December 31, 2012

India Kembangkan Rudal "Super BrahMos"

Rudal BrahMos
Rudal BrahMos didesain berdasarkan rudal Yakhont. Foto: Anurag/wikimedia
Rudal jelajah supersonik BrahMos segera akan menjadi "super roket," yang mana secara signifikan akan meningkatkan kapabilitas pertahanan taktis India. Namun, tes peluncuran rudal hipersonik BrahMos II varian udara, yang seharusnya selesai pada 2012, mengalami penundaan. Tanggal yang realistis untuk menyelesaikan tes ini kini diyakini pada 2015.

Sumber di Kementerian Pertahanan India mengatakan bahwa India telah menambah kedahsyatan rudal BrahMos dengan cara "mengawinkannya" dengan sistem navigasi satelit Rusia. "Perkawinan" dari sistem navigasi BrahMos dengan rudal jelajah strategis jarak jauh Kh-555 dan Kh-101 Rusia telah menjadikan BrahMos sebagai super roket. -Kata roket disini digunakan dalam konteks senjata, bukan roket ruang angkasa-.

Rudal BrahMos yang baru ini harus menjalani tes dan uji lapangan terlebih dahulu sebelum dioperasikan oleh Angkatan Bersenjata India. Namun dikatakan hal ini tidak akan memakan waktu lama.

Versi upgrade dari BrahMos akan dilengkapi dengan kemampuan sub-strategis dan akan meningkatkan jangkauan taktisnya juga. Versi BrahMos baru ini juga akan mampu membawa hulu ledak nuklir dan dapat diluncurkan dari laut, darat dan udara, seperti halnya versi BrahMos sebelumnya. Jangkauan hit rudal ini nantinya akan berkisar antara 180-300 mil (300-500km) atau bahkan lebih.

Versi BrahMos yang diluncurkan dari udara akan dilakukan oleh pesawat tempur Sukhoi Su-30 MKI. Angkatan Udara India di set untuk menjadi kekuatan yang dahsyat pada tahun 2020 ketika saatnya India telah melengkapi armada tempur udaranya dengan 200 pesawat tempur Sukhoi canggih dan dilengkapi dengan versi baru dari rudal BrahMos ini. Akan menjadi sebuah kombinasi super roket mematikan dan menjadikan Sukhoi India sebagai pesawat pembom strategis.

Fitur penting lain dari upgrade rudal BrahMos adalah ditambahkannya teknologi GPS-GLONASS. Ini merupakan kebutuhan strategis yang penting bagi India.

Rudal BrahMos secara bersama-sama dikembangkan oleh India dan Rusia. Nama rudal ini diambil dari gabungan dua nama sungai besar di India dan Rusia yaitu sungai Brahmaputra di India dan sungai Moskva di Rusia. Rudal ini mampu terbang dengan kecepatan yang sangat tinggi di level tree-top yang menambah keunggulan taktisnya.

BrahMos merupakan rudal dua-tahap dengan mesin pendorong propelan padat sebagai tahap pertama yang membawanya ke kecepatan supersonik dan kemudian akan dipisahkan. Diketahui, BrahMos adalah rudal jelajah supersonik pertama digunakan kapal perang India INS Rajput sejak tahun 2005. Prinsip rudal ini "fire and forget," mengadopsi varietas penerbangan dalam perjalanan ke target. Kekuatan destruktif rudal ini tinggi, sebagai dampak dari energi kinetiknya yang besar. Ketinggian jelajah rudal BrahMos bisa mencapai 15 km (9,3 mil) dan ketinggian terminal serendah 10 meter.
BrahMos dinyatakan 3,5 kali lebih cepat dari rudal jelajah subsonik Harpoon milik AS dan 3 kali lebih cepat dibandingkan rudal subsonik Tomahawk AS
Dibandingkan dengan rudal jelajah supersonik yang ada saat ini, BrahMos memiliki kecepatan tiga kali lebih tinggi, jangkauan 2,5 sampai 3 kali, seeker range 3 sampai 4 kali lebih banyak dan 9 kali lebih besar energi kinetiknya. Rudal ini memiliki konfigurasi identik untuk platform darat, laut dan sub-laut dan menggunakan Transport Launch Canister (TLC) untuk transportasi, penyimpanan dan peluncuran. Rudal ini universal untuk berbagai paltform dengan akurasi tinggi dan dampak kinetik yang besar.

Sejauh ini India telah menyebarkan rudal BrahMos di sektor barat untuk menghadapi Pakistan. Karena rudal ini dipasang pada peluncur mobile (bergerak), maka dengan mudah dapat diangkut dan dipindahkan kemana saja di India dalam waktu yang singkat. Dalam waktu dekat, Angkatan Darat India juga berencana untuk menyebarkan BrahMos untuk menghadapi China. India telah memulai kesiapannya untuk menghadapi seandainya ada perang besar di Arunachal Pradesh di sektor timur laut dengan nama sandi "Pralaya" pada 29 Februari 2012 lalu.

BrahMos adalah rudal siluman jelajah supersonik yang dapat diluncurkan dari kapal selam, kapal permukaan, pesawat dan darat. BrahMos dinyatakan 3,5 kali lebih cepat dari rudal jelajah subsonik Harpoon milik AS dan 3 kali lebih cepat dibandingkan rudal subsonik Tomahawk AS. India juga merencanakan sebuah varian BrahMos yang diluncurkan di udara yang diharapkan selesai pada tahun 2012 dan akan membuat India satu-satunya negara dengan rudal supersonik di semua kekuatan pertahanan. Namun, seperti yang dikatakan diatas, batas waktu 2012 tidak mungkin terpenuhi.

Versi hipersonik dari BrahMos saat ini juga tengah dikembangkan dengan kecepatan Mach 7 untuk memangkas lama waktu menghantam target dan diharapkan juga akan siap pada tahun 2016. Brahmos memiliki kemampuan untuk menyerang target di permukaan dengan terbang serendah 10 meter.

Versi BrahMos untuk Angkatan Darat dan Angkatan Laut memiliki berat tiga ton atau lebih. Rudal ini juga tersedia untuk ekspor bagi siapa saja yang tertarik dengan biaya masing-masing sekitar US$2-3 juta. Biaya ini tergantung dari versi yang diinginkan.

BrahMos dikembangkan oleh perusahaan patungan antara Defence Research and Development Organisation (DRDO) dari India dan Federal State Unitary Enterprise NPO Mashinostroyenia (NPOM) dari Rusia di bawah bendera BrahMos Aerospace.

Berikut infographic karakteristik dan spesifikasi rudal BrahMos. (klik pada gambar)

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 12/31/2012

2 AWACS untuk Angkatan Udara India

AWACS

India berencana untuk mendapatkan lagi dua Pesawat Airborne Warning and Control Systems (AWACS) untuk Angkatan Udara India (IAF). "Tiga AWACS sudah dioperasionalisasikan oleh IAF dan ada usulan untuk pengadaan dua AWACS tambahan," kata Menteri Pertahanan India AK Antony dalam sebuah pernyataan tertulis.

Antony mengatakan rencana perspektif integrasi jangka panjang salah satunya ditujukan untuk memiliki kombinasi pesawat AWACS dan sistem pesawat AEW&C (Airborne Early Warning and Control). DRDO India -kalau di Indonesia bisa dikatakan sebagai BPPT namun lebih khusus kepersenjataan- juga tengah mengembangkan Sistem AEW&C sendiri pada pesawat Embraer dan diharapkan akan selesai dalam kurun waktu 84 bulan.

Pesawat AWACS bertindak sebagai pusat komando udara untuk pesawat lainnya. Terbang cukup jauh di dalam wilayah yang aman untuk menghindari rudal anti-pesawat musuh, radar AWACS memiliki jangkauan antara 200 km (untuk pesawat kecil atau rudal jelajah yang terbang dekat dengan tanah) sampai 600 km (untuk pesawat besar yang terbang di ketinggian). Pesawat AWACS mampu melacak beberapa ratus pesawat sekutu dan musuh sekaligus.

Berbicara mengenai banyaknya teroris yang menyusup ke India, Antony mengatakan, "Karena cuaca buruk, akumulasi salju yang besar, tanah longsor dan pagar di sepanjang LoC -Line of Control, garis kontrol militer antara India dan Pakistan-mengalami kerusakan." Pemerintah India menyadari bahwa banyak usaha penyusupan teroris sepanjang tahun, termasuk selama bulan-bulan musim dingin ketika pagar ditutupi oleh salju atau pekerjaan perbaikan yang sedang berlangsung, katanya.

Antony mengatakan langkah-langkah proaktif tambahan dalam hal pengawasan dan pengerahan pasukan yang dilakukan untuk menggagalkan upaya penyusupan.

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 12/31/2012

Menuju Lepas Landas Industri Pertahanan Indonesia

Jajaran panser Anoa 6x6 di bengkel perakitan PT Pindad
Jajaran panser Anoa 6x6 di bengkel perakitan PT Pindad
Debu yang menempel di badan pesawat N-250 buatan Baharudin Jusuf Habibie mungkin sedikit-sedikit terhapus seiring menggeliatnya kembali industri kedirgantaraan dalam negeri. Pada 2012 ini, titik tolak menuju kemandirian industri strategis pertahanan dalam negeri, sudah dipancangkan pada 5 Oktober lalu. UU Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertepatan dengan hari ulang tahun ke-67 TNI.

Presiden SBY menyatakan bahwa regulasi itu merupakan "oli" untuk bisa licin meluncurkan berbagai produk alat utama sistem senjata (alutsista) dalam negeri. Lahirnya UU ini dipercaya bakal mempercepat perkembangan industri pertahanan dalam negeri. Maklum, dengan keberadaan regulasi ini, persoalan laten mengenai kesulitan sinergi antarindustri pertahanan, bisa terselesaikan. Apalagi, UU ini mengatur sinergi antarindustri strategis maupun industri pertahanan dalam memproduksi alustsista.

Kelahiran UU Industri Pertahanan tak bisa dilepaskan dari pembentukan Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) pada 2010 yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2010. Keberadaan KKIP amat menguntungkan PT Dirgantara Indonesia (DI), PT Pindad, maupun PT PAL, sebagai tiga industri pertahanan terbesar milik negara.

KKIP-lah yang berkontribusi membentuk masterplan revitalisasi industri pertahanan, kriteria industri pertahanan, kebijakan dasar pengadaan alutsista TNI dan Polri, serta verifikasi kemampuan industri pertahanan dan revitalisasi manajemen BUMN Industri Pertahanan.

KKIP dibentuk untuk mengawal pembangunan alutsista dalam negeri hingga 2029 yang dibagi menjadi empat tahap. Tahap pertama, 2010 hingga 2014, KKIP mencanangkan empat program strategis, meliputi penetapan program revitalisasi industri pertahanan, stabilisasi dan optimalisasi industri pertahanan, penyiapan regulasi industri pertahanan dan penyiapan produk masa depan.

Pada 2012 ini, hampir semua program sudah terealisasi. Bahkan, PT DI sudah merasakan manfaatnya. "Sebelum ada KKIP, untuk pemesanan alutsista TNI harus melalui proses tender. Kalau saat ini, pengguna (TNI) bisa menunjuk secara langsung industri yang diinginkan. Yang terpenting, kesanggupan dari PT DI untuk menerima pesanan dari TNI dan Polri," kata dia.

Sebagai bukti, pada 2011, PT DI sudah menerima pesanan tujuh unit helikopter Bell 412 EP dan sejumlah alutsista lainnya dari TNI. Bahkan, pada 2012 ini PT DI menerima pesanan pembuatan 9 unit pesawat angkut CN-295, 2 unit pesawat helikopter super puma untuk TNI AU, bahkan PT DI telah mengekspor pesawat CN-235 Maritime Patrol Aircraft (MPA).

Kemitraan Strategis

PT DI juga melakukan kemitraan strategis dengan produsen pesawat dari luar negeri, seperti Airbus Military dan Eurocopter European Aeronautic Defense Space Company (EADS). Kemitraan dengan Airbus Military akan semakin erat setelah kesepakatan produksi bersama pesawat C 212-400 versi upgrade dan C295. Pesawat yang akan dinamai NC 212 itu ditawarkan kepada pelanggan sipil serta militer, dilengkapi dengan avionik digital dan sistem autopilot terkini.

PT Pindad juga menerima banyak pesanan alutsista. Salah satu produk yang diminati adalah panser anoa 6x6 yang telah melanglang buana dan menjadi kendaraan taktis dalam misi perdamaian PBB, sedangkan PT PAL dipercaya menggarap kerja sama pembuatan tiga unit kapal selam dengan Korea Selatan.

Ada pula pembuatan kapal trimaran, yaitu kapal antiradar dengan tiga lambung asal Swedia yang dibuat perusahaan swasta di Banyuwangi. Kapal yang memiliki kemampuan minim terdeteksi radar dengan kecepatan 48 knots dan dilengkapi pelontar roket ini akan digunakan TNI AL untuk operasi khusus. Walaupun pada percobaan pertamanya, kapal ini gagal dan harus terbakar habis.

Di sektor swasta, industri pertahanan juga menggeliat, seperti pembuatan Kapal Cepat Rudal (KCR) C705 produksi PT Palindo Marine seharga 73 miliar rupiah yang memiliki kecepatan 30 knots. Jarak tembak sasaran rudal C705 mencapai 70 kilometer. Saat ini, satu KCR yang diberi nama KRI Celurit telah beroperasi di bawah Komando Armada RI Kawasan Barat.

Namun, keberhasilan sejumlah industri pertahanan itu masih sangat kecil dibandingkan dengan impor alutsista yang dilakukan tiga matra TNI. Saat ini sebagian besar alutsista milik TNI masih didominasi produk luar. Pesawat tempur masih didominasi nama, seperti F-16, sukhoi, dan Hawk. Tank-tank pun masih didominasi produk asing. Tak terkecuali dengan kapal-kapal tempur.

Tak heran, jika Wakil Presiden Boediono pada pembukaan Indo Defence 2012 Expo dan Forum di Jakarta, Rabu, 7 November, mengatakan Indonesia perlu belajar dari negara-negara yang sukses mengembangkan industri pertahanan. Di banyak negara yang sudah sukses mengembangkan industri pertahanan, mereka tidak melepaskan industri itu tumbuh sendiri.

Dia menyatakan industri pertahanan adalah salah satu dari industri berteknologi tinggi. Setiap pembuatan perencanaan dan rancangan harus diintegrasikan dengan kemampuan secara luas, termasuk perguruan tinggi. Jika tidak, industri pertahanan akan mandek.
Pada 2029 diharapkan industri pertahanan Indonesia sudah bisa disejajarkan dengan industri pertahanan dunia
Lahirnya UU Industri Pertahanan merupakan perkembangan baik karena akan memberikan guideline yang bisa dipegang semua pelaku. Masalahnya sekarang, bagaimana ini diterjemahkan dan direalisasikan dalam program yang lebih operasional dan konkret, selain tentunya menyangkut biaya dan kualitas produknya.

Oleh karena itu, Wapres mendorong agar kerja sama dengan industri pertahanan di luar negeri bisa dilaksanakan dengan baik. Kerja sama itu bisa memberikan keuntungan bagi kemajuan kedua industri pertahanan yang bekerja sama.

Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, menuturkan lahirnya UU Industri Pertahanan sangat strategis dan fundamental untuk membangkitkan kembali industri pertahanan. Adanya UU ini diyakini akan mendorong kemampuan memproduksi dan pengembangan jasa pemeliharaan dari industri pertahanan semakin berkembang.

"Ini akan memberikan dampak, di antaranya kekuatan pertahanan dan keamanan Indonesia menjadi andal. UU ini juga akan menguatkan industri pertahanan itu sendiri untuk mandiri dan memproduksi produk alutsista secara berkesinambungan," ujar dia.

Pada 2029 diharapkan industri pertahanan Indonesia sudah bisa disejajarkan dengan industri pertahanan dunia. Capaian itu mungkin akan membuat Habibie terharu.

Koran Jakarta

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 12/31/2012

2013, Kabinet Berakhir dengan Kado Alutsista Manis

Flanker TNI AU
Flanker TNI AU
Layaknya politik, tahun 2013 adalah tahun penting di bidang pertahanan. Ribuan item alutsista harus sudah hadir di Indonesia. Meskipun pengadaan alutsista tidak terkait dengan keberlangsungan kabinet, namun pencapaian di tahun 2013 akan sangat menentukan pengadaan alutsista pada kabinet mendatang.

Maklum, di 2014, Indonesia tinggal menunggu kedatangan alutsista. Kontrak-kontrak pengadaan harus sudah selesai di 2013. Sambil tentu saja menutup kabinet Indonesia Bersatu jilid II dengan kado alutsista yang manis. Dan berharap, pada kabinet selanjutnya masterplan kekuatan pokok minimum (MEF) tetap dipertajam.

Membuka 2013, pemerintah menganggarkan APBN sebesar 77 triliun rupiah. Anggaran terbesar, bahkan dibandingkan untuk kepentingan pendidikan, infrastruktur, dan kesehatan. Khusus untuk alutsista, pemerintah menyisihkan 36 triliun rupiah dari anggaran itu.

"Dengan jumlah itu, pemenuhan alutsista untuk mencapai MEF bisa jadi semakin cepat," kata pemerhati militer dari Universitas Indonesia, Andi Widjajanto. Apalagi, Presiden sudah berkomitmen mengucurkan dana 156 triliun rupiah hingga 2014 di luar pos APBN.

Jika pos lain sering tersandung di DPR, tidak dengan bidang pertahanan. Komisi I DPR yang membidangi pertahanan jauh-jauh hari sudah menyetujui sederet daftar belanja alutsista yang disodorkan Kementerian Pertahanan (Kemhan). "Tinggal pemilihan spesifikasi yang lebih teknis dan sejumlah item yang masih dibubuhi bintang (masih dipertanyakan)," kata Andi.
TNI AD mendapatkan anggaran 40 persen, TNI AL dan TNI AU sebanyak 50 persen, sisanya untuk Mabes TNI
Tanda bintang itu, sebut Andi, dibubuhi karena belum adanya spesifikasi teknis. Contohnya, pengganti pesawat Fokker 100 yang jatuh. Kemhan belum mencantumkan apakah akan menggantinya dengan pesawat angkut CN 295 hasil kerja sama Airbus Military dengan PT Dirgantara Indonesia, atau pesawat angkut buatan Brasil/Italia.

Untuk 2013, anggaran pertahanan akan lebih banyak dialokasikan untuk TNI AD. Pembelian 100 main battle tank dari Jerman memang membutuhkan anggaran yang besar. Belum lagi beberapa senjata artileri dan kendaraan angkut personel. Persentasenya, TNI AD mendapatkan anggaran 40 persen, TNI AL dan TNI AU sebanyak 50 persen, sisanya untuk Mabes TNI.

Meski demikian, Andi melihat pemenuhan alutsista yang dilakukan pemerintah masih sesuai dengan rencana strategis hingga 2024. "Memang ada beberapa yang dipercepat, seperti pengadaan Leopard, tapi tak menyimpang," ujar dia.

Dia memuji Kemhan yang akhirnya mampu membuat perencanaan jangka menengah dan panjang untuk pemenuhan MEF. "Itu artinya, kita tak lagi didikte oleh broker-broker senjata," kata Andi.
 
Optimis MEF Tercapai Sebelum 2024

Panglima TNI Agus Suhartono justru optimistis pemenuhan MEF bisa lebih cepat dari yang direncanakan. "Saya berharap sebelum 2024 akan tercapai MEF," kata dia.

Menurut dia, desain MEF yang telah dibuat pemerintah telah memperhitungkan ancaman perbatasan, ancaman dalam negeri, penegakan hukum laut, dan perbantuan keamanan ke kepolisian. "Sedangkan yang tak terprediksi akan dihitung ulang," kata dia.

Namun, pencapaian kebutuhan alutsista ini bukan tanpa kritik. Direktur Eksekutif Imparsial, Poengky Indarti, berharap pemerintah lebih memprioritaskan pengadaan alutsista di laut dan udara. Apalagi, Indonesia merupakan negara maritim dengan luas laut jauh lebih besar dari daratan.

Imparsial mencatat sejumlah alutsista yang dipertanyakan transparansinya, khususnya mengenai pembelian sukhoi. Yang terbaru, adalah pembelian Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) dari Belanda. Di luar pencapaian MEF, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ingin pertahanan Indonesia lebih berperan aktif dalam perdamaian dunia pada 2013.
Banyak perwira maupun bintara yang harus bertugas 24 jam per hari, tapi tak memiliki tempat tinggal. Di sisi lain, masih ada rumah dinas yang ditempati mereka yang sudah tidak aktif
"Kita ingin mempererat kerja sama pada operasi militer, selain perang dan operasi penjagaan perdamaian," kata dia. Niat itu sudah sedikit terwujud dengan didirikannya Pusat Pemeliharaan Perdamaian, di Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Presiden tak melupakan kesejahteraan prajurit. Pertumbuhan ekonomi yang cukup baik memungkinkan pemerintah meningkatkan gaji, upah lauk-pauk, dan tunjangan bagi prajurit. "Asuransi kesehatan pada 1 Januaari 2014 akan kita berlakukan. TNI dan keluarga akan included di situ," jelas dia.

Pemerintah tak melupakan pembangunan perumahan prajurit. "Banyak perwira maupun bintara yang harus bertugas 24 jam per hari, tapi tak memiliki tempat tinggal. Di sisi lain, masih ada rumah dinas yang ditempati mereka yang sudah tidak aktif," jelasnya.

Presiden juga menyoroti perlunya dibangun sarana dan prasana di perbatasan, seperti Indonesia dengan Malaysia dan Indonesia dengan Papua Nugini, dan pulau-pulau terdepan seperti di Miangas. "Saya melihat perlu juga dibangun yang sifatnya nonmiliter, misalnya pasar, puskesmas, sekolah," kata dia.

Oleh: Wandi Yusuf
Judul asli:"2013, Titik Penting Pencapaian Kekuatan Pokok Pertahanan"
Kredit foto:  dutchaviationsupport.com

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 12/31/2012

Puna Wulung Segera Dioperasikan 2013

Puna Wulung buatan BPPT
Puna Wulung, pesawat tanpa awak karya BPPT. Foto: BPPT
Mengingat Indonesia sudah sejak lama menguasai teknologi kedirgantaraan, memang sudah sewajarnya negara ini mampu membuat pesawat tanpa awak (drone) sendiri. Sebuah kabar baik kita terima pada Oktober lalu ketika Pesawat Udara Nir Awak (PUNA) Wulung buatan BPPT berhasil diuji coba di Lanud Halim Perdanakusuma. Kini pesawat tanpa awak itu -kita sebut saja Wulung- segera akan dioperasikan pada 2013 mendatang.

Pesawat ini dianggap sangat penting dimiliki Indonesia karena banyaknya wilayah di tanah air yang tidak bisa dijangkau oleh manusia. Daerah-daerah yang sulit dijangkau itu antara lain terletak di gunung berapi. Padahal, daerah-daerah tersebut kerap perlu didatangi untuk kepentingan penelitian. Ini hanya langkah awal, "Wulung-wulung" berikutnya akan mengisi daftar alutsista yang dimiliki TNI.

Di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur Kalimantan Tengah, Menristek Gusti Muhammad Hatta mengatakan kemampuan drone (Wulung) buatan BPPT tidak diragukan. Pasalnya, drone tersebut sudah diuji coba di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada 11 Oktober 2012 lalu.


"Pesawat tanpa awak yang diberi nama Wulung tersebut dirancang khusus dan sangat canggih sehingga memiliki kemampuan yang luar biasa dibandingkan dengan pesawat-pesawat yang ada," ujar Menristek.

Wulung, yang dioperasikan dengan remote kontrol ini selain bisa menjadi pesawat mata-mata, pesawat tersebut nantinya juga dapat dipergunakan untuk pemotretan wilayah dari udara dan pemadaman kebakaran hutan dan lahan. Pesawat ini memiliki kemampuan terbang selama 4 jam tanpa henti dan bisa digunakan untuk membuat hujan buatan.

"Dengan adanya pesawat tersebut nantinya pemadaman kebakaran hutan dan pembuatan hujan buatan tidak perlu lagi menaburkan garam pada awan dan kami telah menemukan bahan penggantinya, yang bernama pleer," katanya. Setiap satu kilogram pleer sama dengan satu ton kilogram garam dan pesawat Wulung mampu membawa delapan kilogram pleer.

Puna Wulung
Puna Wulung. Foto : VIVAnews/Muhamad Solihin
Jarak tempuh maksimal Wulung adalah 70 kilometer, dengan kecepatan jelajah 52-69 knot. Puna Wulung bisa dikendalikan dengan jarak 73 kilometer dari remote kontrol. Wulung mampu terbang hingga ketinggian 12 ribu kaki, dan yang sudah diujikan setinggi 8.000 kaki.

BPPT telah membuat lima pesawat serupa, dan biaya yang dikeluarkan untuk lima pesawat serupa berkisar antara Rp.6 miliar-Rp.8 miliar. Wulung memakai mesin 2 tak dan untuk mendapatkan tenaga yang optimal, bahan bakar yang dipergunakan adalah pertamax. Namun, saat uji coba di Halim, tingkat kebisingan Puna belum cukup syarat untuk digunakan militer, entah saat ini.

Bahan material Wulung menggunakan bahan komposit (komposisi serat kaca, fiber, karbon) sehingga mendapatkan struktur pesawat yang ringan.

Sebelumnya, menurut Menhan Purnomo Yusgiantoro, PUNA autopilot ini bisa dipergunakan untuk kepentingan militer, khususnya pengamatan wilayah (Surveilance) dari udara karena telah dilengkapi dengan kamera canggih untuk memproyeksikan medan. Bahkan  fungsinya dapat menggantikan pesawat tempur yaitu menjadi Unmaned Combat Aerial Vehicle (UAV).

Keberhasilan pengembangan pesawat PUNA juga memiliki banyak keuntungan. Di antaranya memiliki nilai ekonomis tinggi, mengurangi ketergantungan pada negara-negara produsen yang selama ini menjadi pemasok alutsista TNI. Sifatnya juga fleksibel dalam pengembangan, meningkatkan peran industri dalam negeri serta dalam keadaan darurat dapat dioperasionalkan secara mandiri.

Sumber: Antara

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 12/31/2012

December 30, 2012

3 Kapal Selam dari Korea Awali Target 10 Kapal Selam

KRI Nanggala 402 saat uji coba pelayaran di Korea Selatan
KRI Nanggala-402 saat uji coba pelayaran di Korea Selatan (Foto: Kaskus)
Modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI dilakukan secara serius dan berkesinambungan guna menunjang kekuatan sistem pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karena itu, pemerintah selalu berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan TNI, khususnya TNI Angkatan Laut dalam menjaga perairan Indonesia.  

Seperti yang dinyatakan Kementerian Pertahanan pada Agustus lalu, bahwa pihaknya telah membeli sebanyak tiga kapal selam Chang bogo asal Korea Selatan. Pembelian telah resmi dilakukan Kementerian Pertahanan (Kemhan) melalui mekanisme transfer of technology (TOT) atau sistem alih teknologi.

Mengenai hal tersebut, Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin berharap Indonesia dapat membuat kapal selam sendiri setelah teknisi dari PT PAL belajar ke Korsel untuk membuat kapal selam. Wamenhan mengatakan ini itu saat berkunjung ke PT PAL, di Surabaya, Jawa Timur, Jumat, 28 Desember 2012.

Tujuan Wamenhan ke PT PAL,  dalam rangka meninjau kesiapan PT PAL untuk memproduksi alat utama sistem persenjataan (alutsista), di antaranya kapal selam, kapal tunda, kapal cepat rudal, kapal perusak kawal rudal dan tug boat.

"Saya melihat disini area persiapan untuk alih teknologi kapal selam. Dua kapal selam diproduksi bersama Korea Selatan. Satu unit kapal selam akan diproduksi di PT PAL di area khusus pembuatan kapal selam," ujar Sjafrie Sjamsoeddin, di sela-sela kunjungannya.

Dalam kesempatan itu, Sjafrie juga meminta PT PAL betul-betul serius dalam mengelola anggaran untuk kebutuhan modernisasi peralatan militer, khususnya untuk membangun infrastruktur kapal perang.

"PT PAL sudah bangkit dan secara khusus mendapat penyertaan modal. Tapi mereka harus menguatkan divisi kapal perang yang terkenal dengan teknologi tinggi," ujarnya.

Sebelumnya Korea Selatan juga pernah menerima kontrak untuk "perawatan berat" dua kapal selam Indonesia, yaitu KRI Cakra/401 dan KRI Nanggala/402 tepatnya di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Okpo, Korea Selatan. Kedua kapal selam ini masing-masing di "opname" di Korea Selatan selama 2 tahun, yaitu KRI Cakra/401 pada 2004 hingga 2006 dan adiknya KRI Nanggala/402 pada 2010 hingga awal 2012 lalu. -Motto KRI Cakra dan KRI Nanggala : "Tabah Sampai Akhir." Merinding dah...-

Penambahan 10 Kapal Selam

Wamenhan menegaskan, untuk rencana strategis jangka panjang, Indonesia akan membeli 10 kapal selam. Di tahap awal, Indonesia akan memiliki tiga kapal selam hasil kerjasama pembelian dari Korea Selatan. Dua dibuat di sana, kata dia, satu kapal selam dibuat murni anak negeri di PT PAL mulai 2016.

Namun, pihaknya paham bahwa untuk mewujudkan kekuatan pokok minimum (MEF), dibutuhkan dana yang besar dan harus dilakukan dengan perencanaan matang. Meski begitu, jika melihat cetak biru pemenuhan alutsista hingga 2024, maka hal itu hampir dipastikan terwujud.

Sjafrie menjelaskan, pada awal pemerintahan SBY, anggaran belanja alutsista per tahun masih Rp 500 miliar. Sekarang, dana yang digelontorkan pemerintah mencapai Rp 8 triliun. Selain untuk memasuk kebutuhan senjata operasional prajurit, langkah membeli produk senjata lokal juga untuk membantu memulihkan kejayaan industri pertahanan dalam negeri.

Pangkalan Kapal Selam di Palu Segera Beroperasi

Pangkalan kapal selam TNI AL di Teluk Palu, Sulawesi Tengah, yang saat ini tengah dalam proses penyelesaian pembangunan, kemungkinan akan segera dioperasikan. Kapal selam TNI AL yang selama ini bermarkas di Koarmatim kemungkinan sudah bisa singgah di Teluk Palu pada awal 2013.

Dari sisi pertahanan negara, keberadaan pangkalan tersebut sangat strategis untuk pengamanan wilayah NKRI terutama di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II Selat Makassar sampai ke perbatasan dengan negara tetangga Malaysia di Laut Sulawesi.

Pangkalan kapal selam diTeluk Palu tersebut berada di lahan seluas 13 ha dan nantinya akan diperkuat dengan pasukan pertahanan pangkalan dengan jumlah personel sebanyak satu peleton atau sekitar 24 orang.

Salah satu alasan pemilihan Teluk Palu karena teluk ini cukup strategis di nusantara. Teluk Palu memiliki lebar 10 kilometer dengan lingkar garis pantai sepanjang 68 kilometer. Kedalaman Teluk Palu mencapai 400 meter dan dinilai sangat strategis. "Perlindungan alam" terhadap arus laut yang ekstrim juga dinilai sangat memadai dan menguntungkan untuk dijadikan pangkalan kapal selam.

Sebagai gambaran, pada Perang Dunia II, Angkatan Laut Kerajaan Inggris pernah mengandalkan pangkalan kapal selam Scapa Flow di Kepulauan Orkney, Skotlandia. Walau sempat ditembus flotila* kapal selam U-boat Jerman namun eksistensi Scapa Flow tetap dipertahankan.
*Flotila adalah formasi dari beberapa kapal perang/selam kecil yang mungkin merupakan bagian dari armada/formasi kapal perang yang lebih besar

Sumber: Republika/Kompas/Antara

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 12/30/2012

Kinerja Kemhan 2012 dan Menatap Program Kerja 2013

Gedung Kementerian Pertahanan Indonesia

Tak lama lagi tahun 2012 akan berakhir, untuk itu Kementerian Pertahanan (Kemhan) melaksanakan Refleksi terhadap seluruh program kegiatan di beberapa bidang yang telah dilaksanakan dalam kurun waktu 2012 yang merupakan tahun ke tiga dari Rencana Strategis (Renstra) pertama dan proyeksi program kegiatan Kemhan untuk tahun 2013. Demikian yang disampaikan oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro,  di Kantor Kemhan, Jakarta, Kamis 27 Desember 2012.

Menhan mengatakan bahwa peningkatan kesejahteraan bagi Prajurit TNI dan PNS dilaksanakan secara bersinambungan sesuai kemampuan anggaran pemerintah. Untuk meningkatkan kesejahteraan Prajurit TNI dan PNS, Kemhan telah memberikan beberapa fasilitas, antara lain tunjangan kecacatan, pelayanan kesehatan, perumahan, dukungan Perlengkapan Perorangan Lapangan (Kaporlap), tunjangan kinerja serta bantuan beasiswa.

Kinerja Kemhan Tahun 2012

Sejalan dengan hal tersebut, di bidang kesehatan, Kemhan juga ikut berpartisipasi aktif dalam penanggulangan penyakit yang berdampak nasional melalui pemenuhan Alat Kesehatan Rumah Sakit (Alkes Rumkit) dan peningkatan kemampuan tenaga kesehatan dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan bagi Prajurit TNI/PNS dan keluarganya serta masyarakat.
Menyangkut bidang perumahan, dimana di tahun 2012 telah dibangun rumah bagi prajurit TNI dan PNS baik berupa Rusunawa (Rumah Susun Sederhana Sewa), Rusunami (Rumah Susun Sederhana Milik) maupun kepemilikan rumah umum dan khusus. Untuk rencana tahun 2013 mendatang akan dilakukan penataan rumah negara dan penyelesaian permasalahan tanah dan bangunan, serta penambahan pembangunan Rusunawa, Rusunami dan kepemilikan rumah umum dan khusus.

Sementara itu, di dalam pengelolaan sumber daya manusia (SDM) Kemhan/TNI tetap mengacu kepada pembangunan kekuatan pokok minimum (MEF) dengan melakukan Restrukturisasi berdasarkan kebijakan Zero Growth (pertumbuhan nol) maksudnya tidak ada penambahan personel secara signifikan, dimana antara rekrutmen personel dan yang pensiun seimbang dan melakukan kebijakan Right Sizing yaitu dapat menentukan kebutuhan personel secara tepat guna dengan melaksanakan penataan organisasi, penghitungan beban kerja dan standar kompetensi.

Adapun program kegiatan yang telah dilaksanakan di bidang sarana pertahanan dalam kurun tahun 2012 adalah program modernisasi alutsista (Alat Utama Sistem Senjata) TNI sesuai dengan Minimum Essential Forces (MEF) untuk kurun waktu 15 tahun. Tahun 2012 ini telah memasuki tahun ke tiga dari Renstra I dan diharapkan sampai dengan tahun 2014 pencapaian lebih dari 30 %.

Proyeksi Kemhan untuk 2013

Untuk proyeksi tahun 2013 program kerja sarana pertahanan akan tetap melanjutkan proses pengadaan dengan didukung pengembangan teknologi industri pertahanan, pemenuhan kelengkapan dokumen regulasi keuangan serta penyempurnaan Permenhan tentang pengadaan Alutsista. Disamping itu pengadaan alutsista juga mengutamakan produksi dalam rangka meningkatkan kemandirian industri pertahanan.

Pada tahun 2012 pelaksanaan kegiatan yang mengemuka berkaitan dengan analisis Strategi Pertahanan, konflik laut China Selatan, tata ruang wilayah pertahanan, pengawasan perbatasan dengan menggunakan Iptek, Implementasi Doktrin dan Implementasi Sishanta* (Sistem Pertahanan Rakyat Semesta) di Perbatasan.

Pengkajian terhadap Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pertahanan yang dilakukan antara lain kajian model Warhead (hulu ledak) kaliber 200 mm, penyempurnaan PTTA (Pesawat Terbang Tanpa Awak), Model Kapal Selam Tanpa Awak, Pengembangan MEF (Minimum Essential Force) dan pengembangan pesawat tempur KF-X/IF-X. Disamping itu juga dilaksanakan analisis terhadap alat peralatan pertahanan, berupa pembuatan prototype Rantis 5 Ton 6x6 peluncur roket kaliber 122 mm, Prototipe Munisi kaliber 105 mm Exercise, Prototipe Combat Boat, Prototipe roket jarak 100 km ground to ground (darat-ke-darat) dan Prototipe Smart Bomb.

Untuk proyeksi 2013 Balitbang Kemhan akan melaksanakan program pengkajian Strategi pertahanan, salah satunya strategi pencegahan dan penanggulangan Dampak Konflik Laut Cina Selatan terhadap Kedaulatan NKRI (ditinjau dari aspek ekonomi dan sosial budaya) serta melaksanakan sosialisasi pengintegrasian komponen negara dan pemberdayaan wilayah pertahanan.

Di bidang legislasi, Kemhan menyusun dan membahas RUU yang menjadi prioritas Prolegnas (Program Legislasi Nasional) tahun 2012 antara lain RUU Komcad, RUU Kamnas, dan RUU Rahasia Negara. RUU yang sudah disahkan menjadi Undang-Undang di Tahun 2012 adalah UU Nomor. 15 Tahun 2012 tentang Veteran RI dan UU. Nomor 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan.  Tahun 2013 target yang akan diselesaikan adalah RUU Rahasia Negara, RUU Kamnas, dan 38 Peraturan Menteri Pertahanan (Permenhan) termasuk Naskah Akademik dan draft RUU Bela Negara.

Jakarta International Defence Dialoque (JIDD) ke-2 2012 dan Indo Defence ke-5 2012 telah dilaksanakan dengan sukses. Kedua forum tersebut merupakan forum dialog dan pameran Alutsista pertahanan keamanan di kawasan Asia Pasifik yang saat ini telah diakui dan menjadi agenda dunia serta diselenggarakan setiap tahun. Untuk tahun 2013 forum tersebut akan lebih ditingkatkan secara kualitas. Selain itu juga di selenggarakan ASEAN Regional Forum Head of Defence Universities Colleges and institutions Meeting (ARF - HDUCIM) yang merupakan media pertukaran informasi dan pengalaman dalam pengembangan ilmu pertahanan.

Di bidang Potensi Pertahanan, Kemhan melanjutkan dan mengintensifkan kegiatan pembinaan kesadaran bela negara dengan melibatkan Kementerian lainnya, LPNK dan elemen masyarakat dalam memantapkan upaya Nation Character Building sumber daya manusia untuk kepentingan pertahanan negara. Tahun 2012 ini juga telah dicanangkan bahwa tanggal 19 Desember sebagai hari Bela Negara yang akan diperingati secara nasional setiap tahun.

Pembangunan dan pemberdayaan wilayah perbatasan juga merupakan perhatian yang sangat besar bagi Kemhan di tahun 2012. Hal tersebut tidak hanya berupa pembangunan secara fisik, tetapi juga non fisik seperti peningkatan pendidikan, kesehatan, kesejahteraan dan wawasan kebangsaan, termasuk juga peningkatan kesejahteraan bagi personel Kemhan/TNI yang bertugas di wilayah perbatasan seperti tunjangan khusus. Disamping itu dialog dan penyelesaian masalah wilayah perbatasan dengan negara-negara yang terkait juga terus dilaksanakan secara intensif. Di tahun 2013 kegiatan-kegiatan tersebut akan terus ditingkatkan.

Infromasi ini dikutip dari siaran pers Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan
Sumber: DMC
Foto: Swararesi.com

*Sishanta merupakan upaya pertahanan negara yang tidak hanya menempatkan TNI sebagai komponen utama, namun juga rakyat dan sumber daya nasional yang dimiliki sebagai komponen cadangan dan pendukung masih cukup aktual dan masih mampu memberikan detterent effect yang optimal dalam rangka membendung hakekat ancaman yang timbul dan dihadapi bangsa Indonesa.

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 12/30/2012

China Ingin AS Lucuti Senjata Warganya

Partai Komunis China menuntut Amerika Serikat agar segera melucuti senjata warganya. Menurut pejabat China, kejadia pembantaian di sekolah baru-baru ini memberikan pemahaman bagi pemerintah AS agar tidak menunggu lebih lama lagi. Para pemimpin negara di dunia ini yakin bahwa kebrutalan penembakan di Connecticut akan mendapatkan dukungan publik seluas-luasnya untuk kebijakan pengurangan senjata, seperti yang dilaporkan Infowars.com yang mengutip kantor berita China Xinhua.

Xinhua merupakan layanan pers pemerintah China. Organisasi ini bertanggung jawab untuk aktivitas Dewan Negara dan laporan dari Partai Propaganda China dan pelayanan informasi publik. Dengan kata lain, Xinhua merupakan corong para pemimpin China.

Bushmaster
Bushmaster, jenis senjata yang digunakan Adam Lanza saat tragedi di Connecticut
Dengan demikian, pemerintah China menganjurkan kepada Obama agar "menggunakan" targedi tersebut sebagai alasan untuk mempromosikan undang-undang tentang pengendalian senjata. Menurut pejabat China, sekarang adalah waktu yang terbaik untuk bertindak demikian, karena Obama baru saja terpilih untuk masa jabatan yang kedua.

Mereka juga mencatat bahwa meskipun penembakan serupa sebelumnya belum dianggap serius oleh pemerintah AS, namun tragedi yang terbaru dapat menjadikan dorongan kuat untuk merevisi lagi sistem peredaran senjata di AS.

Pada tanggal 14 Desember, Adam Lanza, 20 tahun, menembak 26 murid di Sekolah Sandy Hook di Newton, Connecticut. Dua puluh korbannya adalah anak berusia 6 sampai 10 tahun. Tragedi itu memicu pembahasan RUU pengurangan senjata.

Seolah tak ingin di intervensi oleh China, Brandon Darby, seorang informan informan dan aktivis FBI yang berbasis di AS menyindir China dengan mengatakan: "Pemerintah China telah menewaskan 40-70 juta orang selama Revolusi Mao Zedong. Mao sendiri mengatakan bahwa kekuasaan politiknya dimulai dari laras senjata."

Kredit foto: abcnews.go.com

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 12/30/2012

Rusia Tambah 30 Sukhoi Su-30 SM

Sukhoi Su-30SM

Kementerian Pertahanan Rusia dan pabrikan pesawat Irkut telah menandatangani kontrak untuk pengiriman tambahan 30 jet tempur multiguna Su-30SM kepada Angkatan Udara Rusia pada tahun 2016.

Kontrak pertama antara Departemen Pertahanan dan Irkut untuk pengiriman 30 Su-30SM ditandatangani pada bulan Maret lalu. Angkatan Udara Rusia sudah menerima dua jet tempur Su-30SM pertama pada 22 November lalu.

"Sejalan dengan kontrak baru, Irkut akan membangun 30 pesawat tambahan jenis ini untuk Departemen Pertahanan pada tahun 2016," kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan, Rabu, 19 Desember 2012.

Sukhoi Su-30SM

Su-30SM adalah varian terbaru dari keluarga jet tempur kursi ganda Su-30. Su-30 sendiri merupakan turunan dari si satu kursi Sukhoi Su-27 yang sudah lama melayani Angkatan Udara Rusia, salah satu pesawat tempur Rusia yang paling penting.

Su-30SM ini memiliki peningkatan kemampuan pada radar, komunikasi dan sistem identifikasi teman atau musuh, kursi ejeksi baru dan tentunya senjata baru. Su-30 juga memiliki nozel mesin thrust-vectoring dan canard foreplanes, memberikan pesawat ini super maneuverability bahkan di kecepatan yang sangat rendah.

Foto Sukhoi Su-30SM : Irkut/Sukhoi

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 12/30/2012

December 29, 2012

AS Berencana Jual Pesawat Mata-mata ke Korsel

Pesawat mata-mata tak berawak RQ-4 Global Hawk
Pesawat mata-mata tak berawak RQ-4 Global Hawk. Foto:USAF
Badan Kerjasama Keamanan Pertahanan (DSCA) Amerika Serikat yang berafiliasi dengan Pentagon, menotifikasi Kongres untuk penjualan pesawat tak berawak Global Hawk senilai $1,2 miliar beserta pelatihan dan dukungan logistik kepada Korea Selatan, Senin,  24 Desember 2012. Notifikasi DSCA kepada Kongres adalah wajib bagi setiap penjualan peralatan militer ke luar negeri atau FMS (Foreign Military Sales).

Penjualan ini terdiri dari 4 unit pesawat RQ-4 Block 30 Global Hawk yang dilengkapi remote-control jarak jauh dengan Enhanced Integrated Sensor Suites (EISS), peralatan terkait, suku cadang, pelatihan dan dukungan logistik.

Rencana penjualan ini merupakan usaha untuk memperkuat kemampuan Seoul mempertahankan diri dari ancaman militer Korea Utara. AS tampaknya enggan untuk menjualnya kepada Korea Selatan, namun mengingat Washington telah memotong anggaran pertahanan (akibat krisis) dan Korea Selatan adalah adalah sekutu dekat AS di Asia, para analis memperkirakan AS akan menyetujuinya.

"Republik Korea Selatan membutuhkan pesawat intelijen berkemampuan pengintaian untuk memikul tanggung jawab utama mengumpulkan bahan intelijen dari Komando Pasukan Gabungan pimpinan Amerika Serikat pada tahun 2015," kata DSCA dalam sebuah siaran pers.

Hal itu mengacu pada langkah Seoul untuk mengambil alih kendali operasional masa perang pasukannya dari Washington. Militer Korea Selatan telah lama berusaha untuk memperkenalkan kendaraan udara tak berawak Global Hawk yang dibuat oleh Northrop Grumman yang berbasis di Virginia.

Para kritikus mempertanyakan kemampuan Block 30 Global Hawk itu dibandingkan dengan harganya. Mereka mengatakan versi Block 30 Global Hawk kurang mampu seperti halnya pesawat tua Lockheed Martin, pesawat mata-mata U-2 yang berawak.

Angkatan Udara AS berharap untuk membeli lebih pesawat Blok 40 yang lebih maju untuk menggantikan Blok 30 sekarang ini, demikian laporan Kantor Berita Korea Selatan, Yonhap.

Sekilas Tentang RQ-4 Global Hawk

Nama lengkapnya adalah Northrop Grumman RQ-4 Global Hawk (dikenal juga sebagai Tier II saat pengembangan) adalah pesawat udara tak berawak (UAV) yang digunakan oleh Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS, NASA dan Angkatan Udara Jerman. Dikembangkan oleh perusahaan AS Teledyne Ryan Aeronautical , anak perusahaan Northrop Grumman.

Global Hawk dilengkapi radar tembus-awan, kamera digital elektro-optik resolusi tinggi dan sensor inframerah, yang memungkinkan untuk mendeteksi benda kecil sepanjang 30 cm saat terbang pada ketinggian 20 kilometer. UAV ini mampu berpatroli selama 36 jam pada ketinggian 19 kilometer.

UAV ini pertama terbang pada tanggal 28 Februari 1998 dari pangkalan udara Angkatan Udara AS di California. Global Hawk pertama dikirimkan ke Angkatan Laut Amerika Serikat pada 2004 dan memulai misi tempur pada Maret 2006.

Karakterisik dan Spesifikasi RQ-4 Global Hawk

Karakteristik Umum
Kru
0
Rentang Sayap
44 kaki 5 inci (13,54 m)
Tinggi
15 kaki 2 inci (4,62 m)
Berat kosong
3.851 kg
Berat total
10.387 kg
Mesin
1 × Allison Rolls-Royce AE3007H turbofan , 7,050 lbf (31.4 kN) thrust
Performa
Kecepatan Maksimum
497,1 mil/jam (800 km/jam)
Kecepatan jelajah
404 mil/jam (650 km/jam)
Jarak tempuh
24.985 km
Daya tahan di udara
36 jam
Service ceiling
19.812 m

Sumber : Antara / Wikipedia

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 12/29/2012

Wamenhan Tinjau Produksi Kapal Perang di PT PAL

Wamenhan tinjau PT PAL
Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin selaku Ketua High Level Committee (HLC) melakukan kunjungan kerja ke PT PAL (Persero), di Surabaya, Jumat, 28 Desember 2012. Kunjungan ini dalam rangka meninjau perkembangan proses pembuatan sejumlah kapal perang pesanan TNI AL yang merupakan bagian dari program modernisasi Alutsista TNI.

Selaku Ketua HLC, Wamenhan mengatakan, kunjungannya ini dalam rangka mengawasi dan mengendalikan modernisasi peralatan militer yang dibebankan kepada PT PAL sebagai tindak lanjut dari keinginan pemerintah untuk modernisasi Alusista TNI.

Dalam kunjungannya, Wamenhan secara langsung meninjau proses pembuatan tiga unit Kapal Cepat Rudal (KCR) 60 m dan dua unit Tug Boat 2400 pesanan TNI AL. Selain itu Wamenhan juga meninjau kesiapan infrastruktur pembangunan Kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) dan kesiapan produksi kapal selam III di PT PAL. Kunjungan Wamenhan dan rombongan ini diterima langsung oleh Direktur Produksi PT. PAL Indonesia (Persero) Edy Widarto beserta sejumlah pejabat jajaran di PT PAL.

Menurut Wamenhan, secara keseluruhan PT PAL sudah bangkit dengan aktifitas yang cukup padat, tetapi Wamenhan yang juga selaku Sekretaris KKIP menginginkan agar PT PAL betul- betul serius dan telaten dalam mengelola alokasi anggaran yang dikucurkan dalam rangka memperkuat infrastruktur divisi kapal perang.

"Secara khusus saya meminta perhatian divisi kapal perang perlu mendapat perhatian, karena penyertaan modal dari negara itu ditujukan untuk memperkuat infrastruktur divisi kapal perang", ujar Wamenhan.

Lebih lanjut Wamenhan meminta perhatian kepada PT PAL untuk melakukan terobosan dan akselerasi. Hal ini sangat penting, agar kepercayaan pemerintah mengalokasikan anggaran untuk memenuhi kebutuhan Alusista TNI itu jangan sampai turun.

Dari kunjungannya tersebut, Wamenhan mengungkapkan ada proses produksi yang akan terlambat. Hal ini disebabkan karena perencanaan produksi dari manajemen lama PT PAL yang tidak cermat yang mengakibatkan terganggunya produksi secara teknis.
"Saya minta segera, supaya target modernisasi tahun 2014 tidak keluar dari target delivery time"
Untuk itu, Wamenhan meminta agar jajaran PT PAL  mengkoreksi dalam perencanaan produksi. Row material harus direncanakan lebih awal, jangan sampai row material yang tidak bisa dipergunakan justru digunakan. Akibatnya row material yang akan dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan menjadi tidak sesuai dengan kualitas dan spesifikasi yang diinginkan.

Ini tentunya harus diadakan perubahan, pada saat dirubah berarti waktu produksi sudah berubah sehingga target pengiriman pasti akan bergeser. "Saya minta segera, supaya target modernisasi tahun 2014 tidak keluar dari target delivery time," pesan Wamenhan.

Disisi lain, pengguna dalam hal ini TNI juga memerlukan penggunaan Alutsista itu tepat waktu, karena ini menyangkut soal kebutuhan opersional yang akan berakibat kepada menurunnya kemampuan pertahanan negara yang dilaksanakan oleh TNI. "Secara psikologis kepercayaan pengguna kepada industri dalam negeri juga menurun", tambah Wamenhan.

Menurut Wamenhan, koreksi disampaikan agar supaya kepercayaan pemerintah kepada produsen dalam negeri betul-betul bisa dipertanggungjawabkan dalam bentuk produksi yang valid.

Wamenhan mengungkapkan bahwa pemerintah telah memberikan perhatian yang cukup besar dalam modernisasi peralatan militer yang menggunakan produksi dalam negeri. Dari tahun ke tahun mulai 2005 s.d 2012 itu mulai kurang dari Rp 500 miliar awal kabinet pertama sampai akhir tahun 2012 pemerintah sudah mengalokasikan hampir Rp 8 triliun. Oleh Karena itu, pemerintah ingin simpul produksi dalam negeri khususnya milik negara serius mempersiapkan kapasitas produksinya.

Dalam kaitan ini, Wamenhan selaku pengendali dan pengawas program modernisasi Alutsista TNI juga meminta perhatian dan bantuan publik dan masyarakat untuk ikut memonitor sejauh mana industri pertahanan dalam negari efektif dan produktif di dalam memenuhi keinginan pemerintah. Sebab, keinginan pemerintah itu juga merupakan keinginan rakyat.

Sementara itu kepada pengguna dalam hal ini TNI, juga diharapkan supaya tidak selalu mengadakan revisi pada saat sudah diputuskan kontrak. Karena pada saat terjadi revisi disitulah akan berpengaruh kepada jadwal pengiriman.

Turut mendampingi Wamenhan dalam kunjungan tersebut antara lain Irjen Kemhan Laksdya TNI Sumartono, Dirjen Renhan Kemhan Marsda TNI Sunaryo, Dirjen Pothan Kemhan Dr. Ir. Pos M. Hutabarat, Kabaranahan Kemhan Mayjen TNI Ediwan Prabowo dan sejumlah pejabat di lingkungan Kemhan.

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 12/29/2012

Indonesia Kembangkan Roket dengan Jangkauan 900 km

Uji coba roket R Han 122 di Baturaja, Sumatera Selatan
Uji coba roket R Han 122 di Baturaja, Sumatera Selatan, Maret 2012. Foto: Kemhan
Untuk memperkuat alutsita dan pertahanan negara, Indonesia akan meningkatkan kemampuan produksi roketnya sendiri. Pada tahun 2013 nanti, Indonesia akan meluncurkan roket dengan jangkauan 100 km hingga 900 km. Demikian yang disampaikan Asisten Deputi Menristek Bidang Produktivitas Riset Iptek Strategis, Goenawan Wybiesana, dalam Evaluasi Akhir Tahun di Jakarta, Kamis, 27 Desember 2012.

"Tahun depan kita akan mulai menguji statis maupun uji dinamis roket berdaya jangkau tiga digit (3 digit dalam ukuran kilometer - Artileri)," kata Goenawan.

Menurut Goenawan, untuk tahap awal lebih dulu dikembangkan 10-20 unit roket balistik kaliber 350 mm yang memiliki jangkauan 100 km. Selanjutnya akan dibuat roket balistik kaliber berikutnya (lebih besar), disusul roket kendali.

"Teknologi roket dibangun dari empat kemampuan yakni teknologi material, teknologi sistem kontrol, teknologi eksplosif dan propulsi serta teknologi mekatronik yang seluruhnya sudah dikuasai," ujar Goenawan.

Soal pendanaan proyek pengembangan roket tersebut, Kemristek yang merupakan bagian dari konsorsium roket akan menggelontorkan dana sebesar Rp10 miliar - Rp 15 miliar pada tahun depan. Selain Kemristek sendiri, anggota-anggota konsorsium roket adalah PT Pindad, PT DI, Lapan, PT Dahana, BPPT, LIPI, ITB, UGM, ITS, dan lainnya.

Sejak tahun 2005, Indonesia telah memulai Program Roket Nasional dengan mensinergikan berbagai lembaga terkait, dilanjutkan pembuatan desain awal dan uji prototipe serta pengembangan desain pada 2010.

Goenawan menjelaskan, pada 2011 konsorsium roket ini telah meluncurkan freeze prototype 1 (prototipe jadi) yang dibeli Kemhan lalu dinamai R Han 122 (Roket Pertahanan) untuk diproduksi secara massal melalui program 1.000 roket yang ditargetkan tercapai pada 2014.
 
Roket R Han 122 merupakan derivasi roket eksperimen rancangan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), D230 tipe Rx 1210. R Han 122 awalnya berkaliber 122 mm dengan jangkauan 15 km, namun pada tahun yang sama (2011), jangkauannya ditingkatkan menjadi menjadi 25 km dan pada 2012 kaliber R Han ditingkatkan menjadi 200 mm dengan dengan jangkauan 35 km. Saat di uji coba di Baturaja, Sumatera Selatan pada Maret lalu dengan menembakkan 50 roket R-Han, rata-rata kecepatannya di kisaran 1,8 mach atau 2.205 km/jam.

Lapan telah sejak lama menguasai teknologi roket untuk kepentingan riset peluncuran satelit, bahkan sebelum diluncurkannya Program Roket Nasional untuk kepentingan pertahanan negara pada 2005. Saat ini teknologi roket hanya dikuasai negara tertentu. Untuk kawasan Asia negara yang terbilang maju dalam teknologi ini antara lain China, India, Korea Selatan, dan Korea Utara.

Sumber: ANTARA

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 12/29/2012

 
Design by WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost

TechnologyTechnology BlogsTechnology blogsTop  blogsMy Zimbio
Bloggers - Meet Millions of Bloggers