Latest News

LAPAN dan PT DI Segera Produksi Komponen Pesawat N219

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) menyelenggarakan peresmian "First Cutting Detail Part Manufacturing N219" di hangar produksi PT DI, Bandung, Jawa Barat, Selasa, 9 September 2014. Kegiatan ini merupakan tanda dimulainya tahap produksi komponen pesawat.

Secara simbolis, Kepala Lapan, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin didampingi Direktur Utama PT DI, Dr. Budi Santoso, melakukan pemotongan material yang akan digunakan untuk pembuatan komponen sekat jendela di bagian depan pesawat. Dalam kegiatan tersebut, Kepala Lapan dan Direktur PT DI juga menandatangani perpanjangan nota kesepahaman kerja sama kedua instansi. Kerja sama tersebut meliputi penelitian, pengembangan, perekayasaan, dan pemanfaatan teknologi kedirgantaraan.

Kepala Lapan, dalam sambutannya mengatakan bahwa tahap produksi komponen pesawat ini menjadi catatan baru dalam sejarah. Ia yakin, Lapan dan PT DI akan bangkitkan sejarah baru sesuai RPJM untuk mewujudkan Indonesia yang adil dan makmur, memiliki kemandirian tidak murah, dan memiliki keinginan kuat untuk mengembangkan teknologi kedirgantaraan.

Ia melanjutkan, teknologi penerbangan Indonesia sempat melejit, dan saat ini diupayakan untuk kembali bangkit. "Pada 2011, Lapan berjuang agar pengembangan teknologi penerbangan bisa semarak, maka diperlukan upaya-upaya untuk bisa membantu mengembangkan teknologi penerbangan. Pengembangan pesawat N219 menjadi langkah awal pembangunan pesawat tranportasi dan juga menjadi awal kemandirian," ujarnya.

Untuk itu, Kepala Lapan melanjutkan, penerbangan Indonesia akan maju. Lapan memiliki visi untuk memajukan penelitian dan pengembangan teknologi penerbangan Indonesia. Dengan demikian, diperlukan kerja sama dan sinergi antarinstansi untuk mewujudkannya. "Program pembangunan pesawat ini membuktikan kemandirian kita dalam membuat pesawat transportasi untuk daerah terpencil. Pembangunan pesawat ini juga untuk membangkitkan kembali industri dirgantara dalam negeri," ujarnya.

N219 merupakan pesawat perintis berpenumpang 19 orang. Pesawat ini merupakan hasil pengembangan Lapan dan PT DI. Lapan sebagai instansi pemerintah yang diamanatkan untuk penelitian dan pengembangan kedirgantaraan melalui Pusat Teknologi Penerbangan mengalokasikan anggaran dengan melibatkan engineer di bidang aerodinamika, struktur, propulsi dan avionik untuk mengembangkan N219. Pesawat ini diharapkan akan memenuhi kebutuhan untuk penerbangan di daerah terpencil dengan landasan pendek. (LAPAN)

N219: 60% komponen buatan dalam negeri

N219 disebut-sebut bakal menjadi kebangkitan industri pesawat terbang nasional. Ide, model, dan desain pesawat ini dirancang oleh putra-putra bangsa. Begitu juga dengan komponennya yang 60% akan dibuat di dalam negeri.

"Jumlah part N219 mencapai 5 ribu part kecil. Sekitar 60 persennya lokal," ujar Direktur Utama PT DI, Budi Santoso, dalam acara nota kesepahaman PTDI dan LAPAN, serta First Cutting Detail Part Manufacturing N219 di Bandung, Selasa, 9 September 2014.

Namun untuk mesin, N219 masih mengimpor. Budi mengatakan, N219 dibuat dengan konsep yang sederhana. "Kami mencoba membuat pesawat yang permesinannya sederhana. Karena kami ingin biaya produksi yang murah. Namun kita bisa mendapatkan keuntungan untuk pengembangan program lainnya," katanya.

Dalam pembuatan komponen, Budi mengingatkan tim produksi untuk serius. "Pengalaman saya dulu, kalau gagal, part dibuang ke tempat sampah. Kami ingin mekanik bisa meyakinkan supaya komposisi komponen sudah betul. Yang produksi juga jangan stres," minta Budi.

Direktur Teknologi PT DI Andi Alisyahbana mencontohkan, komponan kaca pesawat yang biasanya diimpor, bakal dicoba untuk menggunakan barang dalam negeri. "Kaca yang biasanya impor, kali ini kita akan ajak industri kaca dalam negeri," katanya. (DETIK)


6 Responses to "LAPAN dan PT DI Segera Produksi Komponen Pesawat N219"

  1. kenapa g sekalian buat pesawat tempur siluman yang canggih ????
    dari kemarin cuma pesawat penumpang aja.... :-?
    cape' deh........

    ReplyDelete
    Replies
    1. amerika butuh puluhan tahun dan miliaran $$$ untuk bikin f-22....semua ada tahap nya...sekarang N219..mungkin 15-20 tahun kemudian kita bisa bikin jet generasi 4+ IFX

      Delete
  2. mmg nya buat pesawat gampang?
    lagian ini kebangkitan industri dirgantara kita
    patut disyukuri, kita mulai N-219
    nah kedepannya N-235
    oh ya R-80 juga jalan loh
    kita juga lg joint dgn korsel bung buat pespur IF-X
    nah rencana nya nti block III udh adopsi stealth
    buat pespur bth waktu 10 thn lebih

    cmiiw ya min

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah yg bener aja, menurut temen2 dari DI,pesawat ini cuma buang2 duit aja. Jumlah SDM yg kurang memadai dan lagi Engineer2 nya dipilih bukan dari mereka yg berpengalaman dan serius bekerja, hanya karena pertemanan dg Direktur dan Kadiv nya aja ..., ya mana mungkin bisa bikin pesawat canggih begini apalagi tidak dikerjakan tiap hari

      Delete
  3. Emng gampang apa bkin pswt slumN??

    ReplyDelete
  4. Bikin pesawat Siluman atau pesawat Akal2 an, fakta yg terjadi di PT.DI sebenarnya jauh dari apa yg digembor2 kan, menyedihkan. cuma buang2 uang rakyat.utk kalangan tertentu aja

    ReplyDelete

Komentar tidak lagi dimoderasi, namun fitur anonim kami tiadakan. Gunakan akun Google atau akun terdaftar lainnya untuk berkomentar.