Sunday, January 20, 2013

India Beli 189 Jet Tempur Rafale

Rafale
Rafale. (Foto:defense.gouv.fr)
ARTILERI - India berkemungkinan besar akan membeli hingga 189 jet tempur Rafale dari Prancis. Jumlah ini merupakan penambahan 63 Rafale dari order yang diajukan India sebelumnya yaitu 126 Rafale. Kemungkinan penambahan ini terkait kunjungan Menteri Luar Negeri India Salman Khurshid ke Paris pekan lalu. Saat ini Prancis menggunakan Rafale untuk mengebom gerilyawan di Mali.

"Ada opsi untuk menambah 63 pesawat dari kontrak sebelumnya dengan kontrak terpisah, segera akan ditandatangani," ujar seorang sumber di Kementerian Luar Negeri India. "Saat ini kontrak untuk pengadaan Rafale adalah 126 pesawat, tapi kita berbicara tentang tingkat lanjut."

Kompetensi India yang besar atas peningkatan kekuatan Angkatan Udaranya pasti akan menimbulkan kekhawatiran pada negara tetangganya Pakistan, mengingat ketegangan antara kedua negara telah berlangsung sejak lama.

Pers India memperkirakan nilai kesepakatan untuk 126 Rafale adalah sebesar 12 miliar dolar Amerika (9 miliar euro). Penambahan 63 Rafale atau sebesar 50 % dari order sebelumnya akan menjadikan nilai kontrak sebesar 18 miliar dolar, sebuah motivasi besar untuk kelangsungan hidup industri pertahanan Prancis yang sedang berjuang untuk tetap eksis, meskipun hal ini juga memberi keuntungan yang besar bagi India karena adanya proses transfer teknologi (ToT).

New Delhi disetujui oleh Dassault Aviation Prancis (produsen Rafale) untuk melengkapi Angkatan Udaranya dengan jet tempur Rafale pada bulan Januari 2012 lalu. Berdasarkan perjanjian pertama di atas meja, 18 Rafale yang pertama akan dibangun di Prancis, selebihnya 108 Rafale akan dirakit sendiri oleh pabrikan pertahanan India Hindustan Aeronautics Ltd (HAL) di selatan kota Bangalore.

"Pesawat pertama akan dikirimkan tiga tahun sejak penandatangan kontrak," tambah sumber tersebut. Seorang analis industri kedirgantaraan mengatakan pengiriman dengan jeda waktu yang cukup lama dari penandatanganan kontrak tersebut terkait permintaan India untuk Rafale dua-kursi daripada model satu kursi yang diproduksi Rafale saat ini.

Rafale
Rafale. (Foto:indiandefence.com)
India menegaskan bahwa kesepakatan itu termasuk transfer teknologi yang signifikan selain memberikan keuntungan besar bagi industri pertahanan India. "Saat ini negosisasi berjalan sangat baik," tambah sumber tersebut. Kesimpulan kesepakatan sempat beberapa kali tertunda, India awalnya menetapkan target pada akhir tahun lalu, lalu merosot hingga Maret 2013.

Sumber di pertahanan Prancis mengatakan pekan lalu bahwa hal itu tidak mungkin terpenuhi, namun India menyuarakan kepercayaannya dan akhirnya hal itu akan dilakukan, lobi yang baik dari Khursid saat kunjungannya ke Paris. "Kita tahu anggur Prancis yang baik membutuhkan waktu yang lama dalam penyimpanannya, begitu pula kontrak yang baik," kata Khursid usai mengadakan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius.

"Keputusan mengenai rincian kontrak akan diputuskan, hanya tinggal menunggu waktu." "Dassault dan pemerintah Prancis berharap pembelian India ini akan memberikan pengaruh positif bagi pembeli potensial lain seprti Brasil yang berminat untuk 36 pesawat, Kanada, Malaysia dan Uni Emirat Arab."

Jet tempur Rafale pertama kali digunakan dalam pertempuran sesungguhnya saat kampanye NATO yang dipimpin Prancis untuk menggulingkan diktator Libya Muammar Kadhafi pada 2011 dan Rafale juga telah berpartisipasi di konflik Mali sejak akhir pekan lalu. (FS)