerajaan Inggris di sana.

Kapal selam bertenaga diesel-listrik ini masih dapat diandalkan untuk peperangan saat ini, namun ke depan akan semakin ketinggalan zaman. Kelas Kilo dapat membawa torpedo kelas berat dan memiliki kemampuan anti-kapal selam yang sederhana.

Kelas Kilo Iran telah dirombak dan dirawat sendiri oleh Iran. Dan kemampuan ketiganya mungkin telah ditingkatkan selama bertahun-tahun. Namun Iran mengalami kesulitan mempertahankan beberapa fitur asli, seperti lapisan anechoic. Ini adalah ubin karet yang mengurangi kebisingan, faktor penting dalam kemampuan siluman kapal selam. Kapal selam dalam video tampaknya kehilangan sebagian lapisan ubin ini, yang biasanya menutupi bagian luar kapal.

Baca juga: Kekuatan Kapal Selam Iran Salah Satu yang Terkuat di Dunia
Baca juga: 4 Senjata Andalan Iran Bila Terjadi Perang

Kapal selam kelas Kilo Iran
Kapal selam kelas Kilo Iran

Meskipun memindahkan kapal selam melalui darat bukanlah hal yang unik, tapi tetap saja itu bukan hal biasa. Pada umumnya kita sering melihat kapal selam yang dipindahkan ke pantai untuk menjadi kapal museum, atau pemindahan selama konstruksi.

Kelas Kilo memiliki panjang 70 m, lebar 9,7 m dan bobot benaman (saat menyelam) sekitar 3.000 ton lebih. Jadi kapal selam ini tidak mudah dipindahkan melalui jalan darat. Ini juga menunjukkan bahwa kapal selam Iran ini tidak bisa dipindahkan melalui air, entah karena alasan apa, baik dengan tenaganya sendiri atau dengan cara ditarik. Bahkan untuk perawatan rutin mereka biasanya dipindahkan melalui air. Iran memiliki dok kering di Bandar Abbas di mana kapal selam Kelas Kilo secara rutin dirombak di sana.

Titik terang untuk usaha pemindahan kapal selam ini diyakini adalah di galangan kapal di dekat Bostanu. Analis pertahanan Joseph Dempsey dari Institut Internasional untuk Studi Strategis (IISS) menggunakan citra satelit untuk mengidentifikasi kapal selam kelas Kilo di sana dari Februari-Maret tahun ini. Kemungkinan benar kapal selam itu.

Kapal selam kelas Kilo di Bostanu tampak juga telah digambarkan dalam siaran pers pemerintah Iran pada akhir Mei, meskipun tidak ada rincian lebih lanjut.

Galangan kapal berjarak sekitar 15 mil ke barat di sepanjang pantai dari Bandar Abbas dan dihubungkan oleh jalanan yang baik. Iran banyak melakukan pekerjaan pada kapal selam dan kapal perang lainnya di sana. Dan lokasinya dekat dengan kapal tongkang target Iran yang dirancang agar terlihat seperti kapal induk kelas Nimitz Angkatan Laut AS.

Kisah pasti di balik langkah Iran ini belum jelas. Dan seperti biasanya sering tidak terungkap. Tetapi analis pertahanan dunia terus mengawasi dengan cermat untuk mencari tahu tentang apa saja kegiatan dan kesiapan Angkatan Laut Iran.*

Rabu, Juli 08, 2020

Kala Itu Seorang Pilot F-15 Menembak Jatuh Satelit

F-15 menembakkan rudal ASAT
Peluncuran rudal ASAT (anti-satelit) pada 13 September 1985. (USAF / Paul Reynolds)

Pada 13 September 1985, seorang pilot tes F-15, Mayor Wilbert D. "Doug" Pearson, berangkat dari Pangkalan Angkatan Udara Edwards, California, Amerika Serikat (AS), untuk sebuah misi yang akan menjadikannya sebagai orang pertama dalam sejarah penerbangan.

Dinamai sebagai "Celestial Eagle Flight," misi itu memerintahkan Pearson untuk terbang melakukan pendakian vertikal dekat hingga lebih dari 35.000 kaki (10.668 m) menggunakan pesawat tempur F-15A yang dimodifikasi, untuk menembakkan rudal sepanjang 18 kaki (5,5 m) dan berat 2.700 pon (1.225 kg), ke ruang angkasa dan "membunuh" satelit usang pada ketinggian 340 mil (547 km - sekitar setinggi yang bisa diterbangkan pesawat ulang-alik).

Misi itu adalah puncak dari program pengembangan dan pengujian selama enam tahun untuk rudal anti-satelit (ASAT). Penerbangan itu mengharuskan Pearson untuk tiba pada titik dan waktu yang tepat di kisaran Pacific Missile Test Range, dan menembakkan rudal ASM-135A ASAT secara otomatis dari perut pesawatnya, membidik laboratorium surya Solwind P78-1 seberat 2.000 pound (907 kg), yang diluncurkan pada tahun 1979.

Senjata di ruang angkasa masih kontroversial, bahkan hingga hari ini terus dikembangkan. Begitu juga usaha untuk menembak jatuh satelit, terutama di komunitas sains, karena meskipun satelit itu tidak lagi beroperasi, masih dapat memberikan data berharga. Tapi itu cerita lain.

F-15 membawa rudal ASAT
F-15A yang membawa rudal ASM-135 ASAT. (USAF
F-15 menembakkan rudal ASAT
Peluncuran rudal ASAT (anti-satelit) pada 13 September 1985. (USAF / Paul Reynolds)

Mencapai kecepatan supersonik di Mach 1.2 (1.470 km/jam), Mayor Pearson melakukan pendakian 3.8g, 65 derajat, melambat hingga tepat di bawah Mach 1 (1.225 km/jam), sebelum akhirnya menembakkan rudal pada ketinggian 38.100 kaki (11.613 m), sekitar 200 mil (322 km) sebelah barat Pangkalan Angkatan Udara Vandenberg.

Rudal itu berpisah dari roket pendorong setelah tahap pertama, dan kemudian didorong kendaraan homing miniatur dengan sensor inframerah ke ruang angkasa mencegat satelit, memakukan target dengan kecepatan akhir 15.000 mph (24.140 km/jam) dan menandai pembunuhan satelit pertama kali dalam sejarah oleh rudal yang diluncurkan dari pesawat tempur.

Diketahui, alasan AS mengembangkan program dan misi ini adalah untuk mengonter Uni Soviet yang memiliki kemampuan kuat dalam meluncurkan dan menyebarkan satelit-satelit mini untuk memata-matai keberadaan pasukan militer AS, terutama kapal perang di laut.

Baca juga: Rusia Menguji Rudal Anti-Satelit 'Direct-Ascent'
Baca juga: MiG-31 Rusia Bawa Senjata Anti Satelit?
Baca juga: Satelit Baru Rusia adalah Senjata Luar Angkasa?

Rudal ASAT
Rudal ASAT anti-satelit di Space Gallery di Museum Nasional Angkatan Udara AS di Dayton, Ohio. Rudal ini pada akhirnya tidak pernah masuk produksi dan tidak pernah melayani militer AS. (USAF/Ken LaRock)

Pada awalnya Angkatan Udara AS ingin memodifikasi 20 buah F-15 untuk melakukan hal yang sama, tetapi karena biaya yang mahal dan masalah teknis lainnya, program akhirnya dihentikan pada tahun 1988 (setelah F-15 sudah dimodifikasi tentu saja).

Berdasar keterangan dari Angkatan Udara AS, pesawat itu, F-15A dengan register 76-0084, adalah F-15 ke-275 yang diproduksi dari jalur perakitan McDonnell Douglas di St. Louis, dan pesawat itu terbang pertama kali pada Hari Veteran pada tahun 1977.

F-15 kala itu memiliki banyak keunggulan dari semua pesawat tempur, dan cukup besar dan kuat sehingga bisa membawa rudal yang cukup besar. Memiliki kemampuan navigasi yang baik, sangat andal, dan dapat beroperasi dari banyak pangkalan udara, F-15 merupakan pilihan yang sempurna.

Baca juga: F-15 Eagle, Salah Satu yang Terbaik dari AS
Baca juga: F-15 Eagle: Jet Tempur Tua dengan Sejarah Tempur Mengesankan

Pilot Pearson
Mayor Jenderal Doug Pearson, kiri, dan Kapten Todd Pearson, kanan, sesaat sebelum Kapten Pearson terbang untuk memperingati misi Celestial Eagle 13 September 2007. (USAF / Erik Hofmeyer)

Pesawat bersejarah itu pensiun di Pusat Pemeliharaan dan Regenerasi Aerospace "Boneyard" di Pangkalan Angkatan Udara Davis Monthan sejak tahun 2009. Pearson sendiri pada akhirnya menjadi Komandan Pusat Tes Penerbangan Angkatan Udara AS dengan pangkat terakhir mayor jenderal. Putra Pearson, Todd Pearson juga mengikuti jejak sang ayah sebagai penerbang F-15.

Senin, Juli 06, 2020

Seberapa Tangguh Kapal-kapal Induk China?

Kapal induk Liaoning
Kapal induk Liaoning China

Mampukah mereka melawan Amerika?

Sementara salah satu kapal induk Amerika Serikat, USS Theodore Roosevelt tengah sibuk menghadapi wabah virus korona yang sekarang telah menjadi mematikan, salah satu kapal induk China berlayar melewati Taiwan untuk unjuk kekuatan. Meskipun Taiwan sudah menggegas jet tempurnya untuk memantau dan mencegat, itu mungkin bukan hal yang bisa diterima Angkatan Laut AS.

China saat ini mengoperasikan dua kapal induk dengan kapal induk ketiga masih berada di galangan kapal, dan yang keempat masih direncanakan. Tapi seperti apakah program kapal induk China dan bagaimana kekuatannya?

Kapal induk kemarin digunakan hari ini
China saat ini memiliki dua kapal induk, dengan kapal induk yang ketiga masih dalam konstruksi awal, dan yang keempat direncanakan pembangunannya pada pertengahan 2020 atau 2030-an.

Kapal induk pertama mereka, Liaoning ditugaskan oleh Angkatan Laut China (PLAN) pada tahun 2012, meskipun lunas kapal ini pertama kali diletakkan pada awal 1990-an. Liaoning sebenarnya kapal induk Ukraina yang belum selesai, diwarisi dari Uni Soviet, yang kemudian dijual ke China.

Kapal induk kedua China, Tipe 002, pada dasarnya adalah tiruan dari Liaoning, meskipun memang menampilkan beberapa peningkatan tambahan seperti peningkatan radar, dan penambahan kapasitas pesawat tempur. Seperti halnya Liaoning, kapal induk Tipe 002 memiliki "ski jump" besar di atas haluan untuk membantu meluncurkan pesawat tempur ke udara.

Baca juga: Kerja Keras China Membangun Kapal Induk Pertamanya
Baca juga: Kisah Xu Zengping yang Membelikan Kapal Induk untuk Angkatan Laut China

Kapal induk Shandong China
Kapal induk Shandong (Tipe 002) China

Tipe 003
Ukuran Tipe 003 akan lebih besar daripada Tipe 002 dan Liaoning, dan memiliki sistem bantuan peluncuran ketapel yang mirip dengan apa yang digunakan kapal induk Amerika Serikat — dan dengan demikian kemungkinan Tipe 003 tidak lagi menggunakan platform peluncuran dengan "ski jump".

Dalam sebuah wawancara dengan laman The National Interest, seorang pakar kemampuan angkatan laut China mengatakan bahwa: "Kapal ketiga akan merupakan ketapel uap dan peralatan penangkap hidraulik yang akan memungkinkan China untuk meluncurkan pesawat dengan muatan bom yang lebih berat dan menempuh jarak yang lebih jauh."

Ahli lain setuju, mengatakan bahwa: "Itu (Tipe 003) juga kemungkinan akan lebih besar dari Tipe 001 atau Liaoning, memungkinkannya untuk mengangkut lebih banyak pesawat. PLAN juga ingin memperluas jangkauan pesawat berbasis kapal induk mereka, dan yang lebih penting, mereka harus mampu meluncurkan pesawat peringatan dini dan peperangan elektronik serta pesawat-pesawat pembom tempur yang lebih besar yang dapat membawa lebih banyak senjata. Mereka membutuhkan ketapel dan alat tangkap untuk mengerahkan pesawat-pesawat jenis ini. Jadi lebih banyak pesawat, dan lebih bersenjata."

Baca juga: Kapal Induk Ketiga China Sekelas Kapal Induk Nimitz AS
Baca juga: 5 Pesawat Tempur Kapal Induk Terbaik dalam Sejarah

Desain kapal induk Tipe 003 China
Desain kapal induk Tipe 003 China

Tipe 004
Jika sudah selesai, Tipe 004 akan menjadi yang paling canggih dari seluruh kapal induk China dan akan dianggap sebagai kapal induk generasi ketiga. Selain kemampuan peluncuran elektromagnetik, Tipe 004 akan menjadi kapal induk pertama di PLAN yang akan menggunakan tenaga nuklir. Tipe 004 juga akan memiliki output daya yang cukup untuk menggunakan senjata railgun dan laser yang saat ini sedang dalam pengembangan dan pengujian.

China dilaporkan menghabiskan lebih dari $ 3 miliar untuk meneliti reaktor nuklir garam cair unik yang dapat digunakan untuk menggerakkan Tipe 004. Konon menghasilkan lebih banyak panas, yang dapat dikonversi menjadi listrik, dan hanya menghasilkan sedikit radiasi sebagai reaktor bertenaga uranium.

Peletakan lunas Tipe 004 diharapkan pada akhir 2020-an atau setelahnya

Baca juga: China Siap Lengkapi Kapal Perusak dengan Railgun Elektromagnetik

Kapal induk masa depan China
China jelas masih harus menempuh jalan panjang. Dua kapal induk yang PLAN operasikan saat ini desainnya berdasarkan teknologi 1980-an yang sama sekali tidak dapat disejajarkan dengan kapal induk nuklir modern saat ini. Tapi tetap saja, China telah mengalami kemajuan pesat. Jika Tipe 003 dan Tipe 004 nantinya sesuai seperti yang diproyeksikan para analis barat dan seperti yang diklaim oleh China — maka PLAN akan mampu memproyeksikan kekuatannya ke belahan bumi mana pun seperti halnya Amerika. (NI)

Minggu, Juli 05, 2020

Desain Mengesankan Pesawat Pembom Nuklir Swedia yang Terlupakan

Desain Saab 36

Swedia menginginkan pesawat pembom nuklir untuk mempertahankan diri. Ini adalah sejarah dari program pesawat pembom nuklir Swedia.

Setelah Perang Dunia II berakhir, Swedia memprakarsai program nuklir rahasia - dan juga berencana memiliki pesawat pembom nuklir berkecepatan supersonik.

Nuklir untuk Perdamaian
Pasca Perang Dunia II, negara-negara Eropa dihantui kekuatan Uni Soviet. Seperti negara-negara pasca perang lainnya, Swedia juga ingin melindungi dirinya dari invasi Soviet - dan memutuskan untuk membuat senjata nuklir untuk memastikan keamanan wilayahnya.

Awalnya, Swedia berusaha memperoleh keahlian senjata nuklir dari luar negeri. Amerika Serikat, sebagai ahli nuklir pertama di dunia dan penjamin keamanan Eropa, adalah mitra yang logis.

Pada hari-hari awal Perang Dingin, Amerika Serikat giat mempromosikan tenaga nuklir untuk produksi energi - konsep "Atoms for Peace" dari Presiden Eisenhower. Amerika hanya mau mentransfer materi dan pengetahuan nuklir ke negara lain dengan syarat bahwa penelitian dan pengembangan nuklir hanya untuk tujuan damai, tidak untuk senjata. Karena alasan ini, Swedia pun menolak.

Membeli senjata nuklir langsung dari Amerika Serikat juga bukan merupakan pilihan yang menarik bagi Swedia.

Beruntung bagi Swedia, tanah Swedia mengandung serpihan yang mengandung Uranium dalam jumlah berlimpah.

Pengembangan pembom nuklir
Pada era 1950-an, Swedia memiliki bahan fisil yang cukup untuk membuat bom nuklir dalam waktu enam bulan. Dan itu jelas membutuhkan pesawat untuk mengirimkannya - muncullah desain Saab 36.

Saab 36 adalah pesawat pembom supersonik bermesin ganda. Saab-36 memiliki sayap delta, dan terbang di kisaran kecepatan Mach 2+. Ketinggian terbang harus 18.000 meter atau 60.000 kaki.

Saab 36 harus berurusan dengan beberapa batasan desain yang akan memengaruhi muatannya.

Desainer di Saab khawatir bahwa senjata yang melekat secara eksternal pada badan pesawat atau sayap akan menimbulkan hambatan, sehingga menurunkan kinerja jet. Kecepatan Mach 2+ yang tinggi juga akan menghasilkan panas dalam jumlah besar yang dapat merusak senjata - atau lebih buruk menyebabkan senjata "mati" atau meledak secara tidak sengaja.

Bom harus disimpan secara internal di ruang senjata tertutup, jauh dari suhu tinggi yang berpotensi bahaya. Ruang senjata internal akan sangat mahal, dan hanya akan ada ruang untuk muatan 800 kilogram, atau 1.800 pon, dan bom nuklir yang jatuh bebas tentu mengurangi kemanjuran dan tujuan pesawat pembom itu sendiri, dan membatasi penggunaannya pada sistem pengiriman senjata taktis daripada sebagai pencegah strategis.

Pada akhirnya, seiring dihentikannya program nuklir Swedia pada tahun 1968, program pengembangan Saab 36 juga terhenti. Gambar desainnya menunjukkan Saab 36 dengan dua mesin jet yang terintegrasi di sayap delta.

Meskipun pesawat pembom Saab 36 tidak pernah diproduksi, namun pekerjaan pada Saab 36 turut berkontribusi untuk pengembangan Saab 37, sebuah pesawat tempur yang merupakan salah satu jet sukses pertama yang menggunakan desain sayap delta.

Baca juga: Swedia Akan Mulai Pengembangan Pesawat Tempur Baru
Baca juga: 7 Pesawat Pembom Terbaik di Dunia

Spesifikasi Saab 36
Karakteristik umum
  • Kru: Satu percontohan
  • Panjang: 17 m
  • Rentang sayap: 9,6 m
  • Luas area sayap: 54 m2
  • Berat kosong: 9.000 kg
  • Berat penuh : 15.000 kg
  • Mesin: 1 × Bristol Olympus, 44 kN
Performa
  • Kecepatan maksimum: Mach 2.14 (2.642 km/jam)
  • Ketinggian terbang: 18.000 m
Persenjataan
  • 1 × 600 kg - 800 kg bom nuklir jatuh bebas