Friday, April 20, 2018

9 Eksperimen Keji Unit 731 Angkatan Darat Jepang

Unit 731

Peristiwa-peristiwa dalam Perang Dunia II mungkin menunjukkan titik terendah dari kemanusiaan. Benturan ideologi politik dan pertempuran di seluruh dunia menciptakan pertumpahan darah dan kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Meskipun Holocaust menjadi gambaran dari sifat perang yang keji dan mengerikan, Unit 731 Angkatan Darat Kekaisaran Jepang memiliki kengerian tersendiri dalam eksperimennya terhadap manusia.

Unit 731 adalah unit rahasia untuk penelitian dan pengembangan biologi dan kimia di Angkatan Darat Kekaisaran Jepang selama tahun 1937 - 1945.  Unit ini merupakan kompleks laboratorium besar yang terdiri dari 150 bangunan dan 5 perkemahan satelit dengan 3.000 ilmuwan dan teknisi bekerja di dalamnya. Unit inilah yang bertanggung jawab atas beberapa kejahatan perang paling terkenal yang dilakukan oleh Kekaisaran Jepang.

Dilansir dari listverse.com, inilah beberapa eksperimen keji dan mengerikan yang dilakukan Unit 731 dalam rentang tahun 1936 hingga 1945.

1. Amputasi

Amputasi Unit 731

Seperti halnya eksperimen di Auschwitz dan kamp konsentrasi Nazi lainnya, dokter dan peneliti Unit 731 mempelajari potensi kelangsungan hidup prajurit di medan perang. Tetapi alih-alih menggunakan tentara Jepang untuk percobaan, mereka menggunakan POW (prisoner of war - tahanan perang) Sekutu, serta warga sipil China dan Rusia.

Salah satu eksperimen yang dipengaruhi oleh perang adalah pemotongan anggota tubuh untuk mempelajari efek kehilangan darah. Sedangkan pemotongan dalam bentuk lain oleh Unit 731 adalah murni eksperimental dan tidak terkait dengan perang. Sebagai contoh, beberapa anggota badan yang diamputasi disambungkan ke sisi lain dari tubuh. Lain waktu, anggota badan dibekukan dan diamputasi sampai-sampai hanya kepala dan badan korban yang tersisa.

Seringkali, amputasi ini dilakukan tanpa anestesi (bius) karena khawatir obat bius dapat mempengaruhi eksperimen secara negatif.

2. Pembantaian Nanking (Nanjing)

Pembantaian Nanking
Korban pembantaian Nanking di tepi Sungai Qinhuai dengan tentara Jepang yang berdiri di dekatnya
Selama Perang Tiongkok-Jepang kedua.banyak tahanan perang dan penduduk sipil yang ditangkap untuk eksperimen Unit 731. Segera setelah tentara Jepang memasuki ibu kota Tiongkok pada bulan Desember 1937, kota ini menjadi tuan rumah bagi pembunuhan massal dan pemerko---n.

Setelah turun perintah untuk melenyapkan semua tawanan, tidak ada yang terhindar. Kekejaman termasuk pemukulan, penenggelaman, pemenggalan kepala, pencurian massal, pemerko---n, penguburan hidup, distribusi obat adiktif, dan banyak kejahatan yang tidak tercatat.

Bahkan ada perlombaan antara dua perwira Jepang untuk melihat siapa yang akan membunuh 100 orang dengan pedang terlebih dahulu. Namun, tidak seperti banyak anggota Unit 731 lainnya, kedua perwira ini pada akhirnya diadili dan dieksekusi.

3. Pembedahan

Salah satu eksperimen brutal yang sering dilakukan Unit 731 adalah pembedahan. Dilakukan pada korban yang masih hidup tanpa anestesi, karena khawatir anestesi akan mempengaruhi waktu dan hasil pembusukan setelah kematian.

Tujuan tindakan brutal ini adalah untuk praktek pembedahan. Bahkan, berbagai pembedahan berbeda dilakukan pada satu korban. Begitu korban tidak lagi berguna, dia dibunuh, dan dipotong sebelum dibakar atau ditempatkan di lubang pemakaman besar.

Di lain waktu, pembedahan dilakukan untuk melihat efek internal penyakit. Pengangkatan organ juga menjadi bagian dari eksperimen brutal ini, seperti pengangkatan lambung dan pemasangan esofagus ke usus.

Gambar-gambar dan kesaksian tentang pembedahan oleh Unit 731 ini banyak tersebar di internet. Jika ingin melihatnya, lihatlah dengan bijaksana.

4. Suntikan mematikan

Pada awalnya, banyak percobaan penyakit yang dilakukan Unit 731 merupakan tindakan preventif (pencegahan). Jepang menyadari bahwa 89 persen kematian di medan pertempuran dari Perang Tiongkok-Jepang pertama berasal dari penyakit. Tetapi percobaan-percobaan yang awalnya hanya menggunakan obat-obatan pencegahan dan vaksin berevolusi menjadi eksperimen yang ofensif selama perang berlangsung.

Unit 731 dibagi menjadi delapan divisi. Divisi pertama berfokus pada percobaan dengan penyakit bakteriologis, termasuk penyakit pes, kolera, anthrax, tifoid, dan tuberkulosis. Bakteri ini disuntikkan ke korban secara teratur, dan infeksi yang dihasilkan dipelajari. Hasilnya menjadi semakin mematikan karena banyak orang tinggal di sel-sel tahanan.

Jepang juga mempelajari efek menyuntikkan manusia dengan darah binatang, menyuntikkan udara di aliran darah yang menyebabkan emboli, hingga menyuntikkan air laut. Suntikan air laut ini mirip dengan percobaan menelan air laut di Auschwitz.

5. Penyakit kelamin

Bayi juga tidak dibebaskan dari kekejaman unit 731 karena mereka mempelajari transmisi (penularan) penyakit dari ibu ke janin. Ini termasuk penyakit seperti sifilis. Para peneliti mempelajari bagaimana sifilis akan mempengaruhi kesehatan bayi yang dilahirkan dan bagaimana bahayanya pada sistem reproduksi ibu. Tidak ada yang tahu jumlah bayi yang lahir di "penangkaran" unit 731, tapi yang diketahui bahwa tidak ada yang selamat ketika unit 731 dibubarkan pada 1945.

Sementara penyakit seperti tuberkulosis dan cacar bisa disuntikkan, penyakit sifilis dan kencing nanah memerlukan metode penularan yang berbeda. Penularan dilakukan melalui hubungan seksual, dengan salah satu pasangan terinfeksi. Pasangan itu dipaksa melakukan hubungan seksual di bawah ancaman ditembak. Tubuh yang terinfeksi kemudian diseleksi untuk melihat hasilnya.

6. Radang dingin

Salah satu rangkaian eksperimen mengerikan oleh Unit 731 adalah eksperimen pada suhu ekstrem. Sementara suhu panas yang ekstrim juga digunakan pada subjek uji, suhu dingin ekstrem lebih sering digunakan karena cocok untuk iklim fasilitas tertentu di Jepang.

Radang dingin adalah kondisi jaringan tubuh membeku dan rusak oleh paparan suhu rendah.

Setelah subjek dibawa keluar di cuaca dingin, air sebentar-sebentar dituangkan ke tangan mereka sampai radang dingin masuk ke area yang terkena. Di waktu lain, anggota badan dibekukan dan kemudian dicairkan untuk mempelajari gangren.

Orang mungkin bertanya-tanya bagaimana para peneliti bisa mengatakan bahwa lengan subjek telah membeku. Menurut kesaksian seorang petugas, radang dingin terjadi jika “lengan yang membeku dipukul dengan tongkat pendek, mengeluarkan suara yang menyerupai suara papan ketika dipukul".

Kejam, namun eksperimen ini memang menghasilkan temuan ilmiah. Unit 731 menemukan bahwa radang dingin lebih efektif diobati dengan merendam area yang terkena dalam air yang lebih hangat dari 37,8°C, tetapi lebih dingin dari 50°.

7. Eksperimen ruang khusus

Meskipun Unit 731 melakukan banyak pengujian di lapangan, fasilitas seluas 6 kilometer persegi ini menjadi tuan rumah bagi banyak bangunan untuk eksperimen tertentu. Banyak dari bangunan ini digunakan untuk membudidayakan kutu dan patogen, tetapi beberapa khusus dibuat untuk pengujian.

Centrifuge dibangun untuk memeriksa berapa banyak kekuatan yang diperlukan untuk menyebabkan kematian. Ruang bertekanan tinggi akan  mendorong mata korban keluar dari kepala mereka. Aborsi paksa dan sterilisasi dilakukan, dan subyek dipapari dengan radiasi X-ray yang mematikan.

Dalam sebuah eksperimen untuk mengamati ikatan antara ibu dan anak, seorang ibu Rusia dan anaknya diawasi di sebuah ruang kaca sementara gas beracun dipompa masuk. Sang ibu lalu menutupi anaknya dari gas sebagai upaya untuk menyelamatkannya, tetapi keduanya akhirnya menyerah.

8. Pengujian senjata

Pengujian senjata Unit 731
(Kanan) Shirō Ishii, komandan Unit 731
Di Unit 731, subyek manusia juga digunakan dalam pengujian senjata di banyak fasilitas. Korban biasanya dibawa ke lapangan percobaan dan diikat ke tiang kayu untuk diuji. Korban ini kemudian dijatuhi bom atau granat, digunakan untuk latihan sasaran, atau dibakar dengan flamethrower (penyembur api).

Ini sangat mirip dengan protokol Angkatan Darat Kekaisaran Jepang untuk menggunakan tentara China yang ditangkap untuk latihan bayonet.

9. Senjata biologis

Korban senjata biologis

Perang Dunia I membawa kemajuan teknologi dalam peperangan, terutama senjata biologis. Terinspirasi oleh keberhasilan yang dihasilkan oleh "bioweapon" ini (terutama gas klorin yang digunakan selama Pertempuran Ypres Kedua), Jenderal Shiro Ishii, komandan Unit 731, bereksperimen secara ekstensif di bidang ini.

Selain menjatuhkan bom yang penuh dengan penyakit seperti anthrax, kolera, tifus, dan penyakit pes pada tahanan, Ishii merancang bom khusus yang terbuat dari porselen yang memungkinkan kutu yang terinfeksi menyebar dan menginfeksi area yang lebih luas. Sekali lagi, subjek sering diikat ke pasak dan dibom. Para ilmuwan menggunakan pakaian pelindung memeriksa mayat setelahnya.

Di lain waktu — seperti pada tanggal 4 dan 29 Oktober 1940 — pesawat Jepang terbang rendah menyemprotkan bakteri wabah di provinsi Chechiang di Tiongkok, menewaskan ratusan orang. Perkiraan jumlah total orang Cina yang terbunuh dengan cara ini antara 200.000–580.000 orang.