Menhan : Program Kapal Selam dan Korvet Nasional Butuh Dukungan Semua Pihak
Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, dua program nasional di bidang industri pertahanan yaitu program Kapal Selam dan Korvet Nasional tidak hanya membutuhkan dukungan Kementerian Pertahanan tetapi juga dukungan semua pihak.
Hal tersebut dikatakan Menhan selaku Ketua Harian Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) saat memimpin Sidang KKIP Ke-10, di kantor Kemhan, Jakarta, Rabu, 6 November 2013. Hadir pada sidang tersebut Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan dan Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta selaku anggota KKIP.
Lebih lanjut dikatakan Menhan, bahwa pembangunan Kapal Selam dan Korvet Nasional akan dilakukan oleh PT. PAL sebagai Lead Integrator. Namun demikian, selain perlunya kesiapan dari PT. PAL, juga memerlukan pemikiran dan dukungan dari semua pihak sehingga cita-cita terwujudnya kemandirian di bidang alutsista dapat dicapai dengan baik.
Dijelaskan Menhan, kebutuhan kapal selam untuk mengamankan wilayah perairan Indonesia khususnya Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) sebanyak 12 buah. Saat ini TNI AL sudah memiliki dua buah kapal selam dan tiga kapal sedang dibangun berkerjasama dengan Korea Selatan.
Dari tiga kapal selam tersebut, rencananya ada satu kapal yang akan dibangun di Indonesia. Secara bertahap diharapkan pembangunan kapal selam berikutnya akan dapat dibangun di Indonesia.
Hal tersebut dikatakan Menhan selaku Ketua Harian Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) saat memimpin Sidang KKIP Ke-10, di kantor Kemhan, Jakarta, Rabu, 6 November 2013. Hadir pada sidang tersebut Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan dan Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta selaku anggota KKIP.
Lebih lanjut dikatakan Menhan, bahwa pembangunan Kapal Selam dan Korvet Nasional akan dilakukan oleh PT. PAL sebagai Lead Integrator. Namun demikian, selain perlunya kesiapan dari PT. PAL, juga memerlukan pemikiran dan dukungan dari semua pihak sehingga cita-cita terwujudnya kemandirian di bidang alutsista dapat dicapai dengan baik.
Dijelaskan Menhan, kebutuhan kapal selam untuk mengamankan wilayah perairan Indonesia khususnya Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) sebanyak 12 buah. Saat ini TNI AL sudah memiliki dua buah kapal selam dan tiga kapal sedang dibangun berkerjasama dengan Korea Selatan.
Dari tiga kapal selam tersebut, rencananya ada satu kapal yang akan dibangun di Indonesia. Secara bertahap diharapkan pembangunan kapal selam berikutnya akan dapat dibangun di Indonesia.







maju terus TNI, peningkatan teknologi memang sangat diperlukan
ReplyDeleteMAJU TERUS INDONESIAKU.....
ReplyDeletePerlu dipertimbangkan kekuatan kapal selam negara lain di kawasan jika ingin memiliki efek deteren.
ReplyDeleteDi sisi selatan ada Collins Class (Australia), sisi utara ada Scorpene Class (Malaysia & Singapura), Archer Class (Singapura), belum lagi dari Cina (untuk antisipasi konflik di LCS).
Apakah Changbogo Class ini mampu mengimbangi kapal selam di kawasan? Bukan bermaksud "under estimate", tapi rasanya kita perlu kapal selam yang benar2 bisa jadi efek deteren, pilihan adalah Kilo Class atau Lada Class (export version Amur Class).
Untuk kapal perang, baik frigat ataupun korvet, saya yakin PT PAL mampu memproduksi-nya.
Untuk kapal perang pun dibagi lagi, fungsi strategis dan fungsi pemukul. Saat ini kita "baru" memiliki KRI Oswald Siahaan sbg fungsi strategis yang dilengkapi dengan rudal Yakhont, perlu dipikirkan untuk penambahan jumlahnya, tentu melengkapi korvet atau frigat dengan rudal Yakhont.
JALESVEVA JAYAMAHE..!!
iya,betul mas yuniarko,sy stju pndapatnx,,kalo dliat diatas krtas ks.changbego itu cm tipu muslihat korsel..mending kfx ifx dbtalin aj dah,,kasus changbego g boleh terulang,,trus sbg tambahan kapal perang pemukul kita jg perlu cruiser jg,.kyk kirov klas heavy battle cruiser..itu pasti bkin keder musuh..
ReplyDelete