Latest News

Terima Hibah F-16 Menyalahi Rencana Strategis

F-16 Blok 52
F-16 Blok 52 (Foto : SaeedKhan / photobucket.com via defence.pk)
 
Pernyataan juru bicara TNI Angkatan Udara, Kolonel Bambang Supriadi, yang memperingatkan pemerintah agar berhati-hati menerima tawaran hibah dari negara lain harus direspons serius. Senada Bambang Supriadi, DPR juga mencurigai ada motif tertentu di balik tawaran hibah alutsista dari negara lain.

Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin, Selasa, 4 Juni 2013, mengatakan, sejak awal pihaknya sudah mengkritisi keputusan pemerintah yang menerima hibah pesawat tempur F-16 bekas dari Amerika Serikat. Pasalnya, 24 unit F-16 yang dihibahkan itu sebelumnya teronggok di gurun Arizona. Pemerintah pun harus membayar lebih dari US$700 juta untuk membawa dan memperbaikinya.

Sesuai rencana strategis (Renstra) yang disepakati Komisi I, TNI AU seharusnya membeli 6 unit pesawat tempur F-16 Blok 52 keluaran terkini seharga US$600 juta. Namun, entah kenapa pemerintah tiba-tiba berbelok arah dan mengeluarkan dana lebih besar demi menerima pesawat yang sudah afkir. Akibatnya, jumlah pesawat tempur memang bertambah tapi tidak memberikan tambahan daya tangkal yang baik untuk udara Indonesia.

Menurut Hasanuddin, pemerintahan SBY kini mengulang kesalahan rezim Orde Baru pada 1991 yang kala itu menerima puluhan kapal bekas dari Jerman Timur untuk TNI Angkatan Laut. Saat itu pemerintah juga mengeluarkan anggaran besar, bahkan kini menanggung beban pemeliharaan karena kapalnya sudah kurang layak pakai.

"Ke depan pemerintah dan DPR harus duduk bersama untuk membuat definisi yang benar tentang hibah. Supaya hibah itu benar-benar murni tanpa motif politik negara lain yang sifatnya mengikat, apalagi hanya menguntungkan calo," ujarnya.



26 Responses to "Terima Hibah F-16 Menyalahi Rencana Strategis"

  1. Lebih tepatnya hati hati terhadap perwira TNI di kemenhanyang lulusan west point atau akademi militer amerika lainnya .... Mereka semua sudah dipilih dan dikader sebagai pintu masuk intervensi amerika.

    ReplyDelete
  2. Ya Tuhan,,,sadarkanlah para pemimpin bangsa ini agar bisa merubah harkat dan martabat bangsa ini agar lebih terhormat lagi, bukan bangsa yang terkenal sebagai bangsa "babu" dan bangsa "pengemis"...Amin

    saya mendukung TNI, lebih baik membeli barang barang baru walaupun mahal tapi sesuai kebutuhan daripada menerima hadiah tapi barangnya udah barang bekas. tentu kalau barang baru masa pakainya lebih lama dan kalo ada masalah pada barangnya kita bisa komplain ke vendornya. tapi kalo barang bekas? kemana kita harus komplain?kepada rumput yang bergoyang?...(miris)....bukan kuantitas barang yang jadi prioritas utama tapi kualitas barangnya...saya berharap ada penyelidikan dari anggota DPR RI untuk menyelidiki "sesuatu" dibalik ini, karena tugas DPR adalah pengawas eksekutif.
    Dan lagi pula kita harus waspada setiap menerima hibah dari negara lain sebab bukan tidak mungkin diantara barang barang tersebut sudah dipasangi alat alat penyadap super canggih yang tidak diketahui dan tidak terdeteksi oleh TNI sehingga rahasia militer kita bisa bocor keluar.

    ReplyDelete
  3. Ada udang dibalik batu! apa bener gratis? kayknya gak deh, secara amrik gitu loch..ini mah udah jelas ada maunya, amrik sama sekutunya tiba2 jadi baek sama Indonesia, udah pasti ini menyangkut kepentingan amrik dikawasan untuk membendung kekuatan militer china yang lagi agresive2-nya. apalagi adanya konflik klaim china dikawasan yang mengusik sekutu dekatnya yaitu pilipina plus ketegangan disemenanjung korea...semoga pemerintah kita bisa cermat lagi dalam ngambil keputusan jangan sampe terjebak dan terbawa arus permainan amrik. sebaiknya pemerintah harus lebih cerdas buat ngambil keuntungan dari situasi ini dengan ngambil ToT dari kedua negara tsb, amrik sama china untuk memperkuat dan mempercanggih alutsista militer kita...sambil nyelam minum air, sekali tepuk dapet dua lalat...hehe, masak kita mau dikadalin...

    ReplyDelete
  4. TB ne bongak, sudah tau proses sudah berjalan, tp br teriak2, knp tdk sewaktu pertama x opsi hibah ini di tawarkan TB & DPR menolaknya?? Cm cari sensari aja TB nee??

    ReplyDelete
  5. hibah F16 dari amrik tidak apa* tapi masih tetap membutuhkan 1 skuadron sukhoi 35 ,30 pantsir S1 dan 10-S 300/S-400 disamping orlikon...

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu buat mendinginkan otak formil ya bos he..he...biar gk terlalu kuciwa...

      Delete
  6. Saya perhatikan dan amat2in pengadaan alutsista dijaman pak sby nanggung, bisa mengomentari inhan dlm negeri kalau meneliti,mengembangkan dan memproduksi alutsista jng setengah2, tapi kalau dicari tahu alsn penyebab inhan dlm negeri stengah2 pasti ada alasannya spt yg dikeluhkan oleh PT. LEN bergerak dibidg penelitian,pengembangan dan produksi alutsista berupa radar dan alat komunikasi militer,yg mana ternyata pemerintah tdk membeli alat komunikasi dr PT. LEN mlainkan dr luar,inilah yg membuat trauma inhan dlm negeri kita bhw pemerintah tdk konsisten dng komitmen utk mendukung dan membangkitkan inhan dlm negeri kita.

    ReplyDelete
  7. hibah hanyalah bhasa diplomatisnya,tpi yg sesungguhnya pemerintah beli barang bekas.

    ReplyDelete
  8. TB kalau ngomong dipikir dahulu, jangan Asbun dan Ascu !!!

    6 Pesawat, kalau rusak 5, yang terbang cuma 1 !!!!

    24 Pesawat, kalau rusak 5, yang terbang 19 pesawat

    pesawat rusak biasanya butuh lebih dari 1 tahun untuk memperbaikinya.

    pesawat bekas, namun onderdelnya baru semua bang !!! karena udah di Upgrade

    ReplyDelete
  9. bares,,sudah menjadi nasi,,kita lihat aja,,pesawat nya mamputerbang berapalama,

    ReplyDelete
  10. Mario_bross42:
    yg jelas namanya bekas biaya perawatanya lbh besar. mending beli baru sudah bener2 jelas kekuatan baru + biaya perawatan jg sedikit.

    emangnya beli motor / mobil, kl beli baru takut kl dijual lg ruginya banyak, jd mending beli bekas.
    dr jaman pk karno mana ada kita jual alutsita bekas, yg ada kita beli bekas.

    ReplyDelete
  11. Saya dulu beli mobil bekas, sudah 30 tahun masih saya pakai terus sampai sekarang tidak ada masalah yang berarti.

    Soalnya saya rajin merawatnya.

    ReplyDelete
  12. TB ga ingat,lupa lupa ingat apa pura pura ga ingat... Jaman big mama nya berkuasa flanker yg di beli juga bekas...,F 16 buat training pilot2 muda dan patroli udah cukup.. Ada musuh baru hadapi pakai skua flanker yg tangguh tapi mahal operasionalnya....

    ReplyDelete
  13. @Anonymous
    stuju banget ma koment yg ini, koment yg lain hanya jualan mulut.

    ReplyDelete
  14. mario_bross42:
    Perlu di ingat pertempuran di udara berlangsung sangat cepat. kl kita patroli pake F16 bekas ada musuh baru flanker yg terbang keburu tuh target di hancurin musuh. heheeee
    kita harus memandang ancaman itu nyata dan besar. shg kita bs meminimalisir dampaknya.

    ReplyDelete
  15. Gak ada niat tulus dr negara itu, artinya pemerintah dibodohi atau sengaja membodoh untuk mencari keuntungan sendiri,,klo untuk alutsista jelas lebih baik rusia knpa harus masih ngambil dr amerika,,gak inget dulu pernah diembargo senjata.!

    ReplyDelete
  16. Pesawat rongsokan aja dibeli ,gak inget kita pernah diembargo hingga kita tidak bs apa2 saat ad pesawat luar main nylonong lewat tanpa permisi, harga diri bangsa terinjak

    ReplyDelete
  17. Mario_bross42:

    Setuju banget apa kata @ nuri iswanto
    Kita gk bisa apa2 Dg pesawat bekas apalagi pesawat hibah dr negara lain.
    Miris melihat pertahana udara kita, ada pesawat tempur negara lain menyusup kewilayah udara kita, F-16 kita cm bs gigit jari, krn mereka ompong nyaris tanpa senjata dibadan mereka.
    Semoga Dikemudian Hari Tembak jatuh itu pesawat musuh.
    Kejadian di Aceh. pesawat militer mendarat tanpa punya ijin, masalah hanya selesai dg permintaan maaf tanpa adanya sanksi. Kelihatan sekali kita Lemah. bahkan panglima seakan2 Menutupi dan menganggap angin berlalu Tanpa adanya investigasi resmi dr pusat yg mendalam sbg bahan buat selanjutnya

    ReplyDelete
  18. Amrik aj sdah pake F-35, tp indonesia msh aj maw dibohongi suruh pake F-16 apalagi itu brg sdah bekas... Sungguh terlalu...

    ReplyDelete
  19. betul tuh adista colls kita pakai pesawat f 16 bekas,walaupun di upgrade tapi kan tetap kalah sama f 35 mungkin sama pesawat f 18 tetap kalah , taktik amerika mungkin untuk memberi keuntungan pada sekutunya seperti australia untuk mengetahui apa kelemahan f 16 hibah amerik a jadi kalau f 18 lewat berlalu lalang dan f 16 di kirim untuk identifikasi dan terpaksa harus berperang dengan sekejap f 16 hibah kita jatuh terbakar

    ReplyDelete
  20. Sebaiknya pemerintah harus tetap berhati-hati, hibah tersebut membuat militer kita menjadi Lemah, belum lagi ada operasi intelejen di dalamnya,.... seharusnya pemerintah tetap menggunakan produk produk dari rusia yang sudah terbukti ketangguhannya. Dalam hal ini DPR kita harus bergerak mengkritisi hibah tersebut. Selin itu pula hrs ada upaya untuk meningkatkan pengembangan produk militer dalam negeri dalam semua matra, untuk menghindari ketergantungan asing.
    Thank, Bravo TNI, Be Careful.

    ReplyDelete
  21. Maaf ikutan, untuk diudara memang Indonesia mau perang, kan tidak untuk menjaga dan mengamankan NKRI, kalau mau prang lawan singapur berat deh apalagi lawan australia, TNI hanya mengejar ketinggalan dimana T 50, f 16, Su 27/30 & diperkirakan Su 35 udah direncanakan dipesan juga di tahun 2014-2019 paling tidak ada 3 skwadron SU 27/30/35 sampai pada tahun 2020 produksi KLF.

    ReplyDelete
  22. indonesia harus juga membeli sukhoi pakfa T50 steil

    ReplyDelete
  23. kalau negara lain seteru indonesia berusaha mendatangkan pesawat terkini dan (tercanggih) untuk barisan hadapan perang mereka.terbalik dengan indonesia yg lebih tertarik dengan hibbah.mungkin karena terbatasnya anggaran ,atapun ada agenda pribadi para petinggi negara yg tersembunyi.ok,kalau saya pribadi menilai tentang alutsista hibbah yg telah di datangkan pemerintah indonesia,khususnya pesawat tempur .mungkin juga sangat baik,sebab karena keterbatasan anggaran.asalkan barang hibbah ini tidak menjadikan sandaran maupun harapan tertinggi di ujung tobak sewaktu-waktu kalau terjadi perang dengan negara lain.karena pemberi hibbah mungkin sudah jelas dan sangat faham kemampuan barang pemberian mereka dan disamping itu tidak akan mendatangkan efect apa-apa bagi si pemberi.sebab itu di berikan.memang tidak gartis pasti ada biaya perbaikan dan sebagainya.tapi apakah tidak berbahaya buat pertahanan udara indonesia,dan bagaimana pengarunya terhadap kekuatan indonesia secara keseluruhannya di mata negara tetangga maupun negara lainnya yg menginginkan indonesia lemah dan takluk.kalau alutsista hibbah ini di buat hanya sekedar pelapis untuk menambah kekuatan maupun untuk mengisi celah2 yg kosong (power support) boleh jadi strategi ini di guna pakai (f-16 hibbah US).dan pesawat tempur sukhoi di tempat paling depan(kritical).tapi sukhoi jumlahnya cuma sedikit sekali..saya pribadi jadi heran,,alutsista yg di takuti negara luar khususnya yg kurang suka melihat indonesia aman ,maju dan makmur adalah sukhoi,kenapa indonesia tidak terus melihat pesawat itu saja kalau masih sama -barang barang impor.yg jelas kekuatan indonesia akan mempunyai effect gentar yg besar terhadap seteru indonesia.memang tidak bisa di jamin 100 persen kalau rusiapun tidak akan meng imbergo indonesia,sama seperti sikap china pada korea utara sekarang.siapa sangka segalanya bisa berubah dengan begitu saja.tapi yg jelas kalau di lihat secara kasar,''rusia lebih bersahabat walau pelit TOT.tampaknya pemerintah semakin tidak konsistent dalam menata pertahanan indonesia sekarang dan akan datang kalau terus2an begini.indonesia jadi tempat pembuangan sampah...kalau boleh di bandingkan dengan HANDPHONE,dulu NOKIA N95,sangat canggih dan bahkan terbaik waktu itu dan spesificasi terlengkap berbanding model lain,tapi sekarang handphone itu sudah ketinggalan zaman,sebab perkembangan teknologi semakin maju.(maaf sekedar perbandingan.walau tak semua benartapi mungkin ada sedikit persamaan,tapi lain alam).yg jelas pertahanan indonesia sedikitnya telah di racuni alut sista hibbah.dan kalau sampai merosak karena perkara hibbah tentang pengadaan pesawat tempur sukhoi family jelas2 indonesia rugi.dan pemimpin nagara saya rasa sudah mabuk...karena semakin banyak mendatangkan pesawat hibbah,semakin banyak pula keluar anggaran.dan apa bila banyaknya keluar anggaran untuk alutsista hibbah(rongsokan,besi dan mesin tua,komputer lama,senjata lama)semakin nipis modal indonesia,dan harapan untuk pesawat termodern dan tercanggih semakin jauh dari impian.karena modal sudah minim,lalu terpaksalah beli barang bekas semua,karena tidak punya pilihan lain....kantong kosong..!!!!.sementara negara lain duduk tersenyum melihat alutsista indonesia beberapa tahun kehadapan sudah terbatuk2 ,sering pergi puskesmas dan hospital,banyak biaya juga di gunakan.dan milik mereka masih mengkilat dan modern canggih dan tahan lama karena tenaga dan usia masih muda...bermulalah mereka coba main api dengan indonesia,sundul sana ,colek sini,untuk mencuri hak milik negara indonesia.mereka akan berani melecehkan indonesia sebab melihat mesin perang indonesia sudah tidak sebanding dengan mereka.walaupun banyak tapi ompong..dan bajul..tapi apakan daya suara rakyat takka n didengar .karena di cut dinding para koruptor atasan.kalaupun rakyat protes robohkan monas,paling-paling juga di penjara...haha jelas sekali KEKUATAN UDARA INDONESIA SANGAT RENTAN..!!!!!!..maaf para sahabat saya bukan pengamala militer jadi hanya menulis atas penilaian kasar saja.kurang faham dunia militer..

    ReplyDelete
  24. semua duitnya di belikan pesawat hibbah,jadi gak ada duit lagi buat beli su-35bm,ataupun sukhoi fak fa......

    ReplyDelete
  25. klo saya tetap percaya..pilihan pemerintah pasti yg terbaik dan dengan pertimbangan matang...dgn budget yg terbatas..pilihan rasional memang wajar klo pilih kuantitas dulu untuk melengkapi kekurangan armada..toh kemampuannya juga nggak kalah telak telak amat....saya percaya di tangan indonesia senjata apapun pasti menakutkan lawan dengan skill penerbangnya...bravo indonesia...

    ReplyDelete

Komentar tidak lagi dimoderasi, namun fitur anonim kami tiadakan. Gunakan akun Google atau akun terdaftar lainnya untuk berkomentar.