Mengapa Rusia Tidak Buat Jet Tempur yang Benar-benar Siluman?

Wednesday, May 23, 2018
Su-57 Rusia

Sepasang pesawat tempur generasi kelima Sukhoi Su-57 PAK-FA unjuk kebolehan dalam Parade Victory Day Moskow pada 9 Mei lalu, mendemonstrasikan kemampuan teknis Angkatan Udara Rusia.

Versi Su-57 saat ini — juga menyematkan fitur siluman — diharapkan sudah akan sempurna dan diproduksi pada 2019. Angkatan Udara Rusia berharap menerima pengiriman lusinan Su-57 versi pra-produksi untuk pengujian operasional di tahun yang sama.

Namun, tidak jelas berapa banyak versi Su-57 saat ini — yang menggunakan sepasang mesin Saturn AL-41F1 milik Su-35 Flanker-E — yang akan diakuisisi oleh Angkatan Udara Rusia. Besar kemungkinan Kremlin akan menunda akuisisi Su-57 dalam skala besar hingga mesin Izdeliye 30 baru yang lebih powerfull siap pada pertengahan tahun 2020-an.

Dengan kemitraan dengan Rusia, India juga mengembangkan versi Su-57 untuk kebutuhan Angkatan Udara mereka sendiri.

Namun, New Delhi dilaporkan telah keluar dari proyek sebagian karena Rusia yang tidak mengizinkan India mengakses source code jet tersebut, juga karena masalah teknologi — seperti avionik, siluman, hingga mesin.

Memang Rusia segera akan meng-upgrade sistem avionik Su-57 dan mesinnya juga akan segera diganti dengan Izdeliye 30, tapi yang menjadi kekhawatiran India yang paling mengganjal adalah tentang fitur siluman Su-57.

Dengan desain Su-57 yang sudah jadi saat ini, tidak banyak yang dapat dilakukan untuk meningkatkan radar cross section-nya. Meskipun demikian, India tetap bersedia membeli Su-57 di kemudian hari.

Masalah mendasar terkait fitur siluman Su-57 adalah masalah bentuk airframe-nya. Dilansir dari Business Insider, baru-baru ini sebuah sumber menyebutkan bahwa ada banyak titik radar cross section di badan Su-57 yang tampak jelas bagi mata yang berpengalaman.

Selain itu, sementara Rusia tidak diragukan lagi kemampuannya untuk merancang pesawat siluman, ada pertanyaan terbuka jika Moskow memiliki peralatan mesin yang diperlukan untuk memproduksi pesawat siluman secara massal.

Toleransi manufaktur adalah salah satu faktor kunci dalam membangun pesawat siluman. F-22, misalnya, memiliki toleransi pembuatan 1/10.000 inci. Lini produksi F-35 lebih besar daripada F-22, yang dibangun menggunakan teknik manufaktur yang relatif jadul.

Memang, salah satu alasan bahwa F-35 lebih sedikit menggunakan lapisan siluman dan pengisi celah adalah karena toleransi manufaktur yang sangat ekstrem.

Rusia — yang pada era pasca Soviet mengandalkan alat-alat manufaktur impor terutama dari Eropa — tidak memiliki kemampuan manufaktur yang tepat untuk memproduksi pesawat siluman secara massal.

Namun, dari perspektif Rusia, ini bukan soal kemampuan manufaktur, melainkan Moskow yang sepertinya berpendapat bahwa fitur siluman bukan sebagai "alat bertahan hidup" yang berdiri sendiri — terutama untuk menembus ke wilayah udara musuh yang dijaga ketat sistem pertahanan udara.

Rusia juga tidak perlu khawatir dengan upaya menembus wilayah udara musuh, karena negara-negara Barat — kecuali Angkatan Laut AS — tidak memiliki sistem pertahanan udara terintegrasi yang kompleks yang sebanding dengan S-300V4 atau S-400 Rusia.

Dalam hal pasukan Rusia harus menyerang di dalam wilayah yang dijaga ketat sistem pertahanan udara, pasukan Rusia akan mengandalkan rudal jelajah jarak jauh Kh-101/102 Raduga yang dapat menembus sistem pertahanan udara yang ada saat ini. Belum lagi rudal Khinzal yang memiliki fitur "siluman" karena kecepatan hipersonik dan manuvernya.

Kembali ke pesawat, Su-57 tidak memasukkan derajat pengurangan radar cross section sektor depan, yang membantu meningkatkan survivabilitas di arena udara-ke-udara. Namun, Rusia lebih suka menggunakan teknik yang telah dicoba dan terbukti seperti beaming — atau mengeksploitasi pulse radar Doppler yang pada dasarnya menghilang dari radar musuh dengan memutar 90 derajat ke arah radar musuh.

Esensinya membuat Su-57 muncul sebagai objek diam yang relatif terhadap radar musuh dan dengan demikian disaring (pulse radar Doppler memiliki kelemahan dengan objek yang bergerak dari sisi ke sisi).

Ini hanya masalah fisika, sangat sedikit musuh yang dapat melawannya kecuali dengan mengadopsi sensor tambahan — seperti pencarian dan pelacakan inframerah — dan meningkatkan pemrosesan sinyal.


Rusia mengandalkan sensor-sensor Su-57 — yang mencakup radar N036L-1-01 L-band — yang akan memperingatkan pilot-pilotnya di kisaran pesawat tempur siluman generasi kelima musuh seperti F-22 atau F-35.

Pesawat siluman seukuran pesawat tempur taktis harus dioptimalkan untuk mengalahkan pita frekuensi tinggi seperti pita C, X, dan Ku sebagai masalah fisika. Pesawat-pesawat itu muncul di radar yang beroperasi pada gelombang frekuensi yang lebih panjang seperti L-band, namun, lintasannya tidak cukup tepat untuk melibatkan target dengan rudal.

Namun, radar L-band — bagian dari radar Byelka N036 — mempersempit area pencarian sehingga Su-57 dapat memindai volume ruang yang lebih kecil dengan X-band N036-1-01 dan N036B-1-01.

Radar ini ditambah lagi dengan sistem penargetan elektro-optik 101KS Atoll dan L402 Himalayas electronic countermeasure suite, yang akan membantu lebih baik dalam memperbaiki lintasan dari radar L-band. Idenya adalah bahwa pencarian terfokus oleh sensor jet lainnya yang akan menghasilkan quality track senjata untuk menjatuhkan pesawat tempur generasi kelima seperti F-22 atau F-35.

Apakah akan benar-benar berhasil? Tidak ada yang tahu. Mungkin jawabannya akan muncul apabila Perang Dunia III pecah.

Resources
  • The National Interest

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

No comments:

Post a Comment