Monday, September 03, 2018

Rusia Kembangkan Dua Sistem Pertahanan Udara Anti Drone Kecil

2C38 Derivatsia-PVO

Militer Rusia telah mengembangkan sistem hemat untuk menangani drone kecil musuh. Drone musuh seperti ini murah namun mematikan, tapi akan sangat mahal biayanya bila dijatuhkan dengan sistem pertahanan udara sekelas Tor-M2 atau Pantsir

Produsen tank Rusia, Uralvagonzavod (UVZ), telah meluncurkan sebuah sistem anti-pesawat baru dan sebuah kendaraan tempur infanteri Soviet yang dimodernisasi.

Kedua sistem ini merupakan sorotan pada pameran militer Army-2018 yang diadakan di dekat Moskow pada akhir Agustus lalu.

'Basurmanin'

Basurmanin

Sistem baru pertama adalah versi modernisasi dari kendaraan tempur infanteri BMP-1 dengan julukan 'Basurmanin' ("ketidaksetiaan" dalam bahasa Rusia). UVZ bertugas mengubah 'dinosaurus' Soviet menjadi monster baru yang mampu bertempur bersama dengan mesin-mesin pertempuran baru Rusia. Apakah tugas UVZ ini telah selesai atau belum baru akan jelas setelah uji coba militer di Suriah. Sementara itu, berikut ini ringkasan fitur-fitur terbarunya.

Pertama, ia memiliki stasiun senjata baru yang diambil dari BTR-82A. Di dalamnya ada pistol otomatis 30 mm dengan sistem tembakan beruntun 2A72, senapan mesin PKTM 7,62 mm, serta sistem gabungan TKN-4GA-01 dengan pembidik anti-pesawat yang dapat beroperasi setiap saat di segala cuaca. Ia juga dilengkapi dengan stabilisator senjata dan sistem misil anti-tank berpandu PTRK 9K115 Metis. Ada juga senapan 30 mm baru, yang sebelumnya sudah digunakan pada helikopter serbu Ka-52 dan Mi-28N.

Para perancangnya sengaja mengurangi tingkat tembakan senjata api dari 550 putaran menjadi 330 per menit demi meningkatkan ketepatan dan penghematan amunisi.

Berkat stasiun senjata baru, Basurmanin dapat secara efektif digunakan baik untuk melawan pasukan mau pun kendaraan lapis baja ringan dengan jangkauan hingga 2 km - serta melawan helikopter penerbangan rendah.

2C38 Derivatsia-PVO

2C38 Derivatsia-PVO

Selama pertempuran di Timur Tengah, pasukan Rusia dan NATO dihadapkan dengan senjata mematikan baru yang digunakan oleh militan: drone kecil yang dilengkapi dengan bom tak berpandu.

Anda mungkin bertanya-tanya betapa seberapa berbahayakah sebenarnya 'helikopter' seukuran pemanggang roti, tetapi masalahnya terletak pada peralatan yang Rusia gunakan untuk menembak jatuh drone ini. Setiap misil Tor-M2 atau Pantsir-C1 menghabiskan jutaan rubel, dan senapan mesin Pantsir 30 mm memang dapat menembakkan 5.000 putaran per menit - tetapi senjata ini ditujukan untuk target yang lebih besar, seperti pesawat, misil yang terbang rendah, dan lain-lain. Drone murah ini, sebaliknya, dapat menguras amunisi sistem pertahanan udara canggih Rusia, dan membuka jalan untuk serangan yang lebih besar.

Jadi, para teknisi Rusia berupaya mengatasi masalah ini. Perancang dari UVZ telah menciptakan sistem senjata anti-pesawat otomatis 2C38 Derivatsia-PVO, yang dapat digunakan untuk menghancurkan target udara kecil sekaligus misil jelajah dan roket udara-ke-darat. Tentara juga dapat menggunakan sistem baru ini untuk kendaraan lapis baja ringan dan infanteri yang bersembunyi di bangunan batu bata dan tempat perlindungan lainnya.

2C38 Derivatsia-PVO

UVZ mengatakan bahwa muatan amunisi sistem baru ini unik. Selain rentetan 57 mm dan peluru perobek lapisan baja untuk senapan otomatis S-60, sistem ini juga memiliki beberapa amunisi baru: peluru artileri berpandu multifungsi dengan time fuze.

Sistem misil anti-pesawat ini dapat beroperasi kapan saja, siang atau malam, dan di cuaca apa pun. Ia juga dapat menahan serangan balasan optik dan elektronik dari musuh. Sistem ini mampu mendeteksi, melacak, dan menyerang target baik secara mandiri atau berdasarkan data dari pos komando pusat.

Selain itu, untuk penghancuran target, sistem "pintar" dapat secara mandiri memilih senjata yang paling efektif.

Resources
  • https://id.rbth.com/technology/80650-dua-sistem-antipesawat-terbaru-rusia-qyx