Wednesday, August 29, 2018

Pesawat Amfibi Terbesar di Dunia Segera Uji Coba di Air

Pesawat amfibi Kunlong

Setelah menyelesaikan serangkaian uji coba penerbangan di darat, pesawat amfibi terbesar di dunia sekarang akan menjalani uji coba penerbangan di atas air.

Pesawat amfibi AG600 "Kunlong" (Naga Air) yang dibangun dan dirancang sendiri oleh China akan memulai tes penerbangan di air dalam waktu dekat, setelah bulan ini berhasil menyelesaikan tes penerbangan di darat, menurut laporan media setempat.

AG600 Kunlong menyelesaikan tes penerbangan darat terakhirnya pada 27 Agustus dari bandara di kota Zhuhai di Provinsi Guangdong China, ke bandara di Jingmen, sebuah kota di provinsi Hubei Tiongkok tengah, menurut keterangan Aviation Industry Corporation of China (AVIC) yang merupakan pengembang Kunlong.

Kunlong akan melakukan tes putaran pertama penerbangan di atas air di waduk Zhanghe dekat kota Jingmen di provinsi Hubei China.

Kunlong terbang pertama kali dari bandara Jinwan di Zhuhai, Guangdong, China pada 24 Desember 2017 dengan durasi penerbangan selama satu jam. Pesawat yang diyakini sebagai pesawat amfibi terbesar di dunia itu diluncurkan oleh AVIC pada Juli 2016.

AG600 Kunlong yang seukuran Boeing 737 ini berdimensi panjang 37 meter dan memiliki lebar sayap 38,8 meter dan ditenagai oleh empat mesin turboprop WJ-6. Berat maksimum lepas landas Kunlong adalah 53.500 kilogram, kecepatan jelajah maksimumnya 500 kilometer per jam, dan jangkauan operasional maksimum tanpa menambah bahan bakar adalah 4.500 kilometer. Kunlong dapat mengangkut 50 orang dan dapat tetap di udara selama 12 jam.

Misi utama Kunlong adalah operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) maritim dan pemadam kebakaran udara. Pesawat amfibi seperti Kunlong juga dapat digunakan untuk operasi militer untuk mendukung kebutuhan pertahanan maritim China termasuk mengangkut pasokan dan personel militer ke pulau-pulau terpencil yang dikuasai China di Laut Cina Selatan.

Berdasarkan informasi yang disediakan oleh AVIC, AG600 dapat mengumpulkan air sebanyak 12 ton dalam waktu 20 detik.

Para pengembang mengklaim bahwa Kunlong hanya membutuhkan air dengan kedalaman 2,5 meter untuk mendarat dan lepas landas. dan mampu mendarat di gelombang setinggi 2 meter. Itu berarti Kunlong akan menjadi pesawat yang sangat ideal untuk memasok kebutuhan China di Kepulauan Spratly - disengketakan oleh China, Taiwan, Vietnam, Malaysia, Filipina, dan Brunei Darussalam - yang dikelilingi oleh perairan dangkal.

Selanjutnya, menurut pengembang, Kunlong dapat melakukan perjalanan pulang pergi tanpa perlu menambah bahan bakar dari provinsi pulau selatan Hainan ke James Shoal, sebuah dangkalan kecil yang disengketakan di Laut Cina Selatan, berada di utara Sarawak dan dikelola oleh Malaysia tetapi diklaim oleh China sebagai wilayahnya paling selatan.

Media pemerintah China menggambarkan pesawat amfibi Kunlong sebagai "roh pelindung laut, pulau, dan terumbu karang." Kunlong juga berpotensi untuk digunakan dalam misi patroli jarak jauh, peperangan anti-kapal selam, dan misi penebar ranjau. Pemerintah China sendiri telah memesan 17 unit pesawat yang akan dioperasikan pada 2020 ini. (fr)