Latest News

Kapal Induk Thailand HTMS Chakri Naruebet

HTMS Chakri Naruebet, kapal induk pertama dan satu-satunya milik Thailand dibangun oleh galangan kapal Izar Spanyol (sebelumya EN Bazan) untuk Angkatan Laut Kerajaan Thailand (Royal Thai Navy / RTN). Pada bulan Februari 2005, galangan kapal Izar kembali berubah nama menjadi Navantia.

HTMS Chakri Naruebet
Kapal induk Angkatan Laut Kerajaan Thailand HTMS Chakri Naruebet di Laut Cina Selatan, 3 April 2001
Berdasarkan kontrak yang ditandatangani Spanyol dan Thailand pada Juli 1992, kapal induk Chakri Naruebet dibuat di galangan kapal Navantia El Ferrol di Spanyol dan ditugaskan untuk Angkatan Laut Thailand pada Maret 1997. Dengan desain yang mirip dengan kapal induk Spanyol Principe de Asturias, kapal induk ini dilengkapi dengan dek "ski jump" 12 derajat guna memungkinkan pesawat tempur sejenis Harrier lepas landas.

Fungsi utama kapal induk Thailand ini adalah pengawasan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan misi perlindungan, pencarian dan penyelamatan, tetapi dapat juga digunakan sebagai komando dan kontrol dan dukungan udara untuk armada kapal perang.

Desain

Kapal induk ini dilengkapi dengan enam pesawat Matador AV-8S (Harrier) bekas Spanyol yang bisa mendarat dan lepas landas pada jarak pendek (STOVL). Pada tahun 1999, hanya 1 Matador yang bisa beroperasi dan pada tahun 2006 armada Matador resmi dinonaktifkan. Kapal ini juga dilengkapi enam helikopter multi-misi Sikorsky S-70B Seahawk, yang didesain untuk peran anti-kapal selam.

Dimensi dek penerbangan adalah 174,6 x 27,5 meter, yang berujung pada ski jump 12 derajat, dapat mengakomodasi lima helikopter yang mendarat dan lepas landas secara simultan, dan bisa menampung sepuluh helikopter medium atau pesawat seukuran Harrier.

Kecepatan maksimumnya adalah 26 knot, dengan kecepatan jelajah 16 knot. Jangkauan diperkirakan sejauh 10.000 nm pada kecepatan 12 knot. Telah dilengkapi dengan dua spade rudder (kemudi sekop) dan empat stabilisator lambung.

HTMS Chakri Naruebet dan USS Kitty Hawk
Aerial view dari HTMS Chakri Naruebet (atas) dan kapal induk AS USS Kitty Hawk di Laut Cina Selatan, 3 April 2001
Sistem Komando dan Kontrol

Sistem komando dan kontrol HTMS Chakri Naruebet terdiri dari satu pusat informasi tempur dengan tujuh konsol Inisel dan konsol tambahan. Sistem tempur adalah Lowboy AN/UYK-43C dengan integrasi sistem senjata yang dilakukan oleh FABA, Spanyol.

Persenjataan

Kapal induk ini sudah didesain untuk bisa menggunakan rudal permukaan ke udara Seasparrow. Rudal Seasparrow menggunakan bimbingan radar semi-aktif, memiliki jangkauan 14 km dan kecepatan mach 2,5. Memiliki 3 peluncur Sadral enam sel MBDA untuk rudal Mistral. Mistral adalah rudal anti-pesawat jarak pendek yang mampu mengintersep rudal yang datang. Rudal Mistral ini dilengkapi dengan homing head yang dipasok oleh SAGEM dan memuat 3 kg hulu ledak tinggi yang sarat dengan bola tungsten. Rentangnya 4 km.

Sensor

HTMS Chakri Naruebet dilengkapi dengan radar jarak menengah Raytheon AN/SPS-52C 3-D, beroperasi di band E/F, radar kontrol helikopter dan navigasi Kelvin Hughes, radar navigasi Kelvin Hughes I-band, sistem navigasi satelit MX 1105 Transit/GPS Omega dan sistem URN 25 Tacan. Tidak dilengkapi dengan radar pencarian permukaan Raytheon AN/SPS-64 I-band dan radar kontrol tembak Thales Nederland (fomerly Signaal) STIR I/J/K-band.

HTMS Chakri Naruebet
Matador AV-8S (Harrier) di HTMS Chakri Naruebet, dekat pantai Thailand, 3 April 2001
Tenaga Penggerak (Propulsi)

Sistem propulsi kapal induk ini menggunakan sistem kombinasi diesel dan gas turbin (CODOG) yang terdiri dari dua pasang turbin gas GE LM-2500 yang setara dengan 44.250 hp dengan power turbin speed 3.600 rpm dan mesin diesel Izar-MTU 16V1163 TB83, masing-masing dengan daya output 6.437 hp pada 1.200 rpm, yang akan mendorong dua variabel baling-baling lima bilah (pisau).

HTMS Chakri Naruebet telah digunakan pada beberapa operasi bantuan bencana, termasuk pasca gempa bumi dan tsunami Samudera Hindia 2004. Di luar tugas bantuan bencana, kapal induk ini berangkat dari markasnya selama satu hari setiap bulan untuk latihan, dan juga sebagai transportasi keluarga kerajaan Thailand, yang akhirnya menimbulkan sindiran bahwa itu bukan kapal induk, melainkan sebuah yacht besar untuk keluarga kerajaan.


15 Responses to "Kapal Induk Thailand HTMS Chakri Naruebet"

  1. Walau RI tidak punya kapal induk sekelas yg dimilki Thailand, empat buah KRI kelas Makasar buatan PT PAL yg kita miliki kemampuannya membawa helikopter, tank, pasukan dan logistik, kehandalannya 2x lipat dari itu.hehehe... diam-diam tetap mematikan. jayalah TNI....:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. makanya semua tetangga kaget gan, waktu kita punya sekian unit LPD yang dibuat PAL. artinya kita juga bisa buat yang lebih guede lagi kalo mau....

      Delete
    2. Jangan kawatir gan,TNI AL akan membuat LHD (Landing Helikopter Dock) panjangnya 190 meter dan lebarnya sekitar 22 meter,bisa mengangkut 16 Heli sekaligus,itu sama besarnya dengan kapal induknya Thailand,hanya kapal Induk Thailand kurang bermanfaat,cuma dipakai jalan jalan kaluarga raja,cuma buat gaya gaya an aja,padahal sih gak butuh butuh amat.

      Delete
  2. kapan indonesia..setidaknya negara besar wajib punya armada besar dilaut juga..apa lg negara kepulauan

    ReplyDelete
  3. Buat apa punya kapal induk?Toh diatasnya ga ada pesawatnya?Mau jualan ketoprak di kapal induk?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada di dalam badan kapal

      Delete
  4. mnrtq,RI bl0m saatny mmiliki kpl induk..qt manfaatkn pul02 luar ibrt kpl induk,sbg benteng terluar.

    ReplyDelete
  5. Indonesia gak cocok punya kapal induk,selain harganya mahal dan biaya operasionalnnya tinggi. Lebih baik bikin kapal2 kecil dg rudal yang banyak,atau beli pespur yg banyak,taruh semua dipulau2 nkri,jauh lebih baik dari kapal induk.

    ReplyDelete
  6. @ anonim
    setuju bgt tuch kalo pulau pulau terluar terluar dijdikan pnya kemampuan kyk kapal induk. Jd punya nilai plus bisa untuk menghindari sengketa negara lain yg suka main klaim secara sepihak

    ReplyDelete
  7. Sbenarnya indonesia itu bisa klau mau beli kpal induk dari dulu,, cuma indonesia itu kgak sadar klau hasil alamnya itu dimonopoli oleh amerika..
    Lihat aja freeport,, hasil alamnya yg sharusnya buat kmakmuran bangsa dan negara, pada diangkutin keamerika
    Malah slentingan saya dngar lewat media bahwa anggaran dana untuk militer amerika, kbanyakan diperoleh dari berbagai negara yg hasil alamnya diabil olehnya.."
    Memang tuhan itu maha adil,, amerika negara yg tidak mempunyai hasil alam, cuma hanya unggul dari segi SDM dan teknologitpi mereka bisa mngendalikan ekonomi negara mereka
    Tapi disisi lain,sbagai contoh negara kita indonesia ini,sumber alam berlimpah tpi dari segi SDM nya tidak bisa berbuat apa² untuk menjaga hasil alamnya untuk kmakmuran bangsa dan negara, justru para pmimpin bangsa ini hnya memanfaatkan kesempatan lewat jabatan mereka ntuk saling berlomba demi memperkaya diri mereka masing²...SUBHANALLAH...!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setubuh eh setuju bro, cuma koreksi dikit, USA itu SDAnya berapa kali lipat banyaknya dari RI, cuma liciknya dia, semua SDA itu gak boleh dieksploitasi dulu, pake dulu negara laen, ntar kalo di luar udah pada abis, baru pake milik sendiri. contoh adalah minyak, gas, dan hasil tambang lain hingga uranium itu gak terhitung di alaska dan pasifik...

      Delete
  8. itu kapal induk apaan..? tanpa armada pesawat tempur, kapal induk cuma si gemuk yang empuk buat ditenggelamkan.... oleh freegate.!

    ReplyDelete
  9. jayalah thailand.....kalian punya kapal induk...indon ga punya...!!!!

    ReplyDelete
  10. perisai langit timurMonday, 06 January, 2014

    Biar situasinya menjadi jelas dan kebanggaan kita terhadap NKRI ini semakin kuat.... ini ada berita yg patut kita baca :

    2014 Indonesia Tak Perlu Impor Alutsista Lagi

    JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berharap tahun 2014, TNI tidak perlu lagi mengimpor alat utama sistem persenjataan (alutsista). Target tersebut akan terwujud apabila revitalisasi industri nasional berjalan sesuai rencana.

    "Kita ingin melakukan revitalisasi nasional, indusri strategis, dan industri pertahanan. Dengan demikian dalam lima tahun medatang sebagian besar keperluan militer kita bisa dicukupi dari industri dalam negeri," ujar SBY usai rapat dengan Menteri Pertahanan, Panglima TNI, Mensesneg, dan Menkopolhukam di Jakarta, Rabu (4/11/2009).

    Menurut SBY, sudah saatnya Indonesia mandiri dalam hal pemenuhan peralatan pertahanan. Jika itu terwujud maka dampaknya akan sangat berpengaruh terhadap sendi kehidupan lain.

    Dalam kaitan ini, Presiden optimistis target tersebut bakal terealisasi karena Indonesia sudah mulai terbebas dari dampak krisis tahun 1998. Dengan perencanaan strategis yang baik, managemen yang sehat, serta pendanaan yang memadai maka industri nasional Indonesia akan bergeliat.

    "Kini saatnya kita kembali melakukan revitalisasi seluruh industri strategis, terutama industri pertahanan," ujarnya.

    "Pemerintah memberikan rangsangan kepada industri-industri strategis dengan ditandatanganinya MoU pembelian produk Alutsita yang seharusnya sudah dapat di produksi dalam negeri" tambah SBY

    Tampaknya, pemerintah saat ini mulai gemar "memaksa" industri strategis untuk cepat berkembang dengan cara pembelian produk-produk alutsita strategis dalam negeri setelah melihat sukses PT. PINDAD dalam memproduksi Panser ANOA yang saat ini telah di pesan ribuan unit oleh berbagai negara.

    Untuk PT. PAL, galangan plat merah ini telah berhasil "di paksa" pemerintah untuk memproduksi Korvet Sigma V dan Kapal Induk Flat Deck, kini PT. PAL dituntut untuk dapat memproduksi Kapal Selam kelas Kilo dengan order pertama sebanyak 12 Unit dari TNI-AL.

    Sedang untuk PT. DI, pemerintah telah menghadiahkan pemesan Pesawat Tempur (fighter) sebanyak 50 unit dari 60 Unit dianggarkan, yang memaksa PT.DI bekerjasma dengan Korea Selatan untuk memproduksi pesawat T-50 Golden Eagle yang masih satu varian dengan F-16 Fighting Falcon, dengan menelan investasi 8 Milyar USD.

    Sementara itu pada saat yang sama, juru bicara TNI Marsekal Muda Sagom Tamboen mengatakan "sejalan dengan program Pemerintah, pada saat ini masih ada dua keinginan yang belum terlaksana, yaitu pembuatan Tank oleh PT. PINDAD, dan produksi Peluru Kendali jarak 1000 km dan 1500 km yang penelitiannya masih dilakukan oleh PT. PINDAD dan LAPAN"

    "Untuk produksi Tank oleh PT. PINDAD, kita harus pahami keterlambatan tersebut, dikarenakan membanjirnya pesanan Panser ANOA, namun untuk Peluru Kendali, kami menargetkan 2020 produksinya telah siap dioperasikan" tambahnya

    (Iman Rosidi/Trijaya/ANTARA

    ReplyDelete
  11. Jgn cuma lomba2 bikin senjata. perut rakyat nmr atu bos. Jgn dipaksakan kl g mampu ya udh. Ingat keruntuhan uni soviet bos.

    ReplyDelete

Komentar tidak lagi dimoderasi, namun fitur anonim kami tiadakan. Gunakan akun Google atau akun terdaftar lainnya untuk berkomentar.