Friday, December 13, 2013

Info Pertahanan dari Komisi I DPR RI (Desember 2013)

KFX

Hercules Hibah Australia Tiba
Kamis, 12 Desember 2013
Meski hubungan dengan Australia sedang beku, Menhan Purnomo Yusgiantoro mengatakan bahwa program hibah 4 unit pesawat Hercules bekas dari Australia tetap berlanjut tetap berlanjut. Bahkan, kata Menhan, pada akhir November lalu 1 Hercules sudah tiba di Tanah Air. Satu unit lagi dijadwalkan tiba pada bulan ini, dan sisanya 2 unit akan dikirimkan pada tahun depan.

Kehadiran 4 Hercules itu akan menambah stok airlifter TNI. Menurut Menhan, meskipun bekas pakai, pesawat itu bisa digunakan hingga 15 tahun lagi. Bahkan Kadispen TNI AU Marsma SB Supriyadi mengatakan Hercules tersebut itu masih bisa digunakan hingga 30 tahun ke depan dengan rata-rata 600 jam terbang per tahun. Meskipun tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan pemerintah Indonesia untuk mengembalikan performa pesawat bekas tersebut, yaitu sekitar AS$63 juta (sekitar 761 miliar rupiah).



Korsel Beri Sinyal RI untuk Lanjutkan Kerja Sama Pengembangan Jet Tempur KFX/IFX
Kamis, 12 Desember 2013
Sempat terhenti selama setahun ini, proyek pengembangan dan produksi pesawat tempur Korean Fighter eXperiment (KFX) wujud kerja sama Indonesia dan Korea Selatan akhirnya dilanjutkan. Kepastian ini setelah pihak Korsel memberikan sinyal positif.

Namun belum jelas kapan proses produksi KFX itu dimulai kembali. Menurut Pemerintah Korsel, parlemennya masih belum bulat. Bila parlemen sudah sepakat mengenai waktunya, tim teknis Korsel tinggal berkoordinasi dengan pihak Indonesia.

Akibat penghentian sepihak dari Korsel, Indonesia merugi Rp 1,6 triliun. Kerugian diderita karena proyek tersebut dibiayai bersama oleh kedua negara. Indonesia menyetor 20 persen dari total biaya proyek yang sebesar Rp 80 triliun.



Tawaran 10 Kapal Selam dari Rusia
Kamis, 12 Desember 2013
Selain membahas Renstra memberdayakan industri pertahanan nasional, raker pada Rabu, 11 Desember 2012 di Komisi I juga membahas tawaran hibah 10 unit kapal selam dari Rusia. Namun, belum pembahasan yang mendalam.

Menurut Menhan, rapat DPR dan pemerintah kali itu lebih fokus untuk mendiskusikan tiga unit kapal selam yang dibangun melalui kerjasama RI dengan Korsel.

Meskipun begitu, lanjut Menhan, DPR dan pemerintah sepakat untuk mengirimkan tim ke Rusia untuk mendalami tawaran hibah tersebut, mulai dari spesifikasi dan kondisi kapal selam yang akan dihibahkan, mekanisme pemberian, hingga konsekuensinya.



Satelit Militer Dianggarkan Pada 2014
Senin, 9 Desember 2013
Anggota Komisi I DPR RI, Fayakhun Andriadi mengatakan, rencana pembelian satelit militer sebenarnya sudah dibahas sejak 2012. Karena saat itu anggarannya tidak tersedia, maka rencana pengadaannya hingga kini belum dapat direalisasikan. Namun, terbongkarnya kasus penyadapan Australia dan AS belakangan membuat DPR dan pemerintah sepakat mempercepat pengadaan satelit militer.

Kabar gembira untuk Indonesia khususnya TNI. Andriadi mengungkapkan bahwa biaya pengadaan satelit militer ini diperkirakan mencapai Rp 5 triliun hingga Rp 7 triliun dan anggaran sebesar itu kini sudah ada dalam APBN TA 2014.

Jurnal Parlemen