Tahun ini, Su-35 China Lengkap 24 Unit

Sunday, June 03, 2018
Su-35

Su-35 terakhir yang dibeli China dari Rusia akan dikirimkan tahun ini, menurut sebuah perusahaan negara Rusia.

Selama Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg yang berlangsung 24-26 Mei, Rostec, sebuah perusahaan negara Rusia, mengumumkan bahwa sepuluh Su-35 terakhir akan dikirim ke China pada 2018.

Rostect adalah entitas yang secara resmi menandatangani perjanjian pembelian jet tempur Su-35 dengan pemerintah China. Beijing menjadi negara asing pertama yang membeli Su-35 ketika setuju untuk membayar USD 2,5 miliar untuk dua puluh empat pesawat pada November 2015.

Seperti diketahui sebelumnya, China telah menerima empat Su-35 pertamanya dari Rusia pada akhir 2016 sebelum akhirnya mendapatkan sepuluh Su-35 tahun lalu. Beijing telah secara resmi melantik Su-35 untuk Angkatan Udaranya pada April tahun ini.

Sebagai jet tempur multi-peran, Su-35 mampu melakukan serangan presisi di darat dan laut. Sebelumnya, pada Februari 2018, Su-35 China telah ambil bagian dalam latihan pertempuran udara di Laut China Selatan. Menurut media, ini adalah pertama kalinya Beijing mengirimkan Su-35 di "tempat umum".

Su-35 adalah jet tempur tercanggih yang dioperasikan Rusia saat ini, dan sering disebut sebagai jet tempur generasi 4 ++. Meskipun didasarkan pada Su-27, Su-35 menawarkan sejumlah upgrade signifikan, termasuk kemampuan manuver yang tinggi serta elektronik yang canggih.

RT, media milik Rusia, mengatakan bahwa pesawat ini mampu mendeteksi, melacak, dan melibatkan beberapa target dalam jarak jauh karena dilengkapi dengan phased array antenna radar. RT juga mengatakan bahwa Su-35 memiliki kanon tiga puluh milimeter internal dan dua belas cantelan untuk membawa delapan ribu kilogram rudal dan bom.

Su-35 juga kecepatan maksimum 2.500 kilometer per jam dan jangkauan 3.400 kilometer (radius tempur 1.600 km). Jangkauan Su-35 ini yang mungkin paling menarik perhatian China karena akan sangat meningkatkan kemampuan PLA untuk menegakkan klaimnya atas Laut China Selatan.

China mengklaim sekitar 90 persen dari Laut China Selatan, yang beberapa bagian diantaranya juga diklaim oleh Indonesia, Brunei, Malaysia, Filipina, Vietnam, serta Taiwan. Sedangkan Taiwan sendiri dianggap China sebagai salah satu provinsinya yang memberontak.

Ini adalah tantangan ekstrem bagi Beijing untuk terus mempertahankan kehadirannya di atas perairan yang sangat besar, yang kira-kira 1,4 juta mil persegi (2,25 juta kilometer persegi). Ini dapat dikurangi dengan pembangunan pangkalan dan landasan terbang di pulau-pulau buatan manusia di Laut China Selatan. Baru bulan lalu Beijing mendaratkan pembom H-6K di Woody Island (pulau non-buatan) di Kepulauan Paracel.

Namun, memiliki pesawat jarak jauh seperti Su-35 akan meningkatkan kemampuan Beijing untuk memproyeksikan kekuatan berkelanjutan di Laut China Selatan, dengan pesawat tetap dapat kembali ke markasnya di daratan China atau pangkalan yang lebih dekat ke pantai China.

Salah satu upgrade penting Su-35 atas Su-27 adalah kemampuannya untuk membawa tangki bahan bakar eksternal faktor utama yang membatasi Su-27. Ini adalah tambahan untuk peningkatan 20 persen dalam kapasitas bahan bakar di atas Su-27 dan kemampuan pengisian bahan bakar udara.

Meskipun China adalah pelanggan asing pertama Su-35, negosiasi antara Beijing dan Moskow mengenai Su-35 cukup alot. China pertama kali menyatakan minatnya untuk membeli Su-35 pada tahun 2006, dan Beijing dan Moskow setidaknya telah menghabiskan sedikitnya lima tahun untuk mencapai kesepakatan.

Pada tahun 2012, kedua pihak menandatangani perjanjian awal tetapi pembicaraan terus menemui hambatan. Sebagian besar penghambat adalah terkait dengan transfer teknologi dan kekhawatiran Rusia bahwa Beijing akan merekayasa balik pesawat.

Inilah yang terjadi ketika Rusia setuju untuk menjual China dua ratus Su-27 senilai $ 2,5 miliar. Kemudian, China mulai mengkloningnya yang disebut J-11B. Rusia akhirnya membatalkan sebagian dari kontrak itu sebagai protes terhadap J-11B.

Ada juga spekulasi bahwa China membeli Su-35 untuk mesinnya, yang dipercaya akan digunakan pada J-20.

"Saya berasumsi alasan mengapa mereka membeli dua puluh empat. . . adalah untuk mendapatkan beberapa teknologi yang tertanam ,: Roger Cliff, seorang ahli militer China di CNA, mengatakan ketika perjanjian 2015 ditandatangani.

"Airframe Su-35 tidak banyak berubah dari Su-27 dan Su-30, yang sudah dimiliki China, jadi mungkin mereka mengejar hal-hal lain seperti thrust-vectoring, passive electronically scanned array radar, atay infrared search-and-track system."

Resources
  • National Interest
  • Gambar: Vitaly V. Kuzmin

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

No comments:

Post a Comment