;

August 28, 2012

Australia Beli 12 Radar Jamming EA-18G Growlers

Australia Beli 12 Radar Jamming EA-18G Growlers

Para pejabat Australia mengatakan bahwa Australia menjadi negara pertama diluar AS yang membeli Boeing EA-18G Growlers advanced electronic warfare technology.

Menteri Pertahanan Australia Stephen Smith mengatakan pada Kamis lalu, Angkatan Udara Australia segera akan melengkapi armada pesawat F/A-18 Super Hornet dengan peralatan radar-jamming Growler dari Boeing dan beberapa perlengkapan lainnya guna mengalahkan beragam perangkat elektronik canggih saat ini. Upgrade akan dimulai pada tahun 2018 dengan menelan biaya sekitar 1,5 miliar dolar Australia.

Penjualan teknologi militer AS yang "langka" ini dan sekarang diaplikasikan pada Angkatan Laut AS, muncul pada saat Amerika Serikat memperdalam hubungan pertahanan dengan Australia dan beberapa kekuatan militer lainnya di negara Asia Pasifik dalam menghadapi kebangkitan China.

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 8/28/2012

AS Pertimbangkan Penjualan Rudal AGM-65K2 ke Indonesia

Defense Security Cooperation Agency (DSCA) pada 21 Agustus lalu menotifikasi kongres AS untuk kemungkinan penjualan 18 paket rudal AGM-65K2 MAVERICK "All-Up-Round" kepada pemerintah Indonesia beserta peralatan terkait, suku cadang, pelatihan dan dukungan logistik dengan perkiraan biaya 25 juta dolar.

Sebelumnya pemerintah Indonesia telah meminta kemungkinan penjualan 18 rudal AGM-65K2 MAVERICK "All-up-Round", 36 rudal TGM-65K2 Captive Air Training, 3 rudal TGM-65D Maintenance Training, suku cadang dan perbaikan, dukungan peralatan, alat dan uji teknis, pelatihan personil, dan peralatan pelatihan, publikasi dan data teknis, logistik dan elemen terkait lainnya dari dukungan logistik untuk rudal tersebut. Total perkiraan biaya adalah 25 juta dolar.
 
Dilengkapkan pada F/A 18 Super Hornet
Rudal AGM-65 juga dilengkapkan USAF pada F/A 18 Super Hornet

Rudal AGM-65K2 buatan Raytheon Co itu merupakan rudal yang dirancang untuk menyerang target jarak jauh, termasuk kendaraan lapis baja, pertahanan udara, transportasi darat, dan fasilitas penyimpanan.

Usulan penjualan ini akan memberikan kontribusi bagi kebijakan luar negeri dan keamanan nasional Amerika Serikat dengan membantu meningkatkan pertahanan negara sahabat, dan Indonesia merupakan kekuatan penting bagi stabilitas politik dan ekonomi di kawasan Asia Tenggara.

TNI AU membutuhkan rudal ini untuk melatih pilot F-16 untuk senjata udara-ke-darat. Jumlah rudal dalam rencana penjualan tersebut akan mencukupi untuk 10 F-16 Indonesia saat ini, serta 24 F-16 yang masih dalam tahap pengiriman. Bila terjadi, penjualan ini akan mendorong kerjasama yang berkesinambungan antara RI dan AS, menjadikan Indonesia sebagai mitra regional yang berharga di kawasan penting dunia (Asia Tenggara).

Rencana penjualan rudal ini diklaim AS tidak akan mengubah keseimbangan militer di kawasan Asia Tenggara.
 
Rudal AGM-65 untuk F-16 Indonesia
F-16A Block-15 TNI AU

Mabes TNI pun telah mengklaim bahwa rudal AGM-65K2 MAVERICK "All-Up-Round" sebagai bagian dari kebutuhannya. "Itu salah satu kelengkapan pesawat yang dibutuhkan oleh TNI," kata Kepala Pusat Penerangan Markas Besar TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul kepada wartawan, Senin, 27 Agustus 2012.

Namun Iskandar mengatakan akan menyerahkan rencana pembelian rudal itu pada Kementerian Pertahanan. "Tentu semuanya harus disesuaikan dengan anggaran yang ada, urusan itu biar Kemhan yang memutuskan," kata Iskandar.

Iskandar memastikan TNI memerlukan 18 paket rudal pabrikan Raytheon Co ini. "Kalau punya pesawatnya, tentu harus dilengkapi dengan sistem persenjataan yang memadai," ujar dia.
 
[Sumber:DSCA&TEMPO]

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 8/28/2012

August 27, 2012

Pemberontak Suriah Memperoleh Rudal Stinger

Pemberontak Suriah Memperoleh Rudal Stinger

Sebuah sumber dari Al Arabiya mengklaim bahwa pemberontak Suriah telah mengakuisisi 14 rudal Stinger melalui pengiriman yang dilakukan di sepanjang perbatasan Turki dan Suriah. Sumber mengklaim para pemberontak belum menggunakan rudal Stinger tersebut ketika pesawat Suriah jatuh pada 13 Agustus lalu. Suriah mengklaim kecelakaan MiG tersebut murni karena kesalahan teknis.

Beberapa anggota Kongres AS telah mendesak Pentagon untuk ikut campur tangan dalam perang saudara yang telah berlangsung lama ini, menyusul sebuah laporan yang mengatakan bahwa militer Presiden Suriah Bashar Assad telah menargetkan warga sipil. Para pemimpin militer AS sebelumnya memperingatkan konsekuensi dari mempersenjatai para pemberontak atau intervensi langsung dari AS dengan kekuatan militernya.

Pentagon khawatir bahwa dengan mempersenjatai para pemberontak dapat menyebabkan senjata-senjata tersebut menjadi senjata teroris, seperti kejadian ketika CIA mempersenjatai pejuang Afghanistan dalam perang mereka melawan Uni Soviet. Al Arabiya mengklaim bahwa AS mengetahui tentang pengiriman rudal Stinger ini kepada para pemberontak, meskipun Pentagon tidak mengomentari hal ini.

Para pemberontak mengklaim bahwa rudal permukaan-ke-udara ini akan menimbulkan ancaman yang serius untuk Angkatan udara Assad (Suriah). Rudal Stinger adalah rudal SAM (surface-to-air) yang relatif mudah dioperasikan dan dimobilisasi. Akan menjadi hal sulit untuk menemukan/menghancurkan rudal ini karena bentuknya yang kecil dan mudah dimobilisasi. Kebanyakan para pilot tidak mengetahui keberadaan Stinger hingga rudal ini ditembakkan.

Al Arabiya mengatakan AS mungkin memiliki andil dalam mengatur pengiriman rudal ini kepada para pemberontak dan itu menunjukkan sinyal tambahan bagi keterlibatan AS dan NATO di Suriah.

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 8/27/2012

Irak Minati Produk Pertahanan Indonesia

Jajaran panser Anoa 6x6 di bengkel perakitan PT Pindad

Pemerintah Indonesia dikabarkan akan segera menjual persenjataan ke Irak dan Uganda. Jika terealisasi, maka inilah penjualan senjata perdana dari negara Asia Tenggara. “Kami sudah mengundang delegasi militer Irak untuk datang ke Jakarta, pada 5 Oktober depan,” kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Jumat, 24 Agustus 2012.

Selain menghadiri peringatan Hari Kelahiran TNI, delegasi Irak juga akan mengunjungi pabrik senjata Indonesia. Irak kabarnya membutuhkan rompi anti peluru, helm, sepatu lars, dan seragam. Semua itu bisa disediakan Indonesia.

Sjafrie sendiri baru saja kembali dari kunjungan ke Irak. Di Baghdad, delegasi Indonesia memamerkan sejumlah persenjataan buatan anak bangsa, seperti senapan SS-2 dan kendaraan ringan lapis baja, Anoa. Keduanya diproduksi PT Pindad. Karena itulah, Sjafrie didampingi Direktur Utama Pindad, Adik Avianto, dalam kunjungan itu. Selain ke Irak, mereka juga menawarkan senjata ke Uganda dan Kongo.

Menurut Sjafrie, Irak juga tertarik untuk membeli pesawat CN-235 dan NC-212 buatan PT Dirgantara Indonesia. Dia menegaskan kualitas produk militer buatan Indonesia bisa diadu dengan negara lain. “Selama ini, kita sudah mengekspor persenjataan ke negara lain di Asia Tenggara, kini saatnya memperluas pasar dan volume produksi,” katanya.

[TEMPO]

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 8/27/2012

 
Design by WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost