AS Khawatirkan Persaingan Senjata di Asia Tenggara

Wednesday, December 12, 2012
Tank Tempur Utama T-84 Oplot
T-84 Oplot buatan Ukraina, 49 unit telah diakuisisi Thailand
Amerika Serikat tidak menginginkan terjadi perlombaan senjata antarnegara di kawasan Asia Tenggara terkait perkembangan geopolitik terbaru di kawasan ini, termasuk persoalan sengketa di Laut China Selatan.

Negara adidaya tersebut mengharapkan seluruh pembelian senjata oleh negara-negara di kawasan Asia Tenggara adalah bagian dari rencana jangka panjang negara bersangkutan, bukan sebatas reaksi atas apa yang dilakukan negara tetangga.

Demikian diungkapkan Mark W Lippert, Asisten Menteri Pertahanan AS untuk Urusan Keamanan Asia Pasifik (APSA), kepada Kompas, di Jakarta, Senin, 10 Desember 2012. Saat wawancara, Lippert didampingi Duta Besar AS untuk Indonesia Scot Marciel.

Lippert mengatakan, hingga saat ini AS belum melihat perlombaan senjata di negara-negara Asia Tenggara. Menurutnya, kenaikan belanja persenjataan di kawasan itu masih dalam batas wajar terkait pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

"Negara-negara, seperti Indonesia, Thailand, dan Vietnam, telah berhasil secara ekonomi dan mempunyai kepentingan sah untuk memodernisasi dan memprofesionalkan militer mereka," ujar Lippert.

Meski demikian, ia mengingatkan agar pertumbuhan belanja militer itu tetap dijaga dalam kerangka rencana jangka panjang yang jelas.

"Kami tidak ingin melihat suatu negara melakukan pembelian (senjata) hanya karena tetangganya membeli (senjata) itu. Kami ingin pembelian itu dilakukan dalam sebuah kerangka perencanaan. Perencanaan yang didasarkan pada situasi ekonomi suatu negara dan kebutuhan keamanan yang terkait," ujarnya.

Peningkatan belanja

Seperti yang diberitakan selama ini, negara-negara di Asia Tenggara seolah sedang berlomba melengkapi angkatan bersenjata mereka dengan persenjataan terbaru. Menurut buku The Military Balance 2012 yang disusun International Institute for Strategic Studies (IISS), belanja sektor pertahanan di kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan naik 4,85 persen dalam periode 2010-2011.

Berikut beberapa alutsista yang dibeli negara Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir:
  • Vietnam, 6 kapal selam kelas Kilo dari Rusia (2009) dan 12 jet tempur Sukhoi Su-30MK2 (2010).
  • Singapura, 2 kapal selam kelas Archer dari Swedia (2011) dan 12 jet tempur F-15SG dari AS (2007).
  • Thailand, 49 tank tempur utama T-84 Oplot dari Ukraina (2011) dan 6 jet tempur Gripen dari Swedia (2010).
  • Myanmar, 20 jet tempur MiG-29 Fulcrum dari Rusia (2009).
Indonesia sendiri kita ketahui tengah dalam proses pembelian tank tempur utama Leopard dari Jerman, 3 kapal selam dari Korea Selatan, dan 24 jet tempur F-16 (upgrade) dari AS.
IISS menyatakan, peningkatan kemampuan militer sebagian negara di Asia Tenggara tidak didasarkan pada rencana modernisasi yang telah mereka umumkan. Alih-alih, mereka diduga meningkatkan belanja militer itu untuk melawan "petualangan" China dan negara-negara tetangganya dalam sengketa di Laut China Selatan.

Sumber: Kompas
Kredit Foto: Sried1/My Opera

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

5 comments:

sugianto harisantoso said...

Kalau tdk membeli senjata yg canggih negara2 Asean, akan menjadi sasaran salah tembak negara Asean sendiri dan akan menjadi negara yg lemah serta menjadi sasaran empuk negara2 Asean lainnya.

Mamay wijaya atmaja said...

Kalau senjata tidak diperjual belikan, nanti pabriknya bangkrut.....

junaedi sh said...

membeli senjata sah-sah saja, tapi asal tidak bekas dan kalah teknologi dari negara disekitarnya.

Anonymous said...

maksud nya Amerika gini. "ASEAN JANGAN SAMPE ADA PERLOMBAAN SENJATA YANG BELI NYA DI LUAR AMERIKA, JADI BELINYA DI AMERIKA AJA"...

Anonymous said...

Waduh, kalo ga punya angkatan bersenjata yg kuat, gimana menjaga wilayah seluas ini, sir? bisa2 kekayaan alam kita habis di malingin tetangga sebelah.

Post a Comment