Tuesday, February 18, 2020

Rusia Mampu Bangun Kapal Induk Nuklir (Tapi Belum Akan)

Kapal induk Rusia Admiral Kuznetsov
Kapal induk Rusia Admiral Kuznetsov (Sputniknews)

Moskow kemungkinan belum akan menambah kapal induk baru, baik tipe konvensional atau nuklir, dalam waktu dekat. Biaya kapal induk sangatlah besar, dan Rusia tampak lebih memprioritaskan kapak induk helikopter.

Rusia mampu membangun sebuah kapal induk baru bertenaga nuklir untuk akhirnya menggantikan satu-satunya kapal induk mereka yang saat ini kurang dapat diandalkan lagi yaitu Admiral Kuznetsov.

Rusia bisa melakukannya, tapi mungkin belum akan melakukannya. Bahkan, Rusia kemungkinan belum akan menambah kapal induk baru, baik tipe konvensional atau nuklir, dalam waktu dekat. Biaya kapal induk sangatlah besar, dan tampaknya Rusia lebih memprioritaskan kapak induk angkut helikopter.

Komentator Forbes, T.I. Sutton, masih meyakini, "Dua desain (kapal induk) baru bersaing, SHTORM dan Lamantin, yang dalam bingkai untuk menggantikan (kapal induk) Kuznetsov", Sutton menulis pada pertengahan Februari lalu. "Kedua proposal (desain kapal induk) memiliki propulsi nuklir."

Biro Desain Nevskoye di St. Petersberg berada di belakang proposal Lamantin. Sebuah model skala Lamantin kala itu dipamerkan di sebuah pameran militer di St. Petersburg 2019 lalu.

Desain Lamantin memiliki bobot benaman sekitar 90.000 ton air, sedikit lebih kecil dari apa yang dimiliki Angkatan Laut AS dengan 11 supercarrier mereka, dan akan dapat mengakomodasi sebanyak 60 pesawat, yang kira-kira dua kali lipat dari apa yang bisa Kuznetsov lakukan.

Berbeda dengan SHTORM yang didesain oleh Krylov State Center, kapal induk ini akan mampu menampung hingga 90 pesawat, sehingga kira-kira setara dengan supercarrier Angkatan Laut AS.

Presiden Rusia Vladimir Putin dikabarkan sudah mempelajari desain kapal induk baru itu pada awal Januari 2020. Kecelakaan kebakaran pada Kuznetsov akhir tahun lalu dipastikan menambah urgensi untuk pertimbangan Putin.

Kuznetsov yang berusia 35 tahun, pada Oktober 2018 lalu mengalami kerusakan serius di Repair Shipyard ke-82 di Murmansk, sebuah kota pelabuhan utara, ketika itu dry-dock (dermaga kering) PD-50 tenggelam sementara kapal induk itu menjalani perbaikan.

PD-50 buatan Swedia itu adalah satu-satunya dry-dock besar yang mampu mengakomodasi kapal perang terbesar di armada utara Rusia itu. Sedangkan dry-dock besar Rusia lainnya berada ribuan mil dari pangkalan utama armada utara.

PD-50 dry-dock
PD-50 dry-dock

Memindahkan dermaga, atau kapal induk yang membutuhkan perbaikan, adalah pekerjaan yang sulit, mahal, dan memakan waktu. Di samping biaya, sanksi asing juga mempersulit Rusia mendapatkan dermaga kering mirip dengan PD-50.

Menurut surat kabar Izvestia, Kremlin dinilai hanya akan menonaktifkan Kuznetsov daripada menghabiskan uang untuk memperoleh dry-dock baru, memindahkan dermaga yang ada atau kapal induk atau mencari cara lain untuk memperbaiki kapal induk tua itu, kurang dapat diandalkan dan rawan kecelakaan.

"Tidak semua orang menganggap kelanjutan perbaikan harus sesuai," sumber angkatan laut dilaporkan mengatakan kepada Izvestia. "Ada pendapat yang berbeda, termasuk kenyataan yang mencuat permukaan bahwa dengan uang ini lebih baik untuk membangun sepasang (kapal) fregat atau kapal selam nuklir."

Pada musim semi 2019, dilaporkan ada rencana untuk merakit dry-dock baru yang bisa mengakomodasi kapal induk. Ship Repair Plant No. 35 di Murmansk di utara Rusia memiliki dua dry-dock panjang 600 kaki yang rencananya akan digabungkan agar dapat mengakomodasi ukuran Kuznetsov.

Kemudian pada 12 Desember 2019, bencana kebakaran terjadi di salah satu dek bawah Kuznetsov, media Rusia melaporkan. Kuznetsov pada saat itu berada di sisi dermaga di Murmansk untuk pra-rencana perbaikan terkait bencana 2016 terkait penyebarannya ke pantai Suriah.

Kobaran api menyebar seluas 6.500 kaki persegi dan petugas pemadam kebakaran berjuang untuk memadamkannya. Satu orang tewas dan 10 luka-luka dalam kebakaran itu, TASS melaporkan. Enam menerima perawatan intensif.

Kerusakan akibat kebakaran mempersulit rencana perbaikan. perencana Kremlin harus mempertimbangkan nilai Kuznetsov sebagai simbol prestise nasional terhadap kondisi buruk dan risiko keselamatan untuk pekerja dan awak.

Sutton tetap optimis meskipun biaya multi-miliar dolar untuk membangun kapal induk - belum termasuk biaya operasi dan air wing - akan menguras kas Kremlin dan akan mengambil jeda waktu.

Angkatan Laut AS menghabiskan sekitar $13 miliar membangun kapal induk bertenaga nuklir baru. Moskow menghabiskan hanya $70 miliar per tahun untuk seluruh angkatan bersenjatanya.

Samuel Bendett, seorang peneliti di Center for Naval Analyses and Russia Studies di American Foreign Policy Council, mengatakan kepada The National Interest bahwa Kremlin akhirnya akan mendanai pembangunan kapal induk baru  baru. "Sekarang ini adalah masalah kebanggaan nasional bagi Rusia," kata Bendett.

"Menginginkan satu dan membangun satu adalah dua hal yang berbeda," katanya terkait kapal induk . "Saya pikir Rusia akan mencoba untuk terus mengoperasikan selama mungkin Kuznetsov sebelum akhirnya pensiun. Tapi karena Rusia memiliki tujuan untuk mempertahankan pengaruhnya di laut, memiliki sebuah kapal induk baru adalah suatu keharusan. "

"Di sisi lain, ada biaya signifikan terkait dengan konstruksi (kapal induk) seperti itu," Bendett menambahkan, "itulah sebabnya mengapa hal itu belum akan terlaksana dalam waktu dekat, sementara Rusia mengatur cukup sumber daya untuk menetapkan pengganti Kuznetsov ini."

Dalam rencana jangka menengah, Kremlin berfokus untuk membeli dua kapal induk helikopter. Setiap kapal hanya berbobot benaman 15.000 ton, ini tentu lebih kecil biayanya, mungkin hanya beberapa miliar dolar masing-masing dan harusnya juga jauh lebih mudah dioperasikan daripada kapal induk.

Kedua kapal serbu itu akan ditetapkan di galangan kapal Zaliv di Crimea Mei 2020, dua sumber di industri galangan kapal Rusia mengatakan kepada TASS pada akhir 2019.

Resources
  • The National Interest