Friday, May 18, 2018

Pemberontakan Permesta: Dogfight P-51 AURI VS B-26 Invader Permesta

Dogfight Mustang dan Invader

Pada bulan Februari 1958 setelah Letnan Kolonel Ventje Sumual memproklamirkan Pemberontakan Rakyat Semesta (Permesta) di wilayah Indonesia Timur segera memicu pertempuran berdarah yang berlangsung hingga tiga tahun.

Untuk menumpas pemberontakan yang mengancam keutuhan NKRI itu, pemerintah RI terpaksa melakukan tindakan tegas berupa operasi militer secara besar besaran.

Operasi tempur yang digelar pemerintah RI untuk melumpuhkan Permesta yang saat itu menguasai wilayah Sulawesi bersandi "Operasi Merdeka" dan dikendalikan langsung oleh KASAD Mayor Jenderal A.H. Nasution.

Meskipun merupakan pasukan pemberontak, dari sisi kekuatan, pasukan Permesta memiliki persenjataan dan pasukan yang cukup. Mulai dari 5.000 personel mantan anggota KNIL yang terlatih, eks anggota ABRI yang membelot, sukarelawan yang juga dikenal Calon Prajurit Permesta kurang lebih berjumlah 30.000 orang, dan sejumlah pesawat tempur yang merupakan tulang punggung kekuatan udara Permesta yang dinamai Angkatan Udara Revolusioner (AUREV).

Lusinan pesawat tempur AUREV itu semuanya didatangkan dari luar negeri sehingga terjamin kualitasnya dan tidak ada satu pun pesawat AUREV yang merupakan milik atau rampasan dari AURI. Pesawat-pesawat sipil milik maskapai penerbangan di Indonesia juga tidak ada yang digunakan oleh AUREV.

Kekuatan udara AUREV yang secara rahasia berpangkalan di salah satu tempat di Filipina itu terdiri dari 19 pesawat serang dan pembom B-26 Invader, dua pesawat tempur pemburu P-51 Mustang, empat pesawat angkut yang terdiri dari dua Curtiss C-46 Commando dan dua Lockheed 12.

Selain itu, AUREV juga diperkuat oleh pesawat-pesawat transport DC-3/C-47 Dakota dan DC-4/C-54 Skymaster.

Adanya sejumlah pesawat-pesawat transport yang pernah berjaya di PD II dan Perang Korea di jajaran alat utama sistem senjata (alutsista) AUREV jelas mengindikasikan adanya kepentingan untuk keperluan angkut logistik dan pasukan tempur.

Persenjataan yang diselundupkan menggunakan pesawat-pesawat tersebut juga juga telah terbukti dikirim ke wilayah yang dikuasai AUREV dan juga pemberontak PRRI yang sedang bergolak di Sumatra.

Pada 18 Mei 1958 dini hari, sebuah pesawat AUREV menyerang Pangkalan Udara Pattimura (Ambon). Pada saat yang sama, di Lanud Liang, pilot P-51 AURI, Kapten Udara Ignatius Dewanto juga sedang bersiap di kokpit pesawatnya untuk melaksanakan serangan udara menuju Lanud Mapanget AUREV di Manado.

Bahan bakar untuk terbang jarak jauh sudah diisi penuh demikian pula amunisi senapan mesin dan roket untuk kepentingan dogfight serta gempuran ke sasaran di darat.

Ketika sedang bersiap-siap untuk take off, tiba-tiba Kapten Dewanto menerima berita tentang serangan udara AUREV di kota Ambon. Sesuai perintah Mayor Leo Wattimena, Kapten Dewanto pun segera take off dan melesat terbang menuju kota Ambon yang berjarak sekitar 31 km dari Lanud Liang.

Tatkala beberapa menit kemudian P-51 yang siap tempur sudah berada di atas udara Ambon, Dewanto melihat asap mengepul di mana-mana. Puing-puing yang berserakan dan tersebar dalam jarak tertentu serta pohon-pohon yang hangus berasap menandakan baru saja terjadi serangan udara terhadap Ambon.

Kapten Dewanto kemudian melaksanakan terbang search and destroy sambil melaksanakan manuver berputar-putar untuk melakukan observasi secara visual.

Setelah sekian menit terbang, B-26 Invader AUREV ternyata tidak terlihat. Kemudian Kapten Dewanto mengarahkan pesawatnya ke barat menuju lautan.

Demi persiapan dogfight sesuai prosedur tanki bahan bakar cadangan untuk terbang jarak jauh (ferry tank) dilepas sehingga kecepatan dan kelincahan pesawat bertambah.

Kapten Udara Dewanto terbang makin rendah di atas permukaan laut, sambil pandangannya tertuju kepada konvoi kapal ALRI yang akan melaksanakan serangan ke Sulawesi. Sekonyong-konyong dilihatnya pesawat B-26 Invader AUREV yang sedang melaju ke arah konvoi kapal ALRI di bawahnya.

Menyadari hadirnya pesawat asing semua kapal ALRI segera mengumandangkan peran tempur udara sambil menyiapkan senapan dan meriam antiserangan udara.

P-51 Dewanto segera dipacu terbang mengejar dan beruntung bisa menempatkan diri persis berada di belakang B-26 tersebut.

Walaupun sempat ragu karena posisi musuh tepat antara kapal dan P-51, dan menyadari bahwa kapal-kapal perang ALRI mulai melepaskan tembakan, Kapten Dewanto juga langsung menembak dengan roketnya.

Sebagai roket tanpa pemandu, roket yang cocok untuk sasaran statis itu ternyata sulit menghantam sasaran bergerak. Oleh karena itu semua roket yang ditembakkan Kapten Dewanto meleset. Gagalnya gempuran roket kemudian disusul tembakan gencar senapan mesin 12.7 mm P-51 dalam jarak tembak efektif.

Pada saat bersamaan, kapal kapal perang ALRI juga terus melepaskan tembakan antiserangan udara. Salah satunya, adalah KRI Sawega yang segera menembakkan senapan mesin mitraliur kaliber 12.7 mm dan senapan mesin water mantle kaliber 7.62 mm secara serempak.

Pesawat B-26 yang diterbangkan Allen Pope (CIA) dan sedang memfokuskan sasarannya terhadap kapal-kapal perang ALRI pada awalnya rupanya tidak menyadari serangan gencar yang dilaksanakan P-51.

Akibat hantaman peluru senapan mesin P-51, B-26 tampak terguncang dan kemudian terbakar. Pope beserta juru radio yang semula personel AURI, Hary Rantung tampak berhasil bail out menggunakan parasut.

Atas keberhasilannya menembak jatuh B-26 Invader AUREV, Kapten Udara Dewanto pun menjadi ace pertama bagi Indonesia. Posisi jatuhnya pesawat B-26 tersebut pada koordinat 03.40 LS dan 127.51 BT.

Dalam penilaian untuk menentukan confirmed kill, Kapten Dewanto yakin bahwa peluru 12.7 mm P-51 tepat mengenai sasaran. Tanda hantaman peluru senapan mesin itu dikuatkan dengan adanya asap yang mengepul keluar dari badan pesawat.

Sementara dua awak pesawat B-26 yang kelihatan berhasil meloncat menggunakan parasut untuk sementara terapung-apung di udara sambil mencari lokasi pendaratan di pinggiran pantai yang banyak ditumbuhi pohon kelapa.

Sewaktu berusaha mendarat payung Allen Pope yang berhasil bail out kemudian menyangkut di pohon kelapa di Pulau Tiga. Pope pun berusaha turun dari pohon kelapa yang cukup tinggi itu. Tapi karena kurang mahir memanjat, ketika hendak turun dari pohon kelapa, Pope jatuh terhempas ke batu karang sehingga kakinya patah serta badannya luka-luka.

Sedangkan operator Radio Harry Rantung juga jatuh ke laut dan kemudian dapat berenang ke tepi. Tetapi kedua awak pesawat B-26 yang nahas itu akhirnya dapat ditangkap oleh patroli pasukan ALRI.

Sementara itu, saat dalam perjalanan terbang pulang menuju Lanud Liang usai menembak jatuh B-26 yang diterbangkan Pope, Dewanto tiba-tiba berpapasan dengan B-26 lainnya yang baru saja melaksanakan bombardemen di Ambon.

Mirip dengan para pilot Kamikaze yang bertempur dalam PD II, Dewanto langsung mengarahkan P-51 secara berhadap-hadapan, head to head, menuju B-26 yang juga dipiloti orang asing itu.

Duel udara secara berhadap-hadapan pun berlangsung sengit. Dengan berani Dewanto menghujani tembakan kearah B-26 yang diterbangkan pilot kulit putih bernama Cony tersebut menggunakan senapan mesin sampai peluru habis.

B-26 AUREV juga balas menembak menggunakan senapan mesinnya. Akibat dogfight sengit itu kedua pesawat sama-sama mengalami kerusakan tapi tidak jatuh.

Namun kemudian B-26 memilih kabur mengingat P-51 bukan merupakan tandingannya dalam dogfight. Dewanto sendiri memutuskan terus return to base (RTB) mengingat amunisinya juga sudah habis.

Sejak tertangkapnya Allen Pope yang membikin malu Pemerintah AS, kekuatan AUREV seperti telah lumpuh dan keunggulan udara di wilayah Indonesia Timur dikuasai AURI. Pesawat-pesawat AUREV kemungkinan memang masih bisa menyerang dan diterbangkan oleh segelintir pilot yang membelot dari AURI.

Operasi-operasi pendaratan pasukan untuk menggempur Permesta pun mulai dilakukan di berbagai tempat oleh pasukan gabungan TNI.

Kendati satu B-26 AUREV sudah tertembak jatuh dan berhasil menurunkan moril tempur pasukan Permesta, masih perlu waktu yang panjang bagi pasukan RI untuk menaklukkan pasukan darat Permesta yang jumlahnya puluhan ribu personel melalui operasi gabungan ABRI (TNI).

Tapi berkat keunggulan udara yang berhasil diraih oleh AURI terutama peran dominan Mustang di udara, kekuatan pasukan Permesta akhirnya berhasil dihancurkan.

Resources
  • Intisari
  • Gambar: TNI AU