Search
» » Idealnya, TNI AU Miliki 60 Skuadron Pesawat Tempur

Sukhoi Su-27 TNI AU saat Latihan Pitch Black 2012 di Australia
Sukhoi Su-27 TNI AU saat Latihan Pitch Black 2012 di Darwin,  Australia
Rencana Departemen Pertahanan yang akan menambah 102 pesawat baru untuk TNI merupakan bagian dari rencana strategis (Renstra) dalam pencapaian Kekuatan Pokok Minimum (MEF). Hal ini dianggap tidak lepas dari perencanaan modernisasi alat utama sistem senjata (Alutsista) secara umum saja. Sebab, secara prinsip, perkuatan TNI AU yang sesungguhnya baru akan terlihat pada 2024 nanti.

"Melihat perkuatan TNI AU tidak lepas dari perencanaan modernisasi Alutista secara umum. Secara prinsip, perkuatan tersebut baru terlihat 2024. Berapa skuadron yang dibutuhkan, mulai dari pesawat tempur, latih dan angkut, " menurut pengamat pertahanan Muradi, Rabu, 2 Desember 2012.

Muradi menganggap apa yang diungkapkan adalah bagian dari perencanaan, dan tidak ada masalah dengan perencanaan tersebut. Hanya saja yang harus digarisbawahi, sejauh mana renstra itu di implementasikan.

"Saya tetap pada dua hal, pertama, dia harus tidak menggunakan alutsista yang sifatnya satu pintu, karena ini menyangkut maintenance ke depan. Jika bermasalah dengan HAM maka akan mendapatkan kesulitan. Kedua, lebih kepada penggunaan produk lokal. Untuk pesawat tempur, Indonesia baru bisa bekerjasama dengan Korea Selatan," ujar dia.

Pengamat pertahanan yang juga sebagai dosen di FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung ini mengungkapkan, bicara tentang pertahanan juga bicara anggaran dan komitmen pemerintah. Dari situ dapat terlihat apakah yang diungkapkan KSAU itu rasional atau tidak. Kalau melihat polanya, 2024 itu masih rasional hanya konteks realisasi yang menjadi masalah.

Muradi menilai, pesawat yang dibeli seperti Sukhoi, F-16 dan Super Tucano secara prinsipil sudah bagus, yang menjadi masalah adalah bagaimana menambah dan memperkuat yang ada. Sedangkan proses modernisasi adalah lebih kepada kebutuhan pesawat angkut yang kebanyakan sudah uzur.

"Mungkin tahapan sampai 2014 hanya kepada pergantian pesawat lama menjadi pesawat baru, sedangkan untuk tahapan 2024 mungkin berfokus pada modernisasi bukan sekedar mengganti, tetapi juga menambah. Bagi saya, bicara 2024 bukan lagi pemenuhan MEF, tetapi justru mewujudkan kekuatan maksimum agar kembali menjadi raja di Asia Tenggara," ujar dia.

Ketika ditanya pendapatnya tentang jumlah ideal pesawat tempur yang seharusnya dimiliki TNI AU, Muradi memberikan perhitungan yang cukup mengejutkan, dimana Ia menilai Indonesia setidak memiliki 20 sampai 30 skuadron pesawat tempur.

"Kalau bicara standar, saya kira perlu 20-30 skuadron tempur dimana satu skuadron berisikan 16-18 pesawat tempur. Tetapi idealnya Indonesia butuh 50-60 skadron untuk meng-cover," tandasnya.

Sumber : Indonesia Today
Kredit Foto : RAAF

Share !
«
Newer Post
»
Older Post

19 comments:

  1. Ngimpi............boro2 mau punya 50 skuadron, beli sukhoi aja ngeteng kyak rokok.....itu jg ompong.......

    ReplyDelete
  2. Jangan pesimis dulu mas bro.. Ini kan bicara tentang idealnya.. Kalo ngeteng juga karena yang dibeli barang mahal..!! Orang kaya mobilnya banyak juga ngeteng gan,gak langsung borong banyak. Tehnology selalu berubah gan,jadi siapa tau kita beli baru dgn tehnology baru.. yang borong banyak nunggu jadi tiap pesawat waktunya lama,dan bersama waktu juga,tehnology pasti berubah.. Dan apa yang tertulis diatas pelan tapi pasti,bisa terwujud. Semoga..!!

    ReplyDelete
  3. btl3x..gan,beli pswt tempur kok ngecer,ktnya modernisasi alutsista dananya puluhan triliun.sm vietnam aja kalah

    ReplyDelete
  4. Gak ada yg mimpi bro. Semua bisa trwujud asal ada komitmen kuat pemerintah & slrh elemen bangsa utk merealisasikannya. Trmasuk dukungan rakyat Indonesia seluruhnya. Tentu, semua itu utk menjaga kedaulatan, harga diri, martabat bangsa serta keutuhan NKRI tercintrong...

    ReplyDelete
  5. Perkuat alutsista mantap
    NKRI

    ReplyDelete
  6. Bner to gan apa demi martabat indonesia

    ReplyDelete
  7. Indonesia kaya,jadi sudah semestinya memiliki kelengkapan peralatan tempur
    BRAVO TNI

    ReplyDelete
  8. Disamping beli alutsista terbaru,TNI hrs jg mengembangkan pertahanan nasional utk meminimalkan ketergantungan.

    ReplyDelete
  9. kenapa harus beli pesawat, belia aja pabrikya deng porofesorya...supaya indo poroduk sandiri

    ReplyDelete
  10. G mungkin jauuuuuuuuuh

    ReplyDelete
  11. Keunggulan di udara adalah tujuan kani.

    ReplyDelete
  12. Beli yang bagus sekalian pesaawatnya

    ReplyDelete
  13. Tolong RI anggarkan dana untuk membeli 32 Unit Sukhoi 30 MK2. Vietnam saja mampu, masa kita hanya memiliki 16 Unit itu pun dicampur SU-27 SKM. Mohon diperhatikan.

    ReplyDelete
  14. Betul Bro, lebih bagus kita menjejer pesawat tempur, rudal, tank tempur, kapal perang, radar dsb. daripada uangnya dikorupsi buat menjejer mobil mewah, kita diremehin tetangga kanan kiri' TKI kita digebuki, pulau kita satu-satu diambil, pasir kita dikeruk, emas kita dikeruk dsb

    ReplyDelete
  15. JIka benar kebutuhan alutssista udara untuk Indonesia mencapai 50-60 skdrn, sebaik nya betul2 di pikirkan kemampuan, manuver, kaandalan radar dan persenjataan serta memiliki deterence yang tinggi; terdiri dari 1. keluarga sukhoi antara lain ;2 skdrn SU27SKM, 2 skdrn SU 30 MKI2, 5 skdrn SU 35 BM, 10 skdrn SU T-50 Fak-Pa, untuk fighter europe, antara lain; 2 skdrn Saab Jasss Gripen 39 NG type E/F, atau Typhoon ( by ToT ) sub total sudah 21 skdrn + 2skdrn IFX G4, 10 skdrn IFX G5 + 5 skdrn Apache AH64 Guardian, 2skdrn Chinook, + 5 skdrn heli serbu Gandiwa, + 2 skdrn Heli anti kapal selam Fennec/eurocopter + 5 skdrn heli Mi 35, 3 heli Kamov Ka 52 Aligator. 5 skdrn pesawat Angkut, Intai AWACs dan air refueling, total sudah mencapai 50-60 skdrn, orang pesimis ini dibilang mimpi, orang optimis ini adalah planning to get the air power in the future for TNI AU. NKRI harga mati.;

    ReplyDelete
  16. lebih baik beli pesawat tempur yang bisa ToT agar gampang bikin sendiri nantinya, seperti Gripen swedia atau Dassault Rafalle Prancis. Toh mereka sudah jamin ToT 100%, sehingga lebih murah dalam pembuatannya, serta untuk pembentukankan skuadron nantinya tidak sulit karna biayanya lebih murah

    ReplyDelete
  17. Dikasih taunya 10 tapi yang dibeli lebih, masa sibongkar kartu ke negara lain? Think

    ReplyDelete
  18. Kalo yang tukang korupsi pasti ngomong ngapain beli pesawat? emang kita mau perang? mending duitnya buat rakyat (maksudnya untuk dikorupsi).
    Toh seandainya ada perang, gua tinggal lari ke luar negeri n minta suaka. Apalagi gua pejabat. Indon mau ancur kek apa; dicaplok negara lain; atau dibikin kek GAZA juga gua gak pusing.

    ReplyDelete
  19. rakyatnya kelaparan

    ReplyDelete