Search
» » » Pasukan M, Menang tak Dibilang, Gugur tak Dikenang

Buku “Pasukan-M, Menang tak dibilang, Gugur tak dikenang”
Buku “Pasukan-M, Menang tak dibilang, Gugur tak dikenang” merupakan buku sejarah yang mengangkat sebuah peristiwa heroik Pasukan-M dalam melaksanakan Operasi Lintas Laut dan Operasi Amfibi yang dilakukan oleh prajurit TNI AL/Tentara Keamanan Rakyat (TKR Laut) di Bali guna mengusir tentara Belanda pada tahun 1945 silam.

Ide penulisan buku ini digagas oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya TNI Dr. Marsetio, M.M. medio 2012 lalu, dan ditulis oleh Iwan Santosa dan Wenri Wanhar dengan editor Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Untung Suropati, setelah melalui proses pendalaman dan penelusuran sejarah ke lokasi tempat terjadinya peristiwa, yakni Jembrana Bali, Denpasar, Banyuwangi, Malang, Lawang, Surabaya, serta melaksanakan riset sejarah dan kepustakaan ke Nederlands Instituut voor Militaire Historie (NIMH) Den Hague, Museum KNIL Bronbeek, Arnhem KITLV Leiden, Nederlands Instituut voor Oorlog Documentatie (NIOD) Amsterdam, serta didukung oleh berbagai dokumen dan foto dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Arsip Keluarga Besar Pasukan-M, dan Arsip Dinas Penerangan Angkatan Laut.

Dalam melaksanakan riset dan penggalian materi sejarah, penulis yang mendapat dukungan pihak keluarga Kapten Markadi dan institusi TNI AL juga telah memperoleh izin serta menjalin kerja sama dengan pihak Kedutaan Besar Kerajaan Belanda di Jakarta, Atase Pertahanan dan Kebudayaan Belanda di Jakarta, para anggota Pasukan-M yang masih hidup,  para veteran BKR Laut, serta beberapa saksi sejarah sesuai lokasi kejadian pada masa itu.

Dari buku ini terungkap, bahwa para prajurit TNI AL (TKR Laut) telah mempunyai peran penting dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Kiprah itu  terlihat dari upaya yang dilakukan sekelompok prajurit yang tergabung dalam Pasukan-M pimpinan Kapten Markadi untuk melaksanakan operasi gabungan matra darat-laut dan meraih kemenangan dalam pertempuran laut pertama melawan penjajah Belanda, meski hanya didukung persenjataan yang terbatas dengan sarana perahu tradisional.

Pasukan-M merupakan tulang punggung gerilyawan pendukung kemerdekaan Republik Indonesia yang diutus Markas Besar Umum Tentara Keamanan Rakyat guna membantu perlawanan rakyat Bali atas pendudukan tentara Belanda. Tugas mereka kala itu adalah membentuk pangkalan TKR Laut di Bali, sekaligus mengorganisir basis-basis perjuangan rakyat di berbagai tempat. Meski tugas yang diembannya terbilang sukses dalam menumpas perlawanan terhadap tentara Belanda, akan tetapi perjuangan Pasukan-M pimpinan kapten Markadi seolah tidak mau dikenang, seperti telah dituangkan dalam simbolnya yang bertuliskan “menang tak dibilang, gugur tak dikenang”.

Buku  tujuh Bab setebal 240 halaman berukuran 14,5 cm x 22 cm  dengan desain cover depan memajang foto-foto lama kapal sekoci Belanda dan perahu tradisional dengan latar belakang peta lama Pulau Bali ini  juga akan dijual dipasaran. Di cover belakang memuat komentar empat pejabat negara, yaitu Menteri Pertahanan RI Prof. Dr. Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, S.E., Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Wisnu Bawa Tenaya, Duta Besar RI untuk Belanda Retno L.P. Marsudi, Peneliti LIPI Dr. Asvi Warman Adam, dan penyanyi  Katon Bagaskara. Sedangkan di halaman depan terdapat kata pengantar dari Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Soeparno.

Dengan telah terbitnya buku “Pasukan-M, menang tak dibilang, gugur tak dikenang” diharapkan menambah khasanah berbendaharaan buku-buku sejarah nasional yang telah ada. Kisah operasi lintas laut Banyuwangi-Bali dalam buku ini sejatinya merupakan operasi pendaratan gabungan pertama dalam sejarah TNI dan merupakan pertempuran laut pertama dalam sejarah berdirinya Republik Indonesia. Kita pantas berbanggga, bahwa sekalipun hanya berbekal sarana persenjataan yang serba terbatas, ekspedisi Pasukan-M menuai sejarah pertempuran yang gemilang. Mereka mampu menempuh rute laut yang saat itu diblokade secara ketat oleh musuh dan berhasil menenggelamkan kapal Belanda. Dan lebih dari itu, yang lebih penting adalah bagaimana agar semangat, heroisme, dan nilai-nilai perjuangan Pasukan-M pimpinan Kapten Markadi saat melawan penjajahan Belanda di laut dapat diteladani dan senantiasa menjadi inspirasi bagi generasi muda dalam mengisi kemerdekaan Republik Indonesia.

Sejarah Singkat Perjuangan Pasukan-M di Bali

Pendaratan Sekutu di Bali dimulai pada Oktober 1945 di Kota Singaraja di utara Pulau Bali. Terjadi insiden penurunan bendera Merah Putih yang memancing kemarahan pemuda setempat. Bendera Belanda Merah Putih Biru dikibarkan di pelabuhan Singaraja. Kementerian Penerangan dalam Buku Republik Indonesia Propinsi Sunda Ketjil mencatat, para pemuda membalas merobek bagian biru bendera triwarna sehingga menyisakan Merah dan Putih. Pihak NICA membalas dengan membuka tembakan ke arah para pemuda. Seorang pemuda bernama Merta tewas dalam insiden tersebut. Situasi di Singaraja pun memanas.

Pendaratan besar-besaran tentara Sekutu dan Belanda di Pulau Bali terjadi tanggal 2 Maret 1946. Pramoedya Ananta Toer mencatat dalam Kronik Revolusi Indonesia Jilid II, sebanyak 2.000 prajurit Sekutu mendarat. Komponen pasukan yang mendarat di Pantai Sanur adalah serdadu Inggris, Belanda, dan NICA-Indonesia. Turut mendarat di sana para tokoh Bali pro-Belanda seperti bekas Asisten Residen Denpasar, Kontrolir Klungkung, dan Kepala Distrik Denpasar.

Saat Sekutu dan Belanda mendarat di Bali, Overstee (Letkol) I Gusti Ngurah Rai sebagai perwira tertinggi Tentara Republik Indonesia (TRI) untuk Sunda Kecil sedang berada di Jogjakarta guna  berkonsultasi dengan Markas Besar TRI mengenai pembinaan Resimen Sunda Kecil dan cara-cara menghadapi Belanda. Pendaratan Sekutu dan Belanda berlanjut hingga tanggal 3 Maret 1946.

Melihat gerak maju pasukan Sekutu dan Belanda di Bali, maka diperintahkanlah untuk menyiapkan serangan di Bali oleh Resimen Sunda Kecil. Semula Overstee Ngurah Rai meminta persenjataan dari Markas TRI di Jogjakarta. Namun, akhirnya diputuskan dikirim Pasukan Kapten Markadi dan Pasukan Kapten Albert Waroka. Mereka dikenal secara umum sebagai “Pasukan-M” yang menggelar operasi amfibi pertama TNI melintasi Selat Bali dari titik keberangkatan Banyuwangi ke pantai barat Pulau Bali di sekitar Jembrana.

Keterlibatan Pasukan-M pimpinan Kapten Markadi dalam ekspedisi lintas laut Banyuwangi-Bali guna mengusir pasukan Belanda bukanlah perkara mudah, namun penuh heroisme, bahkan harus dibayar dengan darah dan air mata. Ekspedisi tidak saja berhasil mengawal Komandan Resimen TKR Sunda Kecil Overstee I Gusti Ngurah Rai ini kembali ke Bali, akan tetapi merupakan embrio perang rakyat semesta mampu menyatukan kekuatan TKR Laut, Darat, badan-badan perjuangan, para nelayan serta rakyat Bali sekaligus berhasil menggerakkan semangat perjuangan rakyat Bali.

Sosok Kapten Markadi yang cerdas, berani, pantang menyerah, dan rendah hati tidak akan pernah hilang begitu saja dalam memori kolektif masyarakat Bali. Perjuangan dan cita-citanya tidak akan pernah padam dan akan terus bergelora untuk kepentingan tanah air, bangsa dan negara. 

Share !
«
Newer Post
»
Older Post

No comments: