;

September 20, 2012

Kapal Selam Serang Terbaru Inggris "Ambush" Uji Coba Laut

Kelas Astute

Ambush, kapal selam serang kedua Angkatan Laut Kerajaan Inggris (Royal Navy) kelas Astute, saat ini telah meninggalkan "tempat kelahirannya" untuk memulai uji coba laut.

Kapal selam yang berbobot 7.400 ton tersebut meninggalkan galangan kapal BAE Systems di Barrow-in-Furness di Cumbria, dimana disitu tempatnya dibangun dan akan berlayar ke Pangkalan Angkatan Laut Clyde di Skotlandia.

Tujuh kapal selam serang kelas Astute direncanakan untuk Royal Navy, merupakan kapal selam serang yang paling kuat dan canggih yang pernah dikirim Inggris ke laut. Memiliki fitur teknologi tenaga nuklir, yang berarti kapal selam ini tidak perlu mengisi bahan bakar untuk mengarungi dunia dalam jangka waktu yang lama dan sistem produksi oksigen untuk kru dari air laut di saat mereka menyelam lama.

Menteri untuk Pertahanan Peralatan, Dukungan dan Teknologi Philip Dunne berkata setelah melihat kapal selam (tur di galangan kapal) dan bertemu dengan tenaga kerjanya:

"Ini adalah kunjungan pertama saya ke salah satu industri pertahanan yang paling canggih di Inggris, dan saya sangat terkesan dengan apa yang saya lihat di Barrow-in-Furness. Ambush adalah kapal selam yang sangat kuat dan canggih dan saya berharap kepergiannya dari galangan kapal di sini untuk uji coba laut akan menjadikan dirinya siap untuk masuk ke dalam rencana layanan dengan Angkatan Laut Kerajaan tahun depan."

Kelas Astute
Kelas Astute

"Ambush dan adiknya adalah kapal selam serang yang paling kuat dan canggih yang memperkuat Royal Navy, mereka sangat dibutuhkan oleh armada dan mereka akan memainkan peran penting dalam pertahanan Inggris di masa depan."

"Selesainya Ambush merupakan penghargaan untuk kerja keras dan komitmen dari ribuan orang karyawan yang bekerja di dunia industri kapal selam di negara ini." Kapal selam serang kelas Astute lebih "silent" dibandingkan dengan kapal-kapal selam sebelumnya dan memiliki kemampuan untuk beroperasi secara tersembunyi dan tidak terdeteksi di hampir semua situasi meskipun tubuhnya 50 persen lebih besar dari kapal selam kelas Trafalgar yang digunakan Royal Navy saat ini.

Komandan Ambush, Peter Green, mengatakan:

"Kami memberikan penghargaan penuh kepada semua orang yang bekerja untuk membuat kapal selam ini. Para kru sudah tidak sabar untuk segera uji coba laut dan mengoperasikannya dalam layanan Royal Navy."

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 9/20/2012

September 19, 2012

PT DIselesaikan CN-235 Kedelapan Pesanan Turki

CN-235
CN-235
Tingkat kepercayaan dunia internasional kepada PT Dirgantara Indonesia (DI) cukup tinggi. Itu terlihat pada jalinan kontrak antara lembaga BUMN yang dulunya bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) dan berbagai negara, baik Asia maupun Eropa. Satu di antaranya, adalah Turki.

Kepala Tim Komunikasi PT DI, Sonny Saleh Ibrahim, mengemukakan, sejak 6 tahun silam, pihaknya mengadakan kesepakatan dengan Turki untuk mengerjakan 10 unit CN-235. Pemesanan itu merupakan modifikasi. "Turki memfungsikan CN-235 tersebut menjadi pesawat Maritim Patrol," ujar Sonny di PT DI, Selasa, 18 September.
"Nilai kontrak dengan Turki itu tergolong besar. Angka kontrak engineer-nya mencapai 2 juta dolar AS per tahun"
Dalam perkembangan pembuatan pemesanan Turki itu, kini, pihaknya siap melakukan flight test (uji coba) pesawat ke-8. Sonny mengatakan, pihaknya optimistis, dalam dua tahun mendatang, pihaknya siap menuntaskan proyek pemesanan Turki tersebut mengingat kontraknya berdurasi 8 tahun atau hingga 2014.

"Nilai kontrak dengan Turki itu tergolong besar. Angka kontrak engineer-nya mencapai 2 juta dolar AS per tahun. Jadi, selama 8 tahun kontrak, nilainya sejumlah 16 juta dolar AS (sekitar Rp 151 miliar)," sebut Sonny.

Beberapa Negara Jadi Bidikan PT DI

Kepala Tim Komunikasi PT Dirgantara Indonesia (DI), Sonny Saleh Ibrahim, mengatakan, pada 2013 pihaknya memproyeksikan terjalinnya sejumlah kerjasama dalam bentuk proyek pembuatan pesawat, dengan berbagai negara. Pihaknya memproyeksikan nilai kerjasama pada 2013 mencapai Rp 2,5 triliun.

"Saat ini, masih dalam tahap penjajakan. Itu kami lakukan dengan beberapa negara. Misalnya, Thailand, Brunei Darussalam, Filipina, dan Botswana," ujar Sonny di PT DI, Selasa, 18 September.

Proyek yang siap dikerjakan PT DI pada periode 2013-2014, ujar dia, antara lain, 11 unit pesawat untuk skuadron perang, 8 unit pesawat serbu, 3 unit helikopter Bell. "Juga, 4 unit CN 235, dan 2 unit NC 212," ujar pria yang tengah berbusana batik tersebut.

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 9/19/2012

Iran Lakukan Terobosan Besar dalam Teknologi Rudal

Pejabat Kementerian Pertahanan Iran mengumumkan pada 9 September lalu bahwa mereka segera akan meluncurkan sebuah rudal jelajah canggih. Rudal ini dianggap sebagai sebuah kemajuan besar dalam kemampuan rudal Iran. Daya jelajahnya beberapa kali lipat lebih jauh daripada produk rudal jelajah dari negara yang paling maju saat ini.

"Insya Allah, Rudal Jelajah Meshkat (Lantern) yang memiliki jangkauan 2.000km akan diresmikan dalam waktu dekat," kata Deputi Menteri Pertahanan Mehdi Farahi kepada FNA. "Rudal Jelajah Meshkat dapat ditembakkan dari darat, udara dan laut," tambah Farahi.

Rudal Meshkat
Rudal Meshkat

Farahi juga mengungkapkan pengembangan berbagai macam rudal jelajah yang dikembangkan Iran, antara lain rudal Zapar, Nasr, Nur, Qader dan Ghadir.

Dia menambahkan bahwa negara itu berencana untuk menambah jumlah koleksi rudal jelajahnya menjadi 14. Ra'd dan Meshkat merupakan produk terbaru dari industri rudal jelajah Iran.

Tidak seperti rudal-rudal jelajah Iran sebelumnya, rudal jelajah terbaik sebelumnya hanya memiliki jangkauan tidak lebih dari 300km. Ini berarti bahwa negara tersebut telah meningkatkan jangkauan rudal jelajahnya hingga 7 kali lipat.

Produksi senjata Iran sangat maju pesat, khususnya di bidang teknologi rudal, dalam dekade terakhir. Pada awal September lalu, Iran menampilkan rudal jelajah produksi terbarunya yaitu rudal Qader ke mata publik selama parade militer yang menandai hari Minggu Pertahanan Suci.

Pada akhir tahun lalu, Departemen Pertahanan Iran memasok sejumlah besar rudal jelajah Qader anti-kapal ke Angkatan Darat Iran dan Angkatan Laut IRGC untuk meningkatkan kekuatan Angkatan Laut negara itu.
"Sistem rudal ultra-advanced telah ditingkatkan dalam hal radar, satelit, presisi, jangkauan dan navigasi dibandingkan dengan rudal-rudal pendahulunya"
Menteri Pertahanan Iran pada waktu itu mengatakan bahwa rudal jelajah Qader anti-kapal memiliki jangkauan 200km dengan waktu peluncuran singkat dan mampu memukul semua kapal angkatan laut, termasuk kapal perang dan frigat, serta target musuh di darat.

Kemudian, pada bulan Januari 2012, Angkatan Laut Iran menembakkan sejumlah besar rudal jelajah Qader anti-kapal dalam serangkaian latihan tempur dengan sandi Velayat 90, di perairan internasional di laut Oman dan Samudera Hindia.

Penembakan yang sukses dari rudal-rudal tersebut merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa dari para ilmuwan Iran.

Setelah latihan, Wakil Komandan Angkatan Laut Iran Seyed MAhmoud Mousavi mengatakan kepada media bahwa rudal-rudal tersebut menghantam target yang ditentukan dengan presisi 100 persen dan menghancurkan mereka sepenuhnya.

Dia mengatakan bahwa sistem rudal ultra-advanced telah ditingkatkan dalam hal radar, satelit, presisi, jangkauan dan navigasi dibandingkan dengan rudal-rudal pendahulunya.

[FARS]

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 9/19/2012

Indonesia Butuh Lebih Banyak Kapal Cepat Rudal

Indonesia membutuhkan banyak kapal cepat rudal (KCR) untuk mengimbangi wilayah laut yang begitu luas dan daratan yang tersebar. Keberadaan KCR dinilai mampu mempermudah TNI maupun para pengelola keamanan di laut untuk mengamankan wilayah maritim Indonesia. "Kita butuh banyak sekali kapal-kapal cepat seperti KRI Klewang," kata Kepala Staf TNI AL (Kasal) Laksamana TNI Soeparno, di Jakarta, Minggu, 16 September.

KRI Klewang, tambah dia, merupakan KCR buatan asli Indonesia yang memiliki bentuk unik. Kapal ini juga banyak dipuji sebagai kapal siluman yang memiliki kecepatan tinggi dan mampu menembus ombak besar karena memiliki tiga lambung. Tak heran jika biaya pembuatan satu pesawat ini mencapai 114 miliar rupiah.

KRI Klewang
KRI Klewang

Menurut dia, produk buatan PT Lundin Industry Invest ini juga merupakan kapal yang berpeluru kendali dan berguna untuk menjaga perbatasan dan potensi laut di Indonesia. Saat ini TNI baru membeli satu KRI Klewang untuk ditempatkan di Armada RI Kawasan Timur.

Meski demikian, Soeparno menuturkan, pengadaan kapal KCR akan terus dilakukan sehingga jumlahnya lebih banyak lagi. Selain KRI Klewang, TNI AL juga mendapat tambahan beberapa unit KCR, yakni KRI Celurit dan KRI Kujang. Total KCR yang saat ini dimiliki TNI AL tak lebih dari 10 unit yang masing-masing berukuran 40 meter.

Idealnya 35 Unit Kapal Cepat Rudal

Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksma Untung Suropati mengatakan, idealnya Indonesia membutuhkan 35 unit KCR. "Perairan Indonesia cocok untuk pengoperasian KCR, terutama di wilayah barat karena cukup dangkal," jelasnya. Guna mendukung penambahan KCR, Kementerian Pertahanan telah bekerja sama dengan China untuk produksi peluru kendali (rudal) C-705.

Nantinya seluruh KRI akan dilengkapi dengan rudal berkemampuan jelajah hingga 140 kilometer itu. TNI AL sudah dua kali melakukan uji coba rudal ini. Hasilnya cukup memuaskan untuk dipilih sebagai senjata kapal KCR. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, dengan produksi sendiri rudal, kemampuan persenjataan akan meningkat cukup signifikan.

Rudal C-705
Rudal C-705

"Kalau bisa produksi dalam negeri. Kami akan memasang rudal-rudal itu di daerah perbatasan untuk pengamanan," ujarnya. KCR ini berbahan dasar komposit serat karbon yang tercatat lebih ringan, dan 20 kali lebih kuat dari baja ini memiliki panjang keseluruhan (length overall) 62,53 meter, length on waterline 60,7 meter, water draft 1,17 meter, beam overall 16 meter, bobot mati 53,1 ton.

Kapal ini digerakkan oleh 4 unit mesin penggerak pokok ini, didesain sebagai kapal siluman (stealth) canggih yang dapat melaju dengan kecepatan tinggi. Kehebatan kapal ini mampu menembus ombak setinggi 6 meter.

Pada acara peluncuran tersebut, Wakil Asisten Logistik Kasal, Laksma TNI Sayid Anwar menyatakan, bahwa momentum peluncuran kapal perang KCR pertama X3K Trimaran Class ini diharapkan akan menjadi titik awal pembangunan kapal sejenis yang akan mampu meningkatkan kemampuan TNI AL, sehingga menjadi salah satu kekuatan yang disegani. "Selain itu, juga diharapkan dapat meningkatkan kemampuan industri militer dalam negeri," tambahnya.

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 9/19/2012

2014: Alutsista TNI Capai 40% Kekuatan Pokok Minimum

Kekuatan alat utama sistem senjata (Alutsista) TNI-AU hingga semester I 2014 diyakini akan mencapai 40% dari kekuatan pokok minimum (minimum essential force/MEF) .

"Hadirnya pesawat tempur F-16, pesawat angkut dan pesawat tempur lainnya akan mempercepat dan menambah prosentasi kekuatan pertahanan kita, khususnya TNI-AU," kata Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro di acara penyerahan 4 pesawat Super Tucano EMB-314 dari Embraer Brasil kepada Kementerian Pertahanan, di Pangkalan Udara (Lanud) Abdulrahman Saleh, Malang, Jawa Timur, Senin, 17 September.

F-16A block 15 TNI AU
F-16A block 15 TNI AU

Terlebih, lanjut dia, TNI-AU telah menerima 4 unit pesawat tempur taktis Super Tucano. Diharapkan pada 2014 nanti 14 jenis alutsista akan menambah kekuatan TNI AU, seperti pesawat tempur, pesawat angkut, helikopter, pesawat latih, pesawat intai, dan pesawat tempur lainnya.

"Saat ini TNI-AU telah menerima empat unit pesawat Super Tucano. Pada Januari 2013 akan datang kembali empat unit. Diharapkan pada akhir 2013 atau awal 2014 akan tiba delapan unit lagi, sehingga tercapai satu skuadron atau 16 unit," katanya.
"Hingga 2014, diperkirakan ada sekitar 45 alutsista bergerak, baik untuk TNI-AU, TNI-AL, maupun TNI-AD"
Pesawat tempur itu akan menggantikan pesawat OV-10 Bronco yang tidak digunakan lagi sejak 2007. Pesawat ini akan ditempatkan di Skadron Udara 21 Lanud Abdulrahman Saleh, Malang.

Menurut dia, hingga 2014 mendatang pada akhir masa kabinet ini, diperkirakan ada sekitar 45 alutsista bergerak, baik untuk TNI-AU, TNI-AL, maupun TNI-AD. "Sebanyak 45 alutsista bergerak ini termasuk pesawat tempur maupun angkut, yang tiba di Indonesia," ujarnya.

Pesawat Super Tucano merupakan pesawat tempur taktis yang berfungsi sebagai pesawat latih berkemampuan counter insurgency atau pesawat serang antigerilya, sebagai pesawat kontrol udara dan juga dapat digunakan sebagai pesawat intai.

Keunggulan pesawat EMB-314 Super Tucano mampu membawa amunisi minimal 1,5 ton yang memiliki mesin tunggal Turboprop Pratt dan Whitney PT6A-68C berdaya 1600 tenaga kuda dan memiliki berat maksimum 5,4 ton dengan menggunakan bahan bakar avtur.

Sebelumnya, empat unit pesawat Super Tucano EMB-314/A-29 tiba di Bandara Abdulrahman Saleh, Malang, pada Minggu, 2 September. Pesawat yang diawaki pilot dan teknisi Embraer itu tiba setelah sebelumnya menempuh perjalanan dua pekan, dengan melintasi wilayah udara, yakni Spanyol, Maroko, Italia, Yunani, Mesir, Qatar, Oman, India, Thailand dan mendarat di Lanud Soewondo, Medan, Sumut, yang kemudian dilanjutkan ke Lanud Halim Perdanakusuma.

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 9/19/2012

Wamenhan Kunjungi Jerman Negoisasi Pengadaan Alutsista

Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, mengadakan kunjungan kerja ke Jerman, Perancis dan Spanyol  dari Tanggal 17 sampai dengan 24 September 2012. Dalam kunjungan kerja tersebut, Wamenhan yang sebagai Ketua High Level Committee (HLC) Kemhan ini juga didampingi Dirjen Perencanaan Pertahanan Kemhan Marsda TNI Sunaryo, Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan Mayjen TNI Ediwan Prabowo, Aslog Kasad Mayjen TNI Joko Sriwidodo, Aslog Kasau Marsda TNI JFP Sitompul. 

Kunjungan Wamenhan di Jerman, Wamenhan dijadwalkan bertemu dengan CEO Rheinmetall, CEO Grob, dan CEO Luersen. Turut serta dalam kunjungan kerja tersebut Deputi Menteri Negara PPN/Ka Bappenas Bid. Polhukhankam Ir. Rizky Ferianto MA, dan Dirut PT. Dirgantara Indonesia Budi Santoso.

Tank Leopard 2 Jerman
Tank Leopard 2 Jerman

Kunjungan ini dimaksudkan untuk melaksanakan negosiasi dalam proses pembelian atau pengadaan Alutsista TNI sesuai dengan Rencana Strategis tahun 2010 -2014.

Mengenai kunjungan Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin dan tim HLC ke Jerman, Kanselir Jerman Angela Merkel menyatakan memberikan dukungan kepada Indonesia dalam pembelian Alutsista Jerman. Pernyataan tersebut dimuat di  beberapa media Jerman menanggapi kunjungan Wamenhan bersama tim HLC ke Jerman.
"Tidak ada negara yang bisa mendikte Jerman dalam penjualan alutsistanya, baik itu penjualan ke Indonesia"
Kanselir Jerman memberikan tiga alasan dukungan terhadap Indonesia dalam pembelian Alutsista Jerman tersebut yaitu:
  • Indonesia bukanlah negara yang memiliki banyak hutang
  • Pertumbuhan ekonomi Indonesia terus meningkat
  • Indonesia bukan merupakan negara pelanggar HAM.
Kanselir Jerman Angela Merkel juga menegaskan bahwa tidak ada negara lain yang bisa mendikte Jerman dalam penjualan Alutsistanya.

Dalam kunjungannya ke Spanyol, Wamenhan direncanakan akan mengunjungi Kementerian Pertahanan Spanyol dan bertemu dengan Menhan Spanyol D. Pedro Morenes Eulate, serta melaksanakan pertemuan dengan State Secretary Bidang Industri Pertahanan Spanyol.

[DMC]

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 9/19/2012

Studi: Angkatan Udara AS Belum Siap Serang China dan Korea Utara

Bendera Amerika Serikat dan China

Menurut sebuah studi oleh American Enterprise Institute yang berbasis di Washington, Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) tidak memiliki jet tempur siluman yang cukup untuk melancarkan serangan dahsyat gelombang pertama dan belum efektif untuk melancarkan kampanye udara guna menyerang China dan Korea Utara.

Jet Tempur Siluman F-22 dan Bomber B-2 merupakan satu-satunya pesawat yang dianggap mampu menembus sistem pertahanan udara canggih China atau melakukan operasi udara melawan Korea Utara. Bomber B-2 sudah tidak diproduksi lagi selama lebih dari satu dekade dan jumlahnya sedikit, ini berarti kerugian bagi AS.

Penelitian ini merekomendasikan bahwa pemerintah AS harus melakukan investasi besar ke dalam program jet tempur siluman F-35 Joint Strike Fighter (JSF), kapal tanker KC-46, pesawat bomber generasi berikutnya, modernisasi F-22 Raptor dan pengembangan lebih lanjut dari kapal induk.

Juru bicara USAF, Ann Stefaniak mengatakan bahwa dengan pergeseran strategis DoD untuk fokus pada kawasan Asia-Pasifik, sambil terus fokus pada Timur Tengah dan beradaptasi dengan postur strategis yang terus berkembang di Eropa, Angkatan Udara AS menekankan betapa pentingnya meningkatkan proyeksi kekuatan global dan sikap yang benar untuk masa depan dengan cara meningkatkan kemampuan untuk menjadi yang terbaik, fleksibel dan siap untuk terlibat dalam berbagai macam kontinjensi dan ancaman.

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 9/19/2012

Embraer Siap Transfer Teknologi Super Tucano ke Indonesia

Pemerintah Brasil membuka kesempatan lebih luas untuk kerja sama pengadaan pesawat militer aneka jenis dari Empresa Braziliera de Aeronautica (Embraer) pascapenjualan Super Tucano ke Indonesia.

Sayangnya, dalam pengadaan Super Tucano yang sudah berjalan, alih teknologi (ToT) yang didapat Indonesia minim. Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan, setiap pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) harus disertai alih teknologi. Namun dalam pengadaan Super Tucano ini, alih teknologi yang didapat tidak sampai dalam tahap teknologi pembuatan. Menurut dia,minimal harus beli 32 unit agar Indonesia bisa mendapat ToT hingga proses produksi bersama. 

Super Tucano
Pesawat Super Tucano

”Kalau minimal 32 unit, beberapa pesawat bisa diproduksi di Indonesia. Tapi karena baru delapan, ToT untuk PT Dirgantara Indonesia (DI) baru bisa ground support,” terangnya seusai serah terima pesawat dari Pemerintah Brasil kepada Indonesia di Skuadron Udara 21 Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Malang. Seperti diketahui, TNI AU membeli delapan pesawat Super Tucano dengan nilai USD141,99 juta. Pihak Embraer Brasil selaku produsen baru mengirimkan empat pesawat.

Direncanakan empat pesawat lagi akan dikirim pada 2013. KSAU menuturkan, memang diharapkan PT DI bisa turut serta dalam pembuatan pesawat yang cocok untuk counter insurgency (antigerilya) sehingga suatu saat Indonesia bisa memproduksi pesawat jenis ini. Namun, dengan jumlah pembelian yang sedikit tersebut, jika dipaksakan dilakukan produksi bersama justru membuat anggaran membengkak. ”Kita sudah lima tahun off, skuadron tidak terbang (pascagrounded OV-10 Bronco pada 2007). Jadi kita harus cepat (pengadaannya),”terangnya.
"Indonesia bisa melakukan alih teknologi Super Tucano minimal lima hingga tujuh tahun ke depan"
Adapun untuk persenjataan, lanjut KSAU, hanya sebagian yang tidak dibeli dari luar negeri seperti PDU, bom MK82, dan roket FFAR karena industri dalam negeri sudah bisa memproduksi. Selebihnya harus membeli dari luar negeri seperti peluru kaliber 12,7 mm dengan sistem tembak elektrik.” Super Tucano bisa mengangkut senjata hingga 1,5 ton,” sebut Imam. Duta Besar Brasil untuk Indonesia Paulo Alberto da Silvera Soares mengatakan, kerja sama pertahanan antara kedua negara tak hanya untuk jangka pendek dan menengah, melainkan jangka panjang.

”Kami juga siap memberikan alih teknologi dan siap memberikan masukan apa pun yang dibutuhkan Indonesia,”tegasnya. Chief Executive Officer (CEO) Embraer Defense and Security Luiz Carlos Aguiar menambahkan, Indonesia bisa melakukan alih teknologi Super Tucano minimal lima hingga tujuh tahun ke depan. Itu pun jika Indonesia membeli minimal dua skuadron.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, serah terima pesawat Super Tucano tersebut cukup monumental karena Indonesia mendapat pesawat beserta perjanjian kerja sama berkelanjutan. ”Januari 2013 datang lagi pesawat itu (4 unit),” ucapnya. Selanjutnya, pada akhir 2013 atau awal 2014, delapan unit yang dibeli pada tahap kedua dijadwalkan juga tiba.

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 9/19/2012

September 16, 2012

Angkatan Laut AS Kembangkan Rudal AARGM

Rudal anti-radiasi baru ini resmi sudah memasuki tahap produksi. Nama lengkapnya Advanced Anti-Radiation Guided Missile (AARGM), merupakan rudal jarak menengah dan rudal taktis supersonik yang diluncurkan dari udara (air launched).

"Sistem rudal baru ini benar-benar meningkatkan kemampuan perang kami," kata Cmdr. Chad Reed, wakil manajer program Anti-Radiation Missile (ARM). "AARGM akan membantu kita agar tetap aman selama perang dan memperpendek waktu yang kita habiskan dalam konflik."

Rudal anti-radiasi AS
AARGM

Angkatan Laut AS membuktikan kemampuan AARGM selama uji operasional dan evaluasi awal pada awal 2012. Setelah kesuksesan uji coba, dilanjutkan dengan pelatihan untuk armada dan kru pada bulan Juni lalu. Sebuah skuadron F/A 18 Super Hornet dari Korps Marinir AS akan menjadi unit pertama yang beroperasi dengan menggunakan AARGM.

Rudal Anti-radiasi baru ini mengatasi kesenjangan kemampuan saat ini dimana Angkatan Laut AS menyebarkan dan mengoperasikan rudal udara-ke-darat yang ada yaitu High-speed Anti-Radiation Missile (HARM). Secara khusus, AARGM akan kembali mengalahkan rudal-rudal yang dikembangkan musuh AS untuk mengatasi rudal HARM, digunakan sejak tahun 1980-an. AARGM akan dilengkapkan pada jet tempur FA-18C/D, FA-18E/F, EA-18G Angkatan Laut AS dan Jet tempur Tornado Angkatan Udara Italia.

"AARGM dirancang untuk meningkatkan kemampuan tempur kami dalam menetralkan pertahanan udara musuh dan akan untuk memberikan kru udara senjata tambahan untuk supresi dan penghancuran misi pertahanan udara musuh," tambah Reed.

Angkatan laut As berencana untuk melakukan kontrak untuk produksi 72 rudal AARGM untuk Angkatan laut AS dan sembilan rudal AARGM untuk Angkatan Udara Italia pada akhir tahun ini. Pengiriman kemungkinan pada akhir 2013.

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 9/16/2012

 
Design by WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost