Monday, September 23, 2013

Leopard Tiba, Daya Gempur Baru untuk TNI AD

Leopard

Dua unit tank tempur utama (MBT) Leopard 2A4 dan dua unit tank tempur infanteri (IFV) Marder pesanan TNI AD tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Sabtu malam, 21 September 2013. Proses bongkar muat berjalan rahasia dan tertutup karena Leopard dan Marder termasuk alutsista strategis.

Kedua jenis tank tersebut diangkut dari Jerman menggunakan kapal Isolde dari Rheinmettal Industries Jerman. Leopard ini sendiri bukan tank baru, melainkan bekas pakai yang di-refurbish. Tank itu dibuat Jerman pada durasi tahun 1985 hingga 1992. Karena Jerman over produksi (2.125 unit Leopard 2A4), maka Leopard tipe ini dijual ke berbagai negara. Tercatat negara-negara pemakainya adalah Austria, Polandia, dan Turki. Khusus Asia, baru Singapura (96 unit) dan Indonesia yang mengoperasikan tank ini.

Selain Leopard, Marder juga bukan produk anyar. Prototipe awalnya dirancang pada 1960-an dengan produksi perdana pada 1971. Saat ini sebagian Marder varian awal di Jerman sudah akan digantikan generasi yang lebih baru, yaitu Puma. Tank Marder berfungsi sebagai tank tempur infanteri yang dilengkapi meriam otomatis kaliber 20 mm Rheinmetall MK 20 Rh202.

Kepala Subdin Penerangan Umum TNI-AD Kolonel Zainal belum bisa memberikan keterangan tentang kedatangan Leopard di Jakarta. "Besok (hari ini) akan dijelaskan oleh Kadispenad di Mabes AD," katanya.

Sempat menuai perdebatan
Pembelian tank tempur utama sempat memicu perdebatan sengit antara Kemenhan dan DPR. Banyak analis pertahanan menilai tank Leopard tidak sesuai dengan medan geografis di Indonesia. Salah seorang yang cukup getol untuk membatalkan pembelian Leopard adalah Mantan Presiden RI BJ. Habibie.

"Lihat saja perang di Vietnam satu tank Leopard (MBT) pun tidak pernah dimanfaatkan kok kita malah ikut-ikutan. Mau dimanfaatkan di jalan, rusak, mau di hutan, dibawa pakai kapal nanti keburu ditembak," kata Habibie saat berargumen di Bappenas, Jakarta, Jumat, 8 Maret silam.

Bahkan dengan lugas Habibie menuding jika orang yang membeli tank Leopard sebagai orang bodoh pencari keuntungan. Makanya sudah sering kali Habibie terus mendorong pembatalan pembelian tank ini. Beberapa pengamat bahkan lebih memilih pada pembelian alutsista lain seperti rudal, perisai udara dan -tentu saja- radar dll ketimbang membeli Leopard.

Selain struktur geografis asli Indonesia sendiri, struktur jalan dan jembatan di Indonesia juga diragukan untuk dilalui tank sekelas Leopard. Tentu saja akan banyak jalan dan jembatan di Indonesia yang tidak memiliki kapasitas beban untuk dilalui MBT. Dalam langkah cepat pertempuran, rasanya tidak mungkin untuk terlebih dahulu menguji kekokohan struktur ini. Salah satu contoh, dalam invasi AS ke Irak pada 2003 silam, tank M1 Abrams AS berusaha menyeberangi jembatan ketika menghindari tembakan, akhirnya jembatan roboh dan M1 Abrams jatuh ke sungai Efrat.

Namun, akhirnya pada November 2012 Kemenhan menandatangani kontrak pembelian senilai USD 280 juta (sekitar Rp 3 triliun) dengan Jerman. Indonesia membeli sebanyak 153 unit MBT dan IFV. Dengan rincian, 61 unit MBT Leopard tipe revolution, 42 MBT Leopard 2A4, serta 50 IFV Marder. Untuk MBT Leopard akan dilengkapi tank recovery, tank bridge layer (jembatan), dan ambulans. OK maju terus TNI AD.