Mengapa Su-35 China akan Jadi Mimpi Buruk Taiwan

Wednesday, May 09, 2018
Su-35

Kementerian Pertahanan China menyatakan bahwa Sukhoi Su-35 Flanker-E telah resmi dioperasikan Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat (PLAAF) China.

Pesawat tempur generasi 4++ buatan Rusia ini menjadi tambahan kekuatan yang signifikan bagi PLAAF, dan dapat digunakan dengan baik oleh China di langit Laut Cina Selatan.

"Su-35 adalah jet tempur multi-peran yang mampu melakukan serangan udara dan serangan presisi terhadap target darat dan permukaan," kata Kolonel Senior Wu Qian, Direktur Jenderal Kantor Informasi Kementerian Pertahanan Nasional China, pada 26 April lalu dalam konferensi pers.

"Saat ini, unit pasukan penerbangan Angkatan Udara PLA telah dipersenjatai dengan pesawat tempur Su-35," ujar Wu. Su-35 akan secara signifikan meningkatkan kekuatan pasukan China yang beroperasi di Laut Cina Selatan atau Selat Taiwan.

Perlu diketahui, dalam beberapa hari terakhir Beijing telah melakukan latihan di wilayah dekat Taiwan, yang mana Taiwan dianggap sebagai provinsi China yang memisahkan diri.

"Baru-baru ini, Angkatan Udara PLA mengirimkan beberapa jenis pesawat tempur untuk melakukan latihan tempur di wilayah udara di atas Laut Cina Selatan untuk lebih meningkatkan kemampuan menjaga kedaulatan dan integritas teritorial nasional Tiongkok," kata Wu.  "Pulau yang dipatroli oleh pesawat tempur PLA adalah, tentu saja, Pulau Taiwan di China."

Wu berjanji bahwa China akan mengambil tindakan jika Taiwan berusaha secara resmi mendeklarasikan kemerdekaan. "Serangkaian tindakan akan kami ambil untuk menargetkan kekuatan 'kemerdekaan Taiwan' dan kegiatan mereka, dan untuk melindungi kesejahteraan rakyat di Taiwan agar tidak dirusak oleh konspirasi 'kemerdekaan Taiwan',"kata Wu.

"Jika kekuatan 'Kemerdekaan Taiwan' terus bertindak sembrono, kami akan mengambil tindakan lebih lanjut." Jika memang perlu, Su-35 akan tampil dalam upaya China menundukkan Taiwan.

Flanker-E ini bisa dibilang sebagai pesawat tempur tercanggih dan terbaik PLAAF disamping pesawat tempur siluman Chengdu J-20, yang belum jelas kapan akan dioperasikan atau belum jelas dapat dioperasikan atau tidak nantinya oleh PLAAF.

Su-35 dipersenjatai dengan rudal udara-ke-udara jarak jauh seperti rudal PL-15. Rudal ini dapat digunakan untuk menyerang pesawat tanker pengisi bahan bakar udara Amerika (sekutu Taiwan) dan pesawat pendukung lainnya seperti E-3 AWACS yang sangat penting dalam operasi udara atas luasnya Pasifik.

"PL-15, akan dioperasikan tahun ini, dan menurut seorang personel senior Angkatan Udara AS (rudal PL-15) sebagai perhatian yang signifikan, termasuk pernyataan Jenderal Hawk Carlisle, yang saat itu menjadi kepala Komando Tempur Udara AS, pada tahun 2015," analis militer IISS, Doug Barrie, menulis untuk War on the Rocks.

"PL-15 mungkin memiliki jangkauan maksimum 200 kilometer dan dianggap dilengkapi dengan pencari canggih menggunakan active electronically scanned radar. Jangkauan maksimum menggambarkan seberapa jauh jarak yang dapat dicapai rudal dengan lintasan optimal tanpa manuver dan dengan sedikit energi tersisa di akhir penerbangannya.

Tetapi mengingat bahwa rudal sekelas PL-15 sering digunakan untuk melibatkan pesawat tempur kelas yang sama, jangkauan keterlibatan maksimum sesungguhnya terhadap target manuver akan lebih pendek, meskipun kemungkinan jangkauannya masih lebih jauh daripada rudal padat generasi menengah Barat saat ini.

Salah satu keterbatasan dari beberapa generasi rudal udara-ke-udara yang ada saat ini adalah penurunan tingkat kesuksesan secara signifikan terhadap target bermanuver. Ini karena misil itu mengeluarkan energinya dengan cepat karena mencoba mendekat pesawat musuh.

Sebuah rudal yang lebih berbahaya telah diketahui juga sudah diuji coba dengan jet tempur turunan Flanker J-16 buatan China. Dalam beberapa hal, kemampuan J-16 bisa disamakan dengan Su-35. Namun, Su-35 masih memiliki keunggulan secara keseluruhan atas Flanker tiruan buatan China tersebut.

"Rudal AAM yang jangkauannya lebih jauh juga dalam tahap perkembangan," tulis Barrie. "Pada akhir tahun 2016, muncul di internet gambar dari J-16 yang membawa dua rudal besar. Tampaknya ini untuk meningkatkan kemampuan serangan udara-ke-udara jarak jauh, hingga sekitar 400 kilometer, dan dimaksudkan untuk menyerang pesawat tanker bahan baker, pesawat AWACS, pesawat intelijen dan intai, di jarak yang jauh.

Dengan rudal-rudal jarak jauh semacam ini dan dengan dioperasikannya  Su-35 akan secara signifikan meningkatkan kemampuan PLAAF dan memberikan efek sakit kepala kepala bagi pasukan AS dalam hal terjadi perang. (ART/NI)

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

No comments:

Post a Comment