Latest News

Penelitian: Korea Utara Miliki 100 Nuklir pada Tahun 2020

Penelitian dari US-Korea Institute dan National Defense University memperingatkan bahwa program nuklir dan rudal Korea Utara sedang berkembang pesat.

Roket Unha-3 Korea Utara meluncur dari stasiun peluncuran Sohae di Tongchang-ri, Korea Utara. Kredit:csmonitor/iTech Pos
Sebuah proyek penelitian baru memperingatkan bahwa persediaan nuklir Korea Utara kemungkinan akan tumbuh sekitar 10-16 senjata nuklir pada akhir tahun 2014 dan menjadi 100 pada tahun 2020. "The North Korea Nuclear Futures Project", sebuah penelitian kerjasama antara U.S.-Korea Institute di Johns Hopkins University School of Advanced International Studies dan National Defense University, bertujuan untuk memprediksi kemungkinan masa depan program nuklir dan rudal Korea Utara dalam lima tahun kedepan. Temuan ini diumumkan kepada pers oleh Joel Wit dari U.S.-Korea Institute dan David Albright dari Institute for Science and International Security pada hari Selasa.

Proyek penelitian ini menggunakan tiga skenario pertumbuhan program nuklir dan rudal Korea Utara selama lima tahun kedepan. Skenario pertama adalah program nuklir dan rudal Korea Utara berkembang dengan lambat atau perlahan. Dalam skenario minimal ini, bahkan persenjataan nuklir Korea Utara dapat bertambah hingga dua kali lipat antara 10 sampai 20 senjata nuklir.

Skenario kedua lebih moderat, dengan asumsi program nuklir dan rudal Korea Utara terus berkembang dengan kecepatan yang sama seperti yang mereka lakukan selama ini. Hasilnya Pyongyang akan memiliki 50 senjata nuklir pada tahun 2020 dan akan mampu memasangnya pada rudal balistik jarak menengah (IRBM) atau bahkan rudal balistik antar benua (ICBM).

Skenario yang ketiga adalah skenario yang terburuk, dengan asumsi Korea Utara meningkatkan komitmennya untuk program nuklir dan rudal, akan terjadi pertumbuhan yang cepat, termasuk upaya Korea Utara untuk memperoleh akses ke teknologi dan informasi asing. Wit menggambarkan skenario yang terakhir ini sebagai skenario yang cukup menakutkan. Hasilnya, Korea Utara akan memiliki 100 senjata nuklir pada tahun 2020 dengan 20-30 rudal balistik antar-benua.

Laporan ini juga memperingatkan bahwa Korea Utara telah mampu untuk memasang hulu ledak miniatur pada rudal jarak pendek Nodong (jangkauannya mencapai sebagian besar Asia Timur Laut) dan rudal Taepodong-2, yang berpotensi dapat digunakan sebagai ICBM. Wit mencatat bahwa mengingat kemampuan saat ini, Korea Utara mampu mengumpulkan setidaknya 100 senjata nuklir dan memasangnya pada rudal Nodong yang akan mencapai mencapai Korea Selatan dan Jepang pada tahun 2020 tanpa perlu melakukan uji coba nuklir atau rudal lain.

Baca juga: Daftar Rudal Korea Utara

Analisis situasi yang diungkapkan oleh penelitian ini tampak memperjelas bahwa pendekatan AS untuk program nuklir Korea Utara telah gagal. Baik Wit dan Albright mengungkapkan bahwa Korea Utara dapat terus mengakses teknologi Barat yang mereka butuhkan melalui perusahaan China yang menyelundupkannya melalui perbatasan. Asumsi yang mengatakan bahwa sanksi ekonomi dapat mempengaruhi kemampuan Korea Utara dalam mendapatkan teknologi nuklir adalah salah, kata Wit. Albright menambahkan bahwa tindakan keras terhadap penyelundupan di sepanjang perbatasan China-Korea Utara dapat membuat "hidup Korea Utara jauh lebih sulit," namun Wit mencatat bahwa saat ini China belum memiliki mekanisme untuk menegakkan hukum yang relevan.

Wit mencatat bahwa Amerika Serikat telah gagal dalam upayanya untuk memaksa Korea Utara untuk memilih antara senjata nuklir atau kemakmuran ekonomi. "Mereka tidak memilih... mereka melakukan keduanya," kata Wit. Sanksi ekonomi terhadap Korea Utara tidak mempengaruhi program nuklir dan rudalnya. Tidak sulit bagi Korea Utara untuk mencapai tujuannya, kata Albright.

Sementara itu, Korea Utara bisa saja diterima sebagai anggota negara-negara yang 'boleh' memiliki senjata nuklir di dunia, karena sejumlah negara-negara regional (Rusia, China dan negara-negara ASEAN) tampaknya mau melakukan hubungan politik dan ekonomi yang normal dengan Korea Utara meskipun banyaknya protes akan progam nuklir dan rudalnya. Baru-baru ini, 'pesona ofensif' Korea Utara membuat hubungan yang lebih hangat dengan Rusia, ASEAN, dan bahkan Jepang. Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un bahkan telah diundang untuk bergabung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan para pemimpin dunia lainnya di Moskow untuk upacara peringatan 70 tahun berakhirnya Perang Dunia II. Dengan rezim Kim yang memperkuat hubungannya setidaknya dengan beberapa negara tetangga, ini akan membuat AS dan sekutunya semakin sulit untuk menemukan cara untuk membendung pertumbuhan senjata nuklir dan rudal Pyongyang.

Sumber: The Diplomat


0 Response to "Penelitian: Korea Utara Miliki 100 Nuklir pada Tahun 2020"

Komentar tidak lagi dimoderasi, namun fitur anonim kami tiadakan. Gunakan akun Google atau akun terdaftar lainnya untuk berkomentar.