Friday, November 15, 2013

Leopard TNI AD dan Misi Perdamaian Dunia

Leopard 2A4

Kementerian Pertahanan Indonesia diketahui telah melakukan kesepakatan dengan pabrikan kendaraan lapis baja Jerman Rheinmetall untuk memasok MBT (Tank Tempur Utama), dukungan logistik dan amunisi dengan nilai kontrak ratusan juta dolar. Kontrak sudah ditandatangani dan kini tinggal menunggu pengiriman.

Kesepakatan penjualan ini terdiri dari 104 MBT Leopard 2 dan 50 tank infanteri Marder 1A2 berikut amunisi, 4 tank recovery, 3 tank (peluncur) jembatan, dan 3 tank penggusur tanah yang dikenal di Jerman sebagai "Pioneer tank", ditambah dokumentasi terkait, peralatan pelatihan dan dukungan logistik tambahan.

Diketahui dari isu kontrak yang beredar, tank-tank ini akan dikirimkan secara progresif ke TNI AD mulai 2014 hingga 2016. Namun tampaknya September lalu sudah terjadi pengiriman Leopard dan Marder ke Indonesia. Artinya menjadikan Indonesia sebagai negara ke 17 di dunia yang menggunakan Leopard- semuanya negara Eropa kecuali Chili dan Singapura.

Rheinmetall memiliki pengalaman lebih dari 40 tahun dalam mengembangkan dan membuat MBT, kendaraan infanteri dan sistem dukungan tempur terkait. Leopard 2 merupakan standar MBT masa kini, dengan lebih dari 3.600 unit (seluruh versi 2) sudah dioperasikan di seluruh dunia. Rheinmetall berperan penting dalam pengembangan dan produksi Leopard 2 untuk Angkatan Darat Jerman (2.350 unit) dan Belanda (445 unit). Leopard 2 versi A4 sendiri sudah dibangun sebanyak 2.125 unit. Ketika dioperasikan bersama-sama sistem tempur terkait lainnya, Leopard merupakan sistem tempur ekstrem yang sulit ditandingi.

Dengan populasi rakyat Indonesia sebesar 240 juta jiwa, otomatis menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia. Tidak hanya sebagai sumbu stabilitas dan memainkan peran penting di kawasan Asia Tenggara, Indonesia juga turut memainkan peran penting di dunia. Kebutuhan untuk pengadaan tank-tank kelas berat ini sebenarnya tidak hanya mencerminkan kebutuhan Indonesia untuk memodernisasi alutsista TNI AD guna merespon potensi ancaman terhadap NKRI, tetapi juga dalam rangka untuk lebih banyak ambil bagian dalam misi-misi penjaga dan penegak perdamaian di dunia (melalui PBB). Indonesia memang butuh peralatan yang sesuai standar militer negara-negara mitra PBB agar lebih banyak ambil bagian dalam misi-misi PBB.

[Kredit foto : Krauss-Maffei Wegmann (KMW)]