Imparsial Kritik Keras Pembelian Tank Leopard
The Indonesian Human Rights Monitor (Imparsial) meminta agar pembelian 100 tank tempur utama (MBT-Main Battle Tank) Leopard dari Jerman dibatalkan dan anggarannya dialihkan untuk meningkatkan kesejahteraan prajurit TNI.
Poengky Indarti, Direktur Eksekutif Imparsial mengatakan, pemerintah dan parlemen harus berhati-hati dan cermat dalam menetapkan alokasi anggaran untuk pertahanan.
"Pembelian alutsista (alat utama sistem senjata) harus didasarkan pada kebutuhan obyektif pertahanan Indonesia, bukan pada kebutuhan politik," kata Poengky di Jakarta, Kamis (19/7).
Poengky Indarti, Direktur Eksekutif Imparsial mengatakan, pemerintah dan parlemen harus berhati-hati dan cermat dalam menetapkan alokasi anggaran untuk pertahanan.
"Pembelian alutsista (alat utama sistem senjata) harus didasarkan pada kebutuhan obyektif pertahanan Indonesia, bukan pada kebutuhan politik," kata Poengky di Jakarta, Kamis (19/7).
Menurut Poengky, tidak ada alasan urgensi dalam pembelian tank Leopard saat ini. Poengky menduga rencana pembelian tank Leopard ini dimaksudkan hanya untuk mencari keuntungan segelintir kelompok dan elit pemerintah. "Transparansi dan akuntabilitas sektor pertahanan masih perlu dipertanyakan," katanya.
Namun, menurut Poengky, memperkuat peralatan tempur darat masih harus ditingkatkan. Tapi pemerintah harus memperhatikan geografi, infrastruktur, strategi dan doktrin pertahanan Indonesia. Akan lebih baik jika pemerintah meningkatkan kekuatan militer untuk jenis tank medium dan kavaleri ringan.
"Hal ini sejalan dengan keinginan industri pertahanan dalam negeri yang juga akan mengembangkan pembuatan tank menengah dan ringan bekerjasama dengan negara lain," kata Poengky, merujuk PT.Pindad sebagai kekuatan industri pertahanan nasional.
Namun, menurut Poengky, memperkuat peralatan tempur darat masih harus ditingkatkan. Tapi pemerintah harus memperhatikan geografi, infrastruktur, strategi dan doktrin pertahanan Indonesia. Akan lebih baik jika pemerintah meningkatkan kekuatan militer untuk jenis tank medium dan kavaleri ringan.
"Hal ini sejalan dengan keinginan industri pertahanan dalam negeri yang juga akan mengembangkan pembuatan tank menengah dan ringan bekerjasama dengan negara lain," kata Poengky, merujuk PT.Pindad sebagai kekuatan industri pertahanan nasional.
"Poengky menduga rencana pembelian tank Leopard ini dimaksudkan hanya untuk mencari keuntungan segelintir kelompok dan elit pemerintah"
Dalam pertemuan bilateral antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Kanselir Jerman Angela Merkel Selasa (10/7), salah satunya membahas rencana pembelian 100 unit MBT Leopard. Presiden Yudhoyono mengatakan, Indonesia selama 20 tahun tidak pernah memodernisasi senjata dan elemen pertahanan.
Anggaran dipersiapkan untuk membeli 100 tank Leopard adalah 280 juta dolar.
Kritik tajam Imparsial terhadap rencana pemerintah untuk membeli tank Leopard Jerman berbuntut panjang. Al A'raf, Direktur Program Imparsial, yang juga adalah dosen di Universitas Pertahanan, telah dilarang mengajar. Menurut Al A'raf, larangan tersebut terkait dengan pemuatan tulisan di rubrik Opini di salah satu media cetak nasional. Al A'raf menuding, rencana pembelian Leopard merupakan kesalahan penempatan prioritas anggaran pertahanan.
Sumber: Imparsial
Anggaran dipersiapkan untuk membeli 100 tank Leopard adalah 280 juta dolar.
Kritik tajam Imparsial terhadap rencana pemerintah untuk membeli tank Leopard Jerman berbuntut panjang. Al A'raf, Direktur Program Imparsial, yang juga adalah dosen di Universitas Pertahanan, telah dilarang mengajar. Menurut Al A'raf, larangan tersebut terkait dengan pemuatan tulisan di rubrik Opini di salah satu media cetak nasional. Al A'raf menuding, rencana pembelian Leopard merupakan kesalahan penempatan prioritas anggaran pertahanan.
Sumber: Imparsial







Ada beberapa hal yang patutu dipertanyakan dari pernyataan Imparsial ini :
ReplyDelete1. Apa urusannya lembaga penggiat HAM mengurusi pembelian alutsista
2. penyataan sebaiknya tidak membeli MBT patut dipertanyakan agenda dibalik itu mengingat hampir semua negara yang berbatasan langsung dg Indonesia sdh memiliki MBT
3. jejak rekam selama ini selalu memojokkan TNI, sekarang seolah2 berpihak pada TNI, patut dicurigai
Menurut saya, orang2 dan LSM seperti Imparsial ini perlu diselidiki ttg siapa dibalik itu, sumber dana mereka; karena sifatnya seperti benalu dan banyak menjual Indonesia
SETUJU...
ReplyDeleteLANJUTKAN...Beli leopard
Leopard harga mati............
ReplyDelete@ Anonim 1 : terimakasih atas analisanya
ReplyDeletePersoalannya adalah kebutuhan strategis dinamika lingkungan untuk membeli Leopard cukup mendesak. Ingat 3000 Marinir Amerika sudah di Australi dan Negara-negara kawasan sudah memiliki Tank dengan kelas yang sama dengan Leopard.
ReplyDeletePersoalan teknis bukanlah hal yang patut dikhawatirkan dengan pertimbangan tersebut.
Lebih dari itu kita harus fair . Jangan berkomentar seolah-olah Kemhan tidak melakukan apa-apa dalam hal pengembangan Industri Pertahanan khususnya Tank. Ingat pengembangan ini perlu waktu tidak seperti membuat mobilan dari bunga tebu. Semua simultan dilakukan oleh Kemhan kok, baik pengembangan industri pertahanan, maupun mengantisipasi perkembangan cepat lingkungan strategis yang harus diantisipasi.
Rasa-rasanya kalau bicara pertahanan kita ini pada naif siih...terlena oleh asumsi 5 s.d. 10 tahun ke depan tidak ada ancaman militer.
@Anonymous Terimakasih, semoga Imparsial memahami situasi ini
ReplyDeleteHmmh... orang seperti impartial itu sudah mendekati penghianat negara, karena tidak menginginkan RI menjadi negara kuat dan disegani oleh tetangga.
ReplyDeletehadehhhh.....lindes aje pakae tank oknum LSM nya....cari duit kok jual negara....
ReplyDeletejangankan cuma tank aku doain bisa beli ICBM sekalian..syukur syukur bisa biikin sendiri
Kurang setuju dgn alasan klasik :
ReplyDelete" The Indonesian Human Rights Monitor (Imparsial) meminta agar pembelian 100 tank tempur utama (MBT-Main Battle Tank) Leopard dari Jerman dibatalkan dan anggarannya dialihkan untuk meningkatkan kesejahteraan prajurit TNI."
Anggaran pengadaan Leopard kalo digunakan untuk kesejahteraan smw prajurit sih cuma bisa bwt beli mie instan 1 kardus bwt masing2 prajurit,hehehe. piss
Transparansi dalam pembelian alusista hanya akan berujung kepada bencana, itu berarti bahwa setiap negara di dunia bisa mengetahui kekuatan persenjataan kita yang sesungguhnya
ReplyDeleteNegara-negara maju seperti Amerika bahkan tidak melakukan transparansi anggaran pertahanan negaranya.
Semua LSM di Indonesia kebanyakan dibiayai oleh LN, sehingga mrk tega jual diri dgn menghancurkan negara, sebaiknya ciduk sj mrk2 itu dan bungkam spy tdk ada lg penghkianat di negeri ini.
ReplyDeleteimparsial emang sialan, lsm seperti ini hrus dilenyapkan dr Nusantara.
ReplyDeleteMakanya dulu waktu vladimir putin menjadi presiden,gerakan pertamanya adalah menghapus 70% LSM,dan akhirnya sekarang rusia kembali menjadi negara kaya dan super power
ReplyDeletewaw hampir 3triliun rupiah ckck mending buat beli teknologinya bikin ndiri
ReplyDeletesaya setuju sama imparsial... hanya memperkaya jendralnya saja.. kalau memang niat memperkuat militer uangnya jangan dikorupsi... ingat alutsista kita tidak ada apa2 dibandingkan malaysia,, karena anggaran militer rentan dikorupsi! andae aja KPK punya wewenang nangkap korupsi di bidang militer, mkn alutsista kita gak akan seperti ini..
ReplyDeleteimparsial taunya mengkritik az,,...penghianat...kedoknya az lsm..
ReplyDeleteLSM kerjanya apa ? dapet duit dari mana ?
ReplyDelete