Latest News

IAF: Pesawat Generasi Kelima Rusia Tidak Sesuai Harapan

PAK FA T-50

Angkatan Udara India (IAF) membuat kejutan dengan mengkritik program bersama India-Rusia untuk pengembangan pesawat tempur generasi kelima atau Fifth Generation Fighter Aircraft (FGFA), dilansir dari laman Business Standard.

India dan Rusia telah merampungkan kesepakatan untuk bersama-sama mengembangkan FGFA* dengan fitur khusus untuk IAF, namun IAF menuduh Rusia tidak mampu memenuhi janji-janji mereka terkait kinerja pesawat tersebut.

Sebelumnya, FGFA diutamakan untuk menjadi tulang punggung IAF, dan Menteri Pertahanan India, AK Antony, juga secara terbuka menolak setiap prospek pembelian pesawat tempur generasi kelima Amerika Serikat, F-35 Joint Strike Fighter, sembari menyatakan bahwa FGFA sudah cukup. Pada tahun 2007, India dan Rusia menandatangani kerjasama di bawah perjanjian Inter Governmental Agreement (IGA), menempatkan proyek ini di atas aturan Departemen Pertahanan. Selain itu, para ilmuwan India mengatakan bahwa keahlian yang diperoleh selama pengembangan FGFA akan menghadirkan momentum berharga untuk mengembangkan pesawat tempur generasi kelima sendiri, yang India sebut sebagai Advanced Medium Combat Aircraft (AMCA).

Namun, di tengah kerjasama pengembangan FGFA, IAF mengejutkan Departemen Pertahanan India dengan menyatakan bahwa FGFA tidak cukup bagus. Dalam sebuah pertemuan di New Delhi dengan Departemen Pertahanan pada 24 Desember lalu, petinggi IAF mengatakan bahwa FGFA memiliki kekurangan dalam hal kinerja dan fitur teknis lainnya.

Disebut-sebut ada beberapa masalah yang menyebabkan keberatan IAF atas FGFA, yaitu:
  1. Rusia kurang mau berbagi informasi teknologi kritis FGFA kepada India.
  2. Mesin AL-41F1 pada pesawat tidak memadai, mesin itu hanyalah upgrade dari mesin AL-31 milik Sukhoi Su-30MKI.
  3. Biaya terlalu mahal. Dengan India mengeluarkan biaya USD 6 miliar dalam kerjasama mengembangkan FGFA. Sebagian besar anggaran untuk IAF akan terkuras.
Pada tanggal 15 Januari lalu di New Delhi, IAF kembali mengkritisi Rusia saat pertemuan antar Departemen Pertahanan untuk mengkaji kemajuan FGFA. Wakil kepala staf IAF yang juga menangani pengadaan mengatakan bahwa mesin FGFA tidak dapat diandalkan, radar tidak memadai, fitur siluman buruk, minim transfer teknologi kepada India, dan harga pesawat tempur akan selangit saat masuk layanan.

Sumber terpercaya di Departemen Pertahanan India seperti yang dilansir Business Standard, menduga IAF mau merusak program FGFA demi mengalihkan dana untuk membeli 126 jet tempur multi peran generasi 4,5 Rafale yang diperkirakan senilai USD 18 miliar, akuisisi yang sedang mandek karena terbatasnya anggaran. Memang IAF saat ini sedang dalam proses pembelian Rafale, namun kerjasama PAK FA dengan Rusia dimaksudkan untuk menghadirkan pesawat tempur generasi kelima kepada IAF, serta berbagai transfer teknologinya. Pada Oktober 2012, kepala staf IAF, Marsekal NAK Browne mengumumkan bahwa IAF hanya akan membeli 144 FGFA, bukan 214 seperti yang direncanakan sebelumnya. Setelah pemangkasan ini, kini IAF mempertanyakan manfaat dari kerjasama dengan Rusia.

Secara kualitas, pesawat tempur generasi kelima unggul dari generasi 4,5 saat ini seperti Sukhoi Su-30MKI. Mereka dirancang menjadi "siluman", yang membuat radar tidak dapat mendeteksinya, mereka juga supercruise, yaitu terbang dengan kecepatan supersonik tanpa perlu afterburner (Rafale perlu afterburner), dan mereka dilengkapi dengan sistem avionik dan rudal futuristik.

Kementerian Pertahanan dan HAL (PTDI-nya India) sendiri mementahkan keberatan IAF terhadap program FGFA. Para petinggi Rusia telah menjelaskan bahwa mesin yang digunakan prototipe saat ini, yaitu AL-41F1, adalah mesin sementara untuk melanggengkan proses uji terbangnya. Mesin baru untuk FGFA dan PAK-FA saat ini masih dikembangkan Rusia.

Para pejabat Rusia juga mengatakan bahwa program FGFA juga sedang mengembangkan radar yang jauh lebih unggul untuk salah satu prototipe saat ini. Angkatan Udara Rusia sebelumnya akan melengkapkan radar konvensional untuk pesawat tempur PAK FA, yang hanya mengarah ke depan. Namun IAF menginginkan dua radar tambahan untuk sisi-sisinya. Karena permintaan itu, Rusia juga mengevaluasi untuk kebutuhan yang sama.
Satu hal yang pasti, bahwa setiap proyek pembangunan pesawat tempur generasi kelima akan menemui masalah yang serius.
Sementara Departemen Pertahanan dan IAF masih terus berpolemik, Rusia telah melaju ke depan dalam mengembangkan pesawat tempur generasi kelimanya. Biro Desain Sukhoi telah melakukan 300 uji coba penerbangan dari pesawat tempur siluman  PAK FA T-50, yang dari desain inilah FGFA India akan dibuat. Angkatan Udara Rusia, yang tidak seambisius IAF dalam soal spesifikasi PAK FA T-50 atau FGFA, sudah berencana untuk mengoperasikan T-50 pada 2017 atau 2018.

Setelah perjanjian pada Oktober 2007, selanjutnya pada Desember 2008 ditandatangani kontrak umum antara HAL dan Rosoboronexport, agen ekspor pertahanan Rusia. Ini mengatur prinsip-prinsip kerjasama umum, seperti pangsa kerja, pembagian biaya dan penjualan FGFA ke negara ketiga. Pada bulan Desember 2010, sebuah kontrak Preliminary Design ditandatangani, yang mengatur konfigurasi dasar FGFA dan pemilihan sistem dan peralatannya. Dengan pekerjaan telah selesai pada Juni 2013, kini kontrak penting untuk pembangunan sedang dinegosiasikan. Kontrak ini menyangkut desain aktual dan pembangunan FGFA.

Sebenarnya ada satu pelajaran, bahwa semua program pengembangan pesawat tempur biasanya akan menemui kesulitan, termasuk Rusia dan Amerika Serikat. Lihat saja F-35 Amerika Serikat, sejak diluncurkan pesawat siluman ini beberapa kali menemui masalah, mulai dari teknologi hingga konstruksi. Itu pun hanya informasi tertangkap oleh media saja, tidak seluruh dari kelemahan dan keunggulan F-35 yang diketahui oleh pengembang.

Sama juga kita tidak tahu banyak soal kelemahan dan keunggulan PAK FA, ini menjadi rahasia Rusia untuk teknologi-teknologi kritis. Itulah proses pengembangannya tidak memakan waktu singkat. Ditemukannya masalah dalam pengembangan justru menjadikan penelitian dan pengembangan lebih baik lagi demi menghadirkan senjata canggih di pasar ekspor dunia. Baru-baru ini pihak Sukhoi meluncurkan set aplikasi paten yang berhubungan dengan fitur siluman PAK FA.

Satu hal yang pasti, bahwa setiap proyek pembangunan pesawat tempur generasi kelima akan menemui masalah yang serius. Kita juga mengetahui (walaupun sedikit) masalah pada pengembangan pesawat tempur generasi kelima J-20 dan J-31 China. Memang industri pertahanan China dinilai kurang berpengalaman dalam membuat pesawat tempur dibandingkan Rusia dan Amerika, namun tidaklah bertanggung jawab apabila kita berasumsi bahwa proyek China ini gagal lalu akan dihentikan atau PLAAF tidak akan mengoperasikan pesawat ini. Semuanya adalah proses.

*PAK FA T-50 versi India


8 Responses to "IAF: Pesawat Generasi Kelima Rusia Tidak Sesuai Harapan"

  1. India minta kerjasama bikin Pizza tapi harga dan bahan pake standar martabak... ya ga kena sama Russia. India pelit dan Russian medit, apa ga sama ya???

    ReplyDelete
  2. saat nya indonesia untuk ikutan masuk ke program Pak-Fa T-50 russia nih...tinggal bagaimana kemauan pemerintah dan Dpr saja untuk menggelontorkan Dana Milyaran Dollar.
    lebih baik keluar Duit untuk T-50 ketimbang program kerjasama dengan Korsel yg belum ada ujud barang nya...hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bujet pemerintah aja defisit, duit dari mana milyaran dollar?

      Delete
  3. kok sama galaunya ya..... apa memang saudara kembar ya....... indonesia dan india

    ReplyDelete
  4. bisa jd pesawat siluman paling berkelas nanti nya kfx ifx.....di liat dari smw produk elektro di dunia....korea skrg jd number one

    ReplyDelete
    Replies
    1. kasian, anda jadi korban sales korea, eletronik korea mana yang lebih maju? prosesor android mereka saja masih kalah efisien dari buatan taiwan dan amerika, korea itu anak bawang untuk urusan pesawat tempur, masih harus berguru sama jepang dan china. baru bisa bikin T-50 (f16 kw) saja menghayal mau punya pesawat secanggih pakfa, sono belajar dulu bikin f35 sama amerika (jangan lupa belajar bikin mesinnya, tar punya pesawat ga punya mesin lagi)

      Delete
  5. wah gak sabaran nih india.

    ReplyDelete
  6. Semuanya ada imbalannya,ibarat guru tdk pernah memberikan ilmu seluruhnya pd murid,itu untuk antisipasi muridnya bsa jadi murtad/berhianat.itu lumrah.beda dgn RI belajar tdk pada guru yg ahli walaupun tdk semua diberikan.

    ReplyDelete

Komentar tidak lagi dimoderasi, namun fitur anonim kami tiadakan. Gunakan akun Google atau akun terdaftar lainnya untuk berkomentar.