Latest News

India, Negara "Adidaya" Tanpa Kapal Induk

India bisa dikatakan sebagai negara adidaya regional, namun tidak memiliki sebuah kapal induk pun yang beroperasi di laut lepas. Kapal induk satu-satunya milik India, yaitu INS Viraat usianya sudah 54 tahun, itu pun dalam beberapa bulan kedepan tidak bisa beroperasi. Hal ini terkait reparasi besar INS Viraat yang dimaksudkan agar dapat dioperasikan lagi setidaknya untuk 3-4 tahun. Sedangkan, samudera Hindia saat ini telah menjelma menjadi teater strategis baru antara India dan China. Kapanpun, konflik karena dendam lama ini bisa terjadi.

Sebaliknya, China telah mengambil langkah besar. Setelah tahun lalu mereka mendapatkan kapal induk pertamanya, Liaoning 65.000 ton, Beijing kini semakin gecar membangun kekuatan untuk memperluas operasi di laut.

INS Viraat
INS Viraat, kapal induk tua satu-satunya milik India
Jika China saat ini menilai kapal induk sebagai simbol dari bangsa yang besar, AS sejak dulu telah menyadari peran kapal induk untuk "menguasai dunia." Saat ini teater perang AS telah berpindah ke wilayah Asia-Pasifik, setidaknya 6 dari 11 kapal induk (carrier battle groups) AS akan ditempatkan di wilayah tersebut. Setiap kapal induk AS berbobot lebih dari 94.000 ton dan mampu mengakomodasi 80-90 pesawat tempur.

Sebenarnya India tidak tinggal diam. India juga sudah memesan sebuah kapal induk (bekas) dari Rusia yang dinamai INS Vikramaditya 44.570 ton (sebelumnya bernama Admiral Gorshkov) yang diperbarui dengan biaya 2,33 miliar dolar AS. Namun pengiriman terus tertunda karena berbagai kendala, dan akhirnya pada Desember lalu Rusia mengonfirmasi akan mengirimkan kapal induk ini pada kuartal terakhir tahun ini.

Angkatan Laut India dipastikan juga belum bisa mendapatkan kapal induk IAC ( indigenious aircraft carrier ) 40.000 ton buatan dalam negeri yang saat ini dibangun di galangan kapal Cochin sebelum 2018. Rencana pembangunan kapal induk kedua India 65.000 ton juga masih menjadi angan-angan belaka.

INS Viraat, satu-satunya kapal induk "sakit" yang dimiliki India saat ini, adalah kapal induk bekas yang sebelumnya bernama HMS Hermes yang diakuisisi oleh India dari Inggris pada Mei 1987, saat ini sedang "turun mesin" dan setidaknya membutuhkan waktu delapan hingga sembilan bulan untuk bisa beroperasi kembali. Pekerjaan pertama dilakukan di galangan kapal Kochi untuk memperbaiki lambung dan semua bagian bawah air lainnya. Selanjutnya akan dikirim ke Mumbai, untuk mendapatkan boiler, propulsi dan perombakan bagian teknis lainnya.

INS Vikramaditya
INS Vikramaditya saat ini masih menjalani uji coba laut
Sebenarnya India hanya berniat mengoperasikan INS Viraat selama 10 tahun sejak diakusisi pada tahun 1987, namun negoisasi yang berlarut-larut dalam hal reparasi Admiral Gorshkov dan penundaan lama dalam meluncurkan proyek pembuatan kapal induk dalam negeri, menjadikan India harus tetap menggunakan INS Viraat.

INS Viraat telah mengalami serangkaian refits, dan perbaikan besar untuk "kehidupannya" berlangsung antara tahun 2008-2009. Dengan usianya saat ini, INS Viraat sudah kehilangan "giginya". Angkatan Laut India saat ini pun hanya memiliki 11 pesawat Harrier jump-jet (khusus kapal induk khas Inggris) untuk beroperasi di dek nya, belum ada pembelian baru untuk pesawat berbasis kapal induk.

Ironisnya, sementara INS Viraat hanya memiliki 11 pesawat yang tersisa, India membeli 45 pesawat tempur MiG-29, dipesan dari Rusia dengan biaya lebih dari 2 miliar dolar yang dimaksudkan sebagai pesawat yang akan beroperasi di dek INS Vikramaditya, sedangkan kapal induk ini belum ada. Jika sesuai rencana pun, India hanya memiliki 2 kapal induk yaitu INS Vikramaditya dan IAC setelah tahun 2018. (FS)


9 Responses to "India, Negara "Adidaya" Tanpa Kapal Induk"

  1. Indonesia dan India merdeka dari penjajah hampir bersamaan waktunya, tapi kenapa India sudah mampu membuat pesawat tempur sendiri, meluncurkan satelit dengan roket milik sendiri, dan membuat rudal Brahmos sedang Indonesia belum ? India menjalin kerjasama militer dengan Rusia dan hasilnya banyak Transfer Technology yang dia dapat sedang Indonesia, memilih dekat dengan AS dan bertahun-tahun hasilnya cuma embargo suku cadang F-16. Jadi sapi perah Paman Sam, di mana kontrak karya kita cuma dapet 1 % royalti emas sedang perusahaan multi nasional AS, Freeport, mendapat 99 % bagian royalti. Sangat tidak adil. Amerika sangat-sangat pelit dalam soal transfer technology, saya tidak pernah mendengar negara itu mau melakukan transfer teknologi ke negara-negara lain termasuk Indonesia. Tapi AS sangat obral dalam memberi beasiswa ilmu-ilmu sosial seperti ilmu ekonomi agar teknokrat-teknokrat kita bisa jadi 'mafia berkeley', agen pembuka akses pasar produk-2 AS, investasi bebas pajak Exxon atau Newmont, membangun ifrastruktur hukum yang memudahkan perusahaan AS mengeruk kekayaan alam Indonesia, dan pembodohan lainnya. Sekarang pun Dephankam lebih memilih hibah 24 buah pesawat F-16 ketimbang beli Sukhoi dari Rusia.

    ReplyDelete
  2. Semua kelemahan pemerintah indonesia karena ulah agen asing!!!pemerintah kita masih sangat lemah kepada sogokan asing dalam meletak kan kebijakan nasional nya!!!sehingga negri kita bisa dengan mudah di stir oleh negri adidaya!!!maka nya!!lain kali kita pilih anggota dewan dan presiden yang cinta indonesia!!!bukan presiden cinta partai (sby,suharto)!!apa lagi presiden yang cinta diri sendiri(mega wati)

    ReplyDelete
  3. Kita butuh sosok pemimpin seperti bung karno.
    Yang gak mau di deikte sama negara asing.
    Bahkan presiden rusia stelah stalin nikita kruschev(kalo ga Salah) sampai mengagumi beliau.
    Sampai" negara ini dikala itu menjadi negara superpower bahkan mengunguli australia.
    Tapi apa yang terjadi sekarang??
    Pemimpin lebih memikirkan kehidupan partai politiknya daripada negaranya.

    ReplyDelete
  4. tuul, betuuul. pemimpin berani, tetapi bijaksana.

    ReplyDelete
  5. bagaimana bisa maju dan berkembang kalau di setiap anggaran ada mafia koruptor

    ReplyDelete
  6. Memang cukup prihatin dengan wabah hati pemerintah kita yang egoisme,lupa dia dipilih untùk mengabdi dengan negara bukan lagi untuk partai lebih2 diri sendiri,,kita ini kaya raya tapi tidak percaya diri,ubah pemikirañ kita bahwa kita lemah..kita SANGAT hebat..negara lain iri dengan kita,mari olah kekayaan kita untuk bangsa bukan dijual kepada amerikashit!!kalau perlu usir pt.freport AS yang merugikan,,sangan bodoh kita hanya dapat 1% dari tambang negara kita sendiri oleh pt.freportshit!!

    ReplyDelete
  7. Presiden penakut ya indonesia punya,pake acara ada yang mau kudeta lah,padahal kan cuma kegiatan sosial


    Lihat Korea Utara,negara dengan puluhan tahun di embargo barat,masih tetap berdiri tegak dengan teknologi yang mandiri...

    Indonesia apa,kerja keras habibie tidak ada dihargai sama sekali...

    Dibilang sekolah tapi gaya berpikir kaya orang primitif

    ReplyDelete
  8. Gw paaling kessal sama prresiden kitaa yg satu ini..
    Br menjaaabbat satu kali bannyak pulau kita yg lepas kke negara lain. Bikin sakit hati ngerasainya.....
    Buat άƿά TNI kl ggk dikirim ke medan tempur buat menjaga kedaulatan NKRI

    ReplyDelete
  9. pemimpin mencerminkan rakyat, karena rakyat yang pilih

    ReplyDelete

Komentar tidak lagi dimoderasi, namun fitur anonim kami tiadakan. Gunakan akun Google atau akun terdaftar lainnya untuk berkomentar.