Sunday, November 09, 2014

Su-35, JAS-39 Gripen, dan F-16 Block 52 Kandidat Pengganti F-5 Tiger

F-5 Tiger TNI AU

TNI AU segera akan memiliki pesawat tempur canggih pengganti pesawat serang ringan F-5 E/F Tiger II yang telah digunakan selama tiga dekade. Tiga pesawat tempur yang masing-masing berasal dari Rusia, Swedia dan Amerika Serikat telah menjadi kandidat untuk menggantikan armada tua dari Skadron 14 TNI AU yang berbasis di Madiun, Jawa Timur. Mereka tak lain adalah Su-35, JAS-39 Gripen dan F-16 Block 52+.

Menurut Panglima TNI Jenderal Moeldoko saat pameran pertahanan tahunan INDO DEFENCE di Jakarta pada Kamis, pesawat pengganti F-5 Tiger belum diputuskan, namun Su-35, Gripen dan F-16 telah menjadi pertimbangan. Selain menilai dari kemampuan pesawat, aspek politik juga menjadi pertimbangan.

Saat ini TNI AU total mengoperasikan 16 unit F-5 E/F Tiger II yaitu 12 unit kursi tunggal dan 4 unit kursi ganda. Pesawat-pesawat ini diproduksi oleh pabrik pesawat AS Northrop Grumman yang dikirimkan ke Indonesia pada tahun 1980.

JAS-39 Gripen yang diproduksi oleh perusahaan penerbangan Swedia SAAB, selain Su-35 dan F-16 Block 52, dipandang sebagai pilihan yang sangat mungkin untuk menggantikan armada tua F-5 Tiger TNI AU. Pesawat tersebut juga telah digunakan oleh Angkatan Udara Kerajaan Thailand yang juga menggantikan F-5. Selain itu, Gripen juga dioperasikan oleh Angkatan Udara Brasil, Republik Ceko, Hongaria, Afrika Selatan dan Inggirs.

Dirut PT DI Budi Santoso mengatakan bahwa Indonesia menjalankan skema transfer teknologi (ToT) untuk setiap pembelian pesawat militer dari luar negeri. Budi Santoso mengatakan bahwa jika sebuah negara ingin menjual pesawat ke Indonesia, mereka tidak bisa hanya menjual tapi proses perakitan juga harus dilakukan di dalam negeri.

Budi menegaskan bahwa dengan proses perakitan dilakukan di dalam negeri, Indonesia akan dapat belajar teknologi canggih dalam pembuatan pesawat tempur demi mencapai kemandirian bangsa dalam industri pertahanan, selain tentunya untuk memudahkan pemeliharaan pesawat.

Beberapa tahun terakhir, TNI telah banyak membeli senjata, kendaraan dan peralatan militer canggih. Ini merupakan imbas pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cepat, selain tentunya keinginan untuk memodernisasi persenjataan.

Melalui program Renstra, Presiden RI sebelumnya Susilo Bambang Yudhoyono mengalokasikan dana dalam jumlah besar untuk memodernisasi alutsista dalam tujuan untuk mencapai Minimum Essential Force. Sejak saat itu, TNI telah banyak kedatangan pesawat tempur baru, tank, dan kapal perang yang diimpor dari berbagai negara.

Gambar: TNI AU