Tuesday, January 28, 2014

Rivalitas AS-China Lebih Berbahaya dari Perang Dingin?

Bendera China dan Amerika

Pengamat hubungan internasional terkemuka, John Mearsheimer, mengatakan bahwa ada kemungkinan lebih besar dari AS dan China berperang di masa depan daripada konflik Soviet dan NATO selama Perang Dingin.

Mearsheimer berkomentar dalam sebuah acara makan siang yang diadakan oleh Center for the National Interest di Washington DC, pada hari Senin. Acara makan siang itu diadakan khusus membahas artikel Mearsheimer baru-baru ini di The National Interest mengenai kebijkan luar negeri AS di Timur tengah. Namun, banyak percakapan selama sesi tanya jawab terfokus pada kebijakan AS di Asia terutama soal kebangkitan China.

Berbeda dengan Timur Tengah, yang dinilai kurang begitu mengancam Amerika Serikat, Mearsheimer mengatakan bahwa AS akan menghadapi tantangan yang luar biasa dari Asia terutama China yang ekonominya terus meningkat. Profesor Universitas Chicago ini mengatakan bahwa dalam skenario seperti itu, AS dan China akan terlibat dalam kompetisi strategis yang intensif, seperti persaingan Soviet-Amerika selama Perang Dingin.

Sementara menekankan bahwa ia masih yakin perang sesungguhnya antara AS dan China masih bisa dihindari, Mearsheimer mengatakan bahwa ia menilai perang dingin antara AS dan China akan kurang stabil ketimbang Perang Dingin AS dan Soviet. Alasannya didasarkan pada geografi dan interaksi dengan senjata nuklir.

Dia mengatakan bahwa pusat gravitasi dari Perang Dingin AS-Soviet adalah di daratan Eropa tengah. Hal ini menciptakan situasi yang cukup stabil, menurut Mearsheimer, siapapun di seluruh Eropa Tengah akan paham bahwa Perang Dingin NATO-Warsawa akan cepat berubah menjadi perang nuklir yang akan menghancurkan semuanya. Hal ini memberikan kesadaran kuat pada kedua belah pihak untuk menghindari konflik nuklir di Eropa Tengah.

Berbeda dengan persaingan strategis AS-China. Mearsheimer mengidentifikasi empat titik potensial di mana ia percaya bahwa Amerika Serikat dan China bisa terlibat perang: Semenanjung Korea, Selat Taiwan dan Laut Cina Timur dan Selatan. Lebih banyak dari titik potensial peperangan antara NATO dan Soviet. Namun menilai situasi saat ini, Mearsheimer menyiratkan bahwa ia percaya seandainya terjadi, perang antara AS dan China tidak akan meningkat ke perang nuklir.

Ia mencontohkan sengketa China-Jepang atas Kepulauan Senkaku/Diaoyu, yang menurutnya dalam lima tahun ke depan ada kemungkinan nyata Jepang dan China akan berperang. Apabila pecah perang antara China dan Jepang di Laut China Timur, Mearsheimer mengatakan bahwa ia percaya AS akan memiliki dua opsi: pertama, bertindak sebagai wasit dan mencoba memisahkan kedua belah pihak dan kembali ke status quo, kedua, turut dalam perang dengan memihak Jepang.

Mearsheimer mengatakan bahwa ia lebih percaya bahwa AS akan memilih pilihan kedua karena apabila memilih pilihan pertama maka akan melemahkan kredibilitasnya di mata sekutu Asia. Jika Amerika berlaku sebagai mediator yang buruk, maka kepercayaan sekutu akan hilang. Karena AS tidak mengizinkan kedua sekutunya yaitu Jepang dan Korea Selatan untuk membangun senjata nuklir, mereka menaruh kepercayaan besar pada Amerika untuk berada di belakang mereka, mereka akan berharap Washington tidak ragu-ragu turut berperang di pihak Jepang seandainya terjadi perang antara Jepang dan China.

Mearsheimer menambahkan bahwa AS saat ini baru berada di tahap awal ancaman China, dan dia menilai ancaman serius China belum akan terwujud setidaknya hingga 10 tahun kedepan.

Di sisi lain, Mearsheimer mengatakan bahwa dia berharap kekuatan perekonomian China akan melemah atau runtuh, karena hal ini akan menghilangkan ancaman keamanan yang berpotensi besar bagi Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Mearsheimer mengatakan bahwa ia cukup terperangah dengan beberapa sikap orang Amerika dan sekutu-sekutu Asianya yang ingin melihat ekonomi China terus tumbuh. Dia mengingatkan bahwa puncak kekuatan Uni Soviet saat Perang Dingin terjadi ketika PDB nya jauh lebih kecil daripada Amerika Serikat. Sedangkan China berbeda, raksasa ekonomi dunia ini akan menjadi ancaman serius bagi Amerika Serikat ketimbang apa yang sebelumnya AS hadapi. (ZZ/Dp)