Saturday, January 11, 2014

Mengapa AS Harus Menjual F-35 ke Taiwan

F-35 JSF

Menurut pemberitaan yang beredar baru-baru ini, Moskow dan Beijing akan segera mencapai kesepakatan untuk penjualan pesawat tempur generasi 4++ Sukhoi Su-35 ke China pada tahun ini. Su-35 akan memberikan kemampuan lebih bagi China dalam memproyeksikan kekuatan militernya di Asia dan Asia Tenggara. Jika kesepakatan dicapai, pembelian Su-35 oleh China akan memberi dampak langsung pada sengketa teritorial di Laut Cina Timur dan Laut Cina Selatan.

Su-35, dikombinasikan dengan kekuatan rudal balistik dan senjata canggih China lainnya akan menghadirkan kekuatan yang dalam, kemampuan berlapis untuk mendukung klaim China sekaligus membuat negara lain enggan melakukan intervensi jika China lebih memilih jalan konflik untuk menyelesaikan masalah.

Mengapa Taiwan masuk ke dalam situasi ini? China berencana membeli Sukhoi Su-35, artinya akan menempatkan seluruh Taiwan masuk dalam lingkup jaringan pertahanan udara China. Sebuah situasi taktis yang tidak menguntungkan bagi Taiwan. Radar canggih Su-35 akan mampu menangkap 145 jet tempur F-16A/B dan 126 jet tempur tua buatan dalam negeri Taiwan di jarak 400 kilometer. Kesepakatan pembelian Su-35 oleh China ini menimbulkan perdebatan di Washington mengenai apa maksud dan ambisi Beijing di balik modernisasi militernya yang luar biasa.

Taiwan saat ini menerbangkan F-16A/B dan tengah menghadapi penurunan signifikan dalam hal kemampuan pertahanan udara. Sebuah hasil studi Pentagon mengenai kekuatan udara Taiwan merekomendasikan Amerika Serikat menjual jet tempur canggih F-35 kepada Taiwan. Ini menandakan pemerintah AS tahun betul bahwa F-35 sangat dibutuhkan Taiwan, namun tentu saja tidak semudah itu, proses penjualan harus melalui pemikiran yang matang dan komprehensif tentang situasi Taiwan bagi Pentagon. Dibawah Taiwan Relations Act, untuk menghadirkan pertahanan yang memadai AS berkewajiban untuk memasok Taiwan dengan semua senjata yang diperlukan. Jadi, bisa jadi permintaan Taiwan untuk F-35 AS tidak perlu lagi dipertanyakan, karena ini sudah sesuai dengan arah kebijakan AS.

Meskipun hubungan AS dengan Taiwan saat ini telah jauh lebih kuat, khususnya hubungan militer, namun hingga kini Taiwan masih menghadapi situasi genting. Hal ini terkait pengumuman Beijing yang memperjauh Zona Identifikasi Pertahanan Udara di Laut Cina timur, ditambah lagi dengan meningkatnya ketegangan atas sengketa maritim dan teritorial di Laut Cina Selatan.

Mengapa AS harus peduli? Karena hubungan antara Amerika Serikat dan Taiwan adalah landasan kebijakan luar negerinya di wilayah tersebut. Taiwan memiliki peran untuk berkecimpung dalam memelihara perdamaian global, dan AS harus terus membantu Taiwan dalam membentuk kemampuan pencegahan yang efektif. Memang tidak dipungkiri, beberapa bukti menunjukkan bahwa penjualan senjata AS telah meningkatkan stabilitas di selat dan sekaligus memberikan Taipei rasa aman dari ancaman serangan yang bisa saja dilancarkan China.

Selain itu, Taiwan memainkan peran penting dalam strategi rebalancing Gedung Putih. Poros pemerintahan Obama ke Asia ditujukan untuk meningkatkan keamanan dan kesejahteraan di wilayah tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa Washington dan Beijing harus menemukan cara agar bisa bekerjasama dalam isu-isu kepentingan bersama, dan sedapat mungkin menghindari masalah kompetitif atau konfrontatif. Karena kedekatan dan pengetahuannya mengenai China, Taiwan dalam hal ini secara otomatis masuk dalam 'radar' AS untuk membantu upayanya. Daripada takut hubungan bilateral AS dengan China rusak, AS tentu akan melakukannya dengan mengambil keuntungan dari kemitraannya dengan Taiwan.

Kebangkitan militer China dianggap oleh banyak pengamat mengganggu keseimbangan kekuatan di Pasifik. Menjadikan F-35 yang mungkin disediakan AS untuk Angkatan Udara Taiwan sebagai penyeimbang dan untuk menjalankan misi secara efektif bukan hanya untuk saat ini, tapi juga di masa mendatang. Tingkat kepercayaan tinggi Taiwan dalam hubungannya dengan AS dianggap bisa menjadi kunci perdamaian dan keamanan di Asia Timur, dan ini menunjukkan bahwa Taiwan butuh jet tempur canggih untuk mempertahankan diri. Jika AS ingin mempertahankan status quo-nya dengan Taiwan, maka tentu AS harus segera menyetujui penjualan F-35.