Search
» » » Pesawat Tempur MiG, Si Canggih yang Kurang Dikenal

Produsen pesawat tempur MiG Rusia "Biro Desain Mikoyan" telah mengalami masa-masa sulit dalam beberapa tahun terakhir. Padahal selama ini, kata "MiG" sudah menjadi simbol kekuatan penerbangan militer Uni Soviet. Saat ini, meskipun memiliki sejarah yang harum, nyatanya Mikoyan mengalami kerugian setiap tahun dan menjadi penerima reguler dari subsidi pemerintah Rusia.

MiG-29 Hongaria
MiG-29 Angkatan Udara Hongaria saat Koksijde Airshow 2005 di Belanda
(Kredi foto : Coert van Breda / nl.wikipedia)

Perspektif di pasar senjata internasional ternyata tidak mendorong perbaikan situasi Mikoyan. Pada akhir 2011 lalu, ada kontrak untuk menyelesaikan pengiriman 20 MiG-29 ke Myanmar, 45 MiG-29 K-UB untuk program kapal induk India, ditambah order untuk mengirimkan 62 MiG-29 untuk Angkatan Udara India dan pesanan 24 MiG-29M/M2 untuk Angkatan Udara Suriah. Pesanan lain juga ada untuk MiG. Walaupun begitu, portofolionya masih rendah, MiG masih jauh di belakang saingan dalam negeri utamanya yaitu Sukhoi.

Selain itu, persaingan di pasar ekspor saat ini sudah sangat tinggi. Krisis ekonomi bahkan mendorong negara-negara yang merupakan bagian dari Pakta Warsawa, atau memiliki perjanjian kerjasama militer dengan Uni Soviet, untuk menjual stok alutsista dan pesawat militer mereka, termasuk pesawat MiG-29 yang mereka gunakan. Hongaria baru-baru ini juga mengumumkan batch terakhir penjualannya.

Harapan tinggi pun diemban oleh pesawat tempur MiG model baru yaitu MiG-35 -representasi dari pesawat tempur generasi 4++-, namun pesawat ini juga belum memiliki keberuntungan di pasar internasional karena beberapa alasan. Ketika memulai debutnya pada tahun 2007, MiG-35 sebenarnya telah menarik perhatian luas dunia internasional di pameran-pameran udara. Namun, hingga kini pihak Mikoyan sendiri belum menerima satu pun kontrak penjualannya. Pukulan telak pun diberikan oleh program modernisasi MMRCA (Medium Multi-Role Combat Aircraft) India. Pesawat tempur Rusia pun bahkan tidak masuk ke short list, kalah oleh Dassault Rafale dari Prancis dan Eurofighter Typhoon dari Inggris dkk.

Para analis dan media mengemukakan berbagai alasan kekalahan Rusia atas tender MMRCA India ini. Jika kita hanya berbicara tentang sisi teknis masalah ini, mayoritas akan cenderung berpikir bahwa militer India menolak pesawat tempur Rusia karena mesin RD-33MK, yang notabene adalah mesin versi upgrade dari RD-33 buatan tahun 1972. Selain itu, ada laporan yang menyebutkan bahwa India tidak menyukai sistem radar Zhuk-AE, padahal sistem radar ini menjadi senjata promosi dari MiG-35. Menurut desainer Rusia, sistem radar Zhuk-AE ini akan menjamin kemenangan dalam pertempuran udara terhadap pesawat generasi 4+. Selain itu, sistem radar MiG-35 juga diklaim sebanding dengan yang digunakan pesawat generasi ke-5.

Jika kita berbicara mengenai alasan lain selain kinerja teknis pesawat, maka tampak bahwa ada yang tidak biasa dalam motif para penyelenggara tender. MiG-35 memiliki biaya jauh lebih murah dari para pesaingnya Dassault Rafale dan Eurofighter Typhoon (USD 10,5 miliar untuk 126 pesawat ditambah transfer teknologi dan lisensi). Selain itu Angkatan Udara dan Angkatan Laut India telah memiliki sekitar seratus MiG-29 dengan berbagai modifikasi. Oleh karena itu, membeli pesawat tempur sejenis MiG-29 seharusnya akan menjanjikan penghematan biaya.

MiG-35
MiG-35 (Foto via worldsairforce.webs.com)

Menjelaskan tentang perubahan "kiblat" India ini, para ahli MMRCA cenderung menyinggung keinginan India adalah untuk diversifikasi program kerja sama militer. Singkatnya, India ingin membatasi ketergantungan onderdil pesawat dari produsen Rusia, dengan mempertimbangkan kontrak yang sudah ada yaitu pembelian 230 pesawat tempur Su-30MKI dan program pengembangan bersama pesawat tempur generasi kelima T-50/proyek PAK-FA.

Kegagalan Rusia dalam tender India ini jelas memiliki dampak yang sangat negatif pada prospek MiG-35. Tahun ini, Kementerian Pertahanan Rusia memang memutuskan untuk membeli 24 MiG-35. Tapi apakah itu hanya untuk "melestarikan" alutsista unik atau hanya sebuah percobaan sebelum akhirnya menggantikan 200 MiG-29 yang tersisa di Angakatan Udara Rusia dengan pesawat yang lebih baik? Waktu yang akan menjelaskannya.

Adapun masalah lain yang dihadapi Biro Desain Mikoyan, adalah perusahaan ini sejak bertahun-tahun terkait dengan pengembangan khusus dari komplek industri militer Rusia sejak masa Uni Soviet. MiG dan Sukhoi bekerja secara paralel untuk mengembangkan pesawat tempur ringan dan berat, dan memang hal itu juga dilakukan oleh Amerika Serikat.

Perbedaannya dengan Amerika Serikat, ketika pesawat harus melewati produsen komersial ke layanan, diperlukan penyatuan maksimum pada komponen utama, sedangkan MiG dan Sukhoi tidak. Hasilnya sebuah pesawat dual control lahir seperti F-15 oleh Boeing dan F-16 oleh Lockheed Martin, keduanya memiliki mesin yang sama yaitu Pratt & Whitney F-100. Angkatan Udara AS tidak hanya berhasil menghemat biaya transisi pesawat-pesawat generasi keempat itu, tetapi juga penghematan pada biaya pemeliharaan dan upgrade di masa depan nantinya.

Di Uni Soviet, situasinya agak berbeda. MiG dan Sukhoi dikembangkan dengan lembaga penelitiannya masing-masing, mengandalkan basis produksi masing-masing dan saling terlibat dalam kompetisi untuk mengeksploitasi sumberdaya ekonomi terencana. Kabar baiknya, Pemerintah Rusia berencana untuk menggabungkan perusahaan-perusahaan penerbangan Rusia seperti Mikoyan, Ilyushin, Irkut, Sukhoi, Tupolev, dan Yakovlev sebagai satu perusahaan baru yang bernama United Aircraft Corporation.

Manajemen industri pertahanan Rusia masih berpikir dengan ide "Great Patritic War," yakin bahwa masalah seperti itu cukup muda untuk diterima. Rantai produksi paralel dipandang sebagai cadangan mobilisasi yang secara dramatis akan meningkatkan produksi persenjataan militer dalam kasus perang skala besar. Namun penyatuan di masa depan antara Su-27 dan MiG-29 dalam keadaan seperti ini keluar dari pertanyaan. Uni Soviet mampu mempertahankan dua sistem independen pesawat tempur, tetapi Federasi Rusia tidak bisa.

Sesuatu yang seperti itu juga terjadi di Barat. Berakhirnya Perang Dingin menyebabkan penurunan tajam dalam belanja militer, perangkat keras militer generasi baru harganya melonjak berkali lipat dari sebelumnya. Jumlah produsen independen pesawat juga semakin berkurang, sedangkan sebagian produsen bergabung menjadi satu agar tetap bertahan hidup. Sebuah pesawat biasanya ada jika bisa diekspor. Semua industri pesawat harus belajar hidup sendiri, tidak bergantung kepada dukungan pemerintah.

Sukhoi memasuki periode baru dengan platform T-10 (nenek moyang flanker Su-27 dll) yang bisa dimodernisasi dan dimodifikasi sesuai kebutuhan pelanggan. Hasilnya pesawat generasi 4+ hasil klon dari Su-27 dan Su-30 laris manis di pasar internasional, sementara MiG "termenung" tanpa kontrak internasional yang signifikan dalam satu dekade terakhir. Sukhoi akhirnya menjadi raja di pasar internasional dengan tidak ada pemain Rusia lain di dekatnya.

Su-30MKI
Sukhoi Su-30MKI India saat Aero India 2009 (Foto :vishak / Wiki)

Model ekspor dari Mikoyan, Universal Light Fighter MiG-29 CMT, juga tidak memberikan harapan. Pesawat ini dinilai terlalu berat untuk kelasnya, MiG-29 CMT telah kehilangan karakteristik penerbangan relatif terhadap model aslinya MiG-29. Amunisinya juga terbatas dan harganya hampir sama dengan Sukhoi yang merupakan fighter kelas berat.

Mikoyan kemudian menggunakan seluruh sumberdayanya untuk memodernisasi mesin RD-33. Insinyur MiG kemudian menciptakan mesin RD-33MK, yang dipasang pada MiG-35, dengan kendali vektor dorong dan afterburner yang ditingkatkan. Namun, kepercayaan dari pelanggan potensial untuk mesin upgrade ini tidak ikut meningkat.

Dan lagi, model MiG ekspor memiliki pesaing yang kuat di pasar negara-negara dunia ketiga, khususnya menghadapi China dengan J-10 an JF-17 nya. Dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka, mereka memiliki keuntungan besar dan tidak terbantahkan di mata pembeli - harga ekspor pesawat China berkisar 10 juta dolar lebih murah dari pesawat Mikoyan Rusia.

Naasnya lagi, pelanggan potensial untuk pesawat tempur MiG hilang diantara brosur-brosur tentang pesawat tempur generasi 4+ lainnya dan ke-5. Bisa saja diantara negara-negara itu tidak mengerti apa yang mereka beli itu. Namun, fakta terjelasnya adalah bahwa memiliki pesawat generasi 4+ atau 5 dalam angkatan udaranya pasti akan memberikan kebanggaan, meskipun mahal dan secara teknis sulit.

Butuhkah Dengan Pesawat Tempur Generasi 4++ atau 5 ?

Jika ada pertanyaan tentang penerapan pesawat-pesawat tersebut ke dalam layanan, kemampuan teknis dan biaya peralatan yang dibutuhkan untuk menjamin pelaksanaan tugas militer tertentu tertutupi oleh definisi musuh potensial. Tren global yang terjadi saat ini.

Berdasarkan logika sederhana ini, pesawat generasi ke-5 dan semua generasi 4++ akan "kalah" dengan pesawat yang lebih mudah dan sederhana (kalah karena beberapa alasan tertentu), terutama di pasar negara dunia ketiga. Kompleksitas teknis dan fleksibilitas dari pesawat memang akan memberikan keunggulan strategis, tapi itu hanya terjadi jika jumlah pesawatnya mencukupi. Nah, untuk negara-negara tertentu, ini akan sulit dicapai karena tingginya harga pesawat-pesawat semacam ini. Ketika harus membeli pesawat canggih namun dengan harga selangit, angkatan udara dari negara yang memiliki kantong pas-pasan akan memiliki resiko "tidak ada dukungan udara dan pilot menjadi tidak terlatih."

Amerika Serikat menolak untuk menggunakan F-22 Raptor dalam konflik Libya karena pesawat ini memang bukan dirancang untuk menyerang target darat, ini juga yang memaksa orang untuk berpikir kembali (walaupun F-22 memang tidak dijual).

Asumsi di atas sebagian juga didukung oleh perilaku pelanggan potensial di akhir pameran udara Le Bourget Prancis 17-13 Juni lalu. Pelanggan kebanyakan hanya tertarik pada helikopter serang, UAV nEUROn dan P.1 HH Hammerhead, pesawat latih tempur yang murah dan mudah, atau pesawat-pesawat tempur ringan seperti Archangel Amerika atau Super Tucano EM 314B dari Embraer Brasil.

Di sisi lain, China juga mengumumkan rampungnya pengembangan pesawat latih tempur ringan JL-10, yang menjadi pesawat termurah di kelasnya -10 juta dolar ketimbang Yak-130 Rusia yang 15 juta dolar. Kemungkinan besar, ini adalah jenis pesawat yang akan menentukan wajah pasar penerbangan internasional dalam beberapa dekade mendatang. Negara-negara non-industri di Asia, Afrika dan Amerika Latin, serta perusahaan militer swasta, dijamin akan tertarik pada pesawat latih tempur China itu.

Krisis ini juga dilatarbelakangi karena meningkatnya harga satuan dan tingginya persyaratan untuk pelatihan pilot. Mengakibatkan jumlah negara yang mampu memiliki pesawat modern pasti akan menurun. Akibatnya, produsen penerbangan harus memilih antara pasar internal mereka yang sedikit atau lingkaran pelanggan potensial yang sanggup untuk mengakuisisi dan mengupgrade armada generasi 4++ dan 5 mereka.

Share !
«
Newer Post
»
Older Post

9 comments:

  1. mudah-mudahan industri dirgantara Indonesia bisa maju, supaya engga bergantung ama sukhoi mulu...

    ReplyDelete
  2. ini ada peluang untuk kerjasama pesawat fighter G4++, apakah Rusia membuka peluang kerjasama untuk membangun MIG 35 G4++/ G 5 untuk memenuhi kemandirian produksi pesawat Fighter dengan licensi pengembangan mesin baru sekelas SU 35S dengan nozle vectoring di buat dengan PTDI, secara kwalitas dan kepastian akan jauh Lebih baik ketimbang KFX/IFX, kita bisa analisa valuabilitas,dan kesetaraan dengan SU 35BM++ PTDI bisa jemput bola, ibarat gadis MIG 35 masih jomblo, jaka PTDI coba pinang siapa tau ada jodoh, Indonesia dan Rusia pernah berkencan zaman Bung Karno dengan Mig 17, MiG 21, apa bisa direload kembali OK.

    ReplyDelete
  3. Merindukan era Pak Habibi dan orang sperti beliau

    ReplyDelete
  4. Hancurnya pamor MiG lebih disebabkan buruknya penampilannya di Perang Teluk 2 dan di Kampanye Udara Balkan. Ibarat sitting duck, MiG 29 digasak oleh AMRAAM tanpa bisa membalas. Padahal pesawatnya versi paling standar alias kommerceskiy. Dan akibat embargo, MiG 29 keduanya terbang buta, tanpa radar, RWR dsb. Pantaslah keok. Lagian mesin RD 33 kayak mesin metromini, ngebul dan TBO nya cepat. Walau upgrade ke RD 33MK Morskaya Osa yang lebih kuat, hemat dan gak pake ngebul. Tapi image jelek tetap nempel. Dan lagi Zhuk AE, walaupun juga AESA, dianggap belum matang dibanding kompetitornya. Walau harga miring, tetap saja image buruk yang menang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. coba yang naik pilot rusia asli...kan man behind the gun....

      Delete
  5. Mig35/SU35 cocok untuk menggantikan alutsista yg telah usang ketimbang tetap bertahan dengan pesawat F16 upgrate mengingat luasnya Kedaulatan Negara Indonesia. Belajar dari pengalaman TNI AU pada saat manjaga Kedaulatan RI menggunakan F16 A/B mundur teratur terhadap F18 super hornet Astralia yang memasuki wilayah udara RI tanpa ijin disebabkan F16 A/B kalah spek terhadap F18 super hornet Astralia.

    ReplyDelete
  6. bener tu kata agan jhonrish sagala......

    ReplyDelete