Thursday, August 30, 2018

Libatkan 300 Ribu Tentara, Rusia Akan Gelar Latihan Perang Besar

Parade tank Rusia

Rusia berencana menggelar latihan perang terbesar sejak era Perang Dingin pada 1981. Latihan yang bertajuk "Vostok-2018" itu akan dilaksanakan pada 11-15 September dengan melibatkan 300.000 tentara. Dalam bahasa Rusia, Vostok berarti 'timur'.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan bahwa latihan Vostok-2018 dibenarkan lantaran adanya sikap "agresif dan tak bersahabat" Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) terhadap Rusia.

Latihan yang diadakan di bagian tengah dan timur Rusia ini juga akan melibatkan berbagai kesatuan militer dari China dan Mongolia. Vostok-2018 mengemuka di tengah meningkatnya ketegangan antara Rusia dan NATO.

Yang Dilibatkan dalam Vostok-2018

Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu menjelaskan bahwa militer Rusia akan menghadirkan 36.000 kendaraan tempur dan tank serta lebih dari 1.000 pesawat dalam Vostok-2018. Segenap kesatuan udara dan dua armada Angkatan Laut Rusia juga akan dilibatkan pada latihan yang membentang dari Siberia hingga bagian timur.

Shoigu membandingkan Vostok-2018 dengan manuver Uni Soviet pada 1981 yang memakai skenario penyerangan terhadap NATO. "Mereka akan mengulangi aspek-aspek Zapad-81, namun skalanya akan lebih besar," jelasnya.

Dia menambahkan, skala Vostok-2018 akan setara dengan kekuatan yang dikerahkan dalam salah satu pertempuran besar Perang Dunia II.

Tahun lalu, latihan perang dalam skala yang lebih kecil diadakan Rusia dan Belarus di bagian barat.

Latihan ini berlangsung pada era ketika Presiden Vladimir Putin mengedepankan modernisasi militer - termasuk rudal nuklir baru. Angkatan Bersenjata Rusia sendiri diperkirakan berkekuatan sekira 1 juta personel.

Mengapa dan Bagaimana China Dilibatkan?

Juru Bicara Pemerintah Rusia, Dmitry Peskov, mengklaim kehadiran kesatuan militer China menunjukkan Moskow dan Beijing bekerja sama di semua bidang.

Di lain pihak, Kementerian Pertahanan China mengeluarkan pernyataan mengenai pendalaman kerja sama militer dan "memajukan kemampuan kedua belah pihak dalam merespons ancaman keamanan gabungan". Meski demikian, China menyebut latihan itu "tidak akan menargetkan pihak ketiga".

Pada latihan tersebut, China akan mengerahkan 3.200 tentara, lebih dari 900 peralatan militer, serta 30 pesawat dan helikopter. Lokasinya adalah di kawasan Trans-Baikal yang merupakan tempat latihan militer Rusia. Beberapa unsur dari kekuatan militer China telah tiba di lokasi.

Adapun rincian keterlibatan militer Mongolia belum jelas.

Bagaimana Respons NATO?

Juru Bicara NATO, Dylan White, mengatakan pihaknya sudah mendapat kabar soal Vostok-2018 sejak Mei lalu dan akan memantaunya. Dia menyebut NATO mempertimbangkan tawaran Rusia untuk membolehkan atase militer NATO di Moskow dikirim guna memantau rangkaian latihan perang.

"Semua negara berhak melatih angkatan bersenjata mereka, tapi penting hal itu dilakukan secara transparan dan dapat diprediksi."

"Vostok menunjukkan fokus Rusia dalam melatih konflik berskala besar. Hal ini klop dengan pola yang kami pantau selama ini, yaitu Rusia yang lebih asertif, meningkatkan anggaran pertahanan secara signifikan, serta keberadaan militernya."

Mengapa Ketegangan Rusia-NATO Meningkat?

Ketegangan kedua belah pihak meningkat sejak Rusia menganeksasi Krimea dari Ukraina pada 2014. Di saat bersamaan, Rusia menyokong kubu pro-Rusia di bagian timur Ukraina.

NATO bereaksi dengan meningkatkan pengerahan pasukan di bagian timur Eropa. Sebanyak 4.000 serdadu dikirimkan ke sejumlah negara anggota. Rusia menyebut pengerahan pasukan NATO tidak bisa dibenarkan dan provokatif.

Tensi kedua kubu juga diperparah oleh peristiwa peracunan mantan mata-mata Rusia, Sergei Skripal, dan putrinya, Yulia, di Inggris. Setelah kejadian itu, NATO mengusir diplomat-diplomat Rusia.

Amerika Serikat dan Inggris —keduanya negara anggota NATO— menuduh Moskow berada di balik insiden tersebut, namun Rusia membantahnya.

Resources
  • https://news.okezone.com/read/2018/08/30/18/1943360/rusia-akan-gelar-latihan-terbesar-militer-sejak-era-perang-dingin