Sukhoi-30 Sebagai 'Game Changer' di Asia Pasifik

Wednesday, January 29, 2014
Sukhoi Su-30SM

Jika sebuah negara ingin menjadi kuat dan berpengaruh di dunia, maka harus memiliki militer yang kuat. Harus menyadari dan cepat merespon apa yang negara-negara lain lakukan untuk meningkatkan kemampuan militernya. Bila hanya menjadi penonton, maka tentu akan tertinggal.

Beberapa negara di Asia Pasifik selama ini merasa aman karena militernya kuat. Mereka memiliki alutsista canggih terutama pesawat tempur dan tidak merasakan ancaman berarti dari negara lain yang militernya lebih lemah.

Namun saat ini sudah berbeda, "kenyamanan" sudah terkikis karena hadirnya satu pesawat asal Rusia Sukhoi Su-30 Flanker. Pesawat yang sangat bermanuver, cepat dan memiliki jangkauan jauh ini telah diakuisisi dalam jumlah besar oleh beberapa negara Asia yaitu China, India, Malaysia, Vietnam dan Indonesia.

Ini telah menggeser keseimbangan kekuasaan di teater Asia Pasifik. Ambil contoh, pilot Australia yang saat ini menerbangkan F-18 Hornet dan pembom tempur F-11 Aardvark kini harus menerima tantangan dari Flanker yang unggul di hampir semua aspek.

Pesawat tempur F/A 18A/B/F kalah dari Flanker dalam semua paramater kinerja utama. Australia sendiri sudah membahas situasi ini dengan mengeluarkan perintah untuk membeli 100 pesawat tempur siluman F-35 dari AS. (Baca juga: F-35 Australia mulai dirakit)

Flanker dilengkapi dengan 12 hard point (cantelan) - lebih banyak dari pesawat tempur lain. Fitur ini memungkinkan Flanker untuk membawa lebih banyak rudal dan bom pintar.

Flanker juga membuat rentan kapal induk bertenaga nuklir AS. War-gamed situations akan terjadi apabila kapal induk AS harus berhadapan dengan Sukhoi yang dipersenjatai dengan rudal jelajah anti-kapal. Apalagi bila Sukhoi dilengkapi dengan rudal hipersonik BrahMos.

Rudal-rudalnya memiliki keunggulan tersendiri, manuvernya legendaris, dan jangkauannya yang lebih dari 3.000 kilometer menjadikan Su-30 sebagai aset yang berharga. Su-30 mampu melakukan repeated probes and U-turns -taktik perang dingin Uni Soviet. Mengejar Flanker menjadi suatu yang berbahaya.

Wajar saja bila dikatakan Su-30 Flanker sebagai game changer di kawasan Pasifik setidaknya untuk saat ini. Hingga F-35 hadir di Asia Pasifik, situasi mungkin belum akan berubah.

(Kredit foto: Canberra5986/Wikimedia)

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

11 comments:

Anonymous said...

menyeimbangkan kekuatan. nanti saatnya hadir F-35 hadir pula T50 srimbang lg, dan terus begitu hingga akhirnya terjadilah WW3.

Anonymous said...

Sukhoi 30 jelas bukan tandingan f35 dari segi avionik dan stealthnya. Tapi saya rasa dengan biaya yang amat mahal pengoperasian pesawat ini tentu dibatasi, jadi tidak perlu kawatir jika sukhoi kita berhadapan dengan pesawat ini.apa lagi dengan sukhoi pak fa walaupun masih tahap pengembangan dari segi stealthnya yang belum sempurna, tapi diprediksi pesawat ini akan jauh lebih mematikan dari segi manuvernya dan senjatanya

widodo jangkrik said...

sy seorg yg ga pro barat maupun rusia,klo berbicara jujur..su-35/bm jg blm tentu tandingan f-22 maupun f-35.soalnya baru usa doang yg terbukti mampu bikin pswt stealt padahal f-22 raptor produksi thn 80an.klo thn 2020 rusia nanti jd bikin su-35/bm jgn2 usa malah sudah pake teknologi robot atau pswt tanpa awak karena usa sudah uji dronenya di kapal induk.klo lihat knytaan itu,berarti emg tecnoligi barat ada didpn rusia 30 thnan.

Anonymous said...

ini hanya pandangan dari satu sisi,
justru sukhoi punya kelemahan RCS nya besar
,
masih kalah dari super hornet,
sukhoi jga boros bbm bahkan SU-35 biaya BBMnya 400 juta/jam,
Apalagi SU-30 ..
f-35 memang lebih mahal harga belinya tapi jauh lebih efisien karna bermesin tunggal
dan didesain untuk minim perawatan
tentu saja negara2 eropa dan Australia tdk bodoh dgn memakai pesawat ''mahal'' tsb.
Jadi memang sebisa mungkin Indonesia harus mandiri dgn memproduksi pesawat sesuai dgn kondisi dan kemampuan Indonesia.

rahman van dorm said...

SU-30 EMANK BUKAN TANDINGAN F-35,untuk masa sekarang su-35 lah yg jd rifal abadi f-35,karna f-35 masih bnyak kekurangan dmana2.............

Anonymous said...

Jgn takut semua masih ada bambu runcing...

Agus Ariffianto said...

Masa kita di sekolah dulu, kita memang dicekoki dengan propaganda yang mengatakan kita berjuang menggunakan bambu runcing. Itu omong kosong belaka. Dari zaman perjuangan merebut kemerdekaan, kita sudah menggunakan persenjataan baik yang canggih (di masa itu) maupun yang rakitan sendiri. Bohong belaka yang mengatakan kita berjuang hanya menggunakan bambu runcing.

Anonymous said...

Rkita juga sudah punya rudal icbm namanya SS-Bamboo Runciang

Anonymous said...

masa?, f-35 dan su-35 itu role nya beda bro
su-35 itu air superiority fighter,f-35 lebih mengarah ke tactical fighter dan multirole. Ntar dipakenya juga beda

Anonymous said...

Udah2 jangan ribut
Pke shotgun yg pluru yg bulet2 aja
Kena bentol2

mohammad husein said...

yang bener itu bukan ICBM yang kita punya, tapi ICUBM ( Intercontinental Under Belly Missile )

Post a Comment