;

February 4, 2012

Abdulrachman Saleh - Mengenal Lebih Dekat Pikot-Pilot Terbaik Indonesia

seorang yang jujur
Diantara sahabatnya, Abdulrachman Saleh terbilang paling tua. Namun kelahiran 1 Juli 1909 di kampung Ketapang Jakarta ini, dikenal punya banyak keahlian. "Dia serba bisa dan jujur," kata Soejono. Soal kejujuran, dikisahkan Soejono ketika Maman (nama kecil Abdulrachman), berkunjung ke rumahnya di tahun 1940-an. Gara-gara ucapan Soejono "atur saja, mungkin satu gayung cukup untuk mandi", Maman benar-benar melakukannya. Jadi, diambilnya segayung air, lalu dengan sebuah gelas kecil diguyurkannya sedikit demi sedikit ke badannya. "Jujur sekali orang ini," aku Soejono.

Sebagai dokter, Mohammad Saleh yang dianugerahi sebelas putra, tidak pernah memaksakan putra kesayangannya ini menjadi dokter. Walau begitu, keahlian ini diambilnya juga. "Karena tidak ada sekolah lain saja," tutur Marsda (Pur) Abubakar Saleh (76), adik Abdulrachman. "Kalau bisa jadi insinyur, dia pasti jadi insinyur," tambah Abubakar. Pendidikannya sangat memadai, HIS, MULO, STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen), AMS, dan GHS.

Perkenalan Abdulrachman yang karena keahliannya dalam ilmu faal dianugerahi civitas akademika Universitas Indonesia Bapak Ilmu Faal Indonesia pada tanggal 5 Desember 1958 dengan penerbangan, bermula dari keikutsertaannya dalam aeroclub di Jakarta. Menyusul kekalahan Jepang atas Sekutu, Abdulrachman bergabung pada kantor Radio di lapangan Gambir. Abdulrachman terlibat dalam penyiapan pemancar-pemancar ilegal, seperti di Salemba. Dinding kamarnya, aku Abubakar, dipenuhi tempelan kartu pos untuk membuktikan orang-orang yang berhasil dihubunginya lewat radio.

Setelah dirasanya siaran radio berjalan lancar, Abdulrachman mengundurkan diri dan bergabung dengan TRI untuk membentuk AURI. Sifatnya yang dinamis, periang, didukung kemampuan teknis dan intelektual yang baik, membuat Suryadarma terpukau dengan profil Abdulrachman. "Pak Abdulrachman itu punya wawasan lebih luas (dari yang lain-Red). Beliau selalu memberi pengarahan untuk look beyond the horizon," kenang Suharnoko. "Beda dengan Adi, Halim, atau Iswahyudi, Pak Abdulrachman lebih banyak berurusan dengan masalah organisasi dan teknik pemeliharaan pesawat," tambah Suharnoko.

Di AURI, Abdulrachman bertemu dengan bekas muridnya semasa di sekolah kedokteran, Adisutjipto, yang sekarang justru jadi instruktur sekaligus komandannya di sekolah penerbang. Yang menarik, tak jarang sebelum terbang Abdulrachman memperbaiki dulu pesawatnya. Adisutjipto sendiri yang mengajarkannya menerbangkan Cureng.

Ketika menerbangkan Hayabusha sebagai test pilot di Malang, Abdulrachman yang dipanggil Karbol Krullebul, bahasa Belanda yang berarti di rambut ikal pernah hampir celaka. Ceritanya, pesawat yang diterbangkan tidak mau mengudara, tapi dipaksanya terus. Sambil menyebut nama anak-anak dan istrinya, "Good bye Panji, Triawan, Tuti", Karbol menarik throtlle kuat-kuat. Akhirnya pesawat naik, hanya beberapa sentimeter dari pucuk pohon jati.

Walau sudah menjadi instruktur penerbang AURI, dunia edukasi belum bisa ditinggalkannya. Status pengajar di sekolah kedokteran tingkat I dan II di Klaten, tetap dilakoninya. Di sini uniknya. Kalau mau mengajar, dia berangkat dengan menerbangkan Hayabusha. Namun sebelum mendarat, "Biasanya dia nyambar kampusnya dulu, baru landing, dan naik sepeda motor ke kampus," jelas Abubakar. Ditambahkan Abubakar, Abdulrachman juga menggemari dunia otomotif. Dalam sebuah perlombaan di Jawa Barat, Abdulrachman mengantongi juara pertama dan memperoleh hadiah sebuah jam tangan bertuliskan FIAT.

Pergaulannya luas. Tidak hanya dikenal di kalangan penerbangan, radio, dan kedokteran, Bung Karnopun termasuk sohibnya. Pernah tanpa bisa menolak, Bung Karno naik sepeda motor BMW berdua Abdulrachman untuk makan sate di alun-alun kota Malang. Peristiwa unik berbarengan rapat Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), itu diceritakan Karbol ke Abubakar. "Mulanya Soekarno menolak, karena takut dikenali. Tapi saya kasih dia kacamata hitam dan topinya saya buka," cerita Karbol seperti ditirukan Abubakar. Hingga saat Abdulrachman gugur bersama Adisutjipto di Yogyakarta, Bung Karno tidak bisa menahan air matanya.

Sejak 17 Agustus 1952, nama penggemar fotografi yang karena hobinya membuat direktur asramanya pernah berkirim surat ke ayahnya untuk mengetahui apakah sang ayah sadar betapa besar uang dikeluarkan Abdulrachman untuk fotografi, diabadikan menggantikan nama Lanud Bugis, Malang. Pangkat putra kedua sebenarnya ketiga karena kakaknya meninggal dari sebelas bersaudara ini, dinaikkan menjadi marsekal muda.

diabadikan sesuai namanya

Putra pertamanya Panji, mengikuti jejak sang ayah. Namun Tuhan bicara lain. Letkol (Pnb) Panji, penerbang MiG-21, gugur di depan mata keluarganya sendiri ketika sebuah pesawat ringan yang ditumpanginya, jatuh di Lanud Hussein Sastranegara, Bandung. Sementara anak keduanya diberi nama Triawan (Tri dari Tentara Republik Indonesia, TRI, dan awan), putra yang pernah dibawanya dari Madiun ke Malang karena harus pindah dinas. Caranya hebat. Triawan ditidurkannya di sebuah koper, lalu diterbangkannya dengan Cureng.

Angkasa online, forum detik

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 2/04/2012

February 3, 2012

Iswahyudi - Mengenal Lebih dekat Pilot-Pilot Terbaik Indonesia

Lahir di Surabaya tanggal 15 Juli 1918, Iswahyudi merupakan kadet pertama sekolah penerbang Adisutjipto. Hanya membutuhkan waktu tiga minggu, Iswahyudi sudah mampu menerbangkan pesawat di Panasan, Solo. Lalu pada tanggal 23 April 1946, bersama penerbang lainnya terbang cross country dari Maguwo - Jakarta - Gorda - Teluk Betung - Branti. Penerbangan heroik ini dilakukan menggunakan pesawat Cukiu. Lantas pada tanggal 10 Juli 1946, bersama Adisutjipto, Abdulrachman Saleh, Husein Sastranegara, dan Imam Suwongso Wirjosaputro, melakukan terbang formasi lima pesawat Cureng dari Maguwo ke Tasikmalaya.

Ketika untuk pertama kali pesawat Dakota VT-CLA mendarat di Maguwo (1947), Iswahyudi dan Adisutjipto menjadi orang pertama yang memperoleh kesempatan menerbangkan pesawat tersebut. Hanya butuh waktu tiga hari, putra pasangan Wirjomihardjo dan Issumirah sudah mampu menerbangkan pesawat tersebut dengan baik.

Karena dedikasinya yang tinggi, anak kedua dari sembilan bersaudara ini ditunjuk sebagai Komandan Lanud Maospati, Madiun. Tentu Iswahyudi tidak ragu mengemban jabatan, karena dia dikelilingi orang-orang yang tak kalah hebat pengabdiannya: Wiweko Soepono dan Nurtanio. Masih di tahun 1947, sekali lagi Suryadarma mempercayakan jabatan komandan lanud kepada Iswahyudi. Kali ini lebih jauh, Dan Lanud Gadut Bukittinggi.

Bakatnya besar sebagai penerbang. Sebelum masuk Kalijati, peniup saksofon dan pribadi yang dikenal ramah ini sempat mengikuti perkuliahan calon dokter di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS), Surabaya. Bahkan menurut buku "Mengenang Pahlawan Angkasa" (1967), Iswahyudi sudah mencapai tingkat IV ketika menjadi kadet Vrijwillige Vliegers Corps (VVC), Korps Penerbang Sukarela, Kalijati.

Iswahyudi yang dikenal Soejono di Tanjung Priok waktu akan diungsikan ke Australia, saat Jepang menduduki Hindia Belanda sudah mengantongi brevet penerbang dari Kalijati lapangan terbang yang dibeli pemerintah Hindia Belanda dari NV Pamanukan en Ciasem lander seharga satu gulden pada tahun 1915. Selama pelarian di Australia, kemampuan terbangnya diasahnya di pendidikan lanjutan Sekolah Penerbang Australia. Namun menurut Suharnoko Harbani, selama pendudukan Jepang, pernah Iswahyudi disusupkan ke Jawa sebagai mata-mata Sekutu.

Soal yang terakhir diduga Soejono, benar. Karena sebelum mereka diungsikan ke Amerika, intelijen Sekutu menanyai pelarian asal Indonesia untuk diminta jadi mata-mata. "Makanya dalam perjalanan dari Melbourne ke San Fransisco, ketika singgah di Perancis, saya nggak lihat Iswahyudi," tutur Soejono. Wajar kalau kemudian, Iswahyudi pura-pura tidak pernah bertemu Soejono ketika Wiryosaputro memperkenalkan Soejono yang berdiri di hadapannya. Sambil tertawa Soejono menceritakan peristiwa di hotel Tugu Yogjakarta itu, dimana semenit kemudian Iswahyudi berbisik di telinganya, "Jangan bilang-bilang dong, nanti Suryadarma tahu."

Dilihat kemampuan terbangnya, tak salah kala Adisutjipto dipercaya membuka sekolah penerbang di Maguwo, Iswahyudi juga Wirjosaputro, lulusan Kalijati ditunjuk menjadi instruktur. "Pak Iswahyudi dan Pak Wiryo yang mengajar kita. Mas Cip, kan kepala sekolah, jadi biasanya hanya cek terakhir saja," jelas Sudarjono yang menjadi satu dari 28 kadet pertama sekolah penerbang Adisutjipto.

Gugurnya Iswahyudi di Tanjong Hantu, benar-benar pukulan berat bagi Suryadarma. Karena di saat membutuhkan orang-orang berkemampuan tinggi, justru Tuhan berkehendak lain. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, nama almarhum diabadikan di Lanud Iswahyudi, Madiun, dimana dulu Iswahyudi sendiri menjadi komandannya (Lanud Maospati). Pengukuhan itu dilakukan bertepatan Hari Pahlawan ke 15, 10 Nopember 1960.

Lanud Iswahyudi-skuadron 14
 angkasa online, wikipedia

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 2/03/2012

February 2, 2012

Agustinus Adisutjipto - Mengenal Lebih Dekat Pilot-Pilot Terbaik Indonesia

muda dan berkarir
Marsekal Muda (Pur) Agustinus Adisutjipto akrab dipanggil Cip namun kemudian rekan-rekannya memanggilnya Pak Adi merupakan putra pertama dari lima bersaudara buah perkawinan Roewidodarmo dan Latifatun.

Sebagai sulung dari empat bersaudara yang semuanya laki-laki, Adisutjipto adalah kakak yang baik. "Saya tidak pernah melihatnya marah, dia pendiam dan tenang," kenang Sudarjono, adik ketiga Pak Cip. Jika berangkat sekolah, Sudarjono selalu diboncengi dengan sepeda oleh Adisutjipto. "Dia ngemong sekali," aku Sudarjono.

Adisutjipto, kelahiran Salatiga 3 Juli 1916, sangat gemar bermain sepakbola, naik gunung, tenis dan catur. Intelektualitasnya terasah lewat hobinya membaca buku-buku kemiliteran dan filsafat. Pribadinya dikenal pendiam, namun sangat reaktif bila harga dirinya terinjak.

Pernah dalam satu pertandingan sepakbola, terjadi insiden kecil menjurus tawuran massal. Cip kecil malah menghindar. Dipilihnya hari yang tepat, ditantangnya jagoan lawan duel ala koboi di sebuah lokasi yang ditentukan. Tidak jelas siapa yang kalah atau menang. Konon, sejak "duel maut" itu, mereka akrab.

Lulus dari Hollands Inlandsche School (HIS, 1929), Adisutjipto melanjutkan ke MULO Institut Saint Louis di Ambarawa (1933). Virus airmanship mulai menggerogotinya. Keinginan menjadi penerbang, mulai kerap mengganggu tidurnya. Hingga satu hari, dicurahkannya isi hatinya kepada ayahnya untuk masuk Militaire Luchtvaart Opleidings School (MLOS), Sekolah Pendidikan Penerbang Militer Hindia Belanda di Kalijati. Ayahnya yang mantan penilik sekolah, rupanya tidak bisa memahami keinginan Cip menjadi penerbang. Sang ayah merasa lebih tenang bila anaknya menjadi dokter. Karena desakan ayahnya, Cip masuk AMS (Algemene Middelbare School) di Semarang. Dasar pintar, Cip lulus dengan predikat baik sekali (1936). Lagi, Cip memohon kepada ayahnya. Kali ini dia desak ayahnya agar diijinkan melanjutkan ke Koninklijke Militaire Academi di Breda, Belanda. Sayang, darahnya "merah", bukan "biru" satu hal yang tidak mungkin kala kecuali bangsawan. "Jadilah dokter. Berilah contoh yang baik kepada adik-adikmu," tutur sang ayah.

Apa boleh buat, Cip terpaksa sekolah di Geneeskundige Hooge School (GHS), Sekolah Tinggi Kedokteran, Jakarta (1939). Cita-cita jadi penerbang yang sudah diubun-ubun kepalanya, membuat Cip sedikit nekad. Disela-sela perkuliahan inilah, Cip mendaftarkan diri ke MLOS. Tapi, pikirnya dalam hati, bagaimana jika orang tuanya mengetahui. Akal punya akal, dibantu teman-teman kampusnya, dikirimnya surat kepada residen Semarang, asisten residen Salatiga, serta patih Salatiga. Isinya, mohon bantuan membujuk ayahnya agar mengijinkannya masuk MLOS.
rekan
Agustinus Adisutjipto bersama HMSoedjono
Begitulah. Adisutjipto menjadi kadet MLOS, hingga diwisuda sebagai calon penerbang (vaandrig pilot) tahun 1941 dengan kualifikasi groot militaire brevet (GMB) atau penerbang kelas satu dari sepuluh penerbang, hanya dua orang mengantongi GMB, satunya Sambudjo Hurip yang kemudian gugur bersama pesawat B-10 Glenn Martin ketika terjebak perang udara dengan Jepang di Semenanjung Malaya, 19 Januari 1942. Di tempat yang sama pula Adisutjipto berkenalan dengan Suryadi Suryadarma, seorang perwira lulusan Breda yang tengah mengikuti pendidikan ML.

Ketika Jepang mendarat Maret 1942, peta penerbangan Hindia Belanda berubah. Adisutjipto yang ketika PD II pecah ditempatkan di skadron intai di Jawa beserta rekan-rekannya seperti Sujono, Sulistyo, dan Husein Sastranegara, tidak pernah lagi terbang. Semua yang berbau Belanda dimusnahkan. Untuk mengisi kekosongan, Cip bekerja di perusahaan angkutan bus milik Jepang.

Sejak pekik kemerdekaan berkumandang 17 Agustus 1945, satu demi satu muncul berbagai tuntutan. Termasuk penerbangan militer. Suryadarma bertindak cepat. Para eks penerbang AU Hindia Belanda, seperti Adisutjipto, dipanggilnya. Berbagai langkah konsolidasi, mulai dari mengumpulkan ratusan pesawat sampai mengupayakan perbaikan pesawat-pesawat peninggalan Jepang, diambil.

Usaha Suryadarma langsung berbuah. Buktinya, Adisutjipto berhasil menerbangkan pesawat Nishikoren dari Cibereum ke Maguwo, 10 Oktober 1945. Peristiwa ini tercatat sebagai penerbangan pertama di wilayah RI merdeka oleh awak Indonesia. Tujuhbelas hari kemudian, kembali Adisutjipto membakar semangat perjuangan dengan menerbangkan pesawat Cureng bertanda merah putih. Peristiwa ini mengukir lagi catatan sejarah, sebagai penerbangan berbendera merah putih pertama di tanah air.

Banyak sortie diikuti Adisutjipto dalam penerbangan ujicoba ke berbagai tempat. Di saat bersamaan, kebutuhan penerbang mulai terasa. Untuk itulah, 1 Desember 1945, Suryadarma memerintahkan membentuk sekolah penerbang di Maguwo, Yogjakarta. Adisutjipto ditunjuk sebagai kepala sekolah. Sementara Iswahyudi dan Imam Suwongso Wirjosaputro, dipercaya sebagai instruktur.

Sembilan April 1946, AURI diresmikan sebagai angkatan yang mandiri. Pimpinan dipercayakan kepada Komodor Suryadi Suryadarma. Wakil I dipegang Komodor Sukarnen Martokusumo, sementara Komodor Adisutjipto dipercaya sebagai wakil II.

Belanda belum puas. Perang kembali pecah (Agresi I). Berbarengan, Adisutjipto dan Abdulrachman Saleh diperintahkan ke India mengambil bantuan obat-obatan dari palang merah internasional, termasuk mencari instruktur sekolah penerbangnya. Keberangkatan pesawat Dakota ini, mendapat publikasi luas dari media massa dalam dan luar negeri. Penerobosan blokade udara Belanda menuju India dan Pakistan berhasil dilakukan tapi pada tanggal 29 Juli 1947, ketika pesawat berencana kembali ke Yogyakarta, harian "Malayan Times" memberitakan bahwa penerbangan Dakota VT-CLA sudah mengantongi ijin pemerintah Inggris dan Belanda. Suryadarma-KSAU AU kala itu-pun diberitahu.

Senja itu, Suryadarma baru saja tiba dengan mobil jip-nya di Maguwo bersama putranya Erlangga. Di ujung cakrawala, terlihat pesawat Dakota VT-CLA melakukan approach. Para penumpangnya, Adisutjipto, Abdulrachman Saleh, AN Constantine (pilot), R Hazelhurst (ko-pilot), Adisumarmo Wiryokusumo (engineer), Bhida Ram, Nyonya Constantine, Zainal Arifin (wakil dagang RI), dan Gani Handonocokro, tentu bahagia karena sesaat lagi akan mendarat. Begitu juga Sudarjono yang lagi piket, akan bertemu dengan kakaknya.

Sekonyong-konyong, muncul dua pesawat P-40 Kitty Hawk Belanda dari arah utara yang langsung memberondong Dakota, pesawat sipil yang jelas-jelas membawa bantuan. Pesawat kehilangan ketinggian, melayang kencang dan menyambar sebatang pohon hingga badannya patah menjadi dua bagian. Begitu pesawat terhempas ke tanah, langsung terbakar. Suryadarma dan semua orang penunggu, berlarian ke arah pesawat naas.

Tak terbayangkan terpukulnya Suryadarma. Di depan matanya, terjadi pembunuhan terhadap anak buahnya. Sudarjono mencoba menembus kerumunan. "Saya hanya menemukan tas milik Mas Cip," tuturnya. Masih menurutnya, keadaan jenazah Adisutjipto utuh dan gampang dikenali. "Hanya pergelangan kakinya yang patah, sepertinya bagian dalamnya yang kena," jelas Sudarjono, purnawirawan mayor penerbang AURI.

jatuh ditembak belanda
Bnagkai dakota
Peristiwa heroik ini, diperingati TNI AU sebagai hari Bakti TNI AU sejak tahun 1962. Almarhum dimakamkan di pemakaman Katolik Kuncen Yogyakarta. Karena jasa-jasanya, pangkatnya dinaikkan menjadi marsekal muda. Dan sejak 17 Agustus 1952, namanya diabadikan menjadi Lanud Adisutjipto (menggantikan Lanud Maguwo). Dari pernikahannya dengan Rahayu, Adisutjipto dianugerahi seorang putra.

bandara yogyakarta
Namanya pun diabadikan


angkasa-online, wikipedia

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 2/02/2012

January 30, 2012

Halim Perdanakusuma - Mengenal Lebih Dekat Pilot-Pilot Terbaik Indonesia

pilot terbaik indonesia
Abdul Halim Perdanakusuma lahir 22 Nopember 1922, dari Putra Haji Abdul Gani Wongsotaruno, patih Sumenep, Madura. Menyelesaikan pendidikan sekolah Pangreh Praja (MOSVIA) 1938. Selepas dari MOSVIA, Halim mengikuti wajib militer Belanda.

Halim mendapat pendidikan opsir torpedo di Surabaya. Tapi begitu Jepang menduduki Jawa (1942), Belanda dipukul telak. Sisa-sisa armadanya mundur ke Australia. Sialnya, kapal yang ditumpanginya kepergok pesawat Jepang di perairan Cilacap dan langsung dibombardir. Namanya belum ajal, Halim yang terapung-apung di laut lepas diselamatkan oleh sebuah kapal Inggris. Untuk selanjutnya dibawa ke Australia dan terakhir di India.

Di India ini nasib Halim ditentukan. Tanpa sengaja, Panglima Armada Inggris di India Laksamana Mounbatten, melihat lukisan dirinya di kamar Halim. "Siapa yang melukis," tanya Mounbatten. "Saya," jawab Halim yang memang piawai melukis. Saking respeknya kepada Halim hingga suatu hari Mounbatten menawarkan pendidikan militer di Inggris. Dengan cerdik Halim menawar. "Bagaimana kalau bagian udara."

Atas rekomendasi Mounbatten, Halim diterbangkan ke Gibraltar, selanjutnya ke Inggris. Halim kemudian dikirim ke sekolah AU Kanada (RCAF). Di negeri "asing" itulah, Halim memulai karirnya sebagai navigator sejak 1943.

Ketika kembali ke induk pasukannya MLD dengan pangkat RAF Flight Lieutenant (Kapten Udara) dan terlibat dalam puluhan misi, Halim dianggap juru selamat yang digelari The Black Mascot, jimat hitam. Kenapa? Karena dari setiap misi yang diikutinya, selalu kembali selamat dengan hasil gemilang. Anak Madura ini sangat disegani sebagai navigator. Halim aktif dalam 44 serangan udara terhadap Perancis dan Jerman sampai Perang Dunia II usai.

Menjelang akhir 1945, tentara Sekutu mendarat di Jakarta. Disinilah, seorang perwira AU Inggris berkulit sawo matang terlihat di antara tentara Inggris. Namanya Halim Perdanakusuma. Kedatangannya menyita perhatian tentara republik. Berkulit gelap, tapi tentara Inggris. Perihal kecurigaan itulah, esoknya Halim ditahan tentara republik di Kediri. (ternyata Halim disersi begitu tiba di Jakarta dan, sepertinya, dalam perjalanan ke Kediri tertangkap TRI), namun dilepas melalui surat sakti Menteri Pertahanan Amir Syarifudin.

Suryadarma -Kepala Staf TNI Angkatan Udara dari 1946 hingga 1962- yang mengetahui keberadaan Halim di Sumenep setelah dibebaskan, segera memerintahkan ajudannya Kapten Udara Arifin Marzuki mencaritahu keberadaan Halim seraya menyampaikan maksud Suryadarma agar Halim bersedia membantu Angkatan Perang RI yang masih "bayi".

Halim mulai aktif menyiapkan perubahan TRI Jawatan Penerbangan menjadi Angkatan Udara RI. Beberapa penerbangan ujicoba diikutinya. Sebutlah pada 23 April 1946, tiga pesawat Cureng mendarat di Kemayoran. Kemudian ke Sumenep dan Malang, yang dilakukan secara formasi bersama Perwira Udara I Sujono dari tanggal 21 - 26 Mei.

Pengalamannya sebagai mantan perwira RAF, dimanfaatkan betul oleh Suryadarma, terutama dibidang operasi. Juga dalam perundingan-perundingan dengan AU Inggris, Komodor Halim selalu terlihat mendampingi Suryadarna. Panglima Besar Jenderal Sudirman dengan yakin, selalu menanyakan perkembangan AURI kepada Halim.

Gugurnya Adisujipto, tak pelak membuat Suryadarma kehilangan besar. Jabatan yang lowong harus diisi oleh seorang perwira berpengalaman, dedicated, seperti Adisutjipto. Pada bagian inilah puncak karir Halim, ketika dipercaya menjadi Wakil KSAU II menggantikan Adisutjipto.

24 Agustus 1947 Halim diperintah menjabat Komandemen AURI Sumatera dengan tugas menyiapkan angkatan udara di Sumatera bersama Opsir Udara I Iswahyudi. Penyiapan ini diambil sebagai emergency plan jika Jawa lumpuh akibat agresi Belanda. Basis didirikan di Bukittinggi. Lapangan terbang Gadut dihidupkan, dengan Iswahyudi sebagai komandan.

Halim Perdana Kusuma gugur ketika pesawat Avro Anson Mk 19 Series 1 yang di kemudikan oleh Iswahyudi dan dinavigatori-nya jatuh di pantai Lumut, Tanjong Hantu, Malaysia tanggal 14 Desember 1947. Tidak diketahui penyebab jatuhnya pesawat tersebut, namun diduga karena cuaca buruk atau ditembak. Ketika itu ia ditugaskan untuk membawa senjata dari Thailand. Bangkai pesawat ditemukan, hanya jasad Halim yang ditemukan tapi jasad Iswahyudi dan senjata-senjata yang dibeli dari Thailand tidak pernah ditemukan.

Jenazahnya dimakamkan di Teluk Murok, Malaysia. Masyarakat setempat yang sudah menganggapnya sebagai pahlawan, sempat keberatan ketika jenazahnya di pindahkan ke TMP Kalibata, 10 November 1975. Halim Perdana Kusuma gugur dalam usia yang masih sangat muda yaitu 25 tahun.

bandara internasional indonesia
Seperti inilah namanya diabadikan
Sebagai pribadi, Halim simpatik. "Orangnya periang, gagah, dan teman yang bisa diandalkan," jelas Marsdya (Pur) Hasan Muhammad Soejono. Tak heran ketika kembali ke induk pasukannya MLD dengan pangkat RAF Flight Lieutenant (Kapten Udara) dan terlibat dalam puluhan misi, Halim dianggap juru selamat yang digelari The Black Mascot, jimat hitam. Kenapa? Karena dari setiap misi yang diikutinya, selalu kembali selamat dengan hasil gemilang. Anak Madura ini sangat disegani sebagai navigator. Halim aktif dalam 44 serangan udara terhadap Perancis dan Jerman sampai Perang Dunia II usai.

wikipedia, forum detik

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 1/30/2012

January 29, 2012

Ignatius Dewanto - Mengenal lebih dekat pilot-pilot terbaik Indonesia

menembak jatuh b26Ignatius Dewanto (lahir di Yogyakarta, Indonesia, 9 Agustus 1929 — 1970) adalah seorang tokoh militer Indonesia. Ignatius Dewanto lahir dari pasangan penganut Katolik yang taat, M. Marjahardjana dan Theresia Sutijem di Kalasan, Yogyakarta. Ignatius Dewanto adalah pilot TNI AU yang berhasil menembak jatuh pesawat B-26 Invader AUREV (Angkatan Udara Revolusioner/PERMESTA).

Karier militer Dewanto dimulai saat ia bergabung dengan Tentara Pelajar (TP). Dewanto tergabung ke dalam kesatuan Slamet Riyadi. Kariernya cukup gemilang hingga dipercaya sebagai kepala regu (1950). Sebelumnya (1948) pernah menjadi kepala pabrik granat di TP. Dikenal sebagai seorang yang pemberani, bahkan tidak jarang Dewanto menerbangkan pesawat P-51 Mustang-nya sangat rendah. Sehingga tidak heran jika selesai terbang ada kabel listrik/telpon yang nyangkut di pesawatnya. Alumni Royal Air Force Staff College (1961) of England ini telah mencegah pertempuran antara TNI AU dengan RPKAD pimpinan Sarwo Edhie Wibowo.

Usai gencatan senjata (1948), Dewanto ditempatkan di Semarang khusus bagi TP yang mampu berbahasa Belanda untuk dijadikan counterpart antara polisi militer Belanda dengan tentara Indonesia. Tanggal 25 Juli 1950, lewat pengumuman Kementerian Pertahanan RI, dinyatakan bahwa Staf Angkatan Udara membutuhkan penerbang. Dewanto lantas mendaftar.

Dewanto sempat dikirim ke Trans Ocean Airlines Oakland Airport (TALOA), California, November 1950 untuk jadi penerbang. Setelah lulus, pada tahun 1954 Dewanto masuk Skadron Udara 3 tempat bercokolnya P-51 Mustang sebagai instruktur.

Apron Liang, 18 Mei 1958. Kapten Udara Ignatius Dewanto tengah bersiap di kokpit P-51 Mustang. Pagi itu, dia ditugaskan menyerang pangkalan udara Aurev (Angkatan Udara Revolusioner, AU Permesta) di Sulawesi Utara. Saat itulah, hanya beberapa saat sebelum Dewanto take off menuju Manado, sebuah berita memaksanya membatalkan serangan ke Manado dan harus mengarahkan pesawat ke Ambon karena kota tersebut dibom oleh B-26 Invader Aurev.

Ketika di udara, Dewanto mendapatkan Ambon mengepulkan asap di mana-mana. Puing-puing berserakan, menandakan baru saja mendapat serangan udara. Berputar sejenak, B-26 tak kunjung terlihat. Pesawat kemudian diarahkannya ke barat. Ferry tank dilepas untuk menambah kelincahan pesawat. Dewanto terbang rendah. Berbarengan saat pandangannya tertumbuk ke konvoi kapal ALRI, sekelebat dilihatnya pesawat B-26.

Pesawat tersebut ternyata tengah melaju ke arah konvoi kapal. Dewanto terbang mengejar dan beruntung bisa menempatkan diri persis berada di belakang B-26. Walau sempat ragu karena posisi musuh tepat antara kapal dan dia, Dewanto langsung melontarkan roketnya dan tembakan senapan mesin 12,7 mm pesawatnya. Saat bersamaan, KRI Sawega, salah satu kapal dalam konvoi kapal ALRI, juga menembakkan senjatanya: Bofors, Oerlikon 12,7 mm, Water Mantle 7.62mm. Alhasil, B-26 yang diterbangkan seorang serdadu bayaran bernama Allen Lawrence Pope beserta juru radio Hary Rantung (bekas AURI), terbakar dan tercebur ke laut.

Bagi Dewanto, ketegangan belum berakhir. Saat dalam perjalanan pulang, Dewanto berpapasan dengan B-26 lainnya. Head on attack perang udara berhadap-hadapan tak terelakkan. Dengan beraninya Dewanto menghujani B-26 yang diterbangkan Connie Seigrist, penerbang berkulit putih, dengan senapan mesinnya. Tidak ada pesawat yang jatuh dalam pertempuran udara kali ini, tapi kedua-duanya mengalami kerusakan pesawat yang cukup signifikan akibatnya.
menembak jatuh b26
Ignatius Dewanto

Dewanto sempat menjabat Deputi Menteri/Pangau Urusan Operasi (diangkat 1 Juli 1965) menggantikan Marsekal Muda Udara Sri Mulyono Herlambang yang dipromosikan sebagai Menteri Negara diperbantukan Presiden. Seperti banyak nama lainnya, Dewanto sempat diamankan usai Gerakan September 1965. Dewanto ditahan beberapa bulan di kantor Pertahanan Udara Halim. Sementara Sri Mulyono di Nirbaya. Dewanto sempat menjadi Atase Udara di Moskow (1966). Hanya setahun, dia kembali ke Indonesia dan akhirnya diberhentikan dengan hormat dari dinas tentara terhitung 31 Maret 1967. Selepas dari AURI, untuk bertahan hidup Dewanto sempat menjadi sopir truk dengan rute jakarta-banten. Hingga kemudian beliau bekerja sebagai pilot sipil di Sabang Merauke Raya Air Charter (SMAC).

Dewanto meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat terbang PA-23 Aztec milik Sabang Merauke Raya AC pada tahun 1970. Jenazahnya baru ditemukan delapan tahun kemudian. Atas izin Soeharto (waktu itu presiden), jenazah pahlawan AURI yang namanya diabadikan di gedung serbaguna "Dewanto" di Lanud Iswahyudi, Madiun, dan pemegang 16 tanda kehormatan ini dikebumikan di TMP Kalibata setelah disemayamkan di Mabes TNI AU Pancoran.
Wikipedia, forum detik

Efran Syah
ARTILERI Updated at: 1/29/2012

 
Design by WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Bluehost