Latest News

Proyek Rudal Baru Rusia dan India

Su-30MKI

Rusia telah menandatangani kontrak dengan India untuk integrasi rudal jelajah Rusia-India BrahMos untuk pesawat tempur multifungsi Sukhoi Su-30MKI. Pesawat tempur Su-30MKI adalah pesawat tempur yang diproduksi India dibawah lisensi Rusia.

Rudal BrahMos

Yang perlu diperhatikan, kontrak integrasi rudal BrahMos ke Su-30MKI itu ditandatangani pada bulan Desember 2012. Kabar itu baru terungkap pada malam pameran kedirgantaraan internasional "Aero India 2013"

Pameran diselenggarakan di Bangalore, India, mulai tanggal 6-10 Februari 2013. Dalam kontrak integrasi ini, pihak Rusia akan bertindak sebagai penasihat mitra India.

Su-30MKI

Rudal BrahMos dirancang untuk menghancurkan berbagai target maritim.

Su-30MKI

Rudal Brahmos memiliki jangkauan yang jauh sampai dengan 290 km, berkecepatan supersonik tinggi hingga 2,8 mach, dengan kerentanan yang rendah dari radar.

Berat rudal ini adalah 3 ton (untuk versi yang dipasang di Su-30MKI). Sistem kerja rudal ini adalah "fire and forget" dan dapat menemukan targetnya sendiri.

Su-30MKI

Su-30MKI

Kredit Foto : ITAR-TASS


8 Responses to "Proyek Rudal Baru Rusia dan India"

  1. India yg berguru ke USSR di tahun 60-an sudah mendapatkan buahnya dr hasi kerja keras tenaga2 ahli di bidang Roket/Rudal dgn dukungan konsisten dari negara. Tp RI sama2 berguru ke USSR hanya sampai pd Roket Kartika, Orde baru mematikan program roket ini dan lebih memilih menjadi kacung Barat/USA dan hasilnya spt saat ini, RI masih tertatih2 dalam pengembangan kemandirian ALUTSISTA utama. Tp dgn adanya pengembangan RX550 Lapan, harapan untuk kemandirian itu mulai tumbuh lagi, Pemerintah & Akademisi harus mendukung riset2 ini untuk mengurangi ketergantungan pada persenjataan dr asing.

    ReplyDelete
  2. Siiip...benar adanya..
    Tp kenapa agak terlambat dalam hasil. Padahal pengembangan senjata2 canggih sekrang adalah hasil dari zaman dulu yang notabennya komputer masih primitif...juga lembaga intelegen dan petinggi2 militer didikankan orba kurang taji tuk dapatkan info(jalan pintas) rahasia2 militer dan ragu2 dalam tot.

    ReplyDelete
  3. @Romeo1
    Betul itu..
    Kalau tidak kita mulai dari sekarang, kita akan terus di manfaatkan & menjadi pembantu barat..

    ReplyDelete
  4. Lima puluh tahun lebih kita 'kiblat' ke AS tidak dapat apa-apa, yang kita peroleh malah kerugian. Minyak, emas, tembaga, dan sumber daya alam kita dikuras Freeport, Exxon, Chevron, dan konco-konconya lewat kontrak merugikan Indonesia. AS super pelit dalam hal transfer teknologi, beda dengan Rusia. Selama ini malah kita diembargo kalau 'bandel' sedikit. Mending Indonesia mendekat ke Moscow & china saja biar seperti India. Mosok India sudah bisa kirim satelit sendiri ke angkasa kita sampai sekarang masih numpang India. PT DI harusnya sudah mampu bikin pesawat sekelas Sukhoi Super Jet 100 sejak 2005 (menurut pak Habibie) kalau saja program itu tidak disuruh dimatikan oleh IMF atas pesanan AS karena menjadi pesaing langsung Boeing.

    ReplyDelete
  5. itu lah indonesia

    ReplyDelete
  6. Audah tau AS pelit,masi aja,ganti kiblat ke moscow dan liat hasilnya nanti.

    ReplyDelete

Komentar tidak lagi dimoderasi, namun fitur anonim kami tiadakan. Gunakan akun Google atau akun terdaftar lainnya untuk berkomentar.