Friday, October 11, 2013

Iran Berhasil Kloning Mesin UAV RQ-170 AS

Komandan Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh mengatakan bahwa Iran telah berhasil membangun mesin UAV (pesawat tak berawak) dengan meniru mesin UAV RQ-170 Amerika Serikat, Fars News Agency (FNA) melaporkan. RQ-170 adalah UAV AS yang diburu dan dijinakkan Iran pada akhir tahun 2011 silam.

UAV RQ-170 AS ditampilkan Iran
UAV RQ-170 AS yang saat ini dikuasai Iran
Mesin RQ-170 adalah mesin generasi ke-5, sedangkan mesin UAV buatan Iran tercanggih sebelumnya adalah generasi ke-3. Dan untuk menghasilkan sendiri mesin seperti mesin RQ-170 maka Iran akan butuh waktu puluhan tahun untuk mengembangkannya, FNA mengutip pernyataan Hajizadeh pada hari Rabu. Hajizadeh juga menyatakan bahwa RQ-170 buatan Iran akan segera terbang dalam waktu dekat.

Dalam pernyataan pada September lalu, Komandan IRGC Letnan Jenderal Hossein Salami mengatakan bahwa UAV tiruan Iran dari UAV AS yang diperoleh pada akhir tahun 2011 lalu, kini sudah diproduksi dan akan segera dipublikasikan.

"Semua memori dan sistem komputer dari pesawat ini (RQ-170) sudah diterjemahkan dan kabar baiknya akan diumumkan dalam waktu dekat. Tidak hanya tentang RQ-170, namun juga rekayasa terbalik yang telah kami buat untuk drone (UAV) model ini, dan juga prestasi penting di bidang keamanan lainnya," ujar Salami.

Pada 4 Desember 2011 lalu, Iran mengumumkan bahwa pasukan pertahanannya telah melumpuhkan UAV canggih RQ-170 AS dengan serangan cyber. Ini kehilangan pertama AS untuk UAV RQ-170. Para pejabat AS menggambarkan hilangnya UAV di Iran itu sebagai kemunduran dan pukulan telak untuk program UAV siluman.

RQ-170 memiliki lapisan khusus dan dirancang berbentuk batwing agar tidak terdeteksi saat menembus pertahanan udara suatu negara. UAV ini dibuat oleh Lockheed Martin, dan sudah dikenal sejak 2009, kala itu muncul sebuah foto RQ-170 ini di pangkalan utama AS di Kandahar, Afghanistan.

RQ-170 AS yang diklaim hilang di Iran itu adalah UAV siluman yang digunakan oleh CIA untuk misi rahasia dan sebagai salah satu platform UAV utama dalam armada CIA. Pejabat AS sendiri baru mengakuinya seminggu kemudian setelah Iran berhasil menangkapnya.

Sejak Desember 2011, Iran mengklaim telah menjatuhkan lagi beberapa UAV AS dari berbagai jenis. Yang masuk pemberitaan adalah UAV RQ seri 11 yang Iran buru sejak 22 Oktober 2012 hingga 20 November 2012. Dan Iran menyatakan bahwa Angkatan Daratnya saat ini masih mempelajari dan menerjemahkan data UAV tersebut. Pernyataan petinggi militer Iran kemudian datang lagi pada awal 2013, bahwa Angkatan Laut IRGC telah memburu dan mendapatkan sebuah UAV AS di Teluk Persia setelah sebelumya UAV itu melanggar wilayah udara Iran. Komandan Angkatan Laut IRGC mengatakan bahwa UAV tersebut adalah UAV ScanEagle yang biasanya diluncurkan dari kapal perang besar. ScanEagle bentuknya kecil, murah, namun daya tahan terbangnya lama. UAV ini dibangun oleh Insitu, anak perusahaan dari Boeing. Selanjutnya sang komanda menyebutkan bahwa ScanEagle tiruan sudah dibuat dengan teknik reserve engineering.

Akhir-akhir ini memang banyak pemberitaan tentang Iran tentang kemajuan besar dalam industri dirgantara, khususnya dalam merancang dan manufaktur UAV. Pada April lalu, Iran memperkenalkan Sarir, UAV jarak jauh, daya tahan terbang lama, mampu menghindari radar, mampu membawa dan rudal udara-ke-udara. Klaimnya Iran sudah membangun puluhan UAV Sarir.

Selanjutnya di awal bulan ini, Iran menampilkan UAV yang diklaim sebagai UAV tercanggih Iran yang dirancang dan diproduksi oleh ilmuwan dalam negeri. Yaitu Hemaseh, UAV siluman yang diresmikan dalam sebuah upacara khusus di hadapan Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi. Vahidi sendiri menyebutkan bahwa selain misi pengawasan dan pengintaian, Hemaseh juga bisa melaksanakan misi tempur.