Latest News

Singapura Beli 6 Sistem Radar AN/TPQ-53 dari AS

Sistem radar AN/TPQ-53

Defense Security Cooperation Agency (DSCA) pada hari ini menotifikasi Kongres AS tentang kemungkinan penjualan 6 unit sistem radar AN/TPQ-53 Counterfire Acquisition kepada Singapura dan peralatan yang terkait, suku cadang, pelatihan dan dukungan logistik dengan perkiraan biaya AS$ 179 juta (sekitar Rp 2 triliun ).

Sebelumya pemerintah Singapura telah mengajukan permohonan untuk membeli 6 unit sistem radar AN/TPQ-53 yang kemampuan pindai sektornya 120 derajat, perangkat lunak, peralatan pendukung simulator, generator, unit daya, publikasi dan dokumentasi teknis, cadangan dan peralatan perbaikan, live fire exercise, peralatan komunikasi tambahan, peralatan dan perlengkapan uji coba, pelatihan dan peralatan personil, dan dukungan teknis dari pemerintah AS dan kontraktor, repair dan return, Quality Assurance Teams, dan elemen atau program dan dukungan logistik terkait lainnya. Biaya diperkirakan sebesar AS$179 juta.

Usulan penjualan yang diajukan oleh DSCA AS ini akan memberikan kontribusi bagi kebijakan luar negeri dan keamanan nasional AS karena akan meningkatkan kemampuan pertahanan Republik Singapura untuk berkontribusi untuk keamanan regional, yaitu untuk kontra pembajakan dan kontra terorisme dan terus menstabilkan chokepoint kritis dimana banyak barang yang dibutuhkan dunia dikirimkan melalui kawasan Asia Pasifik terutama Selat Malaka.

Pemerintah Singapura berniat untuk menggunakan sistem radar AN/TPQ-53 untuk memodernisasi Angkatan Bersenjatanya. Pembelian sistem radar ini akan meningkatkan kemampuan pertahanan dasar Angkatan Darat Singapura. Radar akan mereduksi kerentanan terhadap serangan dan memberikan informasi bagi Angkatan Darat Singapura untuk menanggapi serangan tersebut. Sistem radar ini akan menjadi aset penting bagi Singapura untuk terus melindungi atau mencegah potensi ancaman. AS menyebutkan Angkatan Darat Singapura tidak akan mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan sistem radar ini.

AS mengatakan, usulan penjualan peralatan dan dukungan tersebut tidak akan mengubah keseimbangan militer di kawasan Asia Pasifik khususnya di Asia Tenggara.

Kontraktornya adalah Lockheed Martin Corporation di Syracuse, New York. Tidak ada perjanjian tambahan terkait potensi penjualan ini. Selanjutnya, pemerintah AS dan perwakilan kontraktor akan terbang ke Singapura untuk melihat kesiapan Singapura.

Usulan penjualan ini memang diperlukan dalam hukum penjualan alutsista AS ke luar negeri, bukan berarti penjualan sistem radar ini sudah disimpulkan.


6 Responses to "Singapura Beli 6 Sistem Radar AN/TPQ-53 dari AS"

  1. Ayo indonesianya sudah saatnya beli S-300 russia, singapura aj beli, masa indonesia nggak, makanya kalo aj uangnya nggak di korup, indo udh bisa beli banyak alutsista...!!

    ReplyDelete
  2. negeri segede pulau madura di penuhi alutsista seabreg, bagai sarang lebah,,
    radarnya bisa menembus sampai wilayah indonesia ,

    bagaimana dengan pemerintah kita menyikapinya? Apa TNI harus dan masih bersabar, ausie sudah menambah F-35,singapura menambah F-15 SE,,

    indonesia menambahnya kapan pak pur

    ReplyDelete
  3. prcuma kalau smua alutsista nkri canggih tapi kualitas personilnya masih diragukan....
    tingkatkan terus profesionalisme tni ..........

    ReplyDelete
  4. Negara Asean sudah mulai berpikir maju dalam hal pertahanan, mereka sudah mencari alutsista yang Efektif dan efisien serta keberadaannya (alutsista) tersebut bikin musuh atau negara lain ciut dan berpikir beruang kali untuk cari gara gara, saya heran dengan petinggi di negara ini, yg punya titel Magister keatas kok analisanya cetek yg di beli malah peralatan perang ecek ecek...harusnya prioritas kita Pesawat Tempur yg berquaitas, Kapal Perang atau Kapal Selam yg punya daya jelajah dan mobilitas tinggi, Radar Canggih dan yg paling penting Sistem pertahanan udara jarak menengah dan Jauh...Bagaimana Menurut kalian....apa yg salah petinggi kita yg kelihatan bengong....!!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan lupa juga soal uang, anggaran pemerintah kita itu pas-pasan. Negara ini ada 230juta penduduk, butuh duit banyak buat ngurusnya.

      Delete
  5. andaikan para korupsi dihukum mati seperti china melakukanya alhasil pembangunan disegala bidang seperti pembelian alutsista akan berkembang dengan pesat dan modern...hanya factor korupsi dan birokrasi yg dari sekarang menghambat pembangunan lebih baik pilih orang untuk menjadi borokrasi yg melayani masyarakat adil dan makmur tentunya..

    ReplyDelete

Komentar tidak lagi dimoderasi, namun fitur anonim kami tiadakan. Gunakan akun Google atau akun terdaftar lainnya untuk berkomentar.