Latest News

Membangun Pesawat Berbasis Kapal Induk Itu Tidak Mudah

J-15 di atas Liaoning

Uji coba jet tempur China di atas kapal induk pertamanya merupakan lompatan besar bagi kemampuan Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China. Debut pertama kapal induk China Liaoning dan pendaratan pertama pesawat tempur J-15 buatan China pada akhir November lalu merupakan fakta bersejarah, menandai munculnya kekuatan kapal induk baru di dunia.

Mengembangkan pesawat tempur bukan perkara yang mudah, butuh bertahun-tahun untuk uji coba, kesalahan dan tidak sedikit risiko yang harus ditanggung. Sementara ada niat tak terbendung China untuk meningkatkan kekuatan angkatan lautnya, seorang pilot yang pertama kali mendaratkan J-15 ke kapal induk Liaoning membeberkan beberapa fakta yang belum pernah kita dengar. Banyak hal yang telah berhasil dilakukan China, namun begitu juga masih banyak kesalahan. Hal ini setidaknya menimbulkan pertanyaan apakah armada tempur kapal induk China memang akan siap tempur dalam waktu dekat.

Setidaknya ada tiga insiden yang terjadi pada pesawat tempur J-15 sejak Angkatan Laut China membentuk armada pesawat tempur kapal induk pada akhir tahun 2006. Insiden-insiden tersebut dipublikasikan beberapa waktu lalu oleh website China "Sina." Informasi ini diperoleh secara langsung oleh Sina dari otoritas militer China.

Semua insiden terjadi dalam rentang bulan Juni 2011 hingga November lalu. Pada insiden pertama, seorang pilot yang tidak disebutkan namanya -hanya disebutkan sebagai "Pilot Tes C"- sedang bersiap-siap mendaratkan J-15 di pusat uji terbang militer di Xi'an, pusat China, namun lampu peringatan menyala merah, ini menunjukkan adanya kebocoran hidrolik.

Pilot Tes C tersebut langsung menurunkan landing gear (roda pendaratan) pesawat sebelum hidrolik benar-benar tidak berfungsi. "Pilot Tes C memegang erat kemudi, dan terus menjaga keseimbangan pesawat," lapor Sina. Ia akhirnya mendarat, namun ketiadaan hidrolik berarti ketiadaan rem juga. Kru darat di lapangan udara sudah memasang pencegah kecelakaan -kemungkian besar adalah kabel besar yang dapat tersangkut pada tailhook* J-15- dan J-15 untungnya mendarat dan berhenti sendiri di landasan pacu. 

Insiden darurat itu bukanlah hal yang  mengejutkan bagi China. J-15 merupakan pesawat kloning dari varian Sukhoi Su-27 Rusia. Tiruan China pada Su-27 lainnya adalah J-11B, yang memiliki masalah serius pada kontrol. "Program J-11B dalam masalah besar," kata seorang sumber AS mengatakan kepada Defence News. "China telah banyak kehilangan pesawat dalam kecelakaan." Tampaknya Pilot Tes C "batal" menjadi korban berikutnya.

Beberapa waktu kemudian, "Pilot Tes B" sedang melakukan pendaratan pada landasan kapal induk tiruan, namun tiba-tiba kecepatan J-15 nya berkurang. Salah satu dari dua mesin telah gagal - kebakaran dan ledakan bisa saja terjadi. Pilot Tes B dengan cepat mengkalkulasi kecepatan, ketinggian dan jaraknya dari landasan pacu dan akhirnya "berhasil" mengatasi permasalahan mesin yang gagal.

Hanya air traffic controllers (pengendali lalu lintas udara) dan sang Pilot Tes B sendiri yang mengetahui bagaimana pesawat itu nyaris mengalami kecelakaan. Menurut Sina, semua kru di lapangan terbang yang menyaksikan pendaratan pesawat itu tidak menyadarinya, yang mereka lihat hanya J-15 yang mendarat dengan mulus di landasan pacu.

Insiden ketiga lebih dramatis. "Pilot Uji A" melakukan simulasi pendaratan arrested (ditangkap dengan kabel), menggunakan tailhook J-15 untuk menangkap kabel baja yang membentang di landasan pacu yang konfigurasinya sama pada kapal induk Liaoning, penggunaan kabel ini akan membuat pesawat yang mendarat berhenti total pada jarak 100 meter. Untuk uji coba ini, J-15 yang mendarat itu meluncur dengan cepat di landasan pada kecepatan 125 mil/jam, dengan tujuan untuk menangkap satu dari dua kabel di ujung lapangan terbang dengan tailhook.

J-15 yang didaratkan Pilot Tes A berhasil menyentuhkan tailhok di kawat pertama, namun gagal mengait, menghentakkan ekor pesawat ke udara dengan disertai suara keras. "Semua kru yang menyaksikan kejadian itu takut dan berkeringat dingin," menurut Sina. Namun kawat kedua segera diaktifkan dan akhirnya J-15 yang meluncur cepat itu berhenti.

Pada 23 November, Pilot Tes A yang akhirnya menjadi pilot yang pertama kali mendaratkan J-15 ke kapal induk Liaoning, terbang di lepas pantai China. Pada pukul 9:08 pagi waktu setempat, ia mendarat dan berhasil tersangkut di kabel kedua dari empat kabel. Kru dek Liaoning bertepuk tangan. Sebuah misi yang penuh risiko yang harus dijalankan oleh Pilot Tes A. Namun China akhirnya bisa membuktikan bahwa pilotnya dan J-15 bisa diaplikasikan pada kapal induk Liaoning. Dengan pengembangan dan penelitian yang lebih intensif di masa mendatang, bukan tidak mungkin suatu saat kekuatan armada kapal induk China setara dengan AS atau Rusia.


*Kait yang melekat pada bagian belakang pesawat untuk menangkap kabel guna memperlambat kecepatan saat mendarat


2 Responses to "Membangun Pesawat Berbasis Kapal Induk Itu Tidak Mudah"

  1. mereka berusaha dgn keras dan mereka mendapat hasil yg setimpal,good job..
    menurut gw tuk kedepan nya bkn cm menyayingi US ato Rusia lg walopun mngkn mase tertinggal skrg tp suatu saat mngkn di atas mrk jk melihat perkembangan2 yg ckp spektakuler akhir dekade ini yg sebelum nya tdk prnh di bayangin dan selamat tuk kerja keras mereka..

    ReplyDelete
  2. berkaca ke cina jadi seorang peminpin hasilnya bisa di liat ulet kerja kerras yali ambisi di samping berdoa ,atau malah sebaliknya ketawa 2 anak bangsa pada jadi babu ,hanya kerbau dunguuuu diam geluh malas .

    ReplyDelete

Komentar tidak lagi dimoderasi, namun fitur anonim kami tiadakan. Gunakan akun Google atau akun terdaftar lainnya untuk berkomentar.