Senin, Mei 25, 2020

SY400, Sistem Artileri China yang Menawarkan Fleksibilitas

SY400
SY400. (Gambar via Defpost)

Myanmar (Burma) telah menjadi pelanggan ekspor kedua untuk sistem artileri Multiple Rocket Launcher (MRL) SY400 China dan mulai menerima kendaraan peluncur dan rudalnya di awal tahun ini. Pelanggan ekspor pertama SY400 adalah negara dari Teluk Persia yaitu Qatar pada tahun 2017.

Sistem SY400 unik dalam beberapa hal. Kendaraan peluncurnya adalah WS2400 8x8 41 ton (muat). Truk ini masih berdesain truk Rusia tetapi menggunakan mesin Jerman termasuk komponen mekanis lainnya. WS2400 mengangkut seorang pengemudi dan tujuh penumpang. Kecepatan tertingginya 75 kilometer per jam dan jangkauan maksimal dengan bahan bakar internal mencapai 650 kilometer. Muatan maksimum adalah 22 ton.

WS2400 adalah kendaraan militer dan dikonfigurasikan untuk membawa dan meluncurkan berbagai jenis rudal atau roket. SY400 dapat mengakomodasi dua rudal balistik BP-12A dalam kontainer peluncur tertutup atau dua kontainer masing-masing berisi empat roket berpemandu SY-400 berkecepatan tinggi. Namun, truk SY400 pada umumnya membawa roket SY-400.

Proyektil SY-400 adalah roket berbahan bakar padat berdiameter 400 mm yang bobotnya sekitar dua ton dengan dua opsi hulu ledak. Dengan hulu ledak 300 kg, jangkauannya 150 kilometer. Dengan hulu ledak 200 kg, jangkauannya 200 kilometer.

Fitur unik dari SY400 adalah, meski bukan rudal balistik sejati, peluncuran rudal ini layaknya rudal balistik (lurus ke atas). Roket jarak jauh sebelumnya ditembakkan dari peluncur miring dan kendaraan harus disejajarkan menghadap ke target. Baik SY-400 dan rudal balistik BP-12A yang lebih besar keduanya ditembakkan lurus ke atas. SY400 memiliki fitur kontrol yang memungkinkannya miring begitu diluncurkan dan mengikuti lintasan roket artileri pada umumnya. Setelah diluncurkan, BP-12A naik ke ketinggian tertentu sebelum berbalik dan jatuh dengan karakteristik kecepatan tinggi rudal balistik.

Baik SY400 dan BP-12A menggunakan GPS/INS plus sistem panduan terminal yang memungkinkan keduanya untuk mendarat dalam jarak 50 meter dari titik tujuan.

BP-12A adalah rudal balistik sejati seberat empat ton, dengan diameter 600 mm, panjang enam meter dan jangkauan 280 kilometer dengan hulu ledak 480 kg. Sebagai rudal balistik, BP-12A lebih cepat dan lebih sulit untuk dicegat. SY-400 adalah roket berkecepatan tinggi tetapi tidak secepat rudal balistik dan memiliki lintasan yang lebih datar dan lebih mudah untuk dicegat karena kecepatannya yang lebih rendah.

Opsi rudal BP-12A untuk SY-400 mulai diperkenalkan pada 2008 untuk bersaing dengan rudal Iskander M Rusia. Rudal Rusia ini dikembangkan pada era 1990-an dan mulai beroperasi pada 2008. Iskander E (model ekspor) 3,8 ton menggunakan motor roket berbahan bakar padat dan berjangkauan 300 kilometer dengan hulu ledak setengah ton.

Rudal BP-12A
Contoh SY400 yang mengakomodasi 2 rudal BP12A. (Gambar via China Arms)

Rudal Iskander, seperti juga rekannya di China, dapat terus disimpan di dalam kontainer peluncur hingga sepuluh tahun.

Rusia menyediakan beberapa jenis hulu ledak untuk Iskander, termasuk munisi tandan (cluster), termobarik (fuel-air explosive) dan pulsa elektromagnetik (anti-radar, dan secara umum merusak perangkat elektronik). Ada juga hulu ledak nuklir, namun tidak diekspor Rusia. Bimbingannya sangat akurat, menggunakan GPS, plus inframerah homing untuk panduan terminal. Hulu ledak akan mendarat dalam jarak 10 meter dari titik tujuan. Iskander dibawa dengan truk 8x8 20 ton, yang juga menyediakan platform peluncuran. Ada juga truk lain untuk isi ulang yang membawa dua rudal.

Rudal SY400 tampaknya hanya menggunakan hulu ledak high-explosive yang dimaksudkan untuk membuat kerusakan besar pada lapangan terbang, pelabuhan, atau struktur lainnya.

SY400
Sebuah SY400 yang mengakomodasi 1 rudal BP-12A dan 4 rudal SY400. (Gambar via China Arms)

Masih belum jelas mengapa Myanmar membeli sistem SY400 karena negara ini tidak di bawah ancaman militer dari negara-negara tetangganya. Namun, Thailand belum lama ini menerima beberapa roket jarak jauh WS-1B (jangkauan 150 kilometer) dari China. Thailand dan Myanmar memang negara demokrasi, namun angkatan bersenjata keduanya terkadang mengambil alih pemerintahan. Selama beberapa dekade, Burma adalah kediktatoran militer sampai para jenderal mengizinkan pemilihan pada 2011, demi menghindari pemberontakan besar dan perang saudara. Negosiasi pengembalian dari militer ke demokrasi membuat militer memiliki banyak hak otonomi dan anggaran yang relatif lebih besar. Militer Burma diizinkan membeli apa pun dari anggarannya meskipun barang yang dibeli belum mendesak atau tidak begitu meningkatkan pertahanan nasional secara signifikan.

Qatar, pelanggan ekspor pertama untuk SY400, adalah negara Arab teranyar yang mendapatkan rudal balistik. Pada tahun 1988, Arab Saudi membeli puluhan rudal balistik bahan bakar cair DF-3 dari China, masing-masing dengan jangkauan 4.000 kilometer. DF-3 tidak pernah diuji tembak oleh Saudi dan tidak ditampilkan di depan umum sampai parade 2014. Selain itu, Saudi juga membeli selusin atau lebih rudal balistik berbahan bakar padat DF-21 dari China. Rudal ini memiliki jangkauan 1.700 kilometer. Sementara itu, Yaman membeli puluhan rudal balistik dari Korea Utara pada era 1990-an. Iran dan Israel membangun rudal balistik mereka sendiri tetapi Israel memiliki hulu ledak nuklir. Baik Israel dan Arab Saudi memiliki sistem anti-rudal yang andal yang telah terbukti dalam pertempuran.*